Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hasna Irbah Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Dewi Kristanti
Abstrak: Kardiovaskular merupakan penyakit yang menyumbang angka tertinggi kematian di dunia dan di Indonesia. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko beberapa penyakit kardiovaskular dengan angka kematian tertinggi, seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Obesitas sebagai faktor risiko dominan dalam terjadinya hipertensi, terus mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2018 yang diperoleh melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Populasi penelitian ini merupakan seluruh anggota rumah tangga berusia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Terdapat sebanyak 10.870 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Sulawesi Utara tahun 2018 adalah sebesar 26,1% dan prevalensi obesitas adalah sebesar 28,8%. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi dengan nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 2,126 (95% CI 1,865-2,424) setelah di kontrol oleh variabel usia (PR= 2,144; 95% CI 1,935-2,376) dan interaksi obesitas*usia (PR= 0,687; 95% CI 0,585-0,806). Perlu dilakukannya promosi kesehatan yang mengedukasi masyarakat terkait obesitas dan hipertensi serta hubungan antara keduanya guna meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya penyakit tersebut
Read More
S-10902
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bintang Sukma Dhea Fransisca Enjellita; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Dewi Kristanti
Abstrak:
Latar belakang: Hipertensi menjadi penyebab kematian dini tertinggi di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular termasuk di Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan angka prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 34,4% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan sebesar 10,7% berdasarkan diagnosis dokter yang menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi terbesar ketiga dengan prevalensi hipertensi terbanyak pada penduduk berusia ≥ 18 tahun. Dalam penanganan penyakit hipertensi, indikator terkait terapi atau pengobatan hipertensi merupakan salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan. Data terbaru yang diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi di Jawa Barat mencapai 53,8% dengan 35,5% pasien tidak teratur minum obat dan 18,3% tidak minum obat sama sekali. Rendahnya kepatuhan pasien hipertensi untuk konsumsi obat antihipertensi masih menjadi masalah dalam penanganan hipertensi di Indonesia terutama di Jawa Barat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi pada pasien hipertensi berusia ≥ 18 tahun di Jawa Barat.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Prevalensi ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi pada pasien hipertensi usia ≥ 18 tahun di Jawa Barat adalah 53,1% dengan “merasa sudah sehat” menjadi alasan tertinggi ketidakpatuhan. Faktor yang signifikan berhubungan dengan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi meliputi berusia 18 - 59 tahun (PR = 1,23; 95% CI = 1,06 - 1,47), memiliki tingkat pendidikan rendah (PR = 1,17; 95% CI = 1,09 - 1,27), tidak memiliki jaminan kesehatan (PR = 1,26; 95% CI = 1,18 - 1,36), merokok (PR = 1,12; 95% CI = 1,04 - 1,21), tidak memiliki pengetahuan terkait konsumsi obat antihipertensi (PR = 1,88; 95% CI = 1,72 - 1,97). Kesimpulan: Pemerintah perlu meningkatkan edukasi kesehatan dan menekankan pentingnya rutin mengonsumsi obat antihipertensi meskipun tidak merasakan gejala. Selain itu, diperlukan kerja sama lintas sektor untuk mendukung pencegahan ketidakpatuhan konsumsi obat antihipertensi.
Background: Hypertension is the leading cause of premature death worldwide and is a major risk factor for cardiovascular diseases, including in Indonesia. West Java is the province with the highest prevalence of hypertension in Indonesia, with a rate of 34.4% based on blood pressure measurements and 10.7% based on doctor diagnoses. This makes West Java the third largest province in terms of hypertension prevalence among individuals aged ≥ 18 years. In managing hypertension, indicators related to hypertension therapy or medication are crucial factors that need attention. Recent data from the Indonesia Health Survey (SKI) shows that non-adherence to antihypertensive medication in West Java reaches 53.8%, with 35.5% of patients taking medication irregularly and 18.3% not taking medication at all. The low level of adherence among hypertensive patients to taking antihypertensive medication remains a significant issue in hypertension management in Indonesia, particularly in West Java. Objective: This study aims to identify the factors associated with non-adherence to antihypertensive medication among hypertensive patients aged ≥ 18 years in West Java. Methods: This research used a cross-sectional study design with univariate and bivariate analyses. Results: The prevalence of non-adherence to antihypertensive medication among hypertensive patients aged ≥ 18 years in West Java is 53.1%, with “feeling healthy” being the most common reason for non-adherence. Significant factors associated with non-adherence to antihypertensive medication include: being aged 18–59 years (PR = 1.23; 95% CI = 1.06–1.47), having a low education level (PR = 1.17; 95% CI = 1.09–1.27), lacking health insurance (PR = 1.26; 95% CI = 1.18–1.36), smoking (PR = 1.12; 95% CI = 1.04–1.21), and lacking knowledge related to antihypertensive medication (PR = 1.88; 95% CI = 1.72–1.97). Conclusion: The government needs to enhance health education and emphasize the importance of regularly taking antihypertensive medication, even when no symptoms are present. Additionally, cross-sector collaboration is necessary to support the prevention of non-adherence to antihypertensive medication.
Read More
S-12011
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurfadilah M. Rajab; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Dewi Kristanti
Abstrak:
Prevalensi permil kanker pada wilayah urban di Indonesia melampaui prevalensi nasional dan jauh lebih tinggi dari prevalensi kanker di wilayah rural disertai pola konsumsi dan gaya hidup yang berisiko terhadap kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi pola konsumsi, gaya hidup, dan sosiodemografi terhadap kejadian kanker pada wilayah urban di Indonesia menggunakan data Riskesdas 2018. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan sampel yaitu penduduk perkotaan berusia ≥10 tahun sesuai kriteria inklusi yang kemudian diolah menggunakan analisis univariat, bivariat, multivariat, dan stratifikasi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak melakukan aktivitas fisik berat (AOR= 1.43), usia ≥44 tahun (AOR= 3.36), jenis kelamin perempuan (AOR= 3.69) ditemukan sebagai faktor risiko utama terjadinya kanker pada wilayah urban di Indonesia dalam penelitian ini.

The prevalence of cancer in urban areas in Indonesia exceeds the national prevalence and far higher than the prevalence of cancer in rural areas, accompanied by consumption patterns and lifestyles that are at risk to health. This study aims to determine the correlation between consumption patterns, lifestyles, and sociodemographics to the incidence of cancer in urban areas in Indonesia using the data of Riskesdas 2018. The research design used a cross-sectional study with a sample of urban residents aged ≥10 years according to inclusion criteria which were then processed using univariate, bivariate, multivariate, and stratification analysis. Based on the results of the study, it was found that not doing strenuous physical activity (AOR= 1.43), age ≥44 years (AOR= 3.36), female (AOR= 3.69) were found to be the main risk factors for cancer in urban areas in Indonesia.
Read More
S-11291
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahwa Elae Azzahra; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Dewi Kristanti
Abstrak:
Stroke menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Menurut riskesdas 2018 bahwa prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter sebesar 1,09%. Provinsi Bangka Belitung menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi stroke yang melebihi angka nasional dan urutan ketujuh tertinggi dari hasil Riskesdas pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor kondisi kesehatan dan perilaku terhadap kejadian stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain studi cross sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sumber data yang digunakan dari Riskesdas 2018. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung sebesar 1,6%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stroke antara lain diabetes melitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hipertensi (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesitas (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), dan aktivitas fisik (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Menerapkan perilaku hidup sehat dan cek rutin kesehatan terutama yang memilki risiko seperti diabetes melitus, hipertensi, dan obesitas. Kata kunci: Stroke, kondisi kesehatan, perilaku, Bangka Belitung, Riskesdas 2018

Stroke is a health problem in the world including in Indonesia. According to Riskesdas 2018, the prevalence of stroke in Indonesia based on a doctor's diagnosis is 1,09%. Bangka Belitung Province is one of the provinces with a prevalence of stroke that exceeds the national rate and ranks seventh highest from the results of Riskesdas 2018. This study aims to determine the relationship between health conditions and behavioral factors with stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province. The method used in this study was a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The data in this study are secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that the prevalence of stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province was 1.6%. Statistical tests that have a significant relationship with stroke include diabetes mellitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hypertension (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesity (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), and physical activity (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Healthy lifestyle behaviors and regular health checks, especially for those who have risks such as diabetes mellitus, hypertension, and obesity. Keywords: Stroke, health condition, behavior, Bangka Belitung, Riskesdas 2018
Read More
S-11234
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nysa Ro Aina Zulfa; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Yovsyah, Dewi Kristanti
Abstrak:
Pendahuluan: Dislipidemia adalah suatu kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan adanya peningkatan dari kadar kolesterol total, kolesterol LDL atau trigliserida di atas nilai rujukan normal serta adanya penurunan konsentrasi kolesterol HDL di dalam darah atau kombinasi. Dislipidemia merupakan silent risk pada kesehatan populasi secara umum. Kondisi berat badan lebih dinilai berasosiasi terhadap kondisi dislipidemia sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi berisiko terhadap kejadian dislipidemia. Metode: Desain studi pada penelitian ini adalah cross sectional menggunakan data rekam medis pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUD Cibabat pada kurun waktu 1 januari 2022-31 Desember 2022. Analisis dilakukan secara deskriptif dan estimasi dengan menggunakan analisis modifikasi cox regresi. Pada tahap analisis status gizi dibagi menjadi dua, yaitu berisiko jika berat badan lebih dan obesitas, tidak berisiko jika berat badan kurang dan normal. Hasil: Total responden pada penelitian ini adalah 344. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi insiden dislipidemia adalah sebesar 45,9%, dan sebanyak 64,38% terjadi pada responden dengan status gizi berisiko. Asosiasi yang didapat pada penelitian ini bahwa status gizi berisiko memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami dislipidemia dibandingkan status gizi tidak berisiko (PR= 2,154; 1,552 – 2,988). Faktor usia yang lebih tua, pendidikan tinggi, status pernah merokok, dan riwayat DM tipe 2 secara crude mempengaruhi hubungan status gizi berisiko terhadap kejadian dislipidemia. Kesimpulan: Status gizi berisiko meningkatkan risiko terhadap kejadian dislipidemia. Status pendidikan, riwayat merokok, dan riwayat DM tipe 2 mempengaruhi kejadian dislipidemia pada status gizi berisiko.

Introduction: Dyslipidemia is a disorder of lipid metabolism characterized by an increase in total cholesterol, LDL cholesterol or triglyceride levels above normal reference values and a decrease in HDL cholesterol concentration in the blood or a combination. Dyslipidemia is a silent risk to the health of the population in general. The condition of body weight is considered more associated with dyslipidemia conditions so that it increases the risk of various chronic diseases. This study aims to determine the relationship between nutritional status is at risk status and the incidence of dyslipidemia. Methods: The study design in this study was cross-sectional using patient medical record data at the Outpatient Installation of Cibabat Hospital in the period 1 January 2022-31 December 2022. Analysis was carried out descriptively and estimated using modified cox regression analysis. At the analysis stage, nutritional status is divided into two, namely at risk if are overweight and obese, not at risk if are underweight and normal. Results: The total number of respondents in this study was 344. The results showed that the proportion of incidents of dyslipidemia was 45.9%, and as many as 64.38% occurred in respondents with at-risk nutritional status. The association obtained in this study was that nutritional status at risk had a two times higher risk of experiencing dyslipidemia than nutritional status without risk (PR = 2.154; 1.552 – 2.988). Older age, higher education, smoking status, and history of type 2 DM crudely affect the relationship between risky nutritional status and dyslipidemia. Conclusion: Nutritional status is at risk of increasing the risk of dyslipidemia. Educational status, history of smoking, and history of type 2 DM affect the incidence of dyslipidemia in at-risk nutritional status
Read More
T-6669
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratih Febriani; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Dewi Yunia, Dewi Kristanti
Abstrak: Hipertensi telah menjadi penyakit tidak menular yang secara global paling banyak diderita. Diperkirakan sekitar 40% penduduk di deluruh dunia mengalami hipertensi. Stres emosional merupakan salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Pada individu usia produktif sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja sehingga sangat rentan untuk terpapar stres kerja yang dalam waktu berkepanjangan akan berdampak pada kesehatan para pekerja. Supir merupakan satu dari sepuluh jenis pekerjaan dengan tingkat stres okupasional yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan kejadian hipertensi pada pekerja yang berstatus sebagai supir pribadi di perusahaan armada transportasi, PT Prima Armada Raya DKI Jakarta. Desain studi cross-sectional dilakukan pada 229 pekerja yang berstatus aktif selama Mei -Juni 2021. Stres kerja dinilai dengan menggunakan kuisioner Survey Diagnosis Stres (SDS) 30 yang bertujuan menilai beberapa komponen seperti ambiguitas peran, konflik peran, overload beban kerja kuantitatif, overload beban kerja kualitatif, pengembangan karir dan tanggung jawab terhadap orang lain. Hasil analisis multivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara stres kerja dengan hipertensi (PR 8.345 (95% CI: 1.010-68.946; p-value: 0,049) setelah dikontrol oleh variabel kovariat yaitu usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, riwayat hipertensi keluarga dan obesitas. Program pemantauan kesehatan berkala dan manajemen stres kerja penting untuk dilakukan sebagai inteervensi dalam mencegah timbulnya hipertensi akibat stres kerja. Penelitian lanjutan pada jenis profesi lain mungkin perlu dilakukan.
Hypertension has become the most common non-communicable disease globally. It is estimated that around 40% of the world's population has hypertension. Emotional stress is one of its modifiable risk factors. In productive age individuals, most of their time is spent at work so they are very vulnerable to being exposed to occupational stress which in a prolonged period will have an impact on the health of workers. A driver is one of ten types of work with high level of occupational stress. This study aims to determine the association of occupational stress with hypertension in workers who are private drivers in a transportation fleet company PT Prima Armada Raya DKI Jakarta. The cross-sectional study design was conducted on 229 workers who were active during May-June 2021. Work stress was assessed using a Stress Diagnosis Survey (SDS) 30 questionnaire which aims to assess several components such as role ambiguity, role conflict, quantitative-work overload, qualitative-work overload, career development and responsibility towards others. The results of multivariate analysis showed that there was a statistically significant relationship between work stress and hypertension (PR 8.345 (95% CI: 1.010-68.946; p-value: 0.049) after being controlled by covariate variables, namely age, smoking habits, alcohol consumption, level of physical activity, history of family hypertension and obesity. Periodic medical check-up programs and work stress management are important as interventions in preventing the occurrence of hypertension due to occupational stress. Further research on other types of professions may need to be done
Read More
T-6222
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Surya Kusuma; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Renti Mahkota, Dewi Kristanti, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Penyakit Jantung Koroner (PJK) masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada perempuan di Indonesia. Epidemi obesitas yang terjadi secara global ikut berkontribusi pada meningkatnya kejadian kardiovaskular. Di Indonesia, belum banyak studi yang mempelajari hubungan obesitas sentral dengan PJK pada perempuan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian PJK pada perempuan usia 25-65 tahun di Kota Bogor. Penelitian kohort retrospektif ini mengikutsertakan 2.451 responden Studi Kohor FRPTM yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan masa pengamatan selama 6 tahun. Pajanan utama yang diteliti adalah obesitas sentral berdasarkan rasio Lingkar Pinggang - Tinggi Badan (LPTB), dengan outcome berupa PJK yang ditegakkan berdasarkan hasil wawancara responden dan/atau hasil EKG. Analisis multivariat dengan Cox Regression dilakukan untuk mengestimasikan Hazard Ratio (HR) dengan 95% Confidence Interval (95% CI). Hasil penelitian menunjukkan insiden rate PJK pada perempuan adalah sebesar 19 per 1.000 orang-tahun. Perempuan dengan obesitas sentral memiliki risiko 1,38 kali (95% CI 1,01-1,89) lebih tinggi dibanding yang tidak obesitas sentral untuk mengalami PJK setelah mengontrol variabel usia, hipertensi, dan status menopause. Deteksi dini faktor risiko PJK, terutama obesitas sentral, penting dilakukan agar upaya pencegahan dan perubahan perilaku dapat segera dilakukan.
Coronary Heart Disease (CHD) remains a major cause of morbidity and mortality in women in Indonesia. The global epidemic of obesity contributes to the increase of cardiovascular events. In Indonesia, there have not been many studies evaluate the association between abdominal obesity and CHD in women. Therefore, this study aims to determine the association between abdominal obesity and CHD in women aged 25-65 years in Bogor. This retrospective cohort study involves 2.451 respondents of FRPTM Cohort Study who met the inclusion and exclusion criteria with an observation period of 6 years. The main independent variable of this study was abdominal obesity based on Waist-to-Height-Ratio (WHtR), while outcome of the interest was CHD based on the results of interview and/or ECG results. Cox regression analysis was performed to estimated Hazard Ratio (HR) with a 95% Confidence Interval (95% CI). The results showed that the incidence rate of CHD in women was 19 per 1.000 person-years. Women with abdominal obesity were 1,38 times (95% CI 1,01-1,89) more likely to have CHD than those without abdominal obesity after adjustment for age, hypertension, and menopause status. Early detection of CHD risk factor, especially abdominal obesity, is important, so that prevention and lifestyle modification can be implemented immediately.
Read More
T-6590
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadia Isnaini; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang cukup serius sebab kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. PGK berada pada peringkat ke-10 penyebab kematian global. Selain itu, pengobatan PGK juga membutuhkan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang. Diabetes mellitus yang merupakan faktor risiko utama terjadinya PGK juga mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan data sekunder dari Riskesdas 2018. Setelah menyesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel penelitian sebanyak 7.427 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi PGK pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,5% dan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,7%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat hubungan antara diabetes mellitus dengan PGK dengan Prevalence Odds Ratio (POR) sebesar 3,549 (95% CI=1,461-8,617). Setelah dilakukan stratifikasi diketahui bahwa usia berpotensi menjadi confounding dengan nilai POR sebesar 2,69 (95% CI=1,04-6,93). Oleh karena itu, promosi kesehatan dan deteksi dini diabetes mellitus perlu digencarkan sebagai upaya pencegahan PGK.

Chronic kidney disease (CKD) is serious health problem because the prevalence continues to increase from year to year. Based on WHO data in 2019, CKD was the 10th most common cause of death globally. In addition, CKD treatment also requires a lot of money and a long period of time. Diabetes mellitus as a major risk of CKD also experienced an increase in prevalence from year to year in DKI Jakarta Province. This study aimed to determine the association between diabetes mellitus and chronic kidney disease in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province in 2018. This study used quantitative method with a cross-sectional study design and secondary data obtained from Basic Health Research (Riskesdas) 2018). After adjusting the inclusion and exclusion criteria, a sample of 7,427 people was obtained. The result showed that the prevalence of CKD in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province was 0,5% and the prevalence of diabetes mellitus was 5,7%. Based on the statistical analysis showed that there was a relationship between diabetes mellitus and CKD with Prevalence Odds Ratio (POR) of 3,549 (95% CI=1,461-8,617). After stratification, it was found that age had the potential to be confounding with a POR value of 2.69 (95% CI=1.04-6.93). Therefore, health promotion and early detection of diabetes mellitus need to be intensified as an effort to prevent CKD.
Read More
S-11230
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Fajri Widyasari
Abstrak:
Penyakit kardiovaskuler masih menjadi permasalahan global dan merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Penyakit kardiovaskuler adalah kelompok penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah termasuk didalamnya adalah penyakit jantung koroner (PJK) dan penyakit jantung lainnya. Hipertensi adalah salah satu faktor risiko PJK yang dapat di modifikasi. Peningkatan tekanan darah secara signifikan meningkatkan risiko PJK. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang. Data penelitian menggunakan data sekunder dari Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) di Kecamatan Bogor Tengah pada Tahun 2017 – 2018. Populasi sumber pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang mengikuti studi kohor FRPTM yang mengikuti periode pengambilan data baseline di tahun 2011 dan 2012. Analisis multivariat dilakukn dengan regresi logistik ganda. Hasil dari penelitian ini adalah prevalensi PJK pada tahun 2017-2018 sebesar 5.3% dan prevalensi hipertensi sebesar 43.48%. Hipertensi secara signifikan berhubungan dengan PJK dengan aOR 2.90 (95% CI, 2.04 – 4.12) setelah dikontrol variabel kovariat. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi program pengendalian penyakt tidak menular di Indonesia untuk meningkatkan skrining pada penderita dengan faktor risiko PJK terutama penderita hipertensi.



Cardiovascular disease is a global health problem and the most causes of death in the world. Cardiovascular disease is a group of diseases that attack the heart and blood vessels, including coronary heart disease (CHD) and other heart diseases. Hypertension is a modifiable CHD risk factor. Elevated blood pressure significantly increases the risk of CHD. This research is an observational study with a cross-sectional design. This study used secondary data from the Non-Communicable Disease Risk Factor Cohort Study (FRPTM) at Bogor Tengah District on 2017 – 2018. The source population in this study were all people who participated in the FRPTM cohort study who participated in the baseline data collection period in 2011 and 2012. The multivariate analysis was performed using multiple logistic regression. The results of this study were that the prevalence of CHD in 2017-2018 was 5.3% and the prevalence of hypertension was 43.48%. Hypertension was significantly associated with CHD with an adjusted OR of 2.90 (95% CI, 2.04 – 4.12) after controlling for covariate variables. The results of this study are expected to be input for non-communicable disease control programs in Indonesia to improve screening of patients with CHD risk factors, especially those with hypertension
Read More
T-6745
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rini Fatihatun Nisa; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti, Nenden Hikmah Laila
Abstrak:

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini global dan prevalensinya masih tinggi di Indonesia. Obesitas sentral diidentifikasi sebagai faktor risiko yang signifikan terhadap hipertensi, termasuk pada kelompok berisiko tinggi seperti jemaah haji. Analisis ini bertujuan mengetahui risiko obesitas sentral terhadap hipertensi derajat satu pada jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024.
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cros-sectional) pada data Siskohatkes hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024 berusia 20-70 tahun dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (N=4.650). Uji cox regression yang dimodifikasi dilakukan untuk memperoleh Prevalence Ratio (PR) dan 95% CI yang diestimasi dari nilai Hazard Ratio (HR).
Prevalensi hipertensi derajat satu pada jemaah haji provinsi Banten tahun 2024 sebesar 34,37%. Jemaah haji dengan hipertensi derajat satu pada kelompok obesitas sentral lebih tinggi (38,11%) dibandingkan yang tidak obesitas sentral. Setelah dikontrol IMT, obesitas sentral dapat meningkatkan risiko hipertensi derajat satu sebesar 1,12 kali (95% CI: 1,00–1,27). Risiko obesitas sentral terhadap kejadian hipertensi derajat satu pada subpopulasi umur dan jenis kelamin meningkat seiring bertambahnya usia. Dibandingkan laki-laki, risiko obesitas sentral terhadap hipertensi derajat satu pada perempuan terjadi lebih awal di usia muda pada 20-29 tahun, sedangkan pada laki-laki dimulai usia 40-59 lansia.
Obesitas sentral memiliki hubungan signifikan dan meningkatkan risiko hipertensi derajat satu pada jemaah haji Provinsi Banten tahun 2024. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi obesitas sentral dalam upaya pencegahan hipertensi, khususnya pada populasi berisiko tinggi.

Hypertension is one of the leading causes of premature death globally, and its prevalence remains high in Indonesia. Central obesity has been identified as a significant risk factor for hypertension, including among high-risk groups such as Hajj pilgrims. This study aimed to analyze the association between central obesity and stage 1 hypertension in Hajj pilgrims from Banten Province in 2024. A cross-sectional design was conducted using Siskohatkes RI health examination data from Hajj pilgrims aged 20–70 years in Banten Province in 2024 who met the inclusion and exclusion criteria (N=4,650). A modified Cox regression analysis was conducted to estimate the Prevalence Ratio (PR) and 95% Confidence Interval (CI) derived from the Hazard Ratio (HR). The prevalence of stage 1 hypertension among Hajj pilgrims in Banten Province in 2024 was 34.37%. The proportion of stage 1 hypertension was higher among pilgrims with central obesity (38.11%) compared to those without central obesity. After controlling for Body Mass Index (BMI), central obesity was found to increase the risk of stage 1 hypertension by 1.12 times (95% CI: 1.00–1.27). Central Obesity increases the risk of stage one hypertension with age appearing earlier in younger females and later in pre-elderly males. Central obesity has a significant association with an increased risk of stage 1 hypertension among Hajj pilgrims from Banten Province in 2024. These findings show that the importance of early detection and intervention of central obesity in the prevention of hypertension, especially in high-risk populations.

 

Read More
T-7333
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive