Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23211 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Femtine Wirdiatini; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Adang Bachtiar, Mieke Savitri, Bambang Suroso
B-1171
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kania Rayani; Pemb. Hafizurrachman; Penguji: Amila Megraini, Defrizal
Abstrak: Departemen Radioterapi RS. Dr. Cipto Mangunkusumo merupakan salah satu pelayanan medik yang ada di RS. Dr. Cipto Mangunkusmo yang memberikan pengobatan terapi radiasi terhadap kasus keganasan (Kankcr). Tujuan dari pcnclitian ini agar intervensi atau rencana strategi yang dilakukan untuk meningkatkan efektiiitas kelja akan sesuai dengan kebutuhan di Departemen Radioterapi RSCM.
 
 
Penelilian ini dilakukan selama periods 30 Januari 2007 sampai 30 Juni 2007 terhadap 50 responden dengan menggunakan angket. Variabel yang diukur dalarn penelitian ini adalah lingkungan kerja, kcpuasan pegawai, kinemja dan efektiiitas kerja pegawai. Metode penelitian menggunakan metode analisis jalur atau disebut juga dengan Parh Analysis (PA). Metode ini digunakan untuk melihat pola hubungan antar variabel baik variabel penyebab (variabel eksogen) terhadap vaxiabel akibat (vatiabel endogen) dengan anaiisis data korelasi sederhana, berganda dan regresi.
 
 
Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat pengaruh langsung zuaupun tidak langsung antara variabcl Iingkungan kexja, kepuasan dan kinexja pegawai terhadap efektititas kelja pegawai di Departemen Radioterapi RSCM dengan memiliki kontribusi 74,2%. Begitupula hubnngan antar masing-masing variabel yang memiliki nilai pengaruh yang signiiikan.
 
 
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka disarankan sebagai berikut: 1) Mempertahankan pengelolaan lingkungan kerja, kepuasan dan kinerja pegawai yang selama ini telah tertata dengan baik, dan selalu memperhitungkan aspek keselamatan radiasi bagi pasien, petugas maupun lingkungan sekitar. 2) Seixing dengan persaingan global, maka Dcpartemen Radioterapi RSCM harus tems meningkatkan pengcmbangan kuaiitas dari SDM yang merupakan modal utama dan subjek penggerak organisasi. 3) Perlu dilakukannya analisa beban kcrja berdasarkan jumlah pegawai di lingkungan Departemen Radioterapi RSCM
 

 
The Radiotherapy Depanment of Cipto Mangunkusumo Hospital is an institution which gives radiation treatment to cancer patients. The aim of this research was to find out the right intervention to increase the work effectivity in Radiotherapy Department.
 
 
Between January, 30 2007 and June, 30 2007, questionnaires were randomly given to 50 employees of the department. Variables measmed in the study were working environment, job satisfaction and performance to working etfectivity. Path Analysis method was done to see the correlation between exogenous and endogenous variables using simple, double correlation, and regression analysis.
 
 
We found direct and indirect effect between the variables working environment, job satisfaction, performance, and the working effectivity of employees with contribution 74,2%.
 
 
The results of this study suggest that the working effectivity of the employees is influenced by the working environment, job satisfaction and performance. Thus, we suggest that: 1) The Radiotherapy department should keep maintaining the work environment, job satisfaction and performance, with regards to the safety aspects of the patients, employees and environment. 2) The Radiotherapy Department should keep the quality of its services and increase the perfonnance of its facilities. It is essential that The Departement of Radiotherapy develop a program for developing its human resources as an important asset for better services. 3) Workload indicator of staffing need.
Read More
B-1043
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulianto; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ronnie Rivany, Mieke Savitri, Budi Hartono
Abstrak:
This study is to analyse the propered of Magnetic Resonance Imaging 1.5 Tesla in Radiology Departement of Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital, analysis to present market aspect, management aspect, technology aspect, legal and finance aspect. Using Internal External Matrix and SWOT analysis, be continued to analyse finance aspect by cash flow projection, Net Present Value analysis and Internal Rate Of Return analysis. The result of this research presented Magnetic Resonance Imaging 1.5 Tesla service in Radiology Departement Of Dr Cipto Mangunkusumo General Hospital with NPV positive value and IRR above bank rate is proper, and be able to be existence.

Tesis ini menganalisis kelayakan dari Pelayanan MRI 1,5 Tesla yang akan diadakan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, pada aspek pasar, manajemen organisasi, teknologi alat, hukum/ legalitas dan keuangan. Penelitian kualitatif pada desain deskriptif dengan melakukan analisis aspek-aspek kelayakan dan keuangan. Menggunakan alat analisis Matriks Internal Eksternal dan Diagram SWOT, dilanjutkan dengan analisis aspek keuangan menggunakan proyeksi Cash Flow serta analisis Net Present Value dan Internal Rate Of Return. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Pelayanan Magnetic Resonance Imaging 1,5 Tesla di Departemen Radiologi RSUPN CM, dengan hasil Nilai NPV positip dan nilai IRR di atas suku bunga Bank, sudah layak untuk direalisasikan.
Read More
B-1180
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Retna Komara; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Riamin Sitorus
Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis implementasi kebijakanpengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) pasca akreditasi JCI di RSUPNdr.Cipto Mangunkusumo Jakarta Tahun 2014. Fokus penelitian ini adalahimplementasi kebijakan pengelolaan B3 dan faktor-faktor yang mempengaruhinyayaitu komunikasi, sumber daya,disposisi dan stuktur birokrasi. Permasalahan yangdiangkat dalam penelitian ini adalah berdasarkan data dari laporan rondemanajemen dimana banyak temuan-temuan pengelolaan B3 di lapangan pascaakreditasi JCI yang tidak sesuai dengan prosedur-prosedur yang telah ditetapkandalam kebijakan pengelolaan B3 dan juga dilihat dari data Unit K3RS dimanaterjadi beberapa insiden yang dilaporkan terkait dengan pengelolaan B3 pascaakreditasi JCI. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi tak berstruktur dan telaah dokumen. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Analisadata dalam penelitian ini menggunakan analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pengelolaan B3 pasca akreditasi JCI di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo belum berjalan dengan baik. Pada faktor komunikasi: Transmisi yang kurang maksimal,ketidakjelasan kebijakan dimana secara isi yang belum lengkap danpenyampaiannya ke lapangan belum optimal serta pelaksanaan kebijakan yangbelum konsisten. Selanjutnya, pada faktor sumber daya: SDM, fasilitas dananggaran masih belum memadai. Pada faktor disposisi implementor yang jugabelum baik, para pelaksana kebijakan secara umum kurang cukup kuat memiliki komitmen untuk mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan B3 ini. Terakhirfaktor struktur birokrasi: Mekanisme pelaksanaan, koordinasi dan monitoringyang belum berjalan efektif.
Kata Kunci: FMS JCI , Implemetasi, Kebijakan, Pengelolaan B3.
Read More
S-8510
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Purnama Sari; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Yunia Irawati, Eka Yoshida
Abstrak: ABSTRAK Pada peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2000 Tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil disebutkan Kenaikan pangkat adalah penghargaan yang diberikan atas prestasi kerja dan pengabdian Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan terhadap Negara. Naik pangkat dapat menjadi dorongan kepada Pegawai Negeri Sipil untuk lebih meningkatkan prestasi kerja dan pengabdiannya. Karena kenaikan pangkat merupakan penghargaan dan setiap penghargaan memiliki nilai apabila kenaikan pangkat diberikan tepat orang dan tepat waktu. Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo merupakan Rumah Sakit Pendidikan dimana memiliki tenaga medis subspesialistik yang beragam, memiliki kompetensi dan masa kerja yang cukup lama. Berdasarkan data yang ada pada Unit Sumber Daya Manusia (SDM) Departemen Mata tercatat 14 Dokter Spesialis Mata yang berstatus Dodiknis dari 30 Dokter Spesialis Mata yang berstatus PNS sehingga masih terdapat 16 Dokter yang belum melakukan inpassing dan 10 staf medis belum memiliki jabatan fungsional pendidikan. Diketahui Ketepatan kenaikan pangkat bagi staf medis di Departemen Mata dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang adalah variabel penilaian diri sendiri dengan nilai p=0,015. Dilakukan analisis dengan wawancara mendalam kepada staf medis dimana diperoleh informasi yang mempegaruhi keterlambatan kenaikan pangkat bagi staf medis yaitu staf tidak mengerti proses inpassing dan belum memiliki publikasi sehingga belum dapat mengurus kenaikan jabatan akademik dosen. Rumitnya proses administrasi baik kenaikan pangkat ataupun proses inpassing membuat sebagian staf lebih memilih untuk melakukan pelayanan dibandingkan melakukan penilitian. Kata kunci: Naik pangkat, staf medis, jabatan fungsional ABSTRACT In the government regulation of the Republic of Indonesia Number 99 of year 2000 concerning the Promotion of Civil Servants mentioned the promotion is an award given for the work performance and dedication of the concerned Civil Servants to the State. Promotion can be a boost to Civil Servants to further improve their work performance and service. Because promotion is an award and each award has a value if the promotion is given to the right person and on time. Cipto Mangunkusumo Hospital is a Teaching Hospital where it has a variety of subspecialty medical personnel, has competency and has a long working period. Based on the data available at the Department of Human Resources (SDM), there were 14 Dodiknis Ophthalmologists from 30 Ophthalmologists who were civil servant status so that there were still 16 Doctors who had not done inpassing and 10 medical staff did not have functional educational positions. It is known that the accuracy of promotion for medical staff at Department of Ophthalmology is influenced by several factors, one of the factors is the selfassessment variable with a value of p = 0.015. An analysis was conducted with in-depth interviews with medical staff where information was obtained which affected the delay in promotion for medical staff, staff did not understand the inpassing process and did not have publications so that they could not take care of the increase in academic lecturer positions. The complexity of the administrative process both promotion and inpassing process makes some staff prefer to do service rather than doing research Keywords: Civil servants, medical staf, fungtional structure
Read More
B-2059
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alief Muthi`ah; Pembimbing: Peter Pattinama, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Torang P. Batubara
Abstrak:

Menurut survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan pada 3 °/00 dari 213 jutajumlah penduduk di Indonesia saat ini, pertahurmya dilaporkan sebanyak 639.000 pasien pcnderita penyakit jantung koroner. Khusus di DKI Jaya dengan 12 juta penduduk, per tahunnya dilaporkan sebanyak 36.000 pasien jantung koroner. Bila 40% dari jumlah pcnderita penyakit jantung di DK1 Jakarta tersebut mcmerlukan terapi khusus, maka terdapat 10.000 pasien yang membutuhkan tindakan pengobatan baik dalam bentuk Percutanneous Trans Coronary Angioplasly ( P'I`CA ) atau operasi Coronary Artery Bypass Grajfng ( CABG ). Untuk memberikan pelayanan kcpada penderita jantung tersebut, RSCM sebagai Rumah Sakit Pemerintah terbesar dan mmah sakit rujukan nasional telah mcrcsmikan Unit Pclayanan Jantung Terpadu sebagai unit departemen baru yang khusus memberikan pelayanan kesehatan jantung dcngan tujuan untuk dapat memberikan pelayanan kcsehatan jantung bag semua lapisan masyarakat. Sesuai dengan visi dan misinya dalam memberikan pclayanan tersebut, maka diperlukan pengukuran atas kinerja PJ T dalam memberikan pelayanan kepada penderita jantung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pengukuran kinerja stratejik Pelayanan Janumg Terpadu (PJT) Rumah Sakit Cipro Mangkusurno (RSCM) dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Metode _penelitian menggunakan analisis data sekunder atas kinerja PJT pada keempat perspektif BSC. Adapun hasil analisis tersebut adalah (1) PJT belum mcmiliki kelengkapan dalam keempat perspetif yang dapat diukur dengan menggunakan pendekatan BSC. Sehingga pengukuran yang disarnpaikan berdasarkan indikator yang ada pada pemyataan visi, misi dan nilai~nilai saja. Pada ketiga pernyataan tersebut belum pula didukxmg oleh dokumen pengukuran secara lengkap, seperti pada pendidikan, penelitian, rujukan dan kerjasama stratejik; (2) Kinerja PJT yang diukur pada keempat perspcktif didapatkan bahwa (a) pada perspektif keuangan PJT telah memiliki kinerja yang baik, karena tclah memiliki pertumbuhan pendapatan dan pencapaian target pendapatan yang direncanakan; (b) pada perspektif pelanggan, tingkat kepuasan pelanggan masih berada pada kinerja yang cukup saja., sehingga PJT perlu melakukan perbaikan atas layanan yang disampaikan, terutama kualitas layanan yang terbaik dengan tarif yang terjangkau; (c) pada perspektif internal proses, yang diukur dengan BTO, AVLOS, TOI, BOR, dan GDR, didapatkan bahwa PJT memiliki kinerja yang cukup baik, namun pengukuran kinerja tersebut bukan menjadi pemyataan stratejik PJT yang dituangkan ke dalam visi, misi dan nilai; (d) pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, didapatkan tingkat kepuasan kerja karyawan yang masih berada pada sedang-sedang saja, sehingga PJT perlu melakukan perbaikan atas kesejahteraan dan fasilitas kerja dalam menunjang kepuasan kcrja. Atas dasar hasil tersebut, maka saran penelitian adalah: (1) PJT harus memperbaiki pemyataan stratejiknya, terutama pada visi dan misi, sehingga pencapaian visi dan misi dapat terukur prestasinya; (2) Pernyataan visi, misi dan nilai yang telah ada belum didukung atas indikator pencapaian kinerjanya, seperti: (a) Pemyataan rujukan, tidak didukung oleh adanya dokumen jumlah rujukan setiap bulannya; (b) Pemyataan menjadi pusat pendidikan, dan penelitian Iayanan kardiovaskuler, tidak didukung olch adanya dokumcn jumlah penelitian yang telah dilakukan setiap bulannya; (c) Kexjasama stratejik kcpada instansi Iain dalam kardiovaskuler, tidak didukung oleh adanya dokumen jumlah kerjasama stratejik yang lelah dilakukan


According to the result of survey about health conditions for household shown that 3% of 213 millions lndonesia?s population and about 639 thousands patients has coroner heart disease a year. DKI Jaya with 12 millions population has 36 thousands patients coroner heart disease. If 40% iiom those patients need special therapy, so 10.000 patients will need treatment in fomt of Percutanneous Tran Coronary Angioplasty (PTCA) or Coronary Artery Bypass Grafting surgery (CABG). in that case, for better service, RSCM which is the biggest government hospital and reference in nation had opened special division for coroner heart disease and will reach for all society. Due to point of view and mission, they need to take measure their PJT perfomiancc to give better services for heart disease patient. The purpose of this research to measure Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) perfomiance using Balance Scorecard (BSC). This analytic method used secondary PJT data on four BSC viewpoints. 'l`he results are: 1. PJT doesn?t have all four viewpoints in order to use BSC approach. Hence, this research was using only point of view, mission, and value. On that three statements do not have complete documentation, such as trained, researched, referenced, and strategic cooperation. 2. PJT performance was using four viewpoint perspective showed : a. PJT finance has growth on revenue that they already have planned. b. On patient perspective, satisfaction level is still under target. So, PJT needs to make enhancement but on low cost. c. On internal process perspective, using BTO,AvLOS,TOL,BOR,and GDR indicated PJT has good perfomiance, but PJT did not use the statement point of view, mission, and value. d. On learning and growing perspective had showed low employee satisfaction, so PJT has to make revision for employee welfare and work facility to reach higher employee satisfaction. From the research that I made, therefore my suggestions are: 1. PJT has to make statement revision on point of view, mission, in order to reach higher performance. 2. Point of view, mission and value statement do not have performance indicator, such as: a. There are not sufficient supported of monthly reference statement. b. There are not supported by documentation of research which is already done each month for training, and cardiovascular services. c. There are not supported by completed documentation and or cooperation with other firm.

Read More
B-1057
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azani Fitria; Pembimbing: Ronnie Rivany Penguji: Mieke Savitri, Wachyu Sulistiadi, Budi Hartono, Yoshida
Abstrak:

Diagnostic Related Groups (DRGs) yaitu suatu sistem yang mengklasifikasikan pasien-pasien rawat inap rumah sakit ke dalam kelompok-kelompok (grup) yang menggunakan sejumlah sumber daya yang relatif sama berdasarkan karakteristik seperti diagnosa, prosedur, umur, komplikasi ataupun penyakit yang menyertai (comorbidity). Diagnose Related Groups (DRG’s) merupakan suatu sistem pembiayaan rumah sakit dengan menggunakan mekanisme penggantian biaya (reimbursement payment mechanism) yang berguna untuk melakukan pengukuran terhadap sumber daya rumah sakit yang digunakan untuk memberikan pelayanan yang optimal terhadap pasien dengan menjamin efektivitas dan efisiensi pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit kepada pasien (Willems et al. 1989). Selain memberikan fokus dalam masalah penghitungan biaya, Casemix juga memberikan standar nasional mengenai berapa biaya yang harus dikenakan untuk diagnosis tertentu. Hal ini memberikan kepastian sekaligus transparansi pada masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan. Dengan demikian, biaya dapat diprediksi, dan keuntungan yang diperoleh rumah sakit pun dapat lebih pasti. Kelahiran bayi dapat dilakukan secara per abdominal melalui seksio caesaria maupun pervaginam baik secara spontan maupun dengan bantuan alat (vakum dan forcep). Walaupun insidens partus pervaginam dengan bantuan instrument hanya 1 diantara 10 persalinan, namun tindakan ini dapat mengakibatkan risiko mortalitas dan morbiditas yang cukup tinggi terhadap ibu dan janin sehingga operator yang melakukan tindakan haruslah seseorang yang benar – benar kompeten (Hayman 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penyakit penyulit dan penyerta (casemix) AR-DRG berbeda dengan pola penyakit DRG Indonesia khususnya pada tindakan vakum dan forsep dimana AR-DRG hanya mengklasifikasikan pola penyakit penyerta dan penyulit menjadi with severe comorbidity and complication dan without comorbidity and complication. Sedangkan DRG Indonesia (dengan pengambilan sampel di RSCM) mengklasifikasikan pola penyakit pada tindakan ekstraksi vakum dan forsep menjadi : EV/EF Murni, EV/EF dengan penyerta, EV/EF dengan penyakit penyulit dan EF/EV dengan penyerta dan penyulit. Penyakit Penyulit yang menjadi pola penyakit antara lain PreEklamsia Berat, Pre-Eklamsia Ringan, Hipertensi dalam kehamilan, Ketuban pecah dan Inersia PK 1 Aktif. Penyakit penyerta yang menjadi pola penyakit adalah bekas seksio. Penyakit penyerta dan penyulit yang menjadi pola penyakit antara lain PEB dan Bekas Seksio dan Ketuban Pecah & Bekas Seksio. Cost of Treatment tindakan ekstraksi vakum & forsep murni (O02B) adalah sebesar Rp. 3,570,552.54, dengan lama hari rawat 2 hari. Cost of Treatment tindakan ekstraksi vakum & forsep dengan penyerta (O02A) adalah sebesar  Rp 3,810,507.42, dengan lama hari rawat 3 hari, Cost of Treatment tindakan ekstraksi vakum & forsep dengan penyulit (O02A) rata – rata Rp 3,528,798.93 dengan lama hari rawat 4 hari. Terakhir, Cost of Treatment tindakan ekstraksi vakum & forsep dengan penyakit penyerta dan penyulit (O02A) Rp. 3,615,238.61 dengan lama hari rawat 4 hari. Terdapat penurunan tarif yang signifikan antara tarif tindakan ekstraksi vakum dan forsep mulai dari 14 % sampai dengan 30 % apabila komponen gaji dan obat dikeluarkan dari perhitungan. Perlunya telaah lebih lanjut terhadap adanya INA CBG’s (Indonesia Case-Based Group) sebagai kelanjutan dari INA DRG yang mulai diberlakukan oleh Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2011. Daftar Bacaan : 31 (1986 – 2010)


 

Diagnostic Related Groups (DRGs) is a system that classifies patients who were hospitalized in groups (group) that uses a number of resources which are relatively similar based on characteristics such as diagnosis, procedures, age, complications or illnesses that accompany (comorbidity). Diagnose Related Groups (DRG's) is a system of hospital’s financing using the reimbursement payment mechanism which is useful to make the measurement of hospital resources and used to provide optimum service to patients by ensuring the effectiveness and efficiency of health services (Willems et al. 1989). Besides focusing on costing issue, case mix also provides national standards on how costs should be imposed for a specific diagnosis. This provides certainty as well as transparency in public as a user of health services. Thus, predictable cost and hospital’s revenue can be more certain. The birth of a baby can be done by abdominal or caesarean section either spontaneously with the help of instrument (vacuum and forceps). Although the incidence of vaginal parturition with the aid of instruments only 1 in 10 deliveries, but this action could result in risk of mortality and morbidity to mother and fetus so the operators should be someone who is competent (Hayman 2005). The study reported that patterns of complications and comorbidity diseases (case mix) of AR-DRG has different patterns with INA DRG, especially on vacuum and forceps extraction where the AR-DRG only classify patterns  with severe complication and comorbidity and without comorbidity and complication. While DRG Indonesia (with sampling in RSCM) classify the pattern of disease in vacuum extraction and forceps action becomes: without comorbidity and complication, with comorbidity, with complications and with severe comorbidity and complications. Disease that became the pattern of disease complications including severe pre-eclampsia, Mild Pre-eclampsia, Hypertension in pregnancy, premature ruptur of the membrane and active phase inertia. Comorbidities that became the pattern of disease is a former delivery with caesarean section. Severe Complication and comorbidity are include mixture of former delivery with caesarean section and severe pre-eclamptia and premature rupture of the membrane and former delivery with caesarean section. Cost of Treatment vacuum & forceps extraction wo/ complication and comorbidity (O02B) is 3,570,552.54 IDR, with average length of stay 2 days. Cost of treatment vacuum & forceps extraction with comorbidity (O02A) is Rp 3,810,507.42 IDR, with average length of stay 3 days, cost of treatment vacuum & forceps extraction with complications (O02A) is 3,528,798.93 IDR with average length of stay 4 days and the Cost of Treatment vacuum & forceps extraction with severe comorbidities and complications (O02A) 3,615,238.61 IDR with average length of stay 4 days. There is a significant reduction in vacuum and forceps extraction’s tariff ranging from 14% to 30% if the salary component and the drugs excluded from the calculation. The need for further study of the CBG's INA (Indonesia Case-Based Group) as a continuation of the INA DRG which will be started by the Ministry of Health of Indonesia in 2011. References : 31 (1986 – 2010)

Read More
B-1336
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shinta Trilusita; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Mieke Savitri, Nina Rosyina
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh manajemen prom (desain sistem kerja serta pengelolaan dan peningkatan proses kerja) terhadap kinerja RS. MH. Thamrin Internasional Salemba Jakarta tahun 2008. Secara teoritis penelitian ini mengacu pada konsep dari Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPB), dalam Health Care Criteria for Performance Excellence 2008. Penelitian ini mempakan penelitian sun/ei dengan pendekatan kuantitatitl dimana data yang digunakan adalah data primer dengan memakai alat bantu kuesioner. Metode penelitian menggunakan metode analisis jalur atau disebut juga dengan Path Analysis. Sampel penelitian diambil dari karyawan RS. MH. Thamrin Internasional Salemba tahun 2008 dengan menggunakan stratified random sampling berdasarkan kelompok unit kerjanya. Hasil penelitian ditemukan bahwa desain sistem kerja serta pengelolaan dan peningkatan proses kelja mempengaruhi kincrja RS. MH. Thamrin Intemasional Salemba tahun 2008 sebesar 50, 1% dan 49,9% dipengaruhi oleh variabcl lain. Variabel yang paling besar mempengaruhi kinerja RS. MH. Thamrin Intemasional Salemba adalah pengeiolaan dan pcningkatan proses kerja yaitu sebesar 32,26%. sedangkan desain sistem kenja berpengaruh terhadap kinerja RS. MH. Thamrin Internasional Salemba sebesar 4,16%. Berdasarkan penelitian ini disarankan untuk lcbih memperhatikan dan meningkatkan manajemen proses, hal ini dapat dilakukan dengan cara : (1) mendesain sistem kerja yang efektif (2) mendesain sistem kerja yang mampu menghadapi keadaan darurat, (3) mendesain proses kerja yang jelas dan mudah untuk dilaksanakan, (4) mengelola, mengevaluasi dan meningkatkan proses kerja.


This study has an objective to know the influence of process management (work system design and work process management and improvement) to Operational Performance at MH. Thamrin International Salemba Hospital in Jakarta 2008. Theoretically, this concept is taken from Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE), in Health Care Criteria for Perfomance Excellence 2008. The design in this study is a survey design with quantitative approaches. The method being used in this study is a path-analysis-method. The data are primary taken by the questionnaires. Samples are taken among employees at MH. Thamrin lntemasional Salemba Hospital by stratiied-random-sampling-method based on the work unit. The result shows that work system design and work process management and improvement has influenced operational performance of MH. Thamrin [ntemasional Salemba Hospital as much as 50,l%, and the rest is influenced by other factor which is not included in this study. According to the result of this study, it is recommended to give more attention to improve process management, such as: (I) design an eH`ective work systems, (2) design a work system which prepared for disasters or emergencies, (3) design a work process which is easy to be done, (4) manages, evaluate, and improve work processes.

Read More
B-1152
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Ginanjar; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Ede Suryadarmawan, Adik Wibowo, Lies Dina Liastuti, Idrus Alwi
Abstrak: Sindrom koroner akut berkontribusi pada tingginya angka morbiditas dan mortalitas terkait kasus penyakit kardiovaskular, dengan salah satu penyebab mortalitas tertinggi yaitu STEMI(ST Elevation Myocardial Infarction). Keterlambatan penanganan pasien STEMI menjadi penyebab tingginya mortalitas dan kejadian MACE (Major Adverse Cardiac Event), serta berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan.Program CODE STEMI diciptakan dengan harapan dapat menyelesaikan keterlambatan ini serta meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan program CODE STEMI terhadap kualitas pelayanan pasien dengan STEMI di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.Metode yang digunakan adalah metode operasional secara kuantitatif dan kualitatif dengan desain kohort retrospektif. Data kuantitatif didapatkan dari telaah dokumen dengan jumlah sampel 207 pasien (135 kelompok CODE STEMI, 72 kelompok Non CODE STEMI), sedangkan data kualitatif didapatkan dari wawancara mendalam dengan sepuluh informan penelitian. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan uji Mann whitney (Door to balloon time, total biaya RS, lama rawat) dan chi square (kejadian Mortalitas dan MACE). Hasil penelitian menunjukan terdapat perbaikan yang bermakna untuk door to balloon time, total biaya dan lama rawat pasien STEMI pada pasien yang ditangani dengan CODE STEMI. Selain itu terdapat kecenderungan penurunan angka kejadian MACE dan mortalitas setelah diterapkan program CODE STEMI. Baik pihak rumah sakit maupun pasien mengaku puas dengan program CODE STEMI tersebut. Program ini terbukti memiliki efikasi, efektivitas, optimalitas, akseptibilitas, legitimasi, dan ekuitas yang baik serta memenuhi prinsip-prinsip manajemen yang baik untuk sebuah program pelayanan. Kesimpulan penelitian ini adalah program CODE STEMI berpengaruh baik terhadap kualitas pelayanan pasien dengan STEMI di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Read More
B-2136
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mirnawaty; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Mieke Savitri, Indra Maryunif
B-1447
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive