Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20213 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Endang Sri Murtiningsih Basuki; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo, Hadi Pratomo, Nuning Maria Kiptiyah
D-86
Depok : FKM UI, 2003
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusuma, Inggar Ratna; Promotor: Rita Damayanti; Kopromotor: Sabarinah; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sutanto Priyo Hastono, Irwanto, Hadi Susiarno, Maria Gayatri, Indra Supradewi
Abstrak:
Pendahuluan Cakupan kontrasepsi modern Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP) di Indonesia baru mencapai 49.1 %, rendah dibandingkan target pemerintah 70 %. Upaya meningkatkan prevalensi penggunaan kontrasepsi modern KBPP diantaranya melalui komunikasi, informasi, edukasi (KIE) dan konseling berkualitas oleh bidan. Bidan berkontribusi dalam pelayanan Keluarga Berencana (KB) sebanyak 55.90 % dan menjadi rujukan sumber informasi KB terbanyak 19 %.Method Information Indek (MII) kualitas konseling KB Indonesia masih rendah 46.74 %. Rendahnya kualitas konseling menyebabkan tingginya angka unmet needs dan drop out KB. Kejadian drop out KB terbanyak karena efek samping 28.90 %. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kualitas konseling pelayanan KBPP terhadap penggunaan kontrasepsi modern postpartum di Jawa Tengah. Metode Desain kuantitatif kohort prospektif. Menganalisis perbandingan pengaruh kualitas konseling pelayanan kebidanan KBPP terhadap intensi dan penggunaan kontrasepsi modern postpartum di wilayah Strategi Konseling Berimbang (SKB) dan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK). Hasil Konseling KBPP meningkatkan 3.43 x (CI 95 %, 1.31-4.52) intensi penggunaan KBPP pada ibu hamil. Intensi meningkatkan 4.37 x (CI 95 %, 3.16-9.02) penggunaan KBPP. Konseling meningkatkan 5.05 x (CI 95%, 3.19-10.63) penggunaan KBPP. Dampak konseling SKB meningkatkan 1.517 x intensi KBPP dan 0.8 x penggunaan KBPP namun, metode konseling berpengaruh secara statistik tapi tidak berpengaruh secara substansi terhadap intensi dan penggunaan KBPP Kesimpulan Konseling penting untuk meningkatkan intensi dan penggunaan KBPP menggunakan metode konseling apapun. Frekuensi ideal pemberian konseling minimal 5x sejak hamil. Waktu pemasangan KBPP terbaik pada 0-3 hari postpartum saat ibu di fasilitas kesehatan Kata Kunci : Kualitas konseling, Asuhan kebidanan berkesinambungan, KBPP

Introduction Postpartum Family Planning (PPFP) coverage in Indonesia has reached 49.1%. Midwives have an important role in increasing the prevalence of PPFP through the quality of family planning counseling. The contribution of midwives in family planning services is 55.90%. The Method Information Index (MII) in Indonesia is still limited at 46.74 %. The lack of quality counseling causes a high number of family planning dropouts, mostly due to side effects of 28.90%. Therefore, this study aimed to determine the effect of the quality of PPFP by midwifery counseling services on the use of modern postpartum contraception in Central Java. Methods This study employed a prospective cohort quantitative approach. It analyzed a comparison of the influence quality of PPFP by midwifery service counseling on the use of modern postpartum contraception in areas that use balanced counseling (SKB) and Decision Making Aids (ABPK) The results of PPFP counseling raised the intention to utilize KBPP by 3.43 times (95% CI, 1.31-4.52) among pregnant women. The intention to utilize PPFP increased by 4.37 times (95% CI, 3.16-9.02). Counseling increased PPFP use by 5.05 times (95% confidence interval, 3.19-10.63). The impact of SKB counseling raised 1.517 PPFP intentions and 0.8 PPFP use; However, the counseling method showed a statistically significant but small influence on PPFP intentions and use. Conclusion Counseling is essential for increasing PPFP intention and use, regardless of the counseling modality used. The optimal frequency of counseling is at least five times since pregnancy. The optimal period to install PPFP is between 0 and 3 days after birth, while the mother is in a health facility. Keywords: Quality Counseling, Continuity of Care Midwifery, PPFP
Read More
D-538
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Silviana Mustikawati; Promotoor: Hadi Pratomo; Kopromotor; Evi Martha, Ade Iva Murty Penguji: Asri C. Adisasmita, Suginarti, Ekawaty Lutfia Haksari, Sutanto Priyo Hastono, Dian Ayubi
Abstrak:
Perawatan BBLR yang optimal dan keberlanjutan dengan Perawatan Metode Kanguru (PMK) di rumah sangat diperlukan untuk menjaga agar suhu bayi tetap stabil dan menghindari terjadinya gangguan kesehatan pada bayi khususnya neonatus. Namun perbedaan kondisi antara rumah sakit dan rumah akan berpengaruh pada praktek PMK ibu di rumah, dimana praktek PMK di rumah tidak seberhasil praktek PMK di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendampingan kader kesehatan terhadap pengetahuan, sikap, dan praktek PMK pada ibu dengan BBLR. Penelitian dilakukan terhadap 100 ibu yang mempunyai BBLR paska perawatan RSUD Koja, Jakarta Utara dengan pendekatan kuasi eksperimen (50 ibu kelompok intervensi dan 50 ibu kelompok kontrol). Teknik pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Di kelompok intervensi ibu BBLR mendapatkan booklet dan memperoleh pendampingan PMK 3 kali oleh kader kesehatan berupa kunjungan rumah yang diberikan pada 3 hari setelah BBLR keluar dari RS, minggu ke-2, dan ke-3. Sedangkan di kelompok kontrol, ibu BBLR hanya mendapatkan booklet dari kader kesehatan pada saat kunjungan akhir di rumah. Pada kedua kelompok dilakukan pengukuran sebanyak 4x yaitu sebelum pendampingan 1, setelah pendampingan 1, setelah pendampingan 2, dan setelah pendampingan 3. Pengumpulan data kualitatif dilakukan untuk melengkapi informasi hasil kuantitatif yang didapatkan dalam penelitian. Analisis bivariat dilakukan dengan independent t-test dan paired t-test, serta analisis multivariat dilakukan dengan General Linear Model-Repeated Measure untuk menganalisis pengaruh pendampingan kader kesehatan terhadap pengetahuan, sikap, dan praktek PMK ibu dengan mempertimbangkan faktor confounding. Hasil memperlihatkan bahwa pendampingan PMK oleh kader kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan PMK sebesar 12% (pengukuran 2), 3% (pengukuran 3), dan 1,67% (pengukuran 4). Pengaruh pendampingan terhadap sikap ibu terhadap PMK adalah sebesar 8,13% (pengukuran 2); 14,06% (pengukuran 3); dan 2,37% (pengukuran 4). Pendampingan berpengaruh terhadap peningkatan praktek PMK ibu sebesar 4,92% (pengukuran 2) dan 1,29% (pengukuran 3). Kesimpulan: Pendampingan PMK oleh kader kesehatan melalui kunjungan rumah selama 3 kali dalam 3 mingggu dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek PMK pada ibu. Disarankan pelibatan kader kesehatan dalam pendampingan dan pemantauan PMK di rumah dimasukkan dalam kebijakan pemantauan BBLR. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktek PMK ibu BBLR di rumah pasca rawat rumahsakit.
Read More
D-429
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdul Razak Thaha; Promotor: Soekirman; Purnawan Junadi; Pembimbing: A. Djaelani Sediaoetama
D-22
Jakarta : FKM-UI, 1995
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Purwaningsih; Pembimbing: Bambang Sutrisna
D-69
Depok : FKM-UI, 2001
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melania Hidayat; Prmotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Endang L. Achadi, Sri Moertiningsih Adioetomo, Tris Eryando, Wendy Hartanto, Rina Herarti
D-320
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisa Trina Arlym; Promotor: Endang L. Achadi; Kopromotor: Dwiana Ocviyanti, Yekti Widodo; Penguji: Besral, Kusharisupeni, Evi Martha, Anies Irawati, Indra Supradewi
Abstrak: Berat dan panjang badan lahir mencerminkan pertumbuhan janin. ANC yang berkualitas dan frekuensi kunjungan ANC yang memadai merupakan salah satu cara untuk mendeteksi dan intervensi gangguan pertumbuhan janin. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kepatuhan bidan dan ibu hamil dalam program ANC terhadap berat dan panjang badan lahir. Metode penelitian adalah mixed method dengan pendekatan potong lintang. Tahap kuantitatif menggunakan data sekunder dari studi kohor tumbuh kembang anak tahun 2012-2018 di Kota Bogor. Tahap kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan bidan melakukan standar 5T (timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, pemeriksaan Hb dan pemberian tablet tambah darah) sebesar 76,3% pada semua kunjungan dan 72,1% sesuai program (K1-K4). Kepatuhan bidan berpengaruh terhadap panjang badan lahir (p=0,04) dengan RR 1,5 dan kepatuhan ibu hamil berpengaruh terhadap berat badan lahir (p=0,047) dengan RR 1,6. Bidan dan ibu hamil patuh menghasilkan berat badan lahir lebih berat 93,51 gram (p=0,045) dan panjang badan lahir lebih panjang 0,46 cm (p=0,007) dibandingkan salah satu saja yang patuh. Bidan dan ibu patuh menghasilkan berat badan lahir lebih berat 166,1 gram (p=0,006) dan panjang badan lahir lebih panjang 0,54 cm (p=0,064) dibandingkan keduanya tidak patuh. Sebaiknya kepatuhan tidak hanya dari pihak ibu hamil tetapi juga dari bidan
Read More
D-454
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syawal Kamiluddin Saptaputra; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Hadi Pratomo; Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Besral, Nurhayati Adnan Prihartono, Baiduri Widanarko, Nani Dharmasetiawani, Agus Triyono
Abstrak: Latar Belakang: Perawatan Metode Kanguru (PMK) memerlukan pendekatan yang komprehensif di antaranya sarana yang ergonomis untuk memperbaiki postur dan mengurangi risiko keluhan muskuloskeletal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain sofa ergonomis dan mengetahui efektivitasnya dalam memperbaiki postur dan menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal pada ibu yang melakukan PMK. Metode: Desain penelitian pada tahap I adalah Research and Development. Pembuatan virtual human dan virtual sofa design menggunakan software Jack Tecnometrix Siemens. Desain Penelitian tahap II adalah pre and post test experimental controlled group design. Pengukuran postur duduk menggunakan Rapid Upper Body Limb Assessment (RULA). Pengukuran keluhan muskuloskeletal menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kelompok intervensi adalah ibu yang menggunakan sofa ergonomis PMK sedangkan kelompok kontrol adalah ibu yang menggunakan kursi yang tersedia di rumah sakit. Hasil: Berdasarkan hasil pengukuran keluhan muskuloskeletal diketahui pada umumnya ibu mengalami keluhan pada berbagai anggota tubuh. Keluhan yang paling banyak antara lain pada bagian bokong (55.1%), pinggul (42%), bahu kanan dan kiri (37.7%), punggung (37.7%), pinggang (36.2%). Berdasarkan uji MannWhitney diketahui kelompok kontrol memiliki postur tubuh yang lebih berisiko mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan kelompok intervensi dengan p value = 0.000. Berdasarkan uji Mc Nemar diketahui bahwa setelah dilakukan intervensi, kelompok kontrol memiliki keluhan muskuloskeletal yang lebih tinggi dibandingkan kelompok intervensi yaitu pada bagian leher atas (p value = 0.000), bahu kiri (p value = 0.008), bahu kanan (p value = 0.002), tengkuk (p value = 0.021), lengan kiri atas (p value = 0.031), dan punggung (p value = 0.031). Kesimpulan: Desain sofa ergonomis PMK berpotensi menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal pada ibu yang melakukan PMK. Postur tubuh kelompok intervensi memiliki risiko lebih rendah mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan kelompok kontrol. Setelah dilakukan intervensi, kelompok intervensi memiliki keluhan muskuloskeletal yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yaitu pada leher atas, bahu kiri, bahu kanan, tengkuk, lengan kiri atas, dan punggung. Rekomendasi: Rumah sakit diharapkan dapat menyediakan fasilitas kursi yang ergonomis untuk menunjang PMK sehingga postur duduk menjadi lebih baik dan menurunkan risiko keluhan muskuloskeletal
Read More
D-457
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
B. Mariah Husniati; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Anwar Hasan, Efrida Sinaga
S-7490
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Puspa Juwita; Promotor: Rita Damyanti; Kopromotor: Djohan Aras, Besral, Dian Ayubi, Sudijanto Kamso, Wahyuddin, Chandra Rudyanto, Muhammad Andry Usman
Abstrak:
Osteoartritis (OA) lutut merupakan penyakit sendi yang umumnya diderita oleh lansia, dimana lansia akan merasakan nyeri, kaku, dan gangguan fungsional, yang apabila tidak ditangani dengan tepat akan dapat memengaruhi kualitas hidup lansia. Salah satu penanganan OA adalah dengan kepatuhan melakukan latihan fisik, sehingga diperlukan edukasi latihan fisik OA berbasiskan efikasi diri. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan edukasi berbasiskan efikasi diri yang dapat memengaruhi perilaku aktivitas fisik pada lansia OA lutut. Metode penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen pre dan post edukasi. Pengembangan edukasi menerapkan Intervention Mapping (IM), melalui enam tahapan, yaitu menentukan masalah, menentukan tujuan program, mendesain program, merencanakan program, implementasi, dan evaluasi. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Jakarta Timur, yang melibatkan 20 Posyandu Lansia. Populasi adalah lansia dengan kondisi OA lutut, dengan jumlah subjek penelitian 195 lansia, dipilih cluster random sampling pada empat grup intervensi. OA lutut pada lansia didasarkan pada pemeriksaan rontgen. Pengumpulan data menggunakan instrumen Western Ontario and MacMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC), instrumen self efficacy for exercise, kuesioner Self Reported Questioners (SRQ-20), dan self reported aktivitas fisik dengan log book. Analisis data yang dilakukan univariat, bivariat, dan multivariat dengan uji Different in Different (DID) untuk melihat delta dari perubahan aktivitas fisik sebelum dan sesudah diberikan edukasi latihan fisik OA. Pengukuran dilakukan sebanyak empat kali yaitu sebelum intervensi, satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan sesudah intervensi. Hasil penelitian didapat bahwa edukasi latihan fisik berbasiskan efikasi diri pada lansia osteoarthritis lutut adalah latihan fisik yang terdiri dari pemanasan, enam gerak inti, pola berjalan, dan materi efikasi diri. Terdapat pengaruh edukasi latihan fisik OA sebesar 32% terhadap aktivitas fisik, dimana terlihat delta perbedaan efek intervensi pada grup berbasiskan efikasi diri lebih tinggi 0,6 hari dibandingkan grup tidak berbasiskan efikasi diri. Didapat pengaruh edukasi latihan fisik OA terhadap aktivitas fisik sebesar 22% pada metode edukasi, dimana terlihat perbedaan efek intervensi pada metode edukasi kelompok lebih tinggi 0,5 hari dibandingkan metode edukasi individu. Kepatuhan aktivitas fisik secara berurutan dari yang tinggi ke yang rendah adalah kelompok efikasi diri, individu efikasi diri, kelompok tidak efikasi diri, dan yang terakhir individu tidak efikasi diri. Disarankan agar Puskesmas dan Posyandu Lansia dapat menerapkan edukasi latihan fisik OA berbasiskan efikasi diri untuk mengatasi masalah OA lutut pada lansia. Peningkatan kapasitas kader Posyandu Lansia perlu terus dilakukan secara rutin, untuk dapat mengatasi masalah kesehatan pada lansia.

Osteoarthritis (OA) of the knee is a joint disease commonly suffered by the elderly, that causing pain, stiffness, and functional limitation, and will affect their quality of life if not treated properly. One of the treatment of OA is with adherence physical exercise, thus based-on-self-efficacy-physical-exercise education is needed. The purpose of this study is to develop based-on-self-efficacy education that can affect physical activity behavior in the elderly OA knee. This research method uses quasi-experimental design of pre and post education. Educational development implements Intervention Mapping (IM), through six stages, namely determining problems, determining program goals, designing programs, planning programs, implementation, and evaluation. The location of the study was conducted in the city of East Jakarta, which involved 20 Elderly Posyandu. The population is elderly with OA knee condition, with the number of study subjects 195 elderly, selected cluster random sampling in four intervention groups. Osteoarthritis conditions in subjects using X-ray examination of the knee. Data collection using Western Ontario and MacMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC), self efficacy instrument for exercise, emotional mental health questionnaire (SRQ-20), and self reported physical activity with log book. Data analysis conducted univariate, bivariate, and multivariate with Different in Different (DID) test to see the delta of changes in physical activity before and after OA physical exercise education. Measurements were taken four times that consists before the intervention, one month, two months, and three months after the intervention. The results obtained that physical exercise education based on self-efficacy in the elderly osteoarthritis of the knee is a physical exercise consisting of warm-up, six core physical exercises, walking patterns, and induction of self-efficacy. There was a 32% effect of OA physical exercise education on physical activity, where the delta difference in the intervention effect in the self-efficacy based group was 0.6 days higher than the non-self-efficacy based group. Obtained the effect of OA physical exercise education method on physical activity by 22%, where the difference in the effect of intervention in the group was 0.5 days higher than individuals. The regularity of physical activity in order from high to low is the self-efficacy group, the self-efficacy individual, the non-self-efficacy group, and finally the non-self-efficacy individual. It is recommended that Puskesmas and Posyandu for the elderly can apply OA physical exercise education based on self-efficacy to minimalize knee OA problems in the elderly. Increasing the capacity of Elderly Posyandu cadres needs to be done regularly, to solve health problems in the elderly.
Read More
D-482
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive