Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33425 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andini Aisyah Putri; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Imam Pratama Azi
Abstrak:
Kasus kecelakaan kerja di industri semen, khususnya area packer merupakan masalah serius yang dapat berdampak pada banyak hal termasuk produktivitas, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja. Data menunjukkan bahwa kecelakaan kerja di area Packer Industri Semen PT X Tahun 2024 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 dan menjadi lokasi dengan frekuensi kecelakaan tertinggi selama 2024. Investigasi kecelakaan kerja dan tindakan perbaikan telah dilakukan oleh PT X, tetapi kecelakaan terus berulang. Hal tersebut mungkin saja karena terlewatnya analisis faktor manusia dalam proses investigasi kecelakaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kontribusi faktor manusia berupa kondisi laten dan kegagalan aktif terhadap kecelakaan kerja yang terjadi di area packer PT X selama 2023-2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik menggunakan metode Human Factor Analysis Classification System (HFACS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi laten lebih banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer PT X dibandingkan kegagalan aktif. Faktor kondisi laten yang paling berkontribusi terhadap kecelakaan kerja diantaranya organizational climate, organizational process, resource management, dan inadequate supervision. Sementara, faktor kegagalan aktif yang paling banyak berkontribusi adalah decision error. PT X perlu melakukan perbaikan kondisi laten dari level organisasi dan pengendalian kegagalan aktif atas faktor-faktor yang ditemukan berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer.


Occupational accident cases in the cement industry, especially the packer area, are a serious problem that can have an impact on many things including productivity, safety, and worker welfare. Data shows that occupational accidents in the Packer area of the PT X Cement Industry in 2024 have increased compared to 2023, making it the area with the highest accident frequency in 2024. Occupational accident investigations and corrective actions have been conducted, but accidents continue to recur. This may be due to the absence of human factor analysis during the investigation process. Therefore, this study was conducted to determine contribution of human factors specifically latent conditions and active failures to occupational accidents that occurred in the PT X packer area during 2023-2024. This study was conducted using a descriptive analytical method using the Human Factor Analysis Classification System (HFACS) method. The results of the study showed that latent conditions contributed more to occupational accidents than active failures. The latent condition factors that contributed the most to occupational accidents included organizational climate, organizational process, resource management, and inadequate supervision. Meanwhile, the active failure factor that contributed the most was decision error. PT X needs to improve latent conditions at the organizational level and implement control to mitigate active failures in the packer area.
Read More
S-12103
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ovvyasa Wayka Putri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Ridwan Zahdi Sjaaf, Hernandas Chatib, Irma Lestari
Abstrak: Tesis ini mengkaji kecelakaan kerja di PT XYZ tahun 2015 dengan menggunakanframework Human Factors And Classification System (HFACS). Penelitian iniadalah penelitian semi kuantitatif dengan desain studi deskriptif analitik. Hasildari penelitian ini adalah lapisan dari HFACS yang paling banyak kelemahannyaadalah unsafe act sebanyak 11 dari total 11 kecelakaan yang diteliti denganelemen decision error menjadi faktor yang paling lemah, lalu disusul denganprecondition of unsafe act sebanyak 10 dengan elemen conditions of operatormenjadi faktor yang paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan, lalu disusuldengan unsafe supervision sebanyak 7 dengan elemen inadequate leadershipmenjadi faktor yang paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan, dan yangterakhir organizational influences sebanyak 5 dengan elemen organizationalclimate dan resource management menjadi faktor yang paling banyakberkontribusi terhadap kecelakaan. Hasil analisis penelitian menyarankantindakan perbaikan di tiap tingkatan HFACS baik pada perbaikan kegagalan aktifmaupun laten dengan penekanan pada perbaikan di lapisan unsafe act.
Kata kunci:Kecelakaan, analisis kecelakaan, Human Factors And Classification System, HFACS, Comprehensive List Of Causes, CLC
This thesis assess the accident in PT XYZ 2015 by using Human Factors AndClassification System (HFACS) framework. This research is a semi-quantitativewith design study analytical descriptive. Results from this study are a layer ofHFACS most weakness is unsafe act at 11 from total 11 accidents with theelements of decision error becomes a factor of the number one weakness, thenfollowed with a precondition of unsafe act at 10 with the elements of conditions ofservice to be the factors that most contribute to accidents, followed by unsafesupervision at 7 with inadequate leadership element is the factor that mostcontributed to the accident, and the latter as much as 5 of organizationalinfluences with elements of organizational climate and resource management isthe factor that most contributed to the accident. The analysis of research suggestscorrective actions at each level of HFACS, not only for active failures but alsolatent failures with reinforcing corrective action at the unsafe act layer.
Key words:Accident, accident analysis, Human Factors And Classification System, HFACS,Comprehensive List Of Causes, CLC
Read More
T-4701
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shony Erdinal; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Widura Imam Mustopo, Mufti Wirawan
Abstrak:
Tesis ini mengkaji kecelakaan kerja aktivitas pengangkatan pada operasi rig darat di PT X. menggunakan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) periode tahun 2014 - 2018. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil analisis penelitian menunjukkan lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat) yang paling bekerja tidak efektif dengan paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja sebanyak 45 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe errors (kesalahan) yang berkontribusi terbanyak dengan 39 kecelakaan kerja Lapisan organizational influences (pengaruh organisasi) tidak bekerja efektif dengan berkontribusi terbanyak kedua terhadap kecelakaan kerja sebanyak 26 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe organizational process (proses organisasi) yang berkontribusi terbanyak dengan 23 kecelakaan kerja. Lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat) tidak bekerja efektif dengan berkontribusi terbanyak ketiga terhadap kecelakaan kerja sebanyak 16 dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe inadequate supervision (pengawasan tidak memadai) dan planned inappropriate operations (perencanaan operasi yang tidak tepat) berkontribusi sama banyak yaitu masing-masing dengan 10 kecelakaan kerja. Lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat) cukup bekerja efektif dengan berkontribusi paling sedikit dengan 8 kecelakaan kerja dari total 49 kecelakaan kerja yang diteliti, dengan tipe personnel factors (faktor personalia) berkontribusi terbanyak dengan 7 kecelakaan kerja. Hasil analisis penelitian menyarankan dilakukan tindakan perbaikan di setiap lapisan HFACS sebagai sistem proteksi keselamatan baik latent failures (kegagalan laten) dan active failures (kegagalan aktif) dengan penekanan perbaikan dimulai dahulu dari lapisan organizational influences (pengaruh organisasi) dilanjutkan dengan lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat) dan kemudian lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat), sedangkan perbaikan lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat) menjadi tahapan perbaikan terakhir, selain juga perbaikan pada organizational influences (pengaruh organisasi), lapisan unsafe supervisions (pengawasan tidak selamat), dan lapisan unsafe acts (tindakan tidak selamat) akan memberikan pengaruh positif pada lapisan preconditions for unsafe acts (prakondisi untuk tindakan tidak selamat)

The focus of this research is to analyze all occupational accidents of lifting activities on land rig operations in PT ‘X’ using the Human Factor Analysis and Classifications System (HFACS) method in 2014 - 2018. The type of research methodology is qualitative research with a descriptive design. The final result shows that the unsafe act layer is the most ineffective layer that contributing to almost all occupational accident cases which is 45 of 49 total cases of occupational accidents. Error is the sub-layer of unsafe act which has the highest number of contributions to occupational accident cases with total 39 cases. On the other side, the organizational influences layer is the second layer that has high contribution to accident which is 26 of 49 total cases of occupational accidents. The organizational process is the sub-layer of organizational influences which contributing to 23 cases of occupational accident. The third layer which has contribution to accident is unsafe supervision. The unsafe supervision has contribution to accident which is 16 of 49 total cases of occupational accidents. Inadequate supervision and planned inappropriate operation are the sub-layer of inadequate supervision which contribute to the accident cases for 10 cases equally. The layer of preconditions for unsafe actions is the effective layer which has contribution to occupational accident cases which is 8 of 49 total cases of occupational accidents. Personnel factor is the sub-layer of preconditions for unsafe actions which contribute to 7 cases of occupational accidents. According to the result, researcher recommend that corrective action must be taken at each layer of HFACS as the safety protection system, both latent failures and active failures with the emphasis on improvement, which start from the organizational influences layer, followed by the unsafe supervisions layer, and then unsafe actions layer, while the improvement on the layer of precondition for unsafe actions becomes the last improvement. Improvement to organizational influences layer, unsafe act layer, and unsafe supervisions layer will have a positive influence on the layer of precondition for unsafe actions.

Read More
T-5954
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahyo Hardo Priyoasmoro; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Achmad Dahlan, Ivan Fadlun Azmy
Abstrak:

Resiko bekerja di perusahaan migas PT X yang berlokasi di offshore Natuna adalah relatif tinggi. Sepanjang tahun 2018 – 2023 terjadi fluktuasi kecelakaan kerja di PT. X. Bahkan setelah dua tahun (tahun 2020 dan 2019) tidak terjadi kecelakaan kerja untuk kategori recordable injury (kasus di atas FAC), di tahun 2021 terjadi lagi 3 kasus (1 RWDC dan 2 MTC) dan di tahun 2022 terjadi 4 kasus (1 LWDC, 1 RWDC, dan 2 MTC). Di tahun 2023 terjadi 1 kasus (1 RWDC). Korban kecelakaan kerja di tahun 2021 didominasi oleh pekerja kontrak dan pekerja tetap sedangkan kecelakaan kerja di tahun 2022 dan 2023 semuanya terjadi pada pekerja kontrak. Sebagian besar kecelakaan yang terjadi penyebab langsungnya adalah unsafe acts. Sampai saat ini belum ada analisis menyeluruh dari data investigasi kecelakaan-kecelakaan yang telah dilakukan PT X untuk mendapatkan faktor-faktor penyebab dasar dari semua kecelakaan tersebut. Dengan demikian, penelitian perlu dilakukan, dan karena berhubungan dengan human factor, maka pada penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja tersebut dengan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS). Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja di PT X antara tahun 2018 – 2023 dengan metode HFACS. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Data sekunder yang digunakan berupa rekaman kejadian kecelakaan dan laporan investigasi atas 41 kecelakaan di PT X. Data sekunder tersebut kemudian diklasifikasikan sesuai dengan empat (4) tahapan kegagalan di metode HFACS, yaitu unsafe acts, precondition of unsafe acts, unsafe supervision, dan organizational influence. Pengklasifikasian ini divalidasi oleh dua ahli keselamatan kerja, di mana hasil validasinya relatif tinggi (96%). Hasil: Hasil penelitian menjelaskan bahwa faktor-faktor HFACS yang mempengaruhi kecelakaan terbesar berturut-turut adalah adverse mental state (51,2%), skill-based error (39%), routine violations (34,1%), dan tools/technological dan resource management (masing-masing 31,7%). Kemudian disusul oleh decision error (29,3%), inadequate supervision (22%), failed to correct problem dan organizational process masing-masing (17,1%), lalu supervisory violation dan organizational climate masing-masing (9,8%). Kesimpulan: Faktor-faktor HFACS yang memengaruhi kecelakaan kerja di PT X dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan program K3 perusahaan guna menurunkan angka kecelakaan dengan memprioritaskannya pada faktor HFACS yang bersifat latent failure baru kemudian pada faktor active failure-nya, karena latent failure - jika diperbaiki- akan menjadi kunci untuk mencegah berulangnya kecelakaan.


The risks of working for the PT X , an oil and gas company located offshore Natuna are relatively high. Throughout 2018 – 2023 there were fluctuations in work accidents at PT. X. Even after two years (2020 and 2019) there was no work accident for the recordable injury category (cases above FAC), in 2021 there were 3 cases (1 RWDC and 2 MTC) and in 2022 there were 4 cases (1 LWDC, 1 RWDC, and 2 MTC). In 2023 there was 1 case (1 RWDC). Work accident victims in 2021 are dominated by contract workers and permanent workers, while work accidents in 2022 and 2023 all occur in contract workers. Most of the accidents that occur are directly caused by unsafe acts. Until now there has been no comprehensive analysis of accident investigation data that has been carried out by PT X to obtain the basic causal factors of all these accidents. Thus, research needs to be carried out, and because it is related to human factors, this research will analyze the factors that cause work accidents using the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) method. Objective: Analyzing the factors that influence work accidents at PT X between 2018 – 2023 using the HFACS method. Method: This research is descriptive analytical research with a qualitative approach. The secondary data used is in the form of recordings of accidents and investigation reports on 41 accidents at PT X . This classification was validated by two occupational safety experts, where the validation results were relatively high (96%). Results: The research results explain that the HFACS factors that influence the biggest accidents are adverse mental state (51.2%), skill-based errors (39%), routine violations (34.1%), and tools/technological and resources, respectively. management (31.7% each). Then followed by decision errors (29.3%), inadequate supervision (22%), failed to correct problems and organizational processes respectively (17.1%), then supervisory violations and organizational climate respectively (9.8%). Conclusion: The HFACS factors that influence work accidents in PT X can be used as input for improving the company's H&S program to reduce the number of accidents by prioritizing the HFACS factors which are latent failures and then the active failure factors, because latent failures - if corrected - will become key to preventing recurrence of accidents.

Read More
T-6952
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Kusumawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Ridwan Zahdi Syaaf, Fajar Seno Jati, Doni Agus Sumitro
Abstrak:
Pendahuluan: Di dalam industri hulu migas, cedera tangan dan jari merupakan tantangan besar. Setidaknya 50% dari kasus cedera di dalam industri migas merupakan cedera tangan dan jari. Di beberapa perusahaan, proporsi tersebut dapat menjadi lebih besar. Dalam analisis yang pernah dilakukan terhadap kecelakaan di perusahaan anggota IOGP, lebih dari delapan puluh persen diakibatkan karena factor manusia, baik yang disebabkan oleh faktor pribadi ataupun faktor organisasi. Studi ini dilakukan untuk menganalisis factor manusia di dalam kasus cedera tangan dan jari yang teradi di PT. X sepanjang tahun 2014 hingga 2020 dengan menggunakan kerangka HFACS. Metode: Penelitian dengan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder berupa data kasus cedera tangan dan jari di PT. X dari tahun 2014 hingga 2020. Hasil: Cedera tangan dan jari paling banyak disebabkan oleh skill-based errors dan routine violations. Kasus cedera yang diakibatkan skilled-based errors juga diperparah oleh pelanggaran aturan yang dilakukan bersama secara terus menerus (routine violations). Kondisi yang menjadi prekondisi dari tindakan tidak aman yang berkontribusi dalam cedera tangan dan jari paling banyak terkait crew/ resource management. berbagai faktor yang termasuk ke dalam kategori ini di antara lain komunikasi, koordinasi, perencanaan dan kerja tim yang mempengaruhi kinerja. Pengawasan yang tidak aman yang paling banyak terjadi adalah failed to correct known problems dan inadequate supervision. Inadequate supervision terkait dengan pengelolaan personil dan sumber daya termasuk pelatihan, panduan professional dan kepemimpinan operasional. Sedangkan failed to correct known problems terkait dengan kekurangan pada individu, peralatan, pelatihan atau area keselamatan lain “diketahui” oleh supervisor, namun dibiarkan tidak dikoreksi. Di level 4, pengaruh organisasi yang terbesar adalah Organisational Process. Organisational process adalah proses formal di mana visi sebuah organisasi dijalankan termasuk operasi, prosedur, dan kesalahan di antaranya. Kesimpulan: Gambaran HFACS pada kasus cedera tangan dan jari di PT. X sejalan dengan gambaran umum HFACS yang ada dalam industri hulu migas, kecuali di level 2 yakni preconditions for unsafe acts. Sistem pembelajaran kejadian di PT. X masih dipengaruhi oleh teori domino dan belum mengintegrasikan konsep faktor manusia secara menyeluruh. Kerangka HFACS dapat membantu PT. X dalam menelaah lebih dalam defisiensi di dalam faktor manusia untuk dapat menetapkan tindakan perbaikan yang lebih tepat.
Introduction: Hand and finger injuries have always been major challenges in upstream oil and gas industry. At least 50% of injuries in upstream oil and gas impacting hand and fingers. In some companies, the proportion could be larger. More than 80% of incidents in IOGP members were caused by human factors, both personal and organizational factors. This study aims to analyze human factors in hand and finger injuries at PT. X by using HFACS framework. Methodology: The study was conducted by applying qualitative descriptive analysis by using secondary data, investigation report of hand and finger injures from 2014 to 2020. Results: Skill-based errors and routine violations contributed in most of hand and finger injuries in PT.X. Routine violations were found as aggravating factors in skill-based errors injuries/ crew resource management were dominating level 2, preconditions for unsafe acts, it consists of coordination, communication, planning and team work that impacting performance. Unsafe supervision that occurred the most are inadequate supervision and failed to correct known problems. Inadequate supervision related to personnel and resources management including trainings, professional guidance and operational leadership. Failed to correct known problems related to deficiencies in individual, equipment, training or the safety area “known” to supervisor but left uncorrected. In level 4, Organizational process was the weak chain of organizational influences. Organizational process is a formal process where organization’s vision is implemented on Site, including operations, procedures. Conclusion: HFACS of hand and finger injuries in PT. X is in line with general HFACS description in upstream oil and gas industry, except for level 2, pre-conditions for unsafe acts. Learning from incident system in PT. X was still highly influenced by domino theory and has not yet integrated human factors. HFACS framework can help PT. X to dig deeper in human factors deficiencies in organization so PT. X can define more effective mitigation & preventive measures.
 
Read More
T-6942
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurcahyo Kurniawan Prihatsono; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Doni Hikmat Ramdhan, Alwahono dan Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri pertambangan dikenal sebagai lingkungan kerja dan aktivitas operasional dengan risiko tinggi, bahkan dikategorikan sebagai salah satu aktivitas paling berbahaya pada industri modern. Industri ini berada di antara peringkat tertinggi yang mengalami cedera dan hari kerja hilang, terdapat banyak jenis cedera yang terjadi dan cedera adalah salah satunya. Jari dilaporkan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling sering mengalami cedera. Penelitian ini dilakukan pada salah satu perusahaan tambang di Indonesia, PT X, dalam jangka waktu lina tahun (2018-2022) menggunakan data hasil investigasi kecelakaan. Dalam periode ini data statistik menunjukkan adanya tren peningkatan dan berdasarkan hasil investigasi kecelakaan menggunakan metode RCA ditemukan bahwa 74% kasus akibat dari perilaku atau kegagalan manusia. Analisis lebih mendalam dilakukan menggunakan kerangka kerja HFACS-MI untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kegagalan dalam berbagai lapisan pertahanan di dalam perusahaan. Faktor penyebab terbesar dibandingkan dengan jumlah kasus adalah kategori Organizational Influences (196,17%) dikuti oleh Unsafe Acts (156,28%), Precondition for Unsafe Acts (117,49%), dan Unsafe Leadership (97,27%).

Mining industries are known as high-risk working environments and operational activities, they are categorized as one of the most dangerous activities in modern industry today. It ranks among the highest producers of injuries and lost working days, there are many types of injuries that contribute to this, finger injury is one of them. Fingers are reported to be one of the most injured body parts. This research carried out in a mining company in Indonesia, PT X, within a period of five years (2018-2022) based on their accident investigation data. Within this period statistical data shows an increasing trend and referring to accident investigation conducted using RCA method it was found that 74% due to behavior or human error. Further analysis conducted using HFACS-MI framework to find out causal factors contributing to failure in various defence layer within organization. The biggest contributing factors, compared to number of cases, are Organizational Influences category (196.17%) followed by Unsafe Acts (156.28%), Precondition for Unsafe Acts (117.49%), and Unsafe Leadership (97.27%).
Read More
T-7090
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
SM Abdul Aziz Adi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Irsal Budi Darmawan
S-8833
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khodijah; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Tyagita Meyril
Abstrak: Kegiatan hulu migas memiliki risiko tinggi terkait K3 dan kegiatan pemboran menjadi risiko paling tinggi. 80% penyebab kecelakaan pemboran disebabkan oleh human performance. Tahun 2020, aktivitas pemboran di PT. X menyumbang kecelakaan sebesar 3 dari 8 kecelakaan dan penyebab umum kecelakaan yang terjadi karena faktor manusia. Unsafe acts dianggap menjadi penyebab utama dalam kecelakaan pemboran di industri migas. Maka, penelitian ini membahas mengenai analisis kasus kecelakaan pemboran pada industri migas di PT.X dari sudut pandang faktor manusia. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis faktor kontribusi dari kegagalan aktif dan laten dan menganalisis kasus kecelakaan kerja dari sudut pandang faktor manusia pada aktivitas pemboran yang terjadi di PT. X tahun 2022, serta menentukan rekomendasi untuk perbaikan kedepannya dari kegiatan pengeboran di PT. X. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dari data sekunder dan hasil wawancara. Didapatkan hasil bahwa kondisi laten yang berkontribusi terhadap kecelakaan pemboran yang terjadi di PT. X pada tahun 2022 yaitu gagal mengupdate regulasi terbaru, pengendalian yang dilakukan masih bersifat administratif, kegagalan otoritas penerbit dalam mengecek kelengkapan berkas, tidak adanya pemeriksaan berkala yang terjadwal pada peralatan, gagal memastikan serah terima sumur dilakukan secara keseluruhan, penyusunan JSA kurang baik, gagal menyampaikan bahaya dan risiko secara detail, kegagalan koordinasi di internal kontraktor, gagal mengomunikasikan bahaya dan risiko yang sudah ada di risk assessment, dan kondisi jalan yang seharusnya sempit sehingga memilih permukaan yang miring. Sedangkan kegagalan aktif yang berkontribusi yaitu gagal menginterpretasikan peralatan yang rusak dan kondisi jalan yang berbahaya, tidak melalukan pengecekan kondisi sumur ketika hujan deras, dan pelanggaran SOP. Sehingga ditemukan bahwa kondisi laten lebih banyak berkontribusi sehingga menimbulkan kegagalan aktif atau unsafe acts. Kegagalan yang paling berkontribusi pada tiap layer HGACS-OGI yaitu organizational influences (organizational process), unsafe supervision (supervision violations), preconditions for unsafe acts (environmental factors - physical environment), dan unsafe acts (errors - perceptual errors). Sintesa dari hasil analisis didapat bahwa safety value belum tertanam di PT. X. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan K3 belum dilakukan secara menyeluruh di lapangan, sehingga safety belum terintegrasi di dalam kegiatan operasi. Sehingga rekomendasi yang diberikan penulis yaitu menjadikan K3 sebagai safety of work.
Read More
S-11475
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nimas Mayangsari; Pembimbing: Zulkifli Djunaedi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Doni Hikmat Ramdhan, Mufti Wirawan, Puguh Mahendrodjati, Ivan Havosan
Abstrak:
Faktor manusia bertujuan untuk mengoptimalkan hubungan antara manusia dan kegiatan manusia yang dapat memberi pengaruh perilaku dalam menjalankan pekerjaan di tempat kerja yang dapat memengaruhi keselamatan kerja. Keuntungan dari melibatkan faktor manusia pada proses kerja adalah memperkecil kecelakaan, memperkecil hampir celaka dan mengurangi potensi adanya kesalahan pada manusia dan dampaknya. Dari tahun 1979-1994 telah terjadi 9 insiden besar yang terdapat kontribusi manusia sebagai penyebab kecelakaan tersebut. PT X merupakan Industri Pestisida sebagai salah satu industri yang memiliki instalasi berisiko kecelakaan besar karena mengolah bahan kimia berbahaya. Sehingga faktor manusia merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi kinerja keselamatan di PT X. Terdapat 3 elemen dalam faktor manusia yang diteliti yaitu organisasi, individu dan lingkungan dalam penilaian kinerja keselamatan. Hasil Indeks Kinerja Keselamatan (IKK) di PT X memiliki nilai 3,63 yang artinya adalah status keselamatan dapat diterima tetapi masih diperlukan tindakan minor diperlukan untuk perbaikan kinerja. IKK ini dipengaruhi oleh faktor loading dan nilai tingkat kepentingan. Hasil menunjukan organisasi memiliki nilai loading faktor yang cukup tinggi yaitu pada masing-masing sub-elemennya yaitu diatas 0,8 dan memiliki tingkat kepentingan paling tinggi yaitu 0.39. Tetapi nilai loading faktor sub elemen pada elemen individu dan lingkungan menunjukan hasil dibawah 0.6. Hal tersebut menunjukan bahwa menurut persepsi pekerja, organisasi dalam sistem manajemen telah berperan aktif dalam kinerja keselamatan di PT X berdasarkan faktor manusia. Tetapi pada prakteknya di lapangan yang berhubungan dengan individu dan lingkungan perlu menjadi perhatian khusus dari manajemen. Dikarenakan kedua elemen tersebut yang berkaitan erat dengan implementasi praktis. Sehingga kinerja keselamatan tidak hanya bersifat normatif dalam sistem manajemen, tetapi juga implementasinya di lapangan harus sejalan.

Human factor aim to optimize the relationship between human and human activities. Human Factor can influence behavior that affects in safety performance. The advantages of involving the human factor in the work process are to reduce accidents, minimize near misses and reduce the potential for human error and the impacts. From 1979-1994, there were 9 major incidents with human contribution as the cause of the accident. PT X is a pesticide industry as one of the industries that has a high-risk installation due to processing hazardous chemicals. According to that condition, human factor is an important factor for influencing safety performance at PT X. In this study, there are 3 elements in human factor (organization, individual dan environment) for evaluating PT X safety performance. The result of PT X Safety Performance Index (SPI) is 3.63 which means that the safety status is acceptable but minor actions are still needed to improve performance. This SPI is dependent on the loading factor value and weighting load of each element. The results show that the organization has the highest loading factor value in each sub-element (above 0.8) and has the highest weighting load (0.39). But the loading factor value result of sub-element on the individual and environmental is below 0.6. This result represents worker's perception, the organization in the management system has played an active role in PT X safety performance. Practical in the field, individuals and environmental elements need special attention from management. Because these two elements are closely related to practical implementation. Safety performance is not only normative in the management system but also important that implementation in the field must be in line.
Read More
T-7516
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theresia Iin Wulandari; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Imam Santoso, Machfud
Abstrak:
Industri minyak dan gas bumi merupakan sektor dengan tingkat risiko keselamatan kerja yang tinggi akibat kompleksitas operasi, penggunaan teknologi bertekanan tinggi, serta paparan energi berbahaya. Meskipun indikator kinerja keselamatan seperti Total Recordable Injury Rate (TRIR) menunjukkan tren perbaikan, kecelakaan dengan konsekuensi tinggi seperti fatality masih tetap terjadi. Kejadian fatality tidak hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga berdampak terhadap aspek operasional, finansial, dan reputasi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kejadian fatality pada Perusahaan X selama periode tahun 2021–2025 menggunakan metode Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menggunakan data sekunder berupa laporan investigasi kejadian fatality. Unit analisis penelitian terdiri atas 12 kejadian fatality yang terjadi pada periode tahun 2021–2025. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan faktor penyebab kecelakaan ke dalam empat level HFACS, yaitu Unsafe Acts, Preconditions for Unsafe Acts, Unsafe Supervision, dan Organizational Influences. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan pada level Unsafe Acts adalah Routine Violations dan Perceptual Errors (83%) dan Decision Errors (50%). Pada level Preconditions for Unsafe Acts, faktor dominan adalah Communication, Coordination and Planning (83%), Tools/Technology (75%), dan Mental States (75%). Pada level Unsafe Supervision, faktor Inadequate Supervision ditemukan pada seluruh kasus (100%), sedangkan Planned Inappropriate Operations dan Failure to Correct Known Problem masing-masing ditemukan pada 92% kasus. Pada level Organizational Influences, faktor Operational Process dan Resource Management ditemukan pada seluruh kasus (100%), sedangkan Organizational Culture ditemukan pada 92% kasus. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar korban fatality merupakan pekerja kontraktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian fatality pada industri migas merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan mulai dari level organisasi, pengawasan, kondisi kerja, hingga tindakan individu. Pendekatan HFACS mampu mengidentifikasi faktor-faktor laten yang berkontribusi terhadap terjadinya fatality sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan kecelakaan berkonsekuensi tinggi pada industri migas.

The oil and gas industry is recognized as a high-risk sector due to operational complexity, high-pressure technologies, and exposure to hazardous energy sources. Although safety performance indicators such as the Total Recordable Injury Rate (TRIR) have shown improvement trends, high-consequence incidents such as fatalities continue to occur. Fatal accidents not only result in the loss of life but also have significant operational, financial, and reputational impacts on organizations. This study aimed to analyze the contributing factors of fatal occupational accidents in Company X during the period 2021–2025 using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). This study employed a descriptive-analytic design using qualitative and quantitative approaches based on secondary data obtained from fatal accident investigation reports. The unit of analysis consisted of 12 fatal incidents that occurred between 2021 and 2025. Accident contributing factors were classified according to the four HFACS levels: Unsafe Acts, Preconditions for Unsafe Acts, Unsafe Supervision, and Organizational Influences. The results revealed that the most dominant factor within the Unsafe Acts level were Routine Violations and Perceptual Errors (83%), followed by Decision Errors (50%). At the Preconditions for Unsafe Acts level, the dominant factors were Communication, Coordination and Planning (83%), Tools/Technology (75%), and Mental States (75%). Within the Unsafe Supervision category, Inadequate Supervision was identified in all fatal cases (100%), while Planned Inappropriate Operations and Failure to Correct Known Problem were identified in 92% of the cases. At the Organizational Influences level, Operational Process and Resource Management were found in all cases (100%), whereas Organizational Culture was identified in 92% of the cases. The study also found that most fatality victims were contractor personnel. This study concludes that fatal occupational accidents in the oil and gas industry are the result of interactions among organizational, supervisory, workplace, and individual factors. HFACS proved effective in identifying latent conditions contributing to fatal accidents and can therefore serve as a basis for developing high-consequence risk prevention strategies in the oil and gas industry.
Read More
T-7693
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive