Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indra Pehulisa Sembiring; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Baiduri Widanarko, Fatma Lestari, Patuan Alfons, Herlina J. El-Matury, Masjuli
Abstrak:
Implementasi Sistem Manajemen Budaya Keselamatan di Pertamina masih perlu dilakukan formulasi yang paling optimum. Hasil pengukuran Budaya Keselamatan (Safety Maturity Level), serta integrasi dengan sistem SUPREME yang ada di Pertamina dalam mencapai tingkat kematangan budaya keselamatan yang diinginkan. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan: penentuan korelasi antara proses SUPREME dan elemen budaya keselamatan, analisis kuantitatif terhadap data audit SUPREME dan survei budaya keselamatan, serta pengembangan model integrasi. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan proses SUPREME secara simultan terhadap nilai budaya keselamatan. Secara khusus, proses 2 (Kebijakan dan Sasaran) dan proses 5 (Perencanaan dan Prosedur) memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya keselamatan. Nilai adjusted R square sebesar 35,6% menunjukkan bahwa sebagian besar variasi budaya keselamatan dapat dijelaskan oleh penerapan SUPREME. Model integrasi yang dihasilkan dapat menjadi panduan untuk mempermudah penerapan sistem manajemen keselamatan menuju budaya keselamatan yang matang. Studi ini juga merekomendasikan evaluasi teknik proses keselamatan di masa mendatang untuk menilai keandalan, ketersediaan, dan kemampuan perawatan peralatan yang digunakan dalam operasi produksi.

The implementation of the Safety Culture Management System at Pertamina still requires an optimal formulation. This study examines the results of Safety Culture (Safety Maturity Level) assessments and their integration with Pertamina’s existing SUPREME system to achieve the desired level of safety culture maturity. The research was conducted in three stages: identifying the correlation between SUPREME processes and safety culture elements, conducting quantitative analysis of SUPREME audit data and safety culture surveys, and developing an integration model. Regression analysis shows that SUPREME processes, when considered together, have a significant influence on safety culture scores. In particular, Process 2 (Policies and Targets) and Process 5 (Planning and Procedures) show a statistically significant impact. The adjusted R square value of 35.6% indicates that a considerable portion of the variation in safety culture can be explained by SUPREME implementation. The proposed integration model can serve as a practical guide to support the application of safety management systems in achieving a mature safety culture. This study also recommends future evaluations of process safety engineering to assess the reliability, availability, and maintainability of equipment used in production operations.
Read More
D-610
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hamas Musyaddad Abdul Aziz; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Indri Hapsari Susilowati, Yan Fuadi, M. Hadi Rachman
Abstrak: Secara global, industri pertambangan telah lama dianggap sebagai salah satu industri paling berbahaya dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang besar bagi para pekerjanya. Frekuensi kejadian kecelakaan kerja dapat di cegah dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja sekaligus perilaku perilaku tenaga kerja pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, yang mulai menyadari pentingnya penerapan norma K3 di tempat kerja. Kematangan tingkat budaya keselamatan (safety maturity level) sangat penting untuk pencegahan perilaku tidak aman, terutama berbagai sector industry dengan tingkat cedera dan kematian yang tinggi. Konsep ini bertujuan untuk membantu organisasi dalam menetapkan tingkat kematangan budaya keselamatan mereka saat ini dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan budaya keselamatan mereka, sehingga diketahui dimensi dan aspek budaya keselamatan yang perlu diperbaiki . Tujuan dari penelitian ini mendesain instrumen pengukuran budaya yang sesuai dengan kondisi di lingkungan PT. XYZ dengan 10 variabel penelitian commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication dan safety performance, melakukan pengukuran budaya keselamatan pada PT. XYZ berdasarkan model tingkatan kematangan budaya keselamatan, dan melihat hubungan antar dimensi budaya keselamatan . Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mix methode, kuantitatif dan studi literature untuk memilih dimensi budaya keselamatan yang dijadikan variable penelitian dengan jumlah sampel penelitian 123 orang. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) . Hasil penelitian menunjukan penilaian terhadap safety maturity level dengan 10 (sepuluh) dimensi budaya keselamatan di PT.XYZ berada pada poin 3.56 (Compliant to Proactive), terdapat 9 (sembilan) hipotesis yang dapat diterima, terdapat hubungan yang bermakna antara Leadership (L) dengan Policy & Strategy (PS), dimensi Policy & Strategy (PS) dengan Safety Cost (SC), dimensi Commitment & Support (CS) dengan Process (P), dimensi Leadership (L) dengan Engagement & Involvement (EI), dimensi Safety Cost (SC) dengan Competency & Training (CT), dimensi Process (P) dengan Information & Communication (IC), dimensi Engagement & Involvement (EI) dengan Value (V), dimensi Competency & Training (CT) dengan Safety Performance (SP), Value (V) dengan Safety Performance (SP) dan 1 hipotesis yang tidak diterima, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dimensi Information & Communication (IC) dengan Safety Performance (SP).
Globally, the mining industry has long been considered one of the most dangerous industries with great health and safety risks to its workers. The frequency of work accidents can be prevented by planning, implementing and monitoring Occupational Safety and Health (K3) in the workplace as well as the behavior of workers in particular and the community in general, who are starting to realize the importance of implementing OSH norms in the workplace. Maturity level of safety culture (safety maturity level) is very important for the prevention of unsafe behavior, especially various industrial sectors with high rates of injury and death. This concept aims to assist organizations in determining the maturity level of their current safety culture and identify the actions needed to improve their safety culture, so that the dimensions and aspects of safety culture need to be improved . The purpose of this study is to design a cultural measurement instrument that is appropriate to the conditions in the PT. XYZ with 10 research variables commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication and safety performance, measured safety culture at PT. XYZ is based on a safety culture maturity level model, and looks at the relationship between safety culture dimensions. The method used in this study is a mix method, quantitative and literature study to select the dimensions of safety culture which are used as research variables with research sample of 123 people. The results were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results of the study show that the assessment of the safety maturity level with 10 (ten) dimensions of safety culture at PT. XYZ is at point 3.56 (Compliant to Proactive), there are 9 (nine) hypotheses that can be accepted, there is a significant relationship between Leadership (L) and Policy & Strategy (PS), Policy & Strategy (PS) dimension with Safety Cost (SC), Commitment & Support (CS) dimension with Process (P), Leadership dimension (L) with Engagement & Involvement (EI), Safety Cost dimension (SC) with Competency & Training (CT), Process dimension (P) with Information & Communication (IC), Engagement & Involvement (EI) dimension with Value (V), Competency & Training (CT) dimension with Safety Performance (SP) , Value (V) with Safety Performance (SP) and 1 hypothesis which is not accepted, there is no significant relationship between Information & Communication (IC) and Safety Performance (SP) dimensions.
Read More
T-6466
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lyza Yuni Setiawati; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Rudiyanto, Soehatman Ramli
Abstrak:

Pemerintah mendorong agar setiap perusahaan melakukan penerapan SMK3 di lingkungan kerja masing-masing. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012. Penerapan K3 sering kali dianggap sebagai cost atau beban biaya bagi perusahaan, bukan investasi untuk mencegah kecelakaan kerja. Menurut data organisasi perburuhan internasional (ILO) sekitar 2,78 juta pekerja meninggal setiap tahun karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kesesuaian Kinerja SMK3 dan tingkat pemahaman budaya keselamatan karyawan di Perusahaan X. Data Penelitian meliputi data primer dengen FGD menggunakan kuisioner safety culture maturity The Hudson Model dalam 6 kelompok Jabatan dan data sekunder (hasil temuan eksternal audit ISO 45001 : 2018 dan SMK3 sesuai PP No. 50 tahun 2012). Metodelogi penelitian menggunakan deskriptif analitik dan mix metode (semi kuantitatif dan kualitatif). Ada 20 variabel metode Hudson diperoleh tingkat kematangan budaya pada angka 3,33 (kategori Kalkulatif). Ini berarti keselamatan dianggap sebagai tanggung jawab Petugas K3 atau unit K3 saja yang berfokus terhadap pemenuhan standar atau peraturan saja yang menjadi minimum requirement. Tingkat pengukuran kinerja SMK3 perusahaan telah berada di level memuaskan menunjukan bahwa hasil SMK3 Perusahaan mengkonfirmasi apa yang dideteksi tingkat kematangan budaya keselamatan Perusahaan baru mulai untuk pemenuhan standar K3 dan kebutuhan peraturan perundang-undang. Perusahaan belum melakukan improvement ke arah generative yang sesungguhnya untuk menuju level proaktif dan generative tidak bisa hanya berfokus pada kebutuhan SMK3 namun banyak hal yang dibutuhkan improvement. Jika Perusahaan ingin menuju tingkat proaktif keselamatan dan nilai tingkat budaya generative maka keselamatan harus menjadi nilai yang diyakini secara bersama di seluruh organsasi dan unit kerja.


 

The government encourages every company to implement SMK3 in their respective work environments. In accordance with Republic of Indonesia Government Regulation Number 50 of 2012. Implementing K3 is often considered a cost or burden for companies, not an investment to prevent work accidents. According to data from the International Labor Organization (ILO), around 2.78 million workers die every year due to work accidents and occupational diseases. The research aims to analyze the suitability of SMK3 performance and the level of understanding of employee safety culture at Company in accordance with PP No. 50 of 2012). The research methodology uses analytical descriptive and mixed methods (semi quantitative and qualitative). There are 20 variables in the Hudson method, the level of cultural maturity is 3.33 (Calculative category). This means that safety is considered the responsibility of the K3 Officer or K3 unit which focuses on fulfilling standards or regulations which are the minimum requirements. The level of measurement of the company's SMK3 performance has been at a satisfactory level, indicating that the Company's SMK3 results confirm what was detected. The maturity level of the company's safety culture is just starting to fulfill K3 standards and statutory regulatory requirements. The company has not made improvements in a truly generative direction. In order to reach a proactive and generative level, it cannot only focus on SMK3 needs, but there are many things that need improvement. If the Company wants to move towards a proactive level of safety and a generative cultural value level, then safety must become a value that is shared across the organization and work units. Key words: Conformity, Safety Performance, Safety Culture Maturity Level

Read More
T-6911
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Nisa Fanegi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Izzatu Milla, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Industri manufaktur kimia merupakan salah satu sektor industri yang memiliki potensi bahaya tinggi dan kompleksitas proses kerja yang menuntut implementasi sistem keselamatan kerja yang kuat. Salah satu aspek yang perlu dikaji secara mendalam adalah tingkat kematangan budaya keselamatan (safety culture maturity) yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan budaya keselamatan di PT. XYZ serta mengidentifikasi perbedaan persepsi dan keterlibatan karyawan. Pengukuran dilakukan dengan instrument kuesioner yang terdiri dari berbagai dimensi dan elemen budaya keselamatan, serta didukung dengan data wawancara , diskusi kelompok dan tinjauan dokumen. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa tingkat kematangan budaya keselamatan PT. XYZ berada pada level 3 atau Calculative. Hasil ini menunjukkan bahwa Perusahaan telah memiliki sistem K3 yang terstruktur dan terdokumentasi, namun nilai – nilai keselamatan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam perilaku kerja sehari – hari. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan persepsi antar jabatan dan unit kerja, di mana keterlibatan pekerja lapangan dalam evaluasi dan pembelajaran keselamatan masih terbatas. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan antara lain efektivitas komunikasi keselamatan, partisipasi pekerja dalam analisis insiden kecelakaan, serta konsistensi pelaksanaan tindak lanjut dari temuan dan evaluasi risiko. 
The chemical manufacturing industry is one of the industrial sectors with high hazard potential and complex work processes, requiring the implementation of a strong occupational safety system. One critical aspect that must be explored in depth is the level of safety culture maturity within a company. This study aims to analyze the maturity level of safety culture at PT. XYZ and identify the differences in perception and engagement among employees. The assessment was conducted using a questionnaire instrument consisting of various safety culture dimensions and elements, supported by data from interviews, focus group discussions, and document reviews. Based on the analysis results, the overall safety culture maturity level at PT. XYZ was found to be at level 3 or Calculative. This indicates that while the company has a structured and well-documented safety management system, safety values have not yet been fully internalized into daily work behaviors. In addition, the study found significant differences in perceptions across job levels and departments, where workers in operational roles had limited involvement in safety evaluation and organizational learning. Areas that require improvement include safety communication effectiveness, employee participation in incident analysis, and consistency in follow-up actions from findings and risk evaluations.
Read More
B-2546
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive