Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Suparmi, Teti Tejayanti
JKR Vol.2, No.1
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trihono, Atmarita, Dwi Hapsari Tjandrarini, Anies Irawati, Nur Handayani, Teti Tejayanti, Lin Nurlinawati
612.65 TRI p
Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan kesehatan, 2015
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Teti Tejayanti, Rofingatul Mubasyiroh
JKR Vol.1, No.3
Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astrisa Faadhilah; Pembimbing: Helda, Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Teti Tejayanti, Titi Juhriati
Abstrak: Berat badan lahir rendah didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai berat saat lahir kurang dari 2500 g. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) meningkatkan angka kesakitan dan kematian dua kali lipat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan 2500 g atau lebih (Gopalan, 2018). Berat lahir rendah menjadi masalah kesehatan masyarakat berkelanjutan secara signifikan dan global dikaitkan dengan serangkaian konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang (WHO, 2014). Faktor resiko utama yang berhubungan dengan tingginya kejadian BBLR adalah faktor demografi, penyakit kronis sebelum hamil, status gizi ibu hamil, komplikasi dalam kehamilan, dan status pemeriksaan kehamilan (Committee on Prevention of Low Birth Weight, 1985; Gopalan, 2018). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan case control. Penelitian ini menggunakan analisis cox regression dengan hasil ukur prevalence ratio (PR). Hasil penelitian ini menemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan kejadian BBLR dengan p value = 0,000, yang berarti <0,05 dengan nilai PR adjusted 1,497 (CI 95% 1,207-1,846) setelah dikontrol oleh variabel kovariat. Angka kejadian BBLR berhubungan dengan penanganan kasus preeklamsia dan eklamsia yang gawat memerlukan tindakan aktif, yaitu terminasi kehamilan segera tanpa memandang usia kehamilan dan perkiraan berat badan janin sehingga dapat melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pemantauan oleh tenaga kesehatan terhadap ibu-ibu yang mengalami komplikasi dalam kehamilannya terutama yang memiliki tekanan darah yang tinggi dalam kehamilannya agar dapat ditangani secara dini dan dilakukan perawatan konservatif sehingga kejadian BBLR dapat dicegah
Low birth weight is defined by the World Health Organization (WHO) as birth weight less than 2500 g. Babies with low birth weight (LBW) increase the morbidity and mortality doubled compared to babies born with a body weight of 2500 g or more (Gopalan, 2018). Low birth weight is a significant public health problem globally and is associated with a series of short and long-term consequences (WHO, 2014). The main risk factors associated with the high incidence of LBW are demographic factors, chronic pre-pregnancy disease, nutritional status of pregnant women, complications in pregnancy, and pregnancy examination status (Committee on Prevention of Low Birth Weight, 1985; Gopalan, 2018). The method used in this study is cross sectional with a case control approach. This study uses cox regression analysis with the results of measuring prevalence ratio (PR). The results of this study found that there was a significant relationship between preeclampsia and the incidence of LBW with p value = 0,000 (<0,05), PR adjusted 1,497 (CI 95% 1,207-1,846). after being controlled by covariate variables. The incidence of LBW associated with the handling of severe cases of preeclampsia and eclampsia requires active action, namely immediate termination of pregnancy regardless of gestational age and the estimated body weight of the fetus so that it can give birth to babies with low birth weight. Therefore, it is necessary to monitor health personnel for mothers who experience complications in their pregnancy, especially those who have high blood pressure in their pregnancy so that they can be treated early and conservative care so that the incidence of LBW can be prevented
Read More
T-5758
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marita Pratami; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Kemal Nazaruddin Siregar, Agus Suwandono, Teti Tejayanti
Abstrak: Masalah kesehatan maternal terutama masalah kematian ibu masih menjadi masalah prioritas Bangsa Indonesia dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Angka kematian ibu yang tinggi sering dikaitkan dengan pemanfaatan layanan kesehatan ibu bersalin. Pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu bersalin di Indonesia menunjukkan variasi antar wilayah regional, diduga berhubungan oleh faktor lingkungan dan perbedaan karakteristik dari populasi. Penelitian ini mengukur pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu bersalin dan mempelajari besar hubungan lingkungan dan karakteristik populasi terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu bersalin.
Read More
T-6340
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusrina Hidayati; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Evi Martha, Toha Muhaimin, Teti Tejayanti, Valentina Gintings
Abstrak: Kejadian kekerasan paling tinggi yaitu kekerasan dalam rumah tangga, perempuan yang mempunyai sikap tidak setuju terhadap tindak kekerasan mampu melawan dan melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suami. Sikap pada istri terhadap kekerasan dipengaruhi oleh faktor individu, keluarga dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap istri terhadap tindak kekerasan suami dalam rumah tangga di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 19.418 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 19.418 wanita usia 15-49 tahun di Indonesia terdapat 71,1% istri mempunyai sikap tidak setuju terhadap tindak kekerasan suami. Wanita yang mempunyai sikap tidak setuju dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan, daerah tempat tinggal, status ekonomi dan jumlah anak. Usia memiliki pengaruh yang besar dengan nilai OR 1,5 ibu dengan usia ≥35 memiliki sikap tidak setuju terhadap tindak kekerasan suami dari pada ibu yang memiliki usia 15-24 tahun. Masalah kekerasan dapat diselesaikan dengan upaya kampanye isu KDRT kepada masyarakat dilakukan secara intensif dengan pola pendekatan individu, keluarga, kelompok masyarakat dan sesuai budaya masyarakat setempat
The highest incidence of violence is domestic violence, women who have an attitude of disapproval of violence are able to fight and report acts of violence committed by their husbands. Attitudes towards wives towards violence are influenced by individual, family and community factors. This study aims to determine the factors related to the attitudes of wives towards violence against husbands in household in Indonesia. This study used secondary data from the 2017 Indonesian Health Demographic Survey (IDHS) with a cross sectional study design. The number of samples was 19,418 people. The results of this study indicate that out of 19,418 women aged 15-49 years in Indonesia, 71.1% of wives have a disagreement with husband's violence. Women who have a disagreement attitude are influenced by factors of age, education, area of residence, economic status and number of children. Education has a great influence with an OR value of 1.5 mothers with higher education have more disagreement with husband's violence than mothers who have low education. The problem of violence can be resolved by campaigning the issue of domestic violence to the community which is carried out intensively with a pattern of approaching individuals, families, community groups and according to the culture of the local community
Read More
T-6029
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurkhaira Manel; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Martya Rahmaniati, Rahma Dewi, Teti Tejayanti
Abstrak: AKI di Indonesia masih jauh dari target SDGs. Kematian ibu dapat dicegah jika ibu hamil dapat mengakses perawatan antenatal berkualitas (ANC) namun secara global pada tahun 2017 hanya 64% perempuan menerima perawatan antenatal empat kali atau lebih selama kehamilan mereka. Berdasarkan data yang ada masih terdapat disparitas antar wilayah perdesaan dan perkotaan untuk cakupan ANC, masih ditemukan ibu hamil yang tidak menerima pelayanan ANC serta masih adanya dari standar pelayanan ANC yang belum berjalan optimal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor perilaku ibu dalam menggunakan layanan kesehatan dilihat dari segi kuantitas (cakupan K4) dan kualitas (pelayanan sesuai standar 8 T) antenatal care (ANC) di indonesia. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain crossectional study. Sumber data dalam penelitian ini adalah data mencakup seluruh wilayah di Indonesia yang didapatkan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017. Hasil penelitian mendapatkan bahwa faktor perilaku ibu yang mempengaruhi penggunaan layanan kesehatan dilihat dari segi kuantitas pelayanan ANC sesuai standar adalah status ekonomi, pengdidikan rendah, dukungan pasangan, status perencanaan kehamilan, umur saat hamil, asuransi kesehatan dan urutan kelahiran. Dilihat dari segi kualitas, faktor perilaku ibu yang mempengaruhi penggunaan layanan ANC sesuai standar adalah status perencanaan kehamilan, riwayat komplikasi
Read More
T-6351
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nohan Arum Romadlona; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Martya Rahmaniati Makful, Teti Tejayanti, Riznawaty Imma Aryanty
Abstrak:
Pendahuluan: Stigma yang berkembang terhadap aborsi membuat terbatasnya studi aborsi di beberapa negara termasuk Indonesia. Memahami faktor yang berkaitan dengan pengalaman aborsi dapat membantu upaya perbaikan dan peningkatan program kesehatan reproduksi khususnya berkaitan dengan pencegahan aborsi. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran determinan struktural perempuan yang mengalami aborsi. Metode: Studi ini menggunakan data Community Based Survey tahun 2018 yang secara random mewawancarai 8.989 perempuan usia 15-49 tahun di enam provinsi di Pulau Jawa. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur oleh pewawancara terlatih dengan mengumpulkan informasi terkait pengalaman penggunaan kontrasepsi, kehamilan, aborsi, kekerasan oleh pasangan, dan masalah lain terkait kesehatan reproduksi. Analisis Structural Equation Modeling digunakan untuk mendapatkan gambaran determinan struktural perempuan yang mengalami aborsi berdasarkan konsep teori perilaku Integrated Behavioral Model. Hasil: Model struktural fit dengan nilai RMSEA= 0,037; CFI= 0,924, dan SRMR=0,048. Perempuan dengan niat mencegah kehamilan dan niat menggugurkan kandungan memiliki efek langsung terbesar dalam pengalaman aborsi. Pengalaman kekerasan fisik dan seksual, sikap ketidak khawatiran terhadap dampak mengakhiri kehamilan, dan pengetahuan kontrasepsi yang rendah memiliki efek langsung terhadap meningkatnya niat melakukan aborsi. Implikasi program: Niat menggugurkan kandungan dapat terjadi jika perempuan mengalami kehamilan tidak diinginkan. Penggunaan kontrasepsi modern efektif saat ini hanya mencapai 25%. Menurunkan angka kegagalan KB dan meningkatkan penggunaan MKJP secara bersama- sama akan menurunkan kehamilan tidak diinginkan dan menurunkan kejadian aborsi. Kekerasan oleh pasangan dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan tidak diinginkan yang mengakibatkan perempuan memiliki otonomi yang rendah atas dirinya. Peningkatan program komunikasi prefentif upaya pengendalian kekerasan oleh pasangan, peningkatan kesadaran akan bahaya dan dampak, peran serta komunitas, dan media social perlu ditingkatkan dalam upacaya pencegahan dan penanggulangan masalah kekerasan oleh pasangan.

Stigma against abortion has limited the study of abortion in several countries including Indonesia. This study aims to get a picture of the structural determinants of women who had abortion.This study utilized data from community-based survey of 8,969 randomly selected women aged 15-49 in six provinces in Java. Structural Equation Modeling Analysis was used to get an overview of the structural determinants of women who had abortion based on the concept of Integrated Behavioral Model Theory. Model fit with RMSEA value = 0.037; CFI = 0.924, and SRMR = 0.048. Intention shows the biggest direct effect on abortion. The experience of physical and sexual violence, the attitude toward the impact of ending pregnancy, and lack of contraception knowledge have a direct effect on increasing the intention to have an abortion. Reducing contraceptive failure rates and increasing the use of LARC will reduce unwanted pregnancies and abortion incidence. Communication program, increasing awareness of the dangers and impacts, community participation, and social media need to be increased in efforts to prevent and overcome the problem of IPV.

Read More
T-5903
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Sari RG Sembiring; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, R. Sutiawan, Teti Tejayanti, Mouhamad Bigwanto
Abstrak: Pendahuluan: Bayi dengan BBLR mempunyai kemungkinan 4 kali lebih besar untuk meninggal selama 28 hari pertama masa hidupnya dibandingkan dengan bayi lahir dengan berat normal. Di Indonesia BBLR merupakan urutan kedua jenis penyakit terbanyak terkait pengunaan tembakau dimana dampaknya merupakan faktor yang sangat menentukan kesehatan di masa dewasa. Lebih dari 57% dalam sebuah rumah tangga mempunyai sedikitnya satu orang perokok dimana 91,8% merokok di dalam rumah tangga dan mengabaikan risiko serta bahaya paparan asap rokok. Metode: Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah Indonesia menggunakan data hasil Riskesdas 2018 dengan tujuan mengetahui efek paparan asap rokok dalam rumah tangga terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia setelah setelah dikontrol dengan faktor bayi (jenis kelamin), faktor ibu (tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan TBC pada ibu), faktor pelayanan kesehatan (frekuensi dan kualitas ANC) dan faktor lingkungan (wilayah tempat tinggal). Penelitian ini dilakukan dengan disain potong lintang serta analisis regresi logistik dan poisson. Hasil: Hasil penelitian dengan model akhir perilaku merokok berinteraksi dengan jenis kelamin serta dikontrol oleh variabel tingkat pendidikan ibu dan frekuensi ANC secara umum menunjukan bahwa tidak ada efek dari paparan asap rokok dalam rumah tangga dengan kejadian BBLR (meskipun p value pada jenis kelamin perempuan dengan paparan asap rokok ≥ 20btg lebih kecil dari 0.05, namun OR 0.056 atau bersifat protektif). Pembahasan: Berdasarkan hasil penelitian ini dan beberapa tinjauan hasil penelitian yang sejalan disimpulkan bahwa berat badan lahir tidak semata-mata dipengaruhi oleh riwayat paparan asap rokok, tetapi dalam suatu kondisi tertentu ada faktor lain yang mungkin lebih dominan. Dalam hal ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor seperti cara pengumpulan data hanya berdasarkan wawancara/kuesioner sehingga pengukuran terhadap paparan asap rokok dalam rumah tangga kurang dapat menggambarkan situasi sebenarnya (hasil pengukuran lemah. Kesimpulan: Berdasarkan analisis yang telah digunakan baik menggunakan metode regresi logistik maupun poisson adalah bahwa hasil penelitian ini belum dapat menjawab hipotesis yang menyatakan bahwa efek paparan asap rokok dalam rumah tangga meningkatkan kejadian BBLR di Indonesia tahun 2018 bahkan setelah dikontrol dengan variabel kovariat.

Introduction: Babies with LBW are 4 times more likely to die during the first 28 days
of life than babies born with normal weight. In Indonesia, LBW is the second largest
type of disease related to tobacco use where the impact is a very determining factor in
adulthood. More than 57% in a household has at least one smoker where 91.8% smoke
in the household and ignore the risks and dangers of exposure to cigarette smoke.
Method: This research was conducted in all regions of Indonesia using Riskesdas 2018
results with the aim of knowing the effect of exposure to cigarette smoke in the
household on the incidence of Low Birth Weight (LBW) in Indonesia after being
controlled by baby (sex), maternal factors (level maternal education, maternal
employment status, and tuberculosis to the mother), health service factors (frequency
and quality of ANC) and environmental factors (residential area). This research was
conducted with cross-sectional design and logistic and poisson regression analysis.
Result: The results of the study with the final model of smoking behavior interacting
with gender and controlled by variables of maternal education level and frequency of
ANC in general showed that there was no effect of cigarette smoke exposure in
households with LBW events (although p value in female sex with exposure cigarette
smoke b 20btg less than 0.05, but OR 0.056 or protective).
Discussion: Based on the results of this study and a few reviews of the results of the
research that are in line concluded that birth weight is not solely influenced by a history
of exposure to cigarette smoke, but in certain conditions there are other factors that may
be more dominant. In this case it might be due to several factors such as the way data is
collected based only on interviews / questionnaires so that the measurement of cigarette
smoke exposure in the household is less able to describe the actual situation (the
measurement results are weak).
Conclution: Based on the analysis that has been used both using logistic regression
methods and poisson is that the results of this study have not been able to answer the
hypothesis that the effect of cigarette smoke exposure in households increases the
incidence of LBW in Indonesia in 2018 even after being controlled by covariate
variables
Read More
T-5935
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
ST Khumaidah; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Evi Martha, Teti Tejayanti, Weni Muniarti
Abstrak:
Jumlah remaja Indonesia berusia 10-24 tahun menurut BPS 2018 berkisar 25% dari jumlah total penduduk Indonesia. Masa remaja sangat rentan terhadap berbagai masalah kesehatan terutama yang bersumber dari perilaku seksual seksual berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak program Posyadu Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja Suku Tengger di Kecamatan Tosari Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini 233 responden remaja berusia 10-24 tahun yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu; 72 responden mengikuti Posyandu Remaja secara Rutin sedangkan 161 responden tidak mengikuti Posyandu Remaja Dalam penelitian ini dampak Posyandu Remaja terhadap perilaku seksual berisikiko masih sangat kecil sehingga dalam perhitungan statistik hasilnya tidak signifikan. Meningkatkan kapasitas kader remaja melalui pelatihan dan pembinaan penting dilakukan untuk optimalisari program.

The number of Indonesian sdolescence aged 10-24 years according to BPS 2018 is around 25 % of the total population in Indonesia. Adolescence is very vulnerable to various health problems, especially those originating from risky sexual sexual behavior. This study aims to look at the impact of the Posyadu Remaja program on Tengger Adolescent Reproductive Health in Tosari, East Java. This research is a quantitative research with cross sectional approach. The sample size in this study was 233 respondents of adolescents aged 10-24 years, divided into two groups, namely; 72 respondents attend the Posyandu Remaja routinely while 161 respondents do not take the Posyandu Remaja. Multivariate analysis results show that variables related to knowledge are age, education and information sources of health workers. Variables related to attitude are knowledge, information sources from posyandu remaja, teachers and parents. Variables related to high-risk sexual behavior are attitude variables, sources of information from parents or family, age, level of education and level of knowledge. Attitude is the most dominant variable with high risk sexual behavior p value = 0.001 (OR: 17.68, 95% CI: 4.36 - 71.70). In this study, Posyandu Adolescents are not related to adolescent knowledge, attitudes or sexual behavior. Increasing the capacity of youth cadres through training and coaching is important to be done to optimize the program.

Read More
T-5934
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive