Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35015 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Titania Ramadhina; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Mufti Wirawan, Melly Fadhilah Harahap
Abstrak:
Musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan suatu penyakit atau kondisi yang memengaruhi sistem muskuloskeletal sehingga menyebabkan keterbatasan fungsi baik bersifat sementara maupun seumur hidup. Keluhan MSDs berupa sakit, nyeri, atau tidak nyaman pada otot dan tulang rangka yang terjadi pada pekerja disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya faktor risiko psikososial yang berkaitan erat dengan stres kerja. Stres yang tinggi dapat membuat otot menjadi lebih tegang, kaku, dan mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Stres kerja di sektor perbankan kini berada pada tingkat yang tinggi, sehingga dapat memperburuk kondisi kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi stres kerja beserta faktor risiko penyebabnya pada pekerja Bank X serta hubungannya dengan keluhan gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan metode semi kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner dilengkapi dengan wawancara sebagian responden. Analisis data menggunakan uji analisis regresi logistik biner untuk menganalisis hubungan antara stres kerja dengan keluhan musculoskeletal disorders. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara stres kerja dan keluhan MSDs (p-value = 0,026). Sementara itu, faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan stres, yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kepegawaian, jadwal kerja, work-family conflict dan dukungan sosial keluarga.

Musculoskeletal disorders (MSDs) are diseases or conditions that affect the musculoskeletal system, leading to functional limitations that may be temporary or lifelong. MSD symptoms such as pain or discomfort in the muscles and bones experienced by workers are caused by several factors, one of which is psychosocial risk factors closely linked to work-related stress. High stress can cause muscles to become more tense, stiff, and easily fatigued even without engaging in heavy physical activity. Work-related stress in the banking sector is currently at a high level, which can worsen workers’ health conditions. This study aims to analyze the prevalence of work-related stress and its associated risk factors among employees at Bank X, as well as its relationship with musculoskeletal disorder complaints. This study employed a cross-sectional design and a semi-quantitative method, with data collected via a questionnaire supplemented by interviews with some respondents. Data analysis utilized binary logistic regression to examine the relationship between work-related stress and musculoskeletal disorder complaints. The results indicate a significant association between work-related stress and MSD complaints (p-value = 0.026). Meanwhile, the risk factors significantly associated with stress include gender, educational level, employment status, work schedule, work-family conflict, and family social support.
Read More
S-12424
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ameera Zandra Chairullah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Mufti Wirawan, Nirmala Shinta Dewi
Abstrak:
Berbagai penelitian menunjukkan keterkaitan antara stress kerja dengan kinerja pekerja. Stres kerja memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja pekerja. Hal ini karena pekerja yang menghadapi tingkat stres tinggi harus mengalihkan waktu dan energi dari tugas-tugas mereka untuk mengatasi stres tersebut, sehingga menyebabkan penurunan pada kinerja pekerja (Chen et al., 2022; Conceoção & Palma-Moreira, 2025). Untuk mengetahui dan mendapatkan pemahaman lebih lanjut mengenai keterkaitan antar kedua aspek ini, penulis melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat stres kerja dengan tingkat kinerja pekerja perkantoran pada instansi X tahun 2026. Instansi X ditetapkan sebagai obyek penelitian dengan pertimbangan bahwa instansi ini merupakan instansi pemerintah yang belum memiliki divisi K3 dan sampai saat ini tidak pernah mengukur stres kerja dalam lima tahun terakhir. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio (OR) atas data yang dikumpulkan dari 121 responden, ditemukan bahwa faktor risiko ambiguitas peran (p-value=0,000. OR = 1,513) dan kepuasan kerja (p-value = 0,001. OR = 5,646) memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja. Penelitian ini menghasilkan temuan utama, yang berbeda dari penelitian sebelumnya, bahwa stres kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kinerja pada pekerja di instansi X (p-value = 0,761). Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa hubungan antara stres kerja dan kinerja bersifat kompleks, kontekstual, dan tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat yang kaku. Hasil penelitian dapat memperkaya wawasan dan ilmu terkait hubungan antara stres kerja dengan kinerja pekerja.

Various studies have shown a link between job stress and worker performance. Job stress has a significant negative impact on workers performance. This is because workers facing high levels of stress must divert time and energy from their tasks to cope with the stress, resulting in a decline in worker performance (Chen et al., 2022; Conceoção & Palma-Moreira, 2025). To further understand the relationship between these two aspects, the authors conducted a study on the relationship between job stress levels and the performance levels of office workers at institution X in 2026. Institution X was selected as the object of the study because as it is a government agency that does not yet have an OHS division and has not measured job stress in the past five years. The study was conducted using quantitative methods with a cross-sectional study design. Based on the results of the analysis using the chi-square test and odds ratio (OR) on data collected from 121 respondents, it was found that the risk factors of role ambiguity (p-value = 0.000. OR = 1.513) and job satisfaction (p-value = 0.001. OR = 5.646) had a significant relationship with work stress. This study produced a main finding, which differs from previous studies, that work stress did not have a significant relationship with the level of performance of workers in agency X (p-value = 0.761). This finding strengthens the understanding that the relationship between work stress and performance is complex, contextual, and cannot be simplified into a rigid cause- and-effect relationship. The results of this study can enrich insight and knowledge regarding the relationship between work stress and worker performance.
Read More
S-12451
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sayid Muhammad Naufal Alkhairid; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Hanny Harjulianti
Abstrak:
Burnout merupakan masalah kesehatan kerja yang semakin umum di kalangan pekerja kantor akibat tuntutan kerja tinggi, beban kerja berlebih, dan kurangnya keseimbangan kerja-hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat dukungan sosial dengan risiko burnout pada pekerja kantor di PT X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 141 responden pekerja kantor (PKWTT) yang bekerja secara dominan di lingkungan perkantoran kantor pusat PT X Jakarta, dipilih dengan metode convenience sampling sesuai kriteria inklusi. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner Caplan Social Support Scale (CSSS) untuk mengukur dukungan sosial dan Burnout Assessment Tool (BAT) untuk mengukur risiko burnout. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji Chi-Square, dan dilakukan uji validitas, reliabilitas, serta normalitas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara dukungan sosial dan risiko burnout (Pearson Chi-Square = 23,593; df = 4; p-value < 0,001). Hubungan bersifat negatif, di mana semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan responden, semakin rendah risiko burnout yang dialami. Mayoritas responden memiliki dukungan sosial sedang (67,1%) dan risiko burnout sedang (65,9%). Temuan ini memperkuat peran dukungan sosial sebagai faktor protektif terhadap burnout. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan negatif antara dukungan sosial dan burnout pada pekerja kantor PT X. Direkomendasikan agar perusahaan meningkatkan dukungan sosial di tempat kerja melalui program intervensi psikososial untuk mencegah burnout dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Burnout is an increasingly common occupational health issue among office workers due to high job demands, excessive workload, and poor work-life balance. This study aimed to analyze the relationship between social support and burnout risk among office workers at PT X in 2026. A cross-sectional design was employed with a sample of 141 office workers (permanent employees) primarily working in the office environment at PT X headquarters in Jakarta, selected through convenience sampling based on inclusion criteria. Data were collected using the Caplan Social Support Scale (CSSS) to measure social support and the Burnout Assessment Tool (BAT) to measure burnout risk. Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test, along with validity, reliability, and normality tests. The results revealed a statistically significant relationship between social support and burnout (Pearson Chi-Square = 23.593; df = 4; p-value < 0.001). The relationship was negative, indicating that higher perceived social support was associated with lower burnout levels. Most respondents reported moderate social support (67.1%) and moderate burnout risk (65.9%). These findings reinforce the role of social support as a protective factor against burnout. In conclusion, there is a significant negative relationship between social support and burnout among office workers at PT X. It is recommended that the company enhance workplace social support through psychosocial intervention programs to prevent burnout and improve employee well-being.
Read More
S-12397
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gianina Afiqah Putri; Pembimbing:Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Toni Nurdianto
Abstrak:

MSDs sering dialami oleh pekerja perkantoran karena banyak menghabiskan waktunya
untuk melakukan pekerjaan statis. Di PT X, keluhan terkait MSDs seringkali muncul, namun PT X belum melakukan pengukuran terkait dengan risiko ergonomi dan MSDs sejak periode September 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat keluhan MSDs PT X dan apakah ada hubungannya dengan faktor risiko individu (usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan IMT) dan postur kerja. Hubungan di antar variabel diuji menggunakan uji spearman. Faktor risiko yang berhubungan signifikan adalah faktor risiko individu IMT dengan P value = 0.018 dan koefisien korelasi -0.41 yang menandakan arah hubungan negatif dengan kekuatan hubungan cukup. Arah hubungan negatif berarti adanya hubungan terbalik di antara IMT dan tingkat keluhan MSDs. Semakin tinggi IMT, kemungkinan untuk mengalami MSDs akan semakin rendah.


MSDs is closely associated with those who works office job as they spent most of their  time sitting in the same position. At PT X, MSDs complaints frequently occurred,  however, no ergonomic assessments have been conducted since September 2021. This  study aims to get the general level of MSDs complaints among office workers at PT X and  to examine whetere there is a relationship between the level of MSDs complaints and  individual risk factors (age, gender, physical activity, and BMI) as well as working  postures. The correlation between variables were tested using the Spearman correlation  test. BMI was found to have a significant relationship with MSDs with a p-value of 0.018  and a correlation coefficient of -0.41 that indicates a moderate negative relationships.  This outcome suggests that those with higher BMI, have a lower likelihood to experience MSDs  

Read More
S-12222
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Erid Angelica; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, David Irianto, Subkhan
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan human performance serta meningkatkan risiko human error dan kecelakaan kerja, khususnya pada industri konstruksi yang memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja serta hubungan antara kelelahan kerja dan human performance pada pekerja konstruksi PT X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 219 pekerja konstruksi PT X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (durasi kerja, shift kerja, beban kerja, pekerjaan monoton, dan reward) serta faktor tidak terkait pekerjaan (indeks massa tubuh, waktu tempuh, usia, kualitas tidur, dan kuantitas tidur). Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale for Construction Workers(FASCW), sedangkan human performance diukur menggunakan instrumen Human Performance dari U.S. Department of Energy (DOE). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan Uji Regresi Logistik Ordinaluntuk menganalisis hubungan faktor-faktor dengan kelelahan kerja serta Uji Mann–Whitney untuk menganalisis hubungan antara kelelahan kerja dan human performance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 187 pekerja (85,4%) mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja (OR=2,61; 95% CI: 1,20–5,76), beban kerja (OR=32,37; 95% CI: 9,40–111,48), pekerjaan monoton (OR=10,42; 95% CI: 3,07–35,39), indeks massa tubuh (OR=3,93; 95% CI: 1,68–9,19), waktu tempuh (OR=2,38; 95% CI: 1,10–5,17), usia (OR=3,44; 95% CI: 1,58–7,50), kualitas tidur (OR=3,20; 95% CI: 1,41–7,29), dan kuantitas tidur (OR=2,53; 95% CI: 1,18–5,42) dengan kelelahan kerja, sedangkan shift kerja (OR=1,42; 95% CI: 0,67–3,01) dan reward (OR=0,83; 95% CI: 0,34–2,05) tidak berhubungan dengan kelelahan kerja. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dan human performance (p<0,001), di mana pekerja yang mengalami kelelahan cenderung memiliki human performance yang lebih buruk dibandingkan pekerja yang tidak mengalami kelelahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja konstruksi PT X berhubungan dengan berbagai faktor terkait pekerjaan maupun faktor tidak terkait pekerjaan serta berhubungan dengan penurunan human performance. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja perlu menjadi bagian dari program keselamatan dan kesehatan kerja melalui pengendalian faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja guna meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan human performance pekerja.

Occupational fatigue is one of the major factors contributing to decreased human performance and an increased risk of human error and workplace accidents, particularly in the construction industry, where work is characterized by high physical and mental demands. This study aimed to analyze the factors associated with occupational fatigue and to examine the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X. This study employed a cross-sectional design involving 219 construction workers at PT X selected through purposive sampling. The variables examined included work-related factors (working hours, shift work, workload, monotonous work, and reward) and non-work-related factors (body mass index, commuting time, age, sleep quality, and sleep duration). Occupational fatigue was assessed using the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), while human performance was measured using the Human Performance instrument developed by the U.S. Department of Energy (DOE). Data were analyzed descriptively and inferentially using Ordinal Logistic Regression to examine the associations between the studied factors and occupational fatigue, and the Mann–Whitney test to analyze the relationship between occupational fatigue and human performance. The results showed that 187 workers (85.4%) experienced occupational fatigue. Significant associations were found between occupational fatigue and working hours (OR=2.61; 95% CI: 1.20–5.76), workload (OR=32.37; 95% CI: 9.40–111.48), monotonous work (OR=10.42; 95% CI: 3.07–35.39), body mass index (OR=3.93; 95% CI: 1.68–9.19), commuting time (OR=2.38; 95% CI: 1.10–5.17), age (OR=3.44; 95% CI: 1.58–7.50), sleep quality (OR=3.20; 95% CI: 1.41–7.29), and sleep duration (OR=2.53; 95% CI: 1.18–5.42). In contrast, shift work (OR=1.42; 95% CI: 0.67–3.01) and reward (OR=0.83; 95% CI: 0.34–2.05) were not significantly associated with occupational fatigue. Furthermore, occupational fatigue was significantly associated with human performance (p<0.001), with fatigued workers demonstrating poorer human performance than those who were not fatigued. This study concludes that occupational fatigue among construction workers at PT X is associated with both work-related and non-work-related factors and is significantly associated with decreased human performance. Therefore, fatigue management should be integrated into occupational safety and health programs by addressing the factors associated with occupational fatigue to improve workers' safety, health, and human performance.
Read More
T-7691
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rahmah Hidayatullah Lubis; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Fatma Lestari, Hanny Harjulianti, Iqbal Hasyim
T-3422
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nono Haryono; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Chandra Satrya, Indri Hapsari Wulandari, Wiprasyogie, Ade Mutiara
Abstrak: Penelitian bertujuan memperoleh gambaran dan hubungan faktor-faktor risiko individu dan pekerjaan terhadap keluhan muskuloskeletal disorder pada pekerja kantor PT. X Jakarta. Metode yang digunakan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder hasil medical check up data dan perangkat lunak RSIGuard untuk 607 pekerja. Dari 607 pekerja terdapat 292 orang (48, 1%) mengalami keluhan musculoskeletal discomfort. Hasil uji bivariate menunjukkan hubungan signifikan (p<0,005) antara faktor individu (tinggi badan, berat badan, olahraga, jenis kelamin dan temuan masalah musculoskeletal pada MCU), dan faktor risiko pekerjaan (self-assessment risk, overall risk level, average daily mouse use, break time taken dan average strain from mouse use) dengan discomfort. Hasil uji multivariate menunjukkan jenis kelamin, temuan masalah musculoskeletal MCU, self-assessment dan overall assessment merupakan faktor-faktor yang memiliki hubungan kuat dan dapat mempengaruhi keluhan musculoskeletal discomfort. Saran-saran ditujukan untuk mencegah discomfort dan work related musculoskeletal disorder melalui prinsip-prinsip ergonomik.

The objective of this study are to describe profile and relationship between individual and occupational risks factors with musculoskeletal discomfort in office workers of PT. X Jakarta. This is cross-sectional using secondary data of medical check up (MCU) and RSIGuard software for 607 workers. There are 272 of 607 workers (48.1%) complained musculoskeletal discomfort based on self-asessment result. Based on bivariate test results a significant (p <0.005) for individual factors (height, weight, exercise, sex and medical finding during MCU), and occupational risk factors from computer usages (self assessment risk, overall risk level, average daily mouse use, break time taken and average strain of mouse use). The final model of multivariate test results a significant correlation of gender, findings of musculoskeletal problems, self-assessment and overall assessment with musculoskeletal discomfort complaints. Suggestions addressed to reduce occupational factors to prevent discomfort and work-related musculoskeletal disorder through ergonomic princips.
Read More
T-4922
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Julia Kusumawardani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Muhammad Soffiudin
Abstrak: Skripsi ini membahas analisis faktor risiko ergonomi dan keluhan musculoskeletal disorder di PT X tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan disain cross sectional. Dari penilaian risiko ergonomi dengan mengunakan metode Quick Exposure Checklist (QEC) didapatkan pekerjaan menggunakan komputer di office termasuk ke dalam level 3 atau risiko tinggi dan pekerjaan manual di workshop dan di warehouse termasuk ke dalam level 4 atau risiko sangat tinggi. Postur janggal yang terbentuk saat melakukan pekerjaan dipengaruhi oleh disain workstation dimana dari hasil pengukuran diketahui beberapa workstation pada masing-masing area kerja belum sesuai. Hasil survey Nordic Body Map (NBM) menunjukan sebanyak 88,4% responden memiliki keluhan MSDs dengan persentase area kerja yang mengalami keluhan tertinggi pada area warehouse 100%, area workshop 94,4%, dan area office 83,7%. Bagian tubuh yang paling banyak mengalami keluhan MSDs pada area office adalah pada bagian pinggang 48,8%, leher bagian atas 46,5%, bahu kanan 30,2%, dan bahu kiri 27,9%, pada area workshop adalah pada bagian pinggang 50%, leher atas 50%, punggung 38,8% dan pinggul 38,8%, dan pada area warehouse adalah pada bagian pinggang 50%, leher atas 50%, punggung 38,8% dan pinggul 38,8%. Disarankan adanya perbaikan disain workstation dan program edukasi kesehatan kerja terkait ergonomi.
Kata Kunci : Faktor risiko ergonomi, musculoskeletal disorder, workstation, QEC
This study discuss the analysis of ergonomic risk factors and musculoskeletal disorder complaints in X company at the year of 2016. this research is a quantitative research with cross sectional design method. From the ergonomic risk assessment using Quick Exposure Checklist (QEC) the result is indicate that works in the office that uses computers is included in level 3 or high risk category and manual work at the workshop is included to a level 4 or very high risk category. Awkward working posture that adopted by the worker is influenced by the design of the workstation that the result of workstation measurement shows several workstation in each working area is not appropriate. The survey result of Nordic Body Map (NBM) shows that 88.4% respondent have a complaint about MSDs which the highest percentage of complaints lies at the warehouse area with 100% complaints rate, while in the workshop the percentage of complaint is 94.4% and office area 83.7%. The part of body with the highest complaint of MSDs of office worker is waist (48.8%), upper neck (46.5%), right shoulder (30.4%), and left shoulder (27.9%), and for the workshop worker the highest complaint of MSDs is on waist (50%), upper neck (50%), upper back (38.8%), and hip (38.8%), and for the werehouse worker the highest complaint of MSDs is on waist (50%), upper neck (50%), upper back (38.8%), and hip (38.8%). Suggested of improvement in workstation design and education regarding occupational health in ergonomics.
Keywords : Ergonomic risk factor , musculoskeletal disorder, workstation, QEC
Read More
S-9244
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Astuti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mayarni
Abstrak: Pekerja forklift merupakan salah satu jenis pekerjaan yang memiliki risiko terkenamusculoskeletal disorders karena faktor individu, lingkungan, dan pekerjaan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pekerjaan forklift, faktor individu dan lingkungan yang berhubungan dengan musculoskeletal disorderspada pekerja forklift di PT X tahun 2013 dan melihat gambaran risiko pekerjaan.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi potonglintang dengan kuesioner dan tools REBA.
Hasil penelitian menyatakan bahwalama kerja mempengaruhi keluhan subyektif musculoskeletal disorders dantingkat risiko ergonomi pekerja forklift termasuk ringan hingga sedang. Sarannya,perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian postur kerja pekerja forklift,pengaturan durasi kerja, sosialisasi terkait musculoskeletal disorders, gejala,faktor risiko, tindakan pencegahan, dan penanganan. Kata kunci : risiko, ergonomi, forklift, musculoskeletal disorders.
Read More
S-7784
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daden Areistheika Dhelinthe; Pembimbin: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Istiati Suraningsih
Abstrak: Perkembangan teknologi yang pesat membuat hampir semua aktifitas manusia berhubungan erat dengan berbagai macam alat dan mesin. Tidak terkecuali dalam dunia industri yang terus berkembang pesat seiring dengan perkembangan manusia. Namun dalam interaksi antara manusia, mesin dan lingkungan tempat kerja terdapat berbagai risiko yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja (PAK) ataupun kecelakaan bagi manusia. Salah satu penyakit akibat kerja yang kerap diderita oleh pekerja adalah penyakit yangberkaitan dengan otot serta rangka, atau lebih dikenal dengan MusculoskeletalDisorders (MSDs). Penelitian ini dilakukan pada pekerja produksi Rumah PotongAyam (RPA) X Kota Bogor tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk melihatfaktor risiko MSDs pada tubuh bagian atas dan gejala MSds yang dialami olehpekerja. Metode penelitian ini adalah semi kuantitatif dengan desain crosssectional. Responden berjumlah 30 orang pekerja produksi yang berada di lokasiBojong Bawah. Tingkat risiko ergonomi dinilai dengan menggunakan RapidUpper Limb Assessment (RULA) dan Quick expossure Checklist (QEC). Penilaian menggunakan RULA mendapatkan hasil 2 tahapan pekerjaan (16,7%) termasuk dalam kategori medium atau masuk action level 2, 5 tahapan pekerjaan (41,7%)termasuk dalam kategori high atau masuk action level 3 dan 5 tahapan pekerjaan lainnya (41,7%) termasuk dalam kategori very high atau masuk action level 4.Penilaian menggunakan QEC mendapatkan hasil 5 tahapan pekerjaan (41,7%)termasuk dalam kategori high atau masuk action level 3 dan 7 tahapan pekerjaan lainnya (58,3%) termasuk dalam kategori very high atau masuk action level 4.Nordic Body Map (NBM) digunakan untuk mengetahui keluhan MSDs yangdirasakan pekerja dan didapatkan hasil 100% pekerja mengeluhkan mengalami gejala MSDs. Keluhan terbanyak dirasakan adalah pegal dan rasa sakit pada tubuhbagian atas pekerja seperti bahu, pinggang, punggung dan juga pergelangantangan.Kata Kunci: RULA, QEC, Tingkat Risiko, Ergonomi, Keluhan MusculoskeletalDisorders (MSDs), Nordic Body Map (NBM), Rumah Potong Ayam (RPA).
Read More
S-8064
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive