Ditemukan 30789 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Muhammad Izzan Hurruzia; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Ede Surya Darmawan, Wachyu Sulistiadi, Jaya Mualimin
Abstrak:
Read More
Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke Provinsi Kalimantan Timur membawa implikasi strategis terhadap peningkatan kebutuhan dan kompleksitas layanan kesehatan di wilayah penyangga, khususnya Kota Balikpapan, Kota Samarinda, dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi ini menuntut kesiapan rumah sakit di wilayah penyangga untuk merespons peningkatan permintaan layanan sekaligus menghadapi dinamika persaingan dengan fasilitas kesehatan yang dikembangkan di kawasan inti IKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons strategi rumah sakit di wilayah penyangga IKN melalui penilaian faktor internal dan eksternal serta perumusan strategi respons yang adaptif terhadap dinamika pembangunan IKN Nusantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui penyusunan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), serta pemetaan posisi strategis menggunakan matriks Internal–External (IE). Selanjutnya, analisis kualitatif dilakukan melalui metode SWOT yang dikombinasikan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan rumah sakit secara objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo, dan RSUD Aji Muhammad Parikesit berada pada posisi strategis Grow and Build, yang mengindikasikan peluang pengembangan dan penguatan layanan. Nilai IFE tertinggi diperoleh RSUD Aji Muhammad Parikesit (3,93), diikuti RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (3,41) dan RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3,16), sementara nilai EFE tertinggi dimiliki oleh RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3,75). Sintesis analisis SWOT–AHP menetapkan tiga prioritas utama strategi pengembangan rumah sakit, yaitu penguatan integrasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan Otorita IKN, pengembangan layanan spesialis unggulan berbasis kebutuhan pasar, serta diversifikasi sumber pendapatan untuk menjamin keberlanjutan finansial rumah sakit. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa rumah sakit di wilayah penyangga IKN memiliki kapasitas pertumbuhan yang kuat untuk mendukung sistem rujukan kesehatan IKN Nusantara. Namun, optimalisasi peran tersebut memerlukan penguatan tata kelola kolaboratif, pengembangan layanan unggulan yang terarah, serta strategi pembiayaan yang berkelanjutan agar rumah sakit mampu berperan sebagai bagian integral dari ekosistem pelayanan kesehatan nasional.
The relocation of Indonesia’s National Capital (IKN Nusantara) to East Kalimantan Province has significant strategic implications for the increasing demand and complexity of healthcare services in the surrounding buffer regions, particularly Balikpapan City, Samarinda City, and Kutai Kartanegara Regency. This transformation requires hospitals in the buffer zones to enhance their readiness in responding to rising service demand while simultaneously facing potential competition from newly developed healthcare facilities in the core IKN area. This study aims to analyze hospital strategic respons in the IKN buffer regions through an assessment of internal and external factors and the formulation of adaptive strategic responses to the dynamics of IKN Nusantara development. This study employed a mixed-methods approach integrating quantitative and qualitative analyses. The quantitative analysis involved the construction of Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) matrices, followed by strategic position mapping using the Internal–External (IE) matrix. Subsequently, qualitative analysis was conducted using the SWOT framework combined with the Analytical Hierarchy Process (AHP) to objectively determine priority development strategies. The results indicate that RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo, and RSUD Aji Muhammad Parikesit are positioned in the Grow and Build quadrant, reflecting strong opportunities for service expansion and institutional strengthening. The highest IFE score was obtained by RSUD Aji Muhammad Parikesit (3.93), followed by RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (3.41) and RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3.16), while the highest EFE score was achieved by RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3.75). The synthesis of SWOT–AHP analysis identified three primary strategic priorities for hospital development: strengthening integration and collaboration with local governments and the IKN Authority, developing market-responsive specialized healthcare services, and diversifying revenue sources to ensure financial sustainability. The study concludes that hospitals in the IKN buffer regions possess strong growth potential to support the IKN Nusantara healthcare referral system. However, optimizing this role requires continuous enhancement of collaborative governance, focused development of specialized services, and sustainable financing strategies to enable hospitals to function as integral components of Indonesia’s national healthcare ecosystem.
B-2570
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuli Trijayati; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Masyitoh, Asep Ahmad Saefullah, R. Heru Ariyadi
Abstrak:
Read More
Kebijakan nasional di bidang kesehatan mendorong reformasi dan peningkatan kinerja rumah sakit, salah satunya melalui pengembangan Unit Organisasi Bersifat Khusus (UOBK) di Rumah Sakit Daerah. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan akuntabilitas, efisiensi, dan kualitas pelayanan dengan menerapkan model manajemen yang lebih adaptif dan berorientasi pada hasil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan UOBK di RSUD Kubu Raya dengan pendekatan kualitatif menggunakan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kendala komunikasi antarorganisasi akibat perbedaan pemahaman dan kurangnya sosialisasi, serta keterbatasan sumber daya manusia. Selain itu, kompetensi dan sikap badan pelaksana berperan penting dalam menentukan keberhasilan kebijakan. Meskipun kebijakan UOBK bertujuan memberikan fleksibilitas dan otonomi dalam pengelolaan rumah sakit, implementasinya di RSUD Kubu Raya belum berjalan. Diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasi hambatan tersebut agar kebijakan ini dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan rumah sakit.
The national health policy encourages reforms and improvements in hospital performance, one of which is through the development of Special Organizational Units (UOBK) in Regional Hospitals. This policy aims to enhance accountability, efficiency, and service quality by adopting a more adaptive and results-oriented management model. This study aims to analyze the implementation of the UOBK policy at Kubu Raya Regional General Hospital (RSUD) using a qualitative approach based on the policy implementation theory of Van Meter and Van Horn. The findings reveal that the policy implementation still faces various challenges, such as inter-organizational communication barriers due to differing interpretations and lack of socialization, as well as resource limitations, including human resources, assets, and finances. Moreover, the competency and attitude of the implementing bodies play a crucial role in determining the policy's success. Although the UOBK policy aims to provide flexibility and autonomy in hospital management, its implementation at Kubu Raya RSUD has not yet been optimal. Further efforts are needed to overcome these obstacles to ensure the policy delivers tangible impacts on improving hospital efficiency and service quality.
B-2514
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kadaryanto; Pembimbing: Pujianto
B-753
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mundianasari Muyasaroh; Pembimbing: Wiku bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Robi Hari Setiawan
S-6597
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Edison Sahputra; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Pujiyanto, Masyitoh, Ani Sri Wiryaningsih, Budhi Suryadharma
Abstrak:
Akreditasi rumah sakit adalah untuk keselamatan pasien dengan menilai praktik cuci tangan pada kelompok kerja Pencegahan Pegendalian Infeksi (PPI) versi KARS 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat praktik cuci tangan yang dilakukan perawat di ruang rawat inap RSUD Kemayoran sehari-hari yang merupakan salah satu syarat akreditasi rumah sakit. Metode yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif-kualitatif (mixed method). Desain penelitian kuantitatif secara cross sectional dan data kualitatif diperoleh dengan pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Hasil praktik cuci tangan perawat sebesar 58,3 %. Variabel usia, ruang kerja, pengingat di tempat kerja, media belajar, ketersediaan sarung tangan, telusur kars dan sikap ada hubungan Praktik cuci tangan, p Value < 0,05. Kesimpulan: Cara mengatasi kendala dibuat peraturan yang tegas dan mengikat yaitu reward dan punishment seperti memasukkan aktifitas praktik cuci tangan ke dalam SKP (sasaran kinerja pegawai) dan eKinerja sebagai aktifitas utama sehingga bagi yang praktik cuci tangannya kurang baik akan mengurangi remunerasinya dan kalau ini terus terjadi akan berdampak kepada penurunan penilaian SKP yang bisa berakibat kepada skorsing hingga pemecatan.
Kata kunci : Akreditasi rumah sakit, praktik cuci tangan, perawat
Hospital accreditation is for patient safety by assessing handwashing practices in working group of Infection Prevention and Control (IPC) version 2012. The purpose of this research is to see the practice of handwashing done by nurses in Kemayoran Hospital ward everyday which is one of the requirements of hospital accreditation. The method used is quantitative-qualitative research (mixed method). Quantitative research design is cross sectional and qualitative data is obtained by direct observation and in-depth interview. The result of nurse hand washing practice was 58,3%. Age variables, workspace, workplace reminders, learning media, availability of gloves, search kars and relationship attitudes Handwashing Practice, p Value < 0.05. Conclusion: How to overcome the obstacles are made firm and binding regulations such as rewards and punishments such as inclusion of hand-washing practice activities into employee performance goals and e-performance as the main activity so that for those who practice hand washing less will reduce the remuneration and if this continue to happen will have an impact to employee performance goals assessments that may result in suspension and dismissal.
Keywords: Hospital accreditation, handwashing practices, nurse
Read More
Kata kunci : Akreditasi rumah sakit, praktik cuci tangan, perawat
Hospital accreditation is for patient safety by assessing handwashing practices in working group of Infection Prevention and Control (IPC) version 2012. The purpose of this research is to see the practice of handwashing done by nurses in Kemayoran Hospital ward everyday which is one of the requirements of hospital accreditation. The method used is quantitative-qualitative research (mixed method). Quantitative research design is cross sectional and qualitative data is obtained by direct observation and in-depth interview. The result of nurse hand washing practice was 58,3%. Age variables, workspace, workplace reminders, learning media, availability of gloves, search kars and relationship attitudes Handwashing Practice, p Value < 0.05. Conclusion: How to overcome the obstacles are made firm and binding regulations such as rewards and punishments such as inclusion of hand-washing practice activities into employee performance goals and e-performance as the main activity so that for those who practice hand washing less will reduce the remuneration and if this continue to happen will have an impact to employee performance goals assessments that may result in suspension and dismissal.
Keywords: Hospital accreditation, handwashing practices, nurse
B-1870
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Agus Ariyanto Haryoso; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Puput Oktamianti, Amila Megraini, Fiena Fitriah
Abstrak:
Mutu dan keselamatan pasien saat ini merupakan salah satu tuntutan utama pengguna jasa layanan rumah sakit. Bahkan menjadi salah satu elemen penilaian akreditasi rumah sakit. Namun demikian, saat ini, mutu dan keselamatan pasien RSUD Kepulauan Seribu belum terakreditasi. Dengan demikian, RSUD Kepulauan Seribu berencana meningkatkan mutu dan keselamatan pasien agar dapat terakreditasi dua tahun mendatang. Tesis ini bertujuan menyusun rencana strategis RSUD Kepulauan seribu dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien untuk tahun 2019 2023.
Penelitian dalam tesis ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian menggali informasi dari informan untuk mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal sebagai bahan dasar menyusun strategi. Selanjutnya faktor faktor tersebut dianalisis menggunakan intrumen-instrumen Internal Factor Evaluation (IFE), dan Eksternal factor Evaluation (EVE), matriks I E, matriks TOWS, untuk menghasilkan strategi. Semua pegawai bersemangat melaksanakan kegiatan yang ditetapkan, sumber daya keuangan yang sangat banyak merupakan faktor kekuatan. Akan tetapi, sosialisasi visi dan misi yang belum maksimal, belum menetapkan prioritas program, dan belum melakukan pengukuran mutu dan keselamatan pasien masih menjadi faktor kelemahan RSUD Kepulauan seribu. Faktor peluang RSUD Kepulauan Seribu adalah Lembaga lintas sektor yang mendukung, sedangkan adanya gap kompetensi pegawai RSUD dengan puskesmas yang menghambat pelayanan adalah faktor ancaman yang harus diantisipasi. Skor IFE diperoleh 2,40 sedangkan skor EFE 2,31, sehingga RSUD Kepulauan Seribu berdasarkan matriks I-E berada pada kotak V. Dengan demikian, strategi paling tepat adalah hold dan maintain. RSUD Kepulauan Seribu, berdasarkan matriksTOWS, direkomendasikan melakukan penguatan arah kebijakan organisasi, optimalisasi anggaran, pemanfaatan kerjasama lintas sektor, pemantapan wawasan pegawai, dan penyusunan standar diklat, penyusunan program prioritas, pelaksanaan manajemen risiko, dan pengukuran mutu dan keselamatan pasien
Read More
Penelitian dalam tesis ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian menggali informasi dari informan untuk mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal sebagai bahan dasar menyusun strategi. Selanjutnya faktor faktor tersebut dianalisis menggunakan intrumen-instrumen Internal Factor Evaluation (IFE), dan Eksternal factor Evaluation (EVE), matriks I E, matriks TOWS, untuk menghasilkan strategi. Semua pegawai bersemangat melaksanakan kegiatan yang ditetapkan, sumber daya keuangan yang sangat banyak merupakan faktor kekuatan. Akan tetapi, sosialisasi visi dan misi yang belum maksimal, belum menetapkan prioritas program, dan belum melakukan pengukuran mutu dan keselamatan pasien masih menjadi faktor kelemahan RSUD Kepulauan seribu. Faktor peluang RSUD Kepulauan Seribu adalah Lembaga lintas sektor yang mendukung, sedangkan adanya gap kompetensi pegawai RSUD dengan puskesmas yang menghambat pelayanan adalah faktor ancaman yang harus diantisipasi. Skor IFE diperoleh 2,40 sedangkan skor EFE 2,31, sehingga RSUD Kepulauan Seribu berdasarkan matriks I-E berada pada kotak V. Dengan demikian, strategi paling tepat adalah hold dan maintain. RSUD Kepulauan Seribu, berdasarkan matriksTOWS, direkomendasikan melakukan penguatan arah kebijakan organisasi, optimalisasi anggaran, pemanfaatan kerjasama lintas sektor, pemantapan wawasan pegawai, dan penyusunan standar diklat, penyusunan program prioritas, pelaksanaan manajemen risiko, dan pengukuran mutu dan keselamatan pasien
B-2060
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Efran Saputra; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Peter A.W. Pattinama, Budi Hidayat, Yuli Prapancha Satar
B-877
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Prisca Gisella; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Mieke Savitri, Dumilah Ayuningtyas, Andrean Henry, Kuntari Retno
Abstrak:
Medical Check Up (MCU) merupakan unit pelayanan preventif yang ingin dikembangkan oleh Rumah Sakit Grha Kedoya karena sesuai dengan kebijakan pemerintah dan target Sustainable Development Goals (SDGs) tentang perlunya pengembangan pelayanan kesehatan preventif, serta berkembangnya era BPJS. Menurut data yang ada, jumlah pasien dan pendapatan MCU 3 tahun terakhir masih fluktuatif. Salah satu penyebab permasalahan ini adalah belum adanya strategi pemasaran khusus untuk Medical Check Up ini. Di era digital ini, strategi pemasaran pun mengalami perkembangan dimana teori 4P Marketing Mix beralih menjadi 4C di Marketing 4.0. Hal inilah yang menjadi latar belakang dan tujuan dari penelitian ini, yaitu menyusun strategi pemasaran yang tepat untuk unit Medical Check Up berdasarkan teori 4C dari Marketing 4.0. Penelitian ini adalah riset operasional dengan metode pengambilan data kuantitatif dan kualitatif pada bulan Oktober-November 2019. Metode kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pasien MCU serta perusahaan yang bekerja sama dengan MCU dengan tujuan melihat perspektif konsumen mengenai 4C. Responden dari penelitian ini adalah 48 orang pasien MCU dan 8 perusahaan yang menjawab kuesioner tentang pendapat mereka mengenai 4C dari MCU RS Grha Kedoya. Sedangkan metode kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan Consensus Decision Making Group (CDMG) dengan tujuan mengetahu factor internal dan eksternal rumah sakit dan mendiskusikan strategi yang tepat untuk MCU. Informan pada penelitian ini adalah Direktur, Wakil Direktur, serta tim Marketing Rumah Sakit Grha Kedoya. Hasil dari penelitian kuantitatif menunjukkan sebagian besar responden menyetujui adanya factor 4C dalam MCU Rumah Sakit Grha Kedoya: 85% setuju adanya Co-creation dalam pemilihan paket, 37,5% menyatakan Willingness to Pay mereka terhadap MCU adalah 1-2 juta rupiah, 72% setuju adanya Communal activation dari pelayanan promotive ini, dan 92% menyatakan membutuhkan pertolongan saat memilih paket yang akan terbantu dengan adanya Conversation. Hasil pengolahan kuesioner tidak jauh berbeda antara pasien pribadi maupun perusahaan. Dari hasil penelitian kualitatif, setelah mengidentifikasi dan melakukan pembobotan terhadap faktor internal dan eksternal dari Rumah Sakit Grha Kedoya, rumah sakit ini terletak pada kuadran V dari Internal External Matrix (IE Matrix) dengan strategi yang tepat adalah product development dan market penetration. Kemudian melalui TOWS Matrix didapatkan beberapa alternative strategi, dan setelah dilakukan skoring dengan QSPM Matrix, strategi yang paling tepat adalah pengembangan sistem informasi termasuk e-medical record, appointment online dan promosi via website
Read More
B-2118
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iva Nur Faridah; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Enny Ekasari, Fikrotul Ulya
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Dalam era persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dituntut tidak hanya menjalankan fungsi sosial, tetapi juga mampu bersaing dengan rumah sakit swasta dalam hal kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Kota Depok sebagai rumah sakit milik Pemerintah Kota Depok memiliki tantangan dalam meningkatkan pemanfaatan layanan dan memperkuat posisinya sebagai pilihan utama masyarakat di wilayah timur Kota Depok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam memilih rumah sakit, menganalisis permasalahan yang dihadapi RSUD ASA dalam menarik minat masyarakat, serta merumuskan strategi yang tepat agar RSUD ASA dapat menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain studi kasus. Data kuantitatif dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada pasien dan masyarakat, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dari manajemen rumah sakit. Analisis dilakukan berdasarkan lima dimensi utama yang menjadi variabel independen, yaitu availability, affordability, accessibility, accommodation, dan acceptability. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi acceptability, yang meliputi kepercayaan pasien, reputasi rumah sakit, dan kualitas pelayanan, merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi preferensi masyarakat. Dimensi accessibility dan availability juga berpengaruh signifikan, sedangkan affordability dan accommodation memberikan pengaruh sedang terhadap keputusan masyarakat dalam memilih rumah sakit. Kesimpulan: Upaya untuk menjadikan RSUD ASA sebagai pilihan utama masyarakat perlu diarahkan melalui pendekatan Strategic Healthcare Marketing, yang menekankan bahwa preferensi pasien terhadap rumah sakit dibentuk oleh persepsi nilai yang terdiri atas bauran kualitas layanan, aksesibilitas, citra rumah sakit, dan interaksi pasien selama proses pelayanan. Pendekatan berbasis nilai ini diharapkan mampu meningkatkan mutu layanan secara berkelanjutan, memperkuat kepercayaan publik, serta meningkatkan daya saing RSUD ASA di dalam sistem pelayanan kesehatan regional. Kata kunci: Preferensi masyarakat, utama, availability, accessibility, acceptability, rumah sakit, strategi.
Background: In an increasingly competitive healthcare environment, public hospitals are required not only to fulfill their social functions but also to compete with private hospitals in terms of service quality and patient satisfaction. RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Depok, as a local government-owned hospital, faces challenges in improving service utilization and strengthening its position as the preferred choice for the community in the eastern region of Depok City. Objectives: This study aims to identify the factors influencing community preferences in choosing hospitals, analyze the challenges faced by RSUD ASA in attracting public interest, and formulate effective strategies to make RSUD ASA the primary hospital of choice for the community. Methods: The study employs a mixed-methods approach with a case study design. Quantitative data were collected through questionnaires distributed to patients and community members, while qualitative data were obtained through in-depth interviews with key informants, including hospital management and local health officials. The analysis was conducted based on five key dimensions: availability, affordability, accessibility, accommodation, and acceptability. Results: The findings reveal that acceptability, which includes patient trust, hospital reputation, and service quality, is the most dominant factor influencing community preference. The dimensions of accessibility and availability also have significant effects, while affordability and accommodation show a moderate influence on hospital choice. Conclusion: Efforts to establish RSUD ASA as the main choice of the community should adopt the Strategic Healthcare Marketing approach, which emphasizes that patient preference for a hospital is shaped by perceived value derived from the combination of service quality, accessibility, hospital image, and patient interaction throughout the care process. This value-based approach is expected to foster continuous quality improvement, strengthen public trust, and enhance the hospital’s competitiveness within the regional healthcare system.
B-2574
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Ulfah; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Dumilah Ayuningtyas, Zulfa, Yessi
Abstrak:
Read More
Dispute klaim COVID-19 menjadi salah satu permasalahan di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi . Klaim dispute terjadi ketika terdapat ketidak sepakatan dalam proses verifikasi BPJS Kesehatan terhadap berkas klaim rumah sakit. Klaim dispute akan berdampak terhadap penundaan pembayaran klaim COVID-19 sehingga mempengaruhi arus kas rumah sakit, dan juga proses penyelesaian klaim dispute juga membutuhkan waktu lama. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisa penyebab terjadinya klaim dispute COVID-19 ditinjau dari faktor input, proses, output, mengidentifikasi dampak klaim dispute dan strategi bertahan rumah sakit dalam menyikapi masalah ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi pada bulan Juni-Juli 2021. Menggunakan data sekunder Berita Acara Hasil Verifikasi klaim COVID-19 bulan pelayanan April 2020 hingga Mei 2021. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan terpilih. Dari hasil penelitian, pada output terdapat klaim dispute di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina 115 kasus sebesar Rp. 3.087.614.900 (23%). Klaim pending 62 kasus sebesar Rp. 891.426.800 (6%) . Dan ini menimbulkan dampak hingga mempengaruhi 54,7% jika dilihat dari sisi operasional rumah sakit rata-rata sebulan. Didapatkan penyebab klaim dispute dan pending terbanyak adalah penegakan diagnosa (suspek, komorbid dan koinsiden) tidak sesuai kriteria sebesar 33%, kriteria rawat inap tidak sesuai ketentuan 21%, pemeriksaan penunjang tidak sesuai kriteria 18%, kesalahan pengentrian dan upload berkas 17% dan tatalaksana tidak sesuai ketentuan 11%. Jika ditelaah lebih lanjut permasalahan terbesar adalah berasal dari faktor internal rumah sakit, penyebab dispute dan pending klaim COVID-19 ini adalah dari input terkait SDM dan kebijakan, sedangkan dari proses pengentrian dan upload berkas. Dalam menyikapi klaim dispute dibutuhkan strategi bertahan rumah sakit diantaranya adalah incresing revenue (meningkatkan pendapatan) dengan tetap mempertahankan pelayanan pasien COVID-19 yang sesuai ketentuan yang berlaku, sembari tetap memberikan pelayanan non COVID-19, cutting cost (memangkas pembiayaan) dengan mengevaluasi pembiayaan pelayanan COVID-19 saat ini
COVID-19 dispute claims is one of the problems at Islamic Hospital Ibnu Sina Bukittinggi. Dispute claims occur when there is disagreement in the BPJS Kesehatan verification process on hospital claim files. Dispute claims will have an impact on delays in payment of COVID-19 claims, which will affect the hospital's cash flow, and the settlement of disputed claims will also take longer. This study aims to determine the impact of the dispute, analyze the causes of the dispute claim in terms of input, process, output factors and the hospital's survival strategy in addressing this problem. This research uses a qualitative approach with a case study method. The study was carried out at Islamic Hospital Ibnu Sina Bukittinggi in June-July 2021. Using secondary data from the Verification Results for COVID-19 service months from April 2020 to May 2021. Then proceed with conducting in-depth interviews with selected informants. From the output data, there are claims of dispute at Islamic Hospital Ibnu Sina Bukittinggi with 115 cases of Rp. 3,087,614,900 (23%). Claims pending 62 cases of Rp. 891,426,800 (6%). And this has an impact that affects 54.7% when viewed from the side of hospital operations on average a month. From the results of the study, it was found that the causes of the most disputed and pending claims were diagnosis enforcement (suspect, comorbid and coincidental) that did not meet the criteria by 33%, the criteria for hospitalization did not comply with the provisions of 21%, supporting examinations did not meet the criteria 18%, entry errors and file uploads 17 % and the treatment is not in accordance with the provisions of 11%. If we examine further, the biggest problem is that it comes from internal hospital factors, the cause of the dispute and pending COVID-19 claims is from input related to human resources and policies, while from the process of entering and uploading files. In responding to dispute claims, hospital survival strategies are needed, including incresing revenue while maintaining COVID-19 patient services in accordance with applicable regulations, while still providing non-COVID-19 services, cutting costs by evaluating service financing. COVID-19 currently and making hospital PPK and CP related to COVID-19 services, Improving Cash Flow by evaluating the risk of claim disputes and strengthening the dispute claim settlement team so that all claims can become eligible claims from the Ministry of Health
B-2225
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
