Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Astri Yuniarti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Bernandus Mbulu
Abstrak: Pada tahapan proses produksi pembuatan busi banyak menggunakan mesin maupun material yang mengandung risiko keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Keselamatan dalam bekerja dipengaruhi oleh cara pandang atau persepsi pekerja terhadap bahaya maupun risiko. Pentingnya pembentukan persepsi yang baik bertujuan agar tidak terjadi perception error yang menyebabkan human error sehingga terjadi kecelakaan yang mengakibatkan turunnya produktivitas kerja. Persepsi risiko dapat dijabarkan melalui pendekatan paradigma psikometrik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi risiko keselamatan kerja di bagian Chucking Machine dan Assembly Line PT NGK Busi Indonesia tahun 2014 dengan pendekatan psikometrik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi potong lintang di dua departemen yaitu Chucking Machine dan Assembly Line PT NGK Busi Indonesia. Sampel yang diambil adalah keseluruhan populasi (total sampling) sebanyak 121 pekerja. Pengambilan data menggunakan kuesioner menggunakan skala paradigma psikometrik. Penilaian risiko yang mendominasi adalah kurang berisiko. Hal ini menunjukkan persepsi risiko pekerja masih rendah. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan komunikasi dua arah maupun pengadaan program untuk peningkatan awareness dan memperbaiki cara pandang terhadap risiko.

 At the stage of the production process of making spark plugs use a lot of machines and material containing health and safety risks for workers. Safety at work is affected by the perspective or perception of workers to the hazards and risks. The importance of establishing a good perception aims to prevent perception errors that cause human error resulting in an accident. Perceptions of risk can be assessed through psychometric paradigm approach. The purpose of this study is to determine the safety risk perception at the Chucking Machine and Assembly Line PT NGK Busi Indonesia year of 2014 according to psychometric approach. The research was conducted with quantitative approach and crosssectional study in two departments, namely Chucking Machine and Assembly Line PT NGK Busi Indonesia. There were 121 workers chosen as samples in this research. Data were collected through questionnaire using a scale psychometric paradigm. Results shows that workers perception are less risky. This indicates that worker’s perception still low to faced risk in their workplace. Therefore, the need to increase two-way communication, improve the perception of risk and develop awareness program for improvement
Read More
S-8383
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rijal Noor Al-Ghiffari; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Agung Surya Irawan; Djunafar Eric
Abstrak:
Budaya keselamatan (safety culture) didefinisikan sebagai kumpulan karakteristik dan sikap dalam organisasi dan individu yang menetapkan bahwa, sebagai prioritas utama, isu keselamatan terjamin menjadi perhatian karena signifikansinya. Sedangkan performa keselamatan merupakan capaian keselamatan yang didefinisikan berdasarkan target (tujuan terencana pada periode waktu tertentu) dan indikator (parameter berdasarkan data yang digunakan untuk memonitor dan menialai) performa keselamatan. PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang menaruh perhatian terhadap budaya keselamatan dengan risiko kerja dari aktivitas produksi minuman. Catatan performa keselamatan PT. XYZ dalam 5 tahun terkahir menunjukkan masih adanya kecelakaan kerja kategori lost time injury (LTI) dan medical treatment injury (MTI). Catatan penilaian bahaya dan risiko ditempat kerja juga menunjukkan 80% bahaya dan risiko berkaitan dengan faktor perilaku manusia. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan budaya keselamatan dan performa keselamatan. Penelitian dilakukan di 8 pabrik PT. XYZ yang tersebar diseluruh Indonesia dengan responden 321 karyawan di bagian manufaktur. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – Juni 2022 dengan menggunakan kuesioner yang didukung dengan wawancara, obeservasi lapangan, dan data perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan skor persepsi budaya keselamatan PT. XYZ adalah 3,83 dan termasuk dalam kategori baik. Dimensi yang dipersepsikan dengan skor tertinggi ialah sistem keselamatan dan dimensi dengan skor terendah ialah tekanan pekerjaan. Perhitungan statistik menunjukkan tidak adanya hubungan antara budaya keselamatan dan performa keselamatan di PT. XYZ. Penelitian selanjutnya diharapkan mampu memerikan gambaran budaya bukan hanya pada konteks iklin keselamatan, melainkan juga konteks budaya keselamatan organisasi yang komprehensif

Safety culture is the assembly of characteristics and attitudes in organizations and individuals which establishes that, as an overriding priority, protection and safety issues receive the attention warranted by their significance. Meanwhile, safety performance is a safety achievement that is defined based on targets (planned goals for a certain period of time) and indicators (parameters based on data used to monitor and assess) safety performance. PT. XYZ is one of the manufacturing companies that pays attention to safety culture with occupational risks from beverage production activities. PT. XYZ in the last 5 years shows that there are still occupational accidents in the lost time injury (LTI) and medical treatment injury (MTI) categories. The hazard and risk assessment records in the workplace also show that 80% of hazards and risks are related to human factors. Therefore, this study was conducted to assess the relationship between safety culture and safety performance. The research was conducted in 8 factories of PT. XYZ spread throughout Indonesia with 321 employees in the manufacturing sector as respondents. The research was conducted in March – June 2022 using a questionnaire supported by interviews, field observations, and company data. The results showed that the score of the perception of the safety culture of PT. XYZ is 3.83 and is in the good category. The dimension perceived with the highest score is the safety management system and the dimension with the lowest score is work pressure. Statistical calculations show that there is no relationship between safety culture and safety performance at PT. XYZ. Future research is expected to be able to provide a cultural picture not only in the context of safety climate, but also in the context of a comprehensive organizational safety culture
Read More
T-6835
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Abdillah Pasha; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Pauji Soleh
Abstrak:
Fatigue merupakan masalah multifaktor yang kerap dialami pekerja sektor manufaktur disebabkan oleh faktor terkait kerja dan faktor tidak terkait kerja sebagai variabel independen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor terkait kerja dan tidak terkait kerja dengan kelelahan atau fatigue pada perusahaan manufaktur di PT X Tahun 2024. Faktor terkait kerja yang diteliti meliputi beban kerja, shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, dan waktu perjalanan. Sementara itu faktor tidak terkait kerja yang diteliti meliputi usia, aktivitas fisik, penggunaan allohol, dan kualitas dan kuantitas tidur. Penelitian ini menggunakan dengan desain studi cross sectional menggunakan kuesioner yang mengadaptasi kuesioner OFER-15, kuesioner beban kerja, dan PSQI. 96 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan distribusi pekerja lelah (kategori sedang tinggi-tinggi) sebesar 34,4%. Hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, waktu perjalanan, usia, aktivitas fisik, penggunaan alkohol dan kualitas dan kuantitas tidur tidak berhubungan signifikan dengan fatigue. Sementara itu, variabel beban kerja berhubungan signifikan dengan fatigue dengan p value = 0,010 (p<0,05) dan OR = 3,500 (95% CI: 1,425 – 8,579) yang bermakna bahwa pekerja dengan beban kerja berat berisiko 3,5 kali lipat mengalami kelelahan kronis. Dapat disimpulkan bahwa hanya variabel beban kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis dan akut. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut dari perusahaan berupa penegakkan fatigue risk management system (FRMS) dan pengintegrasian kebijakan terkait kerja, sementara itu saran untuk pekerja berupa pengaturan manajemen tidur, waktu istirahat, dan aktivitas fisik.

Fatigue is a multifactor problem often experienced by manufacturing sector workers due to work-related and non-work-related factors as independent variables. This study aims to analyze the relationship between work-related and non-work-related factors and fatigue in manufacturing companies in PT X in 2024. The work-related factors studied include workload, work shifts, long hours, rest time, and travel time. Meanwhile, non-work-related factors studied include age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity. This study used a cross-sectional study design, using questionnaires that adapted the OFER-15 questionnaire, workload questionnaire, and PSQI. 96 respondents participated in this study, with a distribution of fatigued workers (medium-high category) of 34.4%. Statistical test results using chi-square showed that work shifts, long working hours, rest time, travel time, age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity were not significantly associated with fatigue. Meanwhile, the workload variable was significantly associated with fatigue with a p-value = 0.010 (p<0.05) and OR = 3.500 (95% CI: 1.425 - 8.579), which means that workers with heavy workloads have a 3.5-fold risk of experiencing chronic fatigue. It can be concluded that only the workload variable is significantly associated with chronic fatigue, either acute or chronic. Therefore, follow-up is needed from the company by enforcing the fatigue risk management system (FRMS) and integrating work-related policies, while advice for workers is in the form of sleep management, rest time, and physical activity.
Read More
S-11785
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia Oktaviana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Bayu Suryo
Abstrak: Masih minimnya penelitian tentang kelelahan akut dan kronis, terutama di industri manufaktur. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor-faktor yang berhubungan terhadap fatigue akut dan kronis pada pekerja bagian produksi dan packaging PT X. Variabel yang diteliti yaitu faktor individu (umur, waktu tidur, commuting time), dan faktor pekerjaan yaitu (durasi kerja, shift kerja, lokasi kerja, dan waktu lembur). Skala Occupational Fatigue Exhaustion an Recovery digunakan untuk mengukur keluhan fatigue akut dan kronispada pekerja. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tidur dan commuting time memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fatigue akut pada pekerja, sedangkan waktu tidur dan durasi kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap fatigue kronis pada pekerja.
Kata Kunci : Fatigue, Fatigue akut, Fatigue kronis, Manufaktur

There is still a lack of studies on acute and chronic fatigue, especially in the manufacturing industry.This research aims to study the factors related to acute and chronic fatigue in production and packaging workers of PT X. The studied variables in this research is comprised into individual factors such as age, time to sleep, commuting time, and job factors such as duration, shift work, location of work, and overtime. The Occupational Fatigue Exhaustion Recovery scale is used to measure acute and chronic fatigue among workers. This research is a descriptive analytic study using cross sectional study design. The results showed that the sleep time and commuting time has a significant effect on acute fatigue in workers, while the sleep time and duration of the work has a significant impact on chronic fatigue in workers.
Keywords: Fatigue, Acute Fatigue, Chronic Fatigue, Manufacture
Read More
S-8569
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bella Anggia; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Nurul Iman
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis risiko keselamatan dan kesehatan kerjapada proses kerja pembuatan kemeja dan kaos sablon di Asrila Konveksi, Mugi,dan Mitra Pengancingan, Jakarta tahun 2017. Pada penelitian ini, identifikasibahaya menggunakan Job Safety Analysis (JSA) dan analisis risikomenggunakan ukuran standar semi kuantitatif W.T. Fine. Penelitian inidilakukan dengan pendekatan observasi dan wawancara. Pada penelitian initerdapat tujuh proses kerja yang terdiri atas 17 task kerja dan ditemukan 5 jenisbahaya yaitu fisik, biologi, kimia, ergonomi, dan psikososial dengan jumlah 103bahaya keselamatan dan kesehatan kerja. Bahaya yang paling banyak ditemukanadalah bahaya fisik. Analisis risiko dilakukan dengan menghitung nilai basicrisk, existing risk, dan predictive risk yang selanjutnya diketahui tingkat risikopada setiap penilaian tersebut dengan mempertimbangkan pengendalian yangsudah diterapkan dan rekomendasi pengendalian yang diberikan.
Kata Kunci: Analisis risiko; Konveksi; K3; Pembuatan kemeja; Kaos sablon
Read More
S-9316
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrea Fahira Hanareza; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Holillah
Abstrak:
Sektor manufaktur lebih mungkin menghadapi tantangan implementasi keselamatan akibat sifat operasionalnya yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, pengukuran iklim keselamatan perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa baik upaya keselamatan dijalani dan dipahami oleh pekerja. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi bersama pekerja terhadap nilai, kebijakan, dan praktik keselamatan di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran iklim keselamatan pada bagian produksi PT X berdasarkan enam dimensi: komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, peraturan dan prosedur keselamatan, lingkungan yang mendukung, akuntabilitas personal, serta pelatihan keselamatan, serta mengidentifikasi dimensi yang perlu ditingkatkan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan kuesioner oleh Lestari et al. (2020) yang diisi secara mandiri oleh pekerja. Jawaban responden kemudian dilakukan analisis uji beda mean. Besar sampel ditentukan dengan metode stratified random sampling menggunakan rumus Slovin. Dari 81 responden, didapatkan bahwa iklim keselamatan pada pekerja di bagian produksi PT X termasuk dalam kategori baik (5,14 dari 6,00). Tidak ditemukan perbedaan rata-rata yang signifikan antarkelompok demografi, kecuali pada persepsi komitmen manajemen antarkelompok masa kerja. Komitmen nyata dari manajemen terhadap keselamatan berperan penting dalam upaya keselamatan kerja. Namun, masih diperlukan peningkatan pada akuntabilitas personal dan pelatihan keselamatan untuk meningkatkan upaya keselamatan di PT X.


The manufacturing sector is more likely to face challenges in safety implementation due to its high-risk operational nature. Measuring safety climate is essential to evaluate how well safety efforts are understood and practiced by workers. Safety climate reflects employees’ shared perceptions of safety values, policies, and practices in the workplace. This study aims to assess the safety climate among production workers at PT X, focusing on six dimensions: management commitment, safety communication, safety rules and procedures, supportive environment, personal accountability, and safety training, and to identify areas needing improvement. A quantitative, cross-sectional design was used, employing a self-administered questionnaire adapted from Lestari et al. (2020). Data from 81 respondents were analyzed using mean difference tests. The safety climate was rated as good, with a mean score of 5.14 out of 6.00. No significant differences were found across demographic groups, except for perceived management commitment, which varied by length of service. Findings highlight the importance of genuine management commitment in fostering a strong safety culture. However, improvement is still needed in personal accountability and safety training to enhance overall safety performance at PT X.
Read More
S-12096
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Isa; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Nia Dwi Handayani
Abstrak:
Manajemen risiko merupakan serangkaian kegiatan terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan risiko di suatu organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran implementasi manajemen risiko pada pekerja line outer tube casting (OTC). Penelitian ini menggunakan studi deskriptif analitik dan pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi langsung pada line OTC. Idealnya penetapan konteks manajemen risiko dilakukan berdasarkan lima konteks, yaitu konteks strategis, konteks organisasi, konteks kegiatan, kriteria manajemen risiko, dan struktur kebijakan. PT X baru menetapkan konteks organisasi pada pelaksanaannya karena manajemen risiko yang dijalankan oleh PT X berdasarkan klausul enam (perencanaan) dan delapan (operasi) pada Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dari ISO 45001:2018. Secara teknis pelaksanaan manajemen risiko perlu dilakukan berdasarkan standar yang berlaku untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal salah satu standar yang dapat digunakan ialah ISO 31000:2018 yang memuat terkait manajemen risiko secara komprehensif dan terintegrasi.

Risk management is a series of coordinated activities to direct and control risk in an organization. This study aims to see an overview of the implementation of risk management for line workersouter tube casting (OTC). This study used a descriptive analytic study and data collection was carried out through interviews and direct observation on lineOTC. Ideally, risk management context is determined based on five contexts, namely strategic context, organizational context, activity context, risk management criteria, and policy structure. PT X has just set an organizational context for its implementation because the risk management carried out by PT X is based on clauses six (planning) and eight (operations) of the Occupational Health and Safety Management System (SMK3) from ISO 45001:2018. Technically the implementation of risk management needs to be carried out based on applicable standards to obtain more optimal results. One of the standards that can be used is ISO 31000:2018 which contains risk management in a comprehensive and integrated manner.
Read More
S-11369
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrizqa; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Asep Zaenal Muttaqien
Abstrak:
Persepsi pekerja terhadap keselamatan dapat mempengaruhi safety climate di perusahaan yang dapat menjadi penyebab dari peningkatan cedera dan kecelakaan kerja di industri manufaktur. Analisis iklim keselamatan kerja pada industri semen di Indonesia dilakukan dengan mengetahui persepsi para pekerja terhadap implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ada. Setiap proses kerja yang terdapat di industri semen mulai dari proses penambangan hingga proses pengemasan mempunyai potensi bahaya K3. Kegiatan penambangan di industri semen merupakan hal yang rentan terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Pekerja di area quarry tempat penambangan memiliki level risiko tertinggi (high). Penelitian ini dilakukan pada pekerja di area quarry dengan metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit untuk mengetahui gambaran safety climate di area quarry PT X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori nilai rendah terdapat pada masing-masing subvariabel dari variabel organizational safety value, group safety value, dan individual safety value. Faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan dan prosedur di perusahaan serta pemahaman pekerja mengenai cara mengidentifikasi risiko dan bahaya di pekerjaannya.

The perception of workers towards safety can influence the safety climate within a company, which can be a cause of increased injuries and workplace accidents in the manufacturing industry. An analysis of the safety climate in the cement industry in Indonesia was conducted by understanding workers' perceptions of the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) measures. Every work process in the cement industry, from mining to packaging, carries potential occupational health and safety hazards. Mining activities in the cement industry are particularly vulnerable to workplace accidents. Workers in the quarry area, where mining takes place, face the highest level of risk. This research focuses on workers in the quarry area, utilizing a quantitative method with a questionnaire adapted from the Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit to assess the safety climate at X's Company quarry area. The research findings indicate that low values are observed in each sub-variable of organizational safety value, group safety value, and individual safety value. The most influential factors are the company's policies and procedures, as well as workers' understanding of how to identify risks and hazards in their work.
Read More
S-11507
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahratunnisa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Fatma Lestari, Rezki Kurnianto
Abstrak:
Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional yang merugikan akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan yang dirasakan dengan sumber daya, kemampuan, serta kebutuhan individu dalam mengatasinya. Berdasarkan penelitian terdahulu, stres kerja merupakan permasalahan global dengan prevalensi tinggi di berbagai sektor dan profesi. Risiko serupa juga dialami oleh pekerja kantoran yang menghadapi tekanan dari beban kerja kompleks, tuntutan tinggi, serta jam kerja fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor psikososial dan faktor individu terhadap kejadian stres kerja pada karyawan PT X, sebuah perusahaan manufaktur di DKI Jakarta. Faktor yang diteliti adalah faktor individu, faktor konteks kerja, dan faktor konten kerja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Analisis data meliputi uji chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk variabel dengan kategori >2 menggunakan SPSS 22.0 guna mengidentifikasi pengaruh faktor independen terhadap stres kerja. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa prevalensi stres kerja sedang di PT X adalah sebesar 8,7%. Hubungan signifikan (p-value<0,05) ditemukan pada 8 faktor, yaitu jenis kelamin, status pernikahan saat ini, status kepegawaian, pengembangan karier, home-work interface, lingkungan dan peralatan kerja, beban/kecepatan kerja, serta jadwal kerja. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen stres kerja yang holistik, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pekerja.

Work related stress is a harmful physical and emotional response resulting from an imbalance between perceived job demands and available resources, individual capabilities, and coping needs. Previous research shows it’s a prevalent global issue across professions and sector, including office workers facing complex workloads, high demands, and flexible schedules. This cross-sectional study examined psychosocial (work context and content) and individual factos influencing work related stress among employees at PT X, located in DKI Jakarta, that is a manufacturing company, using questionnaire data analyzed with chi-square test and logistic regression (SPSS 22.0). Results indicated an 8,7% moderate stress prevalence, with significant associations (p<0,05) found for gender, marital status, employment type, career development, work-home interface, work environment, workload, and work schedules. These findings support the need for holistic stress management interventions targeting these factors to improve employee welbeing and productivity.
Read More
S-11979
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive