Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37780 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Widya Prameswari; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Puspita Sampekalo, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak:

Tenaga kesehatan merupakan salah satu profesi yang berisiko mengalami distres, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor individu, pekerjaan, sosial dan lingkungan kerja. Jika tidak ditangani dengan baik, distres tersebut bisa mengakibatkan gangguan kesehatan, mental dan penurunan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi distres pada tenaga kesehatan di RSUD Cibinong. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dianalis menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Variable dependen tingkat distres dan variabel independen terdiri dari faktor individu, faktor pekerjaan, faktor sosial, dan lingkungan kerja. Periode penelitian bulan April – Mei 2025, responden terdiri dari perawat, bidan, ahli gizi, tenaga kefarmasian, apoteker, dan analis laboratorium di ruangan rawat inap RSUD Cibinong Bogor. Ditemukan bahwa beban kerja dan hubungan interpersonal merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap tingkat distres pada tenaga kesehatan di RSUD Cibinong Bogor, dimana beban kerja yang berat berpeluang 4.2 kali menyebabkan tingkat distres dibandingkan dengan beban kerja yang ringan dan hubungan interpersonal yang baik dapat menurunkan tingkat distres sebesar 78.6%. Rekomendasi dari penelitian ini adalah melakukan monitoring dan evaluasi terkait beban kerja, memfasilitasi sarana dan prasarana pendukung untuk meringankan beban kerja, menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan terkait ergonomi, manajemen stres, menyediakan wadah penyampaian aspirasi, keluhan atau masalah interpersonal di tempat kerja secara aman dan rahasia.


Healthcare workers are one of the professions at risk of experiencing distress, which can  be caused by several factors such as individual, work, social and work environment  factors. If not handled properly, such distress can lead to health and mental disorders  and decreased productivity. This study aims to identify factors that influence distress in  health workers at Cibinong Hospital. The method used was quantitative research with a  cross-sectional study design analyzed using chi-square statistical test and logistic  regression. The dependent variable is the level of distress and the independent variables  consist of individual factors, work factors, social factors, and work environment. The  research period was April - May 2025, the respondents consisted of nurses, midwives,  nutritionists, pharmaceutical workers, pharmacists, and laboratory analysts in the  inpatient room of the Cibinong Bogor Regional Hospital. Found that workload and  interpersonal relationships are the risk factors that most influence the level of distress in  healthcare workers at Cibinong Bogor Regional Hospital, where heavy workload has a  4.2 times chance of causing distress compared to light workload and good interpersonal  relationships can reduce the level of distress by 78.6%. Recommendations from this study  are to conduct monitoring and evaluation related to workload, facilitate supporting  facilities and infrastructure to ease workload, organize ongoing training related to  ergonomics, stress management, provide a forum for the delivery of aspirations,  complaints or interpersonal problems in the workplace in a safe and confidential manner.

Read More
T-7399
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuda Nugraha; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mila Tejamaya, Helenasari Tambunan, Muhepi
Abstrak:
Distres kerja merupakan respons negatif terhadap tekanan pekerjaan yang berkepanjangan dan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, produktivitas kerja, serta kualitas pelayanan. Rumah sakit sebagai institusi dengan tekanan kerja tinggi berisiko tinggi terhadap kejadian distres kerja pada pegawainya. Distres kerja dapat  berdampak negatif pada kesehatan psikologis dan produktivitas pegawai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko dari arena individu, rumah, dan pekerjaan dengan tingkat distres kerja pada pegawai UPTD RSUD Malingping. Desain penelitian menggunakan studi potong lintang pada 279 responden yang diperoleh melalui total sampling. Data dikumpulkan pada April–Juni 2025 menggunakan kuesioner Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) versi panjang dan NIOSH generic job stress questionnaire. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok usia produktif 30–39 tahun (49,1%) , berjenis kelamin laki-laki (50,2%) , berstatus tenaga BLUD (38,0%), dan memiliki tingkat pendidikan D4/S1 (55,9%). Mayoritas responden mengalami distres kerja pada kategori sedang, baik secara keseluruhan maupun pada seluruh dimensi distres, meliputi gangguan kognitif, somatik, dan psikologis. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel usia, tingkat pendidikan, konflik pekerjaan–kehidupan, tuntutan kuantitatif pekerjaan, makna pekerjaan, pengembangan keterampilan, dukungan sosial supervisor, dukungan rekan kerja, dan pengembangan karier berhubungan dengan tingkat distres kerja sebaliknya variabel jenis kelamin, status kepegawaian, status pernikahan, masa kerja, variasi pekerjaan, kontrol kerja, dan lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik terhadap tingkat distres kerja. Diantara seluruh variabel yang diteliti, variabel tuntutan kuantitatif pekerjaan menjadi variabel yang memiliki keterkaitan kuat dengan tingkat distres kerja, sementara konflik pekerjaan–kehidupan ditemukan sebagai prediktor paling kuat pada gangguan kognitif dan gangguan somatik, sebaliknya, variabel pengembangan karier menjadi faktor protektif utama yang konsisten menurunkan risiko distres kerja di seluruh dimensinya. Setiap variabel yang teridentifikasi dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun program intervensi yang berfokus pada pengelolaan beban kerja, peningkatan keseimbangan kerja-hidup pegawai, pengelolaan tuntutan pekerjaan, serta memperkuat sistem dukungan sosial sebagai upaya pencegahan distres kerja terhadap pegawai di lingkungan UPTD RSUD Malingping

Work-related distress is a negative response to prolonged occupational stress and may adversely affect mental health, work productivity, and service quality. Hospitals, as high-pressure work environments, are particularly vulnerable to the occurrence of work-related distress among their employees. This condition can significantly impair employees’ psychological well-being and job performance. This study aimed to analyze the association between risk factors across the individual, home, and work domains and the level of work-related distress among employees of UPTD RSUD Malingping. A cross-sectional study design was conducted involving 279 respondents selected through total sampling. Data were collected between April and June 2025 using the long version of the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) and the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire. Data analysis was performed using chi-square tests and multiple logistic regression. The results showed that most respondents were in the productive age group of 30–39 years (49.1%), male (50.2%), employed as BLUD staff (38.0%), and had a D4/S1 educational background (55.9%). The majority of respondents experienced moderate levels of work-related distress, both overall and across all distress dimensions, including cognitive, somatic, and psychological distress. Statistical analysis revealed that age, educational level, work–life conflict, quantitative job demands, meaning of work, skill development, supervisor support, coworker support, and career development were significantly associated with work-related distress. In contrast, gender, employment status, marital status, length of employment, job variation, job control, and work environment showed no statistically significant association. Among all variables examined, quantitative job demands emerged as the factor most strongly associated with overall work-related distress. Meanwhile, work–life conflict was identified as the strongest predictor of cognitive and somatic distress. Conversely, career development consistently functioned as the primary protective factor, reducing the risk of work-related distress across all dimensions. These findings suggest that the identified variables can serve as a foundation for developing targeted intervention programs focused on workload management, work–life balance enhancement, regulation of job demands, and strengthening social support systems as preventive strategies to reduce work-related distress among employees at UPTD RSUD Malingping
Read More
T-7479
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akmalina Fadhilah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yoesi Nirmiyanto
Abstrak:
Distres adalah reaksi individu terhadap situasi yang timbul akibat interaksi yang terjadi antara individu dengan pekerjaan dan memiliki dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat distres dan faktor risiko pada tenaga kesehatan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, pekerjaan, masa kerja, beban kerja, jadwal kerja, home-work interface, dan dukungan sosial. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Perceived Stress Scale untuk mengukur distres, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire untuk mengukur faktor risiko terkait pekerjaan dan variabel dukungan dari atasan dan rekan kerja, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support untuk mengukur dukungan sosial dari keluarga dan teman. Sebanyak 34,0% tenaga kesehatan mengalami stres ringan dan 66,0% tenaga kesehatan mengalami stres sedang. Berdasarkan uji bivariat yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dan jam kerja dengan tingkat distres pada tenaga kesehatan di Puskesmas Karangmalang Kabupaten Sragen

Distress is an individual reaction to situations that occur due to interactions between the individual and work and has a negative impact. This study aims to describe the level of distress and risk factors in health workers at the Karangmalang Health Center, Sragen Regency in 2023. This study used a quantitative method with a cross-sectional study design. The variables studied were gender, age, marital status, education level, occupation, years of work, workload, work schedule, home-work interface, and social support. The study instruments used were the Perceived Stress Scale questionnaire to measure distress, the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire to measure job-related risk factors and support variables from superiors and coworkers, and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support to measure social support from family and friends. A total of 34.0% of health workers experienced mild stress and 66.0% of health workers experienced moderate stress. Based on the bivariate test done, it can be concluded that there is a relationship between workload and working hours with the level of distress in health workers at Karangmalang Health Center, Sragen Regency.
Read More
S-11290
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutrani Rachmawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Robiana Modjo, Eni Yati, Anita Johan
Abstrak: Pandemi Covid-19 menjadi situasi yang menantang bagi tenaga kesehatan karena menempatkan mereka sebagai populasi berisiko tinggi untuk terinfeksi dan mendapatkan permasalahan terkait kondisi kerja yang berpengaruh terhadap tingkat distres. Tujuan penelitian ini ingin menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat distres pada tenaga kesehatan di Kabupaten Pandeglang selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada Oktober-Desember 2021 secara daring. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di Kabupaten Pandeglang yang bekerja di Rumah Sakit, Puskesmas dan Klinik. Risiko psikososial diukur menggunakan Pandemic-Related Perceived Stress Scale of COVID-19 (PSS-10-C). Data dianalisis menggunakan Chi-squere dan regresi logistik ganda. Tenaga kesehatan memiliki tingkat distres rendah (30,49%) dan sedang (69,51%). Analisis regresi logistik ganda menunjukan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat distres yaitu ketersediaan APD dan dukungan rekan kerja. Tenaga kesehatan di Kabupaten Pandelang mengalami tingkat distres rendah dan sedang selama pandemi Covid-19. Pasokan APD yang memadai dan pembagian tugas yang jelas antar rekan kerja dibutuhkan untuk mencegah meningkatnya tingkat distres pada tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19
The Covid-19 pandemic has become a challenging situation for health workers because it places them as a population at high risk for infection and getting problems related to working conditions that affect the level of distress. This study aims to analyze the factors associated with the level of distress among health workers in Pandeglang during the Covid-19 pandemic. This study uses a cross-sectional study design that was conducted in October-December 2021. The population in this study were all health workers in Pandeglang who worked in hospitals, public health centers, and clinics. The distress level is measured using the Pandemic-Related Perceived Stress Scale of COVID-19 (PSS-10-C). Data are analyzed using Chi-square and multiple logistic regression. Health workers have low (30.49%) and moderate (69.51%) levels of distress. Multiple logistic regression analysis showed that the dominant factors associated with the level of distress are the availability of PPE and the support of colleagues. Health workers in Pandelang experienced low and moderate levels of distress during the Covid-19 pandemic. An adequate supply of PPE and a clear division of tasks among co-workers are needed to prevent an increase in the level of distress for health workers during the Covid-19 pandemic
Read More
T-6324
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jasmine Kamilatun Nuha; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Distres adalah bentuk stres negatif yang disebabkan oleh kejadian buruk dan mengakibatkan penurunan performa kerja. Sektor kelistrikan memiliki kompleksitas dan risiko yang tinggi dalam proses bisnisnya, sehingga dalam penelitian terdahulu dan hasil observasi awal didapatkan bahwa pekerja sektor kelistrikan memiliki risiko mengalami distres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara faktor risiko distres dengan tingkat distres pada pekerja PT X Sektor Kelistrikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi cross-sectional. Data kuantitatif didapatkan dari penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, sedangkan data kualitatif dilakukan dengan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor individu (usia, masa kerja, status pernikahan), faktor terkait pekerjaan (beban dan kecepatan kerja, peran dalam organisasi, pengembangan karier, hubungan interpersonal, home-work interface), faktor tidak terkait pekerjaan (domestic-family demands), dan faktor penyangga (dukungan sosial). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 70,6% pekerja mengalami stres sedang, 27,2% pekerja mengalami stres berat, dan 2,2% mengalami stres ringan. Hasil analisis inferensial menunjukkan hanya variabel pengembangan karier (p=0,021) yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat distres. Adapun nilai OR yang dihasilkan sebesar 2,457 yang mengartikan bahwa pekerja dengan persepsi buruk terhadap pengembangan karier memiliki peluang 2,457 kali lebih besar mengalami distres.
Distress is a form of negative stress caused by adverse events that can lead to a decline in work performance. The electricity sector involves high complexity and risk in its business processes, making workers in this sector more vulnerable to experiencing distress, as indicated by previous studies and preliminary observations. This study aims to describe and analyze the relationship between risk factors and the level of distress among workers at PT X in the electricity sector. A mixed-method approach with a cross-sectional design was employed. Quantitative data were obtained through questionnaires and analyzed using the chi-square test, while qualitative data were collected through interviews and analyzed thematically. The risk factors examined include individual factors (age, length of employment, marital status), work-related factors (workload and work pace, organizational role, career development, interpersonal relationships, home-work interface), non-work-related factors (domestic-family demands), and buffering factors (social support). The results of the descriptive analysis indicated that 70.6% of workers experienced moderate stress, 27.2% experienced severe stress, and 2.2% experienced mild stress. Inferential analysis showed that only the variable career development (p = 0.021) had a significant relationship with the level of distress, with an odds ratio (OR) value of 2.457, indicating that workers with negative perceptions of career development were 2.457 times more likely to experience distress.
Read More
S-12004
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syukrini Rahmawati Zetri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwi Yuantoko
Abstrak:

World Health Organization mengakui distres sebagai penyakit epidemiologi abad 21. Distres pada dosen menjadi isu yang sering dibahas. Tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi membuat dosen menghadapi beban kerja berat sehingga menyebabkan distres, kecemasan, dan gangguan tidur. Penelitian Carroll tahun 2022 menunjukkan lebih dari 50% tenaga pengajar di Australia mempertimbangkan untuk meninggalkan profesinya karena merasakan distres yang sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran tingkat distres, faktor risiko distres, dan menganalisis hubungan faktor-faktor risikonya terhadap distres pada dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas A tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan cross-sectional. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor di arena pekerjaan (beban kerja, tekanan waktu, long-working hours, ambiguitas peran, hubungan interpersonal, jabatan akademik); faktor di arena rumah (work-family conflict dan status pernikahan); faktor di arena sosial (dukungan sosial), dan faktor di arena individu (usia dan jenis kelamin). Analisis data meliputi analisis deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif mengungkapkan 68% dosen mengalami distres ringan, 30.9% dosen mengalami distres sedang, dan 1% dosen mengalami distres berat. Analisis inferensial mengungkapkan tekanan waktu (p = 0.000; OR = 10.4; 95% CI = 3.513-30.789), ambiguitas peran (p = 0.001; OR = 5.031; 95% CI = 1.950-12.984), hubungan interpersonal ke rekan kerja (p = 0.014; OR = 3.033; 95% CI = 1.235-7.452), work-family conflict (p = 0.000; OR = 19.456; 95% CI = 5.942-63.709), dan dukungan sosial (p = 0.004; OR = 3.675; 95% CI = 1.487-9.082) berhubungan signifikan dengan distres pada dosen FMIPA Universitas A. Universitas A disarankan untuk memperkuat sosialisasi layanan konseling, menyusun SOP yang jelas, serta menyediakan pelatihan dan dukungan teknis untuk mengurangi risiko distres pada dosen.



The World Health Organization identifies distress as a 21st-century epidemiological concern, with lecturer distress emerging as a critical issue. Heavy workloads from fulfilling the Three Pillars of Higher Education contribute to distress, anxiety, and sleep disorders among lecturers.  A study by Carroll et al. in 2022 found that more than 50% of educators in Australia experienced severe distress that caused them to consider leaving the profession. This study aims to examine the levels of distress, identify its risk factors, and analyze the relationships between those risk factors and distress among lecturers at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University A in 2025. A quantitative method with a cross-sectional approach was used. Risk factors examined include work factors (workload, time pressure, long-working hours, role ambiguity, interpersonal relationships, academic rank); home factors (work-family conflict and marital status); social factors (social support); and individual factors (age and gender). Data analysis included descriptive and inferential statistics. Descriptive analysis showed 68% of lecturers experienced mild distress, 30.9% experienced moderate distress, and 1% experienced severe distress. Inferential analysis revealed significant associations between distress and time pressure (p = 0.000; OR = 10.4; 95% CI = 3.513-30.789), role ambiguity (p = 0.001; OR = 5.031; 95% CI = 1.950-12.984), interpersonal relationships with colleagues (p = 0.014; OR = 3.033; 95% CI = 1.235-7.452), work-family conflict (p = 0.000; OR = 19.456; 95% CI = 5.942-63.709), and social support (p = 0.004; OR = 3.675; 95% CI = 1.487-9.082). It is recommended for University A to strengthen the promotion of counselling services, establish clear SOPs, and provide training and technical support to reduce lecturers’ distress risk.
Read More
S-11995
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Warda Yussy Rha; Pembimbing: Milla Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Herni Susanti, Triyo Hartono, Dian Fitri Lestari
Abstrak:
Perawat merupakan salah satu profesi yang berisiko mengalami distres. Distres pada perawat dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pada arena individu (jenis kelamin, usia, status pekerjaan dan masa kerja), arena kerja (ketaksaan peran, konflik peran, pengembangan karir, hubungan interpersonal, beban kerja dan lingkungan kerja), dan arena sosial (dukungan sosial dari supervisor dan dukungan sosial dari rekan kerja). Hal ini dapat memberikan dampak pada perawat seperti kelelahan, perilaku kasar, anxiety, peningkatan tekanan darah, kurangnya kepercayaan diri, penurunan efisiensi, dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah mengambarkan tingkat distres dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat distres pada perawat ruang perawatan di RSUD X Tembilahan. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada Mei - Agustus 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di ruang perawatan RSUD X Tembilahan. Distres diukur menggunakan kuesioner COPSOQ III dan NIOSH Generic Job. Data dianalisis menggunakan Chi-square dan regresi logistik ordinal. Ditemukan bahwa 28,9% perawat mengalami tingkat distres rendah, 68,9% perawat mengalami tingkat distress sedang, dan 2,2% perawat mengalami tingkat distress tinggi. Analisis regresi logistik ordinal menunjukkan bahwa perawat perempuan berisiko mengalami distres lebih tinggi dibandingkan perawat laki-laki (OR=4,03). Faktor risiko yang paling berpengaruh pada arena kerja dengan tingkat distress adalah konflik peran (OR=3,15) dan beban kerja (OR=3,8). Pengelolaan tingkat distres pada level organisasi dapat berupa melakukan pengawasan dalam pelaksanaan peraturan mengenai hak pekerja perempuan, memperhatikan deskripsi pekerjaan dan sumber daya manusia yang dibutuhkan, monitoring status kesehatan perawat, menyeimbangkan beban kerja dengan kapasitas kemampuan yang dimiliki perawat, dan mengupayakan sistem reward baik berupa materi maupun apresiasi terhadap hasil kerja untuk meningkatkan motivasi bagi perawat. Sedangkan pada level individu dapat berupa melaksanakan strategi perawatan diri yang sehat, work-life balance, dan melakukan relaksasi. Hal ini dibutuhkan untuk mencegah peningkatan tingkat distres pada perawat ruang perawatan di RSUD X Tembilahan

Nursing is one of the stressful professions. Distress emerged on nurses due to various factors such as in the individual arena (gender, age, marital status and work experience), the work arena (role ambiguity, role conflict, career development, interpersonal relationships, workload and work environment), and the social arena (social support from supervisors and social support from colleagues). This can have an impact on nurses such as fatigue, harsh behavior, anxiety, increase of blood pressure, lack of self-confidence, decrease in efficiency, etc. This study aims to describe the level of distress and to analyze the factors affected with the level of distress on nurse in the treatment room at X Hospital Tembilahan. This study uses a cross-sectional study design that was conducted in May-August 2022. The population in this study were all inpatient nurse in X Hospital Tembilahan. The distress level is measured using the COPSOQ III and NIOSH Generic Job questionnaires. Data are analysed using chi-square and multiple logistic regression. such as in the individual arena (gender, age, employment status and years of service), the work arena (role ambiguity, role conflict, career development, interpersonal relationships, workload and work environment), and the social arena (social support from supervisors and social support from colleagues). This can have an impact on nurses such as fatigue, rude behavior, anxiety, increased blood pressure, lack of confidence, decreased efficiency, and others. The purpose of this study was to describe the level of distress and to analyze the factors that influence the level of distress in nurses in the treatment room at X Tembilahan Hospital. This study used a cross-sectional study design which was conducted in May - August 2022. The population in this study were all nurses in the X Tembilahan Hospital. Distress was measured using the COPSOQ III and NIOSH Generic Job questionnaires. Data were analyzed using Chi-square and ordinal logistic regression. It was found that 28.9% of nurses experienced low levels of distress, 68.9% of nurses experienced moderate levels of distress, and 2.2% of nurses experienced high levels of distress. Ordinal logistic regression analysis showed that female nurses had a higher risk of experiencing distress than male nurses (OR=4.03). The most influential risk factors in the work arena with a level of distress are role conflict (OR=3.15) and workload (3.8). Management of the level of distress at the organizational level can be in the form of supervising the implementation of regulations regarding the rights of women workers, paying attention to job descriptions and human resources needed, monitoring the health status of nurses, balancing the workload with the capacities of nurses, and pursuing a reward system in the form of material as well as appreciation of work results to increase motivation for nurses. Meanwhile, at the individual level, it can be in the form of implementing healthy self-care strategies, work-life balance, and relaxation. This is needed to prevent an increase in the level of distress in nurses in the treatment room at X Tembilahan Hospital
Read More
T-6519
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspita Gaharu Nisaa; Pemimbing: Robiana Modjo; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Stevan D. Anbiya, Achmad Muchlis, Corah Usman
Abstrak:
Tenaga kesehatan senantiasa dihadapkan dengan tuntutan kerja dan bahaya risiko psikososial yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seperti distress kerja, kondisi tersebut dapat bermanifestasi terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan pasien. Tahun 2024, diketahui terdapat tenaga kesehatan di RSUD Balaraja yang memiliki derajat distress sedang hingga berat terkait upaya kerja. Tesis ini bertujuan menganalisis hubungan faktor risiko psikososial serta faktor individu dan distress kerja pada tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD Balaraja Kabupaten Tangerang Tahun 2025. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada total 140 tenaga kesehatan (dokter, perawat, farmasi, dan tenaga kesehatan lain seperti bidan, perekam medis, fisioterapis, analis kesehatan, radiografer, dsb.)  Distress kerja diukur menggunakan instrumen distress dari DASS-21 yang dikategorikan menjadi “Normal-Ringan” dan “Sedang-Berat”. Faktor risiko psikososial (berdasarkan model Effort-Reward Imbalance, COPSOQH III dan NIOSH Generic Stress Scale) dan faktor individu diukur melalui kuesioner. Hasil penelitian ditemukan 14,3% responden dengan distress kerja sedang-berat. Analisis inferensial menunjukan hubungan signifikan antara faktor psikososial dengan distress kerja. Variabel yang berhubungan dengan distress kerja diantaranya ketidakseimbangan kerja-rumah (OR=17,34; 95% CI 3,84–78,41; p<0,001), komitmen kerja berlebihan (OR=14,48; 95% CI 3,21–65,31; p<0,001), upaya kerja yang tinggi (OR=6,44; 95% CI 2,03–20,44; p=0,001) dan penghargaan kerja yang tidak baik (OR=4,14; 95% CI 1,31–13,10; p=0,02). Tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara faktor individu dan distress kerja (p >0,05). Faktor individu yang perlu diberi perhatian yakni pada variable status single dan perilaku tidak sehat (kurang aktifitas fisik, merokok, minum kopi, dan minum alkohol.) Kesimpulan adalah distress kerja pada tenaga kesehatan di RSUD Balaraja secara dominan berasosiasi dengan faktor psikososial yang bersifat organisasional dan dapat dimodifikasi. Intervensi berbasis prioritas terutama untuk perbaikan area kritis diantaranya ketidakseimbangan antara kehidupan kerja-rumah serta komitmen berlebihan. Rekomendasi difokuskan pada kebijakan organisasional sehingga tercipta budaya kerja yang sehat, suportif dan positif, diantaranya adalah, pertama, pemberian pelatihan sesuai kompetensi, edukasi pengelolaan distress dan  manajemen waktu serta fleksibilitas pemilihan waktu libur atau cuti; Kedua, evaluasi beban kerja agar tidak berlebihan dan lebih merata, fit to work bagi tenaga kesehatan pasca dengan keterbatasan fisik atau pemulihan dari sakit, komunikasi dan transparansi sistem penghargaan maupun kompensasi kepada seluruh tenaga kesehatan, termasuk dalam pemberian insentif dan kebijakan upah kerja lembur dalam rangka keseimbangan upaya kerja dan penghargaan kerja yang lebih baik; Ketiga, evaluasi tugas kerja dan beban kerja oleh manajemen secara periodik yang disertai adanya keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. Rekomendasi lain adalah kegiatan senam rutin 150 menit per minggu, kelompok konseling kesehatan mental dan perilaku tidak sehat, serta perbaikan sistem antrian pasien rawat jalan dengan pemberlakuan kode booking kunjungan ulang atau fast track untuk pasien kontrol merupakan strategi yang dapat diambil untuk peningkatan kesehatan kerja dan upaya penurunan distress kerja bagi tenaga kesehatan di RSUD Balaraja.
Healthcare workers are constantly faced with work demands and psychosocial hazards that affect their mental health, such as work related distress. This condition can manifest in the well-being of healthcare workers and the quality of patient care. In 2024, it was found that a number of healthcare workers at Balaraja Regional General Hospital (RSUD) experienced moderate to severe distress related to their work effort. This thesis aims to analyze of risk factors associated with work-related distress to healthcare workers of RSUD Balaraja, Tangerang Regency In 2025. This study used cross-sectional design with a quantitative approach, involved total 140 healthcare workers as respondens (doctors, nurses, pharmacists, and other health care workers such as midwife, medical recorders, physichal therapist, health analysts, radiographer, etc.) Work related distress was measured using a standardized instrument based on distress scale from DASS 21 and categorized as "Normal-Mild" and "Moderate-Severe". Psychosocial risk factors (based on the Effort-Reward Imbalance model, COPSOQ III, and the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire) and individual factors were measured through a questionnaire. The results showed that 14.3% of respondents experienced moderate-to-severe work related distress. Inferential analysis indicated an association between psychosocial factors and work related distress, included work-life imbalance (OR=17.34; 95% CI 3.84–78.41; p<0.001), overcommitment (OR=14.48; 95% CI 3.21–65.31; p<0.001), high effort (OR=6.44; 95% CI 2.03–20.44; p=0.001), and low reward (OR=4.14; 95% CI 1.31–13.10; p=0.02). No statistical significant association was found between individual factors and work related distress (p > 0.05). Individual factors that may warrant attention include single marital status and unhealthy bahaviors (lack of physical activity, smoking, and consumption of coffee or alcohol.) The conclusion is that work related distress among healthcare workers at RSUD Balaraja is predominantly associated with modifiable, organizational psychosocial factors. Priority-based interventions are needed, especially to improve critical areas such as work-life imbalance and overcommitment. Recommendations focus on organizational policies to create a healthy, supportive, and positive work culture. These include provide competency-based training, education on distress and time management, and offer flexibility in scheduling holiday or day off; Second, conduct workload evaluations to prevent overload and ensure equitable distribution. Implement "fit-to-work" assessments for healthcare workers with physical limitations or recovering from illness. Ensure transparent communication regarding reward and compensation systems for all staff, including incentives and overtime pay policies, to achieve a better effort-reward balance. Third, reviewing workload policies for better distribution and prevention of excessive demands, providing competency-based training, and offering distress management, priority management, and coping mechanisms to restore work-life balance. Other recommendations include group exercise sessions, aiming for 150 minutes per week, Establish counseling groups for mental health support and to address unhealthy behaviors, improve the outpatient queuing system by implementing “a booking code system” for return visits or “a fast-track pathway." Furthermore, promoting a healthy work culture and controlling overcommitment through periodic evaluation of job tasks and workload by management, with input from employees, is advised. These strategies can be adopted to enhance occupational health and reduce work-related distress among healthcare workers at RSUD Balaraja.

 
Read More
T-7373
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febriyanti Puspa Nabiilah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Ajie Nur Rendragraha
Abstrak:
Pekerjaan manual handling merupakan satu dari beberapa pekerjaan yang paling berpotensi terhadap munculnya keluhan musculoskeletal disorders. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan menganalisis faktor risiko pekerjaan manual handling, meliputi pengangkatan dan peletakan barang, oleh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Penelitian dilaksanakan di salah satu area milik perusahaan sektor logistik dan kepelabuhanan dengan melibatkan 10 orang Tenaga Kerja Bongkar Muat sebagai sampel. Instrumen untuk menilai keluhan musculoskeletal disorders yang digunakan pada penelitian ini adalah Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) dan instrumen untuk penilaian tingkat risiko menggunakan NIOSH Lifting Equation. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 6 dari 10 pekerja memiliki keluhan musculoskeletal disorders. Sebanyak 9 dari 10 pekerja memiliki tingkat risiko sedang pada kegiatan pengangkatan dan 6 dari 10 pekerja memiliki tingkat risiko sedang pada kegiatan peletakan barang. Hasil pengukuran faktor lingkungan menunjukkan iklim kerja panas memenuhi persyaratan, sementara pencahayaan tidak memenuhi persyaratan.


Manual handling is recognized as one of the occupational activities with a high risk of musculoskeletal disorders (MSDs). This descriptive study aims to analyze the risk factors of manual handling tasks, specifically lifting and lowering loads by Stevedores.The research was conducted at a site owned by a logistic and port service company, involving 10 Stevedores as a sample. Musculoskeletal complaints were assessed using the Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ), while risk levels associated with lifting activities were evaluated using the NIOSH Lifting Equation. The findings indicate that 6 out of 10 workers reported complaints related to musculoskeletal disorders. Additionally, 9 out of 10 workers were found to be at a moderate risk level during lifting activities, and 6 out of 10 were at a moderate risk level during lowering tasks. Environmental measurements revealed that the thermal work environment met regulatory standards, whereas lighting levels did not comply with the required thresholds.
Read More
S-12127
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fachmia Azzahra Aulia Kurnia; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Hendra, Farihatini
Abstrak:
Distres kerja merupakan masalah serius yang memengaruhi kesejahteraan mental dan kinerja guru PAUD. Penelitian ini menjelaskan gambaran dan menganalisis faktor risiko distres kerja pada guru PAUD di Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, tahun 2025, dengan fokus pada tiga arena, yaitu work (beban kerja dan tekanan waktu, fasilitas sekolah, kategori kelas, hubungan interpersonal, kepuasan kerja, masa kerja, dan kebutuhan khusus murid), home (status pernikahan, ekonomi keluarga, dan home-work interface), dan individual (usia, kemampuan koping, kuantitas dan kualitas tidur). Desain cross-sectional digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 81 guru. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup instrumen NIOSH GJSQ, COPSOQ III, WDQ, Brief-COPE, dan PSQI, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan odds ratio (OR). Sebanyak 22,2% guru mengalami distres kerja. Faktor yang berhubungan signifikan meliputi fasilitas sekolah (p=0,032; OR=0,19), kepuasan kerja (p=0,001; OR=6,02), masa kerja (p=0,012), kebutuhan khusus murid (p=0,031; OR=0,31), dan kualitas tidur (p=0,010; OR=6,4). Sementara itu, faktor lainnya tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik. Distres kerja pada guru PAUD dipengaruhi faktor risiko work dan individual arena. Intervensi holistik mencakup penyesuaian kebijakan sekolah, peningkatan kepuasan kerja, pengembangan profesional, hingga manajemen tidur direkomendasikan untuk mengurangi risiko distres


Occupational distress is a serious issue that significantly impacts mental well-being and performance of early childhood education teachers. This study aims to describe the characteristics and analyze the risk factors of occupational distress among early childhood education teachers in Sukasari District, Bandung City, in 2025, focusing on three arenas: work (workload and time pressure, school facilities, class category, interpersonal relationships, job satisfaction, work tenure, and students' special needs), home (marital status, family economy, and home-work interface), and individual (age, coping skills, sleep quantity, and quality). Using a cross-sectional quantitative design, 81 teachers completed questionnaires (NIOSH GJSQ, COPSOQ III, WDQ, Brief-COPE, PSQI), analyzed via Chi-Square and odds ratio (OR). Results showed that 22.2% of teachers experienced occupational distress. Significant factors included school facilities (p=0.032; OR=0.19), job satisfaction (p=0.001; OR=6.02), work tenure (p=0.012), students’ special-needs (p=0.031; OR=0.31), and sleep quality (p=0.010; OR=6.4). Other factors showed no statistically significant association. Occupational distress in teachers is influenced by work and individual arenas. A holistic intervention approach, encompassing school policy adjustments, job satisfaction enhancement, professional development, and sleep management, is recommended to mitigate risks of distress.
Read More
S-12137
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive