Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26614 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizkha Nadha Hasrizal Putri; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Kurnia Sari, Masyitoh, Supriyono, Sheirly Novan Indra
Abstrak:
Pelayanan rawat jalan merupakan pintu masuk pelayanan rumah sakit yang menentukan mutu, kontinuitas, kepuasan pasien, dan kinerja operasional rumah sakit. Pada Rumah Sakit Tonggak Husada, pelayanan rawat jalan menunjukkan indikasi belum efisien, ditandai oleh penurunan kunjungan pasien, waktu tunggu pelayanan yang panjang, serta peningkatan biaya operasional yang tidak sebanding dengan pendapatan. Kondisi tersebut memerlukan pendekatan sistemik untuk mengidentifikasi kendala utama yang membatasi kinerja pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi constraint dengan Theory of Constraints untuk meningkatkan efisiensi pelayanan unit rawat jalan Rumah Sakit Tonggak Husada tahun 2026. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential dengan pendekatan mixed methods. Data kuantitatif diperoleh melalui telaah dokumen jumlah kunjungan rawat jalan periode Januari–Mei 2026, observasi waktu pelayanan bulan Mei 2026, serta telaah data pendapatan dan biaya operasional periode Januari–Mei 2026. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan manajemen dan petugas yang terlibat dalam pelayanan rawat jalan. Analisis dilakukan berdasarkan indikator Theory of Constraints, yaitu throughput, inventory, dan operating expenses, kemudian dilanjutkan dengan thinking process untuk mengidentifikasi root causes, konflik, dan alternatif solusi atau injection. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kunjungan pasien rawat jalan cenderung menurun pada beberapa poli spesialis. Poli IPD relatif stabil, sedangkan Poli Bedah 1, Poli Obgyn 1, dan Poli Anak mengalami penurunan kunjungan sebelum pelayanan dihentikan sementara akibat dokter spesialis mengundurkan diri, penurunan jumlah kunjungan juga diiringi dengan penurunan pendapatan sekitar 37,6% dari bulan Januari hingga Mei 2026. Pada aspek waktu tunggu, hambatan utama ditemukan pada tahapan menunggu dokter dan pelayanan farmasi. Median waktu menunggu dokter tertinggi terdapat pada Poli Bedah sebesar 55 menit dengan maksimum 360 menit, disusul Poli Obgyn sebesar 26 menit dengan maksimum 100 menit, sedangkan Poli Penyakit Dalam memiliki nilai median menunggu dokter 5 menit tetapi waktu pengambilan obat mencapai median 10 menit dengan maksimum 120 menit. Hal ini seiring dengan meningkatnya rata-rata waktu keterlambatan dokter terutama pada poli Bedah dan poli Obgyn. Dari aspek keuangan, biaya operasional meningkat pada Maret 2026 dan kembali menurun di bulan April dan Mei. Namun biaya operasional perpasien yang dilihat dari unit cost terus meningkat karena penurunan jumlah kunjungan tidak diikuti dengan penurunan beban operasional secara proporsional. Constraint utama pelayanan rawat jalan berada pada aspek sumber daya manusia, terutama ketidakstabilan ketersediaan dan kedisiplinan dokter spesialis, yang berdampak pada waktu tunggu, kontinuitas layanan, penurunan kunjungan, dan penurunan profitabilitas. Root causes yang ditemukan meliputi komunikasi efektif yang belum merata, kepatuhan dokter terhadap jadwal praktek belum optimal, ketersediaan dokter spesialis belum stabil, dukungan fasilitas penunjang yang belum maksimal dan ketersediaan obat yang belum optimal serta verifikasi resep pasien asuransi yang masih memanjang. Tidak ditemukan konflik bermakna yang bersifat politis, kebijakan, atau etika. Solusi yang diusulkan mencakup peningkatan kualitas komunikasi, monitoring ketepatan waktu dokter spesialis, strategi menjaga ketersediaan dokter spesialias, penguatan layanan penunjang, serta perbaikan pelayanan farmasi. Efisiensi pelayanan rawat jalan Rumah Sakit Tonggak Husada belum optimal karena terdapat ketidakseimbangan antara throughput yang menurun, inventory berupa waktu tunggu yang masih tinggi, dan operating expenses yang meningkat. Perbaikan perlu difokuskan pada penguatan tata kelola sumber daya dokter spesialis, koordinasi antarunit, farmasi, fasilitas penunjang, dan komunikasi pelayanan.

Outpatient services are the entry point to hospital care and play an important role in determining service quality, continuity of care, patient satisfaction, and hospital operational performance. At Tonggak Husada Hospital, outpatient services showed indications of inefficiency, as reflected in declining patient visits, prolonged waiting times, and increasing operating expenses that were not proportional to revenue. This condition requires a systemic approach to identify the main constraints limiting service performance. This study aimed to identify constraints using the Theory of Constraints to improve the efficiency of outpatient services at Tonggak Husada Hospital in 2026. This study used an explanatory sequential design with a mixed methods approach. Quantitative data were obtained through document review of outpatient visit data from January to May 2026, observation of service times in May 2026, and review of revenue and operating expense data from January to May 2026. Qualitative data were obtained through in-depth interviews with management and staff involved in outpatient services. The analysis was conducted based on the Theory of Constraints indicators, namely throughput, inventory, and operating expenses, followed by the thinking process to identify root causes, conflicts, and alternative solutions or injections. The results showed that outpatient visits tended to decline in several specialist clinics. The Internal Medicine Clinic remained relatively stable, while Surgery Clinic 1, Obstetrics and Gynecology Clinic 1, and the Pediatric Clinic experienced declining visits before services were temporarily suspended due to the resignation of specialist doctors. The decline in visits was also accompanied by an approximately 37.6% decrease in revenue from January to May 2026. In terms of waiting time, the main bottlenecks were found in the stages of waiting for doctors and pharmacy services. The highest median waiting time for doctors was found in the Surgery Clinic at 55 minutes, with a maximum of 360 minutes, followed by the Obstetrics and Gynecology Clinic at 26 minutes, with a maximum of 100 minutes. Meanwhile, the Internal Medicine Clinic had a median waiting time for doctors of 5 minutes, but the median waiting time for medication collection reached 10 minutes, with a maximum of 120 minutes. This finding was consistent with the increasing average delay in doctor arrival, particularly in the Surgery and Obstetrics and Gynecology clinics. From the financial aspect, operating expenses increased in March 2026 and decreased again in April and May. However, operating expenses per patient, as reflected in unit cost, continued to increase because the decline in patient visits was not followed by a proportional decrease in operating expenses. The main constraint in outpatient services was found in the human resource aspect, particularly the instability in the availability and punctuality of specialist doctors, which affected waiting time, service continuity, patient visits, and profitability. The root causes identified included uneven understanding of effective communication, suboptimal compliance of doctors with practice schedules, unstable availability of specialist doctors, inadequate supporting facilities, suboptimal drug availability, and prolonged insurance prescription verification. No significant political, policy-related, or ethical conflicts were found. The proposed solutions include improving communication quality, strengthening monitoring of specialist doctors’ punctuality, maintaining the availability of specialist doctors, strengthening supporting services, and improving pharmacy services. Outpatient service efficiency at Tonggak Husada Hospital has not been optimal due to an imbalance between declining throughput, inventory in the form of prolonged waiting time, and increasing operating expenses. Improvement efforts should focus on strengthening the governance of specialist doctor resources, interunit coordination, pharmacy services, supporting facilities, and service communication.
Read More
B-2617
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Magdalena; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Junadi, Helma Meuthia
Abstrak: Penelitian ini bertujuan merancang usulan perbaikan efektivitas dan efisiensi pelayanan radiologi RS Pusat Otak Nasional dengan menerapkan metode constraint lean six sigma. Penelitian ini dirancang dengan desain kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif didapat dari hasil observasi lamanya waktu pelayanan radiologi di RS Pusat Otak Nasional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 sampel. Hasil penelitian ini yaitu rata-rata lead time pelayanan sebesar 2 jam 13 menit. Waktu NVA tertinggi terdapat pada siklus pengolahan ekspertise. Waktu NVA tertinggi terdapat pada jenis waste yaitu waiting dan processing. Penyebab utama NVA pada kedua waste tersebut adalah PACS system error dan waktu tunggu hasil baca foto/scaning. Hasil penelitian menemukan 7 sampel memiliki waktu tunggu pelayanan radiologi > 3 jam. Sebesar 57% dari total defect pelayanan dikontribusi oleh pemeriksaan di luar jam kerja dan hari libur. Usulan perbaikan yang diperlukan yaitu Standardize work berupa Standar Prosedur Operasional (SPO) pengiriman foto/scaning pemeriksaan CITO di luar jam kerja dan hari libur, evaluasi rutin alat PACS, dan penerapan radiology information system (RIS) yang terintegrasi.
Kata Kunci : Pelayanan Radiologi; Constraint; Lean Six Sigma; Waste

This study aims to design a proposal to improve the effectiveness and efficiency of radiology service of National Brain Hospital by applying the method of constraint lean six sigma. This research is designed with qualitative and quantitative design. Quantitative data obtained from the observation of the length of time radiology services at National Central Medical Center. The sample size is 30 samples. The results of this study is the average service lead time of 2 hours 13 minutes. The highest NVA time is in the experimental processing cycle. The highest NVA time is in the type of waste that is waiting and processing. The main causes of NVA in both waste are PACS system error and waiting time of reading radiograph. The results of the study found 7 samples have radiology service waiting time > 3 hours. 57% of the total service defect was contributed by after hours and holidays. The proposed improvements required are Standardize work in the form of Standard Operating Procedures (SPO) of sending radiograph CITO in after hours and holidays, routine quality control of PACS tools, and integrated radiology information system (RIS) application.
Keyword : Radiology Service; Constraint; Lean Six Sigma; Waste
Read More
S-9858
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adeline Tjahjanto; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Suprijanto Rijadi, Wawat Setiamiharja
Abstrak: Waktu tunggu yang lama di rawat jalan akan menghambat pelayanan, dan akanberdampak pada antrian yang menumpuk, serta mengakibatkan pelayanan menjaditidak efisien. Penelitian dengan metode kualitatif ini mengobservasi waktu yangdigunakan oleh pasien selama berada di Rumah Sakit dan bertujuan untukmeningkatkan efisiensi pelayanan rawat jalan di Rumah Sakit Sumber WarasCiwaringin dengan metode lean.Hasil penelitian menunjukkan, 90% waktu pelayanan merupakan kegiatan nonvalue added dan hanya 10% yang merupakan kegiatan value added. Usulanperbaikan dengan metode lean, yang dilakukan secara simulatif, menghasilkanperbaikan pada proses pelayanan rawat jalan dengan menurunkan kegiatan nonvalue added menjadi 70,59% dan meningkatkan kegiatan value added menjadi 29,41%.
Kata kunci: waktu tunggu, metode lean, kegiatan value added, kegiatan non valueadded.
Long waiting times in the outpatient care would hamper the service, have an impacton queues and will end up with an inefficient service. This qualitative research,using the lean method, observed the time spent by the outpatients while in hospitalwith the aim to improve the efficiency of outpatient services at the Sumber WarasHospital Ciwaringin with lean method.The results showed that 90% of the service time is non-value added activities andonly 10% is counted as value added activities. Simulation is applied and has leadto improvement in the process of outpatient services by decreasing the non valueadded activities to 70,59% and increasing the value added activities to 29,41%
Keywords: waiting time, lean methods, activities of value added, non-value addedactivities.
Read More
B-1755
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Krisna Wanti Iswandari; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Adang Bachtiar, Puput Oktamianti, Ricky Agusiady
Abstrak:

Abstrak Dalam usaha untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit QADR Tangerang khususnya unit rawat jalan adalah dengan mendengarkan suara pelanggan yang  menggunakan Metode SERVQUAL – Quality Function Deployment (QFD). Metode SERVQUAL yang terfokus dalam lima dimensi mutu yaitu keandalan, keyakinan, responsif, empati dan berwujud merupakan dasar dalam pembuatan rumah mutu penyebaran fungsi berkualitas/QFD. Selanjutnya desain mutu pelayanan dimasukkan dalam rumah mutu, yang merupakan salah satu alat manajemen mutu yang sudah terbukti dan banyak digunakan di negara maju sebagai alat untuk menterjemahkan suara pelanggan ke dalam bahasa teknis. Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain mutu pelayanan di unit rawat jalan rumah sakit QADR dengan berdasarkan suara pelanggan menggunakan metode SERVQUAL–QFD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan responden sebanyak 100 pelanggan eksternal, dan 50 responden dari bagian manajemen dan petugas rawat jalan. Hasil akhir rumah mutu adalah (1). RS QADR memiliki sistem komunikasi yang baik, (2) Kerjasama dalam memberikan pelayanan yang efektif, (3) Interaksi dan evaluasi rutin antara manajemen, petugas dan pelanggan, (4) Identifikasi kebutuhan dan harapan pelanggan, (5) Promosi yang dilakukan RS QADR. Kata kunci: Service Quality (SERVQUAL), Penyebaran Fungsi Bermutu, Rumah mutu


Abstract In term to elevate service quality in QADR Hospital particularly its outpatient unit with involving voice of customer is using SERVQUAL – Quality Function Deployment (QFD) method. SERVQUAL method is focusing into five dimensions of service quality; Realiability, Assurance, Responsiveness, Empathy and Tangibles, which are the based for making House of Quality in Quality Function Deployment (QFD). QFD is a part of quality management that has been used by some developed countries to translate voice of customer both internal and external into technical aspect of services. This research’s purpose is designing a service quality in outpatient unit of QADR Hospital based on voice of customer using SEVQUAL-QFD methode. This research used both quantitative and qualitative approaches, designed toward 100 respondents (external customers) and 50 internal customers (managements and outpatient staffs). The results of House of Quality produces the following priorities: (1). Improving QADR Hospital organization’s communication, (2). Cooperation, in term to deliver efective services, (3). Interaction and evaluation routinely amongst managemenst, outpatient staffs and customers, (4). Identification of customers need and expectation, (5). Promotion of QADR Hospital. Key Words: Service Quality (SERVQUAL), Quality Function Deployment (QFD), House of Quality

Read More
B-1281
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Emmy Ridhawaty Mangunsong; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Adang Bachtiar, Indah Rosana Djajadiredja, Amila Megraini
Abstrak: ABSTRAK Mutu pelayanan didefinisikan sebagai perbedaan antara harapan dengan kenyataan yang diterima pelanggan. Pelanggan disini terbagi dua yaitu pelanggan eksternal dan pelanggan internal. Pelanggan eksternal adalah masyarakat (individu atau kelompok) atau institusi pengguna jasa pelayanan kesehatan sedangkan pelanggan internal adalah mereka yang bekerja di institusi pelayanan tersebut. Peningkatan mutu pelayanan sangat dibutuhkan agar dapat memenuhi harapan pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan pelanggan eksternal dan internal di unit rawat jalan RSUD Maba berdasarkan lima dimensi SERVQUAL dan juga untuk mengetahui desain mutu pelayanan dengan menggunakan metode SERQUAL-QFD. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Jumlah sampel pada pelanggan eksternal yaitu 125 sampel dan pelanggan internal 30 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan pelanggan eksternal berdasarkan skor SERVQUAL terbesar terletak pada dimensi keandalan. Kebutuhan pelanggan internal terbesar yang tertuang dalam aspek teknis pelayanan adalah pengganggaran keuangan yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Hasil pengembangan desain rumah mutu QFD didapatkan prioritas pertama pada aspek fokus pada kebutuhan pelanggan. Kata Kunci : mutu pelayanan, SERVQUAL, QFD, desain rumah mutu Quality of service is defined as the difference between expectation and reality received by the customer. Customers here are divided into two: external customers and internal customers. External customers are communities (individuals or groups) or institutions of users of health care services, internal customers are those who work in the service institution. Improved quality of service is needed to meet customer expectations. This study aims to determine the needs of external and internal customers in the outpatient unit RSUD Maba based on five dimensions of SERVQUAL and also to know the design of service quality using SERQUAL-QFD method. This research is a cross sectional research with quantitative and qualitative methods. The number of samples on external customers are 125 samples and internal customers 30 samples. The results show that the external customer needs based on the largest SERVQUAL score lies in the dimensions of reliability. The greatest internal customer requirement as stated in the technical aspects of service is the appropriate financial budgeting according to need. The result of the development of QFD quality house design got the first priority on the focus aspect on customer requirement. Keyword : service quality, SERVQUAL, QFD, house of quality
Read More
B-2035
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dima Lintya Siti Karima Zahra; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Purnawan Junadi, Amal Chalik Sjaaf, Slamet Effendy, Nitya Pandusarani
B-1774
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusuma, A.A.N. Jaya
Abstrak: Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap lamanya waktu pelayanan gawat darurat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Sanglah Denpasar tahun 2012, dimana kondisi ini mempunyai potensi untuk terjadinya kejadian yang terjadi kejadian yang tidak diharapkan dan menurunkan kepuasan pasien. Penelitian dilakukan dengan rancangan kuantitatif dan kualitatif. Dilakukan observasi terhadap 450 pasien dalam kurun waktu 14 Januari sampai 19 Januari 2013 dengan pendekatan Constraint Lean Six sigma dicari penyebab, hambatan, pemborosan serta defek pada proses pelayanan pasien gawat darurat. Median waktu pelayanan gawat darurat sebesar 219 menit, penyebab lamanya waktu pelayanan oleh karena itu belum ada panduan praktek klinik kegawatdaruratan, hambatan pada pelayan radiologi, pemborosan terjadi pada waktu tunggu antara penegakkan diagnosis ke tindakan dan antara tindakan ke keputusan untuk keluar dari Instalasi Gawat Darurat. Level kualitas sigma sebesar 2,9 sigma dengan defek sebesar 86.762 DPMO. Diperlukan panduan praktek klinik untuk memandu proses pelayanan gawat darurat agar menjadi efektif, efisien dan aman untuk pasien dan proses bisnis rumah sakit.
Read More
B-1508
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Nyoman Ari Wijaya; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Pujiyanto, Heri Iswanto, Muhammad Baharuddin
Abstrak: Pelayanan Farmasi merupakan pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan rumah sakit. Lamanya waktu tunggu di farmasi akan memengaruhi mutu layanan di rumah sakit secara menyeluruh. Demikian juga di RSU Bali Royal, didapatkan waktu tunggu diatas dari standar pelayanan minimal rumah sakit. Lamanya waktu tunggu di farmasi rawat jalan disebabkan belum berjalannya manajemen mutu yang baik di RSU Bali Royal. Peneitian ini akan melihat bagaimana proses pelayanan farmasi rawat jalan dengan menggunakan metode lean, di tahun 2017 dengan observational action process research, dengan melakukan observasi terhadap 15 pasien dari bulan oktober 2017 sampai dengan Januari 2018 di farmasi rawat jalan RSU Bali Royal, dengan melihat waste yang ada. Ditemukan kegiatan yang bersifat value added sebesar 45,65% dan kegiatan non value added (waste) sebesar 54,28%. Waste yang banyak ditemukan adalah waste waiting dan waste defect. Eliminasi waste yang sudah ditemukan dengan implementasi intervensi antara lain: memindahkan konter kasir, merubah lay out farmasi, membuat loket antara konter farmasi dengan ruang pengerjaan obat mengunci pintu ruang farmasi dan merubah alur layanan farmasi rawat jalan, sehingga kegiatan non value added dapat di eliminasi menjadi 18,28% dan kegiatan value added menjadi 81,72%. Dari segi outcome dapat dilihat adanya perbaikan waktu tunggu, perbaikan kepuasan pelanggan, peningkatan kunjungan dan peningkatan omset di farmasi. Peneitian ini menyimpulkan adanya peningkatan mutu layanan setelah dilakukan perbaikan proses pelayanan farmasi rawat jalan dengan menggunakan metode lean.
Kata kunci : Mutu; Lean; Farmasi

Pharmaceutical Services is a service that cannot be separated from hospital services. The length of waiting time in the pharmacy will satisfy the overall quality of hospital services. Currently the waiting time in Bali Royal Hospital pharmacy for out patient is still above the standard waiting time, which is not in accordance with the hospital guidelines. The standard waiting time for outpatient pharmacy cannot be achieved due to lack of quality management at RSU Bali Royal. This study will look at how the process of outpatient pharmacy service using lean method, in 2017 with observational action process research, by observing 15 patients from October 2017 to January 2018 at outpatient pharmaceutical RSU Bali Royal, by looking at the waste. It is founded that there are 45.65% value added activities and non-value added activities (vaste) of 54.28%. Most of the wastes that are found are waste waiting and waste defect. Elimination of waste that has been done by the implementation of intervention, among others: moving cashier counters, changing the lay out of pharmacy, making counter between the pharmaceutical counter with space lock pharmaceutical door lock and change in outpatient pharmacy service, so that non value added activities can be eliminated to 18.28% and value added activities to 81.72%. In terms of outcome can be seen the improvement of waiting time, improvement of customer satisfaction, increased visits and increased turnover in pharmacy. This study concludes that there is a significant improvement of service quality after the refinement of outpatient pharmacy service process using lean method.
Keyword : Quality; Lean; Pharmacy
Read More
B-2003
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Elawati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh Basabih, Vetty Yulianty Purnamasari, Elga Ria Vinensa, Adriansyah
Abstrak:
Pendahuluan: Waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan non racikan dan racikan di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada belum mencapai standar nasional yaitu ≤30 menit untuk obat non racikan dan ≤60 menit obat racikan sehingga masih menjadi keluhan bagi RS. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu tunggu pelayanan obat dengan menggunakan konsep Lean Hospital di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada. Metode: Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan action research, pengambilan data dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2022 di Instalasi Farmasi Rawat Jalan. Sampel yang diambil berjumlah 98 resep obat non racikan dan 100 obat racikan. Pengamatan langsung menggunakan lembar observasi VSM dan lembar waste, wawancara dengan informan menggunakan lembar wawancara. Analisis kuantitatif menggunakan SPSS dan kualitatif dengan mengolah data primer, sekunder dan wawancara. Hasil: Pada kondisi current state waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan setiap 1 resep (lead time) untuk resep non racikan adalah 63,54 menit dari standar nasional ≤ 30 menit dengan waste 87,5% nya, sedangkan lead time untuk resep racikan adalah 106,5 menit dari standar nasional ≤ 60 menit dengan waste 81,82%. Pada analisa kegiatan non value added terdapat 22 kegiatan yang termasuk dalam waste, tertinggi ada pada kategori waste waiting dantransportation. Root cause analysis dengan metode 5 why’s menyimpulan bahwa akar masalah utama pada penelitian ini pada man. Kesimpulan: Dengan metode lean hospital dapat mengetahui capaian waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan, waste dan akar penyebab masalah hingga desain rancangan perubahan sebagai upaya perbaikan berupa desain perbaikan jangka pendek yaitu menggunakan lean kaizen, PDCA, 5S, Visual management dan heijunka, jangka menengah dan panjang. Kata kunci: Waktu tunggu obat, lean, Rawat Jalan, Farmasi

Pendahuluan: Waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan non racikan dan racikan di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada belum meIntroduction: The waiting time for non compounding and compounding outpatient services at the Pharmacy Installation of Mitra Husada Hospital has not yet reached the national standard, namely 30 minutes for non compounding drugs and 60 minutes for compounding drugs so it is still a complaint for hospitals. This study aims to analyze the waiting time for drug services using the Lean Hospital concept at the Pharmacy Installation of Mitra Husada Hospital. Methods: This research is descriptive qualitative with action research, data collection was carried out in May and June 2022 at the Outpatient Pharmacy Installation. The samples taken amounted to 98 non compounding drug prescriptions and 100 compounding drugs. Direct observations using VSM observation sheets and waste sheets, interviews with informants using interview sheets. Quantitative analysis using SPSS and qualitative by processing primary, secondary and interview data. Results: In the current state, the time required for service for every 1 recipe (Lead Time) for non-compounding recipes is 63.54 minutes from the national standard 30 minutes with 87.5% waste, while the Lead Time for compounding recipes is 106, 5 minutes from the national standard 60 minutes with 81.82% waste. In the analysis of non-value added activities there are 22 activities that are included in the waste, the highest is in the category of waste waiting and transportation. Root cause analysis with the 5 why's method concludes that the main root cause of this research is man. Conclusion: With the lean hospital method, we can find out the waiting time for outpatient drug services, waste and the root causes of the problem to the design of the change design as an improvement effort in the form of short,with lean kaizen, PDCA, 5S, Visual management and heijunka tools and medium and long term improvement designs. Key words: Drug waiting time, lean, Outpatient, Pharmacyncapai standar nasional yaitu ≤30 menit untuk obat non racikan dan ≤60 menit obat racikan sehingga masih menjadi keluhan bagi RS. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu tunggu pelayanan obat dengan menggunakan konsep Lean Hospital di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada. Metode: Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan action research, pengambilan data dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2022 di Instalasi Farmasi Rawat Jalan. Sampel yang diambil berjumlah 98 resep obat non racikan dan 100 obat racikan. Pengamatan langsung menggunakan lembar observasi VSM dan lembar waste, wawancara dengan informan menggunakan lembar wawancara. Analisis kuantitatif menggunakan SPSS dan kualitatif dengan mengolah data primer, sekunder dan wawancara. Hasil: Pada kondisi current state waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan setiap 1 resep (lead time) untuk resep non racikan adalah 63,54 menit dari standar nasional ≤ 30 menit dengan waste 87,5% nya, sedangkan lead time untuk resep racikan adalah 106,5 menit dari standar nasional ≤ 60 menit dengan waste 81,82%. Pada analisa kegiatan non value added terdapat 22 kegiatan yang termasuk dalam waste, tertinggi ada pada kategori waste waiting dantransportation. Root cause analysis dengan metode 5 why’s menyimpulan bahwa akar masalah utama pada penelitian ini pada man. Kesimpulan: Dengan metode lean hospital dapat mengetahui capaian waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan, waste dan akar penyebab masalah hingga desain rancangan perubahan sebagai upaya perbaikan berupa desain perbaikan jangka pendek yaitu menggunakan lean kaizen, PDCA, 5S, Visual management dan heijunka, jangka menengah dan panjang. Kata kunci: Waktu tunggu obat, lean, Rawat Jalan, Farmasi
Read More
B-2277
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
ARS Agustiningsih; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Suprijanto Rijadi, Purnawan Junadi, Endang Adriyani
B-1345
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive