Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35737 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anisha Syafiqa Qawlam; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Hamid Rijal
Abstrak:
ASI eksklusif adalah praktik hanya memberikan ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain hingga bayi genap berusia 6 bulan. Hal ini sangat krusial bagi pertumbuhan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh anak, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta menghemat biaya kesehatan di masa depan. Namun, capaian ASI eksklusif di Sumatera Utara masih perlu ditingkatkan, yaitu hanya mencapai 43,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-23 bulan di Provinsi Sumatera Utara. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross-sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan capaian ASI eksklusif di Sumatera Utara yaitu 44,2%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, Riwayat kehamilan berisiko, metode persalinan, usia gestasi, dan penolong persalinan berhubungan signifikan dengan ASI eksklusif (p-value <0,05). Tempat persalinan ditemukan sebagai faktor dominan dengan peningkatan peluang 16,116 kali pada ibu yang melahirkan di fasilitas Kesehatan rujukan dibandingkan dengan fasilitas non-kesehatan (p-value = 0,002; OR = 16,116; 95% CI = 2,739-94,831).

Exclusive breastfeeding is the practice of providing only breast milk without any additional food or drink until the baby reaches 6 months of age. This is crucial for a child’s growth, intelligence, and immune system, which ultimately can improve the quality of human resources and reduce future healthcare costs. However, the coverage of exclusive breastfeeding in North Sumatra still needs improvement, reaching only 43,9%. This study aims to identify the dominant factors associated with exclusive breastfeeding among infants aged 6–23 months in North Sumatra Province. The research design used was cross-sectional, utilizing secondary data from SKI 2023. The analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the rate of exclusive breastfeeding in North Sumatra was 44,2%. Bivariate analysis indicated that maternal age, maternal education, maternal employment status, history of high-risk pregnancy, method of delivery, gestational age, and birth attendant were significantly associated with exclusive breastfeeding (p-value < 0,05). Place of delivery was identified as the dominant factor, with mothers who gave birth in referral health facilities having a 16,116 times higher likelihood of practicing exclusive breastfeeding compared to those who delivered in non-health facilities (p-value = 0,002; OR = 16,116; 95% CI = 2,739–94,831).
Read More
S-12333
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Allisya Aurelia; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Pemberian ASI eksklusif memiliki dampak positif baik bagi ibu maupun bayinya, namun persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan di Nusa Tenggara Barat berdasarkan data Riskesdas 2018, yaitu hanya sebesar 20,3%. Hal ini masih dibawah target pencapaian indikator ASI Eksklusif yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-23 bulan di NTB. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan sampel berjumlah 802 bayi usia 0-23 bulan yang tinggal di NTB serta menggunakan data Riset Kesehatan Dasar 2018. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil menunjukan bahwa dari 802 subjek, 56,7% diberikan ASI eksklusif. Analisis bivariat juga menunjukan antara paritas dan IMD dengan pemberian ASI eksklusif (p-value < 0,05). Analisis multivariat menunjukan bahwa paritas merupakan faktor dominan pemberian ASI eksklusif (p-value = 0,002 ; OR : 1,6 ; 95% CI : 1,1 – 2,1).

EBF has a positive impact for both the mother and the baby, but based on the Indonesia Basic Health Research (Riskesdas) in 2018, only 20,3% of infants aged 0-5 months in West Tenggara Province are exclusive breastfed. It is still has not reached target indicator set by the Ministry of Health, which is 80%. This study aims to identify the determinant factor and related factor associated with EBF in infants aged 0-23 months in West Tenggara Province. This research is a quantitative study with a cross sectional study design with a sample of 802 infants aged 0-23 months who live in West Nusa Tenggara. The data was obtained from the Indonesia Basic Health Research 2018. The association between risk factor and EBF were measured through chi square bivariate analysis. Multivariate analysis was done using multiple logistic regression. Among 802 subjects, 56,7% breastfed exclusively. This study found that parity and early initiation of breastfeeding (EIBF) were significantly associated with EBF (p-value < 0,05). Parity was the most dominant risk factor of EBF (p-value = 0,002 ; OR : 1,6 ; 95% CI : 1,1 – 2,1).
Read More
S-11397
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggita Kirana Vinurya Putri; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Ni Putu Arik Diantari
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam waktu lama. Stunting pada baduta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor anak, ibu, pola asuh maupun lingkungan. Provinsi Bali merupakan provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia, namun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta di Bali masih perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional dengan analisis data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Sampel penelitian berjumlah 549 baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik kompleks. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor anak, ibu, praktik pola asuh, dan lingkungan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p > 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan stunting. Anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang mengalami stunting sebesar 6,2 kali dibandingkan anak dengan berat badan lahir normal setelah dikontrol oleh variabel lain dalam model (AOR=6,202; 95% CI: 1,081–35,586). Berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui peningkatan status gizi ibu dan pencegahan kejadian berat badan lahir rendah.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth due to prolonged inadequate nutrient intake. Stunting among children under two years of age may be influenced by various factors, including child, maternal, caregiving, and environmental factors. Bali Province has the lowest prevalence of stunting in Indonesia; however, factors associated with stunting among children under two years of age in Bali still require further attention. This study aimed to determine the dominant factors associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). The study sample consisted of 549 children aged 0–23 months in Bali Province. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using complex logistic regression. The bivariate analysis showed that child factors, maternal factors, caregiving practices, and environmental factors were not significantly associated with stunting (p > 0.05). The multivariate analysis revealed that birth weight was the dominant factor associated with stunting. Children with low birth weight had a 6.2 times higher likelihood of experiencing stunting compared with children with normal birth weight after controlling for other variables in the model (AOR = 6.202; 95% CI: 1.081–35.586). Birth weight was identified as the dominant factor associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. Therefore, stunting prevention efforts should focus on the first 1,000 days of life through improving maternal nutritional status and preventing low birth weight.
Read More
S-12372
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Sari Nasrianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Anies Irawati, Dewi Astuti
Abstrak: Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017, menyebutkan sebesar 39,8% anak usia 6-11 bulan, 20,4% anak usia 12-17 bulan dan 11,6% anak usia 18-23 bulan tidak memenuhi capaian Minimum Dietary Diveristy. Selain itu hampir separuh anak usia 6-23 bulan (47%) tidak memenuhi capaian Minimum Meal Frequency dan prevalensi capaian Minimum Acceptable Diet pada anak usia 6-23 bulan hanya 44,9%%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian crosssectional dengan menggunakan data sekunder Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Responden penelitian ini sebanyak 5.367 WUS yang mempunyai anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara lain usia anak (p = 0,0001; OR = 3,122; 95% CI = 2,769-3,521), urutan kelahiran (p = 0,0001; OR = 0,416 95% CI = 0,329-0,525), tempat melahirkan (p = 0,0001; OR = 2,121; 95% CI = 1,861-2,419), kunjungan selama kehamilan (p = 0,0001; OR =2,739 ; 95% CI = 1,991-3,766), pemeriksaan setelah kelahiran (p = 0,001; OR = 1,108 ; 95% CI = 0,888-1,168), pendidikan ibu (p = 0,0001; OR = 1,950; 95% CI = 1,715-2,217), pekerjaan ibu (p = 0,0001; OR = 1,300; 95% CI = 1,167-1,447), literasi ibu (p = 0,0001; OR = 4,042; 95% CI = 2,845-5,742), status pernikahan (p = 0,0001; OR = 1,830; 95% CI = 1,399-2,395), pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,998; 95% CI = 1,570-1,998), frekuensi membaca koran (p = 0,0001; OR = 1,659; 95% CI = 1,487-1,850), mendengarkan radio (p = 0,0001; OR = 1,365; 95% CI = 1,223-1,523), menonton televisi (p = 0,0001; OR = 3,099; 95% CI = 2,381-4,035), dan menggunakan internet (p = 0,0001; OR = 2,555; 95% CI =2,255-2,895), dan wilayah tempat tinggal (p = 0,0001; OR = 1,884; 95% CI = 1,691-2,100) dengan praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak sesuai. Faktor yang paling dominan terhadap ketidaksesuaian praktik pemberian makan bayi dan anak adalah usia anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dilakukan sosialisasi dan edukasi terkait gizi dan kesehatan khususnya praktik pemberian makan bayi dan anak pada kunjungan antenatal, dengan memaksimalkan penyampaian informasi melalui berbagai media (cetak, elektronik maupun langsung) mengingat akses penggunaan media informasi yang semakin membaik.
Read More
T-6121
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprillia Cahya Azura; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Salimar
Abstrak:
Stunting diartikan sebagai gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Stunting memiliki dampak jangka pendek maupun panjang, termasuk peningkatan kejadian penyakit, gangguan perkembangan dan kapasitas belajar yang buruk, serta dampak antargenerasi lainnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, seperti kesehatan dan gizi ibu hamil yang buruk, pola asuh yang tidak tepat, asupan tidak adekuat, serta penyakit infeksi. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi keempat dengan prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan serta faktor dominan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI tahun 2022, yang melibatkan 1827 responden. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting, yaitu usia, jenis kelamin, BBL, TB ibu, dan konsumsi TTD. Riwayat BBL diketahui sebagai faktor dominan kejadian stunting dengan p-value 0,001 dan OR 5,238 (CI 95%: 3,172 – 8,649). Saran bagi masyarakat, yaitu ibu hamil dapat lebih memerhatikan kondisi kehamilannya, seperti terkait kecukupan gizi dan tumbuh kembang janinnya. Selain itu, instansi kesehatan diharapkan dapat mengoptimalkan dukungan kepada masyarakat melalui media KIE Gizi yang berkaitan dengan 1000 HPK, stunting, serta gizi ibu hamil untuk mengoptimalkan program pencegahan stunting.

Stunting defined as the impaired growth and development experienced by children due to poor nutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. Stunting has both short- and long-term impacts, including increased incidence of disease, impaired development and poor learning capacity, and other intergenerational impacts. Many factors contribute to it, such as poor maternal health and nutrition, inappropriate parenting, inadequate intake, and infectious diseases. SSGI data in 2022 reported that West Nusa Tenggara Province is the fourth province with a high prevalence of stunting in Indonesia. This study aims to analyze the associated and dominant factors of stunting among under-fives aged 6-23 months in West Nusa Tenggara Province. This study was conducted with a cross-sectional design using secondary data from SSGI, involving 1827 respondents. Data analyzed using the chi-square test in bivariate analysis and multiple logistic regression test in multivariate analysis. The results showed that there were five variables associated with the incidence of stunting, such as age, sex, LBW, maternal TB, and TTD consumption. LBW history was found to be the dominant factor in the incidence of stunting with a p-value of 0.001 and OR 5,238 (CI 95%: 3.172 – 8.649). Writer suggest that pregnant women can pay more attention to the condition of their pregnancy, mainly on their nutritional adequacy and fetal growth and development. Moreover, health agencies are expected to optimize support to the community through Nutrition IEC media related to 1000 HPK, stunting, and nutrition of pregnant women to optimize stunting prevention programs.
Read More
S-11632
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiddlin Nurani Qomara Putri; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Kusharisupeni
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan nilai tinggi badan menurut umur (TB/U) atau panjang badan menurut umur (PB/U) berada di bawah -2 standar deviasi standar pertumbuhan anak WHO. Kejadian stunting bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor anak, pola asuh dan pemberian makan, kondisi kesehatan, karakteristik ibu, serta faktor lingkungan dan sanitasi. Dampak stunting tidak hanya berupa hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga gangguan perkembangan kognitif, peningkatan risiko PTM pada usia dewasa, serta menurunnya produktivitas. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2024 mencapai 35,4%, jauh di atas prevalensi nasional (19,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional yang meneliti data sekunder SSGI 2024 dengan jumlah sampel 713 anak serta metode pemilihan sampel yaitu total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda dengan analisis bivariat menghasilkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, pola konsumsi susu, sumber air minum rumah tangga, tingkat pendidikan ibu, dan pengetahuan/sikap ibu terkait stunting dengan kejadian stunting pada anak 6-23 bulan di Sulawesi Barat. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara riwayat IMD, ASI eksklusif, konsumsi protein hewani, Minimum Acceptable Diet (MAD), riwayat penyakit infeksi, kepemilikan jamban, dan status pekerjaan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024 adalah berat badan lahir (aOR = 3,05) yang berarti anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang 3,05 kali lebih besar untuk mengalami stunting.

Stunting is a condition of growth failure characterized by a height-for-age (HAZ) or length-for-age (LAZ) below -2 standard deviations of the WHO Child Growth Standards. Stunting is a multifactorial condition influenced by child characteristics, feeding practices, health status, maternal factors, as well as environmental and sanitation conditions. The impact of stunting includes not only impaired physical growth but also cognitive developmental delays, an increased risk of non-communicable diseases (NCDs) in adulthood, and reduced productivity. Based on the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in West Sulawesi Province in 2024 was 35.4%, which is considerably higher than the national prevalence (19.8%). This study aimed to identify the dominant factors associated with stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi in 2024. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 SSGI. A total of 713 children were included through total sampling. Data were analyzed using the Chi-square test, Fisher's exact test, and multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between child sex, birth weight, birth length, milk consumption pattern, household drinking water source, maternal education level, and maternal knowledge and attitudes regarding stunting with the occurrence of stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi. However, no significant associations were found between early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, animal-source protein consumption, Minimum Acceptable Diet (MAD), history of infectious diseases, household latrine ownership, maternal employment status, and stunting. Multivariate analysis identified low birth weight as the dominant factor associated with stunting (aOR = 3.05), indicating that children with low birth weight were 3.05 times more likely to experience stunting than those with normal birth weight.
Read More
S-12348
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veronica Zahra Lydia Cross; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Endang L. Achadi
Abstrak: ASI eksklusif terbukti menjadi makanan terbaik yang dapat diberikan ibu kepada anaknya selama 6 bulan pertama. Rendahnya cakupan ASI eksklusif di Indonesia perlu menjadi perhatian mengingat tingginya risiko kesehatan yang dapat mengancam pertumbuhan, kesehatan, hingga menyebabkan kematian bayi jika tidak ASI eksklusif. Berbagai faktor ditemukan menjadi penentu dalam praktik pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data sekunder IFLS-5 tahun 2014-2015 yang memiliki sampel anak usia 6-23 bulan sebanyak 1550 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan prevalensi pemberian ASI eksklusif hingga usia minimal 5 bulan adalah sebesar 24,9%. Analisis bivariat menemukan beberapa faktor yang berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif, yaitu usia ibu, pendidikan ibu, berat badan lahir, tempat persalinan, penolong persalinan, dan kunjungan ANC. Faktor status pekerjaan, status perkawinan, paritas, pengetahuan terkait ASI eksklusif, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, dan kunjungan PNC ditemukan tidak berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif dalam penelitian ini. Hasil analisis multivariat menemukan usia ibu sebagai faktor dominan pemberian ASI eksklusif pada ibu dengan anak usia 6-23 bulan di Indonesia dengan OR 2,13. Penelitian ini menunjukkan bahwa optimalisasi praktik menyusui pada usia reproduktif dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan hingga 2,1 kali lebih tinggi.
Exclusive breastfeeding (EBF) is proven to be the best food a mother can give to her child during the first 6 months. The low prevalence of EBF in Indonesia needs to be a concern given the many health risk of not breastfeeding exclusively, such as delayed growth, threatened health, and infant mortality. Various factors were found to be determinants in the practice of exclusive breastfeeding. This study was conducted to identify the dominant factor associated with 6-month EBF among children aged 6-23 months in Indonesia. The design used in this study is cross-sectional using IFLS-5 2014-2015 as a secondary data with a sample of 1550 children aged 6-23 months. Data were analyzed using chi square test dan multiple logistic regression test. The result found the prevalence of 5-month EBF was 24,9%. Bivariate analysis found several factors that were significantly related to EBF, which are maternal age, maternal education, birth weight, place of delivery, birth attendant, and ANC visits. The factors of employment status, marital status, parity, knowledge related to EBF, gender, area of residence, and PNC visits were not found to be significantly related to EBF practice in this study. The result of multivariate analysis showed maternal age as the dominant factor of EBF practice in mothers with children aged 6-23 months in Indonesia with an OR of 2,13. This study shows that optimizing breastfeeding practices at reproductive age can increase the success of 6-month EBF up to 2,1 times. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Children Aged 6-23 Months, Maternal Age, IFLS
Read More
S-11041
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairina Mawazini Simatupang; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmadi
Abstrak:
Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut pada anak yang dinilai melalui indikator BB/PB untuk usia 0-23 bulan dan indikator BB/TB untuk usia 24-59 bulan. Anak dengan kondisi wasting dapat mengalami gangguan proses tumbuh-kembang hingga mengalami peningkatan risiko mortalitas. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi wasting di Kalimantan Selatan mencapai angka 13,8%. Prevalensi tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yang mencapai angka 9,2%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan terhadap kejadian wasting pada baduta 0-23 bulan di Provinsi Kalimantan Selatan dengan desain penelitian cross-sectional. Data yang digunakan adalah data SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 640 baduta yang memiliki data berdasarkan hasil survei kesehatan Indonesia. Variabel independen yang diteliti pada penelitian ini merupakan faktor risiko wasting dari berbagai aspek, meliputi faktor karakterisik dan riwayat kesehatan anak, riwayat penyakit infeksi, asupan makanan, pola asuh, faktor orang tua dan keluarga, serta sanitasi dan lingkungan. Distribusi frekuensi dari tiap variabel dianalisis secara univariat kemudian analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, serta dilakukan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis ditemukan bahwa prevalensi wasting mencapai angka 13,3% di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 untuk anak usia 0-23 bulan. Pada penelitian ini ditemukan bahwa tingkat pendidikan ayah merupakan variabel yang berhubungan signifikan terhadap kejadian wasting. Faktor dominan yang berhubungan  terhadap kejadian wasting pada anak usia 0-23 bulan di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 adalah jenis kelamin (aOR 3,28 95% CI 1,178-9,152).

Wasting is a form of acute malnutrition in children assessed using the Weight-for-Length indicator for ages 0-23 months and the Weight-for-Height indicator for ages 24-59 months. Children with wasting may experience impaired growth and development processes as well as an increased risk of mortality. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI), the prevalence of wasting in South Kalimantan reached 13,8%. This prevalence is higher than the national prevalence, which reached 9,2%. This study was conducted to identify the dominant factors associated with the incidence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province using a cross-sectional study design. The data used were from the 2023 SKI, with a sample size of 640 children aged 0-23 months who had complete data based on the survey results. The independent variables examined in this study were risk factors for wasting from various aspects, including child characteristics and health history, history of infectious diseases, food intake, parenting practices, parental and family factors, as well as sanitation and environmental factors. The frequency distribution of each variable was analyzed univariately, followed by bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province in 2023 reached 13.3%. This study found that the father's education level was a variable significantly associated with the incidence of wasting. The dominant factor associated with the incidence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province in 2023 was sex (aOR 3.28, 95% CI 1.178-9.152).


Read More
S-12402
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Rahmadany; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Banun Rohimah
Abstrak:
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang persisten dengan nilai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg berdasarkan rata-rata dua atau lebih pengukuran tekanan darah. Prevalensi hipertensi di Provinsi Kalimantan Tengah menempati peringkat tertinggi di Indonesia, yakni 40,7%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor dominan yang berhubungan dengan hipertensi pada penduduk usia 25–44 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4.929 sampel, sebanyak 35,7% mengalami hipertensi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 25–44 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah yakni umur, riwayat pendidikan, status pekerjaan, obesitas, dan obesitas sentral. Konsumsi buah menjadi faktor dominan setelah dikontrol oleh variabel konsumsi sayur dan konsumsi makanan olahan berpengawet sebagai confounder, dengan peningkatan risiko sebesar 7,4 kali pada individu yang tidak pernah mengonsumsi buah dalam satu minggu dan 4,15 kali pada individu yang kurang mengonsumsi buah jika dibandingkan dengan individu yang mengonsumsi buah dalam jumlah cukup (14 porsi/minggu).
Hypertension is defined as a persistent increase in blood pressure, with systolic values ≥140 mmHg and/or diastolic values ≥90 mmHg, based on the average of two or more blood pressure measurements. The prevalence of hypertension in Central Kalimantan Province is the highest in Indonesia, at 40.7%. This study aims to determine related factors and dominant factors related to hypertension in the population aged 25-44 years in Central Kalimantan Province. A cross-sectional design was used, utilizing data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). Data analysis included univariate analysis using frequency distribution, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistics regression. The results showed that out of 4,929 samples, 35.7% had hypertension. The factors significantly associated with the incidence of hypertension among individuals aged 25–44 years in Central Kalimantan Province include age, educational background, employment status, obesity, and central obesity. Fruit consumption is the dominant factor after being controlled by consumption of vegetables and consumption of processed foods preserved as confounders. Individuals who never consumed fruit in the past week had a 7.4 times higher risk of hypertension, while those who consumed less fruit (
Read More
S-12005
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardelia; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Sandra Fikawati, Anies Irawati
S-10503
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive