Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37853 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Naura Khashia Cyrilla; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Akbar Satria Bakti
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, di mana iklim keselamatan organisasi diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan melalui pengetahuan keselamatan dan motivasi keselamatan pada pekerja Proyek Y PT X tahun 2026, menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Griffin dan Neal (2000, 2006) sebagai data utama. Penelitian dilakukan pada 218 responden dengan desain cross sectional, dan data dianalisis menggunakan path analysis serta uji Sobel untuk menguji peran mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan berada pada kategori tinggi (mean = 3,45), dengan dimensi management values sebagai kontributor tertinggi (3,52) dan safety training sebagai yang terendah (3,39). Pengetahuan keselamatan (3,43) dan motivasi keselamatan (3,46) juga berada pada kategori tinggi, dengan motivasi keselamatan menjadi nilai rata-rata tertinggi dan pengetahuan keselamatan menjadi nilai rata-rata terendah di antara seluruh variabel. Perilaku keselamatan berada pada kategori tinggi (3,44) dengan dimensi safety compliance (3,48) lebih tinggi dibandingkan safety participation (3,38). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan (z = 9,134; p < 0,001) maupun motivasi keselamatan (z = 11,276; p < 0,001) sama-sama terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Berdasarkan demografi, terdapat variasi yang menarik: responden perempuan menilai keempat variabel keselamatan lebih positif dibandingkan laki-laki, kelompok usia 17–25 tahun menunjukkan iklim dan perilaku keselamatan tertinggi sementara kelompok usia 46–55 tahun memperoleh pengetahuan keselamatan terendah dan masuk kategori cukup baik, kelompok manajemen menilai seluruh variabel paling positif, dan kelompok berpendidikan SD/Sederajat berada pada kategori cukup baik untuk seluruh variabel. Temuan kunci penelitian ini menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan sama-sama berperan sebagai jalur mediasi yang signifikan dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Temuan ini menyarankan agar PT X terus memperkuat program-program yang membangun pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan pekerja secara seimbang, sebagai bagian integral dari strategi peningkatan perilaku keselamatan di proyek konstruksi.

Construction is one of the sectors with a high risk of work-related accidents, in which organizational safety climate is believed to play an important role in shaping workers' safety behavior. This study aims to analyze the relationship between safety climate and safety behavior through safety knowledge and safety motivation among workers at Project Y of PT X in 2026, using a questionnaire adapted from Griffin and Neal (2000, 2006) as the primary data source. The study was conducted on 218 respondents using a cross-sectional design, with data analyzed using path analysis and the Sobel test to examine the mediating role of the variables. The results show that safety climate falls into the high category (mean = 3.45), with the management values dimension as the highest contributor (3.52) and safety training as the lowest (3.39). Safety knowledge (3.43) and safety motivation (3.46) also fall into the high category, with safety motivation recording the highest mean score and safety knowledge the lowest mean score among all variables. Safety behavior falls into the high category (3.44), with safety compliance (3.48) higher than safety participation (3.38). Hypothesis testing results indicate that both safety knowledge (z = 9.134; p < 0.001) and safety motivation (z = 11.276; p < 0.001) significantly mediate the relationship between safety climate and safety behavior. Based on demographics, interesting variations were found: female respondents rated all four safety variables more positively than males; the 17–25 age group showed the highest safety climate and safety behavior scores while the 46–55 age group recorded the lowest safety knowledge score (falling into the moderately good category); the management group rated all variables most positively; and the SD/equivalent education group fell into the moderately good category across all variables. The key findings of this study indicate that both safety knowledge and safety motivation serve as significant mediating pathways in shaping workers' safety behavior. These findings suggest that PT X should continue to strengthen programs that build both safety knowledge and safety motivation in a balanced manner, as integral components of the strategy to enhance safety behavior in construction projects.
Read More
S-12453
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Putri Mahirah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Maemuna
Abstrak:
Sektor konstruksi masih menjadi salah satu sektor dengan angka kecelakaan tertinggi. Sebagian besar kecelakaan tersebut berhubungan dengan kejadian unsafe action yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu safety climate. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis safety climate berdasarkan karakteristik organisasi, pekerjaan, dan individu pada Proyek Infrastruktur Y PT X yang belum pernah melakukan penilaian safety climate. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 192 sampel ditentukan menggunakan teknik stratified random sampling dan data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari NOSACQ-50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proyek Y PT X memperoleh skor rata-rata sebesar 3,28 dan termasuk dalam kategori cukup baik. Persepsi pekerja di tingkat organisasi menunjukkan skor terendah dibandingkan persepsi pekerja di tingkat individu dan pekerjaan. Peningkatan perlu dilakukan pada dimensi mengenai pemberdayaan keselamatan oleh manajemen dan keadilan keselamatan oleh  manajemen. Secara keseluruhan, dimensi komitmen pekerja terhadap keselamatan memiliki skor tertinggi, sedangkan dimensi prioritas keselamatan pekerja dan penolakan risiko memiliki skor terendah. Perbedaan persepsi safety climate ditemukan pada beberapa dimensi  berdasarkan tingkat pendidikan, masa kerja, posisi/jabatan, dan jenis pemberi kerja. Perusahaan perlu meningkatkan keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan keselamatan, memperkuat budaya pelaporan yang adil, serta meningkatkan pemahaman pekerja terhadap risiko dan bahaya di tempat kerja.

The construction sector remains one of the sectors with the highest accident rates. Most of these accidents are related to unsafe actions influenced by various factors, one of which is the safety climate. This study aims to analyze the safety climate based on organizational, job, and personal characteristics at Infrastructure Project Y of PT X, which has never conducted a safety climate assessment. This study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 192 participants were selected using stratified random sampling, and data were collected via a questionnaire adapted from the NOSACQ-50. The results indicate that Project Y at PT X achieved an average score of 3.28, placing it in the “fairly good” category. Workers’ perceptions at the organizational level scored the lowest compared to those at the personal and job levels. Improvements are needed in the dimensions of safety empowerment by management and safety fairness by management. Overall, the dimension of workers’ safety commitment had the highest score, while the dimensions of workers’ safety priority and risk non-acceptance had the lowest scores. Differences in perceptions of safety climate were found across several dimensions based on level of education, length of work, position level, and type of employer. Companies need to increase worker involvement in safety decision-making, strengthen a just culture of reporting, and improve workers’ understanding of workplace risks and hazards.
Read More
S-12421
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abigael Oktaria Zega; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Abdul Rasyid
Abstrak:
Pada tahun 2023, industri penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 4,85 juta usaha. Angka tersebut meningkat sebesar 21,13% dari tahun 2016 dengan total 4,01 juta usaha (Badan Pusat Statistik, 2024). Meskipun seringkali dianggap sederhana, proses pembuatan makanan dilakukan dengan menggunakan bantuan mesin-mesin bertekanan tinggi yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin (Thohir et al., 2025). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan safety leadership dan safety behavior pada perusahaan industri makanan PT X tahun 2026 dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari (Lu and Yang, 2010) dan (Neal, Gri and Hart, 2000) sebagai data utama, serta dilakukan wawancara tidak terstruktur dan observasi di lapangan sebagai data kualitatif pendukung. Penelitian dilakukan kepada 239 responden dengan desain cross-sectional dan hubungan variabel dianalisis menggunakan Spearman’s rho karena data kuesioner berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,54 dan safety behavior juga berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,53. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,749; p = 0,000). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan berperan sangat penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Hasil wawancara dengan narasumber juga menguatkan temuan ini, bahwa partisipasi aktif, kebijakan, dan kepedulian yang ditunjukkan pemimpin menjadi faktor dapat mendorong terbentuknya perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat meningkatkan partisipasi kepemimpinan keselamatan dan membentuk program program keselamatan bagi pekerja yang bersifat partisipatif. Saran lanjutan terkait penelitian ini agar dapat meneliti variabel mediasi lain yang mungkin dapat berpengaruh atau memperkuat hubungan antara safety leadership dan safety behavior.

In 2023, the food and beverage industry in Indonesia reached 4.85 million businesses, representing an increase of 21.13% compared to 2016, which recorded a total of 4.01 million businesses (Badan Pusat Statistik, 2024). Although frequently perceived as a relatively straightforward sector, the food production process in practice involves the operation of high-pressure machinery that demands intensive man-machine interaction (Thohir et al., 2025). This study aims to analyze the relationship between safety leadership and safety behavior in a food industry company, PT X, in 2026. Primary data were collected through a questionnaire adapted from Lu and Yang (2010) and Neal, Griffin, and Hart (2000), while supporting qualitative data were obtained through unstructured interviews and field observations. This study involved 239 respondents using a cross-sectional study design, and the relationship between variables was analyzed using Spearman's rho correlation test, given that the questionnaire data were not normally distributed. The results indicate that safety leadership was categorized as very high with a mean score of 4.54, and safety behavior was similarly categorized as very high with a mean score of 4.53. Hypothesis testing demonstrated a significant positive relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.749; p = 0.000), indicating that safety leadership plays a crucial role in shaping workers' safety behavior. These findings were further corroborated by interview results, which confirmed that active participation, the implementation of safety policies, and the concern demonstrated by leaders are factors that substantially contribute to the formation of safety behavior among workers. This study recommends that companies continuously enhance leadership participation in occupational safety and develop participatory safety programs that actively engage all workers. For future research, it is suggested that other mediating variables that may influence or strengthen the relationship between safety leadership and safety behavior be further investigated.
Read More
S-12462
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Pratiwi Ranteallo; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Dwitya Dhanurendra
Abstrak:
Pendahuluan: Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi baik secara global maupun nasional. Tingginya angka kecelakaan kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perilaku tidak aman dan kondisi safety climate di tempat kerja. Safety climate mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen organisasi dalam penerapan keselamatan yang membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil safety climate pada proyek pembangunan apartemen PT X Tahun 2026 serta menganalisis perbedaan tingkat safety climate berdasarkan karakteristik demografi pekerja. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross – sectional, metode pengumpulan data menggunakan kuesioner oleh Lestari et al. (2020). Jumlah sampel sebanyak 74 responden menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis data responden dengan analisis univariat (deskriptif) dan bivariat (Uji Kruskal – Wallis). Hasil: Secara umum profil safety climate pada proyek pembangunan apartemen PT X tahun 2026 termasuk kategori baik (5,05 dari 6,00). Dimensi tertinggi adalah komunikasi keselamatan sedangkan dimensi terendah adalah aturan dan prosedur. Terdapat perbedaan signifikan pada tingkat safety climate berdasarkan karakteristik demografi pekerja. Kesimpulan: PT X telah menunjukkan komitmennya melalui pelaksanaan program keselamatan di area proyek Dibutuhkan upaya untuk meningkatkan persepsi pekerja terkait keselamatan kerja khususnya penerapan aturan dan prosedur kerja.

Introduction: The construction sector is one of the sectors with a high risk of workplace accidents, both globally and nationally. The high rate of workplace accidents is influenced by various factors, including unsafe behavior and the safety climate in the workplace. The safety climate reflects workers’ perceptions of the organization’s commitment to safety implementation, which shapes workers’ safety behavior. This study aims to analyze the safety climate profile in PT X’s 2026 apartment construction project and to analyze differences in safety climate levels based on workers’ demographic characteristics. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design; data collection utilized a questionnaire adapted from Lestari et al. (2020). The sample consisted of 74 respondents selected via stratified random sampling. Respondent data were analyzed using univariate (descriptive) and bivariate (Kruskal–Wallis test) analyses. Results: Overall, the safety climate profile for PT X’s 2026 apartment construction project falls into the “good” category (5.05 out of 6.00). The highest-scoring dimension was safety communication, while the lowest-scoring dimension was rules and procedures. There were significant differences in safety climate levels based on workers’ demographic characteristics. Conclusion: PT X has demonstrated its commitment through the implementation of safety programs at the project site. Efforts are needed to improve workers’ perceptions regarding workplace safety, particularly regarding the implementation of work rules and procedures.
Read More
S-12450
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ekin Hagana Imanuel Sembiring; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian cross sectional ini berisi tentang asesmen safety leadership,safety climate dan safety behavior di PT. X tahun 2016. Dibutuhkan gambaranaspek kepemimpinan, iklim serta perilaku pekerja di PT.X yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan K3. Terdapat 183item pada kuesioner yang telah diisi oleh 87 responden yang merupakan pekerjaPT.X dengan jabatan pelaksana dan lama kerja minimal 6 bulan. Data yang telahdiperoleh selanjutnya diolah untuk mengetahui nilai rata-rata persepsi respondenterhadap ketiga variabel, yaitu safety leadership, safety climate dan safetybehavior.Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa safetyleadership atasan responden yang terdiri atas 5 indikator, yaitu: safety caring,safety cocahing, safety controlling, participative decision making dan leading byexample masuk pada kategori baik dengan nilai mean sebesar 76,34%. Hasilasesmen safety climate yang terdiri dari 6 indikator yaitu: management safetypriority, commitment and competence, safety communication, learning and trustin co-worker safety competence, workers safety commitment, workers safetypriority and risk non acceptance, organizational environment dan work pressuremasuk kedalam kategori baik dengan nilai mean sebesar 75,62%. Selain itu,variabel safety behavior juga masuk kedalam kategori baik dengan nilai meansebesar 75,26% yang terdiri atas 2 indikator yaitu safety compliance dan safetyparticipation.Kata kunci: asesmen;safety behavior;safety climate;safety leaderhip.
Read More
S-9277
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puti Afifah Sholeha; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Ahmad Afif Mauludi, Putri Pujianti
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. PT X mengimplementasikan Mobile Apps pelaporan K3, namun efektivitasnya belum dievaluasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas aplikasi tersebut melalui kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (UTAUT2), dampaknya terhadap Safety Behavior pekerja, serta analisis leading dan lagging indicators keselamatan. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional (Maret–Mei 2026) di PT X, Kabupaten Tapin. Sampel terdiri dari 10 pakar manajemen (TELOS) dan 243 pekerja (UTAUT2 dan Safety Behavior). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan PLS-SEM dengan SmartPLS. Hasil TELOS berkategori Baik (grand mean 4,10) dan seluruh variabel UTAUT2 berada pada kategori Setuju. Uji PLS-SEM menunjukkan Hedonic Motivation dan Habit berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention (R² = 0,776), sedangkan Habit, Behavioral Intention, dan Facilitating Conditions berpengaruh signifikan terhadap Use Behavior (R² = 0,731). Use Behavior berdampak positif-signifikan terhadap Safety Compliance dan Safety Participation, menempatkan Safety Behavior pada level sangat baik. Analisis leading indicator menunjukkan Rate Pemenuhan QSAP menurun dari 104,46% pada tahun 2024 menjadi 101,08% pada tahun 2025, atau turun 3,38 poin persentase, meskipun kedua capaian tetap melampaui target 100%. Analisis lagging indicators menunjukkan Frequency Rate (FR) Nearmiss meningkat dari 1,86 menjadi 3,13 dan Property Damage dari 1,46 menjadi 4,00; FR Fire Case menurun dari 0,53 menjadi 0,17, sedangkan MTI, LTI, dan Fatality tetap 0,00. Kesimpulannya, Mobile Apps PT X terbukti efektif pada tingkat kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (Behavioral Intention), dan perilaku keselamatan individu (Safety Compliance dan Safety Participation), namun belum sepenuhnya efektif pada tingkat kinerja keselamatan organisasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan leading indicator dan kenaikan FR pada Nearmiss serta Property Damage. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas sistem informasi keselamatan perlu dinilai secara berjenjang, dari kelaikan teknologi hingga dampak nyata pada kinerja organisasi, dan bahwa penguatan pada dimensi organisasi (mekanisme tindak lanjut, konsistensi reward-punishment, dan kepemimpinan) menjadi kunci untuk menutup kesenjangan tersebut.

The mining industry is a high-risk sector for occupational accidents. PT X implemented Mobile Apps for OHS reporting, but its effectiveness has not been comprehensively evaluated. This study aims to evaluate the application's effectiveness across system feasibility (TELOS), user acceptance (UTAUT2), its impact on workers' Safety Behavior, and safety leading and lagging indicators. A quantitative descriptive-explanatory design with a cross-sectional approach was conducted from March to May 2026 at PT X, Tapin Regency. The sample included 10 managerial experts (TELOS) and 243 workers (UTAUT2 and Safety Behavior). Data were analyzed using descriptive statistics and PLS-SEM via SmartPLS. TELOS results showed a Good category (grand mean 4.10) and all UTAUT2 variables were in the Agree category. PLS-SEM results showed that Hedonic Motivation and Habit significantly influenced Behavioral Intention (R² = 0.776), while Habit, Behavioral Intention, and Facilitating Conditions significantly influenced Use Behavior (R² = 0.731). Use Behavior had a positive and significant effect on Safety Compliance and Safety Participation, placing Safety Behavior at a very good level. Leading-indicator analysis showed that the QSAP Fulfillment Rate declined from 104.46% in 2024 to 101.08% in 2025, a decrease of 3.38 percentage points, although both values remained above the 100% target. Lagging-indicator analysis showed that the Frequency Rate (FR) for Nearmisses increased from 1.86 to 3.13 and Property Damage from 1.46 to 4.00; the FR for Fire Cases declined from 0.53 to 0.17, while MTI, LTI, and Fatality remained at 0.00. In conclusion, Mobile Apps at PT X proved effective at the system feasibility, user acceptance, and individual safety behavior levels (Safety Compliance and Safety Participation), but was not yet fully effective at the organizational safety performance level, as indicated by the decline in the leading indicator and the increased FR for Nearmisses and Property Damage. This finding indicates that the effectiveness of a safety information system must be assessed in a tiered manner, and that strengthening organizational-level factors (corrective follow-up mechanisms, reward-punishment consistency, and leadership) is key to closing this gap.
Read More
T-7641
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ranti Fitri Agustina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Bahrain Munir
Abstrak:
Keselamatan kerja merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, khususnya pada sektor kelistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety leadership dan safety perception terhadap safety behavior pada pekerja di site PT X tahun 2025. Pendekatan yang digunakan adalah semikuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang diisi oleh 87 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,227; p = 0,035), serta antara safety leadership dan safety perception (r = 0,579; p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara safety perception dan safety behavior (r = 0,149; p = 0,169). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja, baik secara langsung maupun melalui persepsi terhadap keselamatan. Hasil wawancara dengan key person juga menguatkan bahwa keteladanan dan keterlibatan langsung pimpinan menjadi faktor yang mendorong budaya keselamatan yang positif. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan meningkatkan efektivitas kepemimpinan keselamatan melalui pelatihan, keterlibatan aktif pemimpin, serta evaluasi berkelanjutan terhadap program keselamatan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memediasi atau memoderasi hubungan antarvariabel.


Occupational safety is a crucial aspect of company operations, especially in the electricity sector which carries a high level of risk. This study aims to examine the relationship between safety leadership and safety perception on safety behavior among workers at the PT X site in 2025. A semi-quantitative approach was employed using a survey method with questionnaires completed by 87 respondents. Data were analyzed using Spearman and Pearson correlation tests. The results indicate a positive and significant relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.227; p = 0.035), as well as between safety leadership and safety perception (r = 0.579; p = 0.000). However, no significant relationship was found between safety perception and safety behavior (r = 0.149; p = 0.169). These findings suggest that safety leadership plays an important role in shaping workers’ safety behavior, both directly and indirectly through safety perception. Interviews with key persons also support the conclusion that leadership engagement and role modeling are key drivers of a positive safety culture. The study recommends that the company improve the effectiveness of safety leadership through targeted training, active leadership involvement, and continuous evaluation of safety programs. Future research is encouraged to explore other variables that may mediate or moderate the relationships among these constructs.
Read More
S-12082
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titus Halomoan Mg; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Agra Mohamad Khaliwa
Abstrak:
Kecelakaan kerja merupakan masalah serius yang berdampak luas pada individu dan organisasi, baik dari segi fisik, psikologis, maupun ekonomi, di mana jutaan pekerja setiap tahun mengalami cedera atau penyakit  akibat kerja yang dapat menurunkan produktivitas serta meningkatkan beban finansial perusahaan. Oleh karena itu, menciptakan iklim keselamatan yang kuat menjadi hal krusial dalam mencegah risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini menganalisis pengaruh safety knowledge dan safety leadership terhadap safety climate di Perusahaan X dengan desain cross-sectional dan pendekatan kuantitatif. Sampel sebanyak 104 karyawan dipilih melalui proportionate stratified random sampling, sementara data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat safety knowledge karyawan tergolong baik, variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap safety climate, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. Sebaliknya, safety leadership memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap safety climate, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dalam aspek keselamatan mampu meningkatkan kepatuhan dan kesadaran karyawan terhadap prosedur keselamatan. Oleh karena itu, penguatan kepemimpinan dan pelatihan keselamatan yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam membangun budaya keselamatan yang lebih baik.

 Workplace accidents are a serious problem with far-reaching physical, psychological and economic impacts on individuals and organizations, with millions of workers each year experiencing occupational injuries or illnesses that can reduce productivity and increase the financial burden on companies. Therefore, creating a strong safety climate is crucial in preventing the risk of workplace accidents. This study analyzes the effect of safety knowledge and safety leadership on safety climate in Company X with a cross-sectional design and quantitative approach. A sample of 104 employees was selected through proportionate stratified random sampling, while data was collected by questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results showed that although the level of safety knowledge of employees was good, this variable did not have a significant effect on safety climate, which indicates that knowledge alone is not enough to create a safe work environment. In contrast, safety leadership has a positive and significant effect on safety climate, indicating that strong leadership in safety aspects can increase employee compliance and awareness of safety procedures. Therefore, strengthening leadership and continuous safety training are important steps in building a better safety culture.
Read More
T-7229
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Allika Zatialiyah Mayuza; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Subkhan
Abstrak: Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar menyumbang kejadian kecelakaan kerja di Indonesia. Sebagian besar kecelakaan kerja disebabkan oleh persepsi pekerja yang belum menganggap keselamatan menjadi prioritas utama. Dalam mencegah kejadian kecelakaan diperlukan budaya keselamatan yang baik di tempat kerja. Oleh karena itu, pendekatan yang dapat dilakukan salah satunya dengan memahami persepsi pekerja akan keselamatan yang dikenal dengan iklim keselamatan. Skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran iklim keselamatan melalui survei persepsi pekerja terhadap komitmen manajemen, komunikasi K3, aturan dan prosedur K3, pelatihan K3, akuntabilitas pribadi, dan lingkungan yang mendukung. Desain penelitian deskriptif dan metode Proportionate Stratified Random Sampling digunakan dalam studi ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklim keselamatan pada proyek konstruksi dalam kondisi baik. Persepsi pekerja pada dimensi komitmen manajemen mendapatkan penilaian terbaik dari keenam dimensi iklim keselamatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pekerja menaruh keperacayaan akan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan di tempat kerja. Selain itu, dimensi akuntabilitas pribadi perlu diperhatikan untuk dapat menghilangkan perasaan khawatir pekerja akan risiko kecelakaan di tempat kerja.
The construction sector is one sector that significant contributors to most accidents in Indonesia. Most accidents are caused by the perception of workers who do not consider safety to be a top priority. Preventing accidents requires a good safety culture in the workplace. Therefore, one approach that can be taken is by understanding workers' perceptions of safety, which is known as the safety climate. This thesis aims to provide an overview of the safety climate through a survey of workers' perceptions of management commitment, OSH communication, OSH rules and procedures, OSH training, personal accountability, and a supportive environment. Descriptive research design and proportional stratified random sampling method were used in this study. The results of this study indicate that the safety climate in the construction project is in good condition. Workers' perceptions of the management commitment dimension get the best score from the six safety climate dimensions. This shows that workers put their trust in the implementation of occupational safety and health that has been carried out by the company in the workplace. In addition, the dimension of personal accountability needs to be considered in order to eliminate workers' feelings of worry about the risk of accidents in the workplace.
Read More
S-11075
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakti Puruboyo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Daris Hendarko, Adhie Vieky Novrianto
Abstrak:
Perusahaan konstruksi memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap jumlah pekerja yang mengalami kecelakaan kerja. Perusahaan konstruksi memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Beberapa jenis pekerjaan dengan kategori risiko tinggi adalah pekerjaan di ketinggian, penggalian, ruang tertutup, dan operasi pengangkatan (lifting operations). Kecelakaan kerja di konstruksi negara berkembang, pertambangan, dan industri minyak dan gas telah meningkat setiap tahunnya. Kecelakaan kerja ini terjadi karena perilaku pekerja terkait keselamatan masih rendah. Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional maka melalui proyek migas dengan tujuan meningkatkan kapasitas kilang migas di Indonesia. Tesis ini menganalisis hubungan antara safety climate dan safety behaviour dengan mediasi dari gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional pada proyek migas di Indonesia. Uji hipotesis diajukan dengan total 7 uji hipotesis langsung dan tidak langsung dengan 675 pekerja sebagai responden. Untuk menguji hipotesis, penelitian ini menggunakan metode structural equation modelling. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa beberapa uji hipotesis diterima atau terdapat hubungan yang positif antar variabel. Beberapa hasil uji hipotesis ditolak atau tidak terbukti secara empiris berpengaruh positif dan signifikan antar variabel.

Construction companies play an important role in contributing to the number of workers who experience work accidents. Construction companies have a high risk of work accidents. Some jobs with a high-risk category are working at heights, digging, confined spaces, and lifting operations. Occupational accidents in developing countries' construction, mining, and oil and gas industries have increased yearly. These work accidents occur because the behaviour of workers related to safety is still low. To meet the national demand for fuel oil through the oil and gas project by increasing the capacity of oil and gas refineries in Indonesia. Occupational accidents at one of the projects in Indonesia have increased quite a bit. This study analyses the relationship between safety climate on worker safety behaviour with mediation of transformational and transactional leadership styles. The hypothesis test was proposed with a total of 7 direct and indirect hypotheses tests with 675 workers as respondents. To test the hypothesis, this study uses the structural equation modelling method. From the research conducted, it was found that several hypothesis tests were accepted or that there was a positive relationship between variables. Several hypothesis test results were rejected or not empirically proven to have a positive and significant effect between variables.
Read More
T-6741
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive