Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 49744 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadia Zahra Sabira; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Rita Damayanti, Indah Sri Wahyuni
Abstrak:
Menstrual hygiene yang buruk meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi, namun praktiknya di kalangan mahasiswi Indonesia masih belum optimal, dan mekanisme persepsi yang mendasarinya belum banyak dikaji menggunakan kerangka Health Belief Model (HBM), khususnya dengan membandingkan mahasiswi rumpun kesehatan dan non-kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara rumpun fakultas dan lima komponen HBM (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan self-efficacy) dengan praktik menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 362 mahasiswi S1 Reguler aktif Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) yang dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur secara daring dan luring, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan 52,5% responden memiliki praktik menstrual hygiene yang baik. Rumpun fakultas terbukti berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene (p<0,001; OR=3,436), mahasiswi FKM 3,4 kali lebih mungkin berpraktik baik dibandingkan mahasiswi FIB. Empat dari lima komponen HBM, yaitu perceived severity (p=0,003; OR=1,880), perceived benefits (p<0,001; OR=4,142), perceived barriers (p<0,001; OR=0,340), dan self-efficacy (p<0,001; OR=6,128), berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene, sedangkan perceived susceptibility tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,424). Self-efficacy merupakan prediktor terkuat dalam penelitian ini. Disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan kesehatan dan persepsi individu, terutama keyakinan diri, berperan penting dalam membentuk praktik menstrual hygiene mahasiswi, sehingga diperlukan program edukasi kesehatan reproduksi yang lebih kontekstual bagi mahasiswi rumpun non-kesehatan.

Poor menstrual hygiene increases the risk of reproductive tract infections, yet menstrual hygiene practices among Indonesian female university students remain suboptimal, and the underlying perceptual mechanisms have rarely been examined using the Health Belief Model (HBM) framework, particularly by comparing health and non-health students. This study aimed to analyze the relationship between faculty cluster and the five HBM components (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, and self-efficacy) with menstrual hygiene practices among female students at Universitas Indonesia in 2026. This quantitative study used a cross-sectional design involving 362 active undergraduate female students from the Faculty of Public Health (FKM) and the Faculty of Humanities (FIB), selected through accidental sampling. Data were collected using a structured questionnaire distributed online and offline, then analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test and Odds Ratio (OR). The results showed that 52.5% of respondents had good menstrual hygiene practices. Faculty cluster was significantly associated with menstrual hygiene practices (p<0.001; OR=3.436), with FKM students being 3.4 times more likely to practice good menstrual hygiene than FIB students. Four of the five HBM components, namely perceived severity (p=0.003; OR=1.880), perceived benefits (p<0.001; OR=4.142), perceived barriers (p<0.001; OR=0.340), and self-efficacy (p<0.001; OR=6.128), were significantly associated with menstrual hygiene practices, while perceived susceptibility showed no significant relationship (p=0.424). Self-efficacy was the strongest predictor in this study. It is concluded that health education background and individual perceptions, particularly self-efficacy, play an important role in shaping students’ menstrual hygiene practices, highlighting the need for more contextual reproductive health education programs for non-health students.
Read More
S-12444
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessica Bunga Yosefani; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Yoslien Sopamena, Deniary Lusiana
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan menstruasi, pengetahuan menstruasi, dan self-efficacy terkait menstruasi dengan perilaku menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan sampel mahasiswi program sarjana dan vokasi Universitas Indonesia tahun akademik 2025/2026. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari instrumen literasi kesehatan menstruasi, pengetahuan menstruasi, self-efficacy terkait menstruasi, dan perilaku menstrual hygiene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku menstrual hygiene yang baik (74,5%). Literasi kesehatan menstruasi responden didominasi oleh kategori mencukupi (52,5%), sedangkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan menstruasi yang tinggi (85,5%) dan self-efficacy terkait menstruasi yang tinggi (53,5%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan menstruasi (p=0,001), pengetahuan menstruasi (p=0,002), dan self-efficacy terkait menstruasi (p<0,001) dengan perilaku menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia. Upaya peningkatan perilaku menstrual hygiene perlu dilakukan melalui penguatan literasi kesehatan menstruasi, peningkatan pengetahuan menstruasi, dan pengembangan self-efficacy terkait menstruasi.

This study aims to determine the relationship between menstrual health literacy, menstrual knowledge, and menstrual-related self-efficacy with menstrual hygiene behavior among female students at the University of Indonesia. This study used a cross-sectional design with a sample of undergraduate and vocational female students at the University of Indonesia in the 2025/2026 academic year. Data were collected using an online questionnaire consisting of instruments measuring menstrual health literacy, menstrual knowledge, menstrual-related self-efficacy, and menstrual hygiene behavior. The results showed that most respondents had good menstrual hygiene behavior (74.5%). Menstrual health literacy was predominantly in the adequate category (52.5%), while most respondents had high menstrual knowledge (85.5%) and high menstrual-related self-efficacy (53.5%). The Chi-square test results indicated that there were significant relationships between menstrual health literacy (p=0.001), menstrual knowledge (p=0.002), and menstrual-related self-efficacy (p<0.001) with menstrual hygiene behavior among female students at the University of Indonesia. Efforts to improve menstrual hygiene behavior should be carried out through strengthening menstrual health literacy, increasing menstrual knowledge, and developing menstrual-related self-efficacy.
Read More
S-12381
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggia Amalia Wati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Yoslien Sopamena, Eti Rohati
Abstrak:
Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang [AA1.1]umum dialami oleh perempuan termasuk mahasiswi dan dapat mengganggu aktivitas akademik maupun aktivitas sehari-hari. Untuk mengatasi nyeri menstruasi, banyak mahasiswi melakukan swamedikasi. Keputusan untuk melakukan swamedikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM). Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam persepsi mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia terhadap swamedikasi dismenore berdasarkan komponen Health Belief Model. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan utama, satu informan kunci, dan satu informan pendukung, serta didukung dengan logbook selama periode menstruasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan melakukan swamedikasi melalui penggunaan obat pereda nyeri, kompres hangat, konsumsi jamu, istirahat, dan metode nonfarmakologis lainnya. Persepsi kerentanan terbentuk dari pengalaman dismenore berulang, sedangkan persepsi keparahan berkaitan dengan dampak nyeri terhadap aktivitas sehari-hari. Persepsi manfaat tercermin dari keyakinan bahwa swamedikasi dapat mengurangi nyeri. Persepsi hambatan meliputi keterbatasan waktu, biaya, dan akses pelayanan kesehatan. Efikasi diri terbentuk dari pengalaman keberhasilan mengatasi nyeri, sedangkan isyarat bertindak berasal dari munculnya nyeri, pengalaman sebelumnya, keluarga, teman, tenaga kesehatan, internet, dan media sosial.

Dysmenorrhea is a common reproductive health problem among female university students and may interfere with academic and daily activities. Many students practice self-medication to relieve menstrual pain. This study aimed to explore the perceptions of female students at the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, regarding dysmenorrhea self-medication based on the Health Belief Model (HBM). This study employed a qualitative descriptive exploratory design. Data were collected through in-depth interviews with seven main informants, one key informant, and one supporting informant, complemented by menstrual-period logbooks. Data were analyzed using thematic analysis. The findings showed that all informants practiced self-medication using pain relievers, warm compresses, herbal remedies, rest, and other non-pharmacological methods. Perceived susceptibility was shaped by recurrent dysmenorrhea experiences, while perceived severity was related to the impact of pain on daily activities. Perceived benefits reflected the belief that self-medication could reduce pain. Perceived barriers included limitations in time, cost, and access to healthcare services. Self-efficacy developed through previous successful experiences in managing pain, whereas cues to action originated from pain experiences, family, peers, healthcare professionals, the internet, and social media.
Read More
S-12482
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farenia Ramadhani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Evi Martha, Hanny Harjulianti
Abstrak: Latar Belakang: Pelaksanaan program vaksinasi sebagai salah satu strategi preventif pengendalian virus COVID-19 memunculkan berbagai macam respon di masyarakat. Penerimaan vaksinasi COVID-19 dan faktor-faktor yang memengaruhinya sangat berdampak pada keberhasilan program. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan vaksinasi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia tahun 2022 berdasarkan teori health belief model. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah desain potong lintang dengan cara pengambilan data primer melalui survei online dengan sampel penelitian yaitu mahasiswa aktif program sarjana. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel. Hasil: Dari 295 responden, terdapat 48,1% mahasiswa yang akan melakukan vaksinasi COVID-19. Penerimaan vaksinasi COVID-19 memiliki hubungan yang signifikan dengan pengetahuan, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi hambatan, persepsi manfaat, persepsi kemampuan diri dan isyarat bertindak (p < 0,05). Kesimpulan: Penerimaan vaksinasi COVID-19 pada mahasiswa Universitas Indonesia masih rendah. Berbagai strategi yang efektif harus dilakukan untuk memicu niat mahasiswa melakukan vaksinasi COVID-19. Diperlukan kerjasama antara pemerintah dengan civitas academica melalui sosialisasi/kampanye aktif di kampus dan memaksimalkan chatbot whatsapp Kementerian Kesehatan untuk menguragi keragu-raguan melakukan vaksinasi COVID-19.
Background: COVID-19 vaccination program which known as prevention strategy to control the pandemic shows various response in society. The acceptance of COVID-19 vaccination and its influencing factors give a big impact for the success of the program. The study aims to analyze the acceptance of the COVID-19 vaccination among Universitas Indonesia students in 2022 based on health belief model theory. Methods: This study use a cross-sectional design with primary data through an online survey and the target population constituted undergraduate students. The data analyzed by univariate and bivariate to know the relation between variables. Results: From 295 respondents, about 48,1% intended to accept the vaccination. The acceptance of COVID-19 vaccination has a significant relation with knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived barriers, perceived benefits, perceived self efficacy and cues to action (p < 0,05). Conclusions: The acceptance of the COVID-19 vaccination was low among Universitas Indonesia students. Various effective strategies must be done to trigger the intention of COVID-19 vaccination. The cooperation between government and civitas academica through campaign is needed and maximize the use of chatbot whatsapp ministry of health to reduce COVID-19 vaccination hesitation. Keywords: COVID-19, Vaccine Acceptance, Health Belief Model Theory
Read More
S-11146
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Nurul Hidayati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Umi Zakiati
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang perilaku pencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatandan non-kesehatan di Universitas Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilakupencegahan COVID-19 pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan ditinjau dari teorihealth belief model. Variabel yang diteliti adalah perilaku pencegahan COVID-19, faktorpemodifikasi (usia, jenis kelamin, pengetahuan) dan persepsi individu (persepsi kerentanan,keparahan, manfaat, hambatan dan self efficacy). Penelitian ini menggunakan pendekatankuantitatif dan metode penelitian cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 110 orangmahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dengan menggunakan metode pengambilan sampelpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 68% mahasiswakesehatan memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang baik dan 31.6% memiliki perilakupencegahan yang kurang baik. Sedangkan mahasiswa non-kesehatan yang memiliki perilakupencegahan yang baik adalah 59.7% dan 40.3% memiliki perilaku pencegahan yang kurangbaik. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan perilaku pencegahanCOVID-19 (p=0.020).
Kata Kunci: COVID-19, Health Belief Model, mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan
This study discusses about the preventive health behaviours of COVID-19 among studentsmajoring in health and non-health sciences Universitas Indonesia. The objective of this studywas to look preventive health behaviour COVID-19 among students majoring in health andnon-health sciences based of health belief model. Variabels in this study including preventivebehaviour, modifying factors (Age, sex, and knowledge), individual perceived (perceivedsusceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers and selfefficacy). This study using quantitative approaches and cross sectional study methods.Thetotal samples of this study is 110 people of students majoring in health and non-healthsciences with purposive sampling method. The result showed that 68% students majoringhealth sciences are having good preventive behaviour and 31.6% have enough preventivebehaviour, while 59.7% the student majoring non-health science have good preventivebehaviour and 40.3% have enough preventive behaviour. There was significant associationsbetween sex with preventive health behaviour of COVID-19 (p=0.020)
Keywords: COVID-19, Health Belief Model, Students majoring health and non-healthscience.
Read More
S-10358
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nada Aliyatunnisa; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Prima Alhazimi, Bhayu Hanggadhi Nugroho
Abstrak:
Penyakit Gagal Jantung di Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2026 Gagal jantung merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas hidup pasien. Aktivitas fisik diidentifikasi sebagai salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada pasien penyakit gagal jantung di Poli Jantung dan Kardiovaskular Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner IPAQ LF dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner SF 36. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis stratifikasi menggunakan uji Mantel-Haenszel. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik cukup (70,4%) dan kualitas hidup buruk (56,1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien gagal jantung (p value = 0,003; OR = 4,432; 95% CI: 1,606–12,236). Pasien dengan aktivitas fisik cukup berpeluang 4,432 lebih besar memiliki kualitas hidup baik dibandingkan pasien dengan aktivitas fisik kurang. Peningkatan program rehabilitasi jantung dan edukasi aktivitas fisik di fasilitas kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung.

Heart failure is one of the non communicable diseases with high morbidity and mortality rates that significantly impacts patients quality of life. Physical activity has been identified as an important factor that can influence the quality of life of heart failure patients. This study aimed to determine the relationship between physical activity level and quality of life in heart failure patients at the Cardiology and Cardiovascular Polyclinic of Universitas Indonesia Hospital in 2026. This study used an analytic observational design with a cross sectional approach. The sample consisted of 98 respondents selected using simple random sampling. Physical activity level was measured using the IPAQ LF questionnaire and quality of life was measured using the SF-36 questionnaire. Data analysis was performed bivariately using the Chi Square test and stratification analysis using the Mantel-Haenszel test. The results showed that the majority of respondents had sufficient physical activity (70.4%) and poor quality of life (56.1%). There was a significant relationship between physical activity level and quality of life of heart failure patients (p value = 0.003; OR = 4.432; 95% CI: 1.606–12.236). The Mantel-Haenszel stratification analysis showed that age and gender acted as effect modifiers, with the relationship between physical activity and quality of life being stronger in the age group
Read More
S-12346
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Shaffira Aulia; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Syafirah Hardani
Abstrak: Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan salah satu masalah kesehatan  masyarakat yang berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan sosial pada korban. Salah  satu faktor yang berkontribusi terhadap keberlangsungan kekerasan seksual adalah rape  myth acceptance (RMA), yaitu penerimaan terhadap keyakinan yang menyalahkan  korban, membenarkan tindakan pelaku, atau meminimalkan terjadinya kekerasan seksual.  Penelitian mengenai RMA pada mahasiswa kesehatan masyarakat di Indonesia masih  terbatas, padahal kelompok ini merupakan calon tenaga kesehatan masyarakat yang  berperan dalam upaya promotif, preventif, dan edukasi terkait pencegahan kekerasan  seksual. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan mengenai kekerasan seksual dan tingkat  rape myth acceptance pada mahasiswa aktif S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat  Universitas Indonesia tahun ajaran 2025/2026. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak  305 responden dipilih menggunakan teknik convenience sampling dan mengisi kuesioner  daring pada April 2026. Pengetahuan mengenai kekerasan seksual diukur menggunakan  kuesioner yang dikembangkan peneliti, sedangkan rape myth acceptance diukur  menggunakan Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA) versi 22 item  dengan rentang skor teoretis 22-110. Analisis data dilakukan secara deskriptif  menggunakan distribusi frekuensi, rerata, median, dan simpangan baku.. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai  kekerasan seksual (74,1%). Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan  pengetahuan mengenai marital rape serta pelecehan seksual verbal dan digital. Rerata  skor rape myth acceptance sebesar 43,27 dari rentang skor teoretis 22-110, yang  menunjukkan tingkat rape myth acceptance relatif rendah. Dimensi He Didn't Mean To memiliki rerata skor tertinggi, sedangkan dimensi It Wasn't Really Rape memiliki rerata  skor terendah. Kesimpulan: Mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas  Indonesia memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai kekerasan seksual dan  tingkat rape myth acceptance yang relatif di bawah nilai tengah teoretis (55). Meskipun  demikian, masih terdapat bentuk mitos tertentu yang berkaitan dengan minimisasi  tanggung jawab pelaku serta kesenjangan pengetahuan mengenai beberapa bentuk  kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan edukasi mengenai  kekerasan seksual yang secara eksplisit membahas konsep persetujuan (consent),  perspektif kekerasan berbasis gender, dan pembongkaran mitos pemerkosaan di  lingkungan perguruan tinggi.
Background: Sexual violence is a major public health issue with significant physical,  psychological, social, and reproductive health consequences for survivors. One factor  contributing to its persistence is rape myth acceptance (RMA), which refers to beliefs  that blame victims, excuse perpetrators, or minimize acts of sexual violence. Research  examining RMA among public health students in Indonesia remains limited, despite their  future role in health promotion, prevention, and education related to sexual violence. Objective: To describe knowledge of sexual violence and the level of rape myth  acceptance among undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas  Indonesia, in the 2025/2026 academic year. Methods: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted  among 305 respondents recruited through convenience sampling. Data were collected  using an online questionnaire in April 2026. Knowledge of sexual violence was assessed  using a researcher-developed questionnaire, while rape myth acceptance was measured  using the 22-item Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA), with a  theoretical score range of 22 to 110. Data were analyzed descriptively using frequency  distributions, means, medians, and standard deviations. Results: Most respondents demonstrated good knowledge of sexual violence (74.1%).  However, gaps in understanding remained regarding marital rape and verbal and digital  sexual harassment. The mean RMA score was 43.27 out of a theoretical range of 22 to  110, indicating a relatively low level of rape myth acceptance. The highest mean score  was observed in the He Didn't Mean To dimension, whereas the lowest was found in the  It Wasn't Really Rape dimension. Conclusion: Undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas  Indonesia demonstrated good knowledge of sexual violence and a relatively low level of rape myth acceptance. Nevertheless, misconceptions related to minimizing perpetrator  responsibility and gaps in understanding certain forms of sexual violence remain. These  findings highlight the importance of strengthening university-based education that  explicitly addresses consent, gender-based violence, and the deconstruction of rape  myths.
Read More
S-12465
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Masyitah; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Milla Herdayati, Resty Kiantini
Abstrak: Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang wanita. Sebagian besar wanita penderita kanker payudara datang ke tempat pengobatan dalam kondisi stadium lanjut, padahal kanker payudara dapat dideteksi secara dini dengan rutin melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran praktik SADARI pada mahasiswi S1 reguler Universitas Indonesia tahun 2013 menggunakan pendekatan Health Belief Model. Sampel adalah 287 mahasiswi S1 reguler Universitas Indonesia dari 12 fakultas, diambil dengan metode estimasi proporsi dengan presisi relatif. Hasilnya, sebanyak 51.9% mahasiswi sudah melakukan SADARI, namun hanya 3.3% yang melakukannya secara rutin setiap bulan. Sementara itu variabel usia, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat melakukan SADARI, persepsi terhadap hambatan melakukan SADARI, dan persepsi terhadap kemampuan diri melakukan SADARI menunjukkan hubungan yang signfikan dengan praktik SADARI.
 

Breast cancer is one of the most common cancers among women. Most of the women with breast cancer visit the medical practitioner in late stadium, despite the fact that breast cancer can be detected by routinely doing breast self-examination (BSE). The purpose of the current study was to depict breast self-examination practice on undergraduate female students of Universitas Indonesia by using Health Belief Model (HBM) approach. Samples are 287 undergraduate female students of Universitas Indonesia from 12 faculties, calculated by estimating a population proportion with specified relative precision method. The results showed that 51.9% of the participants reported performing BSE, but only 3.3% that performed BSE regularly. Meanwhile, age, knowledge, perceived benefits of BSE, perceived barriers of BSE, and perceived self efficacy significantly associated to BSE practice.
Read More
S-7867
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iin Musriani Maftukhah; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Uken Sukmaningsih
Abstrak: Pada tahun 2012 jumlah perceraian di Indonesia mencapai 15% dari total pernikahan yaitu 346.480 jiwa dengan 2.289.648 juta pernikahan yang diantaranya merupakan pernikahan dini (BPS,2015). Persentase pernikahan dini dari perempuan muda berusia 15-19 yang menikah memiliki sebelas kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki- laki muda berusia 15-19 tahun (11,7 % P : 1,6 % L). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pernikahan dini dengan perceraian berdasarkan umur, agama, kuintil kekayaan, tingkat pendidikan wanita, tingkat pendidikan suami, tempat tinggal, status pekerjaan wanita, status pekerjaan mantan suami, pengetahuan, Jumlah anak dan pengalaman pacaran Desain penelitian adalah crosssectional. Sampel merupakan sampel pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, yaitu wanita yang pernah menikah usia 15-49 tahun sebelum survei yaitu sejumlah 29.712 responden. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil Penelitian ada hubungan antara pernikahan dini dengan perceraian pada wanita usia 15-49 di Indonesia pada tahun 2012(OR:1.2 95% CI0.89-1.59). Saran dari penelitian ini adalah peningkatan wawasan dan informasi tentang pernikahan usia dini,dan pengaruh yang dapat dirasakan untuk kehidupan ke depannya. Semakin dini wanita menikah semakin berpotensi untuk mengalami perceraian dan mendukung program pemerintah yang disebut program menengah universal atau pendidikan 12 tahun yang diharapkan dapat menunda usia perkawinan remaja terutama perempuan yang berasal dari desa yang memiliki pendidikan rendah.
Read More
T-5397
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Muchlisa; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Tri Yunis Miko Wahyono, Rahma Dewi, Mugia Bayu Raharja
Abstrak:
Pada penelitian SDKI 2017 prevalensi remaja pria yang melakukan hubungan seksual pranikah di Indonesia tahun 2017 sebesar 8%, sementara berdasarkan SDKI tahun 2003 hanya 4,9% prevalensi remaja pria yang melakukan hubungan seksual pranikah, ini mengalami peningkatan dari data-data tahun sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap seks pranikah dengan praktik seksual pranikah pada remaja pria di Indonesia dengan menganalisis data SDKI-KRR 2017. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan sampel penelitian sebesar 10.849, sampel diambil berdasarkan total sampling data yang masuk dalam kriterian inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi remaja pria yang melakukan praktik seksual pranikah yaitu 8,4%. Hasil multivariat hubungan sikap terhadap seks pranikah dengan praktik seksual pranikah memiliki p-value 0,001 dengan POR 17,618 (95% CI 13,70722,645), ini berarti remaja pria yang memiliki sikap setuju terhadap seks pranikah memiliki risiko 18 kali untuk melakukan seksual pranikah dibandingkan dengan remaja pria yang memiliki sikap tidak setuju terhadap seks pranikah.

In the 2017 IDHS study, prevalence of male adolescents who had premarital sexual relationships in Indonesia in 2017 was 8%, while based on the 2003 IDHS only 4,9% the prevalence of male adolescents who had premarital sexual relations. This has increased from the previous year’s data. The purpose of this study was to determine the relationship between attitudes toward premarital sex with premarital sexual practices in young men in Indonesia by analyzing IDHS 2017 data. Design of this research used cross sectional study, sample wich suitable from inclusion and exclusion criteria was 10.849 respondens. The results showed the proportion of male adolescents who engage in premarital sexual practices is 8,4%. The multivariate results of attitude towards premarital sex with premarital sexual practices have a p-value 0,001 with a POR 17,618 (95% CI 13,707-22,645), this means that male adolescent who have an agreed attitude towards premarital sex have an 18 times risk of having premarital sex compared to male adolescent who have disagreeing attitude towards premarital sex.

Read More
T-5966
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive