Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38744 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ranti Fitri Agustina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Bahrain Munir
Abstrak:
Keselamatan kerja merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, khususnya pada sektor kelistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety leadership dan safety perception terhadap safety behavior pada pekerja di site PT X tahun 2025. Pendekatan yang digunakan adalah semikuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang diisi oleh 87 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,227; p = 0,035), serta antara safety leadership dan safety perception (r = 0,579; p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara safety perception dan safety behavior (r = 0,149; p = 0,169). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja, baik secara langsung maupun melalui persepsi terhadap keselamatan. Hasil wawancara dengan key person juga menguatkan bahwa keteladanan dan keterlibatan langsung pimpinan menjadi faktor yang mendorong budaya keselamatan yang positif. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan meningkatkan efektivitas kepemimpinan keselamatan melalui pelatihan, keterlibatan aktif pemimpin, serta evaluasi berkelanjutan terhadap program keselamatan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memediasi atau memoderasi hubungan antarvariabel.


Occupational safety is a crucial aspect of company operations, especially in the electricity sector which carries a high level of risk. This study aims to examine the relationship between safety leadership and safety perception on safety behavior among workers at the PT X site in 2025. A semi-quantitative approach was employed using a survey method with questionnaires completed by 87 respondents. Data were analyzed using Spearman and Pearson correlation tests. The results indicate a positive and significant relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.227; p = 0.035), as well as between safety leadership and safety perception (r = 0.579; p = 0.000). However, no significant relationship was found between safety perception and safety behavior (r = 0.149; p = 0.169). These findings suggest that safety leadership plays an important role in shaping workers’ safety behavior, both directly and indirectly through safety perception. Interviews with key persons also support the conclusion that leadership engagement and role modeling are key drivers of a positive safety culture. The study recommends that the company improve the effectiveness of safety leadership through targeted training, active leadership involvement, and continuous evaluation of safety programs. Future research is encouraged to explore other variables that may mediate or moderate the relationships among these constructs.
Read More
S-12082
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ekin Hagana Imanuel Sembiring; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian cross sectional ini berisi tentang asesmen safety leadership,safety climate dan safety behavior di PT. X tahun 2016. Dibutuhkan gambaranaspek kepemimpinan, iklim serta perilaku pekerja di PT.X yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan K3. Terdapat 183item pada kuesioner yang telah diisi oleh 87 responden yang merupakan pekerjaPT.X dengan jabatan pelaksana dan lama kerja minimal 6 bulan. Data yang telahdiperoleh selanjutnya diolah untuk mengetahui nilai rata-rata persepsi respondenterhadap ketiga variabel, yaitu safety leadership, safety climate dan safetybehavior.Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa safetyleadership atasan responden yang terdiri atas 5 indikator, yaitu: safety caring,safety cocahing, safety controlling, participative decision making dan leading byexample masuk pada kategori baik dengan nilai mean sebesar 76,34%. Hasilasesmen safety climate yang terdiri dari 6 indikator yaitu: management safetypriority, commitment and competence, safety communication, learning and trustin co-worker safety competence, workers safety commitment, workers safetypriority and risk non acceptance, organizational environment dan work pressuremasuk kedalam kategori baik dengan nilai mean sebesar 75,62%. Selain itu,variabel safety behavior juga masuk kedalam kategori baik dengan nilai meansebesar 75,26% yang terdiri atas 2 indikator yaitu safety compliance dan safetyparticipation.Kata kunci: asesmen;safety behavior;safety climate;safety leaderhip.
Read More
S-9277
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zul Amri; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Andri Cahyadi, Santi Hairunissa
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara iklim keselamatan, kepemimpinan keselamatan, Contractor Safety Management System (CSMS), dan kinerja keselamatan pada perusahaan penyedia layanan teknologi informasi dan komunikasi (ICT provider) PT X yang beroperasi di sektor migas pada tahun 2025. Latar belakang penelitian ini didorong oleh meningkatnya keterlibatan kontraktor dalam kegiatan operasional migas, yang menuntut penerapan sistem manajemen keselamatan yang efektif serta kepemimpinan yang berfokus pada penguatan budaya keselamatan kerja. Pendekatan penelitian yang diterapkan bersifat kuantitatif, dengan analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menilai hubungan kausal antar variabel laten. Data dikumpulkan melalui survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada personel internal dan eksternal (kontraktor) yang terlibat dalam proyek di PT X. Hasil analisis menunjukkan bahwa iklim keselamatan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepemimpinan keselamatan (β = 0,850) dan CSMS (β = 0,407), namun pengaruh langsungnya terhadap kinerja keselamatan tidak signifikan (β = -0,022). Sementara itu, kepemimpinan keselamatan juga memberikan pengaruh positif terhadap CSMS (β = 0,212), tetapi tidak signifikan terhadap kinerja keselamatan secara langsung (β = 0,012). Di sisi lain, CSMS terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keselamatan (β = 0,890), menunjukkan perannya sebagai variabel mediasi utama yang menghubungkan iklim dan kepemimpinan keselamatan dengan kinerja keselamatan. Nilai R² kinerja keselamatan sebesar 0,879 mengindikasikan bahwa model penelitian ini mampu menjelaskan sekitar 87,9% variasi kinerja keselamatan melalui kontribusi ketiga variabel tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja keselamatan pada perusahaan ICT provider di sektor migas sangat tergantung pada implementasi CSMS yang efektif, serta dukungan iklim dan kepemimpinan keselamatan yang kuat di seluruh tingkatan organisasi.

This study aims to explore the relationship between safety climate, safety leadership, Contractor Safety Management System (CSMS), and safety performance at PT X, an information and communication technology (ICT) provider operating in the oil and gas sector, in 2025. The background of this study is driven by the increasing involvement of contractors in oil and gas operational activities, which requires the implementation of an effective safety management system and leadership that focuses on strengthening a work safety culture. The research approach applied is quantitative, with Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) analysis to assess the causal relationship between latent variables. Data were collected through a survey using questionnaires distributed to internal and external personnel (contractors) involved in projects at PT X. The results of the analysis show that safety climate has a positive and significant influence on safety leadership (β = 0.850) and CSMS (β = 0.407), but its direct influence on safety performance is not significant (β = -0.022). Meanwhile, safety leadership also had a positive effect on CSMS (β = 0.212), but was not directly significant on safety performance (β = 0.012). Conversely, CSMS was shown to have a positive and significant effect on safety performance (β = 0.890), indicating its role as a key mediating variable linking safety climate and leadership to safety performance. The R² value for safety performance of 0.879 indicates that this research model is able to explain approximately 87.9% of the variation in safety performance through the contribution of these three variables. This finding confirms that improving safety performance in ICT providers in the oil and gas sector is highly dependent on the implementation of an effective CSMS, as well as the support of a strong safety climate and leadership at all levels of the organization.
Read More
T-7458
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titus Halomoan Mg; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Agra Mohamad Khaliwa
Abstrak:
Kecelakaan kerja merupakan masalah serius yang berdampak luas pada individu dan organisasi, baik dari segi fisik, psikologis, maupun ekonomi, di mana jutaan pekerja setiap tahun mengalami cedera atau penyakit  akibat kerja yang dapat menurunkan produktivitas serta meningkatkan beban finansial perusahaan. Oleh karena itu, menciptakan iklim keselamatan yang kuat menjadi hal krusial dalam mencegah risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini menganalisis pengaruh safety knowledge dan safety leadership terhadap safety climate di Perusahaan X dengan desain cross-sectional dan pendekatan kuantitatif. Sampel sebanyak 104 karyawan dipilih melalui proportionate stratified random sampling, sementara data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat safety knowledge karyawan tergolong baik, variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap safety climate, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. Sebaliknya, safety leadership memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap safety climate, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dalam aspek keselamatan mampu meningkatkan kepatuhan dan kesadaran karyawan terhadap prosedur keselamatan. Oleh karena itu, penguatan kepemimpinan dan pelatihan keselamatan yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam membangun budaya keselamatan yang lebih baik.

 Workplace accidents are a serious problem with far-reaching physical, psychological and economic impacts on individuals and organizations, with millions of workers each year experiencing occupational injuries or illnesses that can reduce productivity and increase the financial burden on companies. Therefore, creating a strong safety climate is crucial in preventing the risk of workplace accidents. This study analyzes the effect of safety knowledge and safety leadership on safety climate in Company X with a cross-sectional design and quantitative approach. A sample of 104 employees was selected through proportionate stratified random sampling, while data was collected by questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results showed that although the level of safety knowledge of employees was good, this variable did not have a significant effect on safety climate, which indicates that knowledge alone is not enough to create a safe work environment. In contrast, safety leadership has a positive and significant effect on safety climate, indicating that strong leadership in safety aspects can increase employee compliance and awareness of safety procedures. Therefore, strengthening leadership and continuous safety training are important steps in building a better safety culture.
Read More
T-7229
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emylina Manurung; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, Doni Hikmat Ramadhan, Yuni Kusminanti, Nevi Setyasih
Abstrak: Penelitian ini dilakukan di perusahaan tambang batu bara yang memiliki konsep penambangan terbuka. Fluktuasi angka kecelakaan dari tahun 2011-2017 menyebabkan PT XYZ memiliki potensi resiko kecelakaan yang tinggi. Hasil investigasi kecelakaan menyebutkan bahwa faktor utama yang menyebabkan kejadian kecelakaan yaitu faktor pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara safety leadership dengan safety performance di PT XYZ. Metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini adalah analisis komperatif dan analisis korelasi. Gaya kepemimpinan yang akan diidentifikasi melalui pendekatan persepsi dari manajemen (top dan middle management) serta dari karyawan (staff atau front line) dengan menggunakan kuesioner yang akan diberikan kepada 240 karyawan sehingga dapat diketahui gambaran gaya kepemimpianan yang saat ini menjadi budaya di PT XYZ. Gaya kepemimpinan akan dihubungkan dengan safety performance (safety inspection, safety motivation dan incident investigation). Berdasarkan hasil analisa data diperoleh bahwa kepemimpinan transformasional yang saat ini menjadi budaya di PT XYZ memiliki pengaruh positif yang siginifikan terhadap safety performance (safety inspection, safety motivation dan incident investigation).
Read More
T-5547
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakti Puruboyo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Daris Hendarko, Adhie Vieky Novrianto
Abstrak:
Perusahaan konstruksi memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap jumlah pekerja yang mengalami kecelakaan kerja. Perusahaan konstruksi memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Beberapa jenis pekerjaan dengan kategori risiko tinggi adalah pekerjaan di ketinggian, penggalian, ruang tertutup, dan operasi pengangkatan (lifting operations). Kecelakaan kerja di konstruksi negara berkembang, pertambangan, dan industri minyak dan gas telah meningkat setiap tahunnya. Kecelakaan kerja ini terjadi karena perilaku pekerja terkait keselamatan masih rendah. Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional maka melalui proyek migas dengan tujuan meningkatkan kapasitas kilang migas di Indonesia. Tesis ini menganalisis hubungan antara safety climate dan safety behaviour dengan mediasi dari gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional pada proyek migas di Indonesia. Uji hipotesis diajukan dengan total 7 uji hipotesis langsung dan tidak langsung dengan 675 pekerja sebagai responden. Untuk menguji hipotesis, penelitian ini menggunakan metode structural equation modelling. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa beberapa uji hipotesis diterima atau terdapat hubungan yang positif antar variabel. Beberapa hasil uji hipotesis ditolak atau tidak terbukti secara empiris berpengaruh positif dan signifikan antar variabel.

Construction companies play an important role in contributing to the number of workers who experience work accidents. Construction companies have a high risk of work accidents. Some jobs with a high-risk category are working at heights, digging, confined spaces, and lifting operations. Occupational accidents in developing countries' construction, mining, and oil and gas industries have increased yearly. These work accidents occur because the behaviour of workers related to safety is still low. To meet the national demand for fuel oil through the oil and gas project by increasing the capacity of oil and gas refineries in Indonesia. Occupational accidents at one of the projects in Indonesia have increased quite a bit. This study analyses the relationship between safety climate on worker safety behaviour with mediation of transformational and transactional leadership styles. The hypothesis test was proposed with a total of 7 direct and indirect hypotheses tests with 675 workers as respondents. To test the hypothesis, this study uses the structural equation modelling method. From the research conducted, it was found that several hypothesis tests were accepted or that there was a positive relationship between variables. Several hypothesis test results were rejected or not empirically proven to have a positive and significant effect between variables.
Read More
T-6741
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfa Laela Farhati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Muthia Ashifa, Avinia Ismiyati
Abstrak:


Industri agrokimia menghadapi risiko keselamatan tinggi akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dan proses produksi yang kompleks. Safety leadership menjadi krusial dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan meminimalkan risiko kecelakaan serta dampak negatif terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety leadership di PT X dan menganalisis implementasinya berdasarkan LEAD Model. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed method, dengan data kuantitatif melalui kuesioner yang diadaptasi dari LEAD Scale dan data kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan tinjauan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership di PT X memiliki karakteristik yang positif dengan dimensi Leverage, Energise, Adapt, dan Defend. Dimensi Leverage menunjukkan skor tertinggi (4,56), menandakan efektivitas pemimpin dalam memanfaatkan sumber daya. Namun, dimensi Defend memiliki skor terendah (4,12), menunjukkan perlunya peningkatan dalam strategi perlindungan dan mitigasi risiko. Subdimensi dengan skor tertinggi adalah Clarity (4,63), sedangkan yang terendah adalah Accountability (4,12). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa PT X telah berhasil menerapkan safety leadership dengan baik, namun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam aspek akuntabilitas. Saran yang diberikan meliputi pengembangan sistem pemantauan yang lebih efektif, mendorong keterlibatan aktif karyawan dalam program keselamatan, dan membangun budaya keselamatan yang proaktif.


The agrochemical industry faces high safety risks due to the use of hazardous chemicals and complex production processes. Safety leadership is crucial in creating a safe work environment and minimizing the risk of accidents and negative impacts on workers' health. This study aims to analyze the safety leadership profile at PT X and evaluate its implementation based on the LEAD Model. The research method employs a mixed- method approach, utilizing quantitative data collected through questionnaires adapted from the LEAD Scale and qualitative data through in-depth interviews, field observations, and document reviews. The study results indicate that safety leadership at PT X exhibits positive characteristics across the dimensions of Leverage, Energise, Adapt, and Defend. The Leverage dimension scored the highest (4.56), indicating the effectiveness of leaders in utilizing resources. However, the Defend dimension scored the lowest (4.12), highlighting the need for improvements in protection strategies and risk mitigation. The subdimension with the highest score is Clarity (4.63), while Accountability scored the lowest (4.12). The conclusion of this study is that PT X has successfully implemented safety leadership, but there is still room for improvement, particularly in accountability aspects. Recommendations include developing a more effective monitoring system, encouraging active employee participation in safety programs, and fostering a proactive safety culture.

Read More
T-7406
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salwa Irzi Alifya; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Musonip
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate dan mengetahui hubungan antara karakteristik personal dengan safety climate pada petugas di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional, data primer dikumpulkan melalui kuesioner Fire Service Safety climate Scale dari 72 petugas menggunakan teknik total sampling. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan profil safety climate, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman untuk karakteristik personal berskala ordinal (kelompok usia, tingkat pendidikan, masa kerja, status kepegawaian, jabatan) dan uji Chi-Square serta Odds Ratio untuk karakteristik personal berskala nominal (pengalaman cedera). Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety climate secara umum di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa tergolong tinggi (skor rata-rata 3,88). Dimensi Dukungan Supervisor (skor rata-rata 4,02) lebih tinggi daripada Komitmen Manajemen (skor rata-rata 3,73), mengindikasikan adanya kesenjangan persepsi. Ditemukan hubungan positif signifikan antara safety climate dengan kelompok usia (ρ=0,274, p=0,020), tingkat pendidikan (ρ=0,325, p=0,005), dan masa kerja (ρ=0,327, p=0,005). Sebaliknya, terdapat hubungan negatif signifikan dengan status kepegawaian (ρ=−0,304, p=0,010), di mana PNS cenderung memiliki persepsi safety climate lebih rendah. Jabatan (ρ=−0,212, p=0,074) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Selain itu, terdapat hubungan signifikan antara pengalaman cedera dan safety climate (χ2=14,015, p=0,001), di mana petugas yang pernah cedera 20,5 kali lebih mungkin menilai safety climate dalam kategori 'Cukup'. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif safety climate dan hubungannya dengan karakteristik personal, serta berkontribusi pada peningkatan keselamatan kerja di Sektor IX Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kecamatan Jagakarsa.


This study aims to analyze the safety climate profile and determine the relationship between personal characteristics and safety climate among personnel at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District. Employing a quantitative approach with a descriptive cross-sectional design, primary data was collected through the Fire Service Safety climate Scale questionnaire from 72 officers using a total sampling technique. Univariate analysis was used to describe the safety climate profile, while bivariate analysis utilized the Spearman correlation test for ordinal-scaled personal characteristics (age group, education level, years of service, employment status, position) and the Chi-Square test and Odds Ratio for nominal-scaled personal characteristics (injury experience). The results indicate that the overall safety climate at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District, is categorized as high (average score 3.88). The Supervisor Support dimension (average score 4.02) is higher than Management Commitment (average score 3.73), indicating a perception gap. A significant positive relationship was found between safety climate and age group (ρ=0.274, p=0.020), education level (ρ=0.325, p=0.005), and years of service (ρ=0.327, p=0.005). Conversely, there was a significant negative relationship with employment status (ρ=−0.304, p=0.010), where civil servants tended to have a lower perception of safety climate. Position (ρ=−0.212, p=0.074) showed no significant relationship. Furthermore, there was a significant relationship between injury experience and safety climate (χ2=14.015, p=0.001), where officers with a history of injury were 20.5 times more likely to rate the safety climate as 'Sufficient'. This study is expected to provide a comprehensive overview of the safety climate and its relationship with personal characteristics, as well as contribute to the improvement of occupational safety at Sector IX of the Fire and Rescue Department, Jagakarsa District.
Read More
S-12130
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhyi Nur Fitrahanefi; Pembimbibng: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Junaidi, Ridwan Zahdi Syaaf, Amelia Martha, Muthia Ashifa
Abstrak: Safety Leadership merupakan salah satu komponen penting dalam menurunkan angka kecelakaan dan peningkatan perilaku keselamatan kerja. Penelitian ini mengkaji profil Safety Leadership Manajemen Lini (Koordinator dan Supervisor) pada PT X yang bergerak di bidang pertambangan emas. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan mengadopsi konsep Krause (2005). Terdapat 2 elemen Safety Leadership yaitu Leadership Style (Transformational Leadership) dan Safety Best Practice. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Safety Leadership pada Manajemen Lini menurut sudut pandangnya sendiri dan sudut pandang tim masih belum baik. Safety belum menjadi prioritas dari manajemen lini di PT X. Kata kunci: Safety Leadership, Personality, Transformational Leadership, Safety Best Practices Safety Leadership is one of the important components in reducing accident rate and increasing safety behavior. This study examines the profile of Safety Leadership Line Management (Coordinator and Supervisor) at PT X which is engaged in gold mining. The method used is quantitative, by adopting the concept of Krause (2005). There are 2 elements of Safety Leadership that are Leadership Style (Transformational Leadership) and Safety Best Practice. From the results of the research it was found that Safety Leadership on Line Management in its own perspective and team perspective is still not good. Safety has not been a priority of line management in PT X. Kata kunci: Safety Leadership, Personality, Transformational Leadership, Safety Best Practices
Read More
T-5071
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yasmin Himayah Assadila; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Imam Pratama Azi
Abstrak:
Pelaporan bahaya merupakan salah satu bentuk kepatuhan perilaku keselamatan kerja yang penting untuk mencegah kecelakaan dan menciptakan lingkungan kerja yang aman. PT X sebagai perusahaan di sektor manufaktur telah menerapkan program safety observation untuk mendorong pelaporan kondisi dan perilaku tidak aman. Namun, hingga awal tahun 2025, tingkat pelaporan masih belum mencapai target yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pelaporan bahaya pada pekerja bagian direktorat operasional PT X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 81 responden yang dipilih. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang mencakup variabel predisposisi (usia, masa kerja, sikap, dan persepsi terhadap bahaya), pemungkin (pelatihan), dan penguat (dukungan rekan kerja). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,034), masa kerja (p=0,001), persepsi terhadap bahaya (p<0,001), pelatihan (p=0,019), dan dukungan rekan kerja (p=0,001) dengan kepatuhan pelaporan bahaya. Sebaliknya, sikap tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,318). 


The Safety Observation Program at PT X aims to enhance hazard reporting in the workplace as part of accident prevention and safety culture improvement. However, the level of reporting compliance remains relatively low. This study aims to analyze factors associated with hazard reporting compliance among employees in the operational directorate of PT X. A quantitative approach with a cross-sectional design was used. A total of 81 respondents were selected through stratified random sampling. Data were collected using an online questionnaire and analyzed using the chi-square test to examine the relationship between independent variables and compliance. The variables studied include predisposing factors (age, length of service, attitude, and risk perception), enabling factor (training), and reinforcing factor (coworker support). The results showed significant associations between hazard reporting compliance and age (p=0.034), length of service (p=0.001), risk perception (p<0.001), training (p=0.019), and coworker support (p=0.001). On the other hand, attitude did not show a significant relationship (p=0.318). These findings highlight the importance of experience, risk awareness, and social support in promoting reporting behavior in the workplace.
Read More
S-12079
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive