Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39273 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Roid Abbadfitrah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Abdul Kadir, Laksita Ri Hastiti, Tubagus D. Yuantoko , Agung Supriyadi
Abstrak:
Lost Time Injury Frequency Rate (LTIFR) merupakan indikator yang umum digunakan untuk mengukur kinerja keselamatan di industri berisiko tinggi, namun sifatnya yang lagging dan rentan terhadap underreporting menimbulkan keraguan atas kesesuaiannya sebagai satu-satunya KPI keselamatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian LTIFR sebagai KPI keselamatan di PT X, sebuah perusahaan sektor ketenagalistrikan, dengan menganalisis determinan organisasional dan individual yang berhubungan dengan kesesuaian pelaporan kecelakaan kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-asosiatif yang memadukan data sekunder (laporan historis LTIFR perusahaan) dan data primer dari kuesioner terhadap 738 responden. Variabel yang diteliti meliputi Sistem Manajemen Keselamatan, Karakteristik Responden, dan Budaya Pelaporan sebagai determinan organisasional dan individual, serta indikasi underreporting sebagai proksi kesesuaian LTIFR. Analisis dilakukan dengan statistik deskriptif dan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara angka LTIFR resmi dengan kondisi pelaporan di lapangan: LTIFR resmi PT X tahun 2025 tercatat sebesar 0,048 dan melampaui target, namun 15,3% responden yang mengalami kejadian menyatakan tidak melaporkannya kepada manajemen, dan 13,3% menunjukkan ketidaksesuaian jawaban terkait kejadian kecelakaan. Sistem Manajemen Keselamatan berhubungan signifikan dengan Budaya Pelaporan (χ² = 123,93; p < 0,001; Cramer’s V = 0,41), demikian pula pemahaman individu sebagai salah satu dimensi Karakteristik Responden (χ² = 121,95; p < 0,001; Cramer’s V = 0,41), sedangkan dimensi tingkat pendidikan dan masa kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Budaya Pelaporan juga berhubungan signifikan dengan indikasi underreporting (χ² = 10,097; p = 0,001; Cramer’s V = 0,122) dengan kekuatan asosiasi lemah. Penelitian menyimpulkan bahwa LTIFR belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi keselamatan kerja yang sebenarnya di lapangan, sehingga tidak direkomendasikan untuk dihapus, melainkan perlu diimbangi dengan leading indicators pelaporan agar gambaran kinerja keselamatan menjadi lebih utuh dan akurat dalam mencerminkan paparan risiko nyata di lapangan.

Lost Time Injury Frequency Rate (LTIFR) is a widely used indicator for measuring safety performance in high-risk industries; however, its lagging nature and susceptibility to underreporting raise concerns about its conformity as the sole safety KPI. This study aims to evaluate the conformity of LTIFR as a safety KPI at PT X, a company in the electricity sector, by analyzing organizational and individual determinants associated with the conformity of occupational accident reporting. The study employed a quantitative descriptive-associative approach combining secondary data (the company's historical LTIFR reports) and primary data from a questionnaire administered to 738 respondents. The variables examined were the Safety Management System, Respondent Characteristics, and Reporting Culture as organizational and individual determinants, as well as the level of underreporting as a proxy for LTIFR conformity. The data were analyzed using descriptive statistics and the chi-square test. The results reveal a gap between the official LTIFR figure and the actual reporting conditions in the field: PT X's official LTIFR for 2025 was recorded at 0.048 and exceeded the target, yet 15.3% of respondents who experienced an incident stated that they did not report it to management, and 13.3% showed inconsistencies in their responses regarding accident occurrences. The Safety Management System was significantly associated with Reporting Culture (χ² = 123.93; p < 0.001; Cramer’s V = 0.41), as was individual understanding as one dimension of Respondent Characteristics (χ² = 121.95; p < 0.001; Cramer’s V = 0.41), whereas the dimensions of education level and length of service showed no significant association. Reporting Culture was also significantly associated with the level of underreporting (χ² = 10.097; p = 0.001; Cramer’s V = 0.122), with a weak strength of association. The study concludes that LTIFR does not yet fully represent the actual occupational safety conditions in the field, and therefore its elimination is not recommended; rather, it needs to be complemented with reporting leading indicators so that the depiction of safety performance becomes more complete and accurate in reflecting real risk exposure.
Read More
T-7660
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puti Afifah Sholeha; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Ahmad Afif Mauludi, Putri Pujianti
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. PT X mengimplementasikan Mobile Apps pelaporan K3, namun efektivitasnya belum dievaluasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas aplikasi tersebut melalui kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (UTAUT2), dampaknya terhadap Safety Behavior pekerja, serta analisis leading dan lagging indicators keselamatan. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional (Maret–Mei 2026) di PT X, Kabupaten Tapin. Sampel terdiri dari 10 pakar manajemen (TELOS) dan 243 pekerja (UTAUT2 dan Safety Behavior). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan PLS-SEM dengan SmartPLS. Hasil TELOS berkategori Baik (grand mean 4,10) dan seluruh variabel UTAUT2 berada pada kategori Setuju. Uji PLS-SEM menunjukkan Hedonic Motivation dan Habit berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention (R² = 0,776), sedangkan Habit, Behavioral Intention, dan Facilitating Conditions berpengaruh signifikan terhadap Use Behavior (R² = 0,731). Use Behavior berdampak positif-signifikan terhadap Safety Compliance dan Safety Participation, menempatkan Safety Behavior pada level sangat baik. Analisis leading indicator menunjukkan Rate Pemenuhan QSAP menurun dari 104,46% pada tahun 2024 menjadi 101,08% pada tahun 2025, atau turun 3,38 poin persentase, meskipun kedua capaian tetap melampaui target 100%. Analisis lagging indicators menunjukkan Frequency Rate (FR) Nearmiss meningkat dari 1,86 menjadi 3,13 dan Property Damage dari 1,46 menjadi 4,00; FR Fire Case menurun dari 0,53 menjadi 0,17, sedangkan MTI, LTI, dan Fatality tetap 0,00. Kesimpulannya, Mobile Apps PT X terbukti efektif pada tingkat kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (Behavioral Intention), dan perilaku keselamatan individu (Safety Compliance dan Safety Participation), namun belum sepenuhnya efektif pada tingkat kinerja keselamatan organisasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan leading indicator dan kenaikan FR pada Nearmiss serta Property Damage. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas sistem informasi keselamatan perlu dinilai secara berjenjang, dari kelaikan teknologi hingga dampak nyata pada kinerja organisasi, dan bahwa penguatan pada dimensi organisasi (mekanisme tindak lanjut, konsistensi reward-punishment, dan kepemimpinan) menjadi kunci untuk menutup kesenjangan tersebut.

The mining industry is a high-risk sector for occupational accidents. PT X implemented Mobile Apps for OHS reporting, but its effectiveness has not been comprehensively evaluated. This study aims to evaluate the application's effectiveness across system feasibility (TELOS), user acceptance (UTAUT2), its impact on workers' Safety Behavior, and safety leading and lagging indicators. A quantitative descriptive-explanatory design with a cross-sectional approach was conducted from March to May 2026 at PT X, Tapin Regency. The sample included 10 managerial experts (TELOS) and 243 workers (UTAUT2 and Safety Behavior). Data were analyzed using descriptive statistics and PLS-SEM via SmartPLS. TELOS results showed a Good category (grand mean 4.10) and all UTAUT2 variables were in the Agree category. PLS-SEM results showed that Hedonic Motivation and Habit significantly influenced Behavioral Intention (R² = 0.776), while Habit, Behavioral Intention, and Facilitating Conditions significantly influenced Use Behavior (R² = 0.731). Use Behavior had a positive and significant effect on Safety Compliance and Safety Participation, placing Safety Behavior at a very good level. Leading-indicator analysis showed that the QSAP Fulfillment Rate declined from 104.46% in 2024 to 101.08% in 2025, a decrease of 3.38 percentage points, although both values remained above the 100% target. Lagging-indicator analysis showed that the Frequency Rate (FR) for Nearmisses increased from 1.86 to 3.13 and Property Damage from 1.46 to 4.00; the FR for Fire Cases declined from 0.53 to 0.17, while MTI, LTI, and Fatality remained at 0.00. In conclusion, Mobile Apps at PT X proved effective at the system feasibility, user acceptance, and individual safety behavior levels (Safety Compliance and Safety Participation), but was not yet fully effective at the organizational safety performance level, as indicated by the decline in the leading indicator and the increased FR for Nearmisses and Property Damage. This finding indicates that the effectiveness of a safety information system must be assessed in a tiered manner, and that strengthening organizational-level factors (corrective follow-up mechanisms, reward-punishment consistency, and leadership) is key to closing this gap.
Read More
T-7641
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahyanti Rahmasari Mahaputri; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Perdana Gutomo Putra
Abstrak:
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan hilangnya hari kerja atau Lost Time Injury (LTI) merupakan tantangan serius dalam menjaga keselamatan kerja dan efisiensi operasional perusahaan, khususnya di sektor logistik yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab kecelakaan kerja kategori LTI di Grup Perusahaan X tahun 2024 dari sudut pandang faktor manusia menggunakan pendekatan Human Factors Analysis and Classification System (HFACS) yang berdasar teori Swiss Cheese Model. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif melalui telaah laporan investigasi kecelakaan dan wawancara kepada key person. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lubang terbesar atau faktor dengan jumlah kejadian terbanyak terhadap kasus LTI antara lain, dalam kondisi laten adalah organizational culture, planned inappropriate operations, physical environment dan tools/technology, sedangkan dalam kegagalan aktif adalah skill-based errors. Diperlukan perbaikan sistem kerja dari sisi organisasi maupun individu agar tercipta lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan.


Workplace accidents resulting in Lost Time Injury (LTI) pose a serious challenge in maintaining occupational safety and operational efficiency, particularly in the logistics sector, which is known for its high level of risk. This study aims to analyze the causes of LTI-category workplace accidents in Group Company X in 2024 from the perspective of human factors using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS), which is based on the Swiss Cheese Model theory. A descriptive-analytic method with a qualitative approach was employed through the review of accident investigation reports and interviews with key persons. The findings reveal that the most significant contributing factors to LTI cases include, under latent conditions: organizational culture, planned inappropriate operations, physical environment, and tools/technology; while under active failures, the dominant factor is skill-based errors. Improvements in work systems, both at the organizational and individual levels, are necessary to create a safer and more sustainable work environment.
Read More
S-12088
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Putri; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Jayadi Pide
Abstrak:
Industri pertambangan dipandang sebagai kategori industry dengan risiko tinggi. Jenis kecelakaan tambang lost time injury dan fatality merupakan kecelakaan dengan dampak major terhadap Grup Perusahaan X. Meskipun telah memiliki pedoman teknis pelaporan dan investigasi insiden serta dilakukan tindakan perbaikan, kecelakaan masih terus terjadi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tren penyebab kecelakaan tambang dan kelemahan sistem pertahanan berdasarkan konsep Human Factors Analysis Classification System in Mining Industry (HFACS-MI) di Grup Perusahaan X tahun 2021-2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan semi kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan sistem pertahanan active faiure yang sering ditemukan adalah tingkat unsafe acts kategori skill-based error. Sedangkan kelemahan sistem pertahanan latent failure yang sering ditemukan adalah tingkat unsafe leadership kategori inadequate leadership. Peneliti menyimpulkan bahwa masih banyak kelemahan pada sistem pertahanan active dan latent failure sehingga pencegahan kecelakaan masih belum optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan di setiap tingkat sistem pertahanan, baik yang ditargetkan kepada individu maupun organisasi, agar kecelakaan dapat dicegah dan risiko kecelakaan dapat dikendalikan

The mining industry has been viewed as a high-risk industry. Types of mining accidents, such as lost time injuries and fatalities, have a significant impact at both the individual and organizational levels. Despite Group Company X having technical guidelines for incident reporting and conducting investigations with corrective actions, accidents continue to occur. Therefore, this study aims to identify trends in the causal factors of mining accidents and find weaknesses in defense systems based on the Human Factors Analysis Classification System in the Mining Industry (HFACS-MI) method. This research method uses an analytical descriptive approach with a semi-quantitative method. The results show that the most common weakness in the active failure defense system is the occurrence of unsafe acts in the skill-based error category. Additionally, the most common weakness in the latent failure defense system is inadequate leadership in the leadership category. The study concludes that there are still numerous weaknesses in the active and latent failure defense systems, which hinder optimal accident prevention. Improvements need to be made at all levels of the defense system, targeting both individuals and organizations, to prevent accidents and effectively control the risk of accidents.
Read More
S-11367
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurina Ayuningstyas; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Ike Pujiriani
S-7666
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stewart Pardamean Siagian; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Zahdi Sjaaf, Ardina Kusumawati, Narwoko
Abstrak: Sebagian besar kecelakaan serius salah satunya disebabkan oleh tidak ada penilaianrisiko sebelumnya. Tesis ini bertujuan untuk menciptakan pola pikir pengembanganprogram keselamatan dan indikator kinerja keselamatan yang proaktif berdasarkanHIRADC agar terciptanya kondisi lingkungan kerja yang aman dan terhindar darikecelakaan kerja. Metode analisis penilaian risiko yang digunakan adalah semikuantitatif sesuai dengan standard AS/NZS 4360 : 2004 sedangkan analisis evaluasikesesuaian dilakukan secara deskriptif analitik berdasarkan observasi lapangan,wawancara dan penelahaan dokumen.
Berdasarkan hasil identifikasi bahaya danpenilaian risiko kerja PT XYZ didapat bahwa Departemen PPIC dan Produksi yangmemiliki aktivitas pekerjaan berisiko tinggi yang terbanyak. 47 tindakanPengendalian yang sudah dilakukan dan 29 tindakan yang belum direncanakan olehmanajemen workshop. Berdasarkan evaluasi kesesuaian HIRADC dengan datainvestigasi kecelakaan terdapat 10 aktivitas pekerjaan menjadi berisiko tinggi. 16program keselamatan kerja sesuai dengan pengendalian pada HIRADC diworkshop dan 10 program prioritas utama perlu dilakukan perbaikan. 15 indikatoryang dapat menjadi indikator kinerja keselamatan sesuai dengan program kerjakeselamatan.
Kata kunci: Penilaian risiko, Program keselamatan, Indikator kinerja keselamatan
Read More
T-5224
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naim Fathoni; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastitia, Fauzi Jatmiko, Mulyadi Alwi
Abstrak:
Industri pertambangan merupakan sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi sehingga diperlukan upaya pengendalian risiko yang efektif untuk meningkatkan kinerja keselamatan. Salah satu program yang diterapkan oleh PT X Kontraktor Tambang Batubara di Kalimantan Timur adalah Safety Friendly Program, yang terdiri atas kegiatan observasi keselamatan, inspeksi keselamatan, dan manajemen menyapa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Safety Friendly Program terhadap penurunan nilai Accident Frequency Rate (AFR) sebagai indikator kinerja keselamatan perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain time series comparative. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa laporan pelaksanaan Safety Friendly Program dan data statistik kecelakaan kerja periode Kuartal III Tahun 2025 hingga Kuartal I Tahun 2026. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan perangkat lunak statistik. Uji normalitas dilakukan menggunakan metode Shapiro-Wilk sebelum pengujian hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Safety Friendly Program dilaksanakan secara konsisten selama periode penelitian. Aktivitas observasi, inspeksi, dan manajemen menyapa menunjukkan keterlibatan aktif manajemen dan pekerja dalam upaya peningkatan keselamatan kerja. Pada periode yang sama, nilai AFR menunjukkan tren penurunan dari 10,57 pada Kuartal III Tahun 2025 menjadi 8,02 pada Kuartal IV Tahun 2025 dan 3,07 pada Kuartal I Tahun 2026. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan Safety Friendly Program berkontribusi terhadap penurunan frekuensi kecelakaan kerja selama periode intervensi. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa Safety Friendly Program efektif sebagai upaya preventif dalam meningkatkan kinerja keselamatan dan menurunkan nilai Accident Frequency Rate (AFR) pada PT X Kontraktor Tambang Batubara di Kalimantan Timur. Program ini dapat dijadikan strategi berkelanjutan dalam memperkuat budaya keselamatan, meningkatkan partisipasi pekerja, dan mendukung pencapaian target zero accident.

The mining industry is recognized as a high-risk sector with significant  occupational accident potential, requiring effective risk control measures to  improve safety performance. One of the initiatives implemented by PT X, a coal  mining contractor in East Kalimantan, is the Safety Friendly Program, which  consists of safety observations, safety inspections, and management engagement  activities (management walk-around). This study aims to analyze the effectiveness  of the Safety Friendly Program in reducing the Accident Frequency Rate (AFR) as  an indicator of organizational safety performance. This study employed a quantitative approach using a comparative time-series  design. Secondary data were collected from Safety Friendly Program  implementation reports and occupational accident statistics covering the period  from the third quarter of 2025 to the first quarter of 2026. Data analysis was  conducted using univariate, bivariate, and multivariate statistical methods. A  Shapiro-Wilk normality test was performed prior to hypothesis testing. The results indicate that the Safety Friendly Program was implemented  consistently throughout the study period. Safety observation activities,  inspections, and management engagement demonstrated active participation from  both management and workers in promoting workplace safety. During the same  period, the AFR showed a declining trend, decreasing from 10.57 in the third  quarter of 2025 to 8.02 in the fourth quarter of 2025 and further to 3.07 in the  first quarter of 2026. These finding indicates that the implementation of the Safety  Friendly Program contributed to a reduction in the frequency of work-related  accidents during the intervention period. The study concludes that the Safety Friendly Program is an effective preventive  strategy for improving safety performance and reducing the Accident Frequency  Rate (AFR) at PT X. The program can serve as a sustainable approach to  strengthening safety culture, increasing worker participation, and supporting the  achievement of a zero-accident objective.
Read More
T-7671
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyagita Meyril Rahmadhani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila TejamayaLaksita Ri Hastiti, Irma Primadiati Afifka, Wahyudin Lihawa
Abstrak:
Pelaporan Observasi Keselamatan (POK) diterapkan di industri minyak dan gas di PT.X, Provinsi Riau untuk mencoba mengurangi angka kejadian kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pelaporan observasi keselamatan kerja sebagai alat yang digunakan untuk mengurangi angka kecelakaan. POK ini merupakan hasil modifikasi dari STOP Cardnya DuPont. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yang berfokus pada kajian pelaporan observasi keselamatan kerja. Angka kejadian kecelakaan juga dikumpulkan untuk dibandingkan dengan jumlah pelaporan observasi keselamatan. Kuesioner sebanyak 15 pertanyaan juga diberikan kepada 50 pekerja untuk melihat persepsi pekerja terhadap POK yang diterapkan. Scatterplots digunakan untuk menetapkan korelasi antara penerbitan pelaporan dan kejadian kecelakaan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaporan observasi keselamatan berkaitan dengan penurunan kejadian kecelakaan. Pelaporan observasi keselamatan secara positif memengaruhi pola pikir pekerja terhadap praktek kerja aman. Namun, perlu diperhatikan oleh managemen perusahaan terkait penyelesaian status temuan (finding) pelaporan observasi keselamatan yang statusnya masih tertunda penyelesaiannya

Safety Observation Reporting (POK) is implemented in the oil and gas industry at PT X, Riau Province to try to reduce the number of work accidents. The purpose of this study is to examine the safety observation reporting as a tool used to reduce the number of accidents. This POK is a modified version of the DuPont STOP Card. This study uses a descriptive analysis method that focuses on the study of safety observation reporting. Accident figures were also collected to compare with the number of safety observation reporting. A questionnaire of 15 questions was also given to 50 workers to observe workers' perceptions of the applied POK. Scatterplots are used to establish the correlation between issuance reporting and occupational accident incidents. The results showed that the safety observation reporting was associated with a reduction in the occurrence of accidents. Safety observation reporting positively influences the mindset of workers towards implemented safe work practices. However, company management needs to pay attention to the completion of finding progress status of safety observation reporting whose completion status is still pending
Read More
T-6067
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agata Laras Kinanthi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Dwitya Dhanurendra
Abstrak:
Industri konstruksi merupakan sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi sehingga memerlukan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesesuaian implementasi SMK3 terhadap persyaratan ISO 45001:2018 di Proyek X PT Y Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kuantitatif dengan studi deskriptif komparatif dan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan metode skoring dan gap analysis berdasarkan klausul 4 sampai dengan klausul 10 ISO 45001:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi SMK3 di Proyek X PT Y memperoleh skor 111 dari skor maksimum 115 dengan tingkat kesesuaian sebesar 96,52%, sehingga termasuk kategori sangat sesuai. Klausul 4, 5, 6, 9, dan 10 memperoleh tingkat kesesuaian 100%, sedangkan Klausul 7 dan Klausul 8 masing-masing sebesar 92% dan 80%. Kesenjangan yang ditemukan meliputi belum tersedianya matriks kompetensi yang terdokumentasi secara sistematis, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan yang belum optimal, serta belum dilaksanakannya simulasi keadaan darurat. Secara keseluruhan, implementasi SMK3 di Proyek X PT Y telah memenuhi sebagian besar persyaratan ISO 45001:2018, namun masih diperlukan upaya perbaikan pada aspek kompetensi pekerja dan kesiapsiagaan tanggap darurat untuk mendukung peningkatan kinerja SMK3 secara berkelanjutan.

The construction industry is one of the sectors with the highest risk of occupational accidents, making the effective implementation of an Occupational Health and Safety Management System (OHSMS) essential. This study aimed to analyze the conformity level of OHSMS implementation with the requirements of ISO 45001:2018 at Project X of PT Y in 2026. A semi-quantitative approach was employed using a comparative descriptive study with a cross-sectional design Data were collected through field observations, interviews, and document reviews, and were analyzed using a scoring method and gap analysis based on Clauses 4 through 10 of ISO 45001:2018. The results showed that the implementation of the OHSMS at Project X of PT Y achieved a score of 111 out of a maximum score of 115, corresponding to a conformity level of 96.52%, which falls within the highly conforming category. Clauses 4, 5, 6, 9, and 10 achieved 100% conformity, while Clauses 7 and 8 achieved 92% and 80%, respectively. The identified gaps included the absence of a systematically documented competency matrix, suboptimal implementation and evaluation of training programs, and the lack of emergency response drills. Overall, the implementation of the OHSMS at Project X of PT Y complied with most of the requirements of ISO 45001:2018. However, improvements are still needed in worker competency management and emergency preparedness to further enhance the effectiveness and sustainability of the OHSMS.
Read More
S-12454
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kurniawan Salim; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Paulus Gunawan, Bing Wantoro
Abstrak:

Salah satu kegiatan untuk meningkatkan kualitas keselamatan kerja adalah dengan kornunikasi. Tesis ini menelusuri faktor-faktor kelemahan komunikasi keselamatan keda yang membawa dampak pada persepsi pelaporan new-miss dan képatuhan proscdur keselamatan kerja. Lalu, menentukan faktor dominan yang meniadi penyebab kelemahan komunikasi keselamatan. Penelitian ini bcrlandaskan pada Iaporan gap analysis yang dilakukan di PT Alphamma tahun 2003 yang mana komunikasi sistem manajemen keselamatan kerja dikategorikan kurang. Lebih lanj ut, gap analysis menyoroti tcntang kekurangan lainnya seperti prosedur tertulis, identifikasi bahaya, inspeksi dan ketrampilan operator. Permasalahan lain adalah tidak tercapainya 6 laporan near-miss per bulan dan masih ditcmukan tindakan tidak aman dalam menjalankan pekerjaan. Fokus pcnelilian adalah pada pcrscpsi penerima pcsan atas pesan keselamatan yang disampaikan oleh pengirim. Ini mcrupakan penelitian deskriptif-analitik dengan pcndckatan cros section. Tcrdapat ll variabel independen yang diteliti memiliki dampak pada persepsi penerima pesan terhadap pelaporan near-miss dan kepatuhan prosedur keselamalan. Analisis univarial, bivarial dan multivariat dilakukan pada 114 kuesioner (56% dari total populasi) yang mana rcsponden berasal dari beragam lingkalan dan departemcn di perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kclemahan dalam komunikasi keselamatan- Faktor frekuensi komunikasi dan perasaan lertekan (sig. = 0.000) berpengaruh besar sebagai hambatan pada pelaporan near-miss dan faktor dcfensif (sig. = 0.0l9) adalah faktor yang dominan berpengaruh pada tingkat kepatuhan prosedur keselamatan kerja. Temuan yang peming yailu bahwa kebanyakan responden masih memiliki tingkat kepercayaan yang baik pada pengirim pesan keselamatan. Penulis menyarankan pihak manajemen untuk lebih mengcdepankan kqmunikasi dua arah yang lebih efektif dan mcningkatkan frckwensi disertai pemilihan media komunikasi yang Iebih beragam untuk menjangkau semua Qapisan di dalam organisasi. Manajemen harus menunjukkan tindakan nyata yang mengarah pada perwujudan visi, misi dan program keselamatan kerja dengan inspeksi, pelatihan keselamatan kerja serta alokasi dana.


 

One instance to improve the quality of occupational safety was through communication. The thesis tracked down the safety communication weakness factors that created influences on the perception of near-miss reporting and the compliance to the Occupational safety procedures. In addition, it determined the dominant factors that had become the cause of safety communication weakness. The research was based on the gap analysis report which was performed in 2003 at PT Alpharma in which the communication of occupational safety management system was classified as deficient. Moreover, the gap analysis highlighted the other deficiencies such as written procedure, hazard identification, inspection and operator’s skill. The other problem was the target of 6 near~miss reports per month was not achieved and there were some findings of unsafe acts in performing the activities. Focus of the study was on the perception of the receivers about the safety messages sent out by the senders. This was a descriptive-analytical research with cross-sectional approach. There were ll independent variables analysed which had the impacts on receivers' perception towards near-miss reporting and compliance to safety procedures. The univariate, bivariate and multivariate analysis were carried out on I 14 questionnaires (56% of total population) where the respondents came from various levels and departments in the company. The results showed obvious weaknesses in safety communication. Factors such communication frequency and suppressing feeling of the receivers appeared to be significant barriers on near-miss reporting (sig. = 0.000) and defensive attitude gave big contribution (sig. * 0.0l9) to the safety procedure compliance level. An important finding was that most respondents had a high level of trust to the senders of safety messages. The author recommends the management to be more proactive in encouraging a more effective two-way communication and increase the communication frequency together with the varieties of communication media that can reach all layers in the organization. The management shall demonstrate the real implementation that aims tor the realization of occupational safety vision, missions and programs by inspections safety trainings and budget allocation.

Read More
T-2366
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive