Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35893 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitri Irianti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Robiana Modjo, Yusef Dwi Jayadi, Devie Fitri Octaviani
Abstrak:
Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang tinggi, tetapi kualitas pengungkapan K3 dalam laporan keberlanjutan perusahaan belum banyak dievaluasi. Penelitian ini bertujuan menilai kualitas pengungkapan K3 pada perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas pengungkapan tersebut. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori terhadap laporan keberlanjutan, laporan tahunan, dan laporan keuangan dari 28 emiten kelapa sawit selama periode 2022–2024. Kualitas pengungkapan diukur menggunakan indeks yang dikembangkan berdasarkan standar GRI 403:2018 dan POJK No. 51/POJK.03/2017. Analisis kuantitatif dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat, dilanjutkan analisis tematik kualitatif terhadap narasi pengungkapan K3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kualitas pengungkapan K3 sebesar 61,25 dengan variasi antarperusahaan yang besar. Pengungkapan didominasi informasi kebijakan, sistem, dan program (leading indicators), sementara data hasil aktual seperti angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (lagging indicators) masih terbatas. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kerangka pelaporan, external assurance, dan leverage memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kualitas pengungkapan K3. Sebaliknya, ukuran perusahaan, profitabilitas, kepemilikan institusional, dan independensi dewan komisaris tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas pengungkapan K3 lebih ditentukan oleh tata kelola pelaporan, kredibilitas informasi, dan akuntabilitas eksternal daripada karakteristik ekonomi perusahaan. Penguatan standar pelaporan K3 nasional dan mekanisme verifikasi independen diperlukan untuk mendorong pengungkapan K3 yang lebih substantif.

The palm oil industry is one of the sectors with a high level of occupational health and safety (OSH) risk, yet the quality of OSH disclosure in corporate sustainability reports remains underexamined. This study aims to assess the quality of OSH disclosure among palm oil companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) and to identify the factors associated with disclosure quality. The study employs a mixed-methods explanatory sequential design, examining the sustainability reports, annual reports, and financial statements of 28 palm oil issuers over the 2022–2024 period. Disclosure quality is measured using an index developed based on GRI 403:2018 and POJK No. 51/POJK.03/2017. Quantitative data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses, followed by a qualitative thematic analysis of the OSH disclosure narratives. The results show that the average OSH disclosure quality was 61.25, with considerable variation across companies. Disclosures were dominated by information on policies, systems, and programs (leading indicators), whereas actual outcome data, such as work-related accident and occupational disease figures (lagging indicators), remained limited. The multivariate analysis reveals that reporting framework, external assurance, and leverage are positively and significantly associated with OSH disclosure quality, whereas firm size, profitability, institutional ownership, and board of commissioners' independence show no significant association. These findings indicate that the quality of OSH disclosure is determined more by reporting governance, information credibility, and external accountability than by firms' economic characteristics. Strengthening national OSH reporting standards and independent assurance mechanisms are needed to promote more substantive OSH disclosure.
Read More
T-7708
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fariz Ferlian Kamil; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aulia Rahmi
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keberhasilan manajemen K3 di perusahaan melalui tinjauan pustaka yang sistematis. Penelitian ini mereview literatur yang diterbitkan antara tahun 2011-2021 dari 2 portal pencarian, yaitu ScienceDirect dan googlescholar. Dari hasil pencarian didapat 10 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil penelitian ini menemukan terdapat 2 faktor utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Read More
S-10642
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Iwari Saputra; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Yuni Kusminanti, Muhamad Fertiaz
Abstrak:
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2021 terdapat kasus 234.370 kasus, dengan kontribusi terbesar dari sektor manufaktur dan konstruksi sebesar 22,3%, Sebagian besar kecelakaan kerja dan perilaku yang tidak aman disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bahaya dan kesalahan persepsi terhadap penerapan K3. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerapan K3 pada karyawan PT XYZ tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah desain cross-sectional. Studi ini melibatkan 143 karyawan yang diminta untuk mengisi kuisioner yang diberikan kepada mereka. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian karyawan mempunyai persepsi yang baik terhadap penerapan K3 yaitu sebesar 50,3%, sedangkan 49,7% responden mempunyai persepsi yang buruk terhadapa penerapan K3. Nilai p dari hasil uji korelasi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan penerpan K3 antara lain masa kerja (0,507), Pendidikan (0,131), sikap K3(<0,001), Pengetahuan K3 (0,001), Pelatihan K3 (0,004), dan Ketersediaan sarana dan prasarana K3(0,04). Kesimpulan disimpulkan faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerpan K3 pada karyawan di PT XXY adalah sikap K3, pengtahuan K3, pelatihan K3, ketersedian sarana dan prasarana sehingga perusahaan perlu meningkatkan pemahaman dan pelatihan kepada karyawan dengan program-program K3 yang lebih efektif

Based on BPJS Employment data in 2021, there were 234,370 cases, with the largest contribution from the manufacturing and construction sector at 22.3%, Most work accidents and unsafe behavior are caused by the inability to identify hazards and misperceptions of OHS implementation. This research aims to identify factors related to perceptions of OHS implementation among PT XYZ employees in 2024. The method used in this research is a cross-sectional design. This research involved 143 employees who were asked to fill out a questionnaire given to them. Data analysis was carried out using the Chi-square test. The research results show that some employees have a good perception of the implementation of K3, namely 50.3%, while 49.7 respondents had a Badperception of the implementation of OHS. The p-value from the correlation test results between factors related to the implementation of OHS includes work experience (0.507), education (0.131), OHS attitude (<0.001), OHS knowledge (0.001), OHS training (0.004), and availability of facilities. and OHS infrastructure (0.04). In conclusion, the factors related to the perception of OHS implementation among PT XXY employees are OHS attitudes, OHS knowledge, OHS training, availability of facilities and infrastructure so that the company needs to increase employee understanding and training more effectively OHS programs.
 
Read More
T-7143
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faridl Wicaksono; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Istiati Suraningsih
S-8353
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofi Kumala Dewi; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Istiati Suraningsih
Abstrak:
Analisis hubungan variabel dependen (keluhan respirasi) dan variabel independen (karakteristik pekerja, karakteristik pekerjaan, intensitas pajanan dan pencegahan gangguan respirasi) pada pekerja penyemprot parakuat di perkebunan kelapa sawit Kalimantan Tahun 2022. Desain penelitian potong lintang, studi kuantitatif deskriptif analitik dengan penyebaran kuesioner secara daring Agustus – Oktober 2022. Total sampel 189 responden pekerja dan 10 responden manajemen. Hasil-keluhan respirasi (13,22%), keluhan batuk (11,11%), batuk disertai dahak (3,17%), sesak napas (2,11%), ashma (1,05%). Analisis multivariat menunjukkan kebiasaan merokok memiliki risiko 4x (p 0,006), OR 4,12 (1,50-11,32)) keluhan respirasi dibanding yang tidak merokok, buruh tetap memiliki risiko 3x (p-value 0,022, OR 2,98 (1,16- 7,64)) dibanding buruh lepas, dan penggunaan APD kurang baik memiliki risiko 4,77x (p 0,002, OR 4,77 (1,78 - 12,80)). Tidak ditemukan hubungan bermakna pada analisis upaya pencegahan gangguan respirasi dan keluhan respirasi. Disarankan bagi 1) Pekerja, proaktif melakukan upaya pola hidup sehat/kerja sehat dan program berhenti merokok, 2) Perusahaan, implementasi metode RAPKPIEK, pemeriksaan lingkungan kerja, program fit to work, peningkatan kualitas & kuantitas penggunaan APD, sistem pelaporan keluhan respirasi, sinergi manajemen & pekerja, 3) Regulator, pengawasan penggunaan herbisida terbatas dan ratifikasi konvensi Rotterdam 24 Februari 2004. Kata kunci: Parakuat, pekerja penyemprot, keluhan respirasi, model 5-5 pencegahan PAK

Analysis of the dependent variable (respiration symptoms) and the independent variables (worker characteristics, work characteristics, exposure intensity, and respiratory prevention disorders) in paraquat sprayers in oil palm plantations in Kalimantan 2022. Methods-A cross-sectional quantitative study descriptive analytics of 189 worker respondents and 10 management respondents. Administered questionnaire instrument from August to October 2022. Analysis of bivariate relationship in Chi-Square 2x2, for p>0.25 the multivariate test was continued. Results-respiration symptoms (13.22%), cough (11.11%), coughing with phlegm (3.17%), shortness of breath (2.11%), asthma (1.05%). Multivariate analysis found that smoking habits had a risk of 4x (p 0.006), OR 4.12 (1.50-11.32)), employment status of permanent workers had a risk of 3x (p-value 0.022, OR 2.98 (1, 16-7.64)), and poor use of PPE has a risk of 4.77x (p 0.002, OR 4.77 (1.78 - 12.80)). No significant relationship between the prevention of respiratory and respiratory symptoms. Suggest-1) Workers-A healthy lifestyle, healthy work, smoking cessation programs, 2) Company-RAPKPIEK method on PKDTK, work environment inspections, fit to work programs, improve quality and quantity of use of PPE, reporting system, synergy between management & workers, 3) Regulators-Supervise the use of limited herbicides and ratify the Rotterdam convention 24 February 2004. Keywords: Paraquat, spray workers, respiratory symptoms, 5-5 model of prevention of occupational health diseases
Read More
T-7521
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Hayrani BR Sembiring; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Heru Endrawati
S-4638
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wishnu Uzma A. Puspoprodjo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Indri Hapsari Susilowati, Arif Susanto, Yuni Kusminanti
Abstrak: ABSTRAK Jumlah UMKM dan pekerja UMKM di Indonesia terus mengalami peningkatan. Namun, perlindungan terhadap aspek K3 pada pekerja UMKM belum optimal. Dalam rangka menyusun model SMK3 yang efektif untuk UMKM, penelitian ini mengekplorasi tentang faktor-faktor penting yang terkait dengan penerapan SMK3 di UMKM melalui review terhadap hasil penelitian yang ada. Dari pencarian yang dilakukan terhadap database full open access dari library UI (meliputi Google Scholar. Jstor, Science Direct, SpringerLink, Taylor and Francis, proQuest) diperoleh 709.103 artikel. Melalui evaluasi uji inklusi dan ekplusi, dipilih 34 literatur. Dari 34 literatur tersebut diperoleh bahwa faktor-faktor penting yang diperlukan dalam implementasi SMK3 di UMKM adalah faktor komitmen, manajemen risiko, regulasi dan standar, keterlibatan pihak ketiga, faktor training dan sumber daya manusia, faktor ekonomi, informasi dan komunikasi, dukungan manajemen, faktor keterlibatan pengusaha dan karyawan, faktor lingkungan kerja dan karakter bisnis UMKM, dan faktor administrasi, konsultasi dan inspeksi dan intervensi. Kata kunci : Faktor Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Systematic Review, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah The number of SMEs and SMEs workers in Indonesia continues to increase. However, the frequency of aspects of OHS on SMEs workers has not been optimal. In order to develop an effective OHSMS model for SMEs, this research explores important faktors related to OHSMS implementation in UMKM through a review of existing research results. From the searches conducted on the full open access database of UI libraries (including Google Scholar Jstor, Science Direct, SpringerLink, Taylor and Francis, proQuest) obtained 709,103 articles. Through inclusion and exploration evaluation, 34 literatures were selected. From 34 literatures it is found that the important faktors needed in the implementation of SMK3 in SMEs are faktors of commitment, management, regulations and standards, risk faktors, training and human resources faktors, economic faktors, information dan communication, management, communication faktors and responsibilities, occupational faktors and business characteristics, and faktors of administration, consultation and inspection dan intervention. Keywords : Faktors of Occupational Safety and Health Management System, Systematic Review, Micro, Small and Medium Enterprises
Read More
T-5221
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Cahyandari; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Nida Rohmawati dan Winda Kusuma Ningrum
Abstrak:
Pekerja di kantor rerata menghabiskan lebih dari 6 hingga 8 jam bekerja setiap harinya dalam posisi duduk. Kegiatan kurang bergerak atau tidak bergerak masuk dalam gaya hidup Sedentary Lifestyle, dapat menimbulkan masalah kesehatan dan cidera. Kementerian Kesehatan di kantor pusat telah melaksanakan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perkantoran sebagai upaya promotif dan preventif terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas program K3 perkantoran yang telah diterapkan dengan mengevaluasi komponen kebijakan manajemen, kesesuaian program, manfaat, kesesuaian sumber daya manusia, ketepatan waktu, kerjasama dan komunikasi, mekanisme kerja, pencapaian hasil dan kendala. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi lapangan dan telaah dokumen. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa program K3 perkantoran Kemenkes RI kantor pusat cukup efektif terlihat pada komponen kebijakan manajemen, kesesuaian program, manfaat, kesesuaian sumber daya manusia, ketepatan waktu, pencapaian hasil dan kendala yang dapat dihadapi, sedangkan komponen yang masih perlu peningkatan perbaikan pada kerjasama dan komunikasi serta pemahaman mekanisme kerja.

The average office worker spends more than 6 to 8 hours working each day in a seated position. Sedentary lifestyles can lead to health problems and injuries. The Ministry of Health at the head office has implemented an office Occupational Safety and Health (OSH) program as a promotive and preventive effort against occupational accidents and diseases. This study aims to analyze the effectiveness of the office OSH program that has been implemented by evaluating the components of management policy, program suitability, benefits, suitability of human resources, timeliness, cooperation and communication, work mechanisms, achievement of results and constraints. This research is a qualitative research with descriptive design. The types of data used are primary and secondary data, while data collection is done by in-depth interviews, field observations and document reviews. From the results of the study, it was found that the OSH program in the offices of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia headquarters was mostly effective in the components of management policy, program suitability, benefits, suitability of human resources, timeliness, achievement of results and obstacles that could be faced, while the components that still need improvement are cooperation and communication and understanding of work mechanisms.
Read More
T-7081
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kenya Lintang Wienantu; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Lena Kurniawati
Abstrak: Manajemen risiko yang lemah menjadi faktor utama masalah K3 pada UMKM sehingga identifikasi bahaya dan penilaian risiko dibutuhkan dalam rangka manajemen risiko. Penelitian ini berisi tentang analisis risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada UMKM Pembuatan Furnitur di Kelapa Dua, Depok tahun 2017. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat risiko K3 pada setiap tahapan proses pembuatan furnitur. Penelitian ini menggunakan metode analisis risiko semi kuantitatif dengan kriteria W.T. Fine 1971 untuk menentukan nilai konsekuensi, frekuensi pajanan, dan kemungkinan.
 
Hasil penelitian menyatakan bahwa tingkat risiko pada setiap proses meliputi kategori very high berupa bahaya kimia dan mesin potong, kategori priority 1 berupa bising dan ergonomi, kategori substantial berupa getaran, kategori priority 3 yaitu suhu panas dan bahaya mekanik, serta kategori acceptable yaitu bahaya kinetik dan bahaya psikososial. Pengendalian yang ada dinilai belum sepenuhnya efektif dalam mengurangi risiko yang terdapat di lingkungan kerja.
 

Poor risk management becomes the main factor of occupational health and safety issue in SMEs. This study focused on hazard identification and risk analysis at SME for furniture making at Kelapa Dua, Depok in 2017. This study aimed to know risk level of processes in making furniture. Risk assessment done by using semi quantitative risk analysis of W.T. Fine 1971 by scoring consequences, exposure, and likelihood.
 
The results showed that risk of cutting machine and chemical hazard were very high, risk of noise and ergonomic hazard were categorized as priority 1, risk of vibration was substantial, risk of hot temperature and mechanical hazard were categorized as priority 3, and risk of kinetical and psychosocial hazard were acceptable. Existing controls were not implemented effectively to minimize hazards and risks in the workplace.
Read More
S-9320
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra Widiyanto; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Laksita Ri Hastiti, Muhamad Dawaman, Yuni Kusminanti
Abstrak:
Penelitian ini membahas gambaran persepsi risiko keselamatan kerja pada pekerja di PT.X dengan pendekatan paradigma psikometri yaitu kesukarelaan terhadap risiko, kesegeraan dampak, pemahaman risiko berdasarkan pengalaman, potensi dampak risiko, reaksi yang ditimbulkan risiko, keparahan risiko, pengetahuan terhadap risiko, pengendalian terhadap risiko dan tingkat kebaruan risiko. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif, pengambilan data dengan cara penyebaran kuisioner, dilakukan pada bulan Juni 2024, di PT.X, Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas persepsi risiko keselamatan kerja pada pekerja PT.X adalah baik yaitu sebanyak 55.1% pekerja memiliki persepsi baik (tinggi) dan 44.9% pekerja dari total responden memiliki persepsi buruk (rendah) terhadap keselamatan kerja. Disarankan terhadap PT.X terus meningkatkan pelatihan-pelatihan dan pengawasan terhadap pekerja yang bertujuan untuk meminimalisir tindakan tidak aman dan mencegah kecelakaan kerja di lingkungan operasional PT.X.

This study discusses the description of occupational safety risk perception in workers at PT.X with a psychometric paradigm approach, namely voluntariness of risk, immediacy of impact, understanding of risk based on experience, potential risk impact, risk reaction, risk severity, knowledge of risk, risk control and level of risk novelty. This research is a quantitative research with descriptive design, data collection by distributing questionnaires, conducted in June 2024, at PT.X, South Sumatra. The results showed that the majority of perceptions of occupational safety risks in PT.X workers were good, namely as many as 55.1% of workers had good perceptions (high) and 44.9% of workers from total respondents had poor perceptions (low) of occupational safety. It is recommended that PT.X continue to improve training and supervision of workers which aims to minimise unsafe acts and prevent work accidents in the PT.X operational environment.
Read More
T-7146
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive