Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Fathir Aksa Majda; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ovvyasa Wayka Putri
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelelahan dan faktor risiko kelelahan (fatigue)
pada pekerja konstruksi di Proyek A PT XYZ tahun 2025. Faktor terkait pekerjaan yang
diteliti mencakup waktu kerja, beban kerja, shift kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan,
faktor tidak terkait pekerjaan yang diteliti mencakup usia, status gizi, kualitas tidur,
kuantitas tidur, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan commuting time (waktu
perjalanan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross
sectional dan dilaksanakan pada Februari – Juni 2025 di Proyek A PT XYZ.
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mencakup identitas responden,
Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA Task Load Index
(NASA TLX) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Jumlah responden dalam
penelitian ini adalah sebanyak 78 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 36
responden (46,2%) mengalami kelelahan, sedangkan 42 responden (53,8%) tidak
mengalami kelelahan. Berdasarkan analisis inferensial menggunakan uji Chi-Square,
diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja (p-value = 0,024;
OR = 0,227) dan usia (p-value = 0,024; OR = 3,000) dengan kelelahan pada pekerja
konstruksi di Proyek A PT XYZ.


This study aims to analyze fatigue and the risk factors associated with fatigue among  construction workers at Project A, PT XYZ, in 2025. Work-related factors examined  include working hours, workload, work shifts, and work environment. Meanwhile, non work-related factors analyzed include age, nutritional status, sleep quality, sleep quantity,  smoking habits, caffeine consumption, and commuting time. This research employs a  quantitative approach with a cross-sectional study design, conducted from February to  June 2025 at Project A, PT XYZ. Data collection was carried out using a questionnaire  covering respondent identity, the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers  (FASCW), NASA Task Load Index (NASA TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index  (PSQI). The total number of respondents in this study was 78. The results showed that 36  respondents (46.2%) experienced fatigue, while 42 respondents (53.8%) did not. Based  on inferential analysis using the Chi-Square test, a significant relationship was found  between work shifts (p-value = 0.024; OR = 0.227) and age (p-value = 0.024; OR = 3.000)  and fatigue among construction workers at Project A of PT XYZ.

Read More
S-12047
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eunike Atara Trisyani; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Lorencius Kukuh Prabowo
Abstrak:
Skripsi ini membahas tentang analisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja konstruksi di Proyek Y PT.X Tahun 2024. Kelelahan kerja (fatigue) adalah suatu kondisi dimana terjadi perasaan lelah dan penurunan fungsi mental dan fisik yang menyebabkan berkurangnya semangat kerja sehingga menurunkan efektivitas dan efisiensi kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kauntitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah prurposive sampling. Analisi data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 48,9% responden mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan faktor risiko terkait pekerjaan seperti beban kerja, durasi kerja, durasi lembur, jenis pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan, seperti konsumsi minuman berkafein, konsumsi air mineral, kualitas tidur, kuantitas tidur, dan pekerjaan sampingan.

Work fatigue (fatigue) is a condition where there is a feeling of fatigue and a decrease in mental and physical function which causes a decrease in morale, thereby reducing work effectiveness and efficiency. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional design. The sampling technique used was purposive sampling. Data analysis in this study was carried out using two ways, namely chi square. The results of this study showed that 48.9% of respondents experienced job fatigue. There is a significant relationship between fatigue and work-related risk factors such as workload, work duration, overtime duration, type of work and non-work-related risk factors, such as caffeinated beverage consumption, mineral water consumption, sleep quality, sleep quantity, and side jobs.
Read More
S-11757
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Sari Budi Ghafara; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Siti Widya Nazhrah, Abdul Kadir
Abstrak: Nama : Indah Sari Budi Ghafara Program Studi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul :Analisis Faktor Risiko Kelelahan Pada Masinis PT XYZ Tahun 2023 Pembimbing : Indri Hapsari Susilowati, S.KM, M.KKK, Ph.D Transportasi umum saat ini menjadi pilihan favorit masyarakat dalam melakukan perpindahan dengan selamat dan efisien. Salah satu transportasi umum pilihan masyarakat Jakarta adalah kereta Mass Rapid Train (MRT). Keselamatan kereta MRT merupakan isu yang penting untuk diperhatikan agar dapat menjaga keselamatan baik masinis maupun penumpang. Dalam pengoperasian kereta MRT, dilakukan oleh seorang masinis. Menurut data Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), di tahun 2016 sebanyak 45% kecelakaan disebabkan oleh masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kelelahan pada masinis seperti faktor terkait pekerjaan dan faktor tidak terkait pekerjaan. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari-Juni 2023 di PT. XYZ. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS) dalam mengukur kelelahan, dan Sound Level Meter dalam mengukur kebisingan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 67 masinis kereta MRT yang aktif mengoperasikan kereta. Hasil dari data kuesioner dianalisis menggunakan uji statistic chi-square. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 41,8% mengalami kelelahan. Dari penelitian ini diketahui bahwa pada faktor risiko terkait pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja dengan kelelahan pada masinis. Pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara commuting time, dan kualitas tidur terhadap kelelahan pada masinis.
Name : Indah Sari Budi Ghafara Study Program: Keselamatan dan Kesehatan Kerja Title : Analysis of Work Fatigue Risk Factors on Train Driver PT XYZ in 2023. Counsellor : Indri Hapsari Susilowati, S.KM, M.KKK, Ph.D Public transportation is currently people's favorite choice for moving safely and efficiently. One of the public transportation choices for the people of Jakarta is the Mass Rapid Train (MRT). MRT train safety is an important issue to pay attention to maintain the safety of both the driver and the passengers. In operating the MRT train, it is carried out by a train driver. According to data from the National Transportation Safety Commission (KNKT), in 2016 as many as 45% of accidents were caused by train drivers. This study aims to analyze fatigue and factors related to the occurrence of fatigue in train drivers such as work-related factors and non-work related factors. This research was conducted from January to June 2023 at PT XYZ. The tools used in this study were the Fatigue Assessment Scale (FAS) questionnaire to measure fatigue, and the Sound Level Meter to measure noise. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The sample in this study was 67 MRT train drivers who actively operated trains. The results of the questionnaire data were analyzed using the chi-square statistical test. The results of this study showed that 41.8% experienced fatigue. From this study, it is known that on work-related risk factors, there is a significant relationship between work shifts and driver fatigue. In non-work related risk factors, there is a significant relationship between commuting time and sleep quality on driver fatigue.
Read More
S-11551
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriza Hanifah Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Rijal Noor Al-Ghiffari
Abstrak:

Kelelahan merupakan masalah multifaktor yang dialami pekerja sektor manufaktur dan
berdampak pada kecelakaan kerja, kesehatan, serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja sales
perusahaan manufaktur di PT X tahun 2025. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor
risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, masa kerja, beban kerja, waktu istirahat, waktu
perjalanan, dan lingkungan kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status
gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, konsumsi alkohol, dan konsumsi kafein). Penelitian
ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, meliputi kuesioner
karakteristik individu dan pekerjaan, OFER, PSQI, NASA-TLX, dan persepsi terhadap
lingkungan kerja. Terdapat 136 data responden yang dianalisis menggunakan analisis
deskriptif dan inferensial dengan uji chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa
56.6% pekerja mengalami kelelahan kronik dan 79.4% kelelahan akut. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait kerja
yaitu masa kerja (p value = 0.047), lingkungan kerja bising (p value = 0.033) dan faktor
risiko tidak terkait kerja, yaitu kualitas tidur (p value = 0.044) dengan kelelahan kronik.
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko
terkait kerja yaitu beban kerja (p value = 0.033) dengan pemulihan kelelahan.


Fatigue is a multifactorial problem experienced by workers in the manufacturing sector  and has an impact on work accidents, health, and the economy. This study aims to analyze  the risk factors associated with fatigue in sales workers of manufacturing companies at  PT X in 2025. The risk factors studied include work-related risk factors (duration of work,  length of service, workload, rest time, commuting time, and work environment) and non work-related risk factors (age, nutritional status, sleep quantity, sleep quality, alcohol  consumption, and caffeine consumption). This study used a cross-sectional study design  conducted from February to June 2025. Data were collected through online  questionnaires, including individual and job characteristics questionnaires, OFER, PSQI,  NASA-TLX, and perceptions of work environment. 136 respondent data analyzed using  descriptive and inferential analysis with the chi-square test. The results of the analysis  showed that 56.6% of workers experienced chronic fatigue and 79.4% acute fatigue. The  results showed that there was a significant relationship between work-related risk factors,  namely work period (p value = 0.047), noisy work environment (p value = 0.033) and  non-work-related risk factors, namely sleep quality (p value = 0.044) with chronic fatigue.  The results also showed that there was a significant relationship between work-related  risk factors, namely workload (p value = 0.033) with fatigue recovery.

Read More
S-12100
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Abdillah Pasha; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Pauji Soleh
Abstrak:
Fatigue merupakan masalah multifaktor yang kerap dialami pekerja sektor manufaktur disebabkan oleh faktor terkait kerja dan faktor tidak terkait kerja sebagai variabel independen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor terkait kerja dan tidak terkait kerja dengan kelelahan atau fatigue pada perusahaan manufaktur di PT X Tahun 2024. Faktor terkait kerja yang diteliti meliputi beban kerja, shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, dan waktu perjalanan. Sementara itu faktor tidak terkait kerja yang diteliti meliputi usia, aktivitas fisik, penggunaan allohol, dan kualitas dan kuantitas tidur. Penelitian ini menggunakan dengan desain studi cross sectional menggunakan kuesioner yang mengadaptasi kuesioner OFER-15, kuesioner beban kerja, dan PSQI. 96 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan distribusi pekerja lelah (kategori sedang tinggi-tinggi) sebesar 34,4%. Hasil uji statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa shift kerja, jam kerja panjang, waktu istirahat, waktu perjalanan, usia, aktivitas fisik, penggunaan alkohol dan kualitas dan kuantitas tidur tidak berhubungan signifikan dengan fatigue. Sementara itu, variabel beban kerja berhubungan signifikan dengan fatigue dengan p value = 0,010 (p<0,05) dan OR = 3,500 (95% CI: 1,425 – 8,579) yang bermakna bahwa pekerja dengan beban kerja berat berisiko 3,5 kali lipat mengalami kelelahan kronis. Dapat disimpulkan bahwa hanya variabel beban kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis dan akut. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut dari perusahaan berupa penegakkan fatigue risk management system (FRMS) dan pengintegrasian kebijakan terkait kerja, sementara itu saran untuk pekerja berupa pengaturan manajemen tidur, waktu istirahat, dan aktivitas fisik.

Fatigue is a multifactor problem often experienced by manufacturing sector workers due to work-related and non-work-related factors as independent variables. This study aims to analyze the relationship between work-related and non-work-related factors and fatigue in manufacturing companies in PT X in 2024. The work-related factors studied include workload, work shifts, long hours, rest time, and travel time. Meanwhile, non-work-related factors studied include age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity. This study used a cross-sectional study design, using questionnaires that adapted the OFER-15 questionnaire, workload questionnaire, and PSQI. 96 respondents participated in this study, with a distribution of fatigued workers (medium-high category) of 34.4%. Statistical test results using chi-square showed that work shifts, long working hours, rest time, travel time, age, physical activity, alcohol use, and sleep quality and quantity were not significantly associated with fatigue. Meanwhile, the workload variable was significantly associated with fatigue with a p-value = 0.010 (p<0.05) and OR = 3.500 (95% CI: 1.425 - 8.579), which means that workers with heavy workloads have a 3.5-fold risk of experiencing chronic fatigue. It can be concluded that only the workload variable is significantly associated with chronic fatigue, either acute or chronic. Therefore, follow-up is needed from the company by enforcing the fatigue risk management system (FRMS) and integrating work-related policies, while advice for workers is in the form of sleep management, rest time, and physical activity.
Read More
S-11785
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Artha Prabawa; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Poppy Yuniar, Hendry Boy
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankaries gigi pada murid SD di Kota Jambi Tahun 2014. Penelitian menggunakandesain cross sectional. Hasil penelitian diperoleh 59,3% responden karies gigi.Susunan gigi dan derajat keasaman saliva merupakan faktor yang berhubungandengan karies gigi, dimana responden dengan derajat keasaman saliva yang tidaknormal berisiko terjadi karies gigi 2,6 kali dibanding yang normal setelahdikontrol oleh susunan gigi dan kebersihan gigi dan mulut. Susunan gigi tidakteratur berisiko terjadi karies gigi 2,6 kali dibanding yang teratur, setelah dikontrololeh derajat keasaman saliva dan kebersihan gigi dan mulut. Disarankan untukmeningkatkan upaya promotif dan preventif pada murid SD di Kota Jambi.Kata kunci : karies gigi, faktor-faktor yang berhubungan dengan karies gigi
The purpose of this study to determine the factors associated with dental cariesin primary school students in the city of Jambi 2014. The study used across-sectional design. The results were obtained 59.3 % of respondents dentalcaries. Arrangement of the teeth and saliva acidity is a factor associated withdental caries, where respondents with the degree of acidity abnormal salivarycaries risk occurs 2.6 times compared to normal after controlled by thearrangement of teeth and oral hygiene. The composition of irregular teeth cariesrisk occurs 2.6 times compared to regular, once controlled by the acidity of salivaand oral hygiene. It is recommended to increase the promotive and preventiveprimary school students in the city of Jambi.Keywords : dental caries , related factors to dental caries
Read More
T-4268
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprilya Setyawati; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo; Endang Mulyani
S-9618
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.

There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
Read More
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isma Sari Chumairah; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Kurnia Sari, Vetty Yulianty Permanasari, Anis Mardiyah, Iing Ichsan Hanafi
Abstrak:
Kamar operasi merupakan unit pelayanan strategis yang berperan penting terhadap mutu layanan dan indikator kinerja rumah sakit, namun pencapaian volume tindakan operasi tidak selalu mencerminkan pemanfaatan waktu kamar operasi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi kamar operasi di RS Hermina Depok serta merumuskan strategi optimalisasi yang dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas pelayanan bedah tanpa mengurangi mutu layanan rumah sakit maupun keselamatan pasien. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain crossectional, yang menggunakan seluruh tindakan operasi yang dilaksanakan di tujuh kamar operasi selama bulan Oktober 2025 sebagai sampel penelitian. Utilisasi kamar operasi dihitung berdasarkan pemanfaatan waktu operasional dan dikategorikan menjadi utilisasi optimal dan rendah. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik sederhana, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Selama periode penelitian, tercatat 1.021 tindakan operasi, melampaui target manajemen, yaitu 900 tindakan, namun sebagian besar hari operasional berada pada kategori utilisasi rendah (<70%), dengan 64,2% tindakan berlangsung pada hari dengan utilisasi rendah dan tidak ditemukan kejadian over-utilization. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia pasien 45–59 tahun (Adjusted OR 1,720; 95% CI 1,032–2,866) dan ≥60 tahun (Adjusted OR 1,983; 95% CI 1,147–3,430) berhubungan dengan peningkatan peluang utilisasi kamar operasi berada pada kategori rendah dibandingkan kelompok usia anak. Faktor rumah sakit yang paling konsisten berhubungan dengan utilisasi rendah adalah status penjadwalan yang tidak tercatat (Adjusted OR 2,061; 95% CI 1,043–4,074), sementara faktor lain seperti status ASA, persiapan pasien, kehadiran dan persetujuan tindakan, jenis pembiayaan, ketersediaan dan ketepatan waktu kedatangan SDM, waktu turnover, jenis prosedur, dan spesialisasi tindakan tidak menunjukkan hubungan signifikan setelah dikontrol dalam model. Temuan ini menunjukkan bahwa utilisasi kamar operasi di RS Hermina Depok belum optimal meskipun target volume tindakan tercapai, dan rendahnya utilisasi lebih dipengaruhi oleh aspek pengelolaan waktu dan pencatatan penjadwalan operasi. Oleh karena itu, strategi optimalisasi perlu diarahkan pada penguatan sistem penjadwalan terintegrasi berbasis waktu serta pengembangan persiapan praoperatif yang lebih komprehensif bagi pasien usia lanjut (geriatrik), guna mengantisipasi kompleksitas klinis dan kebutuhan khusus kelompok usia tersebut, sehingga pemanfaatan kamar operasi dapat ditingkatkan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan mutu layanan dan keselamatan pasien. Kata kunci: Kamar Operasi, Utilisasi, Faktor Pasien, Faktor Rumah Sakit, Efisiensi

The operating room is a strategic service unit that plays a critical role in healthcare quality and hospital performance indicators; however, achieving surgical volume targets does not necessarily reflect optimal utilization of operating room time. This study aimed to analyze factors influencing operating room utilization at Hermina Depok Hospital and to formulate optimization strategies that enhance efficiency, effectiveness, and surgical service quality without compromising patient safety or care standards. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted, including all surgical procedures performed in seven operating rooms during October 2025. Operating room utilization was calculated based on actual operating time and categorized into optimal and low utilization. Bivariate analysis was performed using Chi-square tests and simple logistic regression, while multivariate analysis employed multiple logistic regression. During the study period, 1,021 surgical procedures were recorded, exceeding the management target of 900 procedures; however, most operating days fell into the low utilization category (<70%), with 64.2% of procedures occurring on low-utilization days and no instances of over-utilization observed. Multivariate analysis showed that patient age was the only patient-related factor associated with operating room utilization, with patients aged 45–59 years (Adjusted OR 1.720; 95% CI 1.032–2.866) and ≥60 years (Adjusted OR 1.983; 95% CI 1.147–3.430) having a higher likelihood of low operating room utilization compared to pediatric patients. The most consistent hospital-related factor associated with low utilization was undocumented scheduling status (Adjusted OR 2.061; 95% CI 1.043–4.074), while other factors—including ASA status, preoperative preparation, patient attendance and consent, payment method, staff availability and punctuality, turnover time, procedure type, and surgical specialty—were not significantly associated after adjustment. These findings indicate that operating room utilization at Hermina Depok Hospital remains suboptimal despite achieving surgical volume targets and is primarily influenced by time management and scheduling documentation. Therefore, optimization strategies should focus on strengthening time-based integrated scheduling systems and developing more comprehensive preoperative preparation for geriatric patients to address clinical complexity and special care needs, thereby improving sustainable operating room utilization without compromising service quality or patient safety.
Read More
B-2569
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jasmine Kamilatun Nuha; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Distres adalah bentuk stres negatif yang disebabkan oleh kejadian buruk dan mengakibatkan penurunan performa kerja. Sektor kelistrikan memiliki kompleksitas dan risiko yang tinggi dalam proses bisnisnya, sehingga dalam penelitian terdahulu dan hasil observasi awal didapatkan bahwa pekerja sektor kelistrikan memiliki risiko mengalami distres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara faktor risiko distres dengan tingkat distres pada pekerja PT X Sektor Kelistrikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi cross-sectional. Data kuantitatif didapatkan dari penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, sedangkan data kualitatif dilakukan dengan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor individu (usia, masa kerja, status pernikahan), faktor terkait pekerjaan (beban dan kecepatan kerja, peran dalam organisasi, pengembangan karier, hubungan interpersonal, home-work interface), faktor tidak terkait pekerjaan (domestic-family demands), dan faktor penyangga (dukungan sosial). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 70,6% pekerja mengalami stres sedang, 27,2% pekerja mengalami stres berat, dan 2,2% mengalami stres ringan. Hasil analisis inferensial menunjukkan hanya variabel pengembangan karier (p=0,021) yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat distres. Adapun nilai OR yang dihasilkan sebesar 2,457 yang mengartikan bahwa pekerja dengan persepsi buruk terhadap pengembangan karier memiliki peluang 2,457 kali lebih besar mengalami distres.
Distress is a form of negative stress caused by adverse events that can lead to a decline in work performance. The electricity sector involves high complexity and risk in its business processes, making workers in this sector more vulnerable to experiencing distress, as indicated by previous studies and preliminary observations. This study aims to describe and analyze the relationship between risk factors and the level of distress among workers at PT X in the electricity sector. A mixed-method approach with a cross-sectional design was employed. Quantitative data were obtained through questionnaires and analyzed using the chi-square test, while qualitative data were collected through interviews and analyzed thematically. The risk factors examined include individual factors (age, length of employment, marital status), work-related factors (workload and work pace, organizational role, career development, interpersonal relationships, home-work interface), non-work-related factors (domestic-family demands), and buffering factors (social support). The results of the descriptive analysis indicated that 70.6% of workers experienced moderate stress, 27.2% experienced severe stress, and 2.2% experienced mild stress. Inferential analysis showed that only the variable career development (p = 0.021) had a significant relationship with the level of distress, with an odds ratio (OR) value of 2.457, indicating that workers with negative perceptions of career development were 2.457 times more likely to experience distress.
Read More
S-12004
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive