Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38666 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ekin Hagana Imanuel Sembiring; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian cross sectional ini berisi tentang asesmen safety leadership,safety climate dan safety behavior di PT. X tahun 2016. Dibutuhkan gambaranaspek kepemimpinan, iklim serta perilaku pekerja di PT.X yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan K3. Terdapat 183item pada kuesioner yang telah diisi oleh 87 responden yang merupakan pekerjaPT.X dengan jabatan pelaksana dan lama kerja minimal 6 bulan. Data yang telahdiperoleh selanjutnya diolah untuk mengetahui nilai rata-rata persepsi respondenterhadap ketiga variabel, yaitu safety leadership, safety climate dan safetybehavior.Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa safetyleadership atasan responden yang terdiri atas 5 indikator, yaitu: safety caring,safety cocahing, safety controlling, participative decision making dan leading byexample masuk pada kategori baik dengan nilai mean sebesar 76,34%. Hasilasesmen safety climate yang terdiri dari 6 indikator yaitu: management safetypriority, commitment and competence, safety communication, learning and trustin co-worker safety competence, workers safety commitment, workers safetypriority and risk non acceptance, organizational environment dan work pressuremasuk kedalam kategori baik dengan nilai mean sebesar 75,62%. Selain itu,variabel safety behavior juga masuk kedalam kategori baik dengan nilai meansebesar 75,26% yang terdiri atas 2 indikator yaitu safety compliance dan safetyparticipation.Kata kunci: asesmen;safety behavior;safety climate;safety leaderhip.
Read More
S-9277
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivinia Qonita Putri; Pembimbing: Meily Kurniawidjadja; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, Septyaningrum
Abstrak: Kedirgantaraan berisiko tinggi ancaman keselamatan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran safety climate di PT X Operator Helikopter tahun 2016, menggunakan desain survei dengan pendekatan semikuantitatif untuk pengolahan data. Besar sampel 68 responden diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan skor safety climate sebesar 8,1 atau sangat kuat. Dimensi yang paling kuat adalah Persepsi Karyawan sebagai Individu terhadap nilai safety (8,4), sedangkan variabel yang menunjukkan nilai paling tinggi adalah Kebutuhan Pribadi terhadap Safety (8,9). Skor safety climate paling tinggi ada pada kelompok tingkat jabatan manajer (8,3), masa kerja 10- <15 tahun 5 tahun (8,5) dan departemen Operation (8,6). Kata Kunci: Safety Climate, Safety, Operator Helikopter. Aviation is a high risk industry that has health and safety hazard. This study aims to ascertain safety climate description of PT X Helicopter Operator in 2016 using survey design and semi-quantitative approach. Sample size is 68 respondents using Simple Random Sampling. The result displayed that safety climate score of PT X is 8,1 or very strong. Strongest dimension is Safety as Individual Perception (8,4) whilst the strongest variable is Personal Need for Safety (8,9). The highest safety climate score found from the group of managerial position (8,3), 10- <15 years of working in the company (8,5) and operation department (8,6). Keywords: Safety Climate, Safety, Helicopter Operator
Read More
S-9199
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ranti Fitri Agustina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Bahrain Munir
Abstrak:
Keselamatan kerja merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, khususnya pada sektor kelistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety leadership dan safety perception terhadap safety behavior pada pekerja di site PT X tahun 2025. Pendekatan yang digunakan adalah semikuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang diisi oleh 87 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,227; p = 0,035), serta antara safety leadership dan safety perception (r = 0,579; p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara safety perception dan safety behavior (r = 0,149; p = 0,169). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja, baik secara langsung maupun melalui persepsi terhadap keselamatan. Hasil wawancara dengan key person juga menguatkan bahwa keteladanan dan keterlibatan langsung pimpinan menjadi faktor yang mendorong budaya keselamatan yang positif. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan meningkatkan efektivitas kepemimpinan keselamatan melalui pelatihan, keterlibatan aktif pemimpin, serta evaluasi berkelanjutan terhadap program keselamatan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memediasi atau memoderasi hubungan antarvariabel.


Occupational safety is a crucial aspect of company operations, especially in the electricity sector which carries a high level of risk. This study aims to examine the relationship between safety leadership and safety perception on safety behavior among workers at the PT X site in 2025. A semi-quantitative approach was employed using a survey method with questionnaires completed by 87 respondents. Data were analyzed using Spearman and Pearson correlation tests. The results indicate a positive and significant relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.227; p = 0.035), as well as between safety leadership and safety perception (r = 0.579; p = 0.000). However, no significant relationship was found between safety perception and safety behavior (r = 0.149; p = 0.169). These findings suggest that safety leadership plays an important role in shaping workers’ safety behavior, both directly and indirectly through safety perception. Interviews with key persons also support the conclusion that leadership engagement and role modeling are key drivers of a positive safety culture. The study recommends that the company improve the effectiveness of safety leadership through targeted training, active leadership involvement, and continuous evaluation of safety programs. Future research is encouraged to explore other variables that may mediate or moderate the relationships among these constructs.
Read More
S-12082
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naura Khashia Cyrilla; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Akbar Satria Bakti
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, di mana iklim keselamatan organisasi diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan melalui pengetahuan keselamatan dan motivasi keselamatan pada pekerja Proyek Y PT X tahun 2026, menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Griffin dan Neal (2000, 2006) sebagai data utama. Penelitian dilakukan pada 218 responden dengan desain cross sectional, dan data dianalisis menggunakan path analysis serta uji Sobel untuk menguji peran mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan berada pada kategori tinggi (mean = 3,45), dengan dimensi management values sebagai kontributor tertinggi (3,52) dan safety training sebagai yang terendah (3,39). Pengetahuan keselamatan (3,43) dan motivasi keselamatan (3,46) juga berada pada kategori tinggi, dengan motivasi keselamatan menjadi nilai rata-rata tertinggi dan pengetahuan keselamatan menjadi nilai rata-rata terendah di antara seluruh variabel. Perilaku keselamatan berada pada kategori tinggi (3,44) dengan dimensi safety compliance (3,48) lebih tinggi dibandingkan safety participation (3,38). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan (z = 9,134; p < 0,001) maupun motivasi keselamatan (z = 11,276; p < 0,001) sama-sama terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Berdasarkan demografi, terdapat variasi yang menarik: responden perempuan menilai keempat variabel keselamatan lebih positif dibandingkan laki-laki, kelompok usia 17–25 tahun menunjukkan iklim dan perilaku keselamatan tertinggi sementara kelompok usia 46–55 tahun memperoleh pengetahuan keselamatan terendah dan masuk kategori cukup baik, kelompok manajemen menilai seluruh variabel paling positif, dan kelompok berpendidikan SD/Sederajat berada pada kategori cukup baik untuk seluruh variabel. Temuan kunci penelitian ini menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan sama-sama berperan sebagai jalur mediasi yang signifikan dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Temuan ini menyarankan agar PT X terus memperkuat program-program yang membangun pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan pekerja secara seimbang, sebagai bagian integral dari strategi peningkatan perilaku keselamatan di proyek konstruksi.

Construction is one of the sectors with a high risk of work-related accidents, in which organizational safety climate is believed to play an important role in shaping workers' safety behavior. This study aims to analyze the relationship between safety climate and safety behavior through safety knowledge and safety motivation among workers at Project Y of PT X in 2026, using a questionnaire adapted from Griffin and Neal (2000, 2006) as the primary data source. The study was conducted on 218 respondents using a cross-sectional design, with data analyzed using path analysis and the Sobel test to examine the mediating role of the variables. The results show that safety climate falls into the high category (mean = 3.45), with the management values dimension as the highest contributor (3.52) and safety training as the lowest (3.39). Safety knowledge (3.43) and safety motivation (3.46) also fall into the high category, with safety motivation recording the highest mean score and safety knowledge the lowest mean score among all variables. Safety behavior falls into the high category (3.44), with safety compliance (3.48) higher than safety participation (3.38). Hypothesis testing results indicate that both safety knowledge (z = 9.134; p < 0.001) and safety motivation (z = 11.276; p < 0.001) significantly mediate the relationship between safety climate and safety behavior. Based on demographics, interesting variations were found: female respondents rated all four safety variables more positively than males; the 17–25 age group showed the highest safety climate and safety behavior scores while the 46–55 age group recorded the lowest safety knowledge score (falling into the moderately good category); the management group rated all variables most positively; and the SD/equivalent education group fell into the moderately good category across all variables. The key findings of this study indicate that both safety knowledge and safety motivation serve as significant mediating pathways in shaping workers' safety behavior. These findings suggest that PT X should continue to strengthen programs that build both safety knowledge and safety motivation in a balanced manner, as integral components of the strategy to enhance safety behavior in construction projects.
Read More
S-12453
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abigael Oktaria Zega; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Abdul Rasyid
Abstrak:
Pada tahun 2023, industri penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 4,85 juta usaha. Angka tersebut meningkat sebesar 21,13% dari tahun 2016 dengan total 4,01 juta usaha (Badan Pusat Statistik, 2024). Meskipun seringkali dianggap sederhana, proses pembuatan makanan dilakukan dengan menggunakan bantuan mesin-mesin bertekanan tinggi yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin (Thohir et al., 2025). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan safety leadership dan safety behavior pada perusahaan industri makanan PT X tahun 2026 dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari (Lu and Yang, 2010) dan (Neal, Gri and Hart, 2000) sebagai data utama, serta dilakukan wawancara tidak terstruktur dan observasi di lapangan sebagai data kualitatif pendukung. Penelitian dilakukan kepada 239 responden dengan desain cross-sectional dan hubungan variabel dianalisis menggunakan Spearman’s rho karena data kuesioner berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,54 dan safety behavior juga berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,53. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,749; p = 0,000). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan berperan sangat penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Hasil wawancara dengan narasumber juga menguatkan temuan ini, bahwa partisipasi aktif, kebijakan, dan kepedulian yang ditunjukkan pemimpin menjadi faktor dapat mendorong terbentuknya perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat meningkatkan partisipasi kepemimpinan keselamatan dan membentuk program program keselamatan bagi pekerja yang bersifat partisipatif. Saran lanjutan terkait penelitian ini agar dapat meneliti variabel mediasi lain yang mungkin dapat berpengaruh atau memperkuat hubungan antara safety leadership dan safety behavior.

In 2023, the food and beverage industry in Indonesia reached 4.85 million businesses, representing an increase of 21.13% compared to 2016, which recorded a total of 4.01 million businesses (Badan Pusat Statistik, 2024). Although frequently perceived as a relatively straightforward sector, the food production process in practice involves the operation of high-pressure machinery that demands intensive man-machine interaction (Thohir et al., 2025). This study aims to analyze the relationship between safety leadership and safety behavior in a food industry company, PT X, in 2026. Primary data were collected through a questionnaire adapted from Lu and Yang (2010) and Neal, Griffin, and Hart (2000), while supporting qualitative data were obtained through unstructured interviews and field observations. This study involved 239 respondents using a cross-sectional study design, and the relationship between variables was analyzed using Spearman's rho correlation test, given that the questionnaire data were not normally distributed. The results indicate that safety leadership was categorized as very high with a mean score of 4.54, and safety behavior was similarly categorized as very high with a mean score of 4.53. Hypothesis testing demonstrated a significant positive relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.749; p = 0.000), indicating that safety leadership plays a crucial role in shaping workers' safety behavior. These findings were further corroborated by interview results, which confirmed that active participation, the implementation of safety policies, and the concern demonstrated by leaders are factors that substantially contribute to the formation of safety behavior among workers. This study recommends that companies continuously enhance leadership participation in occupational safety and develop participatory safety programs that actively engage all workers. For future research, it is suggested that other mediating variables that may influence or strengthen the relationship between safety leadership and safety behavior be further investigated.
Read More
S-12462
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titus Halomoan Mg; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Agra Mohamad Khaliwa
Abstrak:
Kecelakaan kerja merupakan masalah serius yang berdampak luas pada individu dan organisasi, baik dari segi fisik, psikologis, maupun ekonomi, di mana jutaan pekerja setiap tahun mengalami cedera atau penyakit  akibat kerja yang dapat menurunkan produktivitas serta meningkatkan beban finansial perusahaan. Oleh karena itu, menciptakan iklim keselamatan yang kuat menjadi hal krusial dalam mencegah risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini menganalisis pengaruh safety knowledge dan safety leadership terhadap safety climate di Perusahaan X dengan desain cross-sectional dan pendekatan kuantitatif. Sampel sebanyak 104 karyawan dipilih melalui proportionate stratified random sampling, sementara data dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat safety knowledge karyawan tergolong baik, variabel ini tidak berpengaruh signifikan terhadap safety climate, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. Sebaliknya, safety leadership memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap safety climate, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dalam aspek keselamatan mampu meningkatkan kepatuhan dan kesadaran karyawan terhadap prosedur keselamatan. Oleh karena itu, penguatan kepemimpinan dan pelatihan keselamatan yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam membangun budaya keselamatan yang lebih baik.

 Workplace accidents are a serious problem with far-reaching physical, psychological and economic impacts on individuals and organizations, with millions of workers each year experiencing occupational injuries or illnesses that can reduce productivity and increase the financial burden on companies. Therefore, creating a strong safety climate is crucial in preventing the risk of workplace accidents. This study analyzes the effect of safety knowledge and safety leadership on safety climate in Company X with a cross-sectional design and quantitative approach. A sample of 104 employees was selected through proportionate stratified random sampling, while data was collected by questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results showed that although the level of safety knowledge of employees was good, this variable did not have a significant effect on safety climate, which indicates that knowledge alone is not enough to create a safe work environment. In contrast, safety leadership has a positive and significant effect on safety climate, indicating that strong leadership in safety aspects can increase employee compliance and awareness of safety procedures. Therefore, strengthening leadership and continuous safety training are important steps in building a better safety culture.
Read More
T-7229
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrizqa; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Asep Zaenal Muttaqien
Abstrak:
Persepsi pekerja terhadap keselamatan dapat mempengaruhi safety climate di perusahaan yang dapat menjadi penyebab dari peningkatan cedera dan kecelakaan kerja di industri manufaktur. Analisis iklim keselamatan kerja pada industri semen di Indonesia dilakukan dengan mengetahui persepsi para pekerja terhadap implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ada. Setiap proses kerja yang terdapat di industri semen mulai dari proses penambangan hingga proses pengemasan mempunyai potensi bahaya K3. Kegiatan penambangan di industri semen merupakan hal yang rentan terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Pekerja di area quarry tempat penambangan memiliki level risiko tertinggi (high). Penelitian ini dilakukan pada pekerja di area quarry dengan metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit untuk mengetahui gambaran safety climate di area quarry PT X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori nilai rendah terdapat pada masing-masing subvariabel dari variabel organizational safety value, group safety value, dan individual safety value. Faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan dan prosedur di perusahaan serta pemahaman pekerja mengenai cara mengidentifikasi risiko dan bahaya di pekerjaannya.

The perception of workers towards safety can influence the safety climate within a company, which can be a cause of increased injuries and workplace accidents in the manufacturing industry. An analysis of the safety climate in the cement industry in Indonesia was conducted by understanding workers' perceptions of the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) measures. Every work process in the cement industry, from mining to packaging, carries potential occupational health and safety hazards. Mining activities in the cement industry are particularly vulnerable to workplace accidents. Workers in the quarry area, where mining takes place, face the highest level of risk. This research focuses on workers in the quarry area, utilizing a quantitative method with a questionnaire adapted from the Loughborough Safety Climate Assessment Toolkit to assess the safety climate at X's Company quarry area. The research findings indicate that low values are observed in each sub-variable of organizational safety value, group safety value, and individual safety value. The most influential factors are the company's policies and procedures, as well as workers' understanding of how to identify risks and hazards in their work.
Read More
S-11507
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Louise Jannet Devany; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Bagus Setyawan
Abstrak:
Angka kecelakaan kerja paling banyak disebabkan oleh perilaku tidak aman pekerja. Perilaku tidak aman pekerja dapat dipengaruhi salah satunya oleh budaya keselamatan di tempat kerja. Salah satu aspek yang membentuk budaya keselamatan adalah persepsi pekerja terhadap keselamatan yang sering disebut dengan istilah safety climate. Pengukuran safety climate penting dilakukan untuk memahami perilaku pekerja dan pengembangan program keselamatan terutama pada PT X yang bergerak di sektor ketenagalistrikan dengan yang diukur menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Todaro et al. (2023) dan distribusi frekuensi karaktertistik demografisnya (usia, jabatan, status kepegawaian, masa kerja, dan tingkat pendidikan). Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan metode analisis dekskriptif. Jumlah sampel penelitian yang dianalisis sebanyak 136 responden. Secara keseluruhan, persepsi pekerja terhadap implementasi keselamatan di PT X sudah baik dengan skor rata-rata 5,19. Skor rata-rata dimensi safety climate berada pada rentang nilai 4,56 – 5,35.


Workplace accidents are predominantly caused by unsafe worker behavior. This unsafe behavior can be influenced by, among other factors, the safety culture within the workplace. A key aspect of shaping safety culture is workers' perception of safety, commonly referred to as safety climate. Measuring safety climate is crucial for understanding worker behavior and developing effective safety programs, especially in high-risk sectors like the power generation industry, where PT X operates. This study aimed to ascertain the safety climate profile at PT X using a questionnaire developed by Todaro et al. (2023) and to analyze the frequency distribution of demographic characteristics (age, job position, employment status, length of work, and education level). The research employed a cross-sectional design with a descriptive analysis method. A total of 136 respondents were analyzed. Overall, workers' perceptions regarding safety implementation at PT X were good, with an average score of 5,19. The average scores for the various safety climate dimensions ranged from 4,56 to 5,35. Key words: safety climate, worker’s perception of safety, electricity power sector, demographic characteristics
Read More
S-12116
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakti Puruboyo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Daris Hendarko, Adhie Vieky Novrianto
Abstrak:
Perusahaan konstruksi memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap jumlah pekerja yang mengalami kecelakaan kerja. Perusahaan konstruksi memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Beberapa jenis pekerjaan dengan kategori risiko tinggi adalah pekerjaan di ketinggian, penggalian, ruang tertutup, dan operasi pengangkatan (lifting operations). Kecelakaan kerja di konstruksi negara berkembang, pertambangan, dan industri minyak dan gas telah meningkat setiap tahunnya. Kecelakaan kerja ini terjadi karena perilaku pekerja terkait keselamatan masih rendah. Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional maka melalui proyek migas dengan tujuan meningkatkan kapasitas kilang migas di Indonesia. Tesis ini menganalisis hubungan antara safety climate dan safety behaviour dengan mediasi dari gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional pada proyek migas di Indonesia. Uji hipotesis diajukan dengan total 7 uji hipotesis langsung dan tidak langsung dengan 675 pekerja sebagai responden. Untuk menguji hipotesis, penelitian ini menggunakan metode structural equation modelling. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa beberapa uji hipotesis diterima atau terdapat hubungan yang positif antar variabel. Beberapa hasil uji hipotesis ditolak atau tidak terbukti secara empiris berpengaruh positif dan signifikan antar variabel.

Construction companies play an important role in contributing to the number of workers who experience work accidents. Construction companies have a high risk of work accidents. Some jobs with a high-risk category are working at heights, digging, confined spaces, and lifting operations. Occupational accidents in developing countries' construction, mining, and oil and gas industries have increased yearly. These work accidents occur because the behaviour of workers related to safety is still low. To meet the national demand for fuel oil through the oil and gas project by increasing the capacity of oil and gas refineries in Indonesia. Occupational accidents at one of the projects in Indonesia have increased quite a bit. This study analyses the relationship between safety climate on worker safety behaviour with mediation of transformational and transactional leadership styles. The hypothesis test was proposed with a total of 7 direct and indirect hypotheses tests with 675 workers as respondents. To test the hypothesis, this study uses the structural equation modelling method. From the research conducted, it was found that several hypothesis tests were accepted or that there was a positive relationship between variables. Several hypothesis test results were rejected or not empirically proven to have a positive and significant effect between variables.
Read More
T-6741
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Krisna Murti Tri Putranto; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Chandra Sartya, Dadan Erwandi, Bama Herdiana Gusmara, Hasbullah
Abstrak: Kecelakaan kerja seringkali disebabkan oleh perilaku tidak aman. Program Behavior Based Safety memiliki peranan penting dalam menciptakan zero accidents. Implementasi dari program BBS memfokuskan pada observasi dimana dari observasi tersebut akan membentuk suatu kewaspadaan terhadap perilaku tidak aman dan meningkatkan perilaku aman. PT X sudah menerapkan program BBS dari tahun 2008-2016 dan didapatkan hasil evaluasi internal yang cukup baik, akan tetapi setelah ditanyakan secara langsung terhadap observer (karyawan), ditemukan praktik observasi yang tidak sesuai dengan kaidah BBS yang sudah disepakati yang mana hal ini dapat mempengaruhi hasil evaluasi internal PT X, dimana hal ini ditunjukkan ketika reinforcement ditiadakan, jumlah observer mengalami penurunan sebesar 68,2%. Tujuan penelitian ini mengevaluasi program BBS yang ada di PT X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Evaluasi yang dilakukan menggunakan 3 parameter besar, dengan total 8 sub parameter dengan penyebaran kuesioner terhadap divisi operasional, perawatan, tim pendukung ( Field Engineering Support, Laboratory, Medical dan Facility Management). Hasil analisis data menyebutkan bahwa evaluasi internal yang dilakukan oleh PT X masih kurang dimana terdapat unsur-unsur yang belum dimasukkan dalam evaluasi tersebut, antara lain keterlibatan pekerja dalam penentuan baseline, goal setting dan komitmen pekerja dan manajemen dalam pemberian feedback. Dan ditemukan bahwa reinforcement merupakan faktor penting dalam menjalankan program BBS ini. Key words: BBS, involvement, worker and management commitment, consistency program plays an important role to create zero accidents. The implementation of behavior-based safety program is focused to observe the behavior which is in observation will create unsafe behavior awareness and improve safe behavior. PT X has implemented BBS program from 2008-2016 and got good internal evaluation results, but after crosscheck directly to observer (employee), found observation practice which is not in accordance with BBS rules which it can influence the results of internal evaluation PT X, indicated when reinforcement is eliminated, the number of observers decreased by 68.2%. The purpose of this study is to evaluate the BBS program in PT X. This research is a descriptive research with quantitative approach. The evaluation was conducted using 3 large parameters, with a total of 8 subparameters with questionnaires distributed to the operational, maintenance, support gorup (Field Engineering Support, Laboratory, Medical and Facility Management) divisions. The results of the data analysis indicate that the internal evaluation conducted by PT X is still lacking where there are elements that have not been included in the evaluation, including the involvement of workers in determining the baseline, goal setting and commitment of workers and management in giving feedback. And found that reinforcement is an important factor in implementing BBS program. Key words: BBS, involvement, worker and management commitment, consistency
Read More
T-5064
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive