Ditemukan 27 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Mega Santi Widya Putri; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Endang Sri Wahyuningsih
Abstrak:
ABSTRAK waktu yang lama, biasanya diikuti dengan frekuensi sering sakit, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengasuhan, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses terhadap pangan dan kemiskinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi susu dengan kejadian stunting pada anak balita usia 24 bulan di Kecamatan Duren Sawit tahun 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case control, jumlah sampel penelitian ini adalah 74 orang, pada kelompok kasus 37 anak, dan pada kelompok kontrol 37 anak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Duren Sawit pada anak balita usia 24 bulan. Hasil: Hasil penelitian analisis bivariat menunjukkan terdapat pengaruh antara konsumsi susu, frekuensi minum susu, jumlah minum susu, mulai minum susu, pendidikan ibu, pengetahuan gizi ibu, penyakit infeksi, asupan energi, asupan lemak, dan asupan zat besi dengan kejadian stunting. Tidak ditemukan pengaruh pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, besar keluarga, riwayat ASI Eksklusif, asupan karbohidrat, dan asupan kalsium dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi susu, penyakit infeksi, dan asupan energi berpengaruh terhadap kejadian stunting dan yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian stunting adalah konsumsi susu. Kesimpulan: Konsumsi susu memiliki pengaruh dengan kejadian stunting pada anak usia 24 bulan. Kata Kunci : Balita, Stunting, Konsumsi Susu Introduction: Stunting is a chronic malnutrition caused by a lack of long-term nutritional intake, usually followed by frequent frequent illness, caused by factors such as lack of care, impure water use, unhealthy environment, limited access to food and poverty . Purpose: This study aims to determine the effect of milk consumption with the incidence of stunting in children aged 24 months in Kecamatan Duren Sawit in 2018. Method: This study is a quantitative study with case control research design, the number of samples of this study was 74 people, in case group 37 children, and in the control group of 37 children. This research was conducted in Duren Sawit Subdistrict in children aged 24 months. Results: The results of bivariate analysis showed that there was influence between milk consumption, milk drinking frequency, milk drinking, milk, mother education, mother's nutrition, infectious diseases, energy intake, fat intake, and iron intake with stunting events. No effect of father's education, father's work, mother's job, family size, history of exclusive breastfeeding, carbohydrate intake, and calcium intake with stunting events. The result of multivariate analysis showed that milk consumption, infectious diseases, and energy intake had an effect on stunting event and the most dominant in influencing stunting incidence was milk consumption. Conclusion: Milk consumption has an influence with stunting events in children aged 24 months. Key words: Toddler, Stunting, Milk Consumption
Read More
T-5417
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Esti Katherini Adhi; Pembimbing; Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq; Penguji: Endang L. Achadi, Marudut. Mayang Sari
Abstrak:
ABSTRAK
Prevalensi balita stunting di Kab.Bogor tahun 2013 sebesar 28,3%. Hal tersebut masih
menunjukan bahwa stunting di Kab. Bogor masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat. Susu merupakan sumber pangan yang mengandung energi, protein dan
mikronutrien yang hanya ditemukan pada sumber makanan hewani yang dapat berfungsi
dalam merangsang pertumbuhan. Pelarangan promosi susu pada anak dibawah umur 3
tahun memunculkan kekhawatiran akan jumlah balita stunting yang malah akan
meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan susu
dengan stunting ada anak balita umur 24 bulan di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten
Bogor Tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan sampel
penelitian sebanyak 113 balita. Hasil penelitian menunjukan 26,5% balita umur 24 bulan
di Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Tahun 2018 mengalami stunting. Terdapat
hubungan antara umur mulai minum susu dengan kejadian stunting (p=0,021), sedangkan
tipe konsumsi susu (p=0,734) dan frekuensi minum susu (p=0,588) tidak mempunyai
hubungan dengan kejadian stunting. Balita yang mulai minum susu umur ≥12 bulan
mempunyai peluang 4,1 kali (95% CI: 1,23-13,32) untuk menjadi stunting dibandingkan
dengan balita yang minum susu umur <12 bulan setelah dikontrol pekerjaan ibu,
pendidikan bapak dan asupan protein.
Kata kunci:
Stunting, asupan susu, mulai minum susu, tipe konsumsi susu, frekuensi minum susu
The prevalence of under five children stunting in Kab.Bogor in 2013 is 28,3%. It is shows
that stunting in Kab. Bogor is still a public health problem. Milk is a food source that
contains energy, protein and micronutrients that found only in animal food sources that
can stimulating growth. The prohibition of promotion of milk in children under 3 years
old raises concerns about increasing of stunting children . The purpose of this study was
to determine the corelation between milk intake and stunting on 24-month-old child in
Bojong Gede sub-district, Bogor Regency in 2018. This study used cross-sectional
method with 113 research samples. The results showed 26.5% of children aged 24 months
in Bojong Gede District, Bogor Regency in 2018 had stunting. There was a corelation
between drinking milk start date and stunting (p = 0,021), while type milk consumption
(p = 0,734) and milk drinking frequency (p = 0,588) had no corelation with stunting .
Toddlers who start drinking milk ≥12 months old have a chance of 4.1 times (95% CI:
1,23-13,32) encounter stunting compared to under-fives who drink milk <12 months after
controlled by mother's job, father's education and intake protein.
Keyword : stunting, dairy intake, drinking milk start date, type milk consumption, milk
drinking frequency
Read More
T-5410
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rienzy Kholifatur Ririyanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Evi Fatimah
S-10257
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
FAnna itriani; Pembimnbing: Asih Setiarini; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Fatmah Yusron, Zainal Abidin, Indrarti Soekotjo
T-4393
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wiwit Faisal; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Kurniasari, Dewi Damayanti
S-6550
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ery Irawan; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Asih Setiarini, Tiara Lutfie
Abstrak:
Kalsium merupakan salah satu mineral penyusun tulang pada masa-masa pertumbuhanmanusia. Susu merupakan salah satu sumber asupan kalsium yang baik bagi tubuh.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan konsumsi susu terhadapkecukupan asupan kalsium dengan dikontrol oleh kebiasaan sarapan, jenis kelamin,pengetahuan gizi, aktivitas fisik, konsumsi soft drink, pendidikan orang tua dan uangsaku. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, dengan jumlahresponden 290 mahasiswa reguler Rumpun Ilmu Kesahatan angkatan 2013 pada bulanapril hingga mei 2014. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesionerumum, kuesioner pengetahuan, food frequency questionare dan 2x24 jam food recall. Analisis statistik pada penelitian ini menggunakan uji Chi square dan regresi logistikganda. Hasil penelitian menunjukan 86,6% Memiliki asupan kalsium yang kurang. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan bermakna antara konsumsi susudan jenis kelamin. Hasil analisis multivariat menunjukan kebiasaan sarapan merupakan faktor yang mengontrol konsumsi susu terhadap kecukupan kalsium.Berdasarkan hasil tersebut, diharapkan mahasiswa calon tenaga kesehatan dapatmenjaga kesehatan serta asupan makanan mereka agar terhindar dari resiko penyakittulang.Kata kunci: Asupan, Kalsium, Konsumsi Susu, kebiasaan sarapan.
Calcium is a mineral constituent of bone in the human growth period. Milk is a goodsource of calcium for the body. This study purpose to determine the effect of milkconsumption habits of the adequate intake of calcium is controlled by the breakfasthabits, gender, knowledge of nutrition, physical activity, consumption of soft drinks,and parental education. The study design is cross-sectional, the number of respondents290 regular students Health Science Faculty in April 2013 until May 2014. Data wascollected through questionnaires general, knowledge questionnaire, food frequencyquestionare and 2x24 hour food recall. Statistical analysis in this study using Chisquare test and multiple logistic regression. The results showed 86.6% Have lesscalcium intake. The results of the bivariate analysis revealed that there is a significantrelationship between Calcium intake with milk consumption and sex. Multivariateanalysis showed the breakfast habit is a factor that controls the influence dairyconsumption with calcium intake. Based on these results, prospective students areexpected to maintain the health of health workers as well as their food intake in orderto avoid the risk of bone disease.Keyword: Intake, Calcium, Dairy Consumption, breakfast.
Read More
Calcium is a mineral constituent of bone in the human growth period. Milk is a goodsource of calcium for the body. This study purpose to determine the effect of milkconsumption habits of the adequate intake of calcium is controlled by the breakfasthabits, gender, knowledge of nutrition, physical activity, consumption of soft drinks,and parental education. The study design is cross-sectional, the number of respondents290 regular students Health Science Faculty in April 2013 until May 2014. Data wascollected through questionnaires general, knowledge questionnaire, food frequencyquestionare and 2x24 hour food recall. Statistical analysis in this study using Chisquare test and multiple logistic regression. The results showed 86.6% Have lesscalcium intake. The results of the bivariate analysis revealed that there is a significantrelationship between Calcium intake with milk consumption and sex. Multivariateanalysis showed the breakfast habit is a factor that controls the influence dairyconsumption with calcium intake. Based on these results, prospective students areexpected to maintain the health of health workers as well as their food intake in orderto avoid the risk of bone disease.Keyword: Intake, Calcium, Dairy Consumption, breakfast.
S-8455
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elmina Tampubolon; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Ko Promotor: Ahmad Syafiq, Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni, Asih Setiarini, Diah Mulyawati Utari, Agus Triwinarto, Anies Irawati
Abstrak:
Stunting adalah keadaan panjang/tinggi badan kurang dibandingkan dengan umur. Penyebab langsung stunting adalah riwayat sakit dan kurangnya asupan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian suplementasi susu dan biskuit terhadap pertumbuhan anak stunting usia 12-23 bulan di Kecamatan Limo Kota Depok. Desain penelitian yang adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest with control group design menggunakan empat kelompok yaitu kelompok susu, biskuit, susu + biskuit, dan kontrol. Pengukuran berat dan panjang badan dilakukan pada awal penelitian, 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian suplementasi susu, biskuit, susu + biskuit terhadap pertumbuhan anak. Perubahan z-skor PB/U baseline-endline terbesar adalah kelompok intervensi susu + biskuit (0.79). Perubahan z-skor PB/U baseline-endline pada kelompok biskuit (0.68) sedikit lebih baik dibandingkan dengan kelompok susu. Perubahan z-skor PB/U pada kelompok susu (0.66) lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol (0.19). Perubahan z-skor PB/U sangat jelas terlihat pada pengukuran ketiga dan keempat. Kepada Kemenkes agar mempertimbangkan pemberian susu atau biskuit atau keduanya yang disertai dengan edukasi sebagai salah satu program untuk menurunkan stunting pada anak usia 12-23 bulan.
Read More
D-433
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indriana Cahyo Pangestuti; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: I Made Djaja; Yulia Fitria Ningrum
S-10198
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alfiah Purbaningtyas; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Weni Praga Agusti
Abstrak:
Read More
Infeksi pada bayi masih menjadi masalah utama, terutama akibat imunitas yang belum matang. Bayi tanpa ASI eksklusif memiliki risiko diare lebih tinggi. Konsumsi susu formula meningkatkan risiko diare hingga 10,5 kali karena potensi kontaminasi dan ketiadaan komponen imunoprotektif ASI. Pada saat yang sama, promosi susu formula semakin masif dan berpotensi mempengaruhi pengetahuan, sikap, serta praktik ibu dalam pemberian makan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana ibu yang memiliki bayi di wilayah kerja Puskesmas Wonogiri memahami, menyikapi, dan mempraktikkan pemberian susu formula, serta menelaah pengaruh framing pesan iklan berdasarkan Teori Nudge. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan meliputi ibu dengan bayi usia kurang dari 6 bulan, kader kesehatan, bidan KIA, Dinas Kesehatan Wonogiri, anggota keluarga terdekat, serta pedagang susu formula.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang konsep susu formula umumnya baik, namun pemahaman mengenai kandungan serta perbedaan biologis antara susu formula dan ASI masih beragam. Media sosial, khususnya TikTok, menjadi sumber informasi utama yang membentuk persepsi awal ibu. Praktik pemberian makan bayi dipengaruhi oleh produksi ASI, kondisi medis ibu dan bayi, serta rekomendasi keluarga. Keluarga, terutama suami, ibu kandung, dan mertua, memiliki peran dominan dalam pengambilan keputusan penggunaan susu formula. Penyuluhan tenaga kesehatan turut mempengaruhi keputusan ibu, meskipun belum diterima secara merata. Dalam perspektif Teori Nudge, iklan lebih berfungsi sebagai pemicu perhatian dan pencarian informasi tambahan, sementara keputusan akhir lebih dipengaruhi oleh pengalaman sesama ibu dan dukungan keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pengaruh iklan bekerja melalui interaksi kompleks antara pesan komersial, dinamika keluarga, dan pengalaman menyusui ibu.
Infections remain a major health concern among infants, largely due to their immature immune systems. Infants who are not exclusively breastfed face a higher risk of diarrhea. Formula feeding increases the risk of diarrhea up to 10.5 times, due to potential contamination and the absence of natural immunoprotective components found in breast milk. At the same time, the promotion of infant formula has become more widespread and may influence mothers’ knowledge, attitudes, and practices in infant feeding. This study aims to explore in depth how mothers with infants in the working area of Wonogiri Primary Health Center understand, respond to, and practice formula feeding, as well as to examine the influence of advertising message framing based on Nudge Theory. A qualitative approach was used through in-depth interviews and observations. Informants included mothers with infants under six months old, health volunteers, maternal and child health midwives, the Wonogiri District Health Office, close family members, and infant formula sellers. The results show that mothers generally have good knowledge about infant formula, but their understanding of its nutritional content and biological differences compared to breast milk varies. Social media, especially TikTok, is the main source of information that shapes mothers’ initial perceptions. Infant feeding practices are influenced by breast milk production, medical conditions of the mother and baby, and family recommendations. Family members—especially husbands, biological mothers, and mothers-in-law—play a major role in decisions about using infant formula. Health education from health workers also affects mothers’ decisions, although it is not equally received by all mothers. From a Nudge Theory perspective, advertisements mainly act as attention triggers and encourage further information seeking, while final decisions are more strongly influenced by other mothers’ experiences and family support. These findings show that the influence of advertising works through a complex interaction between commercial messages, family dynamics, and mothers’ breastfeeding experiences.
S-12158
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nugrahani Meika Narvianti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Asti Praborini, Dian Kristiani Irawaty
Abstrak:
Rendahnya angka ASI eksklusif merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat. Di Indonesia, angka cakupan ASI Eksklusif adalah 52,5%. Angka tersebut masih dibawah target renstra Kemenkes 2020-2024 untuk cakupan ASI Eksklusif yaitu 69%. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data SDKI 2017. Sampel penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak terakhir kurang dari 6 bulan, memiliki data lengkap dan tidak memiliki data inkonsisten berjumlah 1.494 responden. Data dianalisis menggunakan cox regresi untuk mengetahui prevalen rasio penggunaan botol susu dengan dot dan status ASI Eksklusif. Crude dan adjusted prevalen rasio akan dinilai pada penelitian ini. Signifikansi dinilai dengan melihat rentang kepercayaan 95%. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa penggunaan botol susu dengan dot meningkatkan resiko untuk tidak ASI Eksklusif. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan dot agar bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif dapat ditekan.
The low rate of exclusive breastfeeding is a public health problem in Indonesia. The rate of exclusive breastfeeding coverage in Indonesia is 52.5%. This rate is below the Ministry of Health's target at 2020-2024 aims for the exclusive breastfeeding rate as much as 69%. The sample comes from the "Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)" in 2017, including mothers of infants less than six months whose data was complete and consistent. The sample was 1,494 respondents. Data were analyzed using Cox regression to determine the prevalence of bottle-feeding and exclusive breastfeeding status. The author analyzed the crude and adjusted prevalence ratios. The analysis of significance is using confidence range at 95% This study found that using bottle-feeding increases the risk of not exclusively breastfed among infants aged less than six months in Indonesia
Read More
The low rate of exclusive breastfeeding is a public health problem in Indonesia. The rate of exclusive breastfeeding coverage in Indonesia is 52.5%. This rate is below the Ministry of Health's target at 2020-2024 aims for the exclusive breastfeeding rate as much as 69%. The sample comes from the "Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)" in 2017, including mothers of infants less than six months whose data was complete and consistent. The sample was 1,494 respondents. Data were analyzed using Cox regression to determine the prevalence of bottle-feeding and exclusive breastfeeding status. The author analyzed the crude and adjusted prevalence ratios. The analysis of significance is using confidence range at 95% This study found that using bottle-feeding increases the risk of not exclusively breastfed among infants aged less than six months in Indonesia
T-5979
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
