Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Huda Rahmawati; Pembimbing: Martya Rahmaniaty; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Al Asy'ari, Titi Sundari, Rosmarlina
Abstrak: TB RO telah memperparah keadaan penyakit TB dan menghambat program penanggulangan TB di Indonesia maupun dunia. Hal ini disebabkan karena angka kesembuhan pada pengobatan relatif lebih rendah, lebih sulit, mahal dan lebih banyak efek samping. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui faktor risiko kejadian TB RO di RSPI Prof dr Sulianti Saroso Tahun 2017-2019 Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian kasus kontrol, dimana perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:1. Hasil penelitian yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan dan status HIV tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB RO. Status DM dan riwayat pengobatan TB sebelumnya memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian TB RO, dimana pasien dengan status DM memiliki risiko 3,3 kali lebih tinggi terjadinya TB RO (ORcrude 3,272; CI 1,244-8,749) dan riwayat pengobatan TB sebelumnya menjadi faktor paling berpengaruh terjadinya TB RO dengan ORadj=8,51; 95%CI (4,32-16,77). Kesimpulan penelitian dapat diberikan saran agar dapat disampaikan untuk memperhatikan, memberikan informasi dan dukungan pasien TB dengan DM ataupun TB saja kemungkinan terjadinya resistensi bila tidak melakukan pengobatan secara tuntas. Selain itu, sudah ada program bahwa setiap pasien TB harus diperiksa HIV dan DM,sehingga akan lebih awal mengetahui adanya komorbid pada pasien TB dan ini harus konsisten dilakukan
TB RO has exacerbated the condition of TB disease and hampered TB control programs in Indonesia and the world. This is because the cure rate on treatment is relatively lower, more difficult, expensive and has more side effects. The purpose of this study is to determine the risk factors for the incidence of TB RO at RSPI Prof dr Sulianti Saroso in 2017 - 2019 This study is a quantitative study with a case-control study design, where the ratio of cases and controls is 1:1. The results of the study, namely age, gender, occupation, education and HIV status did not have a significant relationship with the incidence of TB RO. DM status and history of previous TB treatment have a significant relationship with the incidence of TB RO, where patients with DM status have a 3.3 times higher risk of developing TB RO (ORcrude 3,272; CI 1,244-8,749) and history of previous TB treatment is the most influential factor. the occurrence of TB RO with ORadj=8.51; 95%CI (4.32-16.77). The conclusions of the study can be given suggestions so that they can be submitted to pay attention, provide information and support for TB patients with DM or TB only, the possibility of resistance if they do not complete treatment. In addition, there is a program that every TB patient must be tested for HIV and DM, so that it will be easier to find out if there are comorbidities in TB patients and this must be done consistently
Read More
T-6146
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nenden Siti Aminah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Retno Kusuma Dewi, Ani Herna Sari
Abstrak:
Tiga permasalahan TB di Indonesia yaitu TB sensitif, TB Resistan Obat (TB-RO) dan TB-HIV. TB-RO merupakan masalah yang menghawatirkan, angka penemuan kasus TBRO setiap tahun semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan angka pengobatan. Penggunaan paduan jangka pendek untuk pengobatan pasien TB-RO sejak September 2017 merupakan salah satu upaya menekan peningkatan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini dilakukan untuk melihat trend dan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB Resistan Obat (TB RO) dengan paduan Shorter Treatment Regiment (STR) di Indonesia Tahun 2017-2019. Penelitian menggunakan desain kohort restropektif. Sumber data adalah semua pasien TB RO paduan jangka pendek yang terdaftar dalam sistem informasi TB MDR Subdit Tuberkulosis. Metode sampling adalah total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square dan uji cox regression. Sebanyak 3.100 pasien disertakan dalam analisis, didapat angka keberhasilan pengobatan adalah 41,94%. Hasil analisis menunjukkan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan adalah umur, kepatuhan, hasil pemeriksaan sputum awal pengobatan, pola resistensi monoresisten dan poliresisten, serta wilayah tempat tinggal. Kepatuhan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan. Perlu dilakukan upaya penguatan kepatuhan dengan melakukan konseling sedini mungkin, pendamping PMO dari non petugas dan inisiasi grup dukungan pasien di setiap faskes MDR

TB problems in Indonesia are TB sensitive, Drug-Resistant TB and TB-HIV. TB-RO is the most challengging  problem, the number of case finding is increase every year, but treatment rate is decrease. The use of short-term  regiment since September 2017 is one of strategy to reduce default of TB treatment. This research was  conducted to see trends and factors related to the TB treatment success rate among patients with Drug  Resistance TB (TB RO) using Shorter Treatment Regiment (STR) in Indonesia 2017-2019. The study desain is  restropective cohort. Data sources are all patients of TB RO using STR regiment, which is enrolled in the e-TB  manager, Sud Directorate of Tuberculosis, MoH RI. The sampling method is total sampling that meets the  inclusion and exclusion criteria. The analysis used was the chi-square test and the cox regression test. As many  as 3,100 patients were included in the analysis, the treatment success rate was 41,94%. The results of the  analysis showed that factors related to treatment success were age, adherence, results of initial sputum  examination of treatment, patterns of monoresistant and polyresistant resistance, and area of ​​residence.  Adherence is a dominant factor related to treatment success. Efforts should be made to strengthen compliance  by conducting counseling as early as possible, PMO assistants from non-helath officers and initiating patient  support groups in each MDR facility 

Read More
T-5925
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rina Agustina; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Rizka Maulida, Sulistyo
Abstrak: Kasus TB RO menyebabkan beban pengendalian penyakit TB menjadi bertambah. Adanya penurunan angka keberhasilan pengobatan dari tahun 2010 (67,9%) menjadi 51,1% tahun 2013 dan peningkatan kasus pasien putus berobat mendorong Indonesia menerapkan pengobatan jangka pendek untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB RO dan menurunkan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini melihat hasil pengobatan TB RO dan faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek di Indonesia tahun 2017 menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Menggunakan data pasien TB RO yang tercatat dalam e-TB manager berusia ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatan regimen pendek maksimal pada bulan November 2018. Didapatkan 223 kasus dengan 46,6% sembuh, 26,5 % putus berobat, 4,9% pengobatan lengkap, 14,2 meninggal, 6,3% gagal dan 1,3% lainnya. Usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, jenis resistensi, status HIV, status diabetes mellitus dan status kavitas paru secara statistik tidak berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek ialah resisten terhadap amikasin (RR 7.4; 95% CI 4.68- 17.29), ofloksasin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), dan kanamisin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), dan interval inisiasi pengobatan > 7 hari (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Kata kunci: hasil pengobatan; pengobatan jangka pendek; TB RO

The case of drug-resistant tuberculosis causes the burden of controlling TB disease to increase. The decline in treatment success rates from 2010 (67.9%) to 51.1% in 2013 and an increase in cases of patients dropped out encouraged Indonesia to apply shortterm treatment to increase the success rate of DR-TB treatment and reduce cases of patients dropped out. This study aims to look the results of DR-TB treatment and factors related to treatment outcomes for short regimens in Indonesia in 2017 using a retrospective cohort study design. Using data on DR-TB patients recorded in the e-TB manager aged ≥15 years who have completed treatment for the maximum short regimen in November 2018. There were 223 cases with 46.6% cured, 26.5% dropped out, 4.9% completed, 14.2 died, 6.3% failed and 1.3% others.. Age, gender, previous treatment history, type of resistance, HIV status, DM status and lung cavity status were not statistically related to the results of treatment of short regimens. Factors related to the results of treatment of short regimens were resistant to amikacin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloxacin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), kanamycin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), and treatment initiation interval >7 days (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Key words: treatment outcomes; short-term treatment; DR-TB
Read More
S-9891
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Rizaldi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Alvin Kosasih, Tavip Triyono
Abstrak: Kabupaten Bogor merupakan daerah prioritas utama penanggulangan TB di Indonesia dengan jumlah kasus TB ditemukan tahun 2020-2021 sebanyak 22.189 kasus dengan 728 kasus (3,3%) terkonfirmasi sebagai TB-RO. Angka kesembuhan TB-RO semakin menurun sedangkan angka kematiannya meningkat. Tujuan penelitian ini untuk menghitung mortality rate dan perbedaan probabilitas survival antara kelompok terpapar dan tidak terpapar faktor risiko serta mengetahui hubungan antara co-infeksi HIV, DM dan pola resistensi dengan ketahanan hidup TB-RO. Studi cohort retrospektive dan analisis survival dilakukan dengan memanfaatkan data TB.03 dan TB.01 SITB Kab. Bogor, SITB RSUD Cibinong dan SITB RSPG Cisarua. Hasil penelitian didapatkan mortality rate kumulatif sebesar 31,9/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 62,3%. Mortality rate pada kelompok HIV positif:131/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 37,5% (log-rank test 0,004). Pada kelompok DM:53,3/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 40,4%. (log-rank test 0,002). Pada pola Pre-XDR/XDR sebesar 42,4/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 55,4%. Sedangkan pola poliresisten/MDR:34,8/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 56,2% (log-rank test 0,023). HIV (HR:7,32;95%CI:2,7019,81;p-value:0,001), DM T*≥ 2 bulan (HR:2,03;95%CI: 1,05-3,92;p-value:0,31). Pola Pre-XDR/XDR (HR:3,98;95%CI:1,59-9,9;p-value:0,003) serta pola poliresisten/MDR (HR:2,84;95%CI:1,23-6,58;p-value:0,014) berhubungan dengan ketahanan hidup penderita TB-RO. Diharapkan RS rujukan TB-RO memaksimalkan tatalaksana, jejaring internal, sinkronisasi data SITB.. Bagi Dinkes Kab. Bogor dapat memaksimalkan kegiatan MICA dan meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan TB-RO
Read More
T-6385
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hera Afidjati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen
Abstrak:
Latar belakang: Kompleksitas pengobatan TB RO berupa durasi pengobatan yang panjang, penggunaan beberapa obat lini kedua, toksisitas obat, dan interaksi obat akibat multidrug use dapat menyebabkan efek samping pengobatan pada pasien. Hal ini dapat mengurangi efektivitas pengobatan dan memengaruhi luaran pengobatan TB RO. Tujuan: Untuk melihat efek samping obat/kejadian tidak diinginkan terhadap luaran pengobatan TB RO. Metode: Penelitian observasional dengan desain kohort retrospektif ini dilakukan di RSUP Persahabatan, Jakarta. Sumber data adalah data sekunder dari sistem informasi tuberkulosis (SITB) yang melibatkan pasien TB RO yang menjalani pengobatan di tahun 2021 – 2023. Metode sampling berupa total sampling. Analisis data bivariat antara KTD dengan luaran pengobatan TB RO berupa Cox regresi dan uji Log-Rank, yang kemudian dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan Extended Cox Regresi. Hasil: Dari 583 subjek yang diikutsertakan dalam penelitian ini, insidens luaran pengobatan tidak berhasil sebanyak 40,65%. Sebanyak 12,69% pasien mengalami efek samping berat. Sebagian besar efek samping terjadi pada fase intensif pengobatan TB RO (43,57%). Jenis efek samping yang paling sering dialami pada pasien adalah gangguan gastrointestinal (79,25%), gangguan muskuloskeletal (58,32%), dan gangguan saraf (49,40%). Efek samping berupa KTD berat/serius tidak memiliki asosiasi yang signifikan terhadap terjadinya pengobatan tidak berhasil berdasarkan hasil analisis Cox regresi bivariat (HR=0,823; 95% CI: 0,558-1,216; p=0,329) dan analisis multivariat Extended Cox regresi (setelah dikontrol oleh variabel kovariat). Probabilitas survival antara kelompok dengan KTD berat dan kelompok non-KTD berat tidak berbeda bermakna. Kesimpulan: pemantauan efek samping selama pengobatan TB RO berlangsung merupakan hal yang penting untuk menunjang keberhasilan pengobatan.

Background: The complexity of treating drug-resistant tuberculosis (DR TB) involves prolonged treatment duration, the use of several second-line drugs, drug toxicity, and drug interactions due to multidrug use, which can lead to adverse drug reactions in patients. These issues can reduce treatment effectiveness and affect treatment outcomes for DR TB. Objective: To investigate the impact of adverse drug reactions/adverse events on DR TB treatment outcomes. Methods: This observational study utilized a retrospective cohort design conducted at RSUP Persahabatan, Jakarta. The data source was secondary data from the tuberculosis information system (SITB) involving DR TB patients who underwent treatment between 2021 and 2023. The sampling method was total sampling. Bivariate data analysis between adverse events and TB RO treatment outcomes involved Cox regression and Log Rank tests, followed by multivariate analysis using Extended Cox Regression. Results: Among the 583 subjects included in this study, the incidence of unsuccessful treatment outcomes was 40.65%. Severe adverse drug reactions were experienced by 12.69% of patients. Most adverse reactions occurred during the intensive phase of TB RO treatment (43.57%). The most common types of adverse reactions experienced by patients were gastrointestinal disorders (79.25%), musculoskeletal disorders (58.32%), and neurological disorders (49.40%). Severe/serious adverse reactions did not have a significant association with unsuccessful treatment outcomes based on the results of the bivariate Cox regression analysis (HR=0.823; 95% CI: 0.558-1.216; p=0.329) and the multivariate Extended Cox regression analysis (after adjusting for covariate variables). The survival probability between the group with severe adverse reactions and the non-severe adverse reactions group did not differ significantly. Conclusion: Monitoring adverse drug reactions during DR TB treatment is crucial to support the success of the treatment.
Read More
T-7063
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Izzatul Mardiah Saini; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nining Mularsih, Tiopan Sipahutar
Abstrak:
Penanggulangan dan pengobatan tuberkulosis semakin sulit dan menantang dengan munculnya varian mycrobacterium tuberculosis yang resisten terhadap obat. Tuberkulosis yang resisten terhadap obat merupakan risiko kesehatan global dan dapat mmenyebabkan tingginya angka kematian. DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi yang tercatat sebagai provinsi dengan angka kejadian tuberkulosis dan TB-RO tertinggi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan diabetes mellitus dan HIV dengan ketahanan hidup pasien TB-RO selama masa pengobatan di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif pada 1100 pasien TB-RO yang menjalani pengobatan pada Januari 2021-Desember 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang dilakukan analisis univariat, kaplan-meier, bivariat menggunakan regresi cox dan multivariat dengan cox proportional hazard. Hasil penelitian ini menunjukkan 18,8% pasien TB-RO mengalami kematian dengan incidence rate kematian 15 per 1000 orang-bulan dengan probabilitas survival kumulatif sebesar 79,69%. Status HIV positif (HR 2,17; 95% CI: 1.14 – 4,12) berhubungan dengan ketahanan hidup pasien TB-RO. Status HIV positif pada pasien tuberkulosis yang resistan terhadap obat dapat mempercepat kematiannya. Pentingnya peningkatan kolaborasi program terutama TB-HIV agar pasien TB-RO dengan HIV mendapatkan pengobatan dan pemantauan yang tepat

The prevention and treatment of tuberculosis have become increasingly complicated and challenging with the emergence of drug-resistant variants of Mycobacterium tuberculosis. Drug-resistant tuberculosis poses a global health risk and can lead to high mortality rates. DKI Jakarta is one of the provinces in Indonesia with the highest incidence of tuberculosis and drug-resistant TB (TB-DR). The objective of this study is to investigate the relationship between diabetes mellitus and HIV with the survival of TB-DR patients during treatment in DKI Jakarta Province. The study design is a retrospective cohort study involving 1100 TB-DR patients who underwent treatment from January 2021 to December 2023 and were registered in the Tuberculosis Information System. The analysis included univariate analysis, Kaplan-Meier analysis, bivariate analysis using Cox regression, and multivariate analysis with Cox proportional hazard. The results of the study showed that 18.8% of TB-DR patients experienced mortality, with an incidence rate of 15 per 1000 person-months and a cumulative survival probability of 79.69%. HIV-positive status (HR 2.17; 95% CI: 1.14 – 4.12) was associated with the survival of TB-DR patients. Being HIV-positive in drug-resistant tuberculosis patients can accelerate their mortality. The importance of enhancing collaborative programs, especially TB-HIV programs, is crucial to ensure that TB-DR patients with HIV receive appropriate treatment and monitoring.
Read More
T-7011
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsye Tendenan Malensang; Pembimbing: Yovsyah; PengujiL: Helda, Sulistyo
Abstrak:
Abstrak Tuberkulosis masih menjadi masalah Kesehatan Masyarakat sampai saat ini, baik di Indonesia maupun Tingkat global. Indonesia negara dengan peringkat ke dua sebagai negara dengan angka kasus TB terbesar di dunia. Succsess Rate TB RO di Indonesia dalam satu dekade terakhir bekisar antara 40-50%, tahun 2022 SR TB RO menjapai angka 51% masih jauh dari target nasional. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubhungan factor usia, jenis kelamin, Riwayat pengobatan, jenis faskes, status HIV dan status DM terhadap keberhasilan pengobatan TB RO Pengobatan Jangka Pendek di Indonesia tahun 2022. Desain studi yang digunakan yaitu cross sectional dengan menganalisis data dari data register TB RO 03 Aplikasi SITB Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan RI dengan jumlah sampel sebesar 2.028. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunkana aplikasi SPSS versi 27.Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor usia (PR=1,31; 95%; CI:1,20-1,42) dan status HIV (PR=1,4; 95%; CI: 1,02-1,90) menjadi faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB RO Jangka Pendek(Short Treatment Regiment) di Indonesia tahun 2022. Oleh sebab itu, perlu adanya intervensi dan pengawasan ekstra bagi pasien yang berusia > 45 tahun dan dengan infeksi HIV dalam menjalani pengobatan TRB RO Jangka Pendek untuk mencegah kegagalan pengobatan dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB RO Jangka Pendek. Kata Kunci : Pengobatan TB RO Jangka Pendek, Usia, jenis Kelamin, Riwayat Pengobatan, Jenis Faskes, Status HIV, Status DM, Indonesia

Abstract Tuberculosis is still a public health problem today, both in Indonesia and at the global level. Indonesia is the country ranked second as the country with the largest number of TB cases in the world. The TB RO Success Rate in Indonesia in the last decade has ranged between 40-50%, in 2022 the TB RO SR will reach 51%, which is still far from the national target. The aim of this research is to determine the relationship between the factors age, gender, treatment history, type of health facility, HIV status and DM status on the success of Short Term RO TB treatment in Indonesia in 2022. The study design used is cross sectional by analyzing data from TB register data. RO 03 SITB Application Directorate General of P2P Ministry of Health of the Republic of Indonesia with a sample size of 2,028. Data were analyzed univariately and bivariately using the SPSS version 27 application. The results of the analysis showed that the factors were age (PR=1.31; 95%; CI: 1.20-1.42) and HIV status (PR=1.4; 95% ; CI: 1.02-1.90) is a factor related to the success of Short Term RO TB treatment (Short Treatment Regiment) in Indonesia in 2022. Therefore, there is a need for extra intervention and supervision for patients aged > 45 years and with HIV infection undergoing Short Term TRB RO treatment to prevent treatment failure and increase the success of Short Term TB RO treatment. Keywords: Short Term RO TB Treatment, Age, Gender, Treatment History, Type of Health Facility, HIV Status, DM Status, Indonesia
Read More
S-11509
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syarifah Khodijah; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Betty Nababan, Helly Zafni
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan global yang masih menjadi tantangan besar, terutama di Indonesia. Peningkatan kasus Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) memerlukan penanganan yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sebuah Sistem Informasi Pemetaan untuk memetakan dan mengendalikan penyebaran kasus TB RO di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kebutuhan, perancangan, pembangunan sistem, pengujian, dan evaluasi. Sistem yang dikembangkan memungkinkan pemetaan wilayah terdampak TB menggunakan data yang dilaporkan oleh petugas TB ke dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem informasi pemetaan yang dikembangkan berhasil memberikan gambaran klastering kasus TB RO, mempermudah petugas kesehatan dalam penjangkauan dan pemantauan pasien, serta meningkatkan efektivitas program pencarian kasus aktif (Active Case Finding). Sistem ini juga mampu mengidentifikasi area dengan tingkat infeksi tinggi, sehingga intervensi dapat lebih tepat sasaran. Dengan demikian, sistem informasi ini menjadi alat yang berharga dalam penanggulangan TB di wilayah Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Tuberculosis (TB) remains a significant global health issue, particularly in Indonesia. The increasing incidence of Drug-Resistant TB (DR-TB) requires effective management strategies. This study aims to develop an Information Mapping System to map and control the spread of DR-TB cases in Mampang Prapatan Subdistrict, South Jakarta. The research employs a comprehensive approach including needs analysis, system design, development, testing, and evaluation. The developed system enables the mapping of TB-affected areas using data reported by TB officers into the Tuberculosis Information System (SITB). The study's findings indicate that the developed mapping information system successfully provides a visualization of DR-TB case clustering, facilitates healthcare workers in patient outreach and monitoring, and enhances the effectiveness of the Active Case Finding program. Furthermore, the system identifies high-infection areas, allowing for more targeted interventions. Thus, this information system proves to be a valuable tool in the TB control efforts in Mampang Prapatan Subdistrict, South Jakarta.
Read More
T-7079
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive