Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35763 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
M. Imam Alviyanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Hendra, Amalia Martha
Abstrak: Organisasi Kesehatan WHO pada tahun 1984 dalam EPA 1991 menyatakan bahwa 30% bagunan baru dan sedang dalam renovasi diseluruh dunia menyebabkan adanya keluhan pekerja terkait dengan kualitas udara dalam ruangan/Indoor Air Quality (IAQ). Lingkungan kerja yang buruk dapat menimbulkan gangguan Sick Building Syndrome (SBS) yang disebabkan kualitas dalam ruangan yang buruk seperti, ventilasi yang buruk, kelembaban yang teralalu rendah atau tinggi, suhu rungan yang terlalu panas atau dingin, debu, jamur, bakteri, bahan kimia pencemar udara dan lain sebagainya. Variabel yang diukur adalah Temperatur, Kelembaban, Pencahayaan, debu total dan Mikrobiologi dan Karakteristik Personal.metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan melihat berdasarakan univariat dan bivariate. Dari hasil analisa didapatkan hasil Temparatur (73 titik), Debu total (8 titik) dan Mikrobiologi (11 titik) telah memenuhi standar Permenkes No 48 tahun 2016, sedangkan kelembaban dari 73 titik hanya lantai 6 yang tidak memenuhi standard an Pencahayaan dari 73 titik, hanya 8 titik yang memenui standar. Berdasrkan hasil analisa bivariate variable IAQ dan Karakteristik personal tidak memiliki hubungan dengan gejala SBS pada karyawan PT X tahun 2017. Kata kunci: Indoor Air Quality, Sick Building Syndrome The WHO Health Organization in 1984 in EPA 1991 stated that 30% of new and under-renovated buildings around the world caused worker complaints related to Indoor Air Quality (IAQ). Poor work environment can cause Sick Building Syndrome (SBS) impairment due to poor indoor quality such as poor ventilation, low or high humidity, overheated or cold temperatures, dust, fungi, bacteria, pollutants Air and so forth. The variables measured were Temperature, Humidity, Lighting, Total Dust and Microbiology and Personal Characteristics. The method of this study used cross sectional approach by looking at univariate and bivariate. From the analysis results obtained Temperature (73 points), Total dust (8 points) and Microbiology (11 points) have met the Permenkes No. 48 of 2016, while humidity from 73 points only 6th floor that does not meet the standard of lighting from 73 points only 8 points that meets the standards. Based on the result of IAQ variable bivariate analysis and personal characteristics have no relation with SBS symptom on PT X employees in 2017. Key words: Indoor Air Quality, Sick Building Syndrome
Read More
S-9567
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rory Pratiwi; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widarnako, Muhammad Soffiudin
Abstrak: Polusi udara dalam ruangan diduga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kualitas udara yaitu Sick Building Syndrome (SBS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas fisik udara dalam ruangan dihubungkan dengan gejala SBS. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Variabel yang diukur adalah parameter fisik kualitas udara dalam ruangan (suhu, kelembaban relatif, pertukaran udara) dan personal faktor (umur, jenis kelamin, lama kerja, status merokok, riwayat penyakit). Berdasarkan hasil pengukuran didapatkan suhu udara telah memenuhi standar Baku Mutu yang ditetapkan Kepmenkes No 1405 tahun 2002, sedangkan kelembaban relatif melebihi standar. Untuk hasil pengukuran pertukaran udara telah memenuhi standar kecuali dilantai 16. Dari hasil analisis tidak ditemukan hubungan kualitas fisik udara dalam ruangan (suhu, kelembaban realif, pertukaran udara) dengan gejala SBS pada karyawan PT X Tahun 2016. Kata kunci : Sick Building Syndrome, Kualitas fisik udara Air pollution in a room expected can cause of health problems relating to the air quality is sick building syndrome (SBS) . This study aims to analyze physical qualities of indoor air linked to the Sick Building Syndrome ( SBS ) symptoms. This research is quantitative study with the design study cross sectional. Variable measured is the parameter physical indoor air quality (temperature , the relative humidity , exchange air) and personal factors (age , sex , old workings , the status of smoking , disease history). Based on the measurement result obtained temperature have met the standards of quality standard set Kepmenkes no 1405 year 2002 , while the relative humidity exceed standard. To the measurement result of exchange air have met the standards except on the floor 16. From the results of the analysis not found relations physical qualities of indoor air (temperature, the relative humidity, exchange air) with SBS symptoms on employees PT X 2016. Key words : Sick Building Syndrome, The physical quality of air
Read More
S-9127
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairul Fajarudin; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Doni Masditok, Handojo Kun
Abstrak: Tesis ini menyelidiki dan membandingkan berbagai faktor psikososial dan faktor lingkungan sosial yang dapat memberikan pengaruh pada satu atau berbagai gejala distress pada pekerja di perusahaan geothermal PT. X. Penelitian ini adalah penelitian semi kuantitatif dengan desain deskriptif. Penelitian menemukan 10 dari 11 indikator faktor psikososial yang dominan di persepsikan sebagian atau lebih responden, dengan 5 gejala stress kerja yang dominan adalah sakit kepala & pusing, MSDs, marah, sulit tidur, dan perubahan nafsu makan. Penelitian menyarankan kepada perusahaan untuk meninjau kembali beban kerja dan kapasitas kerja yang ada, meningkatkan proses manajemen kerja, memperbaiki komunikasi kerja dari tenaga asing, serta menciptakan lingkungan kerja yang suportif.
This thesis investigates and compares various psychosocial factors and social environment factors that can influence to one or several distress symptoms to workers in the geothermal company PT. X. This research is semi-quantitative research with a descriptive design. The research found 10 out of 11 dominant indicators of psychosocial factors perceived by half or more of the respondents, with 5 dominant stress symptoms are headache and dizziness, MSDs, angry, sleep difficulties, and change in appetite. The research suggests the company review the workload and current work capacity, improve work process management, improve communication by the foreign workers, and create a supportive work environment
Read More
T-6184
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joviana; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Mila Tejamaya, Eko Pudjadi
S-5844
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Ruth; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaedi, Bagus Bernard
Abstrak: kripsi ini membahas gambaran kejadian Sick Building Syndrome (SBS) dan faktor-faktor yang berhubungan pada karyawan PT. Elnusa Tbk di kantor pusat graha Elnusa Tahun 2009. Sick Building Syndrome atau SBS merupakan sekumpulan gejala gangguan kesehatan pada tenaga kerja yang bekerja di gedung gedung bertingkat. Penelitian SBS di Indonesia telah menunjukkan angka yang relatif tinggi. Diduga penyebab dari SBS ini adalah kurangnya ventilasi di dalam gedung serta kinerja penyejuk udara (AC) yang buruk. Selain itu, ada sumber radikal bebas lain seperti mesin fotokopi, printer, mesin faksimili, pengharum ruangan, larutan pembersih, atau bahan kain pelapis dinding. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihan gambaran kejadian Sick Building Syndrome dan faktorfaktor yang berhubungan pada karyawan PT. Elnusa Tbk di kantor pusat gedung Graha Elnusa Tahun 2009. Desain penelitian ini adalah crosssectional dan populasi yang di teliti adalah karyawan PT. Elnusa Tbk yang berada di lokasi pengukuran (suhu dan kelembaban udara) Graha Elnusa. Data yang digunakan adalah data primer, data perusahaan, pengukuran suhu dan kelembaban, dan observasi. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah, dari 152 responden yang mengalami kasus SBS di Graha Elnusa tahun 2009, hanya 56 responden (36,8%). Karakteristik responden yang mengalami kasus SBS adalah sebagai berikut 30 responden (33,7%). Yang lebih berisiko mengalami SBS yaitu responden yang berjenis kelamin wanita, responden yang berusia antara 21-30 tahun, responden bekerja kurang dari sama dengan 5 tahun (38,5%), responden yang tidak mempunyai kebiasaan merokok dalam ruangan (37,2%) dan responden yang mempunyai kondisi psikososial yang baik (37%). Penelitian kualitas udara dalam ruang (fisik, kimia, dan mikrobiologi) sangat berperan dalam menanggulangi masalah Sick Building syndrome. Selain itu penelitian mengenai pencahayaan juga diperlukan karena pencahayaan merupakan salah satu faktor yang dapat memicu timbulnya SBS.
Read More
S-5731
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khansa Fahrinka Ufaira; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Irma Setiawaty
Abstrak: Pekerja kasir berisiko untuk mengalami gangguan otot rangka. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko dari gejala gangguan otot rangka pada kasir. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Pengambilan data dilakukan dengan QEC, kombinasi kuesioner psikososial, NMQ, meteran, dan lux meter. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi gejala gangguan otot rangka tertinggi pada bahu dan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan gejala pada bahu (OR: 3.575) dan pergelangan kaki (OR: 2.784), kepuasan kerja dengan gejala pada punggung bawah (OR: 3.059), tuntutan kerja dengan gejala pada punggung bawah (OR: 7.650). Salah satu saran berdasarkan penelitian ini adalah melakukan pengaturan kembali workstation kasir.
Kata kunci: ergonomi, gangguan otot rangka, kasir, postur janggal, gerakan repetitif, psikososial

Cashiers are at risk to develop musculoskeletal disorders. The purpose of this research is to identify risk factors of musculoskeletal symptoms. The design of this research is cross-sectional. Data was collected with QEC, combination of psychosocial questionnaire, NMQ, meter tools, and lux meter. Results showed that the highest musculoskeletal symptoms prevalence was found in shoulder and there are significant association between: gender and shoulder (OR: 3.575) & ankle (OR: 2.784) symptoms, job satisfaction and low back symptoms (OR: 3.059), effort and low back symptoms (OR: 7.650). Based on results, it is recommended to adjust workstation based on anthropometry data.
Keywords: ergonomic, musculoskeletal symptoms, cashier, awkward position, repetitive movement, psychosocial factor
Read More
S-9342
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agoesti Novalentina; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Yulian Marstianto
Abstrak:
Komputer merupakan salah satu alat kerja perkantoran yang digunakan untuk menunjang kebutuhan pekerjaan. Dampak dari penggunaan komputer yang berlebihan adalah Computer Vision Syndrome (CVS). Karyawan Head Office PT X berisiko untuk terkena CVS karena sehari-hari bekerja menggunakan komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian CVS dan faktor risiko yang berhubungan pada karyawan PT X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dan pengukuran langsung kepada 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75% responden mengalami kejadian CVS. Gejala CVS yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah mata tegang (72%), mata gatal (68%), dan mata kering (67%). Gejala CVS lebih banyak ditemukan pada karyawan perempuan (79,3%), karyawan yang istirahat dengan durasi 15 menit (75,6%), karyawan yang bekerja menggunakan laptop (76%), karyawan yang menggunakan komputer tanpa lapisan anti glare (75,8%), serta karyawan yang menggunakan komputer mode terang (78,1%). Analisis hubungan dengan menggunakan uji chi square, didapatkan hubungan yang signifikan antara penggunaan alat bantu penglihatan (p=0,019, OR=3,35), jarak pandang (p=0,047, OR=3,08), dan intensitas pencahayaan (p=0,047, OR=3,08) dengan kejadian CVS. Semua faktor risiko CVS berkontribusi terhadap kejadian CVS pada karyawan, tetapi tidak semua variabel berhubungan secara signifikan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya perbaikan yang mencakup ketiga faktor tersebut dalam rangka menurunkan gejala CVS pada karyawan Head Office PT X.

The computer is one of the office work tools used to support work needs. The impact of excessive computer use is Computer Vision Syndrome (CVS). Head Office employees of PT X are at risk of developing CVS because they work daily using computers. This study aims to determine the incidence of CVS and associated risk factors in PT X employees. This study used a quantitative method with a cross sectional approach. Data collection used questionnaires, observation, and direct measurement to 100 respondents. The results showed that 75% of respondents experienced CVS. The most common CVS symptoms felt by respondents were eye strain (72%), itchy eyes (68%), and dry eyes (67%). CVS symptoms were more common among female employees (79,3%), employees who took breaks with a duration of 15 minutes (75,6%), employees who worked on laptops (76%), employees who used computers without anti glare coating (75,8%), and employees who used bright mode computers (78.1%). Relationship analysis using the chi square test showed a significant relationship between the use of visual aids (p=0,019, OR=3.35), visibility (p=0,047, OR=3.08), and lighting intensity (p=0,047, OR=3.08) with the incidence of CVS. All CVS risk factors contributed to the incidence of CVS in employees, but not all variables were significantly associated. Therefore, it is necessary to make improvement efforts that include all three factors in order to reduce CVS symptoms in PT X Head Office employees.
Read More
S-11686
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukma Ayu Eurohastanti; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Hendra, Muhammad Fertiaz
T-4943
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aldi Dwi Putra; Pembimbing: Bambang Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Yunita Rahayuningsih
Abstrak: Manufaktur merupakan salah satu sector industri yang memiliki risiko gangguan otot rangka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dari gejala gangguan otot rangka. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2018 dengan melibatkan 51 orang operator pada area mixing rubber dan 40 orang pekerja kantor di PT X yang merupakan perusahaan manufaktur komponen kendaraan bermotor. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan instrument pengambilan data berupa kuesioner QEC dan kombinasi kuesioner psikososial. Variabel independent pada penelitian ini yaitu karakteristik individu pekerja (usia, jenis kelamin, IMT, status merokok dan lama kerja), faktor fisik di tempat kerja (force, postur janggal, gerakan berulang, dan coupling) dan faktor psikososial (tuntutan kerja, kendali terhadap pekerjaan, dukungan social, skill discretion, kepuasan kerja, dan stress kerja). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan gejala pada punggung atas, lama kerja dengan gejala pada pergelangan tangan, faktor risiko fifik yang tinggi dengan gejala pada leher, skill discretion dengan gejala pada pergelangan tangan, stress kerja dengan gejala pada bahu dan punggung bawah. Oleh karena itu perlu diadakan pengendalian lebih lanjut mengenai masalah ergonomic pada PT X.
Kata kunci: gejala gangguan otot rangka, manufaktur, ergonomi,faktor fisik, faktor psikososial

Manufacture is one of the industry that has the risk of musculoskeletal disorders. The aim of this research is to analysize the risk factors from the symptoms of disorders of musculoskeletal. This research conducted on March until April 2018 by involving 51 workers on Mixing area and 40 workers on Office Area of X Corporation which is a manufacturing company who made the component of the motor vehicle. This research used Cross Sectional method by using QEC questionnaire and combination of psychosocial questionnaire as the instrument for data collection. The independent variable of this research are the characteristic of workers (age, gender, body mass index, smokimg status, and working time), physical factors on the work place (force, awkward postures, repetitive motion, and coupling) and psychosocial factors (job demands, control of the job, social support, skill discretion, job satisfaction, and work stress). The result of this research shows there is a significant correlation of body mass index with a symptoms on the top of the back, working time and skill direstion with a symptoms of the wrist, high risk of physical factor with a symptom of the neck, and work stress with a symptom of shoulders and the low part of the back. Therefore it needs to be a further control about ergonomic factor at X Corporation.
Keyword: symptoms of musculoskeletal disorder, manufacturing, ergonomic, physical factor, psychosocial factor.
Read More
S-9681
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vania Widyadhari Haris Putri; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Moh. Rifki Rosady
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi pekerja terhadap faktor psikososial konteks dan konten pekerjaan serta mengetahui gejala stres kerja yang dikeluhkan karyawan. Variabel dependen penelitian adalah gejala stres kerja (fisik, psikologis, kognitif, dan perilaku), sedangkan variabel independen adalah faktor karakteristik individu (usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, dan tipe kepribadian), faktor psikososial konteks pekerjaan (budaya dan fungsi organisasi, peran di organisasi, perkembangan karir, pengambilan keputusan dan kontrol, hubungan rumah-kantor) dan konten pekerjaan (lingkungan kerja, desain tugas, beban kerja/ritme kerja, dan jadwal kerja). Desain penelitian cross sectional, pengambilan data kuesioner via daring dan melibatkan seluruh karyawan sebanyak 51 orang. Analisis univariat menggunakan perangkat lunak. Persepsi faktor psikososial mengacu pada skor rata-rata, skor 1,00-3,00 tergolong buruk dan 3,01-5,00 tergolong baik.
Read More
S-10713
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive