Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Suparni; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Ede Surya Darmawan, Robiana Modjo; Penguji: Meily LK Widjaja, Doni Hikmat Ramdhan, Baiduri Widanarko, Julianto Witjaksono, Alfajri ismail
Abstrak: Indonesia sebagai negara yang memiliki risiko bencana dengan skala tinggi perlu menyiapkan fasilitas kesehatan yang memiliki tingkat kesiapsiagaan yang baik.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesiapsiagaan RS menghadapi bencana di provinsi Jawa Barat tahun 2017 - 2018. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi penelitian ini adalah semua RS pemerintah tipe A dan B di Provinsi Jawa Barat. Sampel RS penelitian sebanyak 15 RS. Penilaian kesiapsiagaan RS menghadapi bencana dilakukan dengan menggunakan instrumen Hospital Safety Index (HSI) edisi kedua yang dikeluarkan oleh WHO tahun 2015. Kesiapsiagaan RS menghadapi bencana berhubungan dengan faktor internal yaitu pengetahuan, pendidikan dan sikap serta faktor eksternal yaitu kebijakan, pendapatan perkapita dan keterlibatan komunitas. Penilaian faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan kesiapsiagaan RS menghadapi bencana dilakukan dengan menggunakan analisis multilevel dengan menggunakan software pengolahan data. Hasil penilaian HSI dianalisis berdasarkan elemen struktural, nonstruktural, dan manajemen kegawatdaruratan dan bencana, serta wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan instrumen HSI untuk mengukur kesiapsiagaan RS menghadapi bencana yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia valid dan reliabel untuk digunakan dalam penilaian. Penilaian kesiapsiagaan RS menghadapi bencana di Provinsi Jawa Barat, 14 RS (93%) berada pada level B, yaitu berisiko dalam menghadapi bencana, RS tidak dapat berfungsi dengan normal dan segera beroperasi pada saat terjadi bencana dan 1 RS (7%) dalam level A yaitu siap menghadapi bencana. Elemen penilaian yang perlu ditingkatkan di semua RS adalah elemen nonstruktural dan elemen manajemen. Faktor internal yang berhubungan dengan kesiapsiagaan RS menghadapi bencana adalah pengetahuan dan sikap. Faktor eksternal yang berhubungan dengan kesiapsiagaan RS menghadapi bencana adalah keterlibatan komunitas. Meningkatkan pengetahuan serta memiliki SDM yang kompeten dalam penanggulangan bencana merupakan implementasi dalam kesiapsiagan. Peraturan daerah diperlukan sebagai kebijakan pemerintah dalam melakukan pengurangan risiko bencana. Keterlibatan masyarakat menjadi penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan RS menghadapi bencana.
Read More
D-404
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syamsiah Suparni; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Nurhayati Adnan, Oni Khonsa
S-6737
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufik Herdiansyah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Suparni, Kurniawan Arif Mufadlil
Abstrak:
Cedera tertusuk jarum suntik dan benda tajam lainnya/Needle-stick and Sharp Injuries (NSSI) merupakan kejadian terpotong, tertusuk, tergores, terbacok yang disebabkan oleh instrumen medis seperti jarum suntik dan benda tajam lainnya secara tidak sengaja saat bekerja, NSSI merupakan jenis cedera tersering dalam lingkup pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mengidentifikasi mengenai faktor risiko (karakteristik/faktor individu, perilaku tidak aman dan lingkungan kerja tidak aman) yang berhubungan dengan kejadian NSSI pada perawat di Rumah Sakit XYZ. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, menggunakan desain studi cross sectional. Sampel yang diambil adalah 172 perawat yang bertugas di bagian Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Bedah Sentral. Variabel pada penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu karakteristik/faktor individu, perilaku tidak aman dan lingkungan kerja tidak aman, sedangkan variabel dependen kejadian NSSI. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner, dengan teknik analysis data yaitu univariate dan bivariate. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar perawat tidak pernah mengalami kejadian NSSI dalam rentang satu tahun yakni sebanyak 81,4%. Sebanyak 18,6% lainnya pernah mengalami kejadian NSSI minimal satu kali dalam rentang waktu satu tahun. Adanya hubungan signifikan antara faktor lingkungan kerja yaitu adanya pengawasan dengan kejadian NSSI, hal ini menunjukkan bahwa pandangan akan adanya pengawasan merupakan faktor protektif dari kejadian
NSSI.Needle-stick and Sharp Injuries (NSSI) are incidents of cuts, punctures, scratches, slashes caused by medical instruments such as syringes and other sharp objects accidentally while working, NSSI is the most common type of injury in the scope of health services. The purpose of this study was to determine and identify risk factors (individual characteristics/factors, unsafe behavior and unsafe work environment) associated with NSSI incidents in nurses at XYZ Hospital. This study was an observational study, using a cross-sectional study design. The sample taken was 172 nurses who worked in the Inpatient Installation, Emergency Installation and Central Surgical Installation. The variables in this study consisted of independent variables, namely individual characteristics/factors, unsafe behavior and unsafe work environment, while the dependent variable was the incident of NSSI. Data collection was carried out by distributing questionnaires, with data analysis techniques, namely univariate and bivariate. The results showed that most nurses had never experienced an NSSI incident within a period of one year, namely 81.4%. Another 18.6% had experienced NSSI at least once in a year. There was a significant relationship between work environment factors, namely supervision, and NSSI incidents, indicating that the view of supervision is a protective factor from NSSI incidents.
Read More
T-7383
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suparni; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Pembimbing: Dadan Erwandi, Fatma Lestari, Nurmainah
T-3421
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alifah Komaraningsih Sutiadi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Gama Widyaputra, Suparni
Abstrak:
Peluang konstruksi kelautan semakin vital dalam pengembangan industri maritim. Industri konstruksi dikenal dengan risiko kematian dan cidera yang lebih tinggi dari industri-industri lainnya. Konstruksi kelautan seperti pengerukan, dilakukan selama dua puluh empat jam dan tujuh hari dalam seminggu karena faktor cuaca dan lingkungan. Industri ini mengombinasikan bahaya kerja pada konstruksi ditambah dengan bahaya bekerja di atas kapal, dimana cuaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatannya. Konsep Design for Safety (DfS) merupakan integrasi dari identifikasi bahaya dan penilaian risiko pada tahap konseptual dan perencanaan proyek. Integrasi DfS dalam siklus hidup proyek konstruksi kelautan diharapkan mampu berdampak positif terhadap Incident Rate. Design for Safety dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi empat dimensi yaitu metode kerja, peralatan kerja, tenaga kerja, dan lingkungan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis data menggunakan desain potong lintang, dilaksanakan mulai dari Juni 2023 sampai dengan November 2023. Populasi penelitian adalah seluruh staff di Direktorat Operasional di PT X, dengan total sebanyak 33 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah total sampling, yaitu sebanyak 33 sampel. Berdasarkan hasil penelitian, implementasi Design for Safety (DfS) dalam dimensi Metode Kerja, Peralatan Kerja, Tenaga Kerja, dan Lingkungan Kerja memiliki hubungan positif dan signifikan dengan Incident Rate, dengan tingkat korelasi yang kuat hingga sangat kuat. Terdapat beberapa faktor-faktor dominan DfS di PT X yang berpengaruh terhadap keselamatan konstruksi yaitu analisis bahaya, penilaian risiko, dan rencana mitigasi (MK4), kondisi/kesiapan peralatan kerja (PK3), pengetahuan kontraktor mengenai Design for Safety (TK9), ketersediaan biaya keselamatan kesehatan kerja (K3) dalam anggaran biaya proyek (LK13), dan komitmen klien terhadap Design for Safety (LK2).

Marine-construction opportunities are becoming increasingly vital in the development of the maritime industry. The construction industry is known for having a higher risk of fatalities and injuries compared to other industries. Marine construction, such as dredging, is conducted twenty-four-hour a day and seven days a week due to weather and environmental factors. The industry combines the hazards of construction coupled with the challenges of working on ships, where weather is an integral part of the construction activities. The concept of Design for Safety (DFS) involves integrating hazard identification and risk assessment in the conceptual and project planning stages. The integration of DfS in the lifecycle of marine construction project is expected to have a positive impact on the Incident Rate. In this research, Design for Safety is categorized into four dimensions : Work Methods, Equipment, Manpower, and Environment. This research of quantitative study with cross-sectional design, conducted from June 2023 to November 2023. Research population consist of all staff in the Operational Directorate at PT X, totaling 33 individuals as total samples. Based on the research findings, the implementation of Design for Safety in the dimensions of Work Methods,  Equipment, Manpower, and Environment has a positive and significant relationship to Incident Rates, with correlation levels ranging from strong to very strong. There are several dominant factors of Design for Safety at PT X that affect the construction safety include hazard analysis, risk assessment, and mitigation plans (MK4), equipment condition/readiness (PK3), contractror knowledge on Design for Safety (TK9), availability of occupational safety and health (OHS) costs in project budget (LK13), and client commitment to Design for Safety (LK2).
Read More
T-7258
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adenan; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Fatma Lestari, Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Budi Hartono, L. Meily Kurniawidjaja, Herlina J. EL- Matury, Kusnendi Soehardjo, Suparni
Abstrak:

Keselamatan kerja pada jalur hauling di industri pertambangan batubara merupakan aspek penting yang memerlukan perhatian serius, mengingat tingginya risiko kecelakaan kerja pada aktivitas pengangkutan material. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja dan menyusun model pencegahan berbasis Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) serta metode investigasi Australian Transport Safety Bureau (ATSB). Pendekatan campuran digunakan dalam penelitian ini, dengan data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 420 operator dump truck di tiga perusahaan tambang terbuka di Kalimantan, serta data kualitatif dari wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi langsung di lapangan. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh enam variabel independen faktor eksternal, pengaruh organisasi, kepemimpinan tidak berkeselamatan, pengendalian risiko, kondisi lingkungan, dan tindakan individu terhadap kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki pengaruh signifikan, dengan kepemimpinan tidak berkeselamatan dan kondisi lingkungan sebagai faktor dominan penyebab kecelakaan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan pengawasan, perbaikan perilaku kerja operator, serta peningkatan kualitas jalur hauling. Model pencegahan yang diusulkan menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan, pengendalian risiko, dan perawatan infrastruktur hauling secara berkelanjutan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja di sektor pertambangan.


 

Occupational safety in hauling roads within the coal mining industry is a critical aspect that requires serious attention, considering the high risk of work accidents during material transportation activities. This study aims to analyze the factors influencing occupational accidents and to develop a preventive model based on the Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) and the Australian Transport Safety Bureau (ATSB) investigation method. A mixed-method approach was used, with quantitative data collected through a survey of 420 dump truck operators across three open-pit mining companies in Kalimantan, and qualitative data gathered from in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and direct field observations. Multiple linear regression analysis was employed to assess the influence of six independent variables external factors, organizational influence, unsafe leadership, risk control, environmental conditions, and individual actions on work accidents. The results indicated that all variables had a significant effect, with unsafe leadership and environmental conditions emerging as the dominant contributing factors. These findings highlight the need to strengthen supervision, improve operator behavior, and enhance the quality of hauling road infrastructure. The proposed accident prevention model emphasizes the reinforcement of leadership roles, risk control management, and continuous improvement of hauling infrastructure to reduce the incidence of occupational accidents in the mining sector.

Read More
D-589
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aryo Wibowo Hendra Putro; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, L. Meily Widjaja, Waluyo, Audist Subekti, Alfajri Ismail; Suparni, Herlina J. EL-Matury
Abstrak:
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) merupakan fasilitas penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke masyarakat yang memiliki potensi bahaya dan berisiko tinggi terjadi kecelakaan. Selama tahun 2017-2018 telah terjadi 120 kecelakaan SPBU di Indonesia. Dua faktor utama yang berkontribusi terhadap kecelakaan, yaitu faktor manusia dan faktor organisasi. Tujuan dari penelitian ini menghasilkan instrumen pengukuran iklim keselamatan dan perilaku keselamatan konsumen SPBU serta model perilaku konsumen dan iklim keselamatan di SPBU yang memiliki nilai kebaruan dan orisinalitas. Tahap pertama dalam penelitian adalah penyusunan parameter ukur perilaku selamat dengan menggunakan referensi studi literatur. Pengukuran perilaku selamat dilakukan dengan mengumpulkan data dari pekerja SPBU di seluruh Indonesia dan masyarakat konsumen SPBU di wilayah Jawa Barat melalui kuesioner daring. Hasil pengumpulan data dianalisis secara kuantitatif menggunakan PLS-SEM. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa variabel iklim keselamatan SPBU yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kepatuhan dan partisipasi keselamatan pekerja, yaitu komitmen manajemen dan pemberdayaan keselamatan melalui mediasi variabel komunikasi keselamatan, aturan dan prosedur keselamatan, serta pelatihan keselamatan. Pada model perilaku selamat konsumen SPBU, Komunikasi operator, rambu keselamatan, media promosi, dan regulasi pemerintah secara signifikan mempengaruhi perilaku selamat konsumen melalui mediasi variabel norma, sikap, persepsi ancaman, serta persepsi benefit & barrier. Penelitian ini memiliki nilai manfaat yang tinggi karena menghasilkan 27 butir rekomendasi untuk pemerintah, badan usaha niaga migas, dan pengelola SPBU. Selain itu hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada 6 topik penelitian lanjutan.

Fuel Stations are facilities for selling fuel to the public which has a potential hazard and a high risk of accidents. During 2017-2018 there were 120 gas station accidents in Indonesia. Two main factors contribute to accidents, namely human factors and organizational factors. The purpose of this research is to produce an instrument for measuring safety climate and consumer safety behavior at petrol stations as well as a model for consumer behavior and safety climate at gas stations, which are novel and original. The first stage of the research was the preparation of parameters for measuring safe behavior using references to literature studies. Measurement of safe behavior is carried out by collecting data from gas station workers throughout Indonesia and gas station consumers in West Jawa Province through online questionnaires. The results of data collection were analyzed quantitatively using PLS-SEM. The results of the research analysis show that the variables of gas station safety climate that significantly influence safety compliance and participation are namely management commitment and management empowerment, with safety communication, safety rules and procedures, and safety training as mediators. In the gas station consumer safety behavior model, operator communication, safety signs, promotion media, and government regulation significantly influence consumer safety behavior with norms, attitudes, perceived threat, and perceived benefit & barrier as mediators. This research has great value with 27 recommendations for the government, the oil and gas enterprise with downstream permit, and fuel station owners. This study results can also be expanded to more 6 new research topics.
Read More
D-499
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devie Fitri Octaviani; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Dadan Erwandi, Indang Trihandini; Penguji: Baiduri Widanarko, Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Asnawi Abdullah, Avianto Amri, Suparni
Abstrak:
Kejadian jatuh merupakan penyebab utama cedera tidak disengaja pada anak usia taman kanak-kanak, dan sebagian besar terjadi di lingkungan rumah. Cedera akibat jatuh pada usia dini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan fungsi neurologis pada anak. Penelitian sebelumnya lebih berfokus pada identifikasi faktor risiko dan kejadian cedera, sementara penelitian ini bertujuan memodelkan keberhasilan pencegahan jatuh anak berdasarkan kerangka manajemen risiko berbasis rumah tangga. Pendekatan ini mengintegrasikan Safety I–III dan juga teori Graceful Extensibility (TGE) untuk mengevaluasi kapasitas protektif dan adaptif sistem keluarga dalam mempertahankan keselamatan anak secara berkelanjutan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 167 pendamping utama anak usia TK di Depok, yang mendampingi anak di lingkungan rumah tangga. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan berdasarkan empat faktor utama: anak, rumah, agen, dan pengetahuan pendamping. Analisis dilakukan secara bertahap melalui Rasch measurement untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen, Principal Component Analysis (PCA) untuk menentukan skor faktor, Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menetapkan batas (cut-off point) kategori protektif, serta Bayesian Network dan Bayesian Logistic Regression untuk memetakan hubungan probabilistik antar faktor. Hasil menunjukkan bahwa 65,3% anak mengalami setidaknya satu kejadian jatuh dalam enam bulan terakhir. Instrumen yang dikembangkan terbukti valid dan reliabel dalam mengukur kapasitas protektif keluarga terhadap pencegahan jatuh pada anak. Berdasarkan hasil pemodelan, baseline probabilitas keberhasilan pencegahan jatuh anak sebesar 42% mencerminkan keterbatasan kapasitas protektif sistem keluarga dalam kondisi aktual. Melalui analisis sensitivitas, faktor rumah dan faktor anak diidentifikasi sebagai faktor protektif utama terhadap keberhasilan pencegahan jatuh. Kondisi rumah dan anak yang protektif meningkatkan peluang keberhasilan sistem sebesar tiga kali lipat (OR = 3,14). Selanjutnya, simulasi skenario what-if menunjukkan bahwa penguatan faktor rumah dan faktor anak merupakan titik pengungkit utama sistem yang dapat meningkatkan probabilitas keberhasilan pencegahan masing-masing 53% dan 52%. Faktor pengetahuan pendamping dan faktor agen berperan sebagai penguat adaptif pada lapisan proteksi berikutnya. Implikasi temuan ini adalah perlunya penyusunan program pencegahan jatuh berbasis rumah tangga dalam bentuk sistem proteksi berlapis (barrier-based approach). Barier pertama memprioritaskan penguatan faktor rumah dan faktor anak secara paralel dan interaktif melalui perbaikan lingkungan fisik rumah serta peningkatan pengetahuan dan pembentukan perilaku dasar keselamatan anak sesuai tahap perkembangan. Barier kedua menitikberatkan pada penguatan pengetahuan pendamping, sedangkan barier ketiga berfokus pada pengendalian faktor agen melalui penataan furnitur dan permainan anak. Keberhasilan pencegahan jatuh pada anak usia taman kanak-kanak di rumah merupakan hasil kinerja sistem keluarga yang adaptif dan dinamis. Integrasi manajemen risiko, Safety I–III, dan Theory of Graceful Extensibility memungkinkan pencegahan jatuh dipahami sebagai positive safety outcome yang dihasilkan melalui kapasitas sistem keluarga. Kata kunci: Pencegahan jatuh anak, keselamatan rumah tangga, manajemen risiko, Safety I–III, Bayesian Network

Falls are the leading cause of unintentional injuries in preschool-aged children, and prinarily occur in the home environment. Injuries from falls at an early age have the potential to cause long-term effects on a child's physical, cognitive, and neurological development. Previous research has focused more on identifying risk factors and the occurrence of injuries, while this study aims to model the success of fall prevention in children based on a household-based risk management framework. This approach integrates the Safety I–III and the Theory of Graceful Extensibility (TGE) to evaluate the protective and adaptive capacity of family systems in sustaining child safety. The study used a cross-sectional design with 167 primary caregivers of preschool-aged children in Depok, who care for children in household settings. Data was collected through a questionnaire developed based on four main factors: the child, the home, the agent, and the companion's knowledge. The analysis was conducted in stages using Rasch measurement to test the validity and reliability of the instrument, Principal Component Analysis (PCA) to determine factor scores, Receiver Operating Characteristic (ROC) to establish the cut-off point for protective categories, and Bayesian Network and Bayesian Logistic Regression to map the probabilistic relationships between factors.
The results show that 65.3% of children experienced at least one fall in the past six months. The developed instrument proved to be valid and reliable in measuring the protective capacity of families against falls in children. Based on modeling results, the baseline probability of successful fall prevention for children, at 42%, reflects the limitations of the family system's protective capacity in actual conditions. Through sensitivity analysis, home factors and child factors were identified as the main protective factors against the success of fall prevention. Protective home and child conditions triple the system's chances of success (OR = 3.14). Furthermore, the what-if scenario simulation shows that strengthening home and child factors are the main leverage points in the system that can increase the probability of success in prevention by 53% and 52% respectively. Companion knowledge and agent factors play a role as adaptive enhancers in the next layer of protection.
The implication of these findings is the need to develop a household-based fall prevention program in the form of a layered protection system (barrier-based approach). The first barrier prioritizes strengthening home and child factors in parallel and interactively through improving the physical environment of the home and increasing knowledge and shaping basic child safety behaviors according to the developmental stage. The second barrier focuses on strengthening caregivers' knowledge, while the third barrier concentrates on controlling agent factors through arranging furniture and children's toys.
The success of fall prevention in preschool-aged children at home is the result of the adaptive and dynamic performance of the family system. Integrating risk management, Safety I–III, and the Theory of Graceful Extensibility allows fall prevention to be understood as a positive safety outcome resulting from the family system's capacity.

Read More
D-613
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive