Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Henry V. Matakupan; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Doni Hikmat Ramdhan, Masjuli, Wifandi Raymond T. Purba
Abstrak: Paparan kebisingan merupakan penyebab paling umum gangguan pendengaran, menyebabkan noise induced hearing loss (NIHL). Penelitian ini mengevaluasi gangguan pendengaran yang berhubungan dengan pajanan bising dikaitkan dengan usia, masa kerja, lama pajanan, pemakaian alat pelindung diri, kebiasaan merokok, hobi berhubungan kebisingan dan penyakit Diabetes Mellitus, hyperlipidemia dan hipertensi pada pekerja. Ini adalah penelitian observational cross sectional meneliti variabel independen, variabel dependen dan variabel perancu pada waktu bersamaan. Menggunakan data sekunder perusahaan melalui pengamatan, pengukuran dan questioner. Hasil pengukuran kebisingan area berpotensi kebisingan menunjukan potensi kebisingan terendah adalah 63 dBA dan tertinggi 110, 6 dBA,tingkat kebisingan area field berkisar 84.88 - 93 dBA. Kebisingan di area nonfield tertinggi 79.5 dBA. Pajanan bising efektif di bawah 80 dBA, baik di area field maupun nonfield; 7.1% pekerja bekerja > 20 tahun, didapatkan hubungan antara masa kerja > 20 tahun, terjadinya gangguan pendengaran pekerja sebanyak 5.6%, 40.5% pekerja berusia > 40 tahun, didapatkan hubungan antara usia pekerja dengan kejadian gangguan pendengaran. 42.9% pekerja memiliki kebiasaan merokok, tidak didapatkan hubungan antara perilaku merokok dengan gangguan pendengaran. Tingkat pemakaian APT pada pekerja didapatkan sebanyak 90.5% pekerja yang selalu memakai APT, tidak ada hubungan antara pemakaian APT dengan gangguan pendengaran. Tidak didapatkan hubungan antara hobi dengan terjadinya gangguan pendengaran Tidak didapatkan hubungan antara status kesehatan berupa profil lipid pekerja (kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida), kadar glukosa darah pekerja dan tekanan darah dengan gangguan pendengaran.
Kata Kunci: gangguan pendengaran, pajanan kebisingan, usia, masa kerja, pekerja industri

Exposure to noise is the most common cause of hearing loss, leading to noise induced hearing loss (NIHL). This study evaluated hearing loss associated with noise exposure related to age, length of employment, length of exposure, the use of personal protective equipment, smoking habits, hobbies associated noise and diabetes mellitus, hyperlipidemia and hypertension in workers. This is a cross-sectional observational study examined the independent variable, the dependent variable, and confounding variables at the same time. Using the company secondary data, through observation, measurement and questionnaire. Noise measurement results indicate that the potential area of potential noise is 63 dBA as the lowest noise and the highest is 110, 6 dBA, field noise level area ranging from 84.88 - 93 dBA. Nonfield noise area 79.5 dBA. Exposure effective noise below 80 dBA, either in the field or nonfield area; 7.1% of workers worked > 20 years, working life > 20 years, the hearing loss of workers 5.6%, workers aged > 40 years 40 is 5%. 42.9% of workers have a smoking habit, not found a relationship between smoking behavior with hearing loss. HPD consumption levels in workers earned as much as 90.5% of the workers who always wear APT, there is no relationship between the use of HPD with hearing loss. There were no relationship between hobby with hearing loss. As well as no relationship found between workers health status such as lipid profile (total cholesterol, HDL, LDL, and triglycerides), worker glucose blood levels and blood pressure with hearing loss.
Keywords: hearing loss, noise exposure, age, years of service, industry workers
Read More
T-5489
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niko Rianda Putra; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Ema Hermawati, Heri Nugroho, Diah Wati Soetejo
T-4418
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yogi Ardyansih; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Doni Hikmat Ramdhan, Wahyono Budianto, Bagus Joko Susanto
Abstrak: Tesis ini membahas Hubungan Tekanan panas dan Keluhan Kesehatan SubjektifPekerja di Casting Plant. Penggunaan suhu tinggi pada proses produksiberpengaruh terhadap peningkatan suhu lingkungan kerja. Tekanan panasmerupakan salah satu bahaya fisik yang dapat dirasakan oleh pekerjadilingkungan kerja panas. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional.Dari data yang telah diperoleh pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwapada area AHPC faktor umur berhubungan signifikan pada keluhan heat rash (P0,023). Namun faktor umur pada area ALPC tidak ada hubungan dengan heatrash, heat cramps, heat syncope, dehydration, heat exhaustion, dan heat stroke.Sedangkan faktor masa kerja, IMT, dan asupan air minum pada area AHPC danALPC tidak ada hubungan dengan heat rash, heat cramps, heat syncope,dehydration, heat exhaustion, dan heat stroke.Kata kunci : Tekanan panas, keluhan kesehatan
The use of high temperature in production process affect the improvement ofworking environment temperatures. Heat stress is one of physical hazards that canfelt by workers in the hot work environment. This study used cross sectionalapproach. The conclusion of this study that age factor in AHPC area significantlyassociated with heat rash symptoms. But in ALPC area age factor is not related tohealth complaints. Working period, dimensions of the body, and intake of water inAHPC and ALPC area no relationship with subjective health complaints.Keywords: heat stress, health complaints, age, working period, dimension of thebody, intake of water
Read More
T-4458
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Allin Hendalin Mahdaniar/ Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Wachyu Sulistiadi, Khairati
Abstrak: Keberhasilan suatu program berhubungan dengan kinerjapetugasnya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja petugas ManajemenTerpadu Balita Sakit (MTBS) dan hubungan antara variabel indepeden yangterdiri dari faktor individu (umur, masa kerja, pengetahuan dan motivasi), danfaktor organisasi (pelatihan, fasilitas, kepemimpinan) dengan variabel dependenyaitu kinerja petugas MTBS.Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancanganpenelitian cross sectional. Jumlah sampel 50 responden petugasMTBS.Pengumpulan data dilakukan dengan pengisisan kuesioner dan wawancaraserta observasi.Pengolahan data dengan menggunakan perangkat lunak computer,analisis data dengan univariat, bivariat dengan uji statistik chi-square danmultivariat dengan uji statistik multipel regresi logistik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% petugas MTBS mempunyaikinerja baik. Terdapat hubungan antara umur, masa kerja, pengetahuan, motivasi,fasilitas dan kepemimpinan dengan kinerja petugas MTBS. Faktor dominan yangmempengaruhi kinerja petugas MTBS adalah masa kerja dan kepemimpinan.Daftar Pustaka : 30 (1997-2015)Kata Kunci : kinerja, MTBS, masa kerja, kepemimpinan
The success of a program related to the performance of its officers Thisstudy aims to determine the performance of Integrated Management of ChildhoodIllness (IMCI) officers and determine the relationship between the independentvariables consisting of individual factors (age,length of work, knowledge andmotivation) and organizational factors (training, facilities, leadership) with thedependent variable which is the performance of IMCI officer.This type of research is quantitative with cross sectional study design. Thesample of 50 respondents IMCI officer.Collecting data by filling the questionnaireand interviewing and observation.Processing data using computer software, dataanalysis with univariate, bivariate statistical test chi-square and multivariatemultiple logistic regression statistical test.The results of this study showed that 62% good performance of IMCIofficer. There was correlation between age, length of work,knowledge,motivation, training and leadership with performance of IMCI officer. Thedominant factor affecting performance is the IMCI officers working life andleadership.References : 30 (1997-2015)Keywords : performance, IMCI, working period, leadership.
Read More
T-4615
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shellena Alya Kanigara; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyumbang angka kematian terbesar di dunia. Perilaku keselamatan berkendara merupakan salah satu bentuk antisipasi dalam mengurangi angka kecelakaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi perilaku keselamatan berkendara pada karyawan PT.X di Tahun 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini cross-sectional dengan instrument berupa kuisioner ODBQ dengan sampel sebesar 100 orang. Hasil pengambilan data kemudian diolah menggunakan uji Chi-square dan Rank Spearman. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan antara beberapa perilaku keselamatan berkendara dengan faktor usia (speeding, inattention, dan driving while fatigue), jenis kelamin (rule violation), riwayat kecelakaan (speeding dan inattention), pelatihan DDT (inattention), dan juga masa kerja karyawan (inattention). Diharapkan PT.X dapat memberikan pelatihan khusus terhadap manajemen stress dan memberikan perhatian khusus terhadap perilaku tidak fokus dan mengebut ketika berkendara sehingga dapat memaksimalkan keselamatan karyawan.

Traffic accidents are one of the largest contributors to mortality worldwide. Safety driving is a form of anticipation in reducing the number of accidents. This study aims to determine the factors that influence safe driving behavior among PT.X employees in 2023. The research method used is cross-sectional, with an instrument in the form of a questionnaire (ODBQ) and a sample size of 100 people. The data obtained was then processed using Chi-square and Spearman Rank tests. Based on the research results, there is a relationship between several safe driving behaviors and factors such as age (speeding, inattention, and driving while fatigue), gender (rule violation), accident history (speeding and inattention), DDT training (inattention), and also the length of service of the employees (inattention). PT.X is recommended to provide specialized training on stress management and give special attention to the behavior of being unfocused and distracted while driving to ensure the employee will be safe while driving.
Read More
S-11688
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Nirwana; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Zulkifli Djunaidi, Trisnajaya, Devie Fitri Octaviani
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yangmenyebabkan keluhan penyakit kulit pada pekerja di bagian Sewing dan Cutting,Departemen Preparing/Upper Sole, perusahaan manufaktur sepatu di KabupatenSukabumi pada Bulan Mei 2016. Dari 1.350 responden, ditemukan 777 orangmenderita keluhan penyakit kulit pada pekerja sedangkan573 orang lainnya tidakmenderita keluhan ini. Menggunakan teknik systematic random sampling,diperoleh sample sebanyak 817 orang, dimana hasil penelitian menunjukkansebesar 58% diantaranya menderita keluhan penyakit kulit pada pekerja. Secarastatistik tidak terdapat hubungan signifikan antara paparan pelarut organik dengankeluhan penyakit kulit pada pekerja. Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkanbahwa pekerja yang terpapar debu organik berisiko 2,5 kali untuk menderitakeluhan penyakit kulit pada pekerja.Pekerja dengan masa kerja ≤ 3 tahunmemiliki risiko 2,4 kali untuk terkena keluhan penyakit kulit pada pekerjadibandingkan dengan pekerja dengan masa kerja > 3 tahun.Pekerja dengankebiasaan tidak mencuci tangan memiliki resiko 2,6 kali untuk terkena keluhanpenyakit kulit pada pekerja dibandingkan dengan pekerja dengan kebiasaanmencuci tangan yang baik. Pengaruh pemakaian sarung tangan menjadi faktordominan dimana pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan memiliki risiko4,7 kali terkena keluhan penyakit kulit dan pekerja dengan riwayat alergi memilikirisiko 6,7 kali berisiko menderita keluhan penyakit kulit pada pekerja. Upayapengendalian dapat dilakukan dengan melakukan pengawasan dan edukasi, sertakontrol administratif dan penyediaan sarana dalam upaya promotif dan prefentifyang optimal, seperti penyediaan wastafel, pemakaian APD yang sesuai, skriningserta pengobatan.
The aim of this study was to determine the factors that led to occupational skindisease complaints on Sewing and Cutting workers at the Preparing/ Upper SoleDepartment, one of the shoe manufacturing in Sukabumi, May 2016. Out of the1.350 respondents, found that 777 workers suffering from occupational skindisease complaints, while 573 others do not suffer from this complaint. Using thesystematic random sampling technique, obtained a sample of 817 workers, ofwhich the result showed 58% of them suffer from occupational skin diseasecomplaints. Statistically there was no significant association between exposures toorganic solvents with occupational skin disease complaints in workers.Furthermore, the study result indicates that workers exposed to organic dust 2.5times are at risk of suffering from occupational skin disease complaints. Workerswith ≤ 3service years had 2.4 times the risk of developing occupational skindisease complaints compared to workers who have > 3 years of service. Workerswho have the habit of not washing their hands have 2.6 times the risk ofoccupational skin disease complaints. Workers who do not wearing gloves are atrisk 4.7 times of occupational skin disease complaints, and workers with a historyof allergies had 6.7 times risk to occupational skin disease complaints. Controlcan be done by educating the workers and do the monitoring, as well asadministrative control and provided the facilities in health promotion andoptimum preventive, such as to provide a sink, use appropriate PPE, screeningand do the treatment as well.
Read More
T-4736
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puti Nazhifa Afdhal; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Suprijanto Rijadi, Ambun Suri
Abstrak: Penelitian ini membahas hubungan karakteristik dokter dengan kelengkapan rekam medis rawat inap bayi dan anak di RSIA Budi Kemuliaan tahun 2014. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kelengkapan rekam medis rawat inap bayi dan anak serta hubungannya dengan karakteristik dokter pengisi rekam medis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa variabel yang tidak lengkap diisi adalah tanggal dan waktu, nama dan tanda tangan dokter, informed consent, dan resume medis. Sementara itu diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara jenjang pendidikan dan status kepegawaian dengan kelengkapan rekam medis rawat inap bayi dan anak.
Kata kunci: Dokter, jenis kelamin, jenjang pendidikan, masa kerja, rawat inap, rekam medis, status kepegawaian, usia

This study discusses the relationship between characteristics of doctor and the completeness of hospitalized infants and children medical records in RSIA Budi Kemuliaan Years 2014. This study aims to describe the completeness of hospitalized infants and children medical records as well as its relationship with the characteristics of doctor as a filler medical records. This is a quantitative study with cross-sectional study design. Based on the results of the study, it is known that variables incomplete filled are date and time, name and signature of the doctor, informed consent, and medical resume. Beside that, it is known that there are significant differences between levels of education and employment status with the completeness of hospitalized infants and children medical records.
Keywords : Doctor, Gender, Levels of Education, Years of Work, Hospitalized, Medical Records, Employment Status, Age
Read More
S-8578
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Giovanni Puspita; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yosephin Sri Sutanti
Abstrak: Kebakaran merupakan peristiwa munculnya api, baik dalam skala kecil maupun besar yang terjadi pada tempat, kondisi, dan waktu yang tidak diinginkan, bersifat merugikan, serta umumnya sulit untuk dikendalikan. Rumah sakit adalah salah satu bangunan/gedung fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki tingkat risiko kebakaran yang tinggi akibat penggunaan peralatan listrik, gas medis, dan kondisi pasien yang rentan. Keberhasilan mitigasi dan penanganan darurat kebakaran di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kesiapsiagaan perawat sebagai tenaga kesehatan yang memberikan respons pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit X tahun 2026, antara lain Pengetahuan, Sikap, Masa kerja, Pelatihan Tanggap Darurat Kebakaran, Ketersediaan Sarana dan Prasarana Kebakaran, Dukungan Manajemen, Pemenuhan SOP, Budaya Keselamatan, dan Kesiapsiagaan Perawat dalam Tanggap Darurat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional serta analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square pada SPSS versi 26. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 93 perawat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian diperkuat melalui triangulasi data dengan wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap (p = 0,032; OR = 1,500; 95%CI: 0,674–3,339), pelatihan tanggap darurat kebakaran (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), dukungan manajemen (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), pemenuhan SOP (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997), serta ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997) dengan kesiapsiagaan perawat. Sementara itu, pengetahuan (p = 1,000; OR = 0,984; 95%CI: 0,952–1,016), masa kerja (p = 0,151; OR = 1,077; 95%CI: 0,931–1,245), dan budaya keselamatan (p = 1,000; OR = 0,987; 95%CI: 0,961–1,013) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kesiapsiagaan perawat. Hasil analisis menunjukkan bahwa perawat yang telah mengikuti pelatihan tanggap darurat kebakaran dan memperoleh dukungan manajemen yang baik memiliki kemungkinan sekitar 3,98 kali lebih besar untuk memiliki kesiapsiagaan yang baik. Selain itu, sikap yang baik meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 1,5 kali. Ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran serta pemenuhan SOP yang baik masing-masing meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 2 kali. Tantangan utama yang masih dihadapi di Rumah Sakit X meliputi tingginya risiko bahaya kelistrikan akibat perilaku tidak aman, seperti penggunaan colokan non-standar, penggunaan peralatan dapur, serta pengisian daya gawai tanpa pengawasan. Selain itu, pembentukan tim tanggap darurat internal perawat belum merata di seluruh unit, dan budaya keselamatan masih cenderung berorientasi pada pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Rumah Sakit X disarankan untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kebakaran melalui peningkatan budaya keselamatan, melakukan inspeksi dan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran secara rutin, meningkatkan kompetensi perawat melalui pelatihan dan simulasi evakuasi berkala, serta penguatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja sehingga kesiapsiagaan dapat tercapai secara optimal melalui sinergi antara sistem, organisasi, dan sumber daya manusia.
Background Fire is an unintentional event characterized by the outbreak and spread of flames, which may occur on a small or large scale, causing significant damage and often being difficult to control. Hospitals are among the healthcare facilities at the highest risk of fire due to the extensive use of electrical equipment, medical gases, and the presence of vulnerable patients. The effectiveness of fire emergency mitigation and response in hospitals largely depends on the nurses preparedness as the medical first responders. As frontline healthcare professionals, nurses play a critical role in emergency preparedness and response to fire incidents. Aim of the Research This study aimed to analyze the factors influencing nurses preparedness for fire emergency response at Hospital X in 2026, including knowledge, attitudes, length of employment, fire emergency response training, availability of fire protection facilities and infrastructure, management support, compliance with Standard Operating Procedures (SOPs), safety culture, and nurses preparedness for fire emergencies. Method This study employed a quantitative cross-sectional design. Bivariate analysis was conducted using the Chi-square test with IBM SPSS Statistics version 26. Total sampling was applied, involving 93 nurses as respondents. Data were collected using a validated and reliable questionnaire and were further strengthened through data triangulation using semi-structured interviews and field observations. Results and Conclusions The findings revealed significant associations between nurses preparedness and attitude (p = 0.032; OR = 1.500; 95% CI: 0.674–3.339), fire emergency response training (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), management support (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), compliance with Standard Operating Procedures (SOPs) (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997), and the availability of fire protection facilities and infrastructure (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997) with nurses preparedness. Meanwhile, knowledge (p = 1.000; OR = 0.984; 95% CI: 0.952–1.016), length of employment (p = 0.151; OR = 1.077; 95% CI: 0.931–1.245), and safety culture (p = 1.000; OR = 0.987; 95% CI: 0.961–1.013) were not significantly associated with nurses preparedness. The analysis indicated that nurses who had participated in fire emergency response training and received adequate management support were approximately 3.98 times more likely to demonstrate good preparedness. In addition, nurses with positive attitudes were 1.5 times more likely to have good preparedness, while those who perceived the availability of fire protection facilities and infrastructure as adequate and those who complied with Standard Operating Procedures (SOPs) were each twice as likely to demonstrate good preparedness. The main challenges identified at Hospital X included a high risk of electrical hazards due to unsafe practices, such as the use of non-standard extension cords, kitchen appliances, and unattended mobile phone charging, the absence of internal nurse emergency response teams across all units, and a safety culture that remained predominantly oriented towards meeting hospital accreditation standards. Suggestions Hospital X is recommended to strengthen its fire preparedness system by enhancing safety culture, conducting regular inspections and maintenance of fire protection facilities, improving nurses competencies through periodic fire emergency training and evacuation drills, and reinforcing compliance with safety procedures to achieve optimal preparedness through the integration of organisational systems, management commitment, and human resources.
Read More
S-12394
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive