Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27906 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ulfa Laela Farhati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Mufti Wirawan, Muthia Ashifa, Avinia Ismiyati
Abstrak:


Industri agrokimia menghadapi risiko keselamatan tinggi akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dan proses produksi yang kompleks. Safety leadership menjadi krusial dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan meminimalkan risiko kecelakaan serta dampak negatif terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety leadership di PT X dan menganalisis implementasinya berdasarkan LEAD Model. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed method, dengan data kuantitatif melalui kuesioner yang diadaptasi dari LEAD Scale dan data kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan tinjauan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership di PT X memiliki karakteristik yang positif dengan dimensi Leverage, Energise, Adapt, dan Defend. Dimensi Leverage menunjukkan skor tertinggi (4,56), menandakan efektivitas pemimpin dalam memanfaatkan sumber daya. Namun, dimensi Defend memiliki skor terendah (4,12), menunjukkan perlunya peningkatan dalam strategi perlindungan dan mitigasi risiko. Subdimensi dengan skor tertinggi adalah Clarity (4,63), sedangkan yang terendah adalah Accountability (4,12). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa PT X telah berhasil menerapkan safety leadership dengan baik, namun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam aspek akuntabilitas. Saran yang diberikan meliputi pengembangan sistem pemantauan yang lebih efektif, mendorong keterlibatan aktif karyawan dalam program keselamatan, dan membangun budaya keselamatan yang proaktif.


The agrochemical industry faces high safety risks due to the use of hazardous chemicals and complex production processes. Safety leadership is crucial in creating a safe work environment and minimizing the risk of accidents and negative impacts on workers' health. This study aims to analyze the safety leadership profile at PT X and evaluate its implementation based on the LEAD Model. The research method employs a mixed- method approach, utilizing quantitative data collected through questionnaires adapted from the LEAD Scale and qualitative data through in-depth interviews, field observations, and document reviews. The study results indicate that safety leadership at PT X exhibits positive characteristics across the dimensions of Leverage, Energise, Adapt, and Defend. The Leverage dimension scored the highest (4.56), indicating the effectiveness of leaders in utilizing resources. However, the Defend dimension scored the lowest (4.12), highlighting the need for improvements in protection strategies and risk mitigation. The subdimension with the highest score is Clarity (4.63), while Accountability scored the lowest (4.12). The conclusion of this study is that PT X has successfully implemented safety leadership, but there is still room for improvement, particularly in accountability aspects. Recommendations include developing a more effective monitoring system, encouraging active employee participation in safety programs, and fostering a proactive safety culture.

Read More
T-7406
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abigael Oktaria Zega; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Abdul Rasyid
Abstrak:
Pada tahun 2023, industri penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 4,85 juta usaha. Angka tersebut meningkat sebesar 21,13% dari tahun 2016 dengan total 4,01 juta usaha (Badan Pusat Statistik, 2024). Meskipun seringkali dianggap sederhana, proses pembuatan makanan dilakukan dengan menggunakan bantuan mesin-mesin bertekanan tinggi yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin (Thohir et al., 2025). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan safety leadership dan safety behavior pada perusahaan industri makanan PT X tahun 2026 dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari (Lu and Yang, 2010) dan (Neal, Gri and Hart, 2000) sebagai data utama, serta dilakukan wawancara tidak terstruktur dan observasi di lapangan sebagai data kualitatif pendukung. Penelitian dilakukan kepada 239 responden dengan desain cross-sectional dan hubungan variabel dianalisis menggunakan Spearman’s rho karena data kuesioner berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,54 dan safety behavior juga berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,53. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,749; p = 0,000). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan berperan sangat penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Hasil wawancara dengan narasumber juga menguatkan temuan ini, bahwa partisipasi aktif, kebijakan, dan kepedulian yang ditunjukkan pemimpin menjadi faktor dapat mendorong terbentuknya perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat meningkatkan partisipasi kepemimpinan keselamatan dan membentuk program program keselamatan bagi pekerja yang bersifat partisipatif. Saran lanjutan terkait penelitian ini agar dapat meneliti variabel mediasi lain yang mungkin dapat berpengaruh atau memperkuat hubungan antara safety leadership dan safety behavior.

In 2023, the food and beverage industry in Indonesia reached 4.85 million businesses, representing an increase of 21.13% compared to 2016, which recorded a total of 4.01 million businesses (Badan Pusat Statistik, 2024). Although frequently perceived as a relatively straightforward sector, the food production process in practice involves the operation of high-pressure machinery that demands intensive man-machine interaction (Thohir et al., 2025). This study aims to analyze the relationship between safety leadership and safety behavior in a food industry company, PT X, in 2026. Primary data were collected through a questionnaire adapted from Lu and Yang (2010) and Neal, Griffin, and Hart (2000), while supporting qualitative data were obtained through unstructured interviews and field observations. This study involved 239 respondents using a cross-sectional study design, and the relationship between variables was analyzed using Spearman's rho correlation test, given that the questionnaire data were not normally distributed. The results indicate that safety leadership was categorized as very high with a mean score of 4.54, and safety behavior was similarly categorized as very high with a mean score of 4.53. Hypothesis testing demonstrated a significant positive relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.749; p = 0.000), indicating that safety leadership plays a crucial role in shaping workers' safety behavior. These findings were further corroborated by interview results, which confirmed that active participation, the implementation of safety policies, and the concern demonstrated by leaders are factors that substantially contribute to the formation of safety behavior among workers. This study recommends that companies continuously enhance leadership participation in occupational safety and develop participatory safety programs that actively engage all workers. For future research, it is suggested that other mediating variables that may influence or strengthen the relationship between safety leadership and safety behavior be further investigated.
Read More
S-12462
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahratunnisa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Fatma Lestari, Rezki Kurnianto
Abstrak:
Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional yang merugikan akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan yang dirasakan dengan sumber daya, kemampuan, serta kebutuhan individu dalam mengatasinya. Berdasarkan penelitian terdahulu, stres kerja merupakan permasalahan global dengan prevalensi tinggi di berbagai sektor dan profesi. Risiko serupa juga dialami oleh pekerja kantoran yang menghadapi tekanan dari beban kerja kompleks, tuntutan tinggi, serta jam kerja fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor psikososial dan faktor individu terhadap kejadian stres kerja pada karyawan PT X, sebuah perusahaan manufaktur di DKI Jakarta. Faktor yang diteliti adalah faktor individu, faktor konteks kerja, dan faktor konten kerja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Analisis data meliputi uji chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk variabel dengan kategori >2 menggunakan SPSS 22.0 guna mengidentifikasi pengaruh faktor independen terhadap stres kerja. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa prevalensi stres kerja sedang di PT X adalah sebesar 8,7%. Hubungan signifikan (p-value<0,05) ditemukan pada 8 faktor, yaitu jenis kelamin, status pernikahan saat ini, status kepegawaian, pengembangan karier, home-work interface, lingkungan dan peralatan kerja, beban/kecepatan kerja, serta jadwal kerja. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen stres kerja yang holistik, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pekerja.

Work related stress is a harmful physical and emotional response resulting from an imbalance between perceived job demands and available resources, individual capabilities, and coping needs. Previous research shows it’s a prevalent global issue across professions and sector, including office workers facing complex workloads, high demands, and flexible schedules. This cross-sectional study examined psychosocial (work context and content) and individual factos influencing work related stress among employees at PT X, located in DKI Jakarta, that is a manufacturing company, using questionnaire data analyzed with chi-square test and logistic regression (SPSS 22.0). Results indicated an 8,7% moderate stress prevalence, with significant associations (p<0,05) found for gender, marital status, employment type, career development, work-home interface, work environment, workload, and work schedules. These findings support the need for holistic stress management interventions targeting these factors to improve employee welbeing and productivity.
Read More
S-11979
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Febri Panjaitan; Oembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Arif Prihantono
Abstrak:
Iklim keselamatan merupakan persepsi pekerja tentang pentingnya perilaku aman saat bekerja berkaitan dengan kebijakan, keselamatan, prosedur, praktik, serta seluruh kepentingan dan prioritas keselamatan kerja. Iklim keselamatan yang buruk akan ditandai dengan peningkatan stress pekerja, komunikasi keselamatan yang buruk, dan kurangnya dukungan sehingga dapat menormalkan perilaku tidak aman, merusak kesadaran situasional, dan meningkatkan kemungkinan kecelakaan. Pengukuran iklim keselamatan dapat dijadikan perusahaan sebagai leading indicator untuk acuan dalam membuat/memperbaiki program keselamatan yang sudah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate pada area support point di PT X Tahun 2025 berdasarkan dimensi komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, aturan dan prosedur, lingkungan yang mendukung, akuntabilitas pribadi, dan pelatihan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner (data primer). Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 118 orang. Analisis data digunakan melalui analisis deskriptif dan inferensial (Uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profil safety climate di area support point PT X tahun 2025 sudah baik, dengan rata – rata  nilai 5,18. Seluruh dimensi yang diukur mendapatkan rata – rata skor 4,98 – 5,31. Skor rata – rata safety climate pada kelompok usia, masa kerja, dan pendidikan menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada dimensi komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, dan pelatihan.


Safety climate is a worker's perception of the importance of safe behavior at work in relation towards policies, safety, procedures, practices, and overall safety interests and priorities. A poor safety climate will be characterized by increased worker stress, poor safety communication, and lack of support thus normalizing unsafe behavior, decreasing situational awareness, and increasing the likelihood of accidents. Safety climate measurements can be used by companies as a leading indicator in establishing / improving existing safety programs. This study aims to analyze the safety climate profile in the support point area at PT X in 2025 based on the dimensions of management commitment, safety communication, rules and procedures, supportive environment, personal accountability, and training. The research design used is cross sectional with data collection methods using questionnaires (primary data). The number of samples analyzed was 118 respondents. Data analysis was used through descriptive and inferential analysis (Mann Whitney and Kruskal Wallis Test). The results of this study indicate that the safety climate profile in the PT X support point area in 2025 is good, with an average score of 5.18. All dimensions measured get an average score of 4.98 - 5.31. The average safety climate score in the age, tenure, and education groups showed significant differences in the dimensions of management commitment, safety communication, and training.
Read More
S-12064
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Schehan Al Azhar; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Galuh Ayu Ekaprastika
Abstrak:
Tingginya angka kecelakaan di sektor manufaktur, korelasi antara safety climate dengan kejadian kecelakaan, serta tingkat safety climate pada unit produksi di perusahaan yang cenderung lebih rendah dibanding unit lain, menunjukan bahwa perusahaan perlu berupaya menciptakan suasana kerja yang baik agar dapat menghasilkan safety climate yang positif khususnya pada unit produksi di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis safety climate di unit produksi PT X dimana PT X belum pernah melakukan pengukuran safety climate sebelumnya. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan metode analisis deskriptif dan inferensial. Sampel sebanyak 114 responden menggunakan teknik simple random sampling pada pekerja di divisi produksi dan packing. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah NOSACQ-50. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor safety climate di unit produksi PT X adalah 3,15. Seluruh dimensi yang diukur mendapatkan skor rata rata antara 3,06 sampai 3,26. Skor rata-rata safety climate pada kelompok jenis kelamin, masa kerja, dan status kepegawaian menunjukkan perbedaan signifakan pada dimensi worker's safety priority and risk non-acceptance dan tidak ada perbedaan signifikan pada dimensi lainnya. Seluruh dimensi safety climate di unit produksi PT X masuk ke dalam kategori cukup baik. Upaya peningkatan dapat dilakukan dengan meningkatkan efektifitas program terkait persepsi keselamatan dan mengupayakan keaktifan para pekerja serta menyamakan persepsi akan risiko dan bahaya untuk para pekerja.

The high rate of accidents in the manufacturing sector, the correlation between safety climate and accidents, and the level of safety climate in the production unit in the company which tends to be lower than other units, show that companies need to strive to create a good working atmosphere in order to produce a positive safety climate, especially in the production unit in the company. This study aims to analyze the safety climate in the production unit of PT X where PT X has never measured safety climate before. This research is a cross-sectional study with descriptive and inferential analysis methods. A sample of 114 respondents using simple random sampling technique on workers in the production and packing division. The instrument used in this study is NOSACQ-50. The results showed that the average safety climate score in the PT X production unit was 3.15. All dimensions measured get an average score between 3.06 to 3.26. The average score of safety climate in groups of gender, length of service, and employment status shows significant differences in the dimensions of worker's safety priority and risk non-acceptance and there are no significant differences in other dimensions. All dimensions of safety climate in the PT X production unit fall into the fairly good category. Improvement can be carried out by increasing the effectiveness of programs related to safety perceptions and seeking the activeness of workers and equalizing perceptions of risks and hazards for workers.
Read More
S-11652
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salwa Fadhilah; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Baiduri Widanarko, Ade Rizal
Abstrak:
Psychological safety  merupakan aspek yang penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung partisipasi pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan psychological safety  pada pekerja di Perusahaan X. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 234 pekerja yang dipilih menggunakan proportionate random sampling berdasarkan departemen. Variabel independen meliputi faktor individu (jenis kelamin, tingkat pendidikan, internal work locus of control, eksternal work locus of control dan career adaptability), faktor pekerjaan (leader-member exchange, negative workplace gossip, positive workplace gossip, work autonomy , dan role ambiguity), serta faktor organisasi (transformational leadership, hierarchical structure, communication quality, dan organizational orientation). Analisis dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor psychological safety sebesar 147,57 ± 17,47 (skala 1-180), dengan dimensi mutual trust/respect memiliki skor rata-rata tertinggi. Faktor individu yang berhubungan signifikan dengan psychological safety adalah internal work locus of control, career adaptability, dan tingkat pendidikan, sedangkan jenis kelamin dan external work locus of control tidak berhubungan signifikan. Pada faktor pekerjaan, leader-member exchange, work autonomy, dan role ambiguity berhubungan signifikan dengan psychological safety, sedangkan negative workplace gossip dan positive workplace gossip tidak berhubungan signifikan. Seluruh faktor organisasi, yaitu transformational leadership, hierarchical structure, communication quality, dan organizational orientation, menunjukkan hubungan positif yang signifikan dengan psychological safety.

Psychological safety is an essential aspect of creating a healthy work environment and encouraging employee participation. This study aimed to examine the factors associated with psychological safety among manufacturing workers at Company X. This quantitative study employed a cross-sectional design involving 234 workers selected using proportionate stratified random sampling based on department. The independent variables included individual factors (gender, educational level, internal work locus of control, external work locus of control, and career adaptability), job-related factors (leader-member exchange, negative workplace gossip, positive workplace gossip, work autonomy, and role ambiguity), and organizational factors (transformational leadership, hierarchical structure, communication quality, and organizational orientation). Data were analyzed using simple linear regression. The results showed that the mean psychological safety score was 147.57 ± 17.47 (range: 1-180), with mutual trust/respect demonstrating the highest mean score among the dimensions. Among the individual factors, internal work locus of control, career adaptability, and educational level were significantly associated with psychological safety, whereas gender and external work locus of control were not. Regarding job-related factors, leader-member exchange, work autonomy, and role ambiguity were significantly associated with psychological safety, while negative workplace gossip and positive workplace gossip showed no significant associations. All organizational factors, namely transformational leadership, hierarchical structure, communication quality, and organizational orientation, were positively and significantly associated with psychological safety.
Read More
S-12439
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhyi Nur Fitrahanefi; Pembimbibng: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Junaidi, Ridwan Zahdi Syaaf, Amelia Martha, Muthia Ashifa
Abstrak: Safety Leadership merupakan salah satu komponen penting dalam menurunkan angka kecelakaan dan peningkatan perilaku keselamatan kerja. Penelitian ini mengkaji profil Safety Leadership Manajemen Lini (Koordinator dan Supervisor) pada PT X yang bergerak di bidang pertambangan emas. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan mengadopsi konsep Krause (2005). Terdapat 2 elemen Safety Leadership yaitu Leadership Style (Transformational Leadership) dan Safety Best Practice. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Safety Leadership pada Manajemen Lini menurut sudut pandangnya sendiri dan sudut pandang tim masih belum baik. Safety belum menjadi prioritas dari manajemen lini di PT X. Kata kunci: Safety Leadership, Personality, Transformational Leadership, Safety Best Practices Safety Leadership is one of the important components in reducing accident rate and increasing safety behavior. This study examines the profile of Safety Leadership Line Management (Coordinator and Supervisor) at PT X which is engaged in gold mining. The method used is quantitative, by adopting the concept of Krause (2005). There are 2 elements of Safety Leadership that are Leadership Style (Transformational Leadership) and Safety Best Practice. From the results of the research it was found that Safety Leadership on Line Management in its own perspective and team perspective is still not good. Safety has not been a priority of line management in PT X. Kata kunci: Safety Leadership, Personality, Transformational Leadership, Safety Best Practices
Read More
T-5071
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Resky Dwi Deswita Iqbal; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Yunita Setiarsih
S-12160
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriza Hanifah Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Rijal Noor Al-Ghiffari
Abstrak:

Kelelahan merupakan masalah multifaktor yang dialami pekerja sektor manufaktur dan
berdampak pada kecelakaan kerja, kesehatan, serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja sales
perusahaan manufaktur di PT X tahun 2025. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor
risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, masa kerja, beban kerja, waktu istirahat, waktu
perjalanan, dan lingkungan kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status
gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, konsumsi alkohol, dan konsumsi kafein). Penelitian
ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, meliputi kuesioner
karakteristik individu dan pekerjaan, OFER, PSQI, NASA-TLX, dan persepsi terhadap
lingkungan kerja. Terdapat 136 data responden yang dianalisis menggunakan analisis
deskriptif dan inferensial dengan uji chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa
56.6% pekerja mengalami kelelahan kronik dan 79.4% kelelahan akut. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait kerja
yaitu masa kerja (p value = 0.047), lingkungan kerja bising (p value = 0.033) dan faktor
risiko tidak terkait kerja, yaitu kualitas tidur (p value = 0.044) dengan kelelahan kronik.
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko
terkait kerja yaitu beban kerja (p value = 0.033) dengan pemulihan kelelahan.


Fatigue is a multifactorial problem experienced by workers in the manufacturing sector  and has an impact on work accidents, health, and the economy. This study aims to analyze  the risk factors associated with fatigue in sales workers of manufacturing companies at  PT X in 2025. The risk factors studied include work-related risk factors (duration of work,  length of service, workload, rest time, commuting time, and work environment) and non work-related risk factors (age, nutritional status, sleep quantity, sleep quality, alcohol  consumption, and caffeine consumption). This study used a cross-sectional study design  conducted from February to June 2025. Data were collected through online  questionnaires, including individual and job characteristics questionnaires, OFER, PSQI,  NASA-TLX, and perceptions of work environment. 136 respondent data analyzed using  descriptive and inferential analysis with the chi-square test. The results of the analysis  showed that 56.6% of workers experienced chronic fatigue and 79.4% acute fatigue. The  results showed that there was a significant relationship between work-related risk factors,  namely work period (p value = 0.047), noisy work environment (p value = 0.033) and  non-work-related risk factors, namely sleep quality (p value = 0.044) with chronic fatigue.  The results also showed that there was a significant relationship between work-related  risk factors, namely workload (p value = 0.033) with fatigue recovery.

Read More
S-12100
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kiara Ayu Listiani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Iqro Glentar, Muthia Ashifa
Abstrak:

Paparan terhadap bahan kimia dan faktor fisika di lingkungan kerja manufaktur herbisida berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius jika tidak dilakukan pengendalian secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan Health Risk Assessment (HRA) terhadap bahaya kimia dan fisika yang dihadapi oleh pekerja di area produksi, packaging, dan gudang pada industri manufaktur herbisida, dengan pendekatan berbasis Similar Exposure Group (SEG). Metode yang digunakan mengacu pada kerangka kerja ISO 31000:2018 dan praktik rekomendasi HRA dari otoritas internasional. Data diperoleh melalui dokumen pemantauan lingkungan kerja, SDS, OHSERA, dan wawancara dengan pemangku kepentingan. Risiko dinilai menggunakan matriks semi-kuantitatif berdasarkan skor likelihood dan severity, dengan validasi keparahan kesehatan merujuk pada referensi seperti ACGIH dan literatur ilmiah terkini. Hasil menunjukkan bahwa SEG Proses menghadapi risiko tinggi dari paparan Monoisopropylamine (MIPA) dan Kalium Hidroksida (KOH), sedangkan SEG Packaging dan Warehouse memiliki risiko signifikan akibat kebisingan, getaran, panas, serta uap bahan kimia volatil. Evaluasi existing control menunjukkan pengendalian belum optimal dalam menurunkan risiko ke tingkat rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan pengendalian teknis dan administratif, seperti ventilasi lokal, rotasi kerja, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai, serta pengaturan waktu kerja-istirahat, diperlukan untuk menurunkan risiko residual. Penilaian risiko berbasis SEG terbukti efektif dalam memetakan prioritas pengendalian dan memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan K3 di industri sejenis.


 

Exposure to chemical agents and physical hazards in herbicide manufacturing environments poses serious health risks if not managed systematically. This study aims to conduct a Health Risk Assessment (HRA) of chemical and physical hazards encountered by workers in the production, packaging, and warehouse areas of a herbicide manufacturing industry, using a Similar Exposure Group (SEG) approach. The methodology follows the ISO 31000:2018 risk management framework and international best practices for occupational health risk assessment. Data were obtained through environmental monitoring reports, safety data sheets (SDS), OHSERA records, and interviews with relevant stakeholders. Risks were assessed using a semi-quantitative matrix based on likelihood and severity scores, with health severity validation referring to ACGIH and recent peer-reviewed scientific literature. The findings indicate that the Process SEG faces high risks from exposure to Monoisopropylamine (MIPA) and Potassium Hydroxide (KOH), while the Packaging and Warehouse SEGs are significantly affected by noise, vibration, heat, and volatile chemical vapors. Evaluation of existing controls reveals that current measures are not sufficiently effective in reducing risks to acceptable levels. The study concludes that stronger technical and administrative controls—such as local exhaust ventilation, work rotation, appropriate use of personal protective equipment (PPE), and regulated work-rest schedules—are essential to achieve low residual risks. Risk assessment based on SEGs has proven effective in mapping control priorities and provides a solid foundation for occupational health and safety decision-making in similar industrial settings.

Read More
T-7356
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive