Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Putri Damai Lestari; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Ahmad Syafiq, Trini Sudiarti, Eka Rosiyati, Putri Wardhani
Abstrak:
Obesitas pada anak-anak telah menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat global paling serius yang mempengaruhi setiap negara di dunia di abad ke-21 ini. Dalam kurun waktu 40 tahun, terdapat peningkatan jumlah kegemukan dan obesitas pada anak usia sekolah dan remaja sebanyak lebih dari 10 kali lipat. Obesitas pada anak dapat menimbulkan berbagai dampak pada kesehatan fisik, kesejahteraan sosial dan emosional, kepercayaan diri, prestasi akademik, dan kualitas hidup anak. Obesitas pada anak berkaitan dengan berbagai kondisi seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hiperkolesterol, penyakit hati berlemak, asma, dan lain-lain. Obesitas pada anak juga berdampak pada kesehatan sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kegemukan dan obesitas pada anak pra-sekolah dan anak sekolah usia 5-12 tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan 1.136 sampel yang diperoleh dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis bivariat menunjukkan bahwa pada kelompok usia 5-9 tahun, terdapat perbedaan proporsi status gizi ibu, status gizi ayah, dan perilaku konsumsi makanan gorengan/berlemak terhadap kejadian kegemukan dan obesitas. Pada kelompok usia 10-12 tahun dan 5-12 tahun, terdapat perbedaan proporsi jenis kelamin, status gizi ibu, dan status gizi ayah terhadap kejadian kegemukan dan obesitas. Faktor dominan kegemukan dan obesitas pada kelompok usia 5-9 tahun adalah perilaku konsumsi makanan gorengan/berlemak (OR=1,490, 95% CI=1,039-2,135). Faktor dominan kegemukan dan obesitas pada kelompok usia 10-12 tahun dan 5-12 tahun adalah status gizi ayah (OR= 1,956, 95% CI=1,339-2,857 dan OR=1,674, 95% CI=1,301-2,155). Edukasi gizi seimbang perlu digalakkan kepada orang tua dan anak untuk pencegahan dan pengendalian obesitas anak usia 5-12 tahun.
Childhood obesity has become one of the most serious global public health challenges affecting every country in the world in the 21st century. In a period of 40 years, the number of school-age children and teenagers increased more than 10-fold. Obesity in children has various impacts on children's physical health, social and emotional well-being, self-confidence, academic achievement and quality of life. Obesity in children is related to various conditions such as cardiovascular disease, type 2 diabetes, hypercholesterolemia, acute heart disease, asthma, and others. Obesity in children also has an impact on social and emotional health. This study aims to determine the dominant factors of overweight and obesity in pre-school children and school children aged 5-12 years in DKI Jakarta Province. This research uses secondary data sourced from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas). The research design used was cross sectional with 1.136 samples obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Bivariate analysis shows that in the 5-9 year age group, there are differences in the proportion of mother’s nutritional status, father’s nutritional status, and fried/fatty food consumption behavior on the incidence of overweight and obesity. In the 10-12 year and 5-12 year age groups, there are differences in the proportion of gender, mother's nutritional status, and father's nutritional status in the incidence of overweight and obesity. The dominant factor of overweight and obesity in the 5-9 year age group is the behavior of consuming fried/fatty foods (OR=1,490, 95% CI=1,039-2,135). The dominant factor for overweight and obesity in the 10-12 year and 5-12 year age groups is the father's nutritional status (OR= 1,956, 95% CI=1,339-2,857 and OR=1,674, 95% CI=1,301-2,155). Education on balanced nutrition needs to be encouraged for parents and children to prevent and control obesity in children aged 5-12 years.
Read More
Childhood obesity has become one of the most serious global public health challenges affecting every country in the world in the 21st century. In a period of 40 years, the number of school-age children and teenagers increased more than 10-fold. Obesity in children has various impacts on children's physical health, social and emotional well-being, self-confidence, academic achievement and quality of life. Obesity in children is related to various conditions such as cardiovascular disease, type 2 diabetes, hypercholesterolemia, acute heart disease, asthma, and others. Obesity in children also has an impact on social and emotional health. This study aims to determine the dominant factors of overweight and obesity in pre-school children and school children aged 5-12 years in DKI Jakarta Province. This research uses secondary data sourced from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas). The research design used was cross sectional with 1.136 samples obtained from total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Bivariate analysis shows that in the 5-9 year age group, there are differences in the proportion of mother’s nutritional status, father’s nutritional status, and fried/fatty food consumption behavior on the incidence of overweight and obesity. In the 10-12 year and 5-12 year age groups, there are differences in the proportion of gender, mother's nutritional status, and father's nutritional status in the incidence of overweight and obesity. The dominant factor of overweight and obesity in the 5-9 year age group is the behavior of consuming fried/fatty foods (OR=1,490, 95% CI=1,039-2,135). The dominant factor for overweight and obesity in the 10-12 year and 5-12 year age groups is the father's nutritional status (OR= 1,956, 95% CI=1,339-2,857 and OR=1,674, 95% CI=1,301-2,155). Education on balanced nutrition needs to be encouraged for parents and children to prevent and control obesity in children aged 5-12 years.
T-6943
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosyda Dianah; Pembimbning: Endang L. Achadi; Penguji: Kusdinar Achmad, Yvonne M. Indrawani, Dodik Briawan, Anies Irawati
T-3363
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Milla Ilfariza; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Asih Setiarini, Hera Ganefi
Abstrak:
Prevalensi overweight dan obesitas pada remaja setiap tahun meningkat pesat di seluruh dunia. Kejadian overweight dan obesitas pada remaja akan bermanifestasi menjadi penyakit kronis di masa dewasa. Menurut data Riskesdas tahun 2010 prevalensi penduduk usia 13-15 tahun di Indonesia yang mengalami status gizi overweight dan obesitas sebesar 2,5% yang kemudian meningkat menjadi 10,8% pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan konsumsi serat dan faktor-faktor lainnya dengan overweight dan obesitas pada siswa SMPN 98 Jakarta Tahun 2017. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan 208 siswa dari kelas 7 dan 8 dengan metode total sampling dari 6 kelas selama April-Mei 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 29,8% responden memiliki status gizi overweight dan obesitas. Uji statistik yang digunakan yaitu uji chi-square menunjukkan hubungan antara kebiasaan konsumsi serat, kebiasaan sarapan dan durasi tidur dengan overweight dan obesitas. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu melakukan upaya pemantauan satus gizi remaja, progam penyuluhan gizi serta memasang media poster berkaitan dengan anjuran sayur dan buah. Kata Kunci Kebiasaan konsumsi serat, overweight dan obesitas, siswa SMP The prevalence overweight and obesity in adolescents increasing rapidly around the world every year. The incidence of overweight and obesity in adolescents will manifest as a chronic disease in adulthood. According to Riskesdas data in 2010 the prevalence of overweight and obesity in adolescent 13- 15 years old of 2,5% which then increased to 10,8% in 2013.The aim of this study to determine the relationship between fiber consumption habits and other factors with overweight and obesity in Junior High School Student of 98 Junior High School South Jakarta 2017. The design study used cross sectional with 208 student from grades 7th and 8th with a total sampling method from 6 classes during Aptil-May 2017. This study used univariate and bivariate analysis. Based from the result 29,8% of respondents had overweight and obesity and from analysis data by chi-square test, there were significantly relationship between fiber consumption habits, breakfast habits and duration of sleep with overweight and obesity. Therefore, the school should make efforts to monitor the nutritional status of adolescents, nutrition counseling program and putting up poster media related to vegetable and fruit recommendations. Key words fiber consumption habits, overweight and obesity, junior high school
Read More
S-9511
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amelia Hidayah; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Tiara Luthfie
Abstrak:
Kejadian overweight dan obesitas pada anak usia sekolah di Jakarta Timur tahun 2013 tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi overweight dan obesitas di Kota Bogor dan Kota Bekasi. Anak usia sekolah yang mengalami overweight sebelum menarche, 60% lebih berakibat pada kejadian obesitas dan memiliki risiko tinggi untuk mengalami penyakit diabetes mellitus serta dapat berlanjut menjadi penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kejadian overweight dan obesitas pada siswa kelas 1 SD di Jakarta Timur tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan 157 siswa berusia 6-9 tahun dari 6 sekolah dasar di Jakarta Timur selama bulan MaretJuni 2016. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara mengukur tinggi badan dengan microtoise dan berat badan siswa menggunakan timbangan digital merk camry serta pengisian kuesioner mandiri oleh orangtua siswa. Analisis yang digunakan yaitu analisis univariat dan bivariat serta analisis multivariat Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan jajan merupakan faktor dominan kejadian overweight dan obesitas pada siswa. Siswa yang memiliki kebiasaan jajan sering berisiko 4,9 kali untuk mengalami overweight dan obesitas dibandingkan siswa yang memiliki kebiasaan jajan jarang. Untuk itu perlu adanya program penyuluhan pemilihan makanan dan jajanan, membiasakan sarapan pagi dan membawa bekal bagi siswa dan orangtua. Kata kunci : Kebiasaan jajan, overweight dan obesitas, anak usia sekolah The prevalence of overwight and obesity among school-aged children in East Jakarta at 2013 was higer than Bogor and Bekasi. School-aged children who had overweight before menarche, more than 60% of them will be obese and increasing the risk to have diabetes mellitus type 2 and cardiovarcular disease. The aim of this study is to investigate snacking frequences as dominant factor related to over nutrition among school-aged children at first years elementry school in East Jakarta 2016. A cross sectional study was perform on 157 participant aged 6-8 in 6 elementry school in East Jakarta during March to June 2016. Data collected by measurement of height using microtoise, weight using camry digital scale and self administered quesionnaire by the mothers of children. The analysis that used in this study are univariate, bivariate and multivariate analysis. The result showed that snacking frequences is a dominant factor of over nutrition among school-aged children. The students who had snacking frequances > 3 times/day increase 4,9 times of risk become over nutrition compared with children who had ≤ 3 times/day snacking frequances. Reseacher suggest the parents to reduce snacking frequences, routine breakfast and bring food box to school for children. Key words: snacking frequences, overweight, obesity, children.
Read More
S-9176
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eva Dayu Yohana Sihombing; Pembimnbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Avliya Quratul Marjan
Abstrak:
Read More
Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat pada populasi dewasa dan pekerja. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular serta berdampak pada produktivitas kerja. Pekerja sektor konstruksi memiliki karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi status gizi melalui karakteristik individu, asupan zat gizi, dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional Sampel penelitian berjumlah 124 pekerja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara, dan pengisian kuesioner. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan), asupan zat gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), serta faktor perilaku (aktivitas fisik, perilaku merokok, dan durasi tidur). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,4% pekerja mengalami status gizi lebih. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,035), tingkat pendapatan (p=0,021), asupan energi (p=0,031), aktivitas fisik (p=0,036), dan perilaku merokok (p=0,004) dengan status gizi lebih pada pekerja PT X. Sementara itu, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, dan durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi lebih (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi lebih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi pada pekerja PT X. Faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih meliputi karakteristik individu berupa usia dan tingkat pendapatan, faktor asupan berupa asupan energi, serta faktor perilaku berupa aktivitas fisik dan perilaku merokok. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian status gizi lebih melalui pengendalian asupan, peningkatan aktivitas fisik di luar jam kerja, serta edukasi kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik pekerja yang berisiko.
Overnutrition is one of the health problems that continues to increase among adult and working populations. This condition can increase the risk of various non-communicable diseases and negatively affect work productivity. Construction workers have occupational and work-environment characteristics that may influence nutritional status through individual characteristics, nutrient intake, and behavioral factors. This study aimed to analyze the factors associated with overnutrition among workers at PT X in 2026. This study employed a cross-sectional design. A total of 124 male workers were selected using a convenience sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements, interviews, and questionnaires. The variables studied included individual characteristics (age, type of work, marital status, educational level, and income level), nutrient intake (energy, carbohydrate, protein, and fat intake), and behavioral factors (physical activity, smoking behavior, and sleep duration). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that 69.4% of workers had overnutrition. Bivariate analysis demonstrated significant associations between age (p=0.035), income level (p=0.021), energy intake (p=0.031), physical activity (p=0.036), and smoking behavior (p=0.004) and overnutrition among PT X workers. Meanwhile, type of work, marital status, educational level, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and sleep duration were not significantly associated with overnutrition (p>0.05). It can be concluded that overnutrition is a relatively prevalent health problem among PT X workers. Factors associated with overnutrition include individual characteristics (age and income level), dietary factors (energy intake), and behavioral factors (physical activity and smoking behavior). Therefore, efforts to prevent and control overnutrition among workers are needed through the management of intake, promotion of physical activity outside working hours, and health education programs that take into account the characteristics of at-risk workers.
S-12365
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diandra Setiarini Prajoko; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Anies Irawati
Abstrak:
Read More
Beban ganda malnutrisi adalah kondisi terjadinya kekurangan gizi dan kelebihan gizi pada waktu yang bersamaan. Salah satu bentuk beban ganda malnutrisi tingkat individu adalah terjadinya anemia pada individu dengan kelebihan BB/obesitas. Kondisi tersebut belum banyak diteliti pada populasi Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan beban ganda malnutrisi pada seluruh usia di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional yang melibatkan 35.246 sampel. Beban ganda malnutrisi didefinisikan sebagai individu yang mengalami kelebihan BB/obesitas dan anemia secara bersamaan. Variabel independen dikelompokkan menjadi faktor individu, sosioekonomi, gaya hidup, dan asupan makanan. Analisis yang dilakukan terdiri dari analisis univariat, bivariat dengan metode chi square, dan multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi beban ganda malnutrisi pada seluruh usia di Indonesia adalah 4,5%. Variabel usia; wilayah tempat tinggal; tingkat pendidikan; status pekerjaa; perilaku merokok; konsumsi makanan manis; konsumsi minuman manis; konsumsi makanan berlemak, berkolesterol, atau gorengan; serta konsumsi ikan, kerang, udang, dan hasil olahannya ditemukan berhubungan secara signifikan. Faktor dominan dari beban ganda malnutrisi yang ditemukan adalah usia dewasa akhir (aOR 8,866; CI 95% 5,760–13,648).
Double burden of malnutrition (DBM) happens when undernutrition and overnutrition coexist. Individual level of DBM can come in the form of the coexistence of anemia in individuals with overweight/obesity. This condition hasn’t been widely studied in the Indonesian population. This study is conducted to determine the prevalence and factors associated with the DBM across all age groups in Indonesia using data from the 2023 Survei Kesehatan Indonesia (SKI). The study design is cross-sectional, involving 35.246 samples. DBM is defined as individuals experiencing overweight/obesity and anemia simultaneously. Independent variables are grouped into individual, socioeconomic, lifestyle, and dietary intake factors. The analysis consists of univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square method, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of the DBM across all age groups in Indonesia is 4,5%. The variables of age; area of residence; education level; employment status; smoking behavior; consumption of sweet foods; consumption of sweet beverages; consumption of fatty, cholesterol-containing, or fried foods; and consumption of fish, shellfish, shrimp, and their products were found to be significantly associated. The dominant factor of DBM is the age of late adulthood (aOR 8.866; 95% CI 5.760–13.648).
S-12366
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Larissa Zalfa Fauziah; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Asih Setiarini, Sugiatmi
Abstrak:
Read More
Gizi lebih terjadi ketika tubuh menerimaa asupan energi melebihi kebutuhannya sehingga kelebihannya disimpan dalam bentuk lemak. Kondisi ini merupakan faktor risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung koroner, serta dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sindrom metabolik yang berdampak pada penurunan kualitas hidup dan peningkatan risiko kematian. Tujuan peenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada Warga Binaan Pemasyarakatan. Metode Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan variabel dependen status gizi lebih dan variabel independen meliputi asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, durasi tidur, tingkat stres, status merokok, dan riwayat konsumsi alkohol. Pengambilan data dilakukan terhadap 126 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner secara langsung. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil status gizi lebih pada responden sebesar 52,4%. Sebagian besar responden memiliki asupan energi tidak lebih (93,7%), karbohidrat tidak lebih (92,9%), protein tidak lebih (95,2%), dan lemak tidak lebih (65,1%). Karakteristik responden menunjukkan Sebagian besar berpendidikan tinggi (72,2%), pengetahuan gizi baik (59,5%), aktivitas fisik kurang (93,7%), durasi tidur cukup (77,0%), tingkat stres tinggi (65,1%) berstatus perokok (95,2%), dan memiliki riwayat konsumsi alkohol (58,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi (p = 0,027; OR = 0,116) dan durasi tidur (p = 0,042; OR = 2,464) dengan kejadian status gizi lebih. Variabel lainnya, yaitu asupan karbohidrat, protein, lemak, tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, status merokok, riwayat konsumsi alkohol, dan tingkat stres tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Asupan energi dan durasi tidur merupakan faktor yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada WBP. Oleh karena itu, disarankan kepada pihak lembaga pemasyarakatan untuk melakukan pemantauan status gizi secara berkala, memperbaiki kualitas dan kecukupan asupan makan, menyediakan pilihan pangan bergizi di kantin, serta mengadakan edukasi gizi dan program aktivitas fisik secara rutin. Kementerian Kesehatan diharapkan memperluas program gizi hingga menjangkau kelompok WBP melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Overnutrition occurs when the body receives excess energy intake beyond its needs, which is then stored as fat. This condition is a risk factor for non-communicable diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and coronary heart disease, and in the long term can develop into metabolic syndrome, leading to reduced quality of life and increased risk of mortality. This study aimed to analyze factors associated with overnutrition among prison inmates, including energy, carbohydrate, protein, and fat intake, education level, physical activity, nutritional knowledge, sleep duration, smoking status, stress level, and history of alcohol consumption. This study used a cross-sectional design with overnutrition as the dependent variable and energy intake, carbohydrate, protein, fat, education level, nutritional knowledge, physical activity, sleep duration, stress level, smoking status, and history of alcohol consumption as independent variables. Data were collected from 126 respondents who met the inclusion and exclusion criteria through direct interviews and questionnaire completion. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. The prevalence of overnutrition among respondents was 52.4%. Most respondents had normal energy intake (93.7%), carbohydrate (92.9%), protein (95.2%), and fat (65.1%). The majority had high education (72.2%), good nutritional knowledge (59.5%), insufficient physical activity (93.7%), adequate sleep duration (77.0%), high stress levels (65.1%), smoking status (95.2%), and history of alcohol consumption (58.7%). Bivariate analysis showed significant associations between energy intake (p = 0.027; OR = 0.116) and sleep duration (p = 0.042; OR = 2.464) with overnutrition. Other variables including carbohydrate, protein, and fat intake, education level, nutritional knowledge, smoking status, alcohol consumption history, and stress level showed no significant associations. Energy intake and sleep duration are factors significantly associated with overnutrition among prison inmates. Therefore, correctional facilities are advised to conduct regular nutritional status monitoring, improve food quality, provide nutritious food options in the canteen, and organize nutrition education and physical activity programs routinely. The Ministry of Health is expected to expand nutrition programs to reach prison inmates through collaboration with the Directorate General of Corrections.
S-12474
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anissa Damaiyanti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar Yunas
Abstrak:
Read More
Gizi lebih merupakan bentuk malnutrisi (gizi tidak seimbang) yang timbul dari asupan gizi berlebihan yang menyebabkan penumpukan lemak tubuh sehingga mengganggu kesehatan. Gizi lebih pada anak merupakan salah satu masalah Kesehatan yang berdampak negatif jangka panjang bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau. Penelitian Cross Sectional ini menggunakan data SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) 2021 dengan total responden 2809 balita setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data analisis menggunakan uji chi-square pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2023 yang menunjukkan terdapat 5,9% balita yang mengalami gizi lebih. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga variabel yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada anak usia 6-59 bulan, yaitu umur, berat lahir, dan status pekerjaan ibu. Analisis multivariat ditemukan bahwa status pekerjaan ibu merupakan faktor dominan dari gizi lebih pada balita 6-59 bulan di Kepulauan Riau berdasarkan analisis SSGI 2021 dengan p-value 0,015 dan OR 1,466 (CI 95%: 1,063 – 2,021). Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian untuk instansi kesehatan, diharapkan dapat melakukan program pencegahan dan penanggulangan obesitas dengan menggunakan pendekatan promosi, pencegahan, dan rehabilitasi terkait gizi seimbang dan perilaku makan sehat. Selain itu, juga dapat berupaya untuk membangun fasilitas penitipan anak yang aman dan sehat di lingkungan kerja untuk mendukung ibu bekerja dalam memberikan perawatan yang baik kepada anak.
Overnutrition is a form of malnutrition arising from excessive nutrient intake, leading to the accumulation of body fat that disrupts health. Overnutrition in children is a long-term health issue with negative impacts. This study aims to identify factors associated with the occurrence of overnutrition among children aged 6-59 months in Kepulauan Riau. This Cross-Sectional study utilized data from the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) in 2021, with a total of 2809 toddler respondents meeting inclusion and exclusion criteria. Chi-square tests were employed in bivariate analysis, and multiple logistic regression tests were used in multivariate analysis. The study, conducted in 2023, revealed that 5.9% of toddlers experienced overnutrition. Research findings indicate three variables significantly associated with overnutrition incidents in children aged 6-59 months: age, birth weight, and maternal employment status. Multivariate analysis identified maternal employment status as the dominant factor in overnutrition among toddlers in the Riau Islands, according to SSGI 2021 analysis, with a p-value of 0.015 and OR 1.466 (95% CI: 1.063 – 2.021). Recommendations based on the research suggest that health institutions implement preventive and intervention programs against obesity, focusing on balanced nutrition promotion, prevention, and rehabilitation of healthy eating behaviors. Additionally, efforts can be made to establish safe and healthy childcare facilities in the workplace environment to support working mothers in providing proper care for their children.
S-11505
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Afrah; Permbimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Triyanti, Ika Permatasari
Abstrak:
Read More
Beban ganda malnutrisi overweight/obesitas dan anemia adalah koeksistensi kekurangan gizi (anemia defisiensi besi) bersama dengan kelebihan berat badan atau obesitas di dalam satu individu. Remaja overweight/obesitas berisiko mengalami penyakit tidak menular, menurunkan fungsi kognitif, menjadi malas, serta kurang aktif yang akan menambah beban kesehatan dan beban ekonomi sosial kedepannya. Remaja anemia defisiensi besi berisiko mengalami hasil kehamilan buruk (berat badan lahir rendah, prematuritas, kematian neonatal dan bayi) dan produktivitas kerja yang rendah dan prestasi belajar yang rendah. Individu dengan obesitas menyerap lebih sedikit besi daripada individu dengan IMT normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi, faktor-faktor yang berhubungan, dan faktor dominan kejadian beban ganda malnutrisi overweight/obesitas dan anemia intraindividu pada remaja usia 10-19 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square dan regresi logistic sederhana, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil menunjukan bahwa prevalensi beban ganda malnutrisi overweight/obesitas dan anemia pada remaja adalah 2,9%. Analisis bivariat juga menunjukan adanya hubungan antara jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, tingkat Pendidikan ayah dan ibu dengan beban ganda (p-value < 0,05). Analisis multivariat menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan merupakan faktor dominan kejadian beban ganda ini (p-value=0,000; OR: 1,931; 95% CI: 1,4-2,6). Bagi remaja perempuan sebaiknya rutin melakukan pengukuran Hb agar anemia terdeteksi. Dapat juga dibuatkan program pemeriksaan Hb rutin pada UKS sekolah, dengan begitu konsumsi TTD juga bisa terkontrol. Bagi remaja yang tinggal di wilayah perkotaan yang lebih berisiko karena kondisi remaja di wilayah perkotaan lebih banyak konsumsi makanan tinggi lemak dan padat energi, perlu lebih memerhatikan makanan yang dikonsumsi. Bagi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, bisa menggunakan metode 24h recall untuk variable konsumsi agar dapat lebih menggambarkan konsumsi responden.
The double burden of overweight/obesity malnutrition and anemia is the coexistence of malnutrition (iron deficiency anemia) together with being overweight or obese within a single individual. Overweight/obese adolescents are at risk of experiencing non-communicable diseases, decreasing cognitive function, becoming lazy, and inactive which will add to the health burden and social-economic burden in the future. Adolescents with iron deficiency anemia are at risk of experiencing poor pregnancy outcomes (low birth weight, prematurity, neonatal and infant mortality) and low work productivity and low academic achievement. Individuals with obesity absorb less iron than individuals with normal BMI. This study aims to determine the prevalence, associated factors, and dominant factors in the double burden of malnutrition overweight/obesity and intraindividual anemia among adolescents aged 10-19 years in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using Riskesdas 2018 data. The data analysis used was univariate analysis, bivariate analysis using chi square and simple logistic regression, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results show that the prevalence of the double burden of malnutrition, overweight/obesity and anemia in adolescents is 2.9%. Bivariate analysis also showed that there was a relationship between gender, area of residence, educational level of fathers and mothers with a double burden (p-value <0.05). Multivariate analysis showed that female gender was the dominant factor for this double burden (p-value=0.000; OR: 1.931; 95% CI: 1.4- 2.6). For teenage girls, it is better to routinely measure Hb so that anemia can be detected. A program for routine Hb checks can also be made at school health unit, so that the consumption of iron supplements can also be recorded. For adolescents who live in urban areas who are more at risk because population in urban areas consumes more high-fat and energy-dense foods, it is necessary to pay more attention to the food consumed. For the Health Research and Development Agency, the 24h recall method can be used for the consumption variable in order to better describe the respondent's consumption.
S-11399
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ervira Dwiaprini As Syifa; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Trisari Anggondowati, Jasrida Yunita, Irwan Muryanto
Abstrak:
Read More
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 dan 2018, menunjukkan adanya peningkatan prevalensi gizi lebih dan obesitas di provinsi Riau yaitu dari 3,1% menjadi 11,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih/obesitas pada remaja siswa SMA Negeri di Kota Pekanbaru Tahun 2023. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2023. Sampel adalah siswa SMAN kelas X dan XI di tiga SMAN di Kota Pekanbaru, yaitu SMAN 4, SMAN 6, dan SMAN 12. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Variabel independen adalah jenis kelamin, pengetahuan remaja, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, uang saku, status kegemukan orang tua, aktivitas fisik, kualitas tidur, konsumsi makanan cepat saji dan konsumsi makanan manis. Variabel dependen adalah gizi lebih/obesitas. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang dominan berhubungan dengan gizi/obesitas adalah status kegemukan orang tua (OR=3,12; 95% CI: 1,25-7,83). Remaja dengan orang tua gemuk/obesitas lebih berisiko 3 kali mengalami gizi lebih/obesitas dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki orang tua gemuk/obesitas. Variabel lain yang berhubungan adalah pengetahuan siswa (OR=2,62; 95% CI: 1,27-5,39) dan kebiasaan makanan manis (OR=2,34; 95% CI:1,04-5,27). Untuk itu diharapkan pihak sekolah dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk menyelenggarakan penyuluhan atau seminar tentang gizi dan obesitas pada remaja, sekolah dapat menyediakan kantin sehat dengan membatasi ketersediaan makanan cepat saji dan minuman manis.
Based on the 2013 and 2018 Basic Health Research, there was an increase in the prevalence of overnutrition and obesity in Riau province from 3.1% to 11.6%. This study aimed to analyse the factors associated with the incidence of overeight/obesity in adolescent students of public high schools in Pekanbaru City in 2023. The type of research is quantitative analytic with a cross-sectional design. The research was conducted in May-June 2023. Samples were class X and XI students in three high schools in Pekanbaru City, namely SMAN 4, SMAN 6, and SMAN 12. Sampling was done by purposive sampling. Independent variables were gender, adolescent knowledge, parental education, parental occupation, pocket money, parental obesity status, physical activity, sleep quality, fast food consumption and sweet food consumption. The dependent variable was overweight/obesity. Data were analysed univariately, bivariate and multivariate. The results showed that the dominant variable associated with overweight/obesity was parental obesity status (OR=3.12; 95% CI: 1.25-7.83). Adolescents with obese parents were three times more likely to experience overweight/obesity compared to adolescents who did not have obese parents. Other associated variables were student knowledge (OR=2.62; 95% CI: 1.27-5.39) and sweet food habits (OR=2.34; 95% CI: 1.04-5.27). For this reason, schools are expected to work with the Health Office and Community Health Center to organise counselling or seminars on nutrition and obesity in adolescents; schools can provide healthy canteens by limiting the availability of fast food and sugary drinks.
T-6811
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
