Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35608 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Putu Neysa Kanti Widhisari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Saraheni
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebih di area abdomen yang menggambarkan akumulasi lemak viseral dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Provinsi Kalimantan Timur memiliki prevalensi obesitas sentral yang konsisten berada di atas angka nasional sejak 2007 dan pada tahun 2023 kembali meningkat hingga 43,6%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur menggunakan desain studi cross-sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 8.544 responden. Variabel dependen adalah obesitas sentral, sedangkan variabel independen meliputi faktor sosiodemografi, gaya hidup, pola konsumsi, dan status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Rao-Scott Adjusted Chi-Square, dan multivariat menggunakan Complex Samples Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi obesitas sentral keseluruhan sebesar 46,0%, dengan prevalensi pada perempuan sebesar 66,0% dan laki-laki sebesar 30,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur berhubungan dengan obesitas sentral. Perempuan memiliki peluang 3,924 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan laki-laki (AOR=3,924; 95% CI: 3,352–4,594). Dibandingkan kelompok usia 20–24 tahun, peluang obesitas sentral lebih besar pada kelompok usia 25–34 tahun (AOR=1,984; 95% CI: 1,490–2,641), 35–44 tahun (AOR=2,411; 95% CI: 1,808–3,215), 45–54 tahun (AOR=3,158; 95% CI: 2,373–4,204), 55–64 tahun (AOR=2,801; 95% CI: 2,083–3,768), dan ≥65 tahun (AOR=1,879; 95% CI: 1,319–2,675). Responden yang menikah memiliki peluang 1,234 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan yang tidak menikah (AOR=1,234; 95% CI: 1,029–1,480). Responden di wilayah perkotaan memiliki peluang 1,586 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan perdesaan (AOR=1,586; 95% CI: 1,344–1,871). Perokok aktif memiliki peluang lebih rendah mengalami obesitas sentral dibandingkan bukan perokok (AOR=0,779; 95% CI: 0,633–0,957). Konsumsi sayur yang tidak cukup meningkatkan peluang obesitas sentral sebesar 1,291 kali dibandingkan konsumsi sayur cukup (AOR=1,291; 95% CI: 1,047–1,592). Terdapat interaksi bermakna antara jenis kelamin dengan usia (p<0,001), jenis kelamin dengan status perkawinan (p=0,004), jenis kelamin dengan wilayah tempat tinggal (p<0,001), usia dengan status perkawinan (p=0,017), usia dengan konsumsi sayur (p=0,007), status perkawinan dengan konsumsi sayur (p=0,014), serta wilayah tempat tinggal dengan perilaku merokok (p=0,015). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral dalam model akhir meliputi jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur, dengan jenis kelamin perempuan sebagai faktor dominan.

Central obesity is the accumulation of excess fat in the abdominal area, which reflects visceral fat accumulation and is associated with an increased risk of noncommunicable diseases. This study aimed to identify the dominant factors associated with central obesity among residents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province, employing a cross-sectional study design based on secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI 2023). The study sample comprised 8,544 respondents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was central obesity, while independent variables encompassed sociodemographic factors, lifestyle behaviors, dietary consumption patterns, and nutritional status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Rao-Scott Adjusted Chi-Square), and multivariate (Complex Samples Logistic Regression) approaches. The findings revealed an overall prevalence of central obesity of 46.0%, with prevalence among females at 66.0% and among males at 30.8%. Multivariate analysis demonstrated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were significantly associated with central obesity. Females had 3.924 times greater odds of experiencing central obesity compared to males (AOR=3.924; 95% CI: 3.352–4.594). Relative to the 20–24 year age group, the odds of central obesity were higher among those aged 25–34 years (AOR=1.984; 95% CI: 1.490–2.641), 35–44 years (AOR=2.411; 95% CI: 1.808–3.215), 45–54 years (AOR=3.158; 95% CI: 2.373–4.204), 55–64 years (AOR=2.801; 95% CI: 2.083–3.768), and ≥65 years (AOR=1.879; 95% CI: 1.319–2.675). Married respondents had 1.234 times greater odds of central obesity compared to unmarried respondents (AOR=1.234; 95% CI: 1.029–1.480). Respondents residing in urban areas had 1.586 times greater odds of central obesity compared to those in rural areas (AOR=1.586; 95% CI: 1.344–1.871). Active smokers had significantly lower odds of central obesity compared to non-smokers (AOR=0.779; 95% CI: 0.633–0.957). Insufficient vegetable consumption was associated with 1.291 times greater odds of central obesity compared to adequate consumption (AOR=1.291; 95% CI: 1.047–1.592). Significant interaction effects were identified between sex and age (p<0.001), sex and marital status (p=0.004), sex and area of residence (p<0.001), age and marital status (p=0.017), age and vegetable consumption (p=0.007), marital status and vegetable consumption (p=0.014), and area of residence and smoking behavior (p=0.015).. The final model indicated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were associated with central obesity, with female sex identified as the dominant factor.
Read More
S-12331
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Rika Fajrin; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Popy Yuniar, Lili Musnelina
Abstrak:
Indonesia dinobatkan sebagai negara ketiga terbanyak kasus prediabetes di dunia pada tahun 2019 dengan jumlah penderita sebesar 29,1 juta kasus. Prediabetes merupakan kondisi meningkatnya kadar glukosa darah dari batas normal, namun belum mencapai ambang diagnosis diabetes mellitus. Prediabetes memiliki risiko tinggi berkembang menjadi penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan berdampak pada peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, chi-square, dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi prediabetes di Indonesia sebesar 26,9%. Variabel yang memiliki hubungan secara statistik berdasarkan regresi logistik yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, hipertensi, obesitas sentral, dan status merokok. Variabel dominan yang berhubungan dengan kejadian prediabetes yaitu lansia ≥ 60 tahun (AOR=3,198; 95% CI=2,673 - 3,825). Dengan demikian, pentingnya menetapkan batas minimal usia pemeriksaan kadar glukosa darah rutin terutama pada kelompok berisiko tinggi, intervensi terkait promosi gaya hidup sehat dan ajakan melakukan deteksi dini kadar glukosa darah di masyarakat. Selain itu, diperlukan kerja sama sektor kesehatan maupun non kesehatan untuk mencegah terjadinya prediabetes yang berfokus pada usia dewasa, pra-lanjut usia, dan lansia. 

In 2019, Indonesia was recognized as the third-ranked country in the world for the prevalence of prediabetes with an estimated 29.1 million people affected. Prediabetes is defined as a condition involving elevated blood glucose levels outside the normal range, but below the diagnostic threshold for diabetes mellitus. This condition carries a significant risk of progressing to type 2 diabetes mellitus and contributes to the rising burden of non-communicable diseases (NCDs), thereby adversely impacting the quality of life of those affected. This study aims to identify the determinants of prediabetes among individuals aged 15 years and older in Indonesia, utilizing data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study uses descriptive analysis, chi-square test, and logistic regression. Based on the results of the study, the prevalence of prediabetes in Indonesia is 26.9%. Variables that are statistically related to prediabetes as determined by logistic regression included age, gender, education, hypertension, central obesity, and smoking status. The variable that is the most significant factor causing prediabetes is elderly ≥ 60 years (AOR=3.198; 95% CI=2.673 - 3.825). Consequently, the importance of establishing a minimum age threshold for routine blood glucose screening, implementing interventions to promote healthy lifestyles, and encouraging early detection of blood glucose levels within the community. In addition, collaboration between health and non-health sectors is essential to prevent prediabetes, with a focus on adult, pre-elderly, and elderly populations.
Read More
S-11890
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Sarah Deandra Tanod; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dan terus menunjukkan tren peningkatan prevalensi, termasuk di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi diabetes di Provinsi DKI Jakarta mencapai 3,4%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 2,0%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan menganalisis hubungan antara variabel faktor sosiodemografis (usia dan jenis kelamin), faktor biologis (obesitas dan hipertensi) serta faktor perilaku (merokok, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi alkohol, konsumsi buah, dan konsumsi sayur) terhadap kejadian DM tipe 2. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM tipe 2 sebesar 16.7% (62 dari 371 kasus). Analisis menunjukkan bahwa kelompok usia ≥55 tahun (POR 0.240; 95% CI: 0.131-0.438), jenis kelamin laki-laki (POR 0.456; 95% CI: 0.259-0.803), perilaku merokok (POR 3.513; 95% CI: 1.997-6.181), konsumsi makanan manis (POR 3.477; 95% CI: 1.983–6.098), dan konsumsi minuman manis (POR 2.909; 95% CI: 1.667–5.076) memiliki hubungan signifikan secara statistik terhadap kejadian DM tipe 2. Sementara itu, obesitas, hipertensi, konsumsi alkohol, konsumsi buah, dan konsumsi sayur tidak memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Faktor sosiodemografi dan perilaku memiliki hubungan yang bermakna dengan diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk membuat program pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2 sehingga dapat menurunkan prevalensi diabetes melitus tipe 2 di Provinsi DKI Jakarta.

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is one of the non-communicable diseases that has become a global health concern and continues to show an increasing trend in prevalence, including in Indonesia. According to the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the prevalence of diabetes in DKI Jakarta Province reached 3.4%, which is higher than the national average of 2.0%. Objective: This study aims to identify the factors associated with the occurrence of T2DM among individuals aged ≥15 years in DKI Jakarta Province based on the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Methods: This study employed a cross-sectional design to analyze the association between T2DM and several factors, including sociodemographic factors (age and sex), biological factors (obesity and hypertension), and behavioral factors (smoking, consumption of sweet foods, sweet drinks, alcohol, fruits, and vegetables). Results: The study found a T2DM prevalence of 16.7% (62 out of 371 cases). The analysis showed that individuals aged ≥55 years (POR 0.240; 95% CI: 0.131–0.438), male sex (POR 0.456; 95% CI: 0.259–0.803), smoking behavior (POR 3.513; 95% CI: 1.997–6.181), consumption of sweet foods (POR 3.477; 95% CI: 1.983–6.098), and sweet drinks (POR 2.909; 95% CI: 1.667–5.076) were statistically significantly associated with the occurrence of T2DM. In contrast, obesity, hypertension, alcohol consumption, fruit consumption, and vegetable consumption were not significantly associated. Conclusion: Sociodemographic and behavioral factors are significantly associated with type 2 diabetes mellitus. This study is expected to contribute to the development of prevention and control programs for type 2 diabetes mellitus, with the goal of reducing its prevalence in DKI Jakarta Province.
Read More
S-12148
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Permatasari; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Diah Satyani Saminarsih
Abstrak:
Latar Belakang: Penelitian ini menganalisis hubungan pola konsumsi dan gaya hidup dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥25 tahun di Indonesia, mengingat tren peningkatan kasus dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menggunakan desain studi cross sectional. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥ 25 tahun dari data Riskesdas tahun 2018 yang berjumlah 26.850 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik ganda. Variabel dependennya adalah diabetes melitus tipe 2 dan variabel independennya adalah pola konsumsi dan gaya hidup (konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman berkarbonisasi, konsumsi minuman berenergi, konsumsi makanan olahan berpengawet, konsumsi makanan instan, konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi minuman beralkohol). Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat hubungan antara faktor pola konsumsi dan gaya hidup, antara lain konsumsi makanan manis (AOR: 1,24; 95%: CI: 1,13-1,37), konsumsi minuman manis (AOR: 1,64; 95% CI: 1,47-1,82), konsumsi makanan instan (AOR: 1,20; 95% CI: 1,11-1,29), dan perilaku merokok (AOR: 1,68; 95% CI: 1,54-1,83). Selain itu, pada variabel aktivitas fisik memiliki efek protektif dengan kejadian DM tipe 2 (AOR: 0,76; 95% CI: 0,70-0,83). Kesimpulan: Konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan instan, aktivitas fisik, dan perilaku merokok berasosiasi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada penduduk ≥25 tahun di Indonesia. Demikian, perlu adanya kebijakan mengenai pembatasan konsumsi makanan dan minuman manis, makanan instan, serta pengendalian perilaku merokok.

Background: This study analyzed the association of consumption patterns and lifestyle with the incidence of type 2 DM in Indonesia's population aged ≥25 given the increasing trend of cases from 6.9% in 2013 to 8.5% in 2018. Methods: Using a cross-sectional study design, this study used data from Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018. The study sample was the population aged ≥25 years from the Riskesdas 2018 data totaling 26,850 respondents. Data analysis included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, and the independent variables were consumption patterns and lifestyle (consumption of sweet foods, sweet drinks, carbonized drinks, energy drinks, preserved processed foods, instant foods, vegetables and fruits, physical activity, smoking behavior, and alcoholic beverages). Results: The results found associations between consumption patterns and lifestyle factors, including sweet foods (AOR: 1.24; 95% CI: 1.13-1.37), sweet drinks (AOR: 1.64; 95% CI: 1.82), instant foods (AOR: 1.20; 95% CI: 1.11-1.29), and smoking behavior (AOR: 1.68; 95% CI: 1.54-1.83). Additionally, physical activity had a protective effect against type 2 DM (AOR: 0.76; 95% CI: 0.70-0.83). Conclusion: Sugary food and drink consumption, instant food consumption, physical activity, and smoking behavior are associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus in the population aged ≥25 years in Indonesia. Therefore, policies are needed to restrict the consumption of sugary foods and drinks, instant foods, and to control smoking behavior
Read More
S-11797
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadindra Ramadhina Hakim; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Maliki
Abstrak:
Gangguan kognitif menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah populasi lansia akibat bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif pada penduduk usia ≥ 45 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder gelombang pertama Indonesian Longitudinal Aging Survey (ILAS) tahun 2023. Status gangguan kognitif diukur menggunakan instrumen Six-Item Screener (SIS). Analisis hubungan antara gangguan kognitif dan faktor risiko dilakukan menggunakan uji chi-square dan perhitungan Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 3.708 responden, prevalensi gangguan kognitif sebesar 26.2%. Faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah kelompok lanjut usia ≥60 tahun (PR=1.84; 95% CI: 1.65–2.05), tingkat pendidikan rendah (PR=1.48; 95% CI: 1.29–1.68), status perkawinan tanpa pasangan hidup (PR=1.37; 95% CI: 1.22–1.54), tidak bekerja (PR=1.27; 95% CI: 1.02–1.59), pernah bekerja namun tidak lagi bekerja (PR=1.39; 95% CI: 1.24–1.57), status ADL ketergantungan (PR=2.68; 95% CI: 1.78–4.04), dan merokok (PR=1.14; 95% CI: 1.02–1.26). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran untuk mencegah gangguan kognitif, terutama pada kelompok lanjut usia, tingkat pendidikan rendah, dan individu dengan keterbatasan aktivitas sehari-hari.

Cognitive impairment is becoming an increasingly critical public health issue as the elderly population grows due to rising life expectancy. This study aims to identify factors associated with cognitive impairment among individuals aged 45 years and older in Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the first wave of the 2023 Indonesian Longitudinal Aging Survey (ILAS). Cognitive impairment status was measured using the Six-Item Screener (SIS). The relationship between cognitive impairment and risk factors was analyzed using the chi-square test and Prevalence Ratio (PR) calculations. The results showed that among 3,708 respondents, the prevalence of cognitive impairment was 26.2%. Factors significantly associated with cognitive impairment included being aged 60 years or older (PR=1.84; 95% CI: 1.65–2.05), having a low level of education (PR=1.48; 95% CI: 1.29–1.68), being unmarried /without a spouse (PR=1.37; 95% CI: 1.22–1.54), being unemployed (PR=1.27; 95% CI: 1.02–1.59), having previously worked but no longer working (PR=1.39; 95% CI: 1.24–1.57), and dependence in Activities of Daily Living (ADL) (PR=2.68; 95% CI: 1.78–4.04), and smoking (PR=1.14; 95% CI: 1.02–1.26). The results of this study are expected to serve as a basis for developing targeted public health interventions to prevent cognitive impairment, particularly among the elderly, those with low educational levels, and individuals with limitations in activities of daily living.
Read More
S-12422
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferriandra Henry Wicaksono; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Linawati
Abstrak:
Fase remaja merupakan periode penting dalam membentuk pola hidup sehat jangka panjang. Permasalahan akibat pola hidup tidak sehat, seperti pola makan berlebihan hingga kurangnya aktivitas fisik, berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian berat badan berlebih (overweight dan obesitas), yang dapat memicu penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, dll. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan angka prevalensi overweight dan obesitas pada kelompok usia remaja 13-15 tahun tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 11,8% untuk kategori overweight dan 5,2% untuk obesitas. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, Kota Depok adalah salah satu kabupaten/kota dengan prevalensi overweight dan obesitas tertinggi, yaitu 11,27% untuk overweight dan 4,86% untuk obesitas. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian berat badan berlebih pada SMP Negeri 3 Kota Depok tahun 2025. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 3 Kota Depok dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara aktivitas fisik, screen on time, dan night eating syndrome dengan kejadian berat badan berlebih. Tetapi, terdapat hubungan yang signifikan antara asupan kalori dengan kejadian berat badan berlebih. Dengan demikian, kegiatan edukasi serta implementasi pola hidup sehat perlu dilakukan di lingkungan sekolah sebagai tindakan preventif terhadap kejadian berat badan berlebih pada siswa usia remaja. 

The adolescent phase is an it mportanperiod in shaping a long-term healthy lifestyle. Problems due to unhealthy lifestyles, such as overeating and physical inactivity, contribute to the increasing incidence of overweight and obesity, which can lead to non-communicable diseases such as hypertension, type 2 diabetes mellitus, cardiovascular diseases, metabolic syndrome, etc. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), West Java Province is one of the provinces with the highest prevalence rates of overweight and obesity in the adolescent age group of 13-15 years in Indonesia, which amounted to 11.8% for the overweight category and 5.2% for obesity. Based on the 2018 Riskesdas, Depok City is one of the districts/cities with the highest prevalence of overweight and obesity, which is 11.27% for overweight and 4.86% for obesity. This research design is quantitative using a cross-sectional approach that aims to determine the faktors associated with the incidence of overweight at SMP Negeri 3 Depok City in 2025. The population of this study were all students of SMP Negeri 3 Depok City with purposive sampling. The results showed that there was no significant relationship between physical activity, screen on time, and night eating syndrome with the incidence of excess weight. However, there is a significant relationship between calorie intake and the incidence of overweight. Thus, educational activities and implementation of a healthy lifestyle need to be carried out in the school environment as a preventive measure against the incidence of overweight in adolescent students.
Read More
S-11945
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Narumi; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Rizka Maulida, Jeremia Immanuel Siregar
Abstrak:

Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, 30,8% penduduk usia ≥18 tahun mengalami hipertensi berdasarkan pengukuran, sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter adalah 8,6%. Selain itu, laporan SKI 2023 menekankan adanya kesenjangan antara perilaku pencarian pengobatan hipertensi dengan proporsi masyarakat yang terdiagnosis. Saat ini, sebesar 53,3% penyandang hipertensi tidak teratur minum obat atau tidak minum obat antihipertensi, dan 56,9% tidak teratur atau sama sekali tidak melakukan pemeriksaan ulang ke tenaga kesehatan.

Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan hipertensi pada penyandang hipertensi usia ≥18 tahun di Indonesia.

Metode: Sebanyak 53.648 penyandang hipertensi usia ≥18 tahun berdasarkan data SKI 2023 diteliti dalam penelitian cross-sectional ini. Uji chi-square dan regresi logistik sederhana dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel. Variabel luaran adalah perilaku pencarian pengobatan hipertensi. Variabel prediktor adalah jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pengetahuan terkait hipertensi, tempat tinggal, wilayah geografis, status sosial ekonomi, kepemilikan jaminan kesehatan, akses ke fasilitas kesehatan, multimorbiditas, dan perilaku cek kesehatan berkala.

Hasil: Proporsi perilaku pencarian pengobatan hipertensi yang aktif pada penyandang hipertensi usia ≥18 tahun di Indonesia tahun 2023 adalah 76,2%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan hipertensi adalah berjenis kelamin perempuan (OR = 1,24; 95% CI: 1,15-1,33), berusia 65-74 tahun (ref. 18-24 tahun; OR = 6,60; 95% CI: 4,35-10,04), sedang menikah (OR = 0,92; 95% CI: 0,85-0,99), memiliki tingkat pendidikan tersier (ref. Tidak sekolah; OR = 1,28; 95% CI: 1,12-1,47), tidak bekerja (OR = 1,15; 95% CI: 1,08-1,23), pernah mendapat informasi pengobatan hipertensi (OR = 3,98; 95% CI: 3,70-4,28), berasal dari Kepulauan Maluku (ref. Papua; OR = 1,97; 95% CI: 1,51-2,58), memiliki status sosial ekonomi teratas (OR = 1,36; 95% CI: 1,17-1,59), memiliki jaminan kesehatan (OR = 1,48; 95% CI: 1,36-1,61), memiliki multimorbiditas (OR = 1,77; 95% CI: 1,63-1,92), dan melakukan cek kesehatan minimal 1 bulan sekali (ref. Tidak pernah; OR = 6,16; 95% CI: 5,54-6,84).

Kesimpulan: Studi ini menunjukkan dibutuhkannya program untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, khususnya kelompok usia produktif, dalam melakukan pengobatan hipertensi.
Kata kunci: Perilaku pencarian pengobatan, penyandang hipertensi, hipertensi


Background: Hypertension is a non-communicable disease with the highest prevalence in Indonesia. According to the Indonesian Health Survey (SKI) in 2023, 30.8% of people aged ≥18 experienced hypertension based on blood pressure measurement, while the prevalence of hypertension based on a doctor’s diagnosis was 8.6%. In addition, the SKI 2023 report emphasised the gap between hypertension health-seeking behaviour and the proportion of diagnosed patients. Currently, 53.3% of hypertensive patients do not regularly or do not take anti-hypertensive medication, and 56.9% do not regularly or do not have re-examinations with health professionals.  Objective: This study aims to determine the factors associated with hypertension health-seeking behaviour in hypertensive patients aged ≥18 years in Indonesia.    Methods: A total of 53.648 hypertensive patients aged ≥18 years based on SKI 2023 were analysed in this cross-sectional study. Chi-square test and simple logistic regression were used to determine the associations between variables. The outcome variable is hypertension health-seeking behaviour. The independent variables are gender, age, marital status, education level, employment status, hypertension-related knowledge, place of residence, geographic area, socioeconomic status, health insurance ownership, access to health facility, multimorbidity, and regular health check-up.   Results: The proportion of active hypertension health-seeking behaviour in hypertensive patients aged ≥18 years in Indonesia in 2023 was 76.2%. Factors associated with hypertension health-seeking behaviour were female (OR = 1.24; 95% CI: 1.15-1.33), aged 65-74 years (ref. 18-44 years; OR = 6.60; 95% CI: 4.35-10.04), married (OR = 0.92; 95% CI: 0.85-0.99), having tertiary education (ref. no formal education; OR = 1.28; 95% CI: 1.12-1.47), not working (OR = 1.15; 95% CI: 1.08-1.23), having received information on hypertension treatment (OR = 3.98; 95% CI: 3.70-4.28), living in the Maluku Islands (ref. Papua; OR = 1.97; 95% CI: 1.51-2.58), having the highest socioeconomic status (OR = 1.36; 95% CI: 1.17-1.59), insured (OR = 1.48; 95% CI: 1.36-1.61), having multimorbidity (OR = 1.77; 95% CI: 1.63-1.92), and doing a health check-up at least once a month (ref. never; OR = 6.16; 95% CI: 5.54-6.84).  Conclusion: This study indicates the need for a program to raise awareness and the active participation of the public, particularly the productive age population, in seeking hypertension treatment.  Key words: Health-seeking behaviour, hypertensive patients, hypertension

Read More
S-11934
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shakila Zakiyatunnisa; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Asih Setiarini, Qonita Rachmah
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kelainan metabolik yang terdiri dari obesitas abdominal, hiperglikemia, dislipidemia, dan hipertensi yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, serta mortalitas dini. Sindrom metabolik menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berkontribusi terhadap peningkatan beban penyakit tidak menular secara global, termasuk di Indonesia, dengan prevalensi pada populasi usia ≥15 tahun mencapai sekitar 32% pda tahun 2018 dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik pada penduduk Indonesia usia ≥15 tahun dengan menganalisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dan menentukan faktor dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada populasi adalah sebesar 38,4%. Variabel yang berhubungan signifikan dengan sindrom metabolik adalah usia, jenis kelamin, dan status gizi (IMT). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah status gizi, di mana dibandingkan dengan responden dengan status gizi normal, responden dengan berat badan kurang memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami sindrom metabolik (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), sedangkan responden dengan berat badan berlebih memiliki peluang 2,510 kali lebih besar (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939), kemudian meningkat pada obesitas tingkat I dengan peluang 5,864 kali (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), serta obesitas tingkat II dengan peluang 12,670 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik dibandingkan status gizi normal (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).

Metabolic syndrome is a cluster of metabolic abnormalities characterized by abdominal obesity, hyperglycemia, dyslipidemia, and hypertension, which collectively increase the risk of cardiovascular disease, type 2 diabetes mellitus, and premature mortality. It has become a major public health concern due to its contribution to the growing burden of non-communicable diseases globally, including in Indonesia, where the prevalence among individuals aged ≥15 years was reported to be around 32% in 2018, showing an increasing trend compared to previous years. This study aimed to identify the main factors associated with metabolic syndrome among the Indonesian population aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Data were analyzed using chi-square tests and logistic regression to determine associated factors and identify the dominant determinant. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome among the population was 38.4%. Variables significantly associated with metabolic syndrome included age, sex, and nutritional status (BMI). The most dominant factor was nutritional status, where compared to individuals with normal BMI, underweight respondents had a lower likelihood of developing metabolic syndrome (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), while overweight respondents had 2.510 times higher odds (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939). The risk further increased among individuals with class I obesity, who had 5.864 times higher odds (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), and class II obesity, who had 12.670 times higher odds of experiencing metabolic syndrome compared to those with normal BMI (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).
Read More
S-12361
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Ayu Yanuari Ramadhani; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Fitria Ardya Cahyani
Abstrak:
BPJS Kesehatan berkolaborasi dengan fasilitas kesehatan untuk menyediakan pembiayaan berdasarkan pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan sesuai dengan diagnosa yang tercantum dalam Indonesian Case-Based Groups (INA CBG’s). Namun, dalam praktiknya, masih terdapat berkas klaim yang ditunda atau tidak lolos verifikasi oleh petugas BPJS Kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan klaim INA CBG’s pasien rawat inap BPJS Kesehatan, dengan mempertimbangkan variabel yang telah ditentukan oleh peneliti. Metode Penelitian ini bersifat deskriptif. Dengan metode wawancara dan observasi data. Pengambilan data dilakukan pada berkas klaim rawat inap yang dinyatakan pending oleh pihak BPJS Kesehatan dengan teknik simple random sampling. Wawancara dilakukan kepada 3 orang pegawai meliputi penanggung jawab pelaksana kegiatan atau Person in charge (PIC) di Unit Casemix, dan petugas Rekam Medis di RSUD Cipayung Jakarta Timur Hasil penelitian yang menyebabkan tertundanya klam BPJS yakni, kurangnya sumber daya manusia pada bagian verifikator internal, jaringan komputer yang masih belum menggunakan LAN, mesin scan yang kurang memadai, dan proses klaim yang belum terhubung dengan SIMRS secara penuh. Sedangkan pada berkas variabel kelengkapan faktor penyebab pending terbanyak pada Penunjang Medis sebanyak 57 berkas (20%), pada variabel ketepatan, faktor pending terbanyak diagnosa primer sebanyak 77 berkas (28%).

BPJS Kesehatan berkolaborasi dengan fasilitas kesehatan untuk menyediakan pembiayaan berdasarkan pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan sesuai dengan diagnosis yang tercantum dalam Indonesian Case-Based Groups (INA CBG’s). Namun dalam praktiknya, masih terdapat berkas klaim yang tertunda atau tidak lolos verifikasi oleh petugas BPJS Kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan klaim pasien rawat inap INA CBG di BPJS Kesehatan, dengan mempertimbangkan variabel yang telah ditentukan oleh peneliti. Metode Penelitian ini bersifat deskriptif. Dengan metode wawancara dan observasi data. Pengambilan data dilakukan pada berkas klaim rawat inap yang dinyatakan tertunda oleh pihak BPJS Kesehatan dengan teknik simple random sampling. Wawancara dilakukan kepada 3 orang pegawai meliputi penanggung jawab pelaksana kegiatan atau Person in charge (PIC) di Unit Casemix, dan petugas Rekam Medis di RSUD Cipayung Jakarta Timur Hasil penelitian yang menyebabkan tertundanya klam BPJS yakni, kurangnya sumber daya manusia pada bagian verifikator internal, jaringan komputer yang masih belum menggunakan LAN, mesin scan yang kurang memadai, dan proses klaim yang belum terhubung dengan SIMRS secara penuh. Sedangkan pada variabel berkas kelengkapan faktor penyebab pending terbanyak pada Penunjang Medis sebanyak 57 berkas (20%), pada variabel presisi, faktor pending diagnosa primer terbanyak sebanyak 77 berkas (28%).
Read More
S-11772
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maritza Adelia Syawal; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Muhammad Nur Ihsan Ayyasy
Abstrak:
Permasalahan pencemaran udara memiliki urgensi yang tinggi karena telah menjadi penyebab dari sebagian besar beban kesehatan di seluruh dunia yang diketahui menjadi penyebab dari sekitar 7.000.000 kematian dini per tahun akibat berbagai airborne diseases dan penyakit degeneratif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tren dan dampak kesehatan dari kualitas udara ambien di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2019—2023. Desain studi ekologi time series digunakan untuk mengetahui tren dan hubungan antarvariabel dari tahun ke tahun menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren fluktuatif dengan adanya konsentrasi SO2 dan PM10 yang melebihi baku mutu dan terjadinya penurunan jumlah kasus pneumonia, TB paru BTA (+), dan hipertensi pada awal pandemi COVID-19. Korelasi positif antara PM10 dengan TB paru BTA (+) didapatkan pada tahun 2019. Di sisi lain, SO2 dengan TB paru BTA (+) dan hipertensi serta PM10 dengan pneumonia menghasilkan adanya variasi arah korelasi dalam hubungan antara kedua variabel dari tahun ke tahun. Dampak kesehatan terhadap kualitas udara ambien memiliki hasil korelasi berbeda yang bergantung terhadap jenis dampak kesehatan yang dipengaruhi oleh dosis paparan serta interaksi dengan faktor-faktor risiko lain seperti variabilitas epidemiologis. Dengan ini, diperlukan upaya pengendalian pencemaran udara, optimalisasi surveilans penyakit, serta variabel epidemiologis yang berkemungkinan berperan dalam mempengaruhi hubungan antarvariabel.

Air pollution issues has become cause of the health burden worldwide, with approximately 7,000,000 premature deaths per year due to various airborne diseases and degenerative diseases. This study aimed to determine trends and health impacts of ambient air quality in DKI Jakarta in 2019-2023. Using secondary data, an ecological time series design was implemented to determine trends and relationships between variables from year to year. The results showed a fluctuating trend, especially with SO2 and PM10 concentrations known to exceed the quality standards. A decrease in pneumonia, AFB (+) pulmonary TB, and hypertension cases also happened at the beginning of the COVID-19 pandemic. A positive correlation between PM10 and AFB (+) pulmonary TB was found in 2019, while SO2 with AFB (+) pulmonary TB and hypertension and PM10 with pneumonia resulted variations in the direction between the two correlations of variables from year to year. The health impacts of ambient air quality have different correlation results depending on the diseases influenced by exposure dose and interactions with other risk factors, such as epidemiological variability. This requires air pollution control and optimization of disease surveillance. The result suggests that epidemiological variables may play a role in influencing the relationship between variables.
Read More
S-11600
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive