Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38093 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Febri Raihan Fadhli; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Pengui: Mufti Wirawan, Asep Zaenal Muttaqien
Abstrak:
Industri manufaktur menyumbang kasus kecelakaan tertinggi di Indonesia (22,3% total kasus), dengan perilaku kepatuhan manusia menjadi faktor penyebab kecelakaan terbesar. PT X adalah salah satu industri manufaktur di Indonesia dengan penerapan sistem keselamatan yang baik secara teknis, namun kasus kecelakaan masih menunjukan stagnansi dalam 2 tahun terakhir dan tidak mengalami penurunan tren. Hal ini menunjukan pentingnya memahami pendekatan motivasional, iklim keselamatan, dan psikologis untuk lebih memahami faktor pembentuk perilaku kepatuhan keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan menguji peran mediasi motivasi keselamatan sebagai mediator dalam hubungan antara iklim keselamatan pada kepatuhan keselamatan, serta hubungan antara kebutuhan psikologis dasar pada kepatuhan keselamatan. Selain itu, penelitian ini juga menguji hubungan antara iklim keselamatan, motivasi keselamatan, kebutuhan psikologis dasar, serta kepatuhan keselamatan.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, menggunakan bantuan metode kualitatif berupa wawancara untuk memperkuat interpretasi hasil. Partisipan penelitian berjumlah 128 pekerja bagian produksi di lingkungan PT X, yang dipilih dengan teknik stratified random sampling untuk pekerja kontraktor dan purposive sampling untuk pekerja PT X. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Safety Climate Scale, Work-Related Basic Need Satisfaction Scale, Safety Motivation Scale, dan Safety Compliance Scale. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji statistik spearman untuk analisis inferensial (hubungan), serta menggunakan uji PROCESS Macro model 4 untuk menguji mediasi. Hasil analisis inferensial menunjukan adanya hubungan antara iklim keselamatan dengan kebutuhan psikologis dasar (P-value = 0,005), iklim keselamatan dengan motivasi keselamatan (P-value = 0,000), kebutuhan psikologis dasar dengan motivasi keselamatan (P-value = 0,000), dan motivasi keselamatan dengan kepatuhan keselamatan (P-value = 0,000). Selain itu, motivasi keselamatan juga terbukti menjadi mediator dalam hubungan antara iklim keselamatan (β = 0,383; 95% CI = 0,171 – 0,588) dan kebutuhan psikologis dasar (β = 0,583; 95% CI = 0,309 – 0,873) terhadap kepatuhan keselamatan. Hasil analisis ini menandakan bahwa faktor motivasi keselamatan, iklim keselamatan, dan pemenuhan kebutuhan psikologis dasar pekerja berhubungan dalam pembentukan perilaku kepatuhan keselamatan pekerja yang otonom dan berkelanjutan.

The manufacturing industry accounts for the highest proportion of workplace accident cases in Indonesia (22.3% of total cases), with human compliance behavior being identified as the leading contributing factor. PT X is a manufacturing company in Indonesia with a technically sound safety system; however, workplace accidents have remained stagnant over the past two years (2024–2025) without any declining trend. This highlights the importance of understanding motivational, safety climate, and psychological approaches in order to better explain the factors shaping workers' safety compliance behavior. This study aims to examine the mediating role of safety motivation in the relationship between safety climate and safety compliance, as well as between basic psychological needs and safety compliance. Additionally, this study examines the relationships among safety climate, basic psychological needs, safety motivation, and safety compliance. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design, supplemented by qualitative interviews to strengthen the interpretation of findings. A total of 128 production workers at PT X participated in this study, selected through stratified random sampling for contractor workers and purposive sampling for PT X employees. Data were collected using the Safety Climate Scale, Work-Related Basic Need Satisfaction Scale, Safety Motivation Scale, and Safety Compliance Scale, and were analyzed using Spearman tests for inferential analysis and PROCESS Macro Model 4 for mediation testing. The inferential results revealed significant relationships between safety climate and basic psychological needs (P-value = 0.005), safety climate and safety motivation (P-value = 0.000), basic psychological needs and safety motivation (P-value = 0.000), and safety motivation and safety compliance (P-value = 0.000). Furthermore, safety motivation was confirmed as a mediator in the relationship between safety climate (β = 0.383: 95% CI = 0.171 – 0.588) and basic psychological needs (β = 0.583: 95% CI = 0.309 – 0.873) on safety compliance. These findings indicate that safety compliance cannot be established through procedural systems alone, but also requires attention to the quality of safety motivation and the fulfillment of workers' basic psychological needs as the foundation for autonomous and sustained safety compliance behavior.
Read More
S-12277
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Louis Sonna Martuah Purba; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, T. Saut.P. Siahaan , Erna Diah Lestari
Abstrak:
Angka kecelakaan kerja di Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir, dengan sektor manufaktur sebagai penyumbang terbesar, namun kesenjangan antara kepatuhan formal (dokumen SMK3) dan kepatuhan substantif (perilaku aman harian) masih kerap ditemukan di lapangan pengawasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara iklim keselamatan (safety climate) dan kepatuhan keselamatan (safety compliance) pekerja, serta menelaah implikasinya bagi penguatan regulasi K3, dengan studi kasus pada PT. X, perusahaan manufaktur pipa FRP skala menengah di Kabupaten Bekasi. Desain penelitian menggunakan mixed methods sequential explanatory: tahap kuantitatif melibatkan 152 pekerja (total sampling) yang diukur dengan NOSACQ-50 (tujuh dimensi) dan Safety Compliance Scale (Neal & Griffin), dianalisis dengan SEM-PLS; tahap kualitatif menggunakan wawancara mendalam terhadap lima informan lintas tiga lapis organisasi (manajemen/HSE, penyelia, pelaksana) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan iklim keselamatan berada pada kategori positif dan kepatuhan keselamatan berada pada kategori sangat tinggi pada seluruh dimensi, namun hubungan struktural antara kedua variabel bersifat positif namun tidak signifikan (keempat belas jalur p>0,05; R² rendah). Kondisi ini dijelaskan oleh ceiling effect pada skor kepatuhan (skewness ≈ −9), measurement attenuation akibat AVE NOSACQ-50 yang rendah, serta tidak disertakannya variabel mediator (safety knowledge, safety motivation). Triangulasi kualitatif mengungkap enam tema: komitmen manajemen yang kuat namun melentur pada tekanan produksi, komunikasi dan pembelajaran yang aktif, peran P2K3 yang belum optimal menjaring aspirasi pekerja, budaya saling mengingatkan yang belum merata, kepatuhan yang tinggi namun rapuh (dipengaruhi kenyamanan APD dan rasa percaya diri pekerja senior), serta pelatihan K3 yang belum menjangkau seluruh lapisan pekerja. Penelitian ini menegaskan bahwa kepatuhan keselamatan merupakan hasil interaksi kompleks berbagai faktor organisasi dan individu, sejalan dengan perspektif Safety-II dan Human and Organizational Performance. Implikasi kebijakannya adalah perlunya pendekatan evidence-based regulation, dengan mengintegrasikan pengukuran iklim keselamatan sebagai leading indicator dalam sistem pengawasan ketenagakerjaan, guna melengkapi indikator kecelakaan kerja yang bersifat reaktif.

Occupational accident rates in Indonesia have risen steadily over the past five years, with manufacturing as the largest contributor, revealing a persistent gap between formal compliance (SMK3 documentation) and substantive compliance (daily safe behavior). This study analyzes the relationship between safety climate and safety compliance among workers, and examines its implications for strengthening occupational safety and health (OSH) regulation, using a case study of PT. X, a medium-sized FRP pipe manufacturer in Bekasi Regency. A sequential explanatory mixed-methods design was employed: the quantitative phase involved 152 workers (total sampling) measured using NOSACQ-50 (seven dimensions) and the Safety Compliance Scale (Neal & Griffin), analyzed via SEM-PLS; the qualitative phase used in-depth interviews with five informants across three organizational layers (management/HSE, supervisors, operators), analyzed thematically. Results show safety climate in the positive category and safety compliance in the very high category across all dimensions, yet the structural relationship between the two variables was positive but not statistically significant (all fourteen paths p>0.05; low R²). This is explained by a ceiling effect in compliance scores (skewness ≈ −9), measurement attenuation from low NOSACQ-50 AVE values, and the exclusion of mediating variables (safety knowledge, safety motivation). Qualitative triangulation revealed six themes: strong but production-pressure-sensitive management commitment, active communication and learning, an underoptimized P2K3 role in capturing worker input, unevenly institutionalized peer intervention, high-yet-fragile compliance affected by PPE discomfort and senior workers' overconfidence, and training that has not reached the entire workforce. The study confirms that safety compliance emerges from a complex interaction of organizational and individual factors, consistent with Safety-II and Human and Organizational Performance perspectives. Its policy implication is the need for evidence-based OSH regulation that integrates safety climate measurement as a leading indicator within labor inspection systems, complementing reactive accident-rate indicators.
Read More
T-7638
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arief Hertanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Laksita Ri Hastiti, Ispranto K. Adhy, Errik Yusnadi Saleh
Abstrak: Iklim keselamatan adalah persepsi bersama karyawan tentang kebijakan, prosedur, dan praktik yang berkaitan dengan keselamatan di lingkungan kerja mereka. Iklim keselamatan berhubungan dengan perilaku selamat dan kecelakaan kerja yang tidak disengaja di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kematangan iklim keselamatan di PT X serta menganalisis hubungannya dengan perilaku selamat. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif menggunakan metode kuesioner dengan total 200 responden. Kuesioner terstruktur digunakan untuk menangkap karakteristik sosio-demografis responden, iklim keselamatan kerja, dan perilaku keselamatan kerja. Responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menjawab kuesioner yang dibagikan secara online dan offline. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan iklim keselamatan di PT X berada di level Cukup, terdapat hubungan yang sangat kuat antara Variabel sub dimensi dengan iklim keselamatan, serta hubungan yang cukup kuat antara iklim keselamatan dengan perilaku selamat. Studi menekankan bahwa peningkatan tingkat iklim keselamatan dapat meningkatkan perilaku selamat sehingga efektif dalam mengurangi insiden kecelakaan kerja.
Safety climate is the shared perception of employees about policies, procedures and practices related to safety in their work environment. Safety climate is related to safe behavior and occupational accidents in the workplace. The purpose of this study was to measure the maturity level of the safety climate at PT X and to analyze its relationship with safety behavior. This research is descriptive quantitative using a questionnaire method with a total of 200 respondents. A structured questionnaire was used to capture the socio-demographic characteristics of the respondents, safety climate, and safety behavior. Respondents participated in this study by answering questionnaires distributed online and offline. The findings of this study indicate that the maturity level of the safety climate at PT X is at the fair level, there is a very strong relationship between the subdimensional variables and the safety climate, and a fairly strong relationship between the safety climate and safety behavior. The study emphasizes that an increase in the level of safety climate can increase safe behavior therefore it is effective in reducing the incidence of work accidents.
Read More
T-6174
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zul Amri; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Andri Cahyadi, Santi Hairunissa
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara iklim keselamatan, kepemimpinan keselamatan, Contractor Safety Management System (CSMS), dan kinerja keselamatan pada perusahaan penyedia layanan teknologi informasi dan komunikasi (ICT provider) PT X yang beroperasi di sektor migas pada tahun 2025. Latar belakang penelitian ini didorong oleh meningkatnya keterlibatan kontraktor dalam kegiatan operasional migas, yang menuntut penerapan sistem manajemen keselamatan yang efektif serta kepemimpinan yang berfokus pada penguatan budaya keselamatan kerja. Pendekatan penelitian yang diterapkan bersifat kuantitatif, dengan analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menilai hubungan kausal antar variabel laten. Data dikumpulkan melalui survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada personel internal dan eksternal (kontraktor) yang terlibat dalam proyek di PT X. Hasil analisis menunjukkan bahwa iklim keselamatan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepemimpinan keselamatan (β = 0,850) dan CSMS (β = 0,407), namun pengaruh langsungnya terhadap kinerja keselamatan tidak signifikan (β = -0,022). Sementara itu, kepemimpinan keselamatan juga memberikan pengaruh positif terhadap CSMS (β = 0,212), tetapi tidak signifikan terhadap kinerja keselamatan secara langsung (β = 0,012). Di sisi lain, CSMS terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keselamatan (β = 0,890), menunjukkan perannya sebagai variabel mediasi utama yang menghubungkan iklim dan kepemimpinan keselamatan dengan kinerja keselamatan. Nilai R² kinerja keselamatan sebesar 0,879 mengindikasikan bahwa model penelitian ini mampu menjelaskan sekitar 87,9% variasi kinerja keselamatan melalui kontribusi ketiga variabel tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja keselamatan pada perusahaan ICT provider di sektor migas sangat tergantung pada implementasi CSMS yang efektif, serta dukungan iklim dan kepemimpinan keselamatan yang kuat di seluruh tingkatan organisasi.

This study aims to explore the relationship between safety climate, safety leadership, Contractor Safety Management System (CSMS), and safety performance at PT X, an information and communication technology (ICT) provider operating in the oil and gas sector, in 2025. The background of this study is driven by the increasing involvement of contractors in oil and gas operational activities, which requires the implementation of an effective safety management system and leadership that focuses on strengthening a work safety culture. The research approach applied is quantitative, with Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) analysis to assess the causal relationship between latent variables. Data were collected through a survey using questionnaires distributed to internal and external personnel (contractors) involved in projects at PT X. The results of the analysis show that safety climate has a positive and significant influence on safety leadership (β = 0.850) and CSMS (β = 0.407), but its direct influence on safety performance is not significant (β = -0.022). Meanwhile, safety leadership also had a positive effect on CSMS (β = 0.212), but was not directly significant on safety performance (β = 0.012). Conversely, CSMS was shown to have a positive and significant effect on safety performance (β = 0.890), indicating its role as a key mediating variable linking safety climate and leadership to safety performance. The R² value for safety performance of 0.879 indicates that this research model is able to explain approximately 87.9% of the variation in safety performance through the contribution of these three variables. This finding confirms that improving safety performance in ICT providers in the oil and gas sector is highly dependent on the implementation of an effective CSMS, as well as the support of a strong safety climate and leadership at all levels of the organization.
Read More
T-7458
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M Irwansyah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Fatma Lestari, Wahyudin Lihawa, Heny Mayawati
Abstrak:
Data ILO 2 juta pekerja meninggal per tahun. 2021 ada 234 ribu kecelakaan kerja di Indonesia. Industri kimia 12% dari2 019-2021 kecelakaan kerja 80.607 kasus.Program Behavior-based safety (BBS) yaitu pendekatan keselamatan berdasarkan perilaku manusia. Pendekatan untuk meningkatkan kesadaran, keterlibatan, tanggung jawab karyawan menciptakan lingkungan kerja aman. program BBS di perusahaan apakah mampu meningkatkan tingkat kepatuhan karyawan, serta merubah perilaku keselamatan kerja. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif jenis studi cross sectional. Data yang dikumpulkan memberikan gambaran hubungan antara variabel. Desain penelitian cross-sectional digunakan untuk mengumpulkan data mengenai program Behavior Based Safety (BBS), tingkat kepatuhan terhadap perilaku keselamatan kerja, dan perilaku keselamatan kerja di PT. X pada satu titik waktu tertentu. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh respondenVariasi nilai tingkat kepatuhan mampu dijelaskan oleh variasi nilai program BBS sebesar 14,3%,sedangkan sisanya 85.7% dijelaskan oleh variasi variabel lain di luar model penelitian. Variasi nilai Perilaku keselamatan kerja karyawan mampu dijelaskan oleh variasi nilai Program BBS dan Tingkat kepatuhan sebesar 49.6%, sedangkan sisanya 50.4% dijelaskan oleh variasi variabel lain di luar model penelitian terdapat hubungan positif dan signifikan Program BBS terhadap Tingkat Kepatuhan. Ada hubungan positif dan signifikan antara Program BBS terhadap Perilaku Keselamatan Kerja. Ada hubungan positif dan signifikan antara Tingkat Kepatuhan terhadap Perilaku Keselamatan. Hubungan Program BBS terhadap Perilaku keselamatan kerja bersifat pengaruh langsung. Oleh karena itu, variabel intervening Tingkat Kepatuhan tidak memediasi hubungan Program BBS terhadap Perilaku Keselamatan Kerja.

According to ILO data, 2 million workers die per year. In 2021 there will be 234 thousand work accidents in Indonesia. Chemical industry 12% from 2019-2021 work accidents 80,607 cases. Behavior-based safety (BBS) program, namely a safety approach based on human behavior. An approach to increasing employee awareness, involvement, and responsibility creates a safe work environment. Whether the BBS program in the company is able to increase employee compliance levels and change work safety behavior. The research was carried out using quantitative research methods, a type of cross sectional study. The data collected provides an overview of the relationship between variables. A cross-sectional research design was used to collect data regarding the Behavior Based Safety (BBS) program, the level of compliance with work safety behavior, and work safety behavior at PT. X at a certain point in time. Data were collected through questionnaires filled out by respondents. Variations in compliance level values were able to be explained by variations in BBS program values of 14.3%, while the remaining 85.7% were explained by variations in other variables outside the research model. Variations in employee safety behavior values can be explained by variations in BBS Program values and compliance levels of 49.6%, while the remaining 50.4% are explained by variations in other variables outside the research model. There is a positive and significant relationship between the BBS Program and Compliance Levels. There is a positive and significant relationship between the BBS Program and Work Safety Behavior. There is a positive and significant relationship between the level of compliance and safety behavior. The relationship between the BBS Program and work safety behavior has a direct influence. Therefore, the intervening variable Compliance Level does not mediate the relationship between the BBS Program and Work Safety Behavior
Read More
T-6877
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andhika Stevianingrum; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Chandra Satrya, Astrid Wina Lestari, Siti Rahmatia Pratiwi
Abstrak: Tesis ini membahas terkait gambaran tingkat kematangan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (Safety Culture Maturity Level) serta kinerja keselamatan di PT. X, sebuah perusahaan jasa pertambangan batubara. Penelitian dilakukan dengan pendekatan semi-kuantitatif dengan desain studi cross-sectional pada pekerja di jobsite A,B,C,D pada bulan April - Juni 2022. Variabel kematangan budaya K3 nantinya dilihat keterkaitannya terhadap kinerja keselamatan di PT.X. Hasil penelitian menunjukkan hasil tingkat kematangan budaya keselamatan di PT X pada level Proaktif dengan kinerja keselamatan berdasarkan tingkat kejadian kecelakaan yang dinilai baik, sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kematangan budaya keselamatan dengan kinerja keselamatan di PT.X
Read More
T-6395
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imania Al-Faiza Nurfigni; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Auliah Rahmi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penerapan manajemen K3 terhadap kepatuhan keselamatan pekerja di proyek konstruksi PT.XYZ. Variabel dependen penelitian ini adalah kepatuhan keselamatan pekerja, sedangkan variabel independennya adalah aspek penerapan manajemen K3 (kepemiminan manajemen, partisipasi pekerja, identifikasi dan penilaian bahaya, pencegahan dan pengendalian bahaya, pendidikan dan pelatihan, evaluasi dan perbaikan program, serta komunikasi dan koordinasi pekerja). Penelitian ini merupakan penelitiana dengan desain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan April sampai Juli 2021 dengan metode pengisian kuesioner, wawancara dan observasi lapangan. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Penelitian ini melibatkan 163 pekerja lapangan. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang paling memenuhi dalam penerapan manajemen K3 adalah variabel partisipasi pekerja, dan yang paling tidak memenuhi adalah variabel pendidikan dan pelatihan, serta kepatuhan keselamatan pekerja di proyek konstruksi PT.XYZ dikategorikan patuh. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pelatihan (p = 0,026) dengan kepatuhan keselamatan pekerja, sedangkan kepemimpinan manajemen, partisipasi pekerja, identifikasi dan penilaian bahaya, pencegahan dan pengendalian bahaya, evaluasi dan perbaikan program, komunikasi dan koordinasi pekerja tidak memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan keselamatan pekerja.
Read More
S-10797
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irna Anggun Fatiqa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Bimo Prasetyo; Aryo Wibowo
Abstrak:
Industri konstruksi di Indonesia menyerap tenaga kerja sebanyak 8,7 juta orang pada tahun 2023, dimana konstruksi dikenal sebagai pekerjaan berisiko tinggi dan merupakan penyumbang kecelakaan terbesar kedua di Asia. Iklim keselamatan merupakan salah satu faktor kunci dalam mencegah kecelakaan kerja. Penelitian ini fokus menganalisis iklim keselamatan manajemen dan iklim keselamatan pekerja di sebuah proyek konstruksi. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methode dimana total partisipan berjumlah 235 responden dan 26 informan kunci. Data dikumpulkan dengan menggunakan Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) dan wawancara mendalam. Analisa intersection antara data kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa terdapat ketidakkonsistenan pada tiap kategori iklim keselamatan. Pada iklim keselamatan manajemen, meskipun skor tertinggi diperoleh dimensi pemberdayaan keselamatan manajemen, namun dari hasil kualitatif diperoleh bahwa dimensi ini memiliki persepsi kurang paling tinggi. Pada iklim keselamatan pekerja, analisa intersection menunjukkan bahwa dimensi prioritas keselamatan pekerja dan dimensi kepercayaan terhadap keefektifan sistem keselamatan kerja memiliki persepsi kurang paling rendah. Perlu dilakukannya strategi peningkatan melalui evaluasi dan pengembangan sistem manajemen serta komunikasi keselamatan.

The construction industry in Indonesia absorbs a workforce of 8.7 million people in 2023, where construction is known as a high-risk job and is the second largest contributor to accidents in Asia. Safety climate is one of the key factors in preventing work accidents. This research focuses on analyzing the management safety climate and worker safety climate in a construction project. The research design used was a mixed method where the total participants were 235 respondents and 26 key informants. Data was collected using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) and in-depth interviews. Intersection analysis between quantitative and qualitative data shows that there are inconsistencies in each safety climate category. In the management safety climate, although the highest score was obtained for the management safety empowerment dimension, from the qualitative results it was found that this dimension had the highest lack of perception. In the worker safety climate, the intersection analysis shows that the worker safety priority dimension and the dimension of trust in the effectiveness of the work safety system have the lowest perception. It is necessary to carry out improvement strategies through evaluation and development of safety management and communication systems.
Read More
T-7059
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puti Afifah Sholeha; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Ahmad Afif Mauludi, Putri Pujianti
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. PT X mengimplementasikan Mobile Apps pelaporan K3, namun efektivitasnya belum dievaluasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas aplikasi tersebut melalui kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (UTAUT2), dampaknya terhadap Safety Behavior pekerja, serta analisis leading dan lagging indicators keselamatan. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional (Maret–Mei 2026) di PT X, Kabupaten Tapin. Sampel terdiri dari 10 pakar manajemen (TELOS) dan 243 pekerja (UTAUT2 dan Safety Behavior). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan PLS-SEM dengan SmartPLS. Hasil TELOS berkategori Baik (grand mean 4,10) dan seluruh variabel UTAUT2 berada pada kategori Setuju. Uji PLS-SEM menunjukkan Hedonic Motivation dan Habit berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention (R² = 0,776), sedangkan Habit, Behavioral Intention, dan Facilitating Conditions berpengaruh signifikan terhadap Use Behavior (R² = 0,731). Use Behavior berdampak positif-signifikan terhadap Safety Compliance dan Safety Participation, menempatkan Safety Behavior pada level sangat baik. Analisis leading indicator menunjukkan Rate Pemenuhan QSAP menurun dari 104,46% pada tahun 2024 menjadi 101,08% pada tahun 2025, atau turun 3,38 poin persentase, meskipun kedua capaian tetap melampaui target 100%. Analisis lagging indicators menunjukkan Frequency Rate (FR) Nearmiss meningkat dari 1,86 menjadi 3,13 dan Property Damage dari 1,46 menjadi 4,00; FR Fire Case menurun dari 0,53 menjadi 0,17, sedangkan MTI, LTI, dan Fatality tetap 0,00. Kesimpulannya, Mobile Apps PT X terbukti efektif pada tingkat kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (Behavioral Intention), dan perilaku keselamatan individu (Safety Compliance dan Safety Participation), namun belum sepenuhnya efektif pada tingkat kinerja keselamatan organisasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan leading indicator dan kenaikan FR pada Nearmiss serta Property Damage. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas sistem informasi keselamatan perlu dinilai secara berjenjang, dari kelaikan teknologi hingga dampak nyata pada kinerja organisasi, dan bahwa penguatan pada dimensi organisasi (mekanisme tindak lanjut, konsistensi reward-punishment, dan kepemimpinan) menjadi kunci untuk menutup kesenjangan tersebut.

The mining industry is a high-risk sector for occupational accidents. PT X implemented Mobile Apps for OHS reporting, but its effectiveness has not been comprehensively evaluated. This study aims to evaluate the application's effectiveness across system feasibility (TELOS), user acceptance (UTAUT2), its impact on workers' Safety Behavior, and safety leading and lagging indicators. A quantitative descriptive-explanatory design with a cross-sectional approach was conducted from March to May 2026 at PT X, Tapin Regency. The sample included 10 managerial experts (TELOS) and 243 workers (UTAUT2 and Safety Behavior). Data were analyzed using descriptive statistics and PLS-SEM via SmartPLS. TELOS results showed a Good category (grand mean 4.10) and all UTAUT2 variables were in the Agree category. PLS-SEM results showed that Hedonic Motivation and Habit significantly influenced Behavioral Intention (R² = 0.776), while Habit, Behavioral Intention, and Facilitating Conditions significantly influenced Use Behavior (R² = 0.731). Use Behavior had a positive and significant effect on Safety Compliance and Safety Participation, placing Safety Behavior at a very good level. Leading-indicator analysis showed that the QSAP Fulfillment Rate declined from 104.46% in 2024 to 101.08% in 2025, a decrease of 3.38 percentage points, although both values remained above the 100% target. Lagging-indicator analysis showed that the Frequency Rate (FR) for Nearmisses increased from 1.86 to 3.13 and Property Damage from 1.46 to 4.00; the FR for Fire Cases declined from 0.53 to 0.17, while MTI, LTI, and Fatality remained at 0.00. In conclusion, Mobile Apps at PT X proved effective at the system feasibility, user acceptance, and individual safety behavior levels (Safety Compliance and Safety Participation), but was not yet fully effective at the organizational safety performance level, as indicated by the decline in the leading indicator and the increased FR for Nearmisses and Property Damage. This finding indicates that the effectiveness of a safety information system must be assessed in a tiered manner, and that strengthening organizational-level factors (corrective follow-up mechanisms, reward-punishment consistency, and leadership) is key to closing this gap.
Read More
T-7641
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive