Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40777 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dita Maharani Kusumaningrum; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Baiduri Widanarko, Wisnu Wardhana
Abstrak: Skripsi ini membahas terkait kesesuaian desain stasiun kerja, postur kerja dangambaran keluhan pada sistem otot rangka pada pengguna komputer di kantor pusatPT X Jakarta tahun 2016. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitiandeskriptif dengan desain penelitian cross sectional yaitu dilakukan dengan caramengobservasi kesesuaian desain stasiun kerja (kursi, meja, monitor, keyboard danmouse, dan telepon) dengan standar yang berlaku (OSHA) menggunakan alat ukurberupa checklist, observasi postur kerja dan menilai tingkat risiko ergonomipengguna komputer menggunakan metode ROSA (Rapid Office StrainAssessment), melihat gambaran keluhan pada sistem otot rangka dengan melakukanwawancara dan pengisian kuesioner CMDQ (Cornell Musculoskeletal DiscomfortQuestionnaire). Sehingga dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai acuantindakan perbaikan dan pengendalian berdasarkan hirarki pengendalian risikoterhadap ketidaksesuaian desain stasiun kerja dan postur kerja serta masalahkeluhan pada sistem otot rangka yang dialami oleh karyawan.
This research describes about the workstation design compliance, work posture, anddescription of musculoskeletal system symptoms among computer users at headoffice of PT X Jakarta year 2016. The research was carried out by using descriptivemethod and cross sectional as design study, by observing the workstation design(chair, desk, monitor, keyboard and mouse, and telephone) compliance against therespective standard (OSHA) using observation checklist as measurement tool, theobservation of work posture and the level of work posture risk among the computerusers were conducted by using ROSA (Rapid Office Strain Assessment) method, toget brief description of musculoskeletal system symptoms was by interviewing therespondent and completing CMDQ (Cornell Musculoskeletal DiscomfortQuestionnaire). Therefore, from this research, it may be used as reference todetermine the corrective action and control measure based on hierarchy of riskcontrol related to nonconformity of work station design, work posture and the issueof musculoskeletal system symptoms.
Read More
S-9144
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alleluia Victoria Aljonak; Pembimbing: Milla Tejamaya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Hendra, Muhamad Dawaman, Eka Cempaka Putri
Abstrak: Komputer merupakan alat kerja yang sudah tidak asing lagi bagi pekerja kantor. Aktivitas ini dapat meningkatkan risiko terjadinya ketidaknyamanan pada tubuh, hingga dapat menyebabkan keluhan nyeri muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor individu (postur, usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh) dan lingkungan kerja (suhu, pencahayaan, dan stasiun kerja) terhadap keluhan gangguan otot rangka akibat kerja (GOTRAK) di PT. X. Penelitian ini juga menilai ergonomi stasiun kerja pada PT. X berdasarkan PERMENKES no. 48 tahun 2016 tentang Standar K3 Perkantoran. Desain penelitian ini adalah potong lintang kepada 42 pekerja dan observasi langsung. Hasil yang didapatkan adalah 61,9% pekerja mengalami nyeri pada tubuh selama 1 bulan terakhir. Berdasarkan pengisian Nordic Body Map, keluhan terbanyak berada pada titik 5 (punggung) sebanyak 57,7%, titik 7 (pinggang) sebanyak 53,8%, dan titik 0 (leher atas) sebanyak 46,2%. Pada hasil analisis penelitian ini didapatkan bahwa pada faktor individu, hanya faktor indeks massa tubuh yang memiliki korelasi (rho = 0,330 = berpengaruh positif yang sedang) dan signifikan (p-value = 0,033) terhadap keluhan nyeri. Sedangkan pada faktor lingkungan kerja, hanya faktor pencahayaan yang memiliki korelasi (rho = -0,323 = berpengaruh negatif yang sedang) dan signifikan (p-value = 0,037) terhadap keluhan nyeri. Stasiun kerja pada PT. X membutuhkan beberapa perbaikan karena dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya keluhan GOTRAK pada pekerja
Computers are work tools that are familiar to office workers. This activity can increase the risk of discomfort to body and become musculoskeletal pain. This study aims to analyse the relationship of individual factors (posture, age, sex, and body mass index) and work environment (temperature and lighting) on occurrence of work-related musculoskeletal disorders at PT. X. This paper is also assessing the ergonomics of work station at PT. X based on PERMENKES no. 48 of 2016 concerning Office K3 Standards. The design of this study was cross-sectional with 42 workers and direct observation. 61.9% of workers experienced pain in the body during the last 1 month. The results of Nordic Body Map questionnaire show the most pain occurrence are at point 5 (back) as much as 57,7%, point 7 (waist) as much as 53,8%, and point 0 (upper neck) as much as 46,2%. Through quantitative analysis, it is known that on the individual factors, only the body mass index factor has a correlation (rho = 0,330 = moderate positive correlation) and significant (p-value = 0,033) on pain occurrence. Meanwhile, on the work environment factor, only the lighting factor has correlation (rho = -0.323 = moderate negative correlation) and significant (p-value = 0.037) on pain occurrence. Work station at PT. X needs some improvements because an unergonomic work station can be one of the contributors of work-related musculoskeletal disorders occurrence complaints among workers
Read More
T-6295
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Destitha Ananda Putrisidahuruk; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Hendra, Fajar Kristianto
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang gambaran secara umum risiko postur kerja dan keluhan subjektif muskuloskeletal yang dirasakan oleh pekerja pada kegiatan lifting dan erection baja Stasiun LRT Jabodetabek. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional dengan melakukan penelitian secara langsung dalam satu waktu secara bersamaan melalui metode REBA, PATH, dan Nordic Body Questionnaire (NBQ). Tingkat risiko tertinggi yaitu pada tahapan erection dalam kegiatan pengecatan dengan jangkauan jauh. Untuk mengatasinya diperlukan kontrol berupa pemberian alat kerja yang lebih baik serta berbagai program edukasi kesehatan yang digalakan oleh perusahaan, untuk meminimasi terjadinya postur janggal
Read More
S-10169
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Della Oktaviani; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Abdul Kadir, Baiduri Widanarko, Syahrial Nawawi, Elfira Augustin
Abstrak:
Keluhan gangguan otot dan rangka akibat kerja (Gotrak) merupakan masalah kesehatan kerja yang sering terjadi pada pekerja konstruksi, khususnya pada aktivitas manual material handling seperti pengangkatan pipa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor keluhan Gotrak pada pekerja pengangkat pipa di Proyek X Tahun 2026. Desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 66 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner SNI 9011:2021, kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi keluhan Gotrak 68,2%. Faktor yang berhubungan signifikan dengan keluhan Gotrak adalah tingkat kelelahan (p=0,001; OR=7,00), beban kerja (p=0,011; OR=5,26), dan kebiasaan olahraga (p=0,046; OR=0,29; 95%CI 0,09 – 1,01). Disimpulkan keluhan Gotrak pada pekerja pengangkatan pipa dipengaruhi terutama oleh tingkat kelelahan, beban kerja, dan kebiasaan olahraga. Maka perusahaan perlu menerapkan pengendalian ergonomi melalui pengaturan istirahat kerja, optimasi beban kerja dengan menggunakan alat bantu seperti hand lift/pallet dan trolley, peningkatan kepatuhan SOP, program peregangan rutin, dan promosi gaya hidup sehat guna mengurangi risiko gangguan otot dan rangka pada pekerja. Perlu diteruskan dengan analisis multivariat untuk mendapatkan faktor risiko yang dominan dengan OR adjusted.

Work-related musculoskeletal complaints (WMSDs) represent a common occupational health problem among construction workers, particularly in manual material handling activities such as pipe lifting. This study aimed to analyze the factors associated with musculoskeletal complaints among pipe-lifting workers at Project X in 2026. A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed involving 66 respondents. Data were collected using the SNI 9011:2021 questionnaire, the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire, and direct observation. The results showed a musculoskeletal complaint prevalence of 68.2%. Factors significantly associated with musculoskeletal complaints were fatigue (p=0.001; OR=7.00), workload (p=0.011; OR=5.26), and exercise habits (p=0.046; OR=0,29; 95%CI 0,09 – 1,01). It was concluded that musculoskeletal complaints among pipe-lifting workers were primarily influenced by fatigue level, workload, and exercise habits. Therefore, companies need to implement ergonomic controls through work rest scheduling, workload optimization using assistive tools such as hand lifts/pallets and trolleys, improved SOP compliance, routine stretching programs, and healthy lifestyle promotion to reduce the risk of musculoskeletal disorders among workers. Multivariate analysis should be conducted in future research a follow-up to identify the dominant risk factors with adjusted OR.
Read More
T-7634
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fennia Herma Yunita; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mila Tejamaya, Agus Triyono, Heny D. Mayawati
Abstrak: Kasus gangguan otot akibat kerja (GOTRAK) mempunyai proporsi 45% - 91% Penyakit Akibat Kerja (PAK) tertinggi di berbagai negara (Eurostat,2004; Aweto 2015). Postur kerja janggal merupakan penyebab utama terjadinya GOTRAK. Industri Proses kimia merupakan salah satu jenis industri yang banyak ditemukan postur kerja janggal. Penelitian ini membahas lebih mendalam tentang faktor risiko terjadinya postur janggal sebagai informasi dan dasar model perbaikan ergonomi di PT. X. Faktor risiko yang diteliti adalah faktor individu, pekerjaan dan desain tempat kerja. Penelitian ini bersifat kualitatif analisis deskriftif pendekatan observasional, Instrument yang digunakan adalah Rapid Entire Body Assessment (REBA) dengan wawancara, observasi dan pengukuran. Penelitian dilakukan pada 2 (dua) stasiun kerja yaitu reaksi Toluenesulfonyl Hydrazide (TSH) dan Azodicarbonamide (ADCA). Hasil telitian mendapatkan postur kerja paling berisiko adalah pada aktivitas penimbangan dan pengepakan Azodicarbonamide di stasiun kerja ADCA dengan skor 15. Perbaikan dengan rotasi kerja, variasi kerja , pelatihan ergonomi serta penyediaan alat bantu sangat disarankan untuk mengatasi postur kerja janggal.

Musculoskeletal disorders (MSDs) have the highest proportion of 45% - 91 % in most countries (Eurostat,2004; Aweto 2015). Awkward posture is the main cause of this MSDs. Chemical Process Industry is one work station in which awkward work posture is often found. The present study discusses more thoroughly on risk factor on awkward posture as information and basic model for ergonomic improvement at PT X. The risk factors studied included risk factor of individual, work and workplace design. This study uses descriptive qualitative analysis using oberservational approach. Instrument used was Rapid Entire Body Assessment (REBA) with interview, observation and measurement. The study was conducted at 2 (two) work stations namely Toluenesulfonyl Hydrazide (TSH) and Azodicarbonamide (ADCA) reaction. Research result revealed that the most risky work posture was in weighing and packaging activity of Azodicarbonamide in the ADCA work station with score of 15. Improvement using work rotation, work variation, ergonomic training and provision of tools is highly recommended to overcome awkward posture.
Read More
T-5201
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nono Haryono; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Chandra Satrya, Indri Hapsari Wulandari, Wiprasyogie, Ade Mutiara
Abstrak: Penelitian bertujuan memperoleh gambaran dan hubungan faktor-faktor risiko individu dan pekerjaan terhadap keluhan muskuloskeletal disorder pada pekerja kantor PT. X Jakarta. Metode yang digunakan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder hasil medical check up data dan perangkat lunak RSIGuard untuk 607 pekerja. Dari 607 pekerja terdapat 292 orang (48, 1%) mengalami keluhan musculoskeletal discomfort. Hasil uji bivariate menunjukkan hubungan signifikan (p<0,005) antara faktor individu (tinggi badan, berat badan, olahraga, jenis kelamin dan temuan masalah musculoskeletal pada MCU), dan faktor risiko pekerjaan (self-assessment risk, overall risk level, average daily mouse use, break time taken dan average strain from mouse use) dengan discomfort. Hasil uji multivariate menunjukkan jenis kelamin, temuan masalah musculoskeletal MCU, self-assessment dan overall assessment merupakan faktor-faktor yang memiliki hubungan kuat dan dapat mempengaruhi keluhan musculoskeletal discomfort. Saran-saran ditujukan untuk mencegah discomfort dan work related musculoskeletal disorder melalui prinsip-prinsip ergonomik.

The objective of this study are to describe profile and relationship between individual and occupational risks factors with musculoskeletal discomfort in office workers of PT. X Jakarta. This is cross-sectional using secondary data of medical check up (MCU) and RSIGuard software for 607 workers. There are 272 of 607 workers (48.1%) complained musculoskeletal discomfort based on self-asessment result. Based on bivariate test results a significant (p <0.005) for individual factors (height, weight, exercise, sex and medical finding during MCU), and occupational risk factors from computer usages (self assessment risk, overall risk level, average daily mouse use, break time taken and average strain of mouse use). The final model of multivariate test results a significant correlation of gender, findings of musculoskeletal problems, self-assessment and overall assessment with musculoskeletal discomfort complaints. Suggestions addressed to reduce occupational factors to prevent discomfort and work-related musculoskeletal disorder through ergonomic princips.
Read More
T-4922
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Fajri; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Angga Hadi Nugraha, Indri Hapsari Susilowati
Abstrak: Skripsi ini membahas tentang faktor risiko keluhan gangguan otot dan tulang rangka (Gotrak) akibat kerja di industri manufaktur PT Croda Indonesia tahun 2022. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor individu, faktor pekerjaan, dan keluhan Gotrak, dilakukan pada buan Februari ? Mei 2022 dengan menggunakan kuesioner SNI 9901;2011, RULA, REBA, dan data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Desain studi cross-sectional dengan melibatkan seluruh pekerja sebanyak 58 orang. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan 41% pekerja memiliki tingkat risiko Gotrak sedang, dengan keluhan paling banyak dirasakan berturut-turut pada bagian leher (52%), punggung bawah (45%), dan punggung atas (43%). Terdapat hubungan antara faktor individu yaitu indeks massa tubuh, faktor kerja yaitu postur kerja, gerakan berulang, dan kejadian Gotrak. Pola hidup sehat utamanya menerapkan pola makan sehat, gizi seimbang dan menu bijak sesuai kondisi kesehatan dan pola kerja sehat utamanya postur tubuh tidak menyimpang dari garis tubuh, perlu ditingkatkan untuk meminimalisir keluhan Gotrak.
Population issues are still very complex. One of the real problems faced is population growth which is still relatively high. One part of population growth can not be separated from the number of children ever born. One of the factors thought to be related to the number of children ever born is economic status. This study was conducted to examine the relationship between economic status and the number of live births in women aged less than 45 years who are married whose reproductive period is still running and those aged 45-49 years who are married who have entered the end of their reproductive period. This research was conducted using a cross-sectional study design using data from the Indonesian Demographic Health Survey (IDHS) in 2017. This study found that in both age groups it was known that there was a significant relationship between economic status and the number of children ever born. It was also found that greater odds were found for very poor, poor, middle, and rich economic status compared to women whose economic status was very rich. Furthermore, it was found that in women aged less than 45 years, it was found that the variables of education, employment status, age at first marriage, contraceptive use, and preference for number of children were confounders between economic status and the number of children ever born. Meanwhile, for women aged 45-49 years, the variables of area of residence, employment status at the age of first marriage, contraceptive use, and preference for number of children become confounders between economic status and number of children ever born.
Read More
S-11109
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gianina Afiqah Putri; Pembimbing:Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Toni Nurdianto
Abstrak:

MSDs sering dialami oleh pekerja perkantoran karena banyak menghabiskan waktunya
untuk melakukan pekerjaan statis. Di PT X, keluhan terkait MSDs seringkali muncul, namun PT X belum melakukan pengukuran terkait dengan risiko ergonomi dan MSDs sejak periode September 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat keluhan MSDs PT X dan apakah ada hubungannya dengan faktor risiko individu (usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan IMT) dan postur kerja. Hubungan di antar variabel diuji menggunakan uji spearman. Faktor risiko yang berhubungan signifikan adalah faktor risiko individu IMT dengan P value = 0.018 dan koefisien korelasi -0.41 yang menandakan arah hubungan negatif dengan kekuatan hubungan cukup. Arah hubungan negatif berarti adanya hubungan terbalik di antara IMT dan tingkat keluhan MSDs. Semakin tinggi IMT, kemungkinan untuk mengalami MSDs akan semakin rendah.


MSDs is closely associated with those who works office job as they spent most of their  time sitting in the same position. At PT X, MSDs complaints frequently occurred,  however, no ergonomic assessments have been conducted since September 2021. This  study aims to get the general level of MSDs complaints among office workers at PT X and  to examine whetere there is a relationship between the level of MSDs complaints and  individual risk factors (age, gender, physical activity, and BMI) as well as working  postures. The correlation between variables were tested using the Spearman correlation  test. BMI was found to have a significant relationship with MSDs with a p-value of 0.018  and a correlation coefficient of -0.41 that indicates a moderate negative relationships.  This outcome suggests that those with higher BMI, have a lower likelihood to experience MSDs  

Read More
S-12222
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Luthfi; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Supriadi
Abstrak: Pekerja Administasi berisiko terkena GOTRAK (gangguan otot rangka). Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran risiko ergonomi terkait keluhan GOTRAK pekerja administrasi pada aktivitas mengetik. Metode penilaian yang digunakan adalah RULA, QEC, ROSA dan NBQ. Penilaian mendapati hasil yang selaras, bahwa aktivitas mengetik berisiko tinggi, perlu diteliti lebih lanjut secara berkala dan perubahan diperlukan secepatnya. Postur yang berhubungan dengan alat kerja komputer berada pada kategori area yang membutuhkan intervensi ergonomi. Leher, bahu kiri, bahu kanan, punggung atas, dan punggung bawah merupakan bagian yang paling banyak dikeluhkan, baik selama 1 tahun maupun 1 minggu terakhir. Mengetik merupakan aktivitas paling berisiko pada pekerjaan administrasi.
Kata kunci: ergonomi, kantor, otot rangka.

Administrative workers are at risk for MSDs (Musculoskeletal Disorders). This research was conducted in order to give a description of ergonomic risk related to MSDs on typing activity among administration workers. Methodology that were used are RULA, QEC, ROSA, and NBQ. Results show that typing is a high risk activity, further evaluation are frequently required and changes need to be made. Posture while using computer are in category which needs ergonomic intervention. Neck, right and left shoulder, upper and lower back, are areas that are most complained, both in the last 1 year or 1 week. Typing is a high risk activity among administrative workers.
Keywords: ergonomic, office, musculoskeletal.
Read More
S-9202
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miski Irfani Harahap; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri Widanarko, Sigit Widiyanto
Abstrak: Penanganan beban manual (PBM) merupakan aktivitas yang dapat menimbulkankeluhan gangguan otot rangka pada pekerja. Penelitian ini dilakukan untukmengetahui gambaran tingkat risiko ergonomi pada aktivitas PBM dan gambarandistribusi keluhan gangguan otot rangka pada pekerja di back end area Toko XDepok tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasionaldengan desain crossectional. Penilaian tingkat risiko ergonomi dilakukanmenggunakan metode BRIEF dengan menilai postur, berat beban, durasi, danfrekuensi. Penelitian ini juga menggambarkan karakteristik pekerja yangmelakukan aktivitas PBM di back end area, seperti jenis pekerjaan, umur, lamakerja, kebiasaan merokok, pendidikan, dan jenis kelamin. Data keluhan gangguanotot rangka diambil menggunakan kuesioner NMQ dengan jumlah 11 orangresponden. Hasil penelitian menunjukkan beberapa aktivitas PBM di back end areatoko mempunyai risiko tinggi terhadap bagian tubuh siku kiri, siku kanan, bahu kiri,bahu kanan, dan punggung. Keluhan gangguan otot rangka banyak dirasakanpekerja pada bagian tubuh bahu kanan dan punggung bawah dengan persentasesebesar 45,5%. Upaya perbaikan untuk mengurangi aktivitas PBM dapat dilakukandengan menggunakan alat memindahkan barang (pallet stacker) yang dapat diaturketinggiannya dan edukasi pekerja terkait bahaya ergonomi.
Kata Kunci:BRIEF, ergonomi, keluhan gangguan otot rangka, NMQ, penanganan bebanmanual
Manual handling is an activity that can cause musculoskeletal disorders. Thisresearch illustrates ergonomics risk level in manual handling activities and alsoillustrates the distribution of musculoskeletal complaints at the back end area ofstore X Depok in 2016. It is a descriptive observational study with cross-sectionaldesign. The ergonomics risk level was assessed by BRIEF method which evaluateposture, force, duration, and frequency. This research also gathered information onindividual characteristics (such as occupation, age, job tenure, smoking behavior,education, and gender) of the workers who perform manual handling activityregularly in back end area. The data of musculoskeletal symptoms complaints werecollected using NMQ questionnaires with 11 responden. The result of this studyindicates several activites in back end area are high risk to left elbow, right elbow,left shoulder, right shoulder, and back. Most complaints come from right shoulderand lower back with 45,5%. Manual handling activity can be reduced by usingpallet stacker with adjustable height and educate the workers about ergonomics.
Key words:BRIEF, ergonomics, manual handling, musculoskeletal complaint, NMQ.
Read More
S-9135
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive