Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39730 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Intan Juliana Omposunggu; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Yovsyah, Trihono, Toni Wandra
T-3254
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Annisa Ika Putri; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Pukovisa Prawiroharjo
Abstrak: Stroke tercatat sebagai penyebab kematian kedua tertinggi pada usia 45-54 tahun di wilayah perdesaan Indonesia. Stroke merupakan penyakit gangguan fungsi otak akibat kelainan vaskuler yang bersifat multikausal. Penelitian ini bertujuan mengetahui frekuensi dan determinan kejadian stroke berdasarkan faktor risikonya pada penderita hipertensi berusia ≥ 45 tahun di wilayah perdesaan Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data Riskesdas 2013 yang menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel dari penelitian ini adalah penderita hipertensi yang berusia ≥ 45 tahun, dan tinggal di wilayah perdesaan. Hasil penelitian ini menunjukkan, prevalensi stroke pada penderita hipertensi dewasa di perdesaan adalah sebesar 5,3%. Prevalensi stroke tertinggi ditemukan di provinsi Maluku Utara (7,2%) dan terendah di provinsi Papua (1,7%). Pada variabel yang diteliti, jenis kelamin, stress, aktivitas fisik, konsumsi obat anti-hipertensi, perilaku merokok dan tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna terhadap kejadian stroke pada penderita hipertensi dewasa (≥ 45 tahun) di wilayah perdesaan Indonesia.
Kata kunci : Stroke¸ Penderita Hipertensi, Perdesaan, Dewasa, Indonesia, Riskesdas

Stroke was recorded as the second-highest mortality cause at the age of 45- 54 years in rural areas of Indonesia. Stroke is multicausal brain function disorder due to vascular abnormalities. This study aimed to determine the frequency and determinants of stroke based on risk factors in hypertensive patients aged ≥ 45 years in rural areas of Indonesia. This study is a further analysis of the Riskesdas 2013 data which used cross-sectional study design. The sample of this study is hypertensive patients who aged ≥ 45 years old and lived in rural areas. The results of this study showed that the prevalence of stroke in adult hypertensive patients in rural areas amounted to 5.3%. The highest prevalence of stroke was found in North Maluku province (7.2%) and the lowest in Papua province (1.7%). In the studied variables, gender, stress, physical activity, consumption of anti-hypertensive drugs, smoking and education have relation to the prevalence of stroke in adult hypertensive patients (≥ 45 years) in rural areas of Indonesia.
Keywords : Stroke¸ Hypertensive Patient, Rural, Adult, Indonesia, Riskesdas
Read More
S-8580
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Laurentius Aswin Pramono; Pembimbng: Bambang Sutrisna; Penguji: Siti Setiati, Imam Subekti, Nasrin Kodim, Asri C. Adisasmita
T-3140
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Mira Meilani; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Kusdinar Achmad, Soewarta Kosen, Djarot Darsono
Abstrak:

Hipertensi merupakan penyebab kematian No.3 di Indonesia, dengan prevalensi 31,7%, hipertensi tidak terdiagnosis sebesar 76%, berbagai indeks antropometri berhubungan dengan kejadian hipertensi, namun terdapat perbedaan mengenai cut off point. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tiga indeks antropometri Indeks Masa Tubuh (IMT), Lingkar Pinggang (LP), dan Rasio Lingkar Pinggang Tinggi Badan (RLPTB) terhadap hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2007. Penelitian ini merupakan penelitian uji diagnostik untuk melihat nilai cut off point yang optimal, AUC (Area Under The Curve) dengan receiver operating characteristic (ROC), sensitifitas, dan spesifisitas, Positive predictive value, Negative predictive value, Likelihood Rasio Positive, Likelihood Rasio Negative, pre-test dan post-test probability IMT, LP, RLPTB. Prevalensi hipertensi di Indonesia 27,15%, nilai cut off untuk IMT 22,2-23 kg/m2, LP nilai cut off 75,9 cm-79,5 cm, RLPTB nilai cut off 0,47- 0,5. Indeks antropometri dapat di gunakan sebagai alat skrening walaupun dengan kekuatan diagnostik yang lemah. Kemampuan diagnostik pada penelitian ini lebih untuk menduga mereka yang tidak sakit dengan nilai Negative predictive value yang cukup baik. Studi ini merekomemdasikan penggunaan ingkar pinggang sebaga alat skrening terhadap hipertensi karena lebih muda dan murah.


 

Hypertension is the third a leading cause of death in Indonesia, with a prevalence of 31.7%, and undiagnosed hypertension by 76%, various anthropometric indices associated with the incidence of hypertension, but there are differences regarding the cut off point. This study aims to test three anthropometric indexes as a screening tool of undiagnosed hypertension. This study uses cross-sectional design, using secondary data Riskesdas 2007. This research is a diagnostic test to see the optimal cut off point, AUC (Area Under the Curve) with a receiver operating characteristic (ROC), sensitivity, and specificity. The prevalence of hypertension in Indonesia 27.15%, cut-off point for BMI 22.6 kg/m2- 23 kg/m2. For the wasit Circumference cut-off point of 75.9 cm-79,5 cm. Waist to Stature Ratio cutt off point of 0.47- 0.51. Anthropometric indices can be used as screening tool even with a weak diagnostic power. Diagnostic capability in this study is more to suspect they are not sick with Negative predictive value is good. This study recommends to use of waist circumference as a screening tool for hypertension because is easier and cheaper to use.

Read More
T-3685
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Igo Cahya Negara; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Helwiah Umniyati, Junita Rosa Tiurma
Abstrak:
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada pengguna narkotika suntik (penasun) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan prevalensi tertimbang yang meningkat dari 14,3% (2018–2019) menjadi 17,1% pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi HIV pada penasun di Indonesia menggunakan data sekunder Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2023. Desain penelitian adalah potong lintang (cross-sectional) dengan sampel 2.128 penasun yang direkrut melalui metode Respondent-Driven Sampling (RDS) dan memiliki status HIV terkonfirmasi laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox dengan asumsi waktu konstan untuk mengestimasi Prevalence Ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%, dengan pemodelan akhir melalui backward elimination. Proporsi HIV positif sebesar 17,06%. Model akhir multivariat mengidentifikasi tujuh variabel yang berhubungan bermakna, yaitu konsistensi penggunaan kondom sebagai faktor risiko terkuat (aPR=6,18; 95% CI: 5,11–7,48), layanan testing HIV (aPR=2,03; 95% CI: 1,53–2,67), usia (aPR=1,99; 95% CI: 1,57–2,52), pemahaman efektivitas kondom (aPR=1,46; 95% CI: 1,14–1,87), lama menjadi penasun (aPR=1,32; 95% CI: 1,04–1,67), perilaku berbagi jarum suntik (aPR=1,27; 95% CI: 1,03–1,55), serta persepsi diri merasa berisiko tertular HIV (PR=0,47; 95% CI: 0,36–0,62). Temuan ini menunjukkan bahwa jalur penularan seksual menjadi faktor dominan infeksi HIV pada penasun di Indonesia saat ini. Desain potong lintang membatasi temuan ini pada hubungan asosiasi, bukan kausal. Program penanggulangan HIV pada penasun perlu memperluas akses kondom beserta edukasi efektivitasnya, memperkuat rujukan aktif untuk layanan testing HIV, dan menyasar penasun usia lebih tua serta dengan masa pajanan napza suntik panjang sebagai kelompok prioritas dalam strategi harm reduction.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection among people who inject drugs (PWID) remains a major public health concern in Indonesia, with weighted prevalence rising from 14.3% (2018–2019) to 17.1% in 2023. This study aimed to analyze factors associated with HIV infection among PWID in Indonesia using secondary data from the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). A cross-sectional design was employed with a sample of 2,128 PWID recruited through Respondent-Driven Sampling (RDS), with HIV status confirmed by laboratory testing. Data were analyzed in stages through univariate, bivariate, and multivariate analyses using Cox regression with a constant-time approach to estimate Prevalence Ratios (PR) and 95% confidence intervals, with the final model derived through backward elimination. The proportion of HIV-positive PWID was 17.06%. The final multivariate model identified seven variables significantly associated with HIV infection: condom use consistency as the strongest risk factor (aPR=6.18; 95% CI: 5.11–7.48), HIV testing service (aPR=2.03; 95% CI: 1.53–2.67), age (aPR=1.99; 95% CI: 1.57–2.52), condom effectiveness knowledge (aPR=1.46; 95% CI: 1.14–1.87), duration of injecting drug use (aPR=1.32; 95% CI: 1.04–1.67), needle-sharing behavior (aPR=1.27; 95% CI: 1.03–1.55), and self-perceived HIV risk (aPR=0.47; 95% CI: 0.36–0.62). These findings indicate that sexual transmission is the dominant factor of HIV infection among PWID in Indonesia. The cross-sectional design limits these findings to associational rather than causal inferences. HIV prevention programs for PWID should expand condom access alongside effectiveness education, strengthen active referral pathways to HIV testing services, and prioritize older PWID and those with longer injecting histories within harm reduction strategies.
Read More
T-7612
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Fajar Awalia Yuliant; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Asri C. Adisasmita, Titik Respati
T-4162
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Yogi Puji Rachmawan; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Helda, Bambang Budi Siswanto; Penguji: Ratna Djuwita, Sabarinah, Habibie Arifianto, Anggoro Budi Hartopo
Abstrak:
Gagal jantung adalah sindroma yang terjadi akibat kegagalan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi sel tubuh. Prevalensi dan angka kematian gagal jantung di Indonesia cukup tinggi bila dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Gagal jantung pada usia muda akan meningkatkan risiko kematian, menyebabkan rehospitalisasi berulang, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan beban sistem layanan kesehatan. Obesitas, (diabetes melitus tipe 2) DMT2, hipertensi, merokok, dislipidemia, riwayat keluarga dengan (prematurce coronary artery disease) PCAD, dan jenis kelamin diketahui berhubungan dengan terjadinya gagal jantung. Diperlukan sebuah model prediksi untuk menjelaskan faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya gagal jantung pada usia muda, sehingga model prediksi tersebut dapat menjadi dasar upaya pencegahan terjadinya gagal jantung pada usia muda. Penelitian ini menggunakan desain fixed kohort-retrospektif yaitu pasien usia 18-54 tahun yang berobat di poliklinik jantung atau dirawat inap di 4 rumah sakit (RS) di Indonesia yaitu RS Harapan Kita Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dan RS Adam Malik Medan pada tahun 2021 dan tidak terdiagnosis gagal jantung kemudian diambil data faktor risikonya sesuai variabel yang diteliti. Status pasien terdiagnosis gagal jantung atau tidak akan diikuti setiap bulannya sejak tahun 2021 hingga akhir pengamatan 2024. Kemudian dilakukan analisis deskriptif, bivariabel, dan multivariabel menggunakan Generalized Linear Model (GLM) Poisson untuk mendapatkan nilai koefisien, IRR (interval kepercayaan 95%), dan menyusun model prediksi yang paling tepat. Berdasarkan model, akan dibuat sistem skor dan nilai probabilitas terjadinya gagal jantung. Total 321 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan median usia 51 tahun (P25-P75: 46-52 tahun). Pada observasi tahun ke-4, probabilitas kumulatif sebesar 0,713 (95% CI 0,661 – 0,760). Hasil analisis menunjukan 3 variabel utama yang signifikan berkaitan dengan risiko terjadinya gagal jantung di usia muda, yaitu obesitas (IRR 1,87; 95% CI 1,31 – 2,68), dislipidemia (IRR 2,58; 95% CI 1,87 – 3,56), dan DMT2 (IRR 2,79; 95% CI 2,01 – 3,87). Skor IMT-Dislipidemia-DMT2 (IDD) disusun sebagai sistem skor prediksi gagal jantung pada usia muda dengan total skor 13 (probabilitas 76,8%). Obesitas, dislipidemia, dan DMT2 merupakan faktor risiko yang berpengaruh signifikan, dan penggunaan sistem Skor IDD memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik dalam prediktor terjadinya gagal jantung pada usia muda.

Heart failure is a clinical syndrome that occurs when the heart fails to meet the body’s demand for oxygen and nutrients. The prevalence and mortality rate of heart failure in Indonesia are relatively high compared to other Southeast Asian countries. The occurrence of heart failure in young adults increases the risk of premature death, recurrent rehospitalization, reduced quality of life, and a greater burden on the healthcare system. Several factors such as obesity, type 2 diabetes mellitus (T2DM), hypertension, smoking, dyslipidemia, family history of premature coronary artery disease (PCAD), and sex have been identified as being associated with heart failure. Developing a predictive model to identify the most influential risk factors for heart failure in young adults is crucial for preventive strategies and early interventions. This study employed a fixed retrospective cohort design involving patients aged 18–54 years who visited the cardiology outpatient clinic or were hospitalized at four tertiary hospitals in Indonesia (National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta; Hasan Sadikin Hospital, Bandung; Sebelas Maret University Hospital, Solo; and Adam Malik Hospital, Medan) in 2021. Patients without an initial diagnosis of heart failure were included, and their risk factors were recorded according to the study variables. The patients were followed monthly from 2021 until the end of observation in 2024 to determine whether they developed heart failure. Descriptive, bivariate, and multivariable analyses were conducted using the Poisson Generalized Linear Model (GLM) to estimate coefficients, incidence rate ratios (IRR) with 95% confidence intervals, and to construct the most accurate predictive model. Based on the model, a scoring system and probability value for the occurrence of heart failure were developed. A total of 321 participants met the inclusion and exclusion criteria, with a median age of 51 years (P25–P75: 46–52 years). After four years of observation, the cumulative probability of developing heart failure was 0.713 (95% CI: 0.661–0.760). The analysis identified three significant predictors for heart failure in young adults: obesity (IRR 1.87; 95% CI 1.31–2.68), dyslipidemia (IRR 2.58; 95% CI 1.87–3.56), and T2DM (IRR 2.79; 95% CI 2.01–3.87). The IDD Score (Body Mass Index–Dyslipidemia–Diabetes) was developed as a predictive scoring system for heart failure in young adults, with a total score of 13 corresponding to a 76.8% probability. Obesity, dyslipidemia, and T2DM were found to be significant risk factors for heart failure in young adults. The proposed IDD Score demonstrated good sensitivity and specificity in predicting the occurrence of heart failure within this population.

Read More
D-600
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Febrilia Dwi Lestari; Pembimbing: Helda, Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Felly Philipus Senewe, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab terjadinya penyakit tidak menular lainnya seperti penyakit jantung, stroke dan banyak penyakit lain yang menjadi penyebab kematian terbanyak di dunia. Hipertensi pada wanita harus mendapatkan perhatian yang serius karena mengalami peningkatan dari waktu ke waktu dan dapat menimbulkan komplikasi yang lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor dominan kejadian hipertensi pada wanita di daerah rural dan urban di Indonesia tahun 2014. Penelitian ini menggunakan data sekunder Indonesian Family Life Survey (IFLS 5 tahun 2014) dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 6.503 orang yang terdiri dari 3.675 wanita di daerah rural dan 2.828 wanita di daerah urban. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 3.675 wanita di di daerah rural terdapat 17,63% orang menderita hipertensi dan dari 2.828 wanita di daerah urban terdapat 18,14% orang menderita hipertensi. Setelah dilakukan analisis multivariat untuk melihat faktor dominan hipertensi pada wanita di daerah rural dan urban didapatkan bahwa umur sebagai faktor dominan di kedua daerah tersebut dengan masing- masing di daerah rural dengan PR= 3,16 (95%CI, 2,651-3,790) dan di daerah urban dengan PR= 3,41 (95%CI, 2,800-4,166).
Read More
T-5648
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Ahmad Aswal Liambo; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Yovsyah, Soewarta Kosen, Eulis Wulantari
Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian dini pada masyarakat, WHOmelaporkan hampir satu milyar orang di dunia menderita hipertensi dan diprediksimeningkat menjadi 1,5 milyar pada tahun 2025 nanti. Kurang aktivitas fisik merupakansalah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi dengan usaha dan biaya yangtidak terlalu besar. Pada tahun 2013, prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa diIndonesia sebesar 25,8% dan proporsi kurang aktivitas fisik sebesar 26,1%. Tujuanpenelitian ini adalah mengetahui prevalensi hipertensi, proporsi kurang aktivitas fisik danhubungan aktivitas fisik dengan hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesiaberdasarkan data IFLS 5 tahun 2014. Desain yang digunakan adalah cross sectional,populasi penelitian yakni seluruh penduduk dewasa (≥18 tahun) yang menjadi respondenIFLS 5 tahun 2014 dengan sampel sebanyak 26.043 responden. Kriteria hipertensimenggunakan pedoman JNC-7 (140/90 mmHg), penilaian aktivitas fisik berdasarkankebiasaan melakukan kegiatan fisik minimal selama 10 menit dalam seminggu, terdiridari aktif dan kurang aktif. Uji statistik pada analisis bivariat dan multivariatmenggunakan cox regression. Hasil analisis menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar24,09%, proporsi kurang aktivitas fisik sebesar 35,68%, serta terdapat hubungan yangsignifikan antara aktivitas fisik dengan hipertensi (P value 0,000). Penduduk yang kurangaktivitas fisik berisiko 1,15 kali mengalami hipertensi dibandingkan penduduk yangmemiliki aktivitas fisik aktif (PR: 1,15; 95% CI: 1,09-1,21). Disarankan kepadamasyarakat untuk melakukan kegiatan fisik ringan berupa jalan kaki minimal selama 30menit setiap harinya dan kepada Dinas Kesehatan untuk berinovasi dalam memberikanedukasi kepada masyarakat terkait pentingnya aktivitas fisik dengan menggunakan sosialmedia (Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya).
Kata kunci :Hipertensi, aktivitas fisik, cross sectional, cox regression, IFLS 5.
Hypertension is the leading causes for prematur death worldwide. Globally, WHOreported about nearly one billion people living with hypertension and it is estimated thatthis number will escalate to more than 1,5 billion by the year 2025. Insufficient physicalactivity is one of the modifiable risk factors for hypertension, which is not required greateffort and cost. In 2013, the prevalence of hypertension among Indonesian adults was25,8% and the proportion of insufficient physical activity was 26,1%. This study aims toknow the prevalence of hypertension, the proportion of insufficient physical activity andalso its relationship among the Indonesian adults based on IFLS 5 data in 2014. A cross-sectional study was conducted among 26.043 respondents in IFLS 5 aged 18 years andabove. The JNC-7 guidelines used to defined hypertension (if systolic blood pressure≥140 mmHg and/or diastolic ≥90 mmHg), whereas physical activity measured by thehabit of performing physical activity for at least 10 minutes a week. Statistical test onbivariate and multivariate analysis using cox regression. The prevalence of hypertensionwas 24,09% and the proportion of insufficient physical activity was 35,68%. Statisticaltest shown there was a significant relationship between physical activity and hypertension(P value 0,000), people with insufficient physical activity at risk 1,15 times havinghypertension than those with active physical activity (PR: 1,15; 95 % CI: 1,09-1,21).Adults should do at least 30 minutes walking everyday, province/district health officeneeds to use social media such as Facebook, Instagram, Twitter, etc, in order to promotingthe benefit of physical activity.
Keywords :Hypertension, physical activity, cross sectional, cox regression, IFLS 5.
Read More
T-5133
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
cover
Masaruddin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, I Nyoman Kandun, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Hypertension or high blood pressure is a global health problem, including in Indonesia because of its high prevalence. Hypertension does not provide typical complaints and symptoms so many sufferers do not realize it. Therefore hypertension is called the silent killer, the prevalence of hypertension in Indonesia in 2013 is 25.8%, in 2015 23.8%, in 2016 30.9%. Prevalence in women is 32.9%, men 28.7%, in urban areas 31.7%, rural areas 30.2% and the number 3 cause of death in Indonesia. This study aims to determine the relationship between consumption patterns of fast food, soft drinks and meat with the incidence of hypertension in the adult population in Indonesia in 2014 using IFLS-5 data. The design of the study in this study was analytic observational with a cross-sectional study design, this study was conducted in October-November 2018 in Depok City. The results of the study were the prevalence of hypertension in the adult population (≥ 18 yrs - 101 yrs) of 18.91%, people who consumed fast food, age> 30 years, with female gender, low education and suffering from diabetes mellitus were at risk for hypertension by 1 , 47 times to experience hypertension compared to people who do not consume fast food, PRadj 1.47 (95% CI: 1.16 - 1.86) P-value 0.001. People who consume soft drinks, age> 30 years, are female, with low education and suffer from diabetes mellitus at a risk of 1.63 times compared to people who do not consume PRadj soft drinks; 1.63 (95% CI; 1.37 - 1.95) P-value 0,000. People who consume meat, age> 30 years in female sex, low education, smoke and suffer from diabetes mellitus are not associated with the incidence of hypertension PRadj 1.00 (95% CI: 0.92 - 1.09) P-value 0.885. It is recommended to the public to consume foods that contain balanced nutrition, take measurements of blood pressure at least 1 time / month, to the Health Office to conduct counseling or healthy food campaigns that contain balanced nutrition, to the Ministry of Health, promote the consumption pattern of 4 perfectly healthy 5.
Keywords: Hypertension, Fast Food, Soft Drink, Meat and IFLS-5.
Read More
T-5475
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive