Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dina Sabrina Dwipayanti; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Hervita Diatri, Fajar Ariyanti
Abstrak:
Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan elemen penting dalam upaya mitigasi risiko yang dapat dicegah dalam layanan kesehatan. RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan pelaporan insiden melalui metode manual dan elektronik (e-Report), namun implementasinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi sistem pelaporan insiden di RSCM dengan pendekatan kualitatif, menggunakan kerangka Donabedian (struktur–proses–hasil) dan strategi perbaikan berbasis Plan–Do–Study–Act (PDSA). Hasil menunjukkan bahwa sistem e-Report belum memenuhi kebutuhan pengguna karena antarmuka tidak intuitif dan tidak tersedianya fitur pelacakan, notifikasi, serta umpan balik. Fragmentasi kanal pelaporan, dominasi laporan manual, serta persepsi bahwa pelaporan adalah beban administratif turut memperlemah budaya pelaporan. Di samping itu, proses tindak lanjut insiden dinilai tidak transparan dan jarang dikomunikasikan kepada pelapor, sehingga menurunkan kepercayaan terhadap efektivitas sistem. Temuan ini menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengembangan sistem pelaporan yang terpusat, mudah digunakan, dan didukung pelatihan berbasis unit serta kebijakan pelaporan satu pintu. Pendekatan PDSA digunakan untuk merancang strategi perbaikan sistem yang lebih responsif dan berkelanjutan dalam rangka mendukung peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien.


The patient safety incident reporting system is a critical component in mitigating preventable risks within healthcare services. Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital (RSCM) has implemented both manual and electronic (e-Report) methods for reporting incidents. However, its implementation remains suboptimal. This study aims to evaluate the implementation of the incident reporting system at RSCM using a qualitative approach, guided by the Donabedian framework (structure–process–outcome) and the Plan–Do–Study–Act (PDSA) improvement cycle. The findings reveal that the current e-Report system does not sufficiently meet user needs due to an unintuitive interface and the absence of key functionalities such as report tracking, automated notifications, and feedback mechanisms. Additionally, fragmented reporting channels, a predominance of manual submissions, and the perception of reporting as a bureaucratic burden have contributed to a weakened safety culture. The follow-up process is also perceived as lacking transparency and is rarely communicated back to reporters, further reducing trust in the system. These challenges form the basis for recommendations to develop a centralized, user-friendly, and integrated reporting system, supported by unit-based training and a single-channel reporting policy. The PDSA cycle is applied as a strategic framework to design a more responsive and sustainable system that enhances both service quality and patient safety at RSCM.
Read More
T-7401
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitrianto; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Puput Oktamianti, Ede Surya Darmawan, Prima Yunika, Indah Rosana
Abstrak: Pelaporan insiden keselamatan pasien adalah suatu sistem untukmendokumentasikan laporan insiden keselamatan pasien, analisis dan solusi untukpembelajaran. Pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan dasar untukmembangun suatu sistem asuhan pasien yang lebih aman. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui faktor-faktor yang yang berhubungan dengan motivasi perawatmelaporkan insiden keselamatan pasien di RS Awal Bros Panam. Penelitian inimenggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan potong lintang.Sampel adalah seluruh perawat pelaksana yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi yaitu sejumlah 102 perawat. Analisis yang digunakan adalah analisisunivariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besarresponden (62%) memiliki motivasi baik melaporkan insiden keselamatan pasien.Hasil uji Chi-square didapatkan hubungan yang bermakna (ρ < 0,05) antaravariabel persepsi, budaya keselamatan pasien, umpan balik, prosedur pelaporandan transparansi pelaporan dengan motivasi melaporkan insiden keselamatanpasien. Hasil multivariat regresi logistik didapatkan variabel yang berpengaruhterhadap motivasi perawat melaporkan insiden keselamatan pasien adalahpendidikan, prosedur pelaporan dan transparansi pelaporan (r² = 19,9%).Kata kunci : motivasi perawat; pelaporan insiden keselamatan pasien; prosedurpelaporan; transparansi pelaporan.
Read More
B-1767
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Komalasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Robiana Modjo, Yunita Asima Fenny Silvana S
Abstrak:
Tesis ini membahas mengenai budaya keselamatan pasien dan hubungannya dengan pelaporan insiden keselamatan pasien (IKP) di RSUP Fatmawati tahun 2024. Penelitian ini adalah penelitian mixed method dengan Embedded Design dimana penelitian kuantiatif dan kualitataif dilakukan bersamaan. Penelitian kuantitatif sebagai penelitian utama dan kualitatif sebagai penelitian penunjang. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, masa kerja, tingkat pendidikan, budaya keselamatan pasien dalam dimensi budaya keterbukaan, budaya keadilan dan budaya pembelajaran terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien di RSUP Fatmawati. Tetapi masa kerja, profesi, kontak dengan pasien dan budaya pelaporan memiliki hubungan yang signifikan terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien setelah dikontrol dengan variabel lain. Penelitian ini menyarankan rumah sakit untuk meningkatkan pemahaman karyawan mengenai keselamatan pasien dan budaya keselamatan pasien, melakukan upaya meningkatkan keberanian karyawan untuk melapor dengan tidak memberlakukan hukuman, memperbaiki sistem, memberikan umpan balik, dan melakukan evaluasi sistem penugasan atau staffing.

The focus of this study is the patient safety culture and its relationship with patient safety incident (PSI) reporting at Fatmawati Central General Hospital in 2024. This research adopts a mixed-method approach with an Embedded Design, where quantitative and qualitative research are conducted simultaneously. Quantitative research serves as the primary investigation, while qualitative research supports the main inquiry. The findings reveal no significant correlation between age, gender, length of service, educational level, patient safety culture in terms of open culture, just culture and learning culture, and PSI reporting at Fatmawati Central General Hospital. However, lenght of service, profession, patient contact, and report culture exhibit a significant relationship with PSI reporting after controlling for other variables. This study suggests hospitals enhance employee understanding of patient safety and patient safety culture, encourage employees to report incidents without fear of punishment, improve systems, provide feedback, and evaluate assignment or staffing systems.
Read More
T-6934
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriandina; Pembimbing: Wiku Bhakti Bawono Adisasmito; Penguji: Ronie Rivany, Juianto Laila
Abstrak: Jumlah pelaporan IKP terutama insiden kesalahan obat menurun dari tahun ketahun, namun hasil keluhan pasien menunjukkan adanya insiden yang terindikasisebagai kesalahan yang tidak terlaporkan kepada tim KPRS. Tujuan utama daripenelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhipelaporan insiden kesalahan obat di Rumah Sakit X. Desain penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif dengan cara cross sectional yang menggunakan 190 tenagaklinis sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan instrument dari 2 kuesioneryaitu kuesioner faktor-faktor penghambat pelaporan yang dimodifikasi daribeberapa penelitian dan kuesioner budaya keselamatan pasien hasil terjemahandari publikasi AHRQ. Pernyataan-pernyataan yang valid dan reliabilitas baik yangdigunakan untuk menilai tenaga klinis. Sebagai hasil penelitian, seluruh faktorpenghambat pelaporan memiliki hubungan yang bermakna terhadap pelaporaninsiden kesalahan obat di Rumah Sakit X. Dimensi budaya keselamatan pasienyang mempengaruhi pelaporan insiden di Rumah Sakit X antara lain dukunganmanajemen, umpan balik kesalahan, dan kerjasama dalam unit. Namun, dukunganmanajemen memiliki pengaruh paling besar terhadap pelaporan insiden di RumahSakit X.Kata kunci : keselamatan pasien, kesalahan obat, pelaporan insiden, faktorpenghambat pelaporan, budaya keselamatan pasien.
Read More
B-1761
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajrina Kintari; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Jaslis Ilyas, Irvieny Rumondang
Abstrak:

Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) merupakan komponen penting dalam peningkatan mutu layanan dan budaya keselamatan rumah sakit. Menurut National Patient Safety Agency, pelaporan insiden berfungsi sebagai sarana pembelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Namun, data tahun 2019 menunjukkan bahwa hanya sekitar 12% rumah sakit di Indonesia yang melaporkan IKP. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pelaporan IKP rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta secara eksternal berdasarkan wilayah administrasi, kelas rumah sakit, jenis pelayanan, dan status kepemilikan rumah sakit, serta menganalisis hubungannya dengan keempat variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang dan dilengkapi wawancara untuk memperkaya pembahasan. Data sekunder berasal dari laporan IKP rumah sakit Provinsi DKI Jakarta tahun 2024, dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan Uji Kruskal-Wallis yang merupakan uji statistik nonparametrik. Hasil menunjukkan bahwa hanya variabel wilayah administrasi yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat pelaporan IKP. Jakarta Timur menjadi wilayah dengan tingkat pelaporan terendah, diduga dipengaruhi oleh jumlah rumah sakit yang lebih banyak dan efektivitas supervisi wilayah. Sementara itu, rumah sakit kelas C, rumah sakit umum, dan rumah sakit pemerintah cenderung memiliki pelaporan lebih rendah, meskipun tidak signifikan secara statistik. Penelitian ini memberikan gambaran variasi pelaporan IKP antar karakteristik rumah sakit dan menyoroti pentingnya peran wilayah administrasi dalam pembinaan dan pengawasan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan strategi pelaporan IKP secara eksternal di tingkat provinsi, terutama bagi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.


 

The reporting of Patient Safety Incidents (IKP) is a critical component in improving service quality and fostering a culture of safety in hospitals. According to the National Patient Safety Agency, incident reporting serves as a learning tool to prevent the recurrence of similar events. However, 2019 data showed that only about 12% of hospitals in Indonesia reported their IKP. This study aims to assess the level of external IKP reporting by hospitals in DKI Jakarta Province based on administrative region, hospital class, type of service, and ownership status, and to analyze the relationship between these variables and reporting compliance. This study used a quantitative cross- sectional design, with additional interviews to support the discussion. Secondary data were obtained from the 2024 IKP reports submitted by hospitals in DKI Jakarta Province. Data were analyzed using frequency distribution and Kruskal-Wallis test, a nonparametric statistic test. Results indicated that only the administrative region variable had a significant relationship with the level of IKP reporting. East Jakarta was identified as the region with the lowest reporting rate, which may be influenced by a higher number of hospitals and the effectiveness of local supervision. Meanwhile, Class C hospitals, general hospitals, and government-owned hospitals tended to report less frequently, although the differences were not statistically significant. This study highlights the variation in IKP reporting across hospital characteristics and underscores the important role of administrative regions in supervision and support. These findings may serve as evaluation material to strengthen external IKP reporting strategies, particularly for the DKI Jakarta Provincial Health Office.

Read More
S-11964
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mufti Diva Larassati; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Purnawan Junadi, Ns. Gede Merta Mertana
Abstrak:
Keselamatan pasien adalah dimensi utama dalam mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Rumah Sakit X menghadapi tantangan dalam implementasi budaya keselamatan pasien, dengan skor keseluruhan 66,3% pada survei internal 2023, jauh dari standar ideal 75% yang ditetapkan oleh AHRQ. Masalah utama adalah rendahnya tingkat pelaporan insiden keselamatan pasien (46,58%), yang mencerminkan hambatan dalam keterbukaan komunikasi dan ketakutan melaporkan insiden. Penelitian ini menganalisis pengaruh empat dimensi budaya keselamatan—budaya keterbukaan, budaya keadilan, budaya pelaporan, dan budaya pembelajaran—terhadap pelaporan IKP di RS X. Menggunakan desain kuantitatif cross-sectional, data dikumpulkan melalui survei HSOPSC yang dikembangkan oleh AHRQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun budaya keselamatan pasien di RS X berada pada kategori sedang (66%), masih diperlukan perbaikan, terutama pada budaya pelaporan (%).  Persepsi positif terhadap budaya keterbukaan secara signifikan meningkatkan kemungkinan pelaporan insiden (p = 0,000), sementara persepsi positif terhadap budaya pelaporan juga berpengaruh signifikan terhadap pelaporan insiden (p = 0,000).  Selain itu, budaya keadilan memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku pelaporan setelah analisis multivariat (OR = 7,67). Penelitian ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung pelaporan insiden dan memperkuat budaya organisasi untuk memastikan praktik keselamatan pasien yang lebih baik. Rekomendasi untuk manajemen rumah sakit termasuk peningkatan pelatihan pelaporan insiden dan penciptaan budaya yang lebih terbuka dan adil bagi seluruh tenaga kesehatan.

Patient safety is a key dimension of healthcare service quality in hospitals. Hospital X faces challenges in implementing a patient safety culture, with an overall score of 66.3% on the 2023 internal survey, significantly below the 75% ideal standard set by AHRQ. A major issue is the low reporting rate of patient safety incidents (46.58%), reflecting barriers in communication openness and fear of reporting incidents. This study analyzes the impact of four dimensions of safety culture—open communication, justice culture, reporting culture, and learning culture—on Incident Knowledge and Patient Safety (IKP) reporting at Hospital X. Using a quantitative cross-sectional design, data were collected through the HSOPSC survey developed by AHRQ. The findings indicate that although the patient safety culture at Hospital X is categorized as moderate (66%), improvements are needed, particularly in reporting culture. Positive perceptions of open communication significantly increase the likelihood of reporting incidents (p = 0.000), while positive perceptions of the reporting culture also significantly affect incident reporting (p = 0.000). Additionally, the culture of justice had the greatest impact on reporting behavior after multivariate analysis (OR = 7.67). This study emphasizes the importance of creating an environment that supports incident reporting and strengthening organizational culture to ensure better patient safety practices. Recommendations for hospital management include enhancing incident reporting training and fostering a more open and just culture for all healthcare staff.
Read More
S-11903
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Venus Valencia; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji:Vetty Yulianty Permanasari, Fitriah
Abstrak:

Latar Belakang: Salah satu langkah keselamatan pasien adalah perbaikan pelayanan kesehatan dari pelaporan insiden. Dalam praktiknya, laporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang terkumpul secara lingkup global dan di Indonesia masih terbatas dikarenakan berbagai faktor dan masalah, baik underreporting, time response, ataupun adanya insiden yang berulang terjadi. Studi ini bertujuan menganalisis akar masalah dari ketiga fenomena tersebut menggunakan kerangka root cause analysis oleh VHA National Center for Patient Safety.
Metode: Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada Bulan Maret-April 2025 dengan wawancara mendalam terhadap 14 informan utama dan dua informan kunci dan dengan analisis konten menggunakan software Nvivo 15. Studi ini juga menggunakan data sekunder dari rumah sakit studi mengenai insiden yang masuk di sistem rumah sakit per Bulan Januari 2024 hingga Februari 202.
Hasil: Hasil studi menunjukkan bahwa faktor knowledge and skills, organizational factors, just culture, dan process and system reporting memiliki bobot pengkodean yang lebih banyak dibandingkan faktor lainnya. Dua insiden yang paling sering berulang adalah masalah identifikasi pasien dan medikasi. Human error adalah faktor utama dari kedua insiden berulang tersebut. Pengembangan sistem pelaporan, edukasi mengenai urgensi dan no-blaming culture, serta pemberlakuan komunikasi yang efektif menjadi rekomendasi action plan dari RCA yang dibentuk.
Kesimpulan: Pengembangan sistem, edukasi mengenai urgensi dan no-blaming culture, serta pemberlakuan komunikasi yang efektif menjadi rekomendasi dari akhir tahapan analisis masalah.
Kata Kunci: Root Cause Analysis, Pelaporan IKP, Blaming Culture, Senioritas, Umpan Balik


Background: One of the patient safety measures is improving healthcare services through incident reporting. In practice, Patient Safety Incident (PSI) reports collected globally and in Indonesia remain limited due to various factors and issues, including underreporting, time response, or recurring incidents. This study aims to analyze the root causes of these three phenomena using the root cause analysis framework by the VHA National Center for Patient Safety. Methods: This study employed a qualitative approach with a case study method conducted from March to April 2025, involving in-depth interviews with 14 primary informants and two key informants, utilizing content analysis with Nvivo 15 software. The study also incorporated secondary data from the hospital study regarding incidents recorded in the system from January 2024 to February 2025.  Results: The study findings indicate that factors such as knowledge and skills, organizational factors, just culture, and process and system reporting had higher coding weights compared to other factors. The two most frequently recurring incidents were patient identification and medication issues. Human error was identified as the primary factor in both incidents. System development, education regarding urgency and no-blaming culture, and implementation of effective communication emerged as recommendations from the final stage of problem analysis. Conclusion: System development, education regarding urgency and no-blaming culture, and implementation of effective communication are recommended based on the final stage of problem analysis. Keywords: Root Cause Analysis, Patient Safety Incident Reporting, Blaming Culture, Seniority, Feedback

 

Read More
S-11888
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Citra Cinta Asyura Nasution; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Adang Bachtiar, Besral; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Sutoto, Emma Rachmawati, Viera Wardhani
Abstrak:

Keselamatan pasien merupakan kewajiban rumah sakit dan bagian integral dari akreditasi sejak 2008. Namun, berbagai permasalahan masih sering ditemukan, sehingga keberlanjutan perbaikan menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain convergent parallel. Data kuantitatif berasal dari Riset Fasilitas Kesehatan 2019 (523 rumah sakit) dan data akreditasi (917 rumah sakit), dianalisis menggunakan uji chi-square, regresi logistik, dan analisis jalur. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen dari enam rumah sakit, dinas kesehatan provinsi, dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) wilayah di Sumatera Utara dan Bali, dengan total 95 informan. Analisis tematik menggunakan perangkat NVivo, dengan kerangka Malcolm Baldrige dan model implementasi Van Meter-Van Horn, meliputi ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus tenaga kerja, fokus operasi, fokus pelanggan, pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan, komunikasi antar organisasi, serta peran akreditasi. Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa pelaporan insiden keselamatan pasien berhubungan signifikan dengan lokasi (Jawa-Bali), status akreditasi, jumlah tempat tidur (> 200), kelas rumah sakit (A dan B), evaluasi pelayanan, audit internal, serta keaktifan komite keselamatan pasien dan pengendalian infeksi. Hasil kualitatif menunjukkan bahwa implementasi kebijakan keselamatan pasien sudah berjalan, namun bervariasi tergantung kepemilikan dan ketersediaan sumber daya. Semua dimensi yang diteliti berpotensi menjadi faktor pendukung maupun penghambat tergantung pengelolaannya. Kepemimpinan yang kuat, fasilitas yang memadai, serta budaya keselamatan yang ditanamkan secara konsisten memperkuat implementasi, sedangkan lemahnya komitmen dan keterbatasan dana menjadi kendala. Hambatan juga muncul dalam pelaporan insiden, baik dari sisi organisasi maupun individu. Penelitian ini menghasilkan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien yang mencakup integrasi keselamatan pasien dalam perencanaan strategis, penguatan kepemimpinan, peningkatan kapasitas staf, alokasi anggaran memadai, monitoring dan evaluasi berkelanjutan, serta pelibatan pasien. Model ini diharapkan dapat mendorong peningkatan keselamatan pasien secara menyeluruh dan berkelanjutan di rumah sakit.


 

Patient safety is a mandatory obligation for hospitals and has been an integral part of hospital accreditation since 2008. However, various patient safety issues are still frequently found, making the sustainability of improvements a major challenge. This study aims to formulate a conceptual model of patient safety improvement strategies. A mixed-methods approach with a convergent parallel design was employed. Quantitative data were obtained from the 2019 Rifaskes (523 hospitals) and accreditation records (917 hospitals), and analyzed using chi-square tests, logistic regression, and path analysis. Qualitative data were collected through in-depth interviews and document reviews from six hospitals, provincial health offices, and the Indonesian Hospital Association (PERSI) in North Sumatra and Bali Provinces, involving a total of 95 informants. Thematic analysis was conducted using NVivo software, guided by the Malcolm Baldrige framework and the Van Meter–Van Horn policy implementation model. Quantitative findings showed that the reporting of patient safety incidents was significantly associated with location (Java–Bali), accreditation status, bed capacity (>200 beds), hospital class (A and B), presence of service evaluations, internal audits, and the activity of patient safety and infection control committees. Qualitative results indicated that while policy implementation was underway, it varied depending on hospital ownership and available resources. All dimensions could act as either enablers or barriers depending on how they were managed. Strong leadership and adequate facilities enhanced implementation, while weak commitment and limited funding were key constraints. Incident reporting also faced challenges at both organizational and individual levels. This study produced a conceptual model for improving patient safety through the integration of safety into strategic planning, strengthened leadership, staff capacity building, sufficient budget allocation, continuous monitoring and evaluation, and enhanced patient engagement. The model is expected to support comprehensive and sustainable patient safety improvements in hospitals

Read More
D-580
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive