Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sekar Ayudia Rahmadani; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli
Abstrak:
Stroke merupakan penyakit kardiovaskular penyebab kematian peringkat kedua di tingkat dunia. Stroke dapat dikategorikan menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragik. Secara global, sekitar 4,6 juta kasus dari 12,2 kasus stroke baru tiap tahunnya merupakan stroke hemoragik. Jumlah kasus stroke hemoragik lebih sedikit dibandingkan stroke iskemik, namun memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi faktor risiko stroke hemoragik dengan kejadian stroke hemoragik di 34 provinsi Indonesia pada tahun 2019. Peneliti menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis populasi. Penelitian menggunakan data sekunder dari hasil Riskesdas tahun 2018, BPS, dan penelitian oleh Widyasari, Rahman, dan Ningrum (2023). Analisis bivariat menggunakan uji korelasi dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan incidence rate stroke hemoragik suatu provinsi berkorelasi dengan penurunan prevalensi hipertensi (ρ = -0,201), penurunan prevalensi diabetes mellitus (ρ = -0,291), penurunan proporsi obesitas (ρ = -0,161), dan peningkatan jumlah penduduk laki-laki (ρ = 0,250) provinsi tersebut. Peningkatan prevalensi stroke hemoragik suatu provinsi berkorelasi dengan peningkatan proporsi obesitas (R = 0,167) dan peningkatan jumlah penduduk laki-laki (R=0,308) provinsi tersebut. Akan tetapi, korelasi tersebut secara statistik tidak signifikan. Meskipun demikian, upaya pengendalian dan pencegahan faktor risiko dapat berperan dalam mengurangi kejadian stroke hemoragik.

Stroke is the second leading cause of death in the world. Stroke can be categorized into ischemic stroke and hemorrhagic stroke. Globally, about 4,6 million of 12,2 million new stroke cases are hemorrhagic strokes. Hemorrhagic stroke has a higher mortality rate than ischemic stroke despite having fewer cases. This study aims to determine the correlation of hemorrhagic stroke risk factors with hemorrhagic stroke occurrence in 2019 at 34 provinces of Indonesia. The research uses an ecological study design and secondary data from the 2018 Riskesdas, BPS, and research by Widyasari, Rahman, and Ningrum (2023). Bivariate analysis uses correlation and linear regression. Results showed that an increase of hemorrhagic stroke incidence rate in a province was correlated with a decrease in the prevalence of hypertension (ρ = -0.201), decrease in the prevalence of diabetes mellitus (ρ = -0.291), decrease in the proportion of obesity (ρ = -0.161), and an increase in the male population (ρ = 0.250). A province’s increase of hemorrhagic stroke prevalence is correlated with an increase in the proportion of obesity (R = 0.167) and the male population (R = 0.308). Correlation is not statistically significant, but controlling and preventing risk factors can still reduce hemorrhagic stroke occurrence.
Read More
S-11457
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septiria Irawati; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: R. Budi Haryanto, Ririn Arminsih Wulandari, Sulistiyawati Murdiningrum, Ni Ketut Aryastami
Abstrak:
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan, stunting juga disebabkan oleh kejadian infeksi berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran cakupan imunisasi dan kejadian penyakit infeksi berbasis lingkungan, korelasinya dengan kejadian stunting pada balita, serta rekomendasi intervensi pengendalian stunting di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Metodologi penelitian ini menggunakan desain studi ekologi multiple-group study dengan data kecamatan sebagai unit analisis. Data yang dikumpulkan adalah prevalensi stunting, persentase cakupan imunisasi, prevalensi diare, dan prevalensi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada balita per bulan selama setahun pada 44 kecamatan di DKI Jakarta yang dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi. Hasil uji statistik menunjukkan korelasi signifikan antara imunisasi dengan stunting di 6 kecamatan, diare dan stunting di 4 kecamatan, serta ISPA dan stunting di 12 kecamatan. Intervensi yang direkomendasikan adalah upaya penurunan prevalensi ISPA untuk menurunkan prevalensi stunting melalui intensifikasi pencarian dan pengobatan kasus, pemberian perlindungan spesifik dan imunisasi, pemberantasan penyakit berbasis lingkungan, serta upaya kemitraan lintas sektor.

Stunting is a condition of failure to thrive due to chronic malnutrition. Not only caused by a lack of food intake, stunting is also caused by repeated infections. The purpose of this study was to describe the scope of immunization and the incidence of environmental-based infectious diseases, its correlation with the incidence of stunting in children under five, as well as recommendations for stunting control interventions in the Special Capital Region of Jakarta Province. The research methodology used a multiple-group study design with sub-district data as the unit of analysis. The data collected was the prevalence of stunting, the percentage of immunization coverage, the prevalence of diarrhea, and the prevalence of ARI (Accute Respiratoty Infection) in under-fives per month for a year in 44 sub-districts in DKI Jakarta which were statistically analyzed using a correlation test. Statistical test results showed a significant correlation between immunization and stunting in 6 sub-districts, diarrhea and stunting in 4 sub-districts, and ARI and stunting in 12 sub-districts. The recommended interventions are efforts to reduce the prevalence of ARI to reduce the prevalence of stunting through intensifying case search and treatment, providing specific protection and immunization, eradicating environment-based diseases, and cross-sector partnership efforts.
Read More
T-6784
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ora Iring Hutasoit; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Al Asyary, Laila Fitria, Sugiarto, Rahmad Isa
Abstrak:
Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan kondisi geografi curah hujan dan kelembaban yang tinggi. Penyakit malaria menginfeksi penduduk yang bermukim di daerah endemis, terutama di negara tropis dan subtropis. Angka kejadian malaria diperkirakan 41% atau sekitar 2.3 milyar di dunia. Jayapura merupakan salah satu kota di Indonesia dengan tingginya angka kejadian malaria. Kejadian ini didukung oleh posisi geografis dan topografi dominan berupa daerah rawa, hutan sagu, hutan, pegunungan dan pengaruh lingkungan seperti suhu, curah hujan dan kelembaban udara Studi ekologi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor iklim yang terdiri atas curah hujan kumulatif bulanan, suhu udara rata-rata bulanan dan kelembaban udara relatif rata-rata bulanan, terhadap jumlah kasus malaria bulanan yang terdapat di Kota Jayapura. Desain Penelitian ini menggunakan observasional dengan menggunakan studi ekologi berbasis ecologic time-trend design Berdasarkan bionomic nyamuk Anopheles spp dan hasil pengolahan data antara Iklim dan Kasus malaria di Kota Jayapura Tahun 2010- 2022 Studi ini menemukan bahwa curah hujan dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 . suhu udara dan malaria di kota Jayapura Tahun 2010- 2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 dan 2011. Kelembaban relatif dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan negatif pada lag 2 bulan di tahun 2011 dan 2015 sedangkan pada tahun 2013 dan 2014 memiliki hubungan kuat dan positif. Kesimpulan studi ekologi menemukan hubungan signifikan antara iklim dengan kejadian malaria di Kota Jayapura Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan kondisi geografi curah hujan dan kelembaban yang tinggi. Penyakit malaria menginfeksi penduduk yang bermukim di daerah endemis, terutama di negara tropis dan subtropis. Angka kejadian malaria diperkirakan 41% atau sekitar 2.3 milyar di dunia. Jayapura merupakan salah satu kota di Indonesia dengan tingginya angka kejadian malaria. Kejadian ini didukung oleh posisi geografis dan topografi dominan berupa daerah rawa, hutan sagu, hutan, pegunungan dan pengaruh lingkungan seperti suhu, curah hujan dan kelembaban udara Studi ekologi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor iklim yang terdiri atas curah hujan kumulatif bulanan, suhu udara rata-rata bulanan dan kelembaban udara relatif rata-rata bulanan, terhadap jumlah kasus malaria bulanan yang terdapat di Kota Jayapura. Desain Penelitian ini menggunakan observasional dengan menggunakan studi ekologi berbasis ecologic time-trend design Berdasarkan bionomic nyamuk Anopheles spp dan hasil pengolahan data antara Iklim dan Kasus malaria di Kota Jayapura Tahun 2010- 2022 Studi ini menemukan bahwa curah hujan dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 . suhu udara dan malaria di kota Jayapura Tahun 2010- 2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan yang positif pada lag 2 bulan di tahun 2010 dan 2011. Kelembaban relatif dan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2010-2022 memiliki hubungan yang signifikan dan memiliki hubungan negatif pada lag 2 bulan di tahun 2011 dan 2015 sedangkan pada tahun 2013 dan 2014 memiliki hubungan kuat dan positif. Kesimpulan studi ekologi menemukan hubungan signifikan antara iklim dengan kejadian malaria di Kota Jayapura

Malaria is still a health problem in Indonesia with its geography of high rainfall and humidity. Malaria infects people in endemic areas, especially in tropical and subtropical countries. Malaria was estimated at 41% or around 2.3 billion in the world. Jayapura is one of the cities in Indonesia with a high incidence of malaria. This incidence was supported by geographical position and dominant topography in the form of swamp areas, sago forests, forests, mountains, and environmental influences such as temperature, rainfall, and air humidity. This ecological study aims to determine the effect of climatic factors of monthly cumulative rainfall, monthly average air temperature, and monthly average relative air humidity on the number of monthly malaria cases found in Jayapura City. The research design was observational, using an ecological study based on an ecological time-trend design. Based on the bionomic of Anopheles spp mosquitoes and the results of data processing between Climate and Malaria Cases in Jayapura City in 2010-2022, This study found that rainfall and malaria incidence in Jayapura City in 2010-2022 had a significant relationship and had a positive relationship on a 2-month lag in 2010. air temperature and malaria in Jayapura City in 2010-2022 had a significant and positive relationship on a 2-month lag in 2010 and 2011. Relative humidity and malaria incidence in Jayapura City in 2010-2022 had a significant relationship. They had an antagonistic relationship at 2-month lags in 2011 and 2015, while in 2013 and 2014, it had a solid and positive relationship. In conclusion, the ecological study found a significant relationship between climate and malaria incidence in Jayapura City.
Read More
T-6765
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Shafa Khalishah Salsabila Ramadhani; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Asih Setiarini, Fathimah Sulistyowati Sigit, Tria Astika Endah Permatasari, Iing Mursalin
Abstrak:

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan, perkembangan kognitif, dan produktivitas. Kabupaten/kota Pulau Papua masih menunjukkan prevalensi stunting yang tinggi, melebihi rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–59 bulan di 29 kabupaten/kota Pulau Papua menggunakan pendekatan studi ekologi. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi linier berganda. Variabel yang dianalisis meliputi karakteristik ibu dan anak, asupan makanan, penyakit infeksi, praktik pengasuhan, akses layanan kesehatan, kondisi lingkungan, dan status ekonomi. Hasil analisis bivariat menunjukkan beberapa variabel memiliki hubungan signifikan dengan stunting, seperti tinggi badan ibu <150 cm, pendidikan ibu <SMA, keragaman pangan rendah, konsumsi tablet tambah darah <90 tablet, tidak ASI eksklusif, dan sanitasi tidak aman. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik dalam analisis multivariat. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis wilayah dan multisektoral yang mempertimbangkan konteks lokal dalam perencanaan intervensi stunting di Pulau Papua.
Kata kunci: stunting, studi ekologi, Pulau Papua, anak balita, faktor risiko


Stunting is a chronic nutritional problem with long-term impacts on health, cognitive development, and productivity. Districts and municipalities in Papua Island continue to show high stunting prevalence rates, exceeding the national average. This study aims to analyze the factors associated with stunting among children aged 6–59 months in 29 districts/municipalities of Papua Island using an ecological study approach. The research utilizes secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). Data analysis was conducted through univariate, bivariate, and multivariate methods using multiple linear regression. The analyzed variables included maternal and child characteristics, food intake, infectious diseases, childcare practices, healthcare access, environmental conditions, and economic status. Bivariate analysis revealed significant associations between stunting and several factors, such as maternal height <150 cm, education level below senior high school, low dietary diversity, iron tablet consumption <90 tablets, non-exclusive breastfeeding, and unsafe sanitation. However, no statistically significant associations were found in the multivariate analysis. These findings highlight the importance of area-based and multisectoral approaches that take local context into account in planning stunting intervention programs in Papua Island. Keywords: stunting, ecological study, Papua Island, under-five children, risk factors

Read More
T-7261
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suhayla Rania Nurfahmi; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Dinda Shabrina
Abstrak:
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan serius di perkotaan, termasuk di Jakarta Selatan yang memiliki tingkat pajanan polusi udara Particulate Matter (PM 2,5) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsentrasi PM 2,5 dengan kejadian hipertensi, serta hubungannya berdasarkan faktor individu (usia, jenis kelamin, dan obesitas) di Jakarta Selatan selama tahun 2024. Penelitian menggunakan desain studi ekologi tipe by place dengan unit analisis 10 kecamatan. Data sekunder diperoleh dari jaringan pemantauan kualitas udara Nafas dan data surveilans Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan periode Januari–Desember 2024. Analisis korelasi Spearman dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan jumlah kunjungan hipertensi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi PM 2,5 di seluruh kecamatan melampaui baku mutu udara ambien tahunan. Secara statistik, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM 2,5 dengan total kejadian hipertensi (p > 0,05), maupun pada pengelompokan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan status obesitas. Namun, terdapat variasi spasial di mana Kecamatan Jagakarsa menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, meskipun hubungan statistik pada tingkat agregat tidak signifikan, strategi pengendalian kualitas udara dan deteksi dini hipertensi tetap diperlukan, serta disarankan penelitian lanjutan dengan desain studi kohort menggunakan data individu untuk menangkap dampak pajanan jangka panjang secara lebih akurat.

Hypertension is a non-communicable disease posing a serious health issue in urban areas, including South Jakarta, which experiences high exposure to Particulate Matter (PM 2.5) air pollution. This study aims to analyze the relationship between PM 2.5 concentration and hypertension incidence, as well as its relationship based on individual factors (age, gender, and obesity) in South Jakarta during 2024. The study employed an ecological study design (by place) with 10 districts as the unit of analysis. Secondary data were obtained from the Nafas air quality monitoring network and the South Jakarta Health Office surveillance data for the period of January–December 2024. Spearman correlation analysis was conducted to examine the relationship between independent variables and hypertension visit counts. Bivariate analysis results indicated that the average PM 2.5 concentration in all districts exceeded the annual ambient air quality standards. Statistically, no significant relationship was found between PM 2.5 concentration and total hypertension incidence (p > 0.05), nor in groupings based on age, gender, and obesity status. However, spatial variation was observed, with the Jagakarsa district showing a strong and significant relationship. Based on these results, although the statistical relationship at the aggregate level was not significant, air quality control strategies and early hypertension detection remain necessary, and future research using a cohort study design with individual data is recommended to more accurately capture the effects of long-term exposure.
Read More
S-12204
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cassey Engeliq; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Fajar Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes sp. Penyakit DBD menjadi salah satu penyakit yang relatif meningkat dalam dekade terakhir terkhusus pada wilayah Kota Jakarta Timur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara faktor iklim dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Jakarta Timur pada periode tahun 2016-2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan waktu, yaitu ecological time trend study dengan populasi penelitian adalah seluruh masyarakat wilayah Jakarta Timur yang menderita DBD dan terdata pada Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Jakarta. Hasil: hasil analisi bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa hubungan yang signifikan secara statistik (p>0,05) dominan terjadi pada kelembapan udara terhadap kejadian penyakit DBD time lag 1 dan time lag 0. Sementara itu, hubungan yang signifikan secara statistik pada variabel suhu terjadi pada tahun 2020 (time lag 0) dan 2023 (time lag 0 dan time lag 1), serta hubungan yang signifikan secara statistik untuk variabel curah hujan terjadi pada tahun 2019 (time lag 1) dan 2020 (time lag 0 dan time lag 1). Hubungan faktor iklim terhadap kejadian DBD di Kota Administrasi Jakarta Timur cenderung bervariasi setiap tahunnya dan tidak seluruh variabel iklim memiliki hubungan yang signifikan secara statistik. Upaya penanggulangan dan pencegahan DBD perlu disesuaikan secara lebih adaptif terhadap dinamika kondisi cuaca dan penduduk, serta karakteristik wilayah agar pengendalian kasus DBD dapat dilakukan secara efektif.

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus and transmitted through Aedes spp. mosquitoes. DHF has become one of the diseases that has relatively increased over the last decade, particularly in the East Jakarta Administrative City area. Objective: This study aimed to determine and analyze the relationship between climate factors and the incidence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in East Jakarta during the 2016–2025 period. Methods: This study used an ecological time-trend study design. The study population consisted of all people in East Jakarta diagnosed with DHF and recorded in the Epidemiological Surveillance and Immunization database of the Jakarta Health Office. Results: The results of the bivariate analysis using correlation tests showed that statistically significant relationships (p < 0.05) predominantly occurred between air humidity and DHF incidence at time lag 0 and time lag 1. Meanwhile, statistically significant relationships for temperature were found in 2020 (time lag 0) and 2023 (time lag 0 and time lag 1). Statistically significant relationships for rainfall were identified in 2019 (time lag 1) and 2020 (time lag 0 and time lag 1). The relationship between climatic factors and DHF incidence in the East Jakarta Administrative City tended to vary annually, and not all climatic variables showed statistically significant associations. Therefore, DHF prevention and control efforts need to be adapted more responsively to weather dynamics, population conditions, and regional characteristics in order to improve the effectiveness of DHF case control.
Read More
S-12255
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rakha Ananta Saputra; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Jessie Andrean
S-12266
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Daniel Tafuma; Pembimnbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Tubagus Dwika Yuantoko, Septyani Prihatiningsih
Abstrak:
Studi ini menilai hubungan ekologis antara aktivitas inspeksi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dan tingkat cedera dan kematian akibat kerja di Zimbabwe dari tahun 2018 hingga 2023. Inspeksi regulasi secara luas diakui sebagai mekanisme kunci untuk meningkatkan keselamatan di tempat kerja; namun, bukti mengenai efektivitasnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk menentukan tren dalam aktivitas inspeksi, tingkat cedera akibat kerja, dan tingkat kematian akibat kerja, dan untuk memeriksa apakah aktivitas inspeksi terkait dengan hasil keselamatan kerja di tingkat nasional. Desain deret waktu ekologis digunakan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan Otoritas Jaminan Sosial Nasional (NSSA). Tingkat inspeksi tahunan, tingkat cedera akibat kerja, dan tingkat kematian akibat kerja dianalisis untuk periode enam tahun. Analisis tren deskriptif, korelasi Spearman dan Pearson, dan regresi linier sederhana digunakan untuk memeriksa hubungan antara aktivitas inspeksi dan hasil keselamatan kerja. Temuan tersebut mengungkapkan fluktuasi substansial dalam aktivitas inspeksi, tingkat cedera, dan tingkat kematian selama periode studi. Meskipun korelasi positif diamati antara aktivitas inspeksi dan tingkat cedera (r = 0,727) dan antara aktivitas inspeksi dan tingkat kematian (r = 0,640), hubungan ini tidak konsisten dan harus ditafsirkan dengan hati-hati karena jumlah pengamatan yang kecil dan sifat ekologis data. Analisis regresi menunjukkan bahwa aktivitas inspeksi menjelaskan sebagian besar variasi dalam hasil keselamatan kerja; namun, temuan tersebut tidak memberikan bukti ekologis yang konsisten bahwa perubahan dalam aktivitas inspeksi dikaitkan dengan pengurangan yang sesuai dalam tingkat cedera atau kematian. Studi ini menyimpulkan bahwa aktivitas inspeksi saja mungkin tidak cukup untuk menghasilkan peningkatan yang terukur di tingkat nasional dalam hasil keselamatan kerja di bawah kondisi kelembagaan yang ada. Praktik manajemen keselamatan organisasi, sistem pelaporan, kualitas penegakan hukum, dan faktor kontekstual yang lebih luas dapat memainkan peran penting dalam membentuk kinerja keselamatan kerja. Studi ini memberikan bukti dasar tentang regulasi K3 di Zimbabwe dan memberikan rekomendasi untuk penelitian, kebijakan, dan praktik regulasi di masa mendatang.

This study assessed the ecological association between occupational health and safety (OHS) inspection activity and occupational injury and fatality rates in Zimbabwe from 2018 to 2023. Regulatory inspections are widely recognised as a key mechanism for improving workplace safety; however, evidence regarding their effectiveness in low- and middle-income countries remains limited. The study sought to determine trends in inspection activity, occupational injury rates, and occupational fatality rates, and to examine whether inspection activity was associated with occupational safety outcomes at the national level. An ecological time-series design was employed using secondary data obtained from the National Social Security Authority (NSSA) annual reports. Annual inspection rates, occupational injury rates, and occupational fatality rates were analysed for the six-year period. Descriptive trend analysis, Spearman and Pearson correlation, and simple linear regression were used to examine associations between inspection activity and occupational safety outcomes. The findings revealed substantial fluctuations in inspection activity, injury rates, and fatality rates over the study period. Although positive correlations were observed between inspection activity and injury rates (r = 0.727) and between inspection activity and fatality rates (r = 0.640), these relationships were inconsistent and should be interpreted cautiously due to the small number of observations and the ecological nature of the data. Regression analyses suggested that inspection activity explained a notable proportion of the variation in occupational outcomes; however, the findings did not provide consistent ecological evidence that changes in inspection activity were associated with corresponding reductions in injury or fatality rates. The study concludes that inspection activity alone may be insufficient to generate measurable national-level improvements in occupational safety outcomes under existing institutional conditions. Organisational safety management practices, reporting systems, enforcement quality, and broader contextual factors may play important roles in shaping occupational safety performance. The study contributes baseline evidence on OHS regulation in Zimbabwe and provides recommendations for future research, policy, and regulatory practice.
Read More
T-7562
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive