Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35682 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wiam Rifati; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Rahmawati
Abstrak: Dismenorea adalah nyeri saat menstruasi yang dapat berupa kram pada perut bagianbawah tengah, nyeri pelvis, kembung, dan mual. Penelitian ini bertujuan mengetahuifaktor-faktor dan faktor dominan yang berhubungan dengan dismenorea pada remaja.Desain studi yang digunakan adalah cross sectional kepada 177 siswi di SMAN 5 Bekasidengan pengukuran antropometri untuk data berat badan dan tinggi badan, dan pengisiankuesioner untuk data usia menarke, aktivitas fisik, kebiasaan sarapan, riwayat dismenoreadi keluarga, lama menstruasi, dan stres. Data dianalisis dengan uji Chi-square, uji bedadua mean, uji korelasi, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan85.9% responden mengalami dismenorea. Terdapat hubungan yang bermakna antaradismenorea dengan kebiasaan sarapan (p = 0.044, OR = 1.3) dan riwayat dismenorea dikeluarga (p = < 0.001, OR = 6.8). Riwayat dismenorea di keluarga merupakan faktordominan yang berhubungan dengan dismenorea karena memiliki OR terbesar. Namun,faktor tersebut tidak dapat diintervensi, sehingga dipilih kebiasaan sarapan sebagai faktoryang dapat diintervensi.Kata kunci: dismenorea, remaja, kebiasaan sarapan, riwayat dismenorea di keluarga.
Dysmenorrhea is defined as menstrual pain that can be felt like cramps in lower middleabdomen, pelvic pain, bloated, and nausea. The aim of this study was to determine factorsand dominant factor associated to dysmenorrhea in adolescents. A cross-sectional studywas conducted among 177 female students in SMAN 5 Bekasi by anthropometrymeasurement for weight and height data, and self-administered questionnaire for age ofmenarche, physical activity, breakfast habits, family history of dysmenorrhea, menstrualduration, and stress data. Data were analyzed using Chi-square, two-mean difference,correlation, and multiple logistic regression analysis. The result showed that 85.9% ofrespondents had dysmenorrhea. Significant associations were found betweendysmenorrhea and breakfast habits (p = 0.044, OR = 1.3), and family history ofdysmenorrhea (p = < 0.001, OR = 6.8). Family history of dysmenorrhea is the dominantfactor because it has the highest OR score. Nonetheless, family history of dysmenorrheacan not be intervened nor changed, so breakfast habits are chosen factor to be intervened.Keywords: dysmenorrhea, adolescents, breakfast habits, family history of dysmenorrhea.
Read More
S-9789
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Kurnia Novianthy; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad
S-8842
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zuraidah Hanifah; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Sandra Fikawati, Rahmawati
Abstrak: KONSUMSI SAYUR DAN BUAH MASYARAKAT INDONESIA MASIH JAUH DARI KATEGORI CUKUP. REMAJA DITEMUKAN SEBAGAI KELOMPOK UMUR DENGAN PERSENTASE TERTINGI UNTUK KONSUMSI SAYUR DAN BUAH YANG KURANG. KONSUMSI SAYUR DAN BUAH YANG KURANG PADA SAAT REMAJA AKAN MEMPENGARUHI STATUS KESEHATAN DI MASA MENDATANG. PENELITIAN INI BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA KELOMPOK REMAJA DI JAKARTA. PENELITIAN INI MENGGUNAKAN DISAIN CROSS SECTIONAL PADA BULAN APRIL HINGGA MEI 2018 DI SMAN 39 JAKARTA. RESPONDEN TERDIRI DARI SISWA KELAS X DAN KELAS XI. PENGAMBILAN DATA MENGGUNAKAN KUESIONER DAN FFQ DENGAN METODE ANGKET. HASIL PENELITIAN INI MENUNJUKKAN BAHWA TERDAPAT 68,4% RESPONDEN TERMASUK KE DALAM KATEGORI KURANG KONSUMSI SAYUR DAN BUAH. UJI CHI SQUARE YANG DILAKUKAN MENGHASILKAN BAHWA TERDAPAT HUBUNGAN ANTARA PENGARUH ORANGTUA (OR=2,436; CI=1,293-4,587) DAN KETERLIBATAN DALAM BERBELANJA (OR=2,045; CI=1,091-3,834) DENGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA RESPONDEN. ANALISIS LEBIH LANJUT BERUPA ANALISIS MULTIVARIAT DENGAN UJI REGRESI LOGISTIK GANDA MENUNJUKKAN HASIL BAHWA PENGARUH ORANGTUA MENJADI FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA SISWA. KATA KUNCI: KONSUMSI SAYUR, KONSUMSI BUAH, REMAJA CONSUMPTION OF VEGETABLES AND FRUITS OF INDONESIAN SOCIETY IS STILL FAR FROM SUFFICIENT CATEGORY. ADOLESCENTS ARE FOUND AS THE AGE GROUP WITH THE HIGHEST PERCENTAGE FOR LESS VEGETABLE AND FRUIT CONSUMPTION. CONSUMPTION OF LESS VEGETABLES AND FRUITS DURING ADOLESCENCE WILL AFFECT HEALTH STATUS IN THE FUTURE. THIS STUDY AIMS TO DETERMINE THE DOMINANT FACTORS ASSOCIATED WITH CONSUMPTION OF VEGETABLES AND FRUITS IN GROUPS OF ADOLESCENTS IN JAKARTA. THIS STUDY USED CROSS SECTIONAL DESIGN IN APRIL TO MAY 2018 AT SMAN 39 JAKARTA. RESPONDENTS CONSISTED OF STUDENTS OF CLASS X AND CLASS XI. DATA COLLECTION USING SELF-ADMINISTERED QUESTIONNAIRE AND. THE RESULTS OF THIS STUDY INDICATE THAT THERE ARE 68.4% OF RESPONDENTS INCLUDED INTO THE CATEGORY OF LESS CONSUMPTION OF VEGETABLES AND FRUITS. THE CHI SQUARE TEST PERFORMED RESULTED IN A RELATIONSHIP BETWEEN PARENTAL INFLUENCE (OR = 2,436; CI = 1,293-4,587) AND SHOPPING INVOLVEMENT (OR = 2,045; CI = 1,091-3,834) WITH CONSUMPTION OF VEGETABLES AND FRUITS IN THE RESPONDENTS. FURTHER ANALYSIS IN THE FORM OF MULTIVARIATE ANALYSIS WITH MULTIPLE LOGISTIC REGRESSION TEST SHOWED THAT THE INFLUENCE OF PARENTS BECAME THE DOMINANT FACTOR RELATED TO THE CONSUMPTION OF VEGETABLES AND FRUIT IN THE STUDENTS. KEY WORDS: VEGETABLE CONSUMPTION, FRUIT CONSUMPTION, ADOLESCENCE
Read More
S-9860
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilah Shofa Fauziyah; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Yuni Zahraini
Abstrak:

Ikan merupakan sumber makanan hewani yang penting karena ikan mengandung berbagai nutrisi. Namun konsumsi ikan di kalangan remaja di Indonesia masih rendah. Konsumsi ikan yang kurang pada masa remaja dapat mempengaruhi status kesehatan di kemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi ikan pada remaja di SMAN 39 Jakarta tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan responden 150 siswa kelas X dan XI. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2019 melalui pengisian kuesioner, pengukuran antropometri, dan pengisian kuesioner frekuensi makanan semi kuantitatif (SFFQ). Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan chi-square dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 57,3% siswa pada kategori konsumsi ikan kurang dengan rata-rata konsumsi ikan 34,1 gram/hari. Konsumsi ikan memiliki hubungan yang signifikan dengan sikap (p = 0,009), preferensi (p = 0,020), pengaruh orang tua (p <0,001), dan ketersediaan ikan di rumah (p = 0,006). Analisis lebih lanjut berupa analisis multivariat menunjukkan bahwa pengaruh tetua (p = 0,001; OR = 3,407) merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi ikan pada siswa. Artinya, berbagai pihak khususnya para orang tua dapat mengambil bagian dalam intervensi gizi terkait peningkatan konsumsi ikan di kalangan pelajar.


 

Fish are an important source of animal food because they contain a variety of nutrients. However, fish consumption among adolescents in Indonesia is still low. Less fish consumption during adolescence can affect health status later in life. This study aims to determine the dominant factors associated with fish consumption in adolescents at SMAN 39 Jakarta in 2019. This study used a cross-sectional research design with 150 respondents in class X and XI. Data collection was carried out in April 2019 through filling out questionnaires, anthropometric measurements, and filling in the semi-quantitative food frequency questionnaire (SFFQ). Bivariate analysis was performed using chi-square and multivariate analysis using multiple logistic regression tests. The results of this study indicate that there are 57.3% of students in the fish consumption category with an average fish consumption of 34.1 grams/day. Fish consumption has a significant relationship with attitude (p = 0.009), preference (p = 0.020), parental influence (p <0.001), and fish availability at home (p = 0.006). Further analysis in the form of multivariate analysis showed that the influence of parents (p = 0.001; OR = 3.407) was a dominant factor related to fish consumption in students. This means that various parties, especially parents, can take part in nutrition interventions related to increased fish consumption among students.

Read More
S-9957
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gumanti Cita Murni; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusnidar Achmad, Muhamad Nasir
S-6537
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Ayu Rahmawati; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar
Abstrak: Kebiasaan makan tidak baik dapat berdampak pada status gizi dan dalam jangka panjangmemiliki manifestasi terhadap risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kebiasaan makan pada remaja diSMA Negeri 81 Jakarta. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatifdengan desain studi potong lintang (cross sectional). Kebiasaan makan sebagai variabeldependen merupakan variabel komposit dari frekuensi makan, porsi konsumsi kelompokjenis pangan, dan frekuensi konsumsi makanan cepat saji. Sementara itu, variabelindependen pada penelitian ini adalah peran teman sebaya, frekuensi penggunaan mediasosial (twitter, youtube, instagram, dan blog) untuk mencari konten tentang makanan,pengetahuan gizi, tingkat stres, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, dan uangsaku harian. Data pada penelitian ini diambil secara daring dari 176 responden di kelas Xdan XI secara acak dengan menggunakan kuesioner dan SQ-FFQ yang diisi secaramandiri. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 84,6% responden memilikikebiasaan makan tidak baik. Terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antarakebiasaan makan dengan pengetahuan gizi (p=0,017). Tidak ditemukan adanya faktordominan kebiasaan makan pada penelitian ini, akan tetapi berdasarkan hasil analisisregresi logistik ditemukan kecenderungan bahwa remaja dengan pengetahuan gizi tidakbaik berpeluang memiliki kebiasaan makan tidak baik sebesar 4,6 kali.Kata kunci: Kebiasaan makan, remaja, pengetahuan gizi.
Read More
S-10266
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vania Shinta Pramesti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Triyanti, Sumartini
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kecenderungan perilaku makan menyimpang pada remaja. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kecenderungan perilaku makan menyimpang. Terdapat delapan variabel independen yang diteliti yaitu jenis kelamin, media sosial, pengaruh tokoh media massa, pengaruh keluarga, pengaruh teman sebaya, rasa percaya diri, riwayat diet, dan citra tubuh. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 410 responden (kelas 10 dan 11) di SMA Negeri 5 Kota Bekasi, menggunakan kuesioner daring. Hasil penelitian menunjukan terdapat 91,7% responden yang memiliki kecenderungan perilaku makan menyimpang. Hasil analisis menemukan hubungan bermakna antara kecenderungan perilaku makan menyimpang dengan variabel media sosial, pengaruh tokoh media massa, pengaruh keluarga, pengaruh teman sebaya, rasa percaya diri, dan riwayat diet. Ditemukan riwayat diet sebagai faktor dominan terhadap kecenderungan perilaku makan menyimpang (Odd ratio = 5.342). Diperlukan peran keluarga dan kolaborasi antara sekolah dan tenaga kesehatan untuk memberikan pendidikan gizi serta pendampingan agar remaja memiliki perilaku makan yang sehat.
Read More
S-10764
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reratri Andadari; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati
S-9806
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Kalila Sono; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Romlah
Abstrak:
Stunted merupakan kondisi dimana anak mempunyai perawakan pendek atau sangat pendek akibat malnutrisi kronis, dengan tinggi badan menurut umur kurang dari -2 Standar Deviasi. Masa remaja merupakan periode kritis kedua untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan mencegah stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunted pada remaja usia 10-14 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah desain penelitian cross sectional menggunakan data sekunder hasil survei Riskesdas tahun 2018 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 6.032 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi square dan regresi logistik ganda, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunted di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 49,1%, dengan faktor rumah tangga dan orang tua (jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan orang tua, status pekerjaan ibu), lingkungan (sumber air minum, wilayah tempat tinggal, perilaku mencuci tangan), konsumsi protein hewani, dan aktivitas fisik yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunted (p < 0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunted pada remaja adalah tingkat pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,973; 95% CI: 1,392-2,797).

Stunted is a condition where a child has a short or very short stature due to chronic malnutrition, with a height-for-age less than -2 Standard Deviations. Adolescence is the second critical period for catching up on growth and preventing stunting. This study aims to identify the dominant factors associated with stunting in adolescents aged 10-14 years in East Nusa Tenggara Province. The research method used is a cross-sectional study design utilizing secondary data from the 2018 Riskesdas survey with a total sample of 6,032 respondents. Data analysis in this study includes univariate analysis, bivariate analysis using chi-square and multiple logistic regression, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of stunted adolescents in East Nusa Tenggara Province was 49.1%, with household and parental factors (number of family members, parents' education level, mother's employment status), environmental factors (source of drinking water, place of residence, handwashing behavior), animal proteins consumption, and physical activity significantly associated with stunting (p < 0.05). The dominant factor associated with stunting in adolescents is the father's education level (p = 0.0001; OR = 1.973; 95% CI: 1.392-2.797).
Read More
S-11739
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Amalia; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Trini Sudiarti, Eti Rohati
S-9676
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive