Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32880 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Pratiwi Pamarta Endah Jatmika; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bekasi. Desa Mekarwangi merupakan salah satu wilayah dengan kasus kusta yang cukup tinggi dan telah ditetapkan sebagai Desa Siaga Bebas Kusta pertama di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kusta di wilayah kerja Puskesmas Desa Mekarwangi, Kabupaten Bekasi, tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian terdiri atas 75 responden, yaitu 25 kasus kusta dan 50 kontrol dengan perbandingan 1:2. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner serta observasi kondisi lingkungan rumah. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner. Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian kusta adalah riwayat kontak erat (OR=66,77; 95% CI=10.46—426.14). Hasil ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki riwayat kontak erat dengan penderita kusta memiliki peluang 66,77 kali lebih besar mengalami kusta dibandingkan responden yang tidak memiliki riwayat kontak erat dengan penderita kusta lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa riwayat kontak erat menjadi faktor utama yang berhubungan dengan kejadian kusta di wilayah kerja Puskesmas Desa Mekarwangi. Penguatan pelacakan kontak, active case finding, dan edukasi masyarakat perlu diprioritaskan dalam program pencegahan dan pengendalian kusta.


Leprosy remains a public health problem in Indonesia, including in Bekasi Regency. Mekarwangi Village is one of the areas with a relatively high number of leprosy cases and has been designated as the first Leprosy-Free Alert Village in Bekasi Regency. This study aimed to analyze the risk factors associated with leprosy incidence in the working area of Mekarwangi Public Health Center, Bekasi Regency, in 2026. This study used an analytical observational design with a case-control approach. The study sample consisted of 75 respondents, including 25 leprosy cases and 50 controls with a 1:2 ratio. Data were collected through interviews using questionnaires and observations of household environmental conditions. Data analysis was conducted using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with binary logistic regression. The multivariate analysis showed that the dominant factor associated with leprosy incidence was close contact history (OR=66.77; 95% CI=10.46–426.14). This finding indicates that respondents with a history of close contact with leprosy patients had 66.77 times higher odds of developing leprosy than respondents without a history of close contact with leprosy patients. This study concludes that close contact history is the main factor associated with leprosy incidence in the working area of Mekarwangi Public Health Center. Strengthening contact tracing, active case finding, and community education should be prioritized in leprosy prevention and control programs.

Read More
S-12236
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anifa Dhiya Rifqiya; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, RR. Dian Novianti, Didik Supriyono
Abstrak:
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang penting karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Rawatembaga Kecamatan Bekasi Barat Tahun 2026. Desain penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol. Sampel penelitian berjumlah 104 balita yang terdiri atas 52 balita stunting dan 52 balita tidak stunting. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ASI Eksklusif (OR=3,89), riwayat penyakit infeksi (OR=3,20), dan kepemilikan jamban sehat (OR=2,50) dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa ASI Eksklusif merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting (OR=3,2), diikuti oleh riwayat penyakit infeksi (OR=2,5). Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada peningkatan cakupan ASI Eksklusif, pencegahan penyakit infeksi, serta penguatan edukasi kesehatan kepada ibu dan keluarga.

Stunting remains a major public health problem because it affects physical growth, cognitive development, and the quality of human resources in the future. This study aimed to analyze the risk factors associated with stunting among children under five in the working area of Rawatembaga Public Health Center, West Bekasi District, in 2026. This study employed a case-control design. The study sample consisted of 104 children under five, including 52 stunted children and 52 non-stunted children. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-Square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results of the bivariate analysis showed significant associations between exclusive breastfeeding (OR = 3.89), history of infectious diseases (OR = 3.20), and ownership of a sanitary latrine (OR = 2.50) and the incidence of stunting. The multivariate analysis revealed that exclusive breastfeeding was the most dominant factor associated with stunting (OR = 3.2), followed by a history of infectious diseases (OR = 2.5). Stunting prevention efforts should focus on increasing the coverage of exclusive breastfeeding, preventing infectious diseases, and strengthening health education for mothers and families.
Read More
T-7557
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mida Arafina Nurdita; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penyakit Diare merupakan penyakit menular dan menempati urutan kedua penyebab kematian anak balita di dunia. Di Indonesia, khususnya Jawa Barat adalah wilayah endemis untuk diare, Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten dengan prevalensi diare balita yang cukup tinggi. Puskesmas Purwasari merupakan puskesmas dengan kasus diare balita tertinggi di Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko (karakteristik balita, karakteristik ibu, dan sarana sanitasi) kejadian diare balita di Wilayah Kerja Puskesmas Purwasari Kabupaten Bogor tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kasus-kontrol dengan sampel 53 kasus dan 53 kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI Eksklusif (0,28; 0,11-0,67), pemberian imunisasi campak (0,18; 0,08-0,42), pengetahuan (0,16; 0,07-0,38), perilaku pembuangan tinja balita (0,18; 0,07-0,46), dan sarana jamban (0,32; 0,14-0,72) dengan kejadian diare pada balita. Variabel yang diprediksi paling berpengaruh terhadap terjadinya diare balita di wilayah kerja Puskesmas Purwasari adalah variabel pengetahuan (9,76; 2,78 - 34,21).
Diarrhea is an communicable disease and ranks the second cause of death for children under-five in the world. In Indonesia, especially West Java, which is an endemic area for diarrhea, Bogor is one of the districts with a fairly high prevalence of diarrhea in children under-five. Purwasari Community Health Center is a health center with the highest cases of diarrhea in children under-five in Bogor Regency. This study aims to analyze the risk factors (characteristics of children under-five, characteristics of mothers, and sanitation facilities) for the incidence of diarrhea in children under-five in the Purwasari Public Health Center, Bogor Regency in 2022. This study used a case-control research design with a sample of 53 cases and 53 controls. Data analysis was performed using chi-square test and logistic regression predictive model. The results showed that there was a relationship between exclusive breastfeeding (0,28; 0,11-0,67), measles immunization (0,18; 0,08-0,42), knowledge (0,16; 0,07-0,38), toddler stool disposal behavior (0,18; 0,07-0,46), and latrine facilities (0,32; 0,14-0,72) with the incidence of diarrhea in children under-five. The variable that is predicted to have the most influence on the occurrence of diarrhea under five in the working area of the Purwasari Health Center is the knowledge variable (9,76; 2,78 - 34,21).
Read More
S-11139
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azkiya Zulfa; Pembimbning: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkota, Farida
Abstrak: Kejadian diare terbanyak di Kota Bogor terjadi di Kecamatan Tanah Sareal dimana kondisi sanitasi yang berkaitan dengan air minum berisiko tinggi terdapat di Kelurahan Sukadamai dan Mekarwangi yang termasuk ke dalamwilayah kerja puskesmas Mekarwangi Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita diwilayah kerja puskesmas Mekarwangi Kota Bogor tahun 2014. Disain penelitian yang digunakan adalah case control dengan jumlah kasus 120 dan jumlah kontrol120. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan laboratorium sampel air minum. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita adalah Escherichiacoli dalam air minum (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), perilaku cuci tangan ibuatau pengasuh (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitasi makanan danminuman (OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) dan pengetahuan ibu atau pengasuh(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). Perlu dilakukan upaya pencerdasan kepada masyarakat berupa penyuluhan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media cetak seperti poster, pamflet dan lain sebagainya.
Kata kunci: Diare, balita
The highest incidence of diarrhea in Bogor occurred at Tanah Sarealdistrict where the condition of basic sanitation associated with high risk drinkingwater in Kelurahan Sukadamai and Kelurahan Mekarwangi which belong toPuskesmas Mekarwangi region. This study aims to analyze risks that affectedunderfive years children diarrhea in region of Puskesmas Mekarwangi, Bogor2014. This study used case control design with 120 controls and 120 cases. Theinformation collected by interviews, observation and laboratorium analyze ofdrinking water sample. Result that risk factors that affected diarrhea areEscherichia coli in drinking water (OR=2,61; 95% CI= 1,32-6,76), handwashingbehavior (OR=2,05; 95% CI= 1,18-3,57), hygiene sanitation of food and drink(OR=2,53; 95% CI= 1,46-4,39) and also knowledge of mother about diarrhea(OR=1,83; 95% CI= 1,01-3,31). It should be held an interventions direct orindirectly toward the residents, by printed media,e.g. poster, pamphlet, bulletin,xbanner etc.
Keyword: Diarrhea, underfive years children
Read More
S-8168
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Siti Nuril Farikha; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat dan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, termasuk faktor lingkungan. Pajanan kebisingan lingkungan dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi kesehatan metabolik melalui mekanisme stres fisiologis dan gangguan regulasi hormonal. Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo merupakan kawasan yang terdampak aktivitas bandara X dan aktivitas transportasi lalu lintas sehingga berpotensi mengalami pajanan kebisingan lingkungan yang tinggi. Tujuan: Mengetahui hubungan pajanan kebisingan dengan kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain unmatched case-control dengan jumlah sampel 198 responden yang terdiri dari 112 kasus dan 86 kontrol. Data primer diperoleh melalui pengukuran kebisingan menggunakan Sound Level Meter pada tiga titik lokasi dengan tujuh sesi waktu pengukuran. Data sekunder diperoleh dari rekam medis Puskesmas Temon. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh titik pengukuran memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu kebisingan kawasan permukiman, dengan rata-rata sebesar 73.84 dB(A). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pajanan kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian DM (p-value = 0.624). Variabel usia, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan berpengaruh terhadap kejadian DM pada analisis bivariat, sedangkan jenis kelamin, tekanan darah, dan indeks massa tubuh tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia merupakan satu-satunya variabel yang tetap berpengaruh terhadap kejadian DM setelah dikontrol bersama variabel lain dalam model. Kesimpulan: Pajanan kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo. Namun, seluruh lokasi penelitian memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu kebisingan permukiman. Usia merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di wilayah penelitian. Kata kunci: diabetes mellitus, kebisingan lingkungan, pajanan kebisingan, case-control


Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease with an increasing global prevalence and is influenced by various risk factors, including environmental factors. Long-term exposure to environmental noise is suspected to affect metabolic health through physiological stress responses and hormonal dysregulation. The working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency, is located near an airport and is potentially exposed to high levels of environmental noise generated by “X” aircraft operations and road traffic activities. Objective: To determine the association between noise exposure and the incidence of Diabetes Mellitus among residents in the working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency, in 2026. Methods: This study employed an unmatched case-control design involving 198 respondents, consisting of 112 cases and 86 controls. Primary data were collected through noise measurements using a Sound Level Meter at three measurement locations with seven observation sessions. Secondary data were obtained from the medical records of Temon Primary Health Center. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. Results: The results showed that all measurement locations exceeded the residential noise standard, with an average noise level of 73.84 dB(A). Bivariate analysis indicated that noise exposure was not significantly associated with the incidence of Diabetes Mellitus (p-value = 0.624). Age, educational level, and employment status were significantly associated with Diabetes Mellitus in the bivariate analysis, whereas sex, blood pressure, and body mass index showed no significant association. Multivariate analysis revealed that age was the only variable that remained significantly associated with Diabetes Mellitus after adjustment for other variables in the model. Conclusion:  Noise exposure was not associated with the incidence of Diabetes Mellitus among residents in the working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency. Nevertheless, all study locations were exposed to noise levels exceeding the residential noise standard. Age was identified as the most dominant factor associated with the incidence of Diabetes Mellitus in the study population. Keywords: Diabetes Mellitus, environmental noise, noise exposure, case-control study.

Read More
S-12258
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Rahayu Balebu; Pembimbing: Zakianis; Penguji: I Made Djaja, Laila Fitria, Didik Supriyono
T-4152
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isti Suistiandari; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Zakianis, Tina Sumirah
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Latar belakang. Kejadian diare di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cisaat terhitung masih tinggi dengan total kejadian diare yang terjadi pada tahun 2017 adalah 1924 kasus. Kejadian diare di Desa Cisaat dengan 245 kasus, Desa Sukamanh 534 kasus, Desa Cibatu 274 kasus, Desa Sukasari 306 kasus, Desa Nagrak 260 kasus, dan Desa Sukaresmi 305 kasus. Presentase kepemilikan jamban di willayah UPTD Puskesmas Cisaat tahun 2017 60,9 , ketersediaan tempat sampah 79,6 , dan sarana air bersih 78,4 . Metode.Penelitin ini menggunakan desain studi cross sectional untuk melihat hubungan variabel dependen dan independen dan menggunakan data primer yang diambil dalam waktu bersamaan. Subyek penelitian sebanyak 100 responden yang merupakan ibu rumah tangga. Data dianalisis secara bivariat dengan chi square. Hasil. Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel karakteristik individu yang terdiri dari pendidikan, pendapatan, pengetahuan, dan perilaku hidup bersih dan sehat PHBS tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cisaat. Selain itu variabel lingkungan yang juga diteliti meliputi pewadahan sampah, pengangkutan sampah, air bersih, dan sarana jamban keluarga juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Simpulan. Tidak ada hubungan pengetahuan, pendidikan, pendapatan, phbs, pewadahan sampah, pengangkutan sampah, air bersih dan sarana jamban.
 

 
ABSTRACT
 
 
Background. As the largest waste producer, households have a potential health risks that caused by unstructured waste management behavior. The objective of this research is to analyze the association between respondent characteristic and environment factors towards the incidence of diarrhea in UPTD Puskesmas Cisaat working area. Methods. The design of this study is cross sectional to analyze the association between dependent and independent variables using primary data taken at the same time. The subjects of the study are 100 respondents who are housewifes. The data collected in this research are analyzed bivariate using chi square. Result. The result of this research shows that individual characteristic variable which consist of education, income, knowledge, and also clean and healthy living behavior PHBS has no significant association with the incidence of diarrhea in UPTD Puskesmas Cisaat working area. In addition, environmental variables including waste collection, waste transportation, clean water, and family toilet facilities are also has no significant association with the incidence of diarrhea. Conclusion. There is no have a significant relationship between education, knowladge, salary, health behaviour, waste management, and sanitation with the incidence of diarrhea in the UPTD Puskesmas Cisaat working area 2018.Keywords waste, household, diarrhea
Read More
S-9836
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desy Safitri; Pembimbing: Haryoto K; Penguji: Suyud Warno Utomo, Inswiasari
Abstrak: Pneumonia pada balita masih merupakan masalah kesehatan utama baik di dunia maupun di Indonesia. Di Indonesia, Pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua pada bayi dan anak balita. Kecamatan Cakung merupakan salah satu daerah yang memiliki kasus pneumonia pada balita yang cukup banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah Puskesmas Kecamatan Cakung. Penelitian ini menggunakan desain studi case control. Populasi penelitian adalah balita usia 12-59 bulan yang berada di Wilayah Puskesmas Kecamatan Cakung. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara paparan asap rokok dalam rumah (OR=4,67; 1,19-18,33); tingkat konsumsi rokok (OR=2,77; 1,12-6,86), pencahayaan alami dalam rumah (OR=5,16; 1,94-13,70); pengetahuan ibu (OR=3,85; 1,12-13,25), status gizi (OR=9,14; 1,90-43,89), riwayat imunisasi (OR=3,85; 1,12-13,25) dan riwayat ASI ekslusif (OR=3,11; 1,24-7,78) terhadap kejadian pneumonia pada balita di wilayah Puskesmas Kecamatan Cakung. Faktor yang diprediksi paling dominan mempengaruhi kejadian pneumonia adalah status gizi (OR=5,607; 1,082-29,058).

Kata Kunci: Pneumonia, Balita, Fakto Risiko

Pneumonia in children under five is still major public health problem in the world or in Indonesia. In Indonesia, Pneumonia is the number two cause of death in infants and children under five. Cakung sub-district is one of the areas that have quite a lot cases of pneumonia in children under five. This study aimed to determine the risk factors associated with the incidence of pneumonia in children under five in the region of Cakung sub-district health center. This study uses a case control study design. The population in this study are all of children aged 12 month until 59 months who lived in the region of Cakung sub-district health center. The results of this study indicate that there was a significant correlation between exposure to secondhand smoke in the home (OR = 4.67; 1.19 to 18.33); the number of ciggarates smoked per day (OR=2,77; 1,12-6,86), lighting in the home (OR = 5.16; 1.94 to 13.70), knowledge of mothers (OR = 3.85; 1.12 to 13.25), nutritional status (OR = 9.14; 1.90 to 43.89), immunization history (OR = 3.85; 1.12 to 13 , 25) and a history of exclusive breastfeeding (OR = 3.11; 1.24 to 7.78) with the incidence of pneumonia among children under five in the region of Cakung sub-district health center. The variable that predicted the most dominant cause of pneumonia is the nutritional status (OR = 5.607; 1.082 to 29.058).

Keywords: Pneumonia, Children under five, Risk factors
Read More
S-8655
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Agus Timur Ginting; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih, Oki Kurniawan
Abstrak: Pneumonia menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia dan Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama sebagai provinsi dengan jumlah balita penderita pneumonia terbanyak. Puskesmas Bogor Utara merupakan salah satu daerah yang memiliki kasus pneumonia pada balita yang cukup banyak di tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Bogor Utara. Penelitian menggunakan desain studi case control dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah balita usia 12- 59 bulan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Bogor Utara dengan sampel sebanyak 94 responden terdiri dari 47 orang kasus dan 47 orang kontrol. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara berat lahir balita (OR=5,51 ; CI=1,96- 15,48 ); status gizi sebelum sakit (OR=5,06; CI=2,10-12,20); riwayat imunisasi (OR= 4,24; 1,50-11,98); pendidikan ibu (OR=4,76; CI=1,58-14,32; tingkat ekonomi/penghasilan keluarga (OR=9,44 ; CI= 3,57-24,93); kepadatan hunian (OR=18,97; CI=5,80-62,03), dan tingkat kelembaban ruang tidur balita (OR=5,02; CI=1,31-19,21) terhadap kejadian pneumonia pada balita di wilayah Puskesmas Bogor Utara. Variabel yang diprediksi paling dominan mempengaruhi kejadian pneumonia pada balita adalah kepadatan hunian ruang tidur balita (OR=12,90; CI=3,26-50,98). Saran, luas kamar tidur minimal 8 m2 tidak digunakan untuk lebih dari 2 orang, kecuali anak di bawah 5 tahun.

Kata Kunci : Pneumonia, Balita, Faktor Risiko

Pneumonia has become one of the highest mortality contributors in the world and And West Java province ranks the first as the largest number of pneumonia that suffered children under five years. Puskesmas Bogor Utara(health center) is one of the areas that have quite a lot cases of pneumonia in children under five in 2016. This study aimed to determine the risk factors associated with the incidence of pneumonia in children under five in the In The Working Area Of Puskesmas Bogor Utara (Community Health Center). This study uses a case control study design with retrospect approach. The population in this study are all of children aged 12 month until 59 months who lived in the working area of Bogor Utara health center with using 94 respondents consisted of 47 cases and 47 people control.The results of this study indicate that there was a significant correlation between history of low birth weight (OR = 5,51; CI=1,96-15,48 ); nutritional status before illness (OR=5,06; CI=2,10-12,20), immunization history (OR= 4,24; 1,50-11,98), knowledge of mothers (OR=4,76; CI=1,58-14,32), a variable degree of Economics/family income (OR=9,44 ; CI= 3,57-24,93), housing crowdedness (OR=18,97; CI=5,80-62,03) and humidity levels (OR=5,02; CI=1,31-19,21) with the incidence of pneumonia among children under five in the region of Bogor Utara health center. The variable that predicted the most dominant cause of pneumonia is the housing crowdedness (OR=12,90; CI=3,26-50,98).Suggestion, minimum bedroom space is 8m2 and should not be used for more than two people, except children under 5 years old.

Key Words: Pneumonia, Children under five years old, Risk Factors
Read More
S-9372
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiwin Kurniawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Didik Supriyono
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan pada balita di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Indonesia mencapai 34,2%. Sementara prevalensi ISPA di Kota Bogor tercatat sebesar 71%, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Adapun Puskesmas dengan jumlah penderita ISPA pada balita terbanyak di Kota Bogor adalah Puskesmas Kedung Badak, dengan total kasus selama lima tahun terakhir (2020-2024) mencapai 10.399 kasus. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kedung Badak Kota Bogor tahun 2026. Desain penelitian menggunakan case-control retrospektif dengan melibatkan 110 balita usia 0-59 bulan yang terdiri dari 55 balita ISPA dan 55 balita non-ISPA, dipilih menggunakan systematic random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi- square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian ISPA pada balita. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kebiasaan merokok orangtua merupakan faktor yang paling dominan, dengan OR sebesar 2,13 (95% CI: 0,98-4,70). Meskipun hasil analisis statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada α=5%, arah asosiasi yang positif serta besarnya nilai OR masih mengindikasikan adanya kecenderungan yang layak diperhatikan secara klinis. Diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi perilaku hidup sehat dan pengendalian paparan asap rokok di dalam rumah, untuk mendorong perubahan perilaku merokok serta menciptakan lingkungan rumah yang lebih sehat bagi tumbuh kembang balita.

Acute Respiratory Infections (ARI) remain a health issue among children under five years of age in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of ARI among under-five children in Indonesia reached 34.2%. In Bogor City, however, the prevalence reached 71%, substantially higher than the national average. Among all primary healthcare centers in the city, Kedung Badak Primary Health Center reported the highest number of ARI cases in children under five, with a total of 10,399 cases recorded over the last five years (2020–2024). This study aimed to analyze the determinants of ARI among children under five in the working area of Kedung Badak Primary Health Center, Bogor City, in 2026. The study design used a retrospective case-control study involving 110 under-five children, consisting of 55 with ARI and 55 without ARI, selected using systematic random sampling. Data analysis was performed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. Bivariate analysis showed that there was no statistically significant association between any of the variables studied and the incidence of ARI in under-five children. However, the results of the multivariate analysis showed that parental smoking habits were the most dominant factor, with an OR of 2.13 (95% CI: 0.98–4.70). Although the statistical analysis did not reveal a significant association at the 5% level, the positive direction of the association and the magnitude of the OR still indicate a trend worthy of clinical attention. Preventive efforts are needed through education on healthy lifestyles and control of second-hand smoke exposure in the home to encourage changes in smoking behavior and create a healthier home environment for the growth and development of children under five ages.
Read More
T-7532
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive