Ditemukan 47 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Devika Grace Sitorus Pane; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Dadan Erwandi, Janis Boniarso
Abstrak:
PT Alstom Grid merupakan perusahaan yang bergerak di bidang utility.Pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan diharapkan sesuai dengan harapancustomer, sesuai kualitas dan menghasilkan keuntungan untuk perusahaan. Hal inidapat menyebabkan pekerja selalu berhadapan dengan hazard psikososial. Hazard psikososial berasal dari context of work dan content of work. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pekerja terhadap bahaya psikososial ditempat kerja pada pekerja di Departemen Operation. Hasil Penelitian menyarankan bahwa perusahaan hendaknya mensosialisasikan mengenai bahaya psikososial kepada pekerja sehingga pekerja mampu mengendalikan bahaya tersebut yang setiap harinya mereka hadapi.
Kata Kunci : Persepsi, Bahaya Psikososial.
Read More
Kata Kunci : Persepsi, Bahaya Psikososial.
S-8062
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvana Safitri; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Rezza Irawan Widiarto, Hanny Harjulianti
Abstrak:
Read More
Konstruksi merupakan salah satu industri yang berisiko tinggi untuk mengalami distres dikarenakan pekerjaan proyek konstruksi yang bersifat dinamis dan tidak pasti. Dampak stres kerja dapat berupa efek fisiologis, psikologis dan sosiologis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran tingkat distres dan faktor risiko yang berhubungan dengan distres pekerja di suatu perusahaan konstruksi. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei – Desember 2024, pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Data primer didapat dengan cara menyebarkan kuesioner daring kepada pekerja di suatu perusahaan konstruksi. Distres diukur menggunakan The Depression Anxienty Stress Scales (DASS-21), dan data dianalisis menggunakan Chi-Square serta regresi logistik ganda. Hasil penelitian didapati pekerja yang mengalami distres sebanyak 22% dengan detail tingkat distres 11% sedang, 7,8% berat dan 3,1% sangat berat. Faktor dominan yang berhubungan dengan distres yaitu peningkatan karier, status pekerjaan dan upah; juga status perkawinan. Pekerja dengan kondisi karier, status pekerjaan dan upah yang tidak baik berisiko 2,68 kali lebih tinggi mengalami distres. Perusahaan perlu melakukan evaluasi pekerja dengan pengembangan di periode mendatang (developmental evaluation).
Construction is one of the industries with a high risk of distress due to the dynamic and uncertain nature of construction project work. The impact of work-related stress can be physiological, psychological, and sociological. This study aims to describe the level of distress and the risk factors associated with worker distress in a construction company. The research was conducted from May to December 2024 using a quantitative approach with a cross-sectional study design. Primary data was obtained by distributing an online questionnaire to workers in a construction company. Distres was measured using The Depression Anxiety Stres Scales (DASS-21), and the data were analyzed using Chi-Square and multiple logistic regression. The results showed that 22% of workers experienced distres, with the breakdown of distres levels being 11% moderate, 7.8% severe, and 3.1% very severe. Dominant factors associated with distres included career advancement, employment status, wages, and marital status. Workers with poor career conditions, employment status, and wages were 2.68 times more likely to experience distres. The company needs to evaluate workers through development in the upcoming period (developmental evaluation).
T-7210
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riska Septia Widiana; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Mila Tejamaya, Istiati Suraningsih
S-8170
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Khalimah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permansari, Dharma Irawan, Puji Triastuti
B-1670
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Astrina Aulia; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Raymos Hutapea, Wahyu Suprapti
Abstrak:
Tujuan: Penelitian WHO telah menetapkan burnout sebagai fenomena kelelahan bekerja dan mengklasifikasikannya ke dalam penyakit internasional terbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor psikososial dan kejadian Burnout pada perawat unit rawat jalan dan rawat inap di RS A.A. tahun 2019.
Metode: Metode penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional untuk menganalisis hubungan faktor demografi (jenis kelamin, masa kerja, unit kerja dan status pernikahan) dan faktor psikososial (komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, kepuasan kerja, dukungan sosial, kontrol kerja, beban kerja dan beban emosional) dengan kejadian burnout. Sampel terdiri dari 93 perawat rawat jalan dan rawat inap yang diambil dengan teknik Proportional Stratified Random Sampling. Penelitian berlangsung dari bulan November hingga Desember 2019.
Hasil: Burnout pada perawat unit rawat jalan dan rawat inap sebesar 50,5%. Terdapat dua variabel yang berhubungan dengan burnout yaitu jenis kelamin (p = 0,04) dan beban kerja dengan (p = 0,005).
Simpulan: Hasil telitian mendapatkan laki-laki berisiko 3,8 kali mengalami burnout dibandingkan rekan kerjanya yang wanita. Diduga sebagai penyebabnya yaitu laki-laki jarang menyalurkan rasa stres mereka dan sulit untuk bersosialisasi atau terbuka ketika membicarakannya. Faktor psikososial hanya beban kerja berhubungan dengan burnout, di mana beban kerja berat sebagai faktor risiko.
Objectives
WHO has designated burnout as a phenomenon of work fatigue and classifies it into the
latest international disease. This study aims to determine psychosocial factors and the
incidence of burnout in outpatient and inpatient nurses at A.A. Hospital in 2019.
Methods
Quantitative research methods with cross sectional study design to analyze the
relationship between demographic factors (gender, years of service, work units and
marital status) and psychosocial factors (organizational commitment, leadership style, job
satisfaction, social support, work control, workload and emotional burden ) with a burnout
event. The sample consisted of 93 outpatient and inpatient nurses taken by the
Proportional Stratified Random Sampling technique. The research took place from
November to December 2019
Results
Burnout in outpatient and inpatient nurses by 50.5%. There are two variables related to
burnout, namely gender (p = 0.04) and workload with (p = 0.005).
Conclusions
The results of a study found that men had a risk of experiencing burnout 3.8 times
compared to their female colleagues. It is suspected that the cause is that men rarely
channel their stress and find it difficult to socialize or be open when talking about it.
Psychosocial factors only workload associated with burnout, where heavy workload is a
risk factor.
Read More
Metode: Metode penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional untuk menganalisis hubungan faktor demografi (jenis kelamin, masa kerja, unit kerja dan status pernikahan) dan faktor psikososial (komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, kepuasan kerja, dukungan sosial, kontrol kerja, beban kerja dan beban emosional) dengan kejadian burnout. Sampel terdiri dari 93 perawat rawat jalan dan rawat inap yang diambil dengan teknik Proportional Stratified Random Sampling. Penelitian berlangsung dari bulan November hingga Desember 2019.
Hasil: Burnout pada perawat unit rawat jalan dan rawat inap sebesar 50,5%. Terdapat dua variabel yang berhubungan dengan burnout yaitu jenis kelamin (p = 0,04) dan beban kerja dengan (p = 0,005).
Simpulan: Hasil telitian mendapatkan laki-laki berisiko 3,8 kali mengalami burnout dibandingkan rekan kerjanya yang wanita. Diduga sebagai penyebabnya yaitu laki-laki jarang menyalurkan rasa stres mereka dan sulit untuk bersosialisasi atau terbuka ketika membicarakannya. Faktor psikososial hanya beban kerja berhubungan dengan burnout, di mana beban kerja berat sebagai faktor risiko.
Objectives
WHO has designated burnout as a phenomenon of work fatigue and classifies it into the
latest international disease. This study aims to determine psychosocial factors and the
incidence of burnout in outpatient and inpatient nurses at A.A. Hospital in 2019.
Methods
Quantitative research methods with cross sectional study design to analyze the
relationship between demographic factors (gender, years of service, work units and
marital status) and psychosocial factors (organizational commitment, leadership style, job
satisfaction, social support, work control, workload and emotional burden ) with a burnout
event. The sample consisted of 93 outpatient and inpatient nurses taken by the
Proportional Stratified Random Sampling technique. The research took place from
November to December 2019
Results
Burnout in outpatient and inpatient nurses by 50.5%. There are two variables related to
burnout, namely gender (p = 0.04) and workload with (p = 0.005).
Conclusions
The results of a study found that men had a risk of experiencing burnout 3.8 times
compared to their female colleagues. It is suspected that the cause is that men rarely
channel their stress and find it difficult to socialize or be open when talking about it.
Psychosocial factors only workload associated with burnout, where heavy workload is a
risk factor.
T-5854
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shinta Gusrinarti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Chandra Satrya, Yoha Yapani
Abstrak:
Penelitian ini membahas faktor bahaya psikososial yang berhubungan dengan stres kerja pada guru SMA Negeri di Jakarta Barat. Faktor bahaya psikososial yang diteliti adalah beban kerja, konflik peran, ambiguitas peran, hubungan interpersonal, dan lingkungan fisik. Jenis penelitian ini adalah semikuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang bertujuan untuk meneliti faktor bahaya psikososial yang berhubungan dengan stres kerja pada guru SMA Negeri di Jakarta Barat. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian dari 97 responden guru SMAN didapatkan sebanyak 32% mengalami stres kerja ringan, 35% stres kerja sedang, dan 33% stres kerja berat. Bahaya psikososial yang memiliki hubungan bermakna dengan stres kerja adalah faktor hubungan interpersonal dan lingkungan fisik.
This research discussed psychosocial hazard factors that related to work stress among public high school teachers in West Jakarta. This research assessed psychosocial hazard factors that consists of workload, role conflict, role ambiguity, interpersonal relationship, and physical environment. This is a semiquantitative research with cross-sectional study design which aimed to identify the psychosocial hazard factors that related to work stress level among public high school teachers di West Jakarta. Questionnaire and interview were used to collect data. The result of 97 respondents from five public high school showed that 32% teachers experienced mild work stress, 35% teachers experienced moderate work stress while 33% teachers experienced severe work stress. Psychosocial hazard factors that having significant relationship to work stress are interpersonal relationship and physical environment.
Read More
This research discussed psychosocial hazard factors that related to work stress among public high school teachers in West Jakarta. This research assessed psychosocial hazard factors that consists of workload, role conflict, role ambiguity, interpersonal relationship, and physical environment.
S-8122
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kamto; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Yuni Kusminanti, Fajar Senojati
Abstrak:
Read More
cara Tesis ini membahas aspek psikososial yang berpengaruh terhadap perilaku berisiko pekerja offshore PT ABC di Kalimantan Timur pada tahun 2021. Responden terdiri atas 141 orang pekerja dari populasi sekitar 200 orang pekerja yang sedang onduty. Responden terdiri atas semua entitas dan jabatan, baik pekerja tetap maupun kontraktor. Pengambilan data menggunakan kuesioner berbasis COPSOQ III dengan jenis perilaku berisiko diambil dari panduan investigasi kecelakaan yang telah ada pada PT ABC. Reliabilitas kuesioner psikososial Cronbach’s alpha 0,6-09, gangguan kesehatan 0,6-0,8, dan perilaku berisiko 0,8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko psikososial (mean=1.81, SD=0,27), gangguan kesehatan (mean=1,21, SD=0,31), perilaku berisiko (mean=1,08, SD=0,16) adalah rendah. Aspek psikososial dengan gangguan kesehatan berkorelasi signifikan, serta gangguan kesehatan dan perilaku berisiko juga berkorelasi signifikan. Dari analisis korelasi aspek psikososial dan perilaku berisiko menunjukkan hubungan signifikan yang dimediasi gangguan kesehatan sebagai bentuk reaksi stress. Analisis regresi menunjukkan bahwa ada empat domain aspek psikososial yang berkontribusi terhadap variasi perilaku berisiko yakni tuntutan pekerjaan, organisasi & konten kerja, interaksi individu- pekerjaan, dan konflik & perilaku ofensif dengan R2=0,124, p=0,00. Aspek psikososial yang paling dominan berkontribusi adalah interaksi individu-pekerjaan dengan koefisien B=0,262. Kata kunci: aspek psikososial, perilaku berisiko
This thesis discusses psychosocial aspects which contribute to at-risk behavior of PT ABC offshore workersin East Kalimantan in 2021. Respondents consisted of 141 workers from a population of about 200 workers who were onduty. Respondents consist of all entities and positions, both permanent workers and contractors. Data collection using COPSOQ III-based questionnaires, with types of at-risk behavior is taken from the accident investigation guidelines that have been in place of PT ABC. Reliability of Cronbach's alpha psychosocial questionnaire was 0.6-09, psychosocial questionnaire Cronbach's alpha was 0.6-09, health disorders was 0.6-0.8, and at-risk behaviors was 0.8. The results showed risk level of psychosocial risk (mean=1.81, SD=0.27), health disorders (mean=1.21, SD=0.31), at-risk behavior (mean=1.08, SD=0.16) was low. Psychosocial aspects and health symptom disorders are significantly correlated, as well as health symptom disorders and at -risk behaviors are also significantly correlated. Result of correlation analysis of psychosocial aspects and at-risk behaviors showed a significant relationship that mediated by health symptom disorders as a form of stress reaction. Regression analysis shows that there are four domains of psychosocial aspects that contribute to variations at-risk behavior: job demands, organization & job content, individual-work interaction, and conflict & offensive behavior with R square 0.124, p
T-7518
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riyan Saputra ; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ab,dul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ridha Renaldi, Swadexi Istiqphara
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor risiko psikososial pada tiga arena kehidupan (individu, pekerjaan, dan rumah) serta hubungannya dengan tingkat distres kerja pada operator PT XX tahun 2026. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi crosssectional, penelitian ini melibatkan 161 operator tambang batubara di Kalimantan Timur yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari Permenaker No. 5 Tahun 2018, Effort-Reward Imbalance (ERI), dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Hasil analisis universitas menunjukkan bahwa mayoritas operator (83,23%) memiliki tingkat distres kerja yang rendah, sementara 16,77% sisanya mengalami tingkat distres tinggi. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode backward elimination menunjukkan bahwa faktor prediktor utama yang paling dominan terhadap tingkat distres kerja tinggi adalah masalah tidur dari arena rumah dengan nilai Odds Ratio sebesar 11,58 (OR = 11,585). Faktor prediktor kuat berikutnya adalah perilaku menyerang (workplace bullying) dari arena pekerjaan dengan nilai Odds Ratio sebesar 4,05 (OR = 4,053). Manajemen perusahaan disarankan mengoptimalkan program intervensi kesehatan mental, penataan jadwal kerja untuk manajemen fatigue, serta penerapan kebijakan nol toleransi terhadap perundungan guna meminimalkan risiko operasional.
This study aims to analyze various psychosocial risk factors across three life domains (individual, work, and home) and their relationship with job distress levels among operators at PT XX in 2026. Employing a quantitative approach with a cross-sectional study design, this research involved 161 coal mining operators in East Kalimantan selected through a purposive sampling technique. Primary data collection was conducted using structured questionnaires adapted from the Minister of Manpower Regulation (Permenaker) No. 5 of 2018, the Effort-Reward Imbalance (ERI), and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Univariate analysis results indicated that the majority of operators (83.23%) experienced low levels of job distress, while the remaining 16.77% suffered from high distress levels. Multivariate analysis using multiple logistic regression with the backward elimination method revealed that the most dominant primary predictor for high job distress was sleep problems from the home domain, with an Odds Ratio of 11.58 (OR = 11.585). The next strong predictor was offensive behavior (workplace bullying) from the work domain, with an Odds Ratio of 4.05 (OR = 4.053). Company management is advised to optimize mental health intervention programs, restructure work schedules for fatigue management, and implement a zero-tolerance policy against bullying to minimize operational risks.
T-7559
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adam Maryanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo
Abstrak:
Read More
Risiko psikososial merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan pekerja, khususnya pada industri hulu minyak dan gas bumi yang memiliki karakteristik pekerjaan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hazard psikososial, menilai tingkat risiko psikososial, menganalisis efek yang dialami pekerja, mengidentifikasi kebutuhan konseling dan pemantauan psikososial, serta menganalisis tren keterkaitan hazard psikososial dengan faktor-faktor yang muncul dalam investigasi incident pada pekerja PT X. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain kuantitatif deskriptif cross-sectional sebagai pendekatan utama, yang dilengkapi analisis kualitatif terhadap data sekunder investigasi incident melalui pattern matching. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan terhadap 204 respons lengkap yang berasal dari pekerja organik dan mitra kerja. Instrumen dikembangkan peneliti melalui adaptasi selektif dari konsep HSE Management Standards Indicator Tool, NIOSH, ICAWS, NASA-TLX, MBI, JCQ, dan JD-R. Data kualitatif menggunakan data sekunder investigasi incident PT X Zona 7 Tahun 2025 untuk menjelaskan pola hasil kuantitatif, bukan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat langsung antara hazard psikososial dan incident. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hazard psikososial dominan pada lingkungan kerja meliputi tuntutan pekerjaan yang tinggi, beban kerja, keterbatasan fasilitas dan peralatan kerja, serta kurangnya pelatihan. Pada lingkungan rumah dan sosial, hazard dominan meliputi kurangnya waktu bersama keluarga, masalah dengan pasangan, masalah keuangan keluarga, dan kondisi kesehatan keluarga. Pada faktor individu, hazard dominan meliputi mudah lupa, kurang teliti, kehilangan konsentrasi, rendahnya daya tahan terhadap stres, dan tidak sabar. Sebagian besar risiko psikososial berada pada kategori rendah hingga sedang. Efek yang paling banyak dirasakan pekerja meliputi pusing kepala, kelelahan, kecemasan, mudah lupa, penurunan daya ingat, kesalahan kerja, dan penurunan produktivitas. Analisis tren menunjukkan adanya kesesuaian pola antara hazard psikososial dominan dengan faktor-faktor yang muncul dalam investigasi incident, terutama yang berkaitan dengan kegagalan identifikasi bahaya, pelanggaran prosedur kerja, penggunaan peralatan yang tidak memadai, dan kesalahan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hazard psikososial berpotensi memengaruhi kesehatan, perilaku kerja, dan keselamatan kerja. Oleh karena itu, pengelolaan risiko psikososial perlu dilakukan secara terintegrasi melalui pemantauan psikososial, konseling pekerja, penguatan dukungan organisasi, serta peningkatan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
Psychosocial risk is one of the factors that may affect workers’ health, well-being, and safety, particularly in the upstream oil and gas industry, which is characterized by high-risk work activities. This study aimed to identify psychosocial hazards, assess psychosocial risk levels, analyze psychosocial effects experienced by workers, identify counseling and psychosocial monitoring needs, and examine trends in the relationship between psychosocial hazards and factors identified in incident investigations at PT X. This study used a mixed methods approach with a descriptive quantitative cross-sectional design as the main approach, complemented by qualitative analysis of secondary incident investigation data using pattern matching. Quantitative data were collected from 204 complete responses from permanent and contractor workers. The researcher-developed instrument selectively adapted concepts from the HSE Management Standards Indicator Tool, NIOSH, ICAWS, NASA-TLX, MBI, JCQ, and JD-R. Qualitative data were obtained from secondary incident investigation data from PT X Zone 7 in 2025 to explain the quantitative pattern, not to prove a direct causal relationship between psychosocial hazards and incidents. The results showed that the dominant psychosocial hazards in the work environment included high job demands, workload, inadequate facilities and work equipment, and insufficient training. In the home and social environment, the dominant hazards included lack of family time, marital problems, family financial problems, and family health issues. Individual-related hazards were dominated by forgetfulness, lack of attention to detail, loss of concentration, low stress tolerance, and impatience. Most psychosocial risks were categorized as low to moderate. The most frequently reported effects included headaches, fatigue, anxiety, forgetfulness, memory decline, work errors, and reduced productivity. Trend analysis revealed a pattern consistency between dominant psychosocial hazards and factors identified in incident investigations, particularly hazard identification failures, procedural violations, inadequate equipment, and work-related errors. This study concludes that psychosocial hazards have the potential to influence workers’ health, work behavior, and occupational safety. Therefore, psychosocial risk management should be implemented through integrated psychosocial monitoring, employee counseling programs, strengthened organizational support, and continuous improvement of occupational health and safety management systems.
T-7721
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aris Harnindo; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Pembimbing: Hendra, Doni Hikmat Ramdhan, Syahrul Efendi
T-3417
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
