Ditemukan 35506 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ni Wayan Ratih Prayudactuti; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Heni Mayawati
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan masalah yang sering dialami oleh penghuni gedung namun penyebabnya tidak diketahui pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi CO2 udara dalam ruang dengan kejadian SBS di gedung Rektorat Universitas Indonesia. Digunakan disain studi cross-sectional, variabel independen adalah konsentrasi CO2 dan variabel kovariat adalah konsentrasi formaldehida, suhu, kelembaban, usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok dan riwayat alergi. Analisa statistik memberikan hasil proporsi kejadian SBS adalah 58%, dari 8 variabel yang berhubungan signifikan secara statistik adalah konsentrasi CO2 (3,02; 1,32-6,89), formaldehida (0,3; 0,14-0,76), suhu (11,2; 2,35-53,4), kelembaban (8,01; 2,96-21,68), usia (3,67; 1,45-9,01), jenis kelamin (2,87; 1,23-6,66), dan kebiasaan merokok (3,41; 1,23-9,41). Disimpulkan bahwa kelompok yang berisiko (konsentrasi CO2 > 449 ppm) 1,14 kali berpeluang untuk mengalami kejadian SBS dibandingkan pada kelompok yang tidak berisiko ((konsentrasi CO2 ≤ 449 ppm). Kata Kunci : Sick Building Syndrome, CO2, Kualitas udara dalam ruang
Read More
S-8614
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arsi Fatin Amani; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Dewi Susanna, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Banyaknya waktu yang digunakan masyarakat perkotaan untuk beraktivitas di dalam ruangan dapat menimbulkan masalah kesehatan akibat kualitas udara di dalam ruangan, seperti Sick Building Syndrome (SBS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah koloni bakteri di udara dalam ruang dengan keluhan SBS pada Pegawai di gedung Pusat Administrasi Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan variabel independen adalah jumlah koloni bakteri; variabel dependen adalah keluhan SBS. Suhu, kelembaban, dan pencahayaan, serta jenis kelamin, masa bakti kerja, usia, riwayat alergi, dan kebiasaan merokok adalah variabel kovariat. Analisis statistik menunjukkan proporsi keluhan SBS sebesar 60,4% (64 responden). Jumlah koloni bakteri tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan SBS. Dari hasil analisis diketahui bahwa jenis kelamin dan riwayat alergi memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan SBS.
Read More
S-10075
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachma Aditria Suci; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Haryanto, Sari Hasanah
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh penghuni di gedung perkantoran. SBS dapat disebabkan karena kualitas udara dalam ruang dan karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah total koloni bakteri di udara dalam ruang dengan kejadian SBS di Arsip Nasional Republik Indonesia. Digunakan desain studi cross sectional, variabel independen yaitu jumlah total koloni, variabel confounding yaitu suhu, kelembaban relatif, pencahayaan, usia, jenis kelamin, masa kerja, riwayat alergi dan kebiasaan merokok. Analisis statistik memberikan hasil proporsi kejadian SBS pada pegawai di Arsip Nasional Republik Indonesia Tahun 2019 sebesar 60%. Dari 9 variabel yang diuji, hanya variabel usia (OR= 0,43; 95%CI= 0,189-0,969) yang berhubungan signifikan secara statistik.
Kata kunci: Sick Building Syndrome, Bakteri, Kualitas Udara dalam Ruang
Read More
Kata kunci: Sick Building Syndrome, Bakteri, Kualitas Udara dalam Ruang
S-10029
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Christabel Caroline Franswijaya; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Laila Fitria, Ricki M. Mulia
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan masalah yang sering dialami oleh penghuni gedung namun penyebabnya tidak diketahui pasti. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas udara dalam ruang dengan kejadian SBS di gedung 4 BPS Jakarta Pusat. Digunakan disain studi cross-sectional, variabel independen adalah kualitas udara dalam ruang (kadar PM10,suhu, kelembaban) dan karakteristik individu (jenis kelamin, kelompok pekerjaan, durasi penggunaan komputer). Analisa statistik memberikan hasil proporsi kejadian SBS adalah 45,2%, dari enam variabel yang berhubungan signifikan secara statistik adalah jabatan sekretarial (p-value=0,022, OR=3,714). Lantai dengan kadar PM10, suhu, dan kelembaban tinggi memiliki kejadian SBS yang tinggi juga, dan sebaliknya.Kata kunci:Sick building syndrome, kualitas udara dalam ruang, PM10
Sick Building Syndrome (SBS) is a frequent problem experienced by residents ofbuildings but the causes are still unknown. This study aims to determine therelationship between the indoor air quality with SBS occurence in 4th building ofBPS, Central Jakarta. We used cross-sectional study design, with the indoor airquality (PM10 levels, temperature, humidity) and individual characteristics(gender, occupation, duration of computer use) as independent variables. From theresults of statistical analysis, SBS incidence proportion is 45.2%, from all sixvariables the one that is statistically significant is secretarial position (p value =0.022, OR = 3.714). Floors with high PM10 levels, temperature, and high humidityhave a high incidence of SBS as well, and vice versa.Keywords:sick building syndrome, indoor air quality, PM10.
Read More
Sick Building Syndrome (SBS) is a frequent problem experienced by residents ofbuildings but the causes are still unknown. This study aims to determine therelationship between the indoor air quality with SBS occurence in 4th building ofBPS, Central Jakarta. We used cross-sectional study design, with the indoor airquality (PM10 levels, temperature, humidity) and individual characteristics(gender, occupation, duration of computer use) as independent variables. From theresults of statistical analysis, SBS incidence proportion is 45.2%, from all sixvariables the one that is statistically significant is secretarial position (p value =0.022, OR = 3.714). Floors with high PM10 levels, temperature, and high humidityhave a high incidence of SBS as well, and vice versa.Keywords:sick building syndrome, indoor air quality, PM10.
S-7565
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Faradhila Aushafiana Manaf; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Haryanto, Fitri Kurniasari, Aria Kusuma, Okta Mutiara Marlina
Abstrak:
Read More
Sick Building Syndrome (SBS) adalah sekelompok gejala nonspesifik yang dialami oleh pekerja di suatu gedung yang disebabkan oleh kualitas udara dalam ruang yang buruk. Gejalanya cenderung meningkat seiring lamanya waktu individu berada di dalam gedung dan membaik atau menghilang ketika meninggalkan gedung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan PM2,5, PM10, dan angka kuman di udara dalam ruang dengan kejadian SBS pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gedung Dinas Kesehatan Kota Bekasi tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 85 ASN. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei 2026 melalui kuesioner standar MM-040-NA serta pengukuran kualitas udara dalam ruang lingkungan kerja. Pengukuran dilakukan 1 kali pada jam 09.00-11.00 hari senin, rabu, dan jumat. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PM2,5 (OR=3,241), suhu (OR=4,571), pencahayaan (OR=3,330), dan riwayat penyakit (OR=3,603) dengan kejadian SBS. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa riwayat penyakit merupakan satu-satunya variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian SBS (OR=4,143) setelah dikontrol oleh PM2,5, PM10, suhu, pencahayaan, dan faktor psikososial. Upaya pencegahan SBS perlu difokuskan pada perbaikan kualitas lingkungan kerja sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan ASN melalui pemantauan kesehatan berkala, khususnya pada ASN yang memiliki riwayat penyakit.
Sick Building Syndrome (SBS) is a group of non-specific symptoms experienced by workers in a building due to poor indoor air quality. The symptoms tend to worsen with prolonged occupancy and improve or disappear after leaving the building. This study aimed to analyze the relationship between indoor PM2.5, PM10, air germ counts, and the occurrence of SBS among Civil Servants (ASN) working at the Bekasi City Health Office Building in 2026. This study employed a cross-sectional design with a sample of 85 ASN. Data collection was conducted in May 2026 using the MM-040-NA standard questionnaire and indoor workplace air quality measurements. Measurements were conducted once during 09:00–11:00 AM on Monday, Wednesday, and Friday. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between PM2.5 (OR=3.241), temperature (OR=4.571), lighting (OR=3.330), medical history (OR=3.603), and the occurrence of SBS. Multivariate analysis revealed that medical history was the only variable significantly associated with SBS (OR=4.143) after being controlled by PM2.5, PM10, temperature, lighting, and psychosocial factors. Therefore, SBS prevention efforts should focus on improving workplace environmental quality and conducting regular health monitoring, particularly for employees with a medical history.
T-7578
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisya Noor Ghaida ; Pemibmbing; Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Heri Nugroho
Abstrak:
Read More
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kumpulan gejala yang dialami individu akibat paparan lingkungan dalam ruang yang tidak sehat, termasuk kualitas udara yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parameter kualitas udara dalam ruang—meliputi konsentrasi kapang, suhu, dan kelembapan relatif—dengan kejadian SBS pada pengguna laboratorium di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Sebanyak 86 responden dari lima laboratorium berpartisipasi, dengan karakteristik mayoritas berusia 20–24 tahun dan memiliki waktu paparan lebih dari 4 jam per hari di laboratorium. Pengukuran parameter lingkungan dilakukan di 10 titik, mencakup dua titik per laboratorium, dan data gejala SBS dikumpulkan melalui kuesioner. Uji Chi-Square menunjukkan bahwa 77,9% responden mengalami gejala SBS, namun tidak terdapat hubungan signifikan antara parameter lingkungan yang diuji dan kejadian SBS. Nilai p untuk kapang, suhu, dan kelembapan berturut-turut adalah 0,877; 0,705; dan 0,795. Meskipun tidak signifikan secara statistik, beberapa rasio odds menunjukkan kecenderungan risiko. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan kualitas udara dalam ruang di lingkungan akademik untuk mengurangi potensi risiko kesehatan jangka panjang.
Sick Building Syndrome (SBS) refers to a set of symptoms experienced by individuals due to prolonged exposure to poor indoor environmental conditions, including substandard air quality. This study aimed to assess the relationship between indoor air quality parameters—mold concentration, temperature, and relative humidity—and the occurrence of SBS among laboratory users at the Faculty of Engineering, Universitas Indonesia. A total of 86 respondents participated, primarily aged 20–24 years, with most spending over four hours daily in laboratory spaces. Environmental measurements were taken from 10 sampling points, covering two points in each of the five laboratories. SBS symptoms were collected through structured questionnaires. Chi-square analysis revealed that 77.9% of respondents reported experiencing SBS symptoms. However, no statistically significant association was found between the tested environmental parameters and SBS occurrence, with p-values of 0.877 for mold, 0.705 for temperature, and 0.795 for humidity. Although not statistically significant, several odds ratios indicated a potential risk trend. These findings highlight the importance of maintaining healthy indoor air quality in academic laboratory environments to mitigate potential long-term health effects among occupants.
Sick Building Syndrome (SBS) refers to a set of symptoms experienced by individuals due to prolonged exposure to poor indoor environmental conditions, including substandard air quality. This study aimed to assess the relationship between indoor air quality parameters—mold concentration, temperature, and relative humidity—and the occurrence of SBS among laboratory users at the Faculty of Engineering, Universitas Indonesia. A total of 86 respondents participated, primarily aged 20–24 years, with most spending over four hours daily in laboratory spaces. Environmental measurements were taken from 10 sampling points, covering two points in each of the five laboratories. SBS symptoms were collected through structured questionnaires. Chi-square analysis revealed that 77.9% of respondents reported experiencing SBS symptoms. However, no statistically significant association was found between the tested environmental parameters and SBS occurrence, with p-values of 0.877 for mold, 0.705 for temperature, and 0.795 for humidity. Although not statistically significant, several odds ratios indicated a potential risk trend. These findings highlight the importance of maintaining healthy indoor air quality in academic laboratory environments to mitigate potential long-term health effects among occupants.
S-12050
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosa Jaya; Pembimbing: Sumengen Sutomo, I Made Djaja; Penguji: Robiana Modjo, Sutaryana, Azhar Jaya
Abstrak:
Read More
Kualitas udara dalam ruangan kelja yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dapat menyebabkan ruangan kerja tidak nyaman; dampak negatif terhadap karyawan berupa keluhan kesehatan yang dikenal dengan istilah sick building syndrome 6985). Keluhan SBS biasanya tidak terlalu parah dan tidak diketahui penyebabnya, tetapi mengurangi produktivitas kerja. Sejumlah penelitian pada lingkungan yang berbeda menunjukkan bahwa faktor-faktor intcmal dan ekstemal mempengaruhi kejadian SBS. Informasi mengenai kualitas udara dalam mangan gedung perkantoran Departemen Kesehatan (Dcpkes) belum dikctahui, walaupun sudah banyak Iaporan tentang keluhan SBS. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai kualitas udara di gcdung Depkes Jakarta, Serta kejadian SBS dan ihktor-faktor yang mempengaruhinya. Menggunakan studi cross-seczional hersifat deskriptif analitik; melibatkan 242 karyawan Depkes scbagai responden. Kriteria respondcn adalah orang sehat tidak menderita penyakit sesuai diagnosa dokter dan tidak sedang hamil. Untuk memperoleh data mengenai, karakteristik, psikologis dan posisi kelja yang ergonomik dari responden menggunakan kucsioner teramh dan terstruktur. Sedangkan pengukuran konsentrasi NO2, CO, C0;, SO2, H2S, NH; and PM|0 scbagai indikator kualitas udara dilakukan pada 10 ruangan. Kualitas udara dalam ruangan masih memcnuhi persyaratan scsuai Keputusan Mentcri Kesehatan No. 1405/Menkes/SK/XI/2002. Kadar NO2, SO2, and NH; terdeteksi pada tiga ruangan. Konsenlrasi C0 pada setiap ruangan sama; C02, H2S, and PMN lerdetcksi pada setiap ruangan dengan konscntrasi berbeda-beda. Pencahayaan pada seluruh ruangan memenuhi pcrsyaratan (> |00 lux). Di Iain pihak, suhu dan kelembaban pada beberapa ruangan melebihi persyaratan, namun secara umum nilai rata-ratanya masih memenuhi persyaratan. Prevalensi SBS sebesar 19%, dengan gejala tcrbanyak berupa kelelahan, rasa sakit dan kekakuan pada bahu dan Ieher (50%); flu, batuk dan bersin-bersin (49.6%); Serta pusing, sakit kepala dan kesulitan konsentrasi (38.4%). Suhu, posisi keqja yang ergonomik, jenis kelamin dan umur mempcngaruhi kejadian SBS secara bemmakna, dimana suhu merupakan variabel yang paling dominan. Kualitas udara masih memenuhi persyaratan kesehatan, untuk Iingkungan fisik dalam ruangan kenja nilai rata-rata pengukuran masih memenuhi persyaratan, walaupun ada ruangan yang suhu atau kelembaban tidak memcnuhi persyaratan kesehatan, Suhu, posisi kerja yang ergonomik, jenis kelamin dan umur sangat mempengaruhi kejadian SBS. Pemeliharaan pendingin ruangan serta posisi kerja yang ergonomik merupakan upaya pencegahan yang harus mcndapat perhatian dalam program SBS.
Indoor air quality that does not meet the health standard requirement may lead to uncomfortable working environment and causes negative impacts to the workers in the fomm of health complaints known as sick building .syndrome (SBS). Usually the complaints are not very serious and the sources are unknown; however it could reduce work productivity. A number of studies in different settings have indicated that several internal and external factors influence the incidence of SBS. Infomation on the indoor air quality of the Ministry of Health (MOH) building has not yet been known, in spite ofthe SBS complaints that have been reported. The purpose of this study is to obtain infomation on the indoor air quality ofthe MOH building Jakarta, as well as the incidence of SBS and its’ underlying thctors. Using cross-sectional study which is descriptive-analytic; the study involved 242 MOH employees as respondents. The criteria ofthe respondents were healthy individuals not suffering from diseases as diagnosed by a physician and not pregnant. To obtain data on the characteristics, psychological and ergonomic working position of the respondents, guided and structured questionnaire were used. Whereas measurements of NO;, CO, CO2, S02, I-I2S, NH, and PM10 concentrations as indicators of air quality were undertaken in ten rooms. Indoor air quality still meets the standard requirement, in accordance to the Minister of Health Decree No. 1405/ivlenkes/SK/XI/2002. Concentrations of NO2, SO2, and Nl-I; were detected in three rooms. The concentration of CO in all rooms was the same; while CO2, l-l2S, and PM10 were detected in all rooms with different concentrations. Illuminations in all rooms were in compliance to the standard requirement (> 100 lux). On the other hand, the temperature and humidity in some rooms exceeded the standard requirement, however, in general the average value of these two variables still meet the requirements. The prevalence of SBS was 19%, mostly in the fonn of fatigue, pain and stiff on the shoulder and neck (50%); common cold, coughing and sneezing (49.6%); as well as diuiness, headache and concentration problems (38.4%). Temperature, ergonomic working position, sex and age significantly influence the incidence of SBS, in which the room temperature was shown to be the predominant variable. Indoor air quality was still in compliance to the health standard requirement. As for the physical environment, the measurement average values still meet the requirements although the temperature and humidity in some rooms did not. _ Temperature, ergonomic working position, sex and age significantly influence the incidence of SBS. Maintenance of the air conditioner and sustaining ergonomic working position are prevention actions that should acquire attention in the SBS program.
T-2975
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ari Lestari; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sintorini
S-5563
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Christie Patricia; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Budi Haryanto, Ido John
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan gejala-gejala kesehatan yang sering dialami oleh penghuni yang tinggal di dalam gedung dalam waktu tertentu yang disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas udara dalam ruang dengan kejadian SBS di Graha Sucofindo Jakarta. Desain studi yang digunakan pada penelitian ini adalah cross-sectional dengan variabel independen sebagai berikut, koloni bakteri, suhu, kelembaban relatif, usia, jenis kelamin, masa kerja, dan riwayat alergi. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara koloni bakteri, usia, jenis kelamin, masa kerja, dan riwayat alergi dengan kejadian SBS. Dari hasil analisis multivariat, ditemukan bahwa variabel riwayat alergi menjadi variabel dominan yang memengaruhi terjadinya SBS. Dari hasil uji interaksi ditemukan adanya interaksi antara kedua variabel yaitu jumlah koloni bakteri dan jenis kelamin dalam menyebabkan kejadian SBS. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa riwayat alergi dapat meningkatkan risiko terjadinya SBS di tempat kerja dan interaksi antara jumlah koloni bakteri dengan jenis kelamin dapat menyebabkan kejadian SBS di tempat kerja. Disarankan untuk mengontrol kualitas udara dalam ruang, menciptakan ruangan yang sehat bagi pekerja, dan menempatkan pekerja dengan riwayat alergi pada ruangan dengan kualitas udara yang baik.
Kata Kunci : Sick Building Syndrome, Bakteri, Alergi, Kualitas udara dalam ruang
Sick Building Syndrome (SBS) has been defined as a term used to describe common symptoms which, for no obvious reason, are associated with particular buildings. This study aims to determine the relationship between indoor air quality with SBS occurrence in Graha Sucofindo Jakarta. The cross-sectional study was used in this research with the following independent variables, colonies of bacteria, temperature, relative humidity, age, gender, year of services, and history of allergies. From the data analysis showed a significant relationship between bacterial colonies, age, gender, year of services, and history of allergies to the occurrence of SBS. Multivariate analysis found that history of allergies becomes dominant variables that affect the occurrence of SBS. Furthermore, it is found that there is interaction between bacterial colonies and gender in making the incidence of SBS. It can be concluded that history of allergies may increase the risk of SBS and the interaction between bacterial colonies and gender can causing the incidence of SBS. It is advisable to control the indoor air quality, create a healthy space for workers and avoid allergic workers to work in bad indoor air quality.
Keywords : Sick Building Syndrome, History of Allergies, Bacterial Colonies, Gender, Indoor Air Quality
Read More
Kata Kunci : Sick Building Syndrome, Bakteri, Alergi, Kualitas udara dalam ruang
Sick Building Syndrome (SBS) has been defined as a term used to describe common symptoms which, for no obvious reason, are associated with particular buildings. This study aims to determine the relationship between indoor air quality with SBS occurrence in Graha Sucofindo Jakarta. The cross-sectional study was used in this research with the following independent variables, colonies of bacteria, temperature, relative humidity, age, gender, year of services, and history of allergies. From the data analysis showed a significant relationship between bacterial colonies, age, gender, year of services, and history of allergies to the occurrence of SBS. Multivariate analysis found that history of allergies becomes dominant variables that affect the occurrence of SBS. Furthermore, it is found that there is interaction between bacterial colonies and gender in making the incidence of SBS. It can be concluded that history of allergies may increase the risk of SBS and the interaction between bacterial colonies and gender can causing the incidence of SBS. It is advisable to control the indoor air quality, create a healthy space for workers and avoid allergic workers to work in bad indoor air quality.
Keywords : Sick Building Syndrome, History of Allergies, Bacterial Colonies, Gender, Indoor Air Quality
S-9062
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novia Aulia Nugraha; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: I Made Djaja, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Umumnya seseorang menghabiskan banyak waktu di dalam ruang, seperti tempat kerja. Buruknya kualitas udara dalam ruang dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti, Sick Building Syndrome (SBS). Perpustakaan berisiko untuk mengalami pencemaran udara yang disebabkan oleh mikrobiologi karena banyaknya bahan organik seperti buku yang dapat menjadi tempat pertumbuhan kapang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan jumlah kapang di udara dalam ruang dengan keluhan SBS pada staff di Perpustakaan UI. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan variabel independennya adalah jumlah kapang, variabel dependennya adalah keluhan SBS, serta variabel confounding yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan, usia, jenis kelamin, lama kerja, riwayat alergi, riwayat asma, dan kebiasaan merokok. Pengumpulan data SBS dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner kepada 63 staff Perpustakaan, sedangkan pengukuran kapang di udara dilakukan dengan teknik passive sampling metode settle plate. Secara keseluruhan kualitas udara di Perpustakaan UI tergolong buruk. Hasil statistik menunjukan proporsi keluhan SBS pada staff sebesar 55,6% dan secara statistik tidak ada variabel yang berhubungan secara signifikan dengan SBS.
Read More
S-10133
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
