Ditemukan 36392 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kemal Al Fajar; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Naomi, Yoan Hotnida; Fenny Rosnisa Rosalina
T-5155
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hazella Rissa Valda Asari; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Lily Banonah Rivai, Ahmad Kurnia
Abstrak:
Read More
Kanker payudara adalah kanker yang paling umum didiagnosis pada wanita. angka kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk. Rata-rata kematian akibat kanker ini mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk. Obesitas dapat mewakili faktor risiko penting dari pengembangan kanker payudara. Prevalensi global kelebihan berat badan dan obesitas telah meningkat sebesar 27% pada usia dewasa dan 47% pada masa kanak-kanak selama dekade terakhir. Tujuan penelitian yaitu menganalisis hubungan obesitas dengan kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia. Desain penelitian yaitu cross sectional dan menggunakan analisis regresi logistik dengan menggunakan data sekunder dari Riset Penyakit Tidak Menular Tahun 2016. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini berjumlah 27.186 orang. Hasil analisis menunjukkan proporsi perempuan obesitas yang mengalami kanker payudara adalah 0,9%. Hubungan antara obesitas dengan kanker payudara tidak terdeteksi setelah dikontrol oleh penggunaan kontrasepsi hormonal, usia, kebiasaan merokok, usia menarche, alkohol, dan aktivitas fisik. (POR=1,002 95% 0,777-1,291). Walaupun demikian, program intervensi untuk mengurangi masalah kesehatan kanker payudara dan obesitas perlu dilakukan mengingat proporsi kanker payudara dan obesitas yang terus meningkat
Breast cancer is the most common cancer diagnosed in women. Breast cancer rate in Indonesia reaches 42.1 people per 100 thousand population. The average death rate from this cancer reaches 17 people per 100 thousand population. Obesity may represent an important risk factor for developing breast cancer. The global prevalence of overweight and obesity has increased by 27% in adulthood and 47% in childhood over the past decade. The research objective was to analyze the relationship between obesity and the incidence of breast cancer in women in Indonesia. The research design was cross sectional and used logistic regression analysis using secondary data from the 2016 Non-Communicable Disease Research. The sample that met the inclusion and exclusion criteria in this study was 27,186 people. The analysis showed that the proportion of obese women who had breast cancer was 0.9%. The relationship between obesity and breast cancer is not detected after being controlled by hormonal contraceptive use, age, smoking habits, age of menarche, alcohol, and physical activity. (POR=1.002 95% 0.777-1.291). However, intervention programs to reduce breast cancer health problems and obesity need to be carried out given the increasing proportion of breast cancer and obesity
T-6045
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Geby Hasanah Jorgy; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Yovsyah, Punto Dewo
Abstrak:
Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme yang merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada wanita dewasa di daerah perkotaan di Indonesia tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah wanita dewasa di daerah perkotaan yang tidak hamil dan memiliki kelengkapan data sebanyak 122.880 responden. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi DM berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 2.2 % dan menemukan bahwa prevalensi DM tertinggi berada pada faktor risiko, seperti umur ≥ 45 tahun (5.2%), pendidikan rendah (3.1%), tidak bekerja (2.3%), status cerai (3.6%), aktfitas cukup (2.2%), mantan perokok (4%), jarang makan manis (3.8%) dan berlemak (2.3%), obesitas (2.9%), obesitas sentral (2.9%), dan hipertensi (7.6%). Faktor risiko DM yang memiliki hubungan paling dominan adalah umur ≥ 45 tahun (POR : 9.24; 95 % CI 7.69-11.1), status cerai (POR : 5.95; 95 % CI 4.85-7.30), dan hipertensi (POR : 5.10; 95 % CI 4.70-5.54). Untuk itu, perlu diadakan sosialisasi untuk program deteksi dini faktor risiko DM, serta perlunya kesadaran diri untuk cek gula darah secara teratur untuk wanita dewasa di daerah perkotaan.
Diabetes mellitus is a metabolic disease which is a collection of symptoms that occur due to an increase in blood sugar levels above normal. This study aims to determine the risk factors assosiated with type 2 diabetes mellitus in adult women in urban areas. This study used a data from Riskesdas 2013 and using cross sectional as design study. Samples were adult women above 18 living in urban areas who are nor pregnant and has complete data. Result shows the prevalence of DM that based on diagnosis and symptoms is 2.2 % and the risk factors with highest prevalence of diabetes are age ≥ 45 (5.2%), low educated (3.1%), umemployed (2.3%), divorced (3.6%), enough activity (2.2%), former smokers (4%), rarely eat sweets (3.8%) and fatty foods (2.3%), obese (2.9%), central obese (2.9%), and hypertension (7.6%). The risk factors that highly associated are age ≥ 45 (POR : 9.24; 95 % CI 7.69-11.1), divorce (POR : 5.95; 95 % CI 4.85-7.30), and hypertension (POR : 5.10; 95 % CI 4.70-5.54). Therefor, screening for DM and self-awareness to check the blood sugar level are s strongly recommended among adult women in urban areas.
Read More
S-8806
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retia Rismawati; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Esti Widiastuti
Abstrak:
Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia karena prevalensinya yang terus meningkat. Hipertensi yang juga merupakan faktor risiko diabetes melitus tipe 2 memiliki prevalensi yang sangat tinggi di Indonesia. Tidak hanya itu, prevalensi kedua penyakit tersebut meningkat seiring bertambahnya usia, dimulai dari usia ≥40 tahun. ujuan: Untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sumber data yang digunakan berasal dari hasil Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 15.026 partisipan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil: Prevalensi diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia masing-masing sebesar 21,3% dan 51,8%. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara hipertensi dengan diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. fek gabungan antara hipertensi dengan obesitas sentral memiliki risiko sebesar 2,07 kali lebih besar terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan obesitas. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara hipertensi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. Risiko diabetes melitus tipe 2 yang lebih tinggi terjadi pada orang yang mengalami hipertensi dan obesitas sentral. Saran: Perlu dilakukan deteksi dini diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi sedini mungkin, terutama bagi penduduk yang berusia ≥40 tahun dan mengalami obesitas sentral
Read More
S-10936
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marzalyla Putri Hendriansyah; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Read More
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada perempuan, risiko DMT2 dapat meningkat seiring bertambahnya usia, perubahan komposisi tubuh, serta penumpukan lemak abdominal. Lingkar perut merupakan salah satu indikator antropometri yang digunakan untuk menilai obesitas sentral, yaitu kondisi penumpukan lemak di area perut yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 pada perempuan usia 15 tahun ke atas di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder SKI 2023 yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sampel akhir dalam penelitian ini berjumlah 320.601 perempuan usia 15 tahun ke atas. Variabel dependen adalah diabetes melitus tipe 2, sedangkan variabel independen utama adalah obesitas sentral yang dikategorikan menjadi obesitas sentral dan tidak obesitas sentral. Analisis data dilakukan menggunakan Complex Samples Cox Regression dengan waktu konstan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 setelah melakukan kontrol pada variabel perancu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lingkar perut responden adalah 81,77 cm (95% CI: 81,68–81,85). Lebih dari separuh responden mengalami obesitas sentral, yaitu sebesar 53,8% (95% CI: 53,5–54,1). Perempuan dengan obesitas sentral memiliki prevalensi DMT2 sebesar 2,21 kali dibandingkan perempuan yang tidak mengalami obesitas sentral setelah dikontrol usia dan IMT (aPR=2,21; 95% CI: 1,95–2,52; p<0,001). Temuan ini menekankan pentingnya pengukuran lingkar perut secara rutin, baik untuk skrining kelompok berisiko maupun pemantauan pasien diabetes melitus tipe 2, disertai pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur sebagai upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2.
Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease and remains a major public health problem in Indonesia. Among women, the risk of T2DM may increase with age, changes in body composition, and abdominal fat accumulation. Waist circumference is an anthropometric indicator used to assess central obesity, a condition characterized by fat accumulation in the abdominal area that is associated with metabolic disorders. This study aimed to examine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus among women aged 15 years and above in Indonesia based on data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 IHS, which covered all regions of Indonesia. The final sample consisted of 320,601 women aged 15 years and above. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, while the main independent variable was central obesity, categorized into central obesity and non-central obesity. Data were analyzed using Complex Samples Cox Regression with constant time to determine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus after controlling for confounding variables. The results showed that the mean waist circumference of respondents was 81.77 cm (95% CI: 81.68–81.85). More than half of the respondents had central obesity, accounting for 53.8% (95% CI: 53.5–54.1). Women with central obesity had a 2.21 times higher prevalence of T2DM than those without central obesity after controlling for age and BMI (aPR=2.21; 95% CI: 1.95–2.52; p<0.001). These findings emphasize the importance of routine waist circumference measurement for screening high-risk groups and monitoring patients with T2DM, along with healthy eating patterns and regular physical activity as part of T2DM prevention and control efforts.
S-12471
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Endah Dwi Pratiwi; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C Adisasmita, Soewarta Kosen, Enny Nuryanti
Abstrak:
Read More
Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada jemaah haji Indonesia yang mengikuti haji setiap tahun. Penyakit komorbid terbanyak yang dimiliki oleh jemaah haji Indonesia salah satunya yaitu Diabetes Melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan PreDM dan DM dengan kejadian rawat inap akibat pneumonia di rumah sakit Arab Saudi. Desain penelitian kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder dari Siskohatkes Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan pada populasi jemaah haji Indonesia tahun 2024. Jemaah haji yang terdiagnosa pneumonia dipilih sebagai kasus. Kontrol dipilih secara acak dengan diagnosis bukan pneumonia di antara jemaah haji Indonesia yang dirawat pada rumah sakit yang sama dengan kasus di Arab Saudid dengan rasio 1 : 3. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Penelitian ini mengidentifikasi 175 kasus dan 525 kontrol. Jemaah haji dengan PreDM dan DM yang mengalami pneumonia sebesar 55,43% dan 54,86% tidak mengalami pneumonia, akan tetapi perbedaan ini tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan jemaah haji dengan kondisi PreDM dan DM berisiko 1,12 kali setelah dikontrol oleh variabel usia dan obesitas sentral untuk mengalami kejadian rawat inap akibat pneumonia di rumah sakit Arab Saudi (95% CI 0,78 - 1,59; p=0,517). Jemaah haji dengan kondisi PreDM dan DM berpotensi terjadi pneumonia saat beribadah haji sehingga diprioritaskan pencegahan dan pengelolaan penyakitnya agar dapat mengurangi angka morbiditas
Pneumonia is the main cause of morbidity and mortality in Indonesian hajj pilgrims who participate in the hajj every year. One of the most common comorbid diseases in Indonesian hajj pilgrims is Diabetes Mellitus (DM). This study aims to determine the relationship between Pre DM and DM with the incidence of hospitalization due to pneumonia in Saudi Arabian hospitals. The case-control study design used secondary data from the Siskohatkes Hajj Health Center of the Ministry of Health in the population of Indonesian hajj pilgrims in 2024. Hajj pilgrims diagnosed with pneumonia were selected as cases. Controls were randomly selected with a diagnosis of non-pneumonia among Indonesian hajj pilgrims treated at the same hospital as the cases in Saudi Arabia with a ratio of 1: 3. Multivariate analysis using logistic regression. This study identified 175 cases and 525 controls. Hajj pilgrims with Pre DM and DM who had pneumonia were 55.43% and 54.86% did not have pneumonia, but this difference was not significant. The results of the study showed that pilgrims with Pre DM and DM conditions were at risk of 1.12 times after being controlled by age and central obesity variables for hospitalization due to pneumonia in Saudi Arabian hospitals (95% CI 0.78 - 1.59; p = 0.517). Pilgrims with Pre DM and DM conditions have the potential to experience pneumonia during the Hajj so that prevention and management of the disease are prioritized to reduce morbidity and mortality rates.an mortalitas.
T-7339
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hubungan Diabetes Melitus Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Penduduk 40-65 Tahun di Indonesia
Ira Aminah Padang; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Telly Purnama Agus, Nikson Sitorus
Abstrak:
Pendahuluan : Indonesia menduduki posisi ketiga dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak. Rata-rata 90% dari yang terinfeksi M.tuberkulosis menimbulkan kekebalan karena imunitas yang baik akan tetapi 10% berkembang menjadi tuberkulosis aktif dalam hitungan beberapa bulan atau tahun setelah terjadi infeksi (WHO, 2018). Diabetes menyerang 382 juta pada tahun 2013 dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 592 juta pada tahun 2035. Ketika diabetes menyebar, itu akan menyebabkan semakin banyak penduduk yang terinfeksi tuberkulosis (Lönnroth, 2014). Prevalensi diabetes mellitus meningkat berdasarkan umur terutama pada populasi di atas 40 tahun yang dikarenakan perkembangan intoleransi glukosa. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui besar risiko diabetes mellitus terhadap kejadian tuberkulosis paru pada penduduk 40-65 tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor contributory (potential confounder) yang juga berhubungan terhadap kejadian tuberkulosis maupun diabetes mellitus.
Metode : Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Sebanyak 26.301 Penduduk 40-65 tahun menjadi sampel pada penelitian ini. Data diperoleh dari Mandat Litbangkes RI dan dianalisis menggunakan uji Regresi Logistik.
Hasil : Risiko TB Paru 4,8 kali lebih besar pada penduduk 40-65 tahun yang memiliki riwayat diabetes mellitus dibandingkan dengan tidak memiliki riwyat diabetes mellitus (POR=4,8 : 95% CI 2,2-10,6).
Kesimpulan : Kolaborasi antar layanan termasuk didalamnya skrining (Diabetes Mellitus dan TB Paru) diperlukan untuk mengurangi prevalensi dari kedua penyakit dengan didukung penyusunan peraturan/pedoman standard antar layanan di FKTP serta pertimbangan pemberian profilaksis PP INH pada penderita diabetes mellitus perlu dipertimbangkan
Introduction : Indonesia is the third rank of the highest number cases of tuberculosis. On average 90% of those infected with M and only 10% develop active tuberculosis after infection (WHO, 2018). Diabetes attacked 382 million in 2013 and will be predicted increase to 592 million by 2035. When diabetes spreads, it will cause more people infected tuberculosis (Lönnroth, 2014). The prevalence of diabetes mellitus increases with age, especially in populations over 40 years due to the development of glucose intolerance. Therefore, it is necessary to do research to determine the risk of diabetes mellitus against pulmonary tuberculosis in the population of 40-65 years by considering the contributory factors (potential confounder) which are also related to the prevalence of tuberculosis and diabetes mellitus.
Method: This study used cross-sectional design. Sample were 26,301 respondents of 40- 65 years. Data was obtained from the Indonesian Litbangkes and analyzed using the Logistic Regression.
Result : The risk of pulmonary TB was 4,8 times greater in the population of 40-65 years who had a history of diabetes mellitus compared to not having a diabetes mellitus (POR = 4,8 : 95% CI 2,2-10,6).
Conclusion : Collaboration both health services including screening (Diabetes Mellitus and Pulmonary TB) is needed to reduce the prevalence of both diseases and profilaxis program of PP INH need to be considered
Read More
Metode : Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Sebanyak 26.301 Penduduk 40-65 tahun menjadi sampel pada penelitian ini. Data diperoleh dari Mandat Litbangkes RI dan dianalisis menggunakan uji Regresi Logistik.
Hasil : Risiko TB Paru 4,8 kali lebih besar pada penduduk 40-65 tahun yang memiliki riwayat diabetes mellitus dibandingkan dengan tidak memiliki riwyat diabetes mellitus (POR=4,8 : 95% CI 2,2-10,6).
Kesimpulan : Kolaborasi antar layanan termasuk didalamnya skrining (Diabetes Mellitus dan TB Paru) diperlukan untuk mengurangi prevalensi dari kedua penyakit dengan didukung penyusunan peraturan/pedoman standard antar layanan di FKTP serta pertimbangan pemberian profilaksis PP INH pada penderita diabetes mellitus perlu dipertimbangkan
Introduction : Indonesia is the third rank of the highest number cases of tuberculosis. On average 90% of those infected with M and only 10% develop active tuberculosis after infection (WHO, 2018). Diabetes attacked 382 million in 2013 and will be predicted increase to 592 million by 2035. When diabetes spreads, it will cause more people infected tuberculosis (Lönnroth, 2014). The prevalence of diabetes mellitus increases with age, especially in populations over 40 years due to the development of glucose intolerance. Therefore, it is necessary to do research to determine the risk of diabetes mellitus against pulmonary tuberculosis in the population of 40-65 years by considering the contributory factors (potential confounder) which are also related to the prevalence of tuberculosis and diabetes mellitus.
Method: This study used cross-sectional design. Sample were 26,301 respondents of 40- 65 years. Data was obtained from the Indonesian Litbangkes and analyzed using the Logistic Regression.
Result : The risk of pulmonary TB was 4,8 times greater in the population of 40-65 years who had a history of diabetes mellitus compared to not having a diabetes mellitus (POR = 4,8 : 95% CI 2,2-10,6).
Conclusion : Collaboration both health services including screening (Diabetes Mellitus and Pulmonary TB) is needed to reduce the prevalence of both diseases and profilaxis program of PP INH need to be considered
T-5472
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Crysti Mei Manik; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Pradana Soewondo, Mondastri Korib Sudaryo, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:
Prevalensi obesitas di dunia tinggi. Data 2016 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas meningkat 3 kali lipat yakni lebih dari 650 juta orang. Pada populasi obesitas ditemukan banyak penderita DM dan hipertensi. Hal ini kemungkinan menunjukkan bahwa ada hubungan antara DM dengan hipertensi pada populasi obesitas. Penelitian yang menjelaskan tentang Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia masih jarang. Penelitian ini bertujuan melihat Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia dengan menggunakan data The Indonesian Family Life Survey kelima (IFLS-5) Tahun 2014. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sumber data penelitian adalah berasal dari data IFLS-5. Jumlah populasi obesitas adalah 5991 orang. Jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 712 orang. Analisis data menggunakan cox regression dengan 95% Confident Interval. Kriteria inklusi penelitian ini adalah penduduk obesitas di Indonesia yang menjadi responden pada kegiatan IFLS- 5 tahun 2014 dan memiliki data tekanan darah yang diukur sebanyak 3 kali. Kriteria eksklusi adalah responden yang tidak memiliki data lengkap pada seluruh variable. Pada penelitian ini, dari 712 orang yang obesitas, 86 orang (12.1%) menderita DM dan 626 orang (87.9%) tidak menderita DM. Pada kelompok obesitas yang DM terdapat 73 orang (84.9%) yang hipertensi. Pada kelompok obesitas yang tidak DM terdapat 386 orang (61.7%) yang hipertensi. Hasil analisis diperoleh nilai PR sebesar 1.302 kali (95% CI; 1.007-1.684), artinya pada populasi obesitas dengan DM beresiko untuk terjadi hipertensi sebesar 1.302 kali dibandingkan dengan populasi obesitas tanpa DM setelah di kontrol oleh variabel umur dan jenis kelamin
Read More
T-5721
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutia Nafisah Zahra; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Telly Purnamasari Agus
Abstrak:
Prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia mengalami peningkatan baik berdasarkan diagnosis dokter ataupun pemeriksaan kadar glukosa darah. Selain itu, DM menyumbang tingkat kematian yang tinggi, morbiditas di semua kelompok umur, serta memberikan pembebanan pada biaya kesehatan. Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang menjadi faktor risiko potensial DM mengalami peningkatan jumlah penderita, penyebab morbiditas orang dewasa, peningkatan angka kematian serta tingginya beban kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asma dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 23.119 sampel yang sesuai dengan kriteria studi. Proporsi kejadian DM tipe 2 sebesar 14,8% dan proporsi kejadian asma sebesar 3,1%. Proporsi DM tipe 2 lebih besar pada penderita asma (16,7%) dibanding dengan bukan penderita asma (14,7%). Jenis kelamin, perilaku merokok, konsumsi alkohol, dan kadar trigliserida memiliki efek modifikasi dengan asma terhadap hubungannya dengan DM tipe 2. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asma tetap tidak berhubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 setelah dikontrol semua variabel kovariat (PR=1,138; 95% CI: 0,94-1,36; p=0,162). Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk studi mendatang dalam menganalisis hubungan kedua penyakit ini lebih lanjut
Read More
S-10899
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizqy Fauzia Ahsani; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Helda, Rofingatul Mubasyiroh
Abstrak:
Tumor secara umum berarti benjolan yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal dalam tubuh. Tumor payudara dapat menjadi faktor risiko kanker payudara yang merupakan kanker yang tersering terjadi pada perempuan. Kejadian tumor payudara meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Saat ini, tumor payudara tidak hanya menyerang pada usia lanjut, namun juga usia muda. Beberapa penelitian menunjukkan faktor reproduksi berhubungan dengan tumor payudara. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat reproduksi dengan kejadian tumor payudara pada perempuan usia muda di Indonesia tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain studi cross setional menggunakan data sekunder dari Riset PTM 2016. Sampel penelitian berjumlah 14.891 responden usia di bawah 40 tahun dalam Riset PTM yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu variabel independen yang terdiri dari usia menarche, usia pertama melahirkan, status kawin, riwayat menyusui, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal; dan variabel dependen yaitu kejadian tumor payudara. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan usia menarche (OR=1,294), status perkawinan (OR=1,568), usia pertama melahirkan (OR=1,570), riwayat menyusui (OR=1,422), dan riwayat kontrasepsi (OR=0,721) dengan kejadian tumor payudara pada perempuan usia muda di Indonesia. Hal tersebut dapat dipengaruhi karena peranan hormon reproduksi estrogen dan progesteron. Perlu dilakuakn pencegahan pada riwayar reproduksi untuk mencegah tumor payudara.
Kata kunci: tumor payudara, riwayat reproduksi, hormonal, estrogen, cross-sectional
Neoplasm or tumor generally means an abnormal cell growth in the body. Breast tumors can be a risk factor for breast cancer which is the most common cancer in women. The incindence increases every year in Indonesia. At present, breast tumors do not only attack the elderly, but also at young age. Some studies show factors associated with breast tumors. Therefore, this study aimed to study the association of the reproductive history with tumor incidence in young women in Indonesia in 2016. This study used a crosssectional study design using secondary data from the Riset PTM 2016 (Noncommunicable Disease Research 2016). The sample was 14,891 respondents aged under 40 years who meet the inclusion and exclusion criteria. The variables used in this study were independent variables consisting of age of menarche, age of first birth, marital status, breasfeeding history, the use of hormonal contraception; and the dependent variable is the incidence of breast tumors. The results showed an association between menarche age (OR = 1,294), marital status (OR = 1,568), age of first birth (OR = 1,570), breasteeding history (OR = 1,422), and the use of hormonal contraception (OR = 0,721) with breast tumors in young women in Indonesia This can be caused by the role of estrogen and progesterone reproductive hormones that result excessive proliferation.
Keywords: breast tumors, reproductive history, hormones, estrogen, cross-sectional
Read More
Kata kunci: tumor payudara, riwayat reproduksi, hormonal, estrogen, cross-sectional
Neoplasm or tumor generally means an abnormal cell growth in the body. Breast tumors can be a risk factor for breast cancer which is the most common cancer in women. The incindence increases every year in Indonesia. At present, breast tumors do not only attack the elderly, but also at young age. Some studies show factors associated with breast tumors. Therefore, this study aimed to study the association of the reproductive history with tumor incidence in young women in Indonesia in 2016. This study used a crosssectional study design using secondary data from the Riset PTM 2016 (Noncommunicable Disease Research 2016). The sample was 14,891 respondents aged under 40 years who meet the inclusion and exclusion criteria. The variables used in this study were independent variables consisting of age of menarche, age of first birth, marital status, breasfeeding history, the use of hormonal contraception; and the dependent variable is the incidence of breast tumors. The results showed an association between menarche age (OR = 1,294), marital status (OR = 1,568), age of first birth (OR = 1,570), breasteeding history (OR = 1,422), and the use of hormonal contraception (OR = 0,721) with breast tumors in young women in Indonesia This can be caused by the role of estrogen and progesterone reproductive hormones that result excessive proliferation.
Keywords: breast tumors, reproductive history, hormones, estrogen, cross-sectional
S-9900
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
