Ditemukan 31 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Audi Kinanti Pasha; Pembimbing: Vetty Yuliati Permanasari; Penguji: Novita Dwi Istanti, Jaslis Ilyas
Abstrak:
Sejak ditetapkannya COVID-19 sebagai pandemi, jumlah kasus konfirmasinya terus meningkat di berbagai belahan dunia. Peningkatan kasus COVID-19 yang turut meningkatkan aktivitas rumah sakit pun ditemukkan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah dan komposisi limbah infeksius di rumah sakit. Rumah sakit perlu memperhatikkan manajemen limbahnya karena adanya kemungkinan penularan agen penyakit dari limbah terhadap staf maupun pasien dan masyarakat secara tidak langsung. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran timbulan limbah rumah sakit serta gambaran penerapan manajemen limbah rumah sakit di era pandemi COVID-19 menggunakan metode literature review. Hasil penelitian menemukkan bahwa jumlah timbulan limbah rumah sakit selama pandemi COVID-19 meningkat, begitu juga dengan proporsi limbah infeksiusnya. Hal ini terjadi akibat penggunaan peralatan sekali pakai untuk pelayanan pasien COVID-19. Beberapa permasalahan ditemukan dalam penerapan manajemen limbah rumah sakit yang berkaitan dengan sikap petugas. Masih ditemukan petugas yang tidak melakukan pemisahan limbah berdasarkan jenisnya dan petugas yang tidak menggunakan APD saat mengelola limbah rumah sakit. Metode penanganan limbah yang paling banyak digunakan adalah insinerasi, meski masih dilakukan oleh staf yang tidak terlatih. Pelatihan dan pendidikan staf ditemukkan masih belum dilakukan secara memadai. Rumah sakit perlu mememperkuat sosialisasi kebijakan, supervisi, dan pengadaan program pelatihan dan pendidikan staf terkait manajemen limbah rumah sakit.
Read More
S-11089
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Via Aulia Effendi; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Puput Oktamianti, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis gambaran indikator mutu Unit Rekam Medis RSUI tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode wawancara, observasi, pengisian matriks (MIV)/C dan telaah dokumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem yang meliputi elemen input, process, dan output. Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran kesesuaian indikator mutu rekam medis RSUI dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/2008) serta memberikan alteranatif penyelesaian masalah (solusi) untuk menjaga dan meningkatkan capaian mutu pelayanan rekam medis di Rumah Sakit Universitas Indonesia.
Read More
S-10792
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zakyta Pangestiara Gunarso; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Helen Andriani, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan dimensi mutu layanan elektronik terhadap persepsi mutu yang akan dibentuk oleh pengguna telemedicine. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional dan mengambil data primer menggunakan kuesioner secara online. Sampel berjumlah 172 responden. Analisis hubungan menggunakan metode PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi pengalaman pengguna (EXP) dan kepercayaan pengguna (TRU) terhadap persepsi mutu pengguna telemedicine (ESQ). Sedangkan dimensi lain, seperti empati (EMP), kemudahan penggunaan (EOU), privasi (PRI), reliabilitas (REL), ketanggapan (RES), ketersediaan sistem (SA), dan desain aplikasi (WD) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap persepsi mutu pengguna telemedicine (ESQ). Saran yang dapat diberikan kepada penyedia layanan telemedicine adalah untuk mengembangkan fitur voice atau video call untuk meningkatkan pengalaman pengguna, serta penambahan fitur cash on delivery pada pembelian obat untuk meningkatkan kepercayaan pengguna.
Read More
S-10776
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aliya Diandra; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Prastuti Soewondo, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Kualitas layanan yang baik diharapkan mampu memenuhi ekspektasi dan mencapai kepuasan dari pelanggan rumah sakit yang mana dapat menjadi faktor penentu loyalitas pelanggan. Loyalitas pelanggan menggambarkan kecenderungan pelanggan untuk memilih kembali layanan kesehatan pada rumah sakit tersebut apabila memerlukan pengobatan di masa mendatang. Loyalitas pelanggan dapat dinilai dari tingkat kemungkinan pelanggan untuk merekomendasikan layanan kepada keluarga atau teman dengan metode Net Promoter Score. Dalam penelitian ini, dari 67 orang responden, diperoleh hasil sebesar 49,3% pelanggan adalah promoters atau memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Rumah Sakit Universitas Indonesia pada tahun 2021 berhasil mencapai Net Promoter Score sebesar 45 dengan skala -100 sampai dengan 100 yang mana menunjukkan bahwa tingkat loyalitas pelanggan sudah pada kategori favorable.
Read More
S-10704
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Malikah Bilqis; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Adang Bachtiar, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Pengelolaan limbah padat Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di fasilitas kesehatan sangatlah penting karena berdampak signifikan terhadap kualitas pelayanan dan kesehatan lingkungan. Berdasarkan data statistik lingkungan hidup Indonesia pada tahun 2022 fasilitas pelayanan kesehatan menyumbang 726.817 ton limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) dan hanya 48.464 ton limbah yang dikelola. Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) memiliki indikator mutu untuk menilai kesesuaian pengelolaan limbah padat B3 dengan peraturan yang berlaku, namun target pencapaian indikator tersebut belum terpenuhi selama tahun 2024. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Kemudian, informasi yang diperoleh dianalisis menggunakan Root Cause Analysis (RCA) untuk diketahui akar permasalahannya. Indikator mutu pengelolaan limbah padat B3 di RSUI terdiri dari beberapa kriteria berdasarkan proses pengelolaannya, yaitu minimasi, pemilahan dan pewadahan, pengumpulan, penyimpanan, serta pengangkutan limbah padat B3. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan lima akar masalah penyebab tidak tercapainya indikator mutu pengelolaan limbah padat B3 RSUI. Pertama, sosialisasi tidak dilakukan secara rutin, melainkan didasari karena penurunan kesadaran pegawai untuk melakukan pemilahan limbah medis. Kedua, pengadaan tempat sampah ukuran besar bukan merupakan prioritas. Ketiga, anggaran terbatas dalam pemenuhan kebutuhan tenaga CSO. Keempat, proses perbaikan timbangan oleh unit sarana dan prasarana memakan waktu yang lama. Kelima, manajemen gudang farmasi dalam mengelola pemasukan obat kurang optimal.
Management of Hazardous and Toxic Solid Waste in healthcare facilities is crucial as it significantly impacts service quality and environmental health. According to Indonesia’s 2022 environmental statistics, healthcare facilities contributed 726,817 tons of hazardous and toxic waste, but only 48,464 tons were managed. Universitas Indonesia Hospital (RSUI) has established quality indicators to assess the compliance of hazardous solid waste management with applicable regulations. However, the target for achieving these indicators was not met throughout 2024. This study employed in-depth interviews, observations, and document reviews. The information obtained was then analyzed using Root Cause Analysis (RCA) to identify the root causes of the issues. The quality indicators for hazardous and toxic solid waste management at RSUI comprise several criteria based on the management process: minimization, segregation and containment, collection, storage, and transportation of hazardous and toxic solid waste. The study revealed five root causes for the failure to meet the quality indicators for hazardous and toxic solid waste management at RSUI. First, socialization efforts are not conducted regularly but are only triggered by a decline in employee awareness regarding medical waste segregation. Second, the procurement of large trash bins is not prioritized. Third, the budget is limited for meeting the demand for cleaning service officers (CSOs). Fourth, the repair process for weighing scales by the facility unit takes a long time. Lastly, pharmacy warehouse management for incoming medication is not optimized.
Read More
Management of Hazardous and Toxic Solid Waste in healthcare facilities is crucial as it significantly impacts service quality and environmental health. According to Indonesia’s 2022 environmental statistics, healthcare facilities contributed 726,817 tons of hazardous and toxic waste, but only 48,464 tons were managed. Universitas Indonesia Hospital (RSUI) has established quality indicators to assess the compliance of hazardous solid waste management with applicable regulations. However, the target for achieving these indicators was not met throughout 2024. This study employed in-depth interviews, observations, and document reviews. The information obtained was then analyzed using Root Cause Analysis (RCA) to identify the root causes of the issues. The quality indicators for hazardous and toxic solid waste management at RSUI comprise several criteria based on the management process: minimization, segregation and containment, collection, storage, and transportation of hazardous and toxic solid waste. The study revealed five root causes for the failure to meet the quality indicators for hazardous and toxic solid waste management at RSUI. First, socialization efforts are not conducted regularly but are only triggered by a decline in employee awareness regarding medical waste segregation. Second, the procurement of large trash bins is not prioritized. Third, the budget is limited for meeting the demand for cleaning service officers (CSOs). Fourth, the repair process for weighing scales by the facility unit takes a long time. Lastly, pharmacy warehouse management for incoming medication is not optimized.
S-11816
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zacharias Eko Susilo; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sistem RME terhadap produktivitas RS beserta gambaran implementasi dan faktor yang berpengaruh terhadap dampak implementasi sistem RME di RS. Metode Literature Review Naratif digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan 6 literatur terpilih dengan topik terkait yang diterbitkan dalam basis data Pubmed tahun 2015-2020. Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa faktor berpengaruh bagi RS dalam memutuskan untuk melakukan implementasi sistem RME antara lain kebijakan pemerintah, jumlah tempat tidur, lokasi RS, bed occupancy rate (BOR), jumlah pasien, arus kas, status rujukan, dan status RS Pendidikan.
Read More
S-10676
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anggrianita Meyline; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan nasional. Sebagai institusi dengan karakteristik yang kompleks, rumah sakit perlu membangun kesadaran akan budaya keselamatan guna memastikan perlindungan dan keselamatan bagi seluruh pihak yang terlibat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran budaya keselamatan terintegrasi di Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2024 dengan menggunakan Integrated Safety Culture in Hospital Assesment. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 435 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Sakit Universitas Indonesia telah mencapai tingkat budaya keselamatan terintegrasi yang baik, yaitu sebesar 81% (Level 5 – Progressive). Sebagian besar dimensi budaya keselamatan terintegrasi mencapai Level 5 – Progressive dan sebagian lainnya mencapai Level 4 – Proactive. Penelitian ini juga menemukan hubungan yang signifikan antara dimensi komunikasi efektif dan umpan balik insiden, prosedur dan tata kelola budaya keselamatan, lingkungan organisasi yang mendukung, pengembangan kapasitas (pelatihan) budaya keselamatan, kerja sama tim antar unit, dan maturitas manajemen resiko dengan status kepegawaian (tenaga kesehatan dan non-kesehatan). Namun, hubungan tersebut tidak signifikan pada dimensi komitmen manajemen, keterlibatan diri dalam budaya keselamatan, persepsi tentang budaya keselamatan, keterbukaan komunikasi dan pelaporan insiden, kerja sama tim dalam unit, dan pencegahan pen pengendalian infeksi (PPI) umum dengan status kepegawaian.
Hospitals are healthcare facilities that play a crucial role in supporting the implementation of national health efforts. As institutions with complex characteristics, hospitals need to build awareness of a safety culture to ensure protection and safety for all parties involved. This study aims to describe the integrated safety culture at Universitas Indonesia Hospital in 2024 using the Integrated Safety Culture in Hospital Assessment. The research method employed is quantitative with a cross-sectional approach, involving 435 respondents. The results showed that Universitas Indonesia Hospital has achieved a good level of integrated safety culture, reaching 81% (Level 5 – Progressive). Most dimensions of the integrated safety culture reached Level 5 – Progressive, while others achieved Level 4 – Proactive. This study also found a significant relationship between the dimensions of effective communication and incident feedback, safety culture procedures and governance, supportive organizational environment, safety culture capacity building (training), inter-unit teamwork, and risk management maturity with employment status (healthcare and non-healthcare staff). However, no significant relationship was found in the dimensions of management commitment, self-involvement in safety culture, perception of safety culture, openness of communication and incident reporting, intra-unit teamwork, and general infection prevention and control (IPC) with employment status.
S-11849
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gustiane Adriani Dwisari; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) memegang peran penting dalam menentukan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit. Indikator kinerja IGD, seperti Length of Stay (LOS), yang mengukur lama pasien d IGD dari kedatangan hingga pemulangan atau pemindahan, dapat memengaruhi tingkat kepadatan di IGD. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alur pelayanan, hambatan, dan akar penyebab masalah terkait LOS di IGD. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April-Mei 2024 dengan pendekatan kualitatif studi kasus, berupa observasi pada 30 pasien, wawancara, dan telaah dokumen. Analisis data menggunakan flowchart untuk mengidentifikasi alur pelayanan, Value Stream Mapping untuk mengenali kegiatan bernilai dan menemukan waste, serta The Five Whys untuk menganalisis akar penyebab hambatan. Metode Lean Thinking digunakan untuk menghasilkan alur dan Model BAS (Baseline, Assess, Suggest Solution) dari Model BASICS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur pelayanan pasien IGD melibatkan lima tahapan; dengan 65,5% waktu pelayanan adalah kegiatan non-value added, 23,4% kegiatan necessary but non-value added, dan 11,1% kegiatan value added, dengan total Lead Time 7 jam 55 menit 29 detik. Dari sisi pasien, waste yang terjadi meliputi waste of waiting (94,9%) dan transportation (5,1%). Bottleneck terjadi pada aktivitas menunggu terdaftar di rawat inap (25,2%), menunggu advis DPJP (22,9%), menunggu hasil pemeriksaan penunjang (22,3%), dan menunggu kesiapan rawat inap (18,2%), dengan total 88,6%. Perbaikan LOS di IGD dapat menggunakan lean tools seperti standardized work, visual management, heijunka, kaizen, dan just in time agar waste dapat dikurangi.
Emergency Department (ED) services play a crucial role in determining the quality of care and patient safety in hospitals. Performance indicators in the ED, such as Length of Stay (LOS) which measures the duration from a patient's arrival to their discharge or transfer can significantly impact the congestion levels in the ED. This study aims to identify the service flow, obstacles, and root causes of issues related to LOS in the ED. Data collection was conducted from April to May 2024 using a qualitative case study approach, including observations of 30 patients, interviews, and document reviews. Data analysis involved using flowcharts to identify the service flow, Value Stream Mapping to recognize value-added activities and identify waste, and The Five Whys to analyze the root causes of obstacles. Lean Thinking methodology was applied to develop a service flow and the BAS (Baseline, Assess, Suggest Solution) model from the BASICS model. The study results show that the patient service flow in the ED involves five stages, with 65.5% of service time consisting of non-value-added activities, 23.4% of necessary but non-value-added activities, and 11.1% of value-added activities, resulting in a total lead time of 7 hours, 55 minutes, and 29 seconds. From the patient's perspective, the waste observed includes waiting (94.9%) and transportation (5.1%). Bottlenecks were identified in activities such as waiting to be registered for inpatient care (25.2%), waiting for specialist advice (22.9%), waiting for the results of supporting examinations (22.3%), and waiting for inpatient readiness (18.2%), totaling 88.6%. Improving LOS in the ED can utilize lean tools such as standardized work, visual management, heijunka, kaizen, and just-in-time to reduce waste.
S-11692
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Khairunnisa Callista Ardinigrum; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Popy Yuniar, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Satu Sehat sebagai platform integrasi data akan memiliki kemampuan interoperabilitas berbasis rekam medis elektronik (RME). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 mengintruksikan seluruh rumah sakit untuk dapat mengimplementasikan RME yang sesuai standar interoperabilitas yang dirilis pemerintah. Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto masih mempersiapkan RME yang terintegrasi baik dalam internal pelayanan maupun Satu Sehat. Penilaian kesiapan diperlukan untuk mengidentifikasi kendala dan optimalisasi implementasi RME. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan menganalisis kesiapan rumah sakit dalam mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik (RME) dalam mendukung Satu Sehat meninjau aspek budaya organisasi, manajemen dan kepemimpinan, operasional, dan teknis. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitihan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, telaah data sekunder, dan focus group discussion. Hasil penelitian ini menemukan bahwa secara keseluruhan rumah sakit siap dalam mengimplementasikan RME yang dapat terintegrasi dengan Satu Sehat dari keempat aspek tersebut serta telah terdafar pada Satu Sehat. Meski demikian, terdapat bebeapa hal yang dapat ditingkatkan dalam implementasi RME diantaranya, penyusunan dan pendokumentasian SPO dan alur kerja RME, penambahan tenaga IT dan rekam medis, sosialisasi KLPRM, pembaharuan buku pedoman RME, penyusunan blue print manajemen TI, mitigasi risiko downtime, serta penyusunan KPI yang mengevaluasi vendor.
Satu Sehat as a data integration platform will have interoperability capabilities based on electronic medical records (RME). Minister of Health Regulation No. 24 of 2022 instructs all hospitals to be able to implement RME that complies with interoperability standards released by the government. Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto Hospital is still preparing an integrated RME in both internal services and Satu Sehat. Readiness assessment is needed to identify obstacles and optimize EMR implementation. This study aimed to determine and analyze the hospital's readiness to implement Electronic Medical Records (EMR) in supporting Satu Sehat by reviewing aspects of organizational culture, management and leadership, operational, and technical. The research method used was qualitative research with data collection through in-depth interviews, observation, secondary data review, and focus group discussions. The results of this study found that overall the hospital is ready to implement RME that can be integrated with Satu Sehat from all four aspects and has been registered with Satu Sehat. However, there are several things that can be improved in the implementation of RME, including the preparation and documentation of SOP and RME workflows, the addition of IT and medical records personnel, socialization of KLPRM, updating the RME guidebook, preparing an IT management blue print, mitigating downtime risks, and preparing KPIs that evaluate vendors.
S-11538
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ratu Raira Azzahra Pinasty; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Adang Bachtiar, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Read More
Rumah sakit menghadapi kompleksitas dalam operasional sehari-hari, di mana semua elemen, mulai dari pengunjung hingga pegawai, saling berinteraksi pada proses pemberian pelayanan. Untuk menjaga keselamatan seluruh elemen rumah sakit, perlu dibangun kesadaran budaya keselamatan yang terintegrasi. Rumah Sakit XYZ telah mengembangkan pengukuran budaya keselamatan terintegrasi yang dinamakan Integrated Safety Culture in Hospital Assessment. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang budaya keselamatan terintegrasi serta perkembangannya di RS XYZ dari tahun 2021 hingga 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional, dengan menggunakan data sekunder hasil survei berulang selama tiga tahun dengan jumlah sampel berturut-turut 419 (tahun 2021), 305 (tahun 2022), dan 418 (tahun 2023) responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Rumah Sakit XYZ telah mencapai tingkat budaya keselamatan terintegrasi yang baik, di mana sebagian besar dimensi budaya keselamatan berada pada "Level 4- Proaktif" dan sebagian lainnya pada "Level 5- Progresif". Terdapat peningkatan capaian budaya keselamatan pasien dari waktu ke waktu untuk semua dimensi, kecuali dimensi komitmen manajemen dan komunikasi efektif dan umpan balik yang mengalami penurunan atau stagnansi. Ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik dalam tingkat kematangan budaya keselamatan terintegrasi pada variabel jenis kelamin. Namun, perbedaan tersebut tidak bermakna variabel usia, pendidikan, masa kerja, dan unit kerja dengan tingkat kematangan budaya keselamatan terintegrasi.
Hospitals face complexity in their day-to-day operations, where all elements, from visitors to employees, interact in the process of providing care services. To ensure the safety of all hospital elements, it is necessary to cultivate an awareness of integrated safety culture. The XYZ Hospital has developed a measurement of integrated safety culture called the Integrated Safety Culture in Hospital Assessment. This study aims to provide an overview of the integrated safety culture and its development at XYZ Hospital from 2021 to 2023. The study adopts a quantitative approach with a cross-sectional study design, utilizing secondary data from repeated surveys over three years with successive sample sizes of 419 (2021), 305 (2022), and 418 (2023) respondents. The findings of this research indicate that the XYZ Hospital has achieved a good level of integrated safety culture, with most dimensions of safety culture at "Level 4-Proactive" and some at "Level 5-Progressive". There has been an improvement in patient safety culture over time for all dimensions, except for management commitment and effective communication/feedback, which have experienced decline or stagnation. Significant differences were found in the level of integrated safety culture maturity based on gender. However, there were no significant differences in age, education, length of employment, and work unit regarding integrated safety culture maturity.
S-11518
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
