Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Abd Halim Malik; Pembimnbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib, Darwis Hartono, Yugo Prabowo
Abstrak: Tesis ini melakukan tinjauan terhadap 3 bulan pertama pelayanan JKN diPuskesmas DKI Jakarta dengan menganalisis peran dokter layanan primer sebagaigatekeeper di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan menguraikan dan memaparkan persepsi dokter puskesmas dan stakeholder terkait tentang kebijakan pelayanan JKN di layanan primer dan kompetensi dokter layanan primer dalam rangka menjalankan fungsi gatekeeper adalam hal ini sebagai kontak pertama kunjungan pasien dan penapis rujukan. Dari Hasil penelitian disimpulkan bahwa fungsi gatekeeper dan sistem rujukan belum berjalan optimal, sehingga perlu mendapatkan penguatan dari seluruh stakeholder, terutama terkait dengan kredensialing puskesmas, pemanfaatan kapitasi, sosialisasi panduan praktik klinis, dan ketegasan dalam regulasi antara pemerintah pusat dan daerah.Kata Kunci:Dokter Layanan Primer, Puskesmas, Gatekeeper, JKN
Read More
T-4184
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mimi Sumiarsih; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Pujiyanto, Miko Hananto, Yana Yojana
T-5500
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Rahayuningsih; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Yanti Herman, Molyadi
Abstrak:
Program pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan upaya paling efektif untuk mencegah terjadinya HAIs” (Healthcare-Associated Infections), yaitu infeksi akibat pelayanan kesehatan, yang dapat menjadi ancaman masuknya penularan wabah ke komunitas. Implementasi dan pelaporan program PPI cukup beragam. Ketiadaan pelaporan dan data implementasi PPI di Fasilitas Palayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dapat menempatkan posisi layanan priemr dalam kondisi tidak siap dalam menghadapi ancaman wabah dan menambah kesenjangan. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran implementasi PPI dan kesesuaian implementasi PPI di FKTP DTPK Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan mix methode dengan desain sequential explanatory. Pada tahap pertama dilakukan pengisian kuesioner baku menggunakan kuesioner baku IPCAF- minimum requirement assesment for primary care oleh seluruh tim PPI dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada 11 informan dan dilakukan observasi dokumen. Hasil didapatkan 23,8% Puskesmas di level Kabupaten belum memenuhi kesesuaian standar minimum program PPI, akan tetapi pada Puskesmas DTPK 36,4% Puskesmas sudah memenuhi kesesuaian standar minimum program PPI. Dari 8 komponen inti PPI, pada level Kabupaten nilai tertinggi didapat komponen monitoring dan umpan balik, sedangkan pada Puskesmas DTPK nilai tertinggi didapat pada komponen surveilans HAIs. Sementara pada level Kabupaten maupun Puskesmas DTPK, nilai terendah didapatkan pada komponen pendidikan pelatihan dan beban kerja kepegawaian dan ketersediaan tempat tidur. Perencanaan dan pembiayaan pendidikan pelatihan serta pemanfaatan pelatihan daring dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan nilai komponen pendidikan pelatihan.

Infection prevention and control programs are the most effective way to prevent "Healthcare-Associated Infections" (HAIs), which are healthcare-associated infections that can threaten the entry of outbreaks into the community. Implementation and reporting of the IPC program is quite various. The absence of reporting and data on the implementation of IPCs in Primary Care Facilities (FKTP) in rural/remote area (DTPK) can place the position of primary care facilities in an unprepared condition in facing the threat of an outbreak and increase inequality. The purpose of the study was to look at the description of IPC implementation and the suitability of IPC implementation in DTPK FKTP Kubu Raya Regency. This study used a mix method with a sequential explanatory design. In the first stage, a standard questionnaire was filled in using the IPCAF- minimum requirement assessment for primary care by the entire IPC team, followed by in-depth interviews with 11 informants and document observation. The results showed that 23.8% of FKTP at the district level had not yet compliance with the minimum standards of the IPC program, but at FKTP DTPK 36.4% of FKTP have met the minimum standards of the IPC program. Of the 8 core components of PPI, at the district level the highest value is obtained for the monitoring and feedback component,. while at the FKTP DTPK the highest value is obtained in the HAIs surveillance component. While at both the district and DTPK health center levels, the lowest scores were obtained in the components of training education and staffing workload and bed availability.
Read More
T-6995
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Levi Dhynianti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Mardiati Nadjib, Rima Damayanti, Sri Puji Wahyuni
Abstrak:
Tesis ini membahas kesiapan Puskesmas di DKI Jakarta dalam mengimplementasikan transformasi layanan primer pada tahun 2024. Kesiapan implementasi sangat menentukan efektivitas dan keberhasilan suatu kebijakan sehingga analisis kesiapan dilakukan guna mengidentifikasi sumber daya pendukung yang perlu disiapkan, faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan (tantangan dan pendukung) serta faktor kondisi di internal organisasi puskesmas perlu dipersiapkan agar upaya transformasi yang akan dilaksanakan dapat berjalan optimal. Penelitian ini adalah operational research dengan pendekatan kuantitatif yang selanjutnya diperjelas dengan kualitatif. Data diperoleh melalui 2 tahap yaitu kuisioner dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam untuk memperjelas data yang tidak dapat dijelaskan secara kuantitatif. Hasil penelitian pada penelitian ini diperoleh data bahwa terdapat 18 puskesmas(47%) puskesmas telah siap dan 20 puskesmas (53%) belum siap meengimplementasikan transformasi layanan primer. Aspek input (Pelayanan Kesehatan, SDM, Sistem Informasi, Sarana Prasarana dan Alat), aspek proses (tatakelola dan kebijakan) serta aspek output (akses, cakupan, mutu dan keselamatan pasien) menjadi faktor penentu kesiapan. Adanya komitmen antar stakeholder, strategi berupa kebijakan baru dalam layanan, serta karakteristik puskesmas yang berstatus BLUD serta kondisi akses, cakupan dan keselamatan pasien yang baik saat pelaksanaan implementasi merupakan faktor pendorong yang dapat mendukung implementasi layanan primer. Sementara belum jelasnya status kader dan insentif kader, serta dashboard pelaporan yang belum maksimal menjadi tantangan dalam pelaksanaan implementasi. Oleh karena itu dukungan dari Kementerian Kesehatan, fasilitasi dari Dinas Kesehatan Provinsi serta upaya maksimal dari puskesmas perlu dilakukan maksimal sehingga implementasi transformasi layanan primer dapat terlaksana sesuai dengan tujuan dan target.

This thesis discusses the readiness of community health centers (Puskesmas) in DKI Jakarta to implement primary health care transformation in 2024. The readiness of implementation significantly determines the effectiveness and success of a policy, hence an analysis of readiness is conducted to identify the supporting resources that need to be prepared, the factors influencing policy implementation (challenges and supports), as well as the internal conditions of the Puskesmas that need to be prepared to ensure the transformation efforts can be carried out optimally. This research is operational research with a quantitative approach, which is further clarified with qualitative methods. Data was obtained through two stages: questionnaires followed by in-depth interviews to clarify data that cannot be explained quantitatively. The results of this study indicate that 18 Puskesmas (47%) are ready, and 20 Puskesmas (53%) are not yet ready to implement the primary health care transformation. Input aspects (Health Services, Human Resources, Information Systems, Facilities and Equipment), process aspects (governance and policies), and output aspects (access, coverage, quality, and patient safety) are the determining factors of readiness. The commitment among stakeholders, strategies in the form of new policies in services, the characteristics of Puskesmas with BLUD status, as well as good access, coverage, and patient safety during the implementation are supporting factors that can aid the implementation of primary services. Meanwhile, unclear status and incentives for cadres, as well as suboptimal reporting dashboards, pose challenges in the implementation. Therefore, support from the Ministry of Health, facilitation from the Provincial Health Office, and maximum efforts from the Puskesmas are necessary to ensure that the implementation of primary health care transformation can be carried out in line with the objectives and targets.
Read More
T-6991
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tahani; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Amalia Megraini, Didik Budijanto
Abstrak: Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), idealnya merupakan gatekeeper padasistem kesehatan dimanapun, termasuk di Indonesia. Hal ini mengingat upaya kendalimutu dan kendali biaya harus di lakukan sejak kontak pertama pasien dengan pelayanankesehatan yaitu di tingkat pelayanan ini. BPJS-Kesehatan berupaya memaksimalkan mutudan fungsi pelayanan primer pada seluruh FKTP dari berbagai kategori, juga memotivasiFKTP untuk berlomba menjadi yang terbaik, oleh karena itu BPJS-Kesehatan PrimaryCare Award 2014 diadakan. BPJS-Kesehatan Primary Care Award 2014 diselenggarakansejak April hingga Oktober 2014, proses pemilihan FKTP terbaik dilakukan denganpendekatan pemilihan yang berjenjang dari tingkat kantor cabang, divisi regional hinggake tingkat nasional, menghasilkan 5 (lima) FKTP terbaik tingkat nasional, FKTP hasilpemilihan tersebut menarik untuk diteliti sebagai FKTP percontohan bagi FKTP lain diseluruh Indonesia.

Ditinjau dengan pendekatan Malcolm Baldrige, FKTP percontohan dapat dianalisis faktor-faktor yang menghantarkannya sebagai pemenang, hasilmenunjukkan bahwa enam variabel independen dari tujuh kriteria Malcolm Baldrige,yaitu kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pada pelanggan dan pasar, sisteminformasi manajemen, fokus pada staf dan fokus pada proses, memiliki hubungan denganvariabel dependen yaitu hasil kinerja organisasi.

Studi kualitatif penelitian inimenunjukkan bahwa masing-masing kategori FKTP yaitu Klinik Pratama, Dokter PraktekPerorangan, Puskesmas dan klinik TNI/POLRI memiliki keunggulannya masing-masingditinjau dari Kriteria Malcolm Baldrige, hal ini merupakan sebuah bahan rekomendasisekaligus evaluasi bagi penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS-Kesehatan) danregulator sistem kesehatan (Kemkes) agar membenahi FKTP yang ada dan menciptakanFKTP yang ideal di seluruh Indonesia.

Kata Kunci: FKTP, BPJS-Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Primer, Dokter LayananPrimer, Malcolm Baldrige
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), ideally be the gatekeepers on healthsystems in all states, including in Indonesia. effective efforts to quality control and costcontrol should be done since patients do the first contact with health services in PrimaryHealth care. BPJS- Kesehatan strives to maximize the quality and function of the primaryservice on the whole FKTP of various categories, as well as motivate FKTP for a race tobe the best, therefore the BPJS-Kesehatan Primary Care Award 2014 was held. BPJS-Kesehatan Primary Care Award 2014 held since April to October 2014, the best FKTP selection process conducted with a selection of tiered approaches starts from the level ofbranch offices, regional division offices to the national level, producing five best nationallevel FKTP, FKTP election results are interesting for research, FKTP as for the examinedFKTP throughout Indonesia.

Reviewed by Malcolm Baldrige approximation, Bestpractices of FKTP can be analyzed by factors that passed it as the winner, the resultsshowed that six of the seven independent variables Malcolm Baldrige, leadership,strategic planning, customer and market focus, information systems management,focusing on staff and focus on the process, have a correlation to the dependent variablei.e. performance results of the organization.

Study of the qualitative research indicatesthat each category of FKTP i.e. the Clinic Pratama, individuals Practice Doctor,PUSKESMAS and clinics TNI/POLRI have respective advantages in terms of MalcolmBaldrige Criteria, this Result is a recommendation and evaluation materials forHealthcare providers (BPJS-Kesehatan) and regulators of health systems (Kemkes) inorder to restructure the existing FKTP and create the ideal FKTP throughout Indonesia.

Key Words : Primary Health Care, BPJS-Kesehatan, Health Practitioner, medical doctor,FKTP, DLP, Malcolm Baldrige
Read More
T-4297
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwirani Amelia; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, R. Detty Siti Nurdiati Z; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Trisari Anggondowati, Dwiana Ocviyanti, Siti Nurul Qomariyah, Achmad Nizar Hidayanto
Abstrak:

Latar belakang: Preeklamsia merupakan sindroma kompleks yang timbul pada ibu hamil yang disebabkan oleh perubahan fisiologi pembuluh darah pada saat konsepsi. Dampak kesehatan yang timbul dari kehamilan dengan preeklamsia sangat luas. Sejauh ini berbagai upaya telah ditempuh untuk dapat melakukan prediksi akan terjadinya preeklamsia. Keterbatasan kemampuan statistik mengolah berbagai jenis prediktor saat ini bisa ditingkatkan dengan menggunakan metode machine learning (ML).
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan prediksi terhadap kejadian preeklamsia menggunakan ML menggunakan fitur yang serupa dengan fitur yang ada di fasyankes primer
Metodologi: Penelitian ini menggunakan disain restrospektif kohort dengan menggunakan data sekunder dari ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal di RS Budi Kemuliaan Jakarta yang direkrut pada periode waktu Juli 2012 hingga April 2015 dan diikuti hingga terjadi persalinan. Data tersebut adalah data yang dikumpulkan pada penelitian sebelumnya untuk melihat berbagai faktor risiko dari terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Faktor risiko yang diteliti meliputi riwayat diabetes melitus (DM) sebelumnya, riwayat hipertensi sebelumnya, riwayat DM dalam keluarga, riwayat hipertensi dalam keluarga, riwayat merokok, primigraviditas, rerata tekanan arteri (MAP), indeks masa tubuh (BMI) sebelum kehamilan, terhadap kejadian preeklamsia. Permodelan dilakuan dengan menggunakan beberapa model dalam pembelajaran mesin: Random Forest, Logistic Regression, Support Vector Machine (SVM), Decision Tree, dan K-Nearest Neighbour (KKN) untuk mendapatkan model terbaik.
Hasil: Model Suport Vector Machine (SVM) dengan pembelajaran mesin yang disertai dengan re-sampling (undersampling) pada kumpulan data dan perlakuan hyperparameter tuning berhasil mendapatkan akurasi 70,31 %, sensitifitas 67,5 %, spesifisitas 57,23%, dan AUC 0.68.
Kesimpulan: Model SVM menunjukkan kinerja paling baik di antara model prediksi lain pada kumpulan data dan fitur yang tersedia. Model tersebut menghasilkan akurasi 70% dan AUC sebesar 0,68. Model ini mampu mencapai sensitivitas 67,5% dan spesifisitas 57,23%, dengan presisi (positive predictive value) sebesar 74,98%. Artinya, dari seluruh prediksi positif, sekitar 75% adalah benar, sementara sisanya adalah positif palsu. Temuan ini menunjukkan bahwa model prediksi berbasis SVM memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Optimasi sensitivitas dan spesifisitas menjadi prioritas pada penelitian lanjutan agar model lebih akurat dalam prediksi dan lebih efektif dalam deteksi dini preeklampsia di layanan primer.


Background: Preeclampsia is a complex syndrome that arises in pregnant women caused by physiological changes in blood vessels at the time of conception. The health impacts arising from pregnancy with preeclampsia are widespread. So far, various efforts have been taken to be able to predict the occurrence of preeclampsia. The limitations of statistical ability to process various types of predictors today can be improved by using machine learning (ML) methods.
Objective: This study aims to model predictions for the incidence of preeclampsia using machine learning based on features found in primary health facilities
Methodology: This study uses a cohort retrospective design using secondary data from pregnant women who underwent antenatal care at Budi Kemuliaan Hospital Jakarta who were recruited in the period from July 2012 to April 2015 and followed until delivery. The data was collected in previous studies to look at various risk factors for the occurrence of hypertension in pregnancy. The risk factors studied included history of diabetes mellitus (DM), history of hypertension, a family history of DM, a family history of hypertension, a history of smoking, primigravidity, mean arterial pressure (MAP), body mass index (BMI) before pregnancy, and the incidence of preeclampsia. The modeling was carried out using several models in machine learning: Random Forest, Logistic Regression, Support Vector Machine (SVM), Decision Tree, and K-Nearest Neighbour (KKN) to get the best model.
Results: The Support Vector Machine (SVM) model with machine learning accompanied by re-sampling (undersampling) on the dataset and hyperparameter tuning treatment managed to obtain an accuracy of 70.31%, sensitivity of 67.5%, specificity of 57.23%, and AUC of 0.68.
Conclusion: The SVM model shows the best performance among other prediction models for the available datasets and features. The model produces 70% accuracy and an AUC of 0.68. This model was able to achieve sensitivity of 67.5% and specificity of 57.23%, with a precision of 74.98% which provide the positive predictions about 75% are true, while the rest are false positives. These findings suggest that SVM prediction models have the potential to be further developed. Sensitivity and specificity optimization are priorities in further research to achieve a more robust model with optimum accuracy to predict preeclampsia and more effective in early detection of preeclampsia in primary care.

 

 

Read More
D-557
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Azhar; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Puput Oktamianti, Mira Miranti Puspitasari
Abstrak:
Latar Belakang: Puskesmas memegang peranan krusial dalam sistem kesehatan nasional Indonesia, khususnya dalam pelaksanaan kebijakan Pelayanan Kesehatan Primer Terpadu (ILP). Namun, sistem informasi (SIP) yang diterapkan di Puskesmas mengalami berbagai tantangan, seperti fragmentasi data dan kesulitan dalam integrasi dengan sistem nasional, termasuk SATU SEHAT dan SITB. Hal ini terutama berdampak pada pengelolaan tuberkulosis (TB), yang pada gilirannya menghambat efektivitas layanan dan pengendalian penyakit. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe sistem informasi Puskesmas yang berlandaskan ILP dengan tujuan meningkatkan integrasi data serta mendukung identifikasi dan pengobatan TB. Fokus utama dari penelitian ini adalah menciptakan sistem yang mampu menyediakan data kesehatan yang terstruktur, memfasilitasi pemantauan lintas sistem, dan menyajikan dashboard bagi para pembuat kebijakan. Metodologi Penelitian: Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini mengevaluasi SIP yang ada dengan menggunakan System Usability Scale (SUS). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan tinjauan dokumen, serta melibatkan sampling purposif terhadap tenaga kesehatan dan staf IT di wilayah Depok. Hasil Penelitian: Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa SIP saat ini memiliki skor usability yang rendah dan menghadapi berbagai permasalahan, seperti redundansi data dan proses yang terfragmentasi. Prototipe yang dikembangkan berhasil mengatasi isu-isu tersebut dengan mengintegrasikan manajemen data TB, mengotomatisasi pelaporan, serta menyediakan dashboard real-time. Prototipe ini menunjukkan potensi untuk secara signifikan meningkatkan akurasi data, mengurangi beban administratif, dan memperkuat upaya pengendalian TB sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Background: Puskesmas plays a pivotal role in Indonesia's national health system, especially in implementing the Integrated Primary Health Care (ILP) policy. However, current information systems (SIP) in Puskesmas face challenges such as data fragmentation and lack of interoperability with national systems like SATU SEHAT and SITB, particularly in tuberculosis (TB) management. These issues hinder effective service delivery and disease control. Research Objective: This study aims to develop a prototype of a Puskesmas information system based on ILP to enhance data integration and support TB identification and treatment. It focuses on creating a system that can provide structured health data, facilitate cross-system monitoring, and offer dashboards for policymakers. Research Methodology: Using a qualitative case study approach, the research evaluates the existing SIP with the System Usability Scale (SUS), collects data through in-depth interviews, observations, and document reviews, and involves purposive sampling of health workers and IT staff in Depok. Research Results: The study reveals that the existing SIP has low usability scores and faces issues like data redundancy and fragmented processes. The developed prototype addresses these by integrating TB data management, automating reporting, and providing real-time dashboards. The prototype shows potential to significantly improve data accuracy, reduce administrative burdens, and enhance TB control efforts in line with Indonesia's UHC goals.

Read More
T-7289
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Juki Irma Lumbantoruan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Sabarinah, Tri Budi W, Rien Pramindari
Abstrak:
Rendahnya Penuaan populasi global berdampak signifikan terhadap meningkatnya jumlah lansia dengan penyakit kronis dan kebutuhan akan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan adaptif. Resiliensi psikologis merupakan kapasitas kunci yang memungkinkan individu lansia bertahan, menyesuaikan diri, dan mempertahankan kualitas hidup di tengah keterbatasan fisik, tekanan emosional, serta perubahan sosial yang menyertai proses penuaan. Studi ini bertujuan mengeksplorasi dinamika resiliensi psikologis pada lansia dengan penyakit kronis di Kota Depok, Indonesia, dengan membandingkan dua: pendidikan berbasis komunitas melalui Sekolah Lansia dan layanan kesehatan primer melalui Puskesmas. Menggunakan desain kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan dari kedua kelompok. Analisis dilakukan secara tematik berdasarkan enam dimensi utama resiliensi psikologis: efikasi diri, kepuasan hidup, penuaan biologis, penilaian emosional terhadap stresor, penurunan respons terhadap stres kronis, serta keterlibatan dalam perilaku promotif. Hasil menunjukkan bahwa lansia perempuan cenderung membangun ketahanan melalui spiritualitas dan dukungan relasional, sementara lansia laki-laki menekankan pada aktivitas sosial dan strategi pemecahan masalah. Lansia peserta Sekolah Lansia memperlihatkan pola resiliensi yang lebih reflektif dan terstruktur, sedangkan lansia pengguna layanan Puskesmas menampilkan strategi adaptif yang bersifat praktis dan kontekstual. Temuan ini menggaris bawahi pentingnya pendekatan intersektoral dan sensitif gender dalam memperkuat ketahanan psikologis lansia. Integrasi antara intervensi berbasis komunitas dan layanan kesehatan primer terbukti saling melengkapi dalam meningkatkan kesejahteraan lansia secara holistik. Kajian ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan kebijakan lansia berbasis bukti, serta mendorong desain program promotif-preventif yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan kontekstual dalam menghadapi tantangan populasi menua di Indonesia dan negara berkembang lainnya.


The global aging population poses significant challenges to healthcare systems, particularly due to the rising number of older adults living with chronic diseases. Psychological resilience is a crucial capacity that enables older individuals to adapt, maintain emotional well-being, and preserve quality of life amid physical limitations and social transitions associated with aging. This study aims to explore the dynamics of psychological resilience among older adults with chronic illnesses in Depok City, Indonesia, by comparing two intervention contexts: community-based education through the Sekolah Lansia (Elderly School) and primary healthcare services provided by Puskesmas (community health centers). Using an phenomenology qualitative design, data were collected through in-depth interviews with older adults from both groups. Thematic analysis was conducted based on six key dimensions of psychological resilience: self-efficacy, life satisfaction, biological aging, emotional and cognitive appraisal of stressors, reduction of physiological and emotional responses to chronic stress, and engagement in health-promoting behaviors. Findings indicate that older women tend to build resilience through spirituality and familial relationships, while older men emphasize social engagement and problem-focused coping. Participants of the Elderly School demonstrated more reflective and structured resilience patterns supported by community-based education, whereas Puskesmas users adopted practical, experience-based adaptive strategies rooted in daily routines and primary care services. The study underscores the importance of integrated, gender-sensitive approaches to strengthening psychological resilience in later life. The complementary roles of community education and primary healthcare suggest the need for multisectoral collaboration in promoting healthy and dignified aging. These findings provide empirical evidence to inform policy development and the design of inclusive, sustainable, and contextually relevant resilience-building programs for older adults in Indonesia and other low- and middle-income countries.
Read More
T-7393
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Falichatul Muannisa; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Andri Mursita, Eti Rohati
Abstrak:
Penelitian ini membahas capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) layanan usia produktif sebelum dan sesudah penerapan kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Depok. Tujuan penelitian adalah menganalisis kontribusi komponen pendekatan Primary Health Care (pelayanan terintegrasi, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi lintas sektor) serta komponen penggerak (kerangka kebijakan, sumber daya manusia, pendanaan, tata kelola, dan pemantauan–evaluasi) terhadap capaian SPM. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada enam Puskesmas, didukung analisis deskriptif capaian SPM tahun 2023–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi ILP mendorong perubahan struktur layanan, peran kader yang lebih aktif, serta perluasan jejaring lintas sektor. Namun, capaian SPM menunjukkan variasi antar Puskesmas: beberapa wilayah mengalami peningkatan stabil, sementara lainnya menghadapi fluktuasi atau stagnasi. Faktor internal berupa kesiapan tata kelola, SDM, dan adaptasi digital, serta faktor eksternal berupa dukungan lintas sektor dan regulasi, terbukti sangat menentukan keberhasilan ILP. Dengan demikian, keberhasilan transformasi ILP memerlukan penguatan kebijakan operasional, pemerataan kapasitas SDM, serta kolaborasi multipihak agar peningkatan mutu layanan usia produktif dapat berkelanjutan.

This study examines the achievement of Minimum Service Standards (MSS) for productive-age health services before and after the implementation of the Integrated Primary Care (ILP) policy in Depok City. The research aims to analyze the contribution of selected Primary Health Care components—integrated services, community empowerment, and cross-sector collaboration—as well as enabling factors including policy frameworks, human resources, financing, governance, and monitoring–evaluation. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed across six Puskesmas, supported by descriptive analysis of MSS data from 2023–2025. The findings indicate that ILP implementation encouraged service restructuring, more active roles of health cadres, and the expansion of cross-sectoral partnerships. Nevertheless, MSS achievements varied: some areas recorded stable improvements, while others faced fluctuations or stagnation. Internal factors such as governance readiness, human resource capacity, and digital adaptation, along with external factors such as cross-sectoral support and regulatory alignment, were critical to ILP success. Therefore, the sustainability of ILP transformation requires strengthened operational policies, equitable human resource capacity building, and multi-stakeholder collaboration to ensure continuous improvement of productive-age health services.
Read More
T-7439
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aris Nurzamzami; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas, Amal Chalik Sjaaf, Luigi, Amila Megraini
Abstrak:
Pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan di masyarakat dilakukan terintegrasi melalui Puskesmas sebagai penanggungjawab sistem pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan dan Posyandu Prima di tingkat desa/kelurahan. Posyandu Prima adalah Posyandu yang berasal dari Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar terpadu berdasarkan kebutuhan di desa atau kelurahan. Provinsi DKI Jakarta memiliki kekhususan sebagai ibukota negara, mempunyai sumber daya yang cukup untuk melayani kesehatan masyarakatnya hingga tingkat kelurahan melalui keberadaan Puskesmas dan tingkat rukun warga melalui layanan Posyandu Prima/Pustu. Tujuan penelitian untuk menganalisis kesiapan dalam pengembangan layanan Posyandu Prima tingkat Rukun Warga di provinsi DKI Jakarta. Penelitian kualitatif dengan desain penelitian eksploratif research dilakukan pada bulan April hingga Mei 2023 di Provinsi DKI Jakarta. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan kesiapan pengembangan layanan Posyandu Prima/Pustu tingkat Rukun Warga belum optimal digambarkan dari 6 persyaratan Posyandu Prima/Pustu, hanya persyaratan sumber daya manusia dan mekanisme hubungan kerja dengan pemangku kepentingan yang siap, sedangkan peryaratan lokasi, anggaran, standar pelayanan, standar operasional prosedur memiliki kekurangan yang harus dipenuhi oleh Pemerintah. Diperlukan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan stakeholder terkait untuk merealisasikan peningkatan akses layanan kesehatan melalui pengembangan layanan Posyandu Prima/Pustu tingkat Rukun Warga di Provinsi DKI Jakarta. 

Meeting the needs of health services in the community is carried out in an integrated manner through the Puskesmas as the person in charge of the health service system at the sub-district level and Posyandu Prima at the village/kelurahan level. Posyandu Prima is a Posyandu that originates from Posyandu as a forum for community empowerment and provides integrated basic health services based on needs in the village or sub-district. DKI Jakarta Province has the specialty of being the nation's capital, having sufficient resources to serve the health of its people down to the sub-district level through the existence of a Community Health Center (Puskesmas) and the neighborhood level through the services of Posyandu Prima/Pustu. The aim of the study was to analyze readiness in the development of Posyandu Prima services at the Rukun Warga level in the province of DKI Jakarta. Qualitative research with an exploratory research design was conducted from April to May 2023 in DKI Jakarta Province. Data collection was carried out through in-depth interviews, observation and document review. The results showed that the readiness to develop Posyandu Prima/Pustu services at the Rukun Warga level was not optimal as described from the 6 requirements of Posyandu Prima/Pustu, only the human resource requirements and working relationship mechanisms with stakeholders were ready, while the location requirements, budget, service standards, operational standards procedures have deficiencies that must be met by the Government. A strong commitment from the Government and related stakeholders is needed to realize increased access to health services through the development of services at the Posyandu Prima/Pustu at the Rukun Warga level in DKI Jakarta Province.
Read More
T-6676
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive