Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37951 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vita Yulia; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Dhora Yufita Nurfitriani
Abstrak:

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia sebesar 15%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita usia 12–59 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder dari SKI 2023. Sampel berjumlah 33.132 balita usia 12–59 bulan. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia adalah umur balita 24–59 bulan (OR=0,72; 95%CI: 0,57–0,90), jenis kelamin laki-laki (OR=1,36; 95%CI: 1,09–1,69), riwayat BBLR (OR=1,70; 95%CI: 1,15–2,53), status imunisasi DPT-HB-Hib lengkap (OR=1,79; 95%CI: 1,00–3,21), dan riwayat penyakit sebelumnya (OR=10,28; 95%CI: 8,27–12,77). Pada karakteristik ibu, pendidikan tinggi berhubungan dengan kejadian pneumonia (OR=1,41; 95%CI: 1,10–1,81). Faktor lingkungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, sedangkan balita dari keluarga dengan status sosial ekonomi atas memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia (OR=1,50; 95%CI: 1,05–2,13). Kesimpulan: Pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada kelompok risiko seperti balita laki-laki, usia 24–59 bulan, riwayat BBLR, riwayat penyakit sebelumnya, dan peningkatan edukasi pada ibu serta keluarga dengan status ekonomi tinggi.

Kata kunci: Pneumonia, Balita, Faktor Risiko, SKI 2023


Pneumonia is one of the leading causes of mortality among children under five in Indonesia. Based on the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), the prevalence of pneumonia among children under five was 15%. This study aims to identify the factors associated with pneumonia among children aged 12–59 months in Indonesia. This research employs a cross-sectional design using secondary data from the 2023 SKI. The sample consisted of 33,132 children aged 12–59 months. Data were analyzed using the chi-square test. The results show that factors associated with pneumonia include being aged 24–59 months (OR=0.72; 95%CI: 0.57–0.90), male gender (OR=1.36; 95%CI: 1.09–1.69), a history of low birth weight (OR=1.70; 95%CI: 1.15–2.53), incomplete DPT-HB-Hib immunization (OR=1.79; 95%CI: 1.00–3.21), and a history of previous illnesses (OR=10.28; 95%CI: 8.27–12.77). Among maternal characteristics, a higher education level was associated with pneumonia incidence (OR=1.41; 95%CI: 1.10–1.81). Environmental factors were not significantly associated, while children from families with higher socioeconomic status had a greater risk of pneumonia (OR=1.50; 95%CI: 1.05–2.13). In conclusion, pneumonia prevention efforts should focus on high-risk groups, including male children, those aged 24–59 months, those with a history of low birth weight or previous illnesses, and families with higher maternal education and higher socioeconomic status.  Keywords: Pneumonia, Under-Five Children, Risk Factors, SKI 2023

Read More
S-12062
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ilmah Yanuarti Barmawi; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Anhari Achadi, Helen Andriani, Sri Juniyanti, Viorentina Yofiani
Abstrak:
Latar belakang : Stres kerja ini dilaporkan terjadi secara global dan menempati posisi utama sebagai penyebab stres yang paling sering terjadi di antara penyebab stres lainnya. Pekerjaan sebagai terapis anak autis menurut Akanaeme et al (2021) adalah salah satu pekerjaan paling sering meningkatkan stres, karena menghadapi anak autis dengan gangguan tumbuh kembang yang kadang bersifat agresif dan impulsif. Hal ini dapat terjadi juga pada terapis anak autis di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia Kota Jakarta Selatan . Tujuan : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada terapis anak autisme di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia Kota Jakarta Selatan Tahun 2024. Metode : penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan 51,7% terapis anak autis di di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia mengalami stres kerja berat, sedangkan 48,3% terapis mengalami stres kerja ringan. Berdasarkan hasil uji chi square faktor beban kerja, konflik peran, faktor komunikasi efektif dan faktor konflik keluarga berhubungan secara signifikan dengan stres kerja. Berdasarkan uji regresi logistik multivariat didapatkan hasil faktor yang paling dominan berhubungan terhadap stres kerja adalah faktor konflik keluarga (p-value 0,003) dan faktor konflik peran (p-value 0,012). Kesimpulan : Faktor konflik keluarga dan faktor konflik peran merupakan faktor yang paling dominan berhubungan terhadap stres kerja pada penelitian ini. Diperlukan mitigasi stres kerja dengan meningkatkan pemahaman mekanisme koping stres sebagai strategi pengeloaan stres kerja pada terapis anak autis di Yayasan Tumbuh Kembang Anak Shine Kids Ministry Indonesia Kota Jakarta Selatan .

Background: Occupational stress is reported occur globally and occupies a leading position as the most frequent stressor among other stressors. According to Akanaeme et al (2021), work as a therapist for autistic children is one of the most common jobs that increase stress, because they face autistic children with developmental disorders who are sometimes aggressive and impulsive. This can also happen to autistic child therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Child Development Foundation, South Jakarta City. Objective: To determine the factors associated with work stress in autistic children therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Children's Growth and Development Foundation, South Jakarta City in 2024. Method: quantitative research using cross design. Results: The results showed 51.7% of autistic children therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Foundation experienced severe work stress, while 48.3% of therapists experienced mild work stress. Based on the results of the chi square test, workload factors, role conflict, effective communication factors and family conflict factors are significantly related to work stress. Based on the multivariate logistic regression test, the most dominant factors related to work stress are family conflict factors (p-value 0.003) and role conflict factors (p-value 0.012). Conclusion: Family conflict factors and role conflict factors are the most dominant factors related to work stress in this study. It is necessary to mitigate work stress by increasing understanding of stress coping mechanisms as a strategy for managing work stress in autistic child therapists at the Shine Kids Ministry Indonesia Child Growth and Development Foundation, South Jakarta City.
Read More
T-7072
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silma Farhana; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Dwi Sulistyo Watiningsih
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker serviks metode IVA pada wanita usia subur di Kelurahan Kebon Melati tahun 2025. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data primer pada penelitian ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 100 wanita usia subur. Perilaku deteksi dini kanker serviks metode IVA merupakan variabel dependen. Sedangkan variabel independen meliputi pendidikan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dan dukungan suami. Pengisian kuesioner secara langsung oleh peneliti sesuai jawaban dari responden dan hasilnya dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan aplikasi SPSS 22. Hasil analisis menunjukkan bahwa 16 responden (16%) sudah melakukan deteksi dini kanker serviks metode IVA. Secara statistik, terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, keterpaparan informasi, dan dukungan suami dengan perilaku deteksi dini kanker serviks metode IVA pada wanita usia subur di kelurahan Kebon Melati tahun 2025. Hasil dari penelitian ini menyarankan kepada pihak Puskesmas untuk meningkatkan kegiatan promosi kesehatan melalui penyuluhan atau penyebaran pamflet mengenai kanker serviks dan deteksi dini IVA, serta mengadakan deteksi dini kanker serviks di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh wanita usia subur. 


This study aims to determine the factors associated with early detection behavior of cervical cancer using the IVA method in women of childbearing age in Kebon Melati Village in 2025. This research method uses quantitative research with a cross-sectional study design. Primary data in this study were obtained through distributing questionnaires to 100 women of childbearing age. The behavior of early detection of cervical cancer using the IVA method is the dependent variable. While, the independent variables include education, knowledge, attitude, exposure to information, and husband's support. The questionnaire was filled out directly by the researcher according to the respondents' answers and the results were analyzed using the Chi-square test with the SPSS 22 application. The results of the analysis showed that 16 respondents (16%) had carried out early detection of cervical cancer using the IVA method. Statistically, there is a significant relationship between knowledge, exposure to information, and husband's support with the behavior of early detection of cervical cancer using the IVA method in women of childbearing age in Kebon Melati sub-district in 2025. The results of this study suggest that the Community Health Centers increase health promotion activities through counseling or distribution of pamphlets regarding cervical cancer and early detection of IVA, as well as conducting early detection of cervical cancer in places that are easily accessible to women of childbearing age.
Read More
S-12144
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Habibah Nurul Rahmah; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Hariyanto
Abstrak:
Latar Belakang: Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria masih menjadi penyakit menular paling mematikan kedua di dunia dan masih menjadi penyakit endemis di Indonesia. Kabupaten Mimika merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang berstatus endemis tinggi malaria (API 597,58‰ per tahun 2022). Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor iklim (suhu udara, kelembaban, dan curah hujan) dan pengobatan malaria dengan kejadian malaria di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022. Metode: Desain studi ekologi menggunakan data sekunder dengan analisis korelasi dan uji regresi linear ganda. Skenario waktu time lag 0, 1, dan 2 diterapkan untuk melihat hubungan antara faktor iklim dengan kejadian malaria per bulan di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022. Hasil: Hasil analisis dengan uji korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengobatan malaria dengan kejadian malaria tahun 2016–2022 (p = 0,000; r = 0,990). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara suhu udara, kelembaban, dan curah hujan rata-rata dengan kejadian malaria di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022 pada seluruh skenario waktu. Analisis dengan uji regresi linear ganda menghasilkan model prediksi dengan persamaan Kejadian Malaria = 4912,9 - 129,3 (suhu udara) - 3,36 (curah hujan) - 13,6 (kelembaban) + 0,997 (pengobatan ACT). Berdasarkan hasil uji regresi linear ganda model dapat menjelaskan 98% variasi variabel kejadian malaria (R Square = 0,980). Variabel yang paling dominan terhadap kejadian malaria di Kabupaten Mimika tahun 2016–2022 adalah pengobatan malaria

Background: Malaria is an infectious disease caused by Plasmodium parasites and transmitted to humans through the bite of female Anopheles mosquitoes. Malaria is the wolrd’s second deadliest infectious disease and an endemic disease in Indonesia. Mimika Regency is one of the regencies in Indonesia that has a high malaria endemic status (API 597.58‰ as of 2022). Objective: To determine the relationship between climatic factors (air temperature, humidity, and rainfall) and malaria treatment with malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022. Methods: Ecological study using secondary data with correlation analysis and multiple linear regression. Scenarios of time lag 0, 1, and 2 were applied to investigate the relationship between climate factors and malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022. Results: The results of the correlation test showed a significant relationship between malaria treatment and the incidence of malaria in 2016–2022 (p = 0,000; r = 0,990). No significant relationship was found between average air temperature, humidity, and rainfall with malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022 in all time scenarios. Multiple linear regression analysis produced a predictive model with the equation Malaria Incidence = 4912,9 - 129,3 (air temperature) - 3,36 (rainfall) - 13,6 (humidity) + 0,997 (ACT treatment). Based on the multiple linear regression result, the model can explain 98% of malaria incidence variation (R Square = 0,980). The most dominant variable for malaria incidence in Mimika Regency in 2016–2022 is malaria treatment
Read More
S-11292
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jeremy Andreas Hasoloan Oscar P; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Zakianis, Desy Mery Dorsanti
Abstrak:
Latar Belakang: Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi dengan gejala berupa demam, lemas, batuk ringan, sembelit, ketidaknyamanan perut, sakit kepala, dan muntah.Kasus demam tifoid di Kota Jakarta Timur menjadi yang tertinggi dari 6 kabupaten/kota yang berada di Provinsi DKI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (jamban sehat), faktor invidu (usia), faktor iklim (curah hujan), dan faktor kependudukan (kepadatan penduduk) dengan proporsi kasus demam tifoid di Kota Jakarta Timur pada tahun 2020 - 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan uji korelasi. Hasil: Proporsi demam tifoid di Kota Jakarta Timur memmpunyai persebaran yang fluktuatif dengan penurunan pada tahun 2021 dan peningkatan pada tahun 2023. Proporsi demam tifoid pada kota Jakarta Timur memiliki nilai total sebesar 2,34 % dan lebih tinggi proporsi demam tifoid di DKI Jakarta sebesar 0,2 % dengan proporsi tertinggi terdapat pada Kecamatan Pasar Rebo sebesar 0.17 %, dan proporsi demam tifoid terendah terdapat pada Kecamatan Jatinegara dan Cakung sebesar 0,02 %. Pada penelitian ini, faktor resiko yang berkaitan dengan kejadian demam tifoid meliputi variabel usia (p = 0.000) dan curah hujan (p = 0.003). Kesimpulan: Proporsi demam tifoid di Kota Jakarta Timur Tahun 2020 – 2023 mencapai 2,34 % dan lebih tinggi dari proporsi demam tifoid di DKI Jakarta. Faktor resiko demam tifoid yang terjadi di Kota Jakarta Timur, antara lain curah hujan dan usia. Saran: Pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi untuk meningkatkan higiene dan sanitasi makanan di perumahan dan lingkungan sekolah

Background: Typhoid fever is a disease caused by the bacterium Salmonella typhi, with symptoms including fever, weakness, mild cough, constipation, abdominal discomfort, headache, and vomiting. The incidence of typhoid fever in East Jakarta is the highest among the six districts/cities in the DKI Jakarta Province. Objective: This study aims to analyze the relationship between environmental factors (sanitary latrines), individual factors (age), climate factors (rainfall), and demographic factors (population density) with the proportion of typhoid fever cases in East Jakarta from 2020 to 2023. Methods: This study uses an ecological study with correlation tests. Results: The proportion of typhoid fever in East Jakarta City has shown a fluctuating distribution, with a decrease in 2021 and an increase in 2023. The proportion of typhoid fever in East Jakarta City is 2.34%, which is higher than the proportion in DKI Jakarta at 0.2%. The highest proportion of typhoid fever is in the Pasar Rebo District at 0.17%, while the lowest proportions are in the Jatinegara and Cakung Districts at 0.02%. In this study, risk factors related to typhoid fever incidence include age (p = 0.000) and rainfall (p = 0.003). Conclusion: The proportion of typhoid fever in East Jakarta City from 2020 to 2023 reached 2.34%, which is higher than the proportion of typhoid fever in DKI Jakarta. The risk factors for typhoid fever in East Jakarta City include rainfall and age. Recommendations: The government and the community can collaborate to improve food hygiene and sanitation in residential and school areas.
Read More
S-11623
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wisnu Kristian Putro; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Stevan D Anbiya Muhamad S, Melisa Agustina, Aida Melisa
T-7391
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Maharani; PembimbingL: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dion Zein Nuridzin
Abstrak:
Latar Belakang.  Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah di Jawa Barat dengan beban kasus TB tertinggi yang dilaporkan pada Tahun 2022 yaitu berjumlah 15.433 kasus serta prevalensi yang mencapai 413/100.000 penduduk. Hal ini menunjukan upaya penurunan prevalensi TB di daerah Jawa Barat masih kurang baik. Metode. Metode yang digunakan meliputi uji korelasi Spearman dan analisis spasial overlay terhadap data sekunder tahun 2022 dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Variabel yang dianalisis meliputi proporsi tenaga kesehatan, rasio puskesmas cakupan imunisasi BCG, proporsi penduduk miskin, pendidikan rendah, PHBS, balita gizi buruk, kepadatan penduduk, pengelolaan air dan makanan, pengelolaan sampah, serta kualitas udara dalam rumah tangga. Kesimpulan. Variabel yang memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan kasus TB adalah penduduk miskin (R = 0.492) (P = 0.001). Sementara variabel lain menunjukkan korelasi lemah dan tidak signifikan. Analisis spasial overlay mengungkapkan pola sebaran TB yang cenderung tinggi di wilayah dengan kombinasi kerentanan sosial dan lingkungan yang juga tinggi, seperti Jonggol, Sukaraja, dan Parung.


Background. Bogor regency is one of the regions in West Java with the highest reported TB burden in 2022, totaling 15,433 cases with a prevalence of 413 per 100,000 population. Indicating that TB prevalence reduction efforts in West Java remain suboptimal. Methods. This study employed Spearman correlation test and spatial overlay analysis on secondary data from 2022, covering 40 sub-districts in Bogor Regency. The analyzed variables included the proportion of healthcare workers, ratio of health facilities, BCG immunization coverage, proportion of poor population, low education levels, PHBS, malnourished children, population density, hygienic management of water and food, household waste management, and indoor air quality. Conclusion. The variable significantly associated with TB cases was the proportion of poor population (R = 0.492; P = 0.001) The spatial overlay analysis revealed that TB distribution tended to be higher in areas with a combination of high social and environmental vulnerability, such as Jonggol, Sukaraja, and Parung.
Read More
S-12142
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferriandra Henry Wicaksono; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Linawati
Abstrak:
Fase remaja merupakan periode penting dalam membentuk pola hidup sehat jangka panjang. Permasalahan akibat pola hidup tidak sehat, seperti pola makan berlebihan hingga kurangnya aktivitas fisik, berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian berat badan berlebih (overweight dan obesitas), yang dapat memicu penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, dll. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan angka prevalensi overweight dan obesitas pada kelompok usia remaja 13-15 tahun tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 11,8% untuk kategori overweight dan 5,2% untuk obesitas. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, Kota Depok adalah salah satu kabupaten/kota dengan prevalensi overweight dan obesitas tertinggi, yaitu 11,27% untuk overweight dan 4,86% untuk obesitas. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian berat badan berlebih pada SMP Negeri 3 Kota Depok tahun 2025. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 3 Kota Depok dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara aktivitas fisik, screen on time, dan night eating syndrome dengan kejadian berat badan berlebih. Tetapi, terdapat hubungan yang signifikan antara asupan kalori dengan kejadian berat badan berlebih. Dengan demikian, kegiatan edukasi serta implementasi pola hidup sehat perlu dilakukan di lingkungan sekolah sebagai tindakan preventif terhadap kejadian berat badan berlebih pada siswa usia remaja. 

The adolescent phase is an it mportanperiod in shaping a long-term healthy lifestyle. Problems due to unhealthy lifestyles, such as overeating and physical inactivity, contribute to the increasing incidence of overweight and obesity, which can lead to non-communicable diseases such as hypertension, type 2 diabetes mellitus, cardiovascular diseases, metabolic syndrome, etc. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), West Java Province is one of the provinces with the highest prevalence rates of overweight and obesity in the adolescent age group of 13-15 years in Indonesia, which amounted to 11.8% for the overweight category and 5.2% for obesity. Based on the 2018 Riskesdas, Depok City is one of the districts/cities with the highest prevalence of overweight and obesity, which is 11.27% for overweight and 4.86% for obesity. This research design is quantitative using a cross-sectional approach that aims to determine the faktors associated with the incidence of overweight at SMP Negeri 3 Depok City in 2025. The population of this study were all students of SMP Negeri 3 Depok City with purposive sampling. The results showed that there was no significant relationship between physical activity, screen on time, and night eating syndrome with the incidence of excess weight. However, there is a significant relationship between calorie intake and the incidence of overweight. Thus, educational activities and implementation of a healthy lifestyle need to be carried out in the school environment as a preventive measure against the incidence of overweight in adolescent students.
Read More
S-11945
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zumardi Agus; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Ascobat Gani, Dumilah Ayuningtyas, Emirald Isfihan, Zakiah
Abstrak:

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia, Negara Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia. Provinsi Jawa Barat menempati peringkat satu kasus TB terbanyak di Indonesia dan Kota Depok menempati peringkat 10 besar kasus TB di Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Kota Depok telah membentuk inovasi Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU) sebagai wadah komunikasi antara masyarakat, lintas program dan lintas sektor dalam melakukan penanggulangan tuberkulosis melalui kegiatan penemuan, pendampingan pengobatan, dan sosialisasi tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana implementasi kebijakan Kampung Peduli Tuberkulosis yang sudah dijalankan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek input (sumber daya manusia, anggaran, fasilitas, kebijakan), aspek proses (komunikasi, disposisi, struktur birokrasi), serta aspek output (hasil implementasi KAPITU) sudah berjalan baik di Kelurahan Mampang dan Suka Maju Baru. Implementasi KAPITU sempat tidak berjalan pada Kelurahan Sawangan Baru dan Sawangan Lama karena adanya pergantian petugas dan petugas yang pindah kerja. Pada Kelurahan Cilodong dan Pasir Putih masih kurangnya sumber daya manusia, tidak tersedianya anggaran, belum optimalnya komunikasi dan disposisi sehingga menyebabkan implementasi KAPITU belum berjalan optimal. Selanjutnya faktor lingkungan sosial, ekonomi, dan politik juga mempengaruhi implementasi KAPITU. Kesimpulan implementasi KAPITU yang berjalan dengan baik berbanding lurus dengan capaian indikator program TB yang juga baik. Kelurahan yang menunjukkan implementasi program KAPITU yang baik, seperti Mampang dan Suka Maju Baru, memiliki capaian yang lebih baik, Selanjutnya Kelurahan Sawangan Baru dan Sawangan Lama juga menunjukkan adanya peningkatan capaian program setelah satgas KAPITU mulai berjalan kembali. Kelurahan yang belum mengimplementasikan KAPITU dengan baik, seperti Cilodong dan Pasir Putih, juga menunjukkan capaian program TB yang belum baik.


Tuberculosis is still a health problem in the world, Indonesia ranks second in the world  for the most TB cases. West Java Province ranks first in the number of TB cases in  Indonesia and Depok City ranks in the top 10 for TB cases in West Java Province. The  Depok City Government has formed the Kampung Peduli Tuberkulosis (KAPITU)  innovation as a means of communication between the community, across programs and  across sectors in preventing and controlling tuberculosis through discovery activities,  treatment assistance, and tuberculosis socialization. This study aims to analyze how the  implementation of the Kampung Peduli Tuberkulosis policy has been carried out. This  study uses qualitative methods and data collection is carried out through in-depth  interviews and document reviews. The results of the study indicate that the input aspects  (human resources, budget, facilities, policies), process aspects (communication,  disposition, bureaucratic structure), and output aspects (results of KAPITU  implementation) have been running well in Mampang and Suka Maju Baru Sub-districts.  The implementation of KAPITU was not running in Sawangan Baru and Sawangan Lama  Sub-districts due to changes in officers and officers who moved jobs. In Cilodong and  Pasir Putih Sub-districts, there was still a lack of human resources, unavailability of  budget, suboptimal communication and disposition, which caused the implementation of  KAPITU to not run optimally. Furthermore, social, economic, and political  environmental factors also influenced the implementation of KAPITU. The conclusion is  that the implementation of KAPITU that is running well is directly proportional to the  achievement of TB program indicators which are also good. Sub-districts that show good  implementation of the KAPITU program, such as Mampang and Suka Maju Baru, have  better achievements. Furthermore, Sawangan Baru and Sawangan Lama Sub-districts  also show an increase in program achievements after the KAPITU task force started  operating again. Sub-districts that have not implemented KAPITU properly, such as  Cilodong and Pasir Putih, also show poor achievement of TB program indicators.

Read More
T-7314
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naura Parida; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Pujiyanto, Fadhilah, Muhammad Aras
Abstrak:
Pembayaran dengan sistem paket seringkali menimbulkan terjadinya selisih antara tarif paket INA-CBG dengan biaya pelayanan rumah sakit yang dianggap tidak mencukupi. Pembiayaan terbesar BPJS kesehatan terhadap penyakit katastropik adalah penyakit jantung dengan biaya sebesar 8,6T dan merupakan kasus terbanyak dibandingkan dengan kasus katastropik lainnya. RSWS merupakan rumah sakit rujukan tertinggi di Kawasan timur Indonesia dan menaungi sebuah instalasi pusat jantung terpadu. Pada tahun 2019, dr. Khalid Saleh, selaku Dirut di RSUP Wahidin Sudirohusodo, di dalam jumpa persnya menyatakan bahwa terjadi tunggakan oleh pihak BPJS Kesehatan yang mencapai ratusan miliar rupiah. Besarnya tunggakan tentunya akan memengaruhi proses pelayanan dan penangan pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar selisih yang terjadi antara biaya pelayanan penyakit jantung koroner dengan tarif INA-CBGs di RSWS dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya selisih. Penelitian ini adalah penelitian mix method dengan observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 112 data pasien PJK yang menjalani rawat inap di RSWS. Hasil penelitian menunjukkan adanya selisih positif sebesar 171.908.682 jika dihitung secara keseluruhan namun jika dilihat perkasus terhadap selisih negatif pada kasus angina pektoris. Faktor yang mempengaruhi terjadinya selisih biaya pelayanan dan tari INA-CBG pada penyakit jantung koroner adalah Tingkat keparahan (p-value = 0,000), lama hari rawat (p-value = 0,001), dan pelayanan medis (p-value = 0,002). Hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya selisih biaya adalah adanya tindakan operasi. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi selisih biaya yang terjadi di rumah sakit dengan melakukan subsidi silang, menginformasikan kepada pihak-pihak tertentu, mengadakan pertemuan dengan DPJP, dan membatasi tindakan-tindakan yang melebihi tarif rumah sakit pada kasus yang sifatnya tidak urgent. Rumah sakit perlu mengendalikan biaya agar tidak terjadi selisih negatif yang lebih besar antara pelayanan rumah sakit dengan tarif yang ditentukan BPJS dengan tetap memperhatikan kualitas pelayanan. Terus melakukan kendali mutu pelayanan yang efektif sebagaimana panduan praktik klinis.

Payment with a package system often result in a difference between the INA-CBG package rates and hospital service cost, which are considered insufficient. The largest BPJS health financing for catastrophic diseases is heart disease, with a cost of 8.6T, and it is the most common case compared to other catastrophic cases. RSWS is the highest referral hospital in Eastern Indonesia and houses an integrated heart center installation. In 2019, Dr. Khalid Saleh, as the President Director of RSUP Wahidin Sudirohusodo, stated in a press conference that there were arrears from BPJS Health reaching hundreds of billions of rupiah. The large amount of arrears will certainly affect the service and handling process for patients. This study aims to determine the magnitude of the difference between the cost of coronary heart disease services and the INA-CBGs rates at RSWS and the factors that influence the occurrence of the difference. This research is a mixed-method study with observational analytics using a cross-sectional approach. The sample used in this study was 112 data of CHD patients who underwent inpatient treatment at RSWS. The results showed a positive difference of 171.908.682 when calculated as a whole, but when viewed per case, there was a negative difference in cases of angina pectoris. Factors that influence the difference in service costs and INA-CBG rates in coronary heart disease are the severity level (p-value = 0.000), length of stay (pvalue = 0.001), and medical services (p-value = 0.002). Interview result indicated that the most influential factor in the cost difference is the presence of surgical procedures. Efforts are made to overcome the cost difference that occurs in hospitals by conducting crosssubsidies, informing certain parties, holding meetings with DPJP, and limiting actions that exceed hospital rates in cases that are not urgent. Hospitals need to control costs so that there is no greater negative difference between hospital services and the rates determined by BPJS while still paying attention to the quality of service. Continue to carry out effective quality control of services as guided by clinical practice guidelines.
Read More
T-7060
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive