Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26096 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Masaruddin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, I Nyoman Kandun, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak: Hypertension or high blood pressure is a global health problem, including in Indonesia because of its high prevalence. Hypertension does not provide typical complaints and symptoms so many sufferers do not realize it. Therefore hypertension is called the silent killer, the prevalence of hypertension in Indonesia in 2013 is 25.8%, in 2015 23.8%, in 2016 30.9%. Prevalence in women is 32.9%, men 28.7%, in urban areas 31.7%, rural areas 30.2% and the number 3 cause of death in Indonesia. This study aims to determine the relationship between consumption patterns of fast food, soft drinks and meat with the incidence of hypertension in the adult population in Indonesia in 2014 using IFLS-5 data. The design of the study in this study was analytic observational with a cross-sectional study design, this study was conducted in October-November 2018 in Depok City. The results of the study were the prevalence of hypertension in the adult population (≥ 18 yrs - 101 yrs) of 18.91%, people who consumed fast food, age> 30 years, with female gender, low education and suffering from diabetes mellitus were at risk for hypertension by 1 , 47 times to experience hypertension compared to people who do not consume fast food, PRadj 1.47 (95% CI: 1.16 - 1.86) P-value 0.001. People who consume soft drinks, age> 30 years, are female, with low education and suffer from diabetes mellitus at a risk of 1.63 times compared to people who do not consume PRadj soft drinks; 1.63 (95% CI; 1.37 - 1.95) P-value 0,000. People who consume meat, age> 30 years in female sex, low education, smoke and suffer from diabetes mellitus are not associated with the incidence of hypertension PRadj 1.00 (95% CI: 0.92 - 1.09) P-value 0.885. It is recommended to the public to consume foods that contain balanced nutrition, take measurements of blood pressure at least 1 time / month, to the Health Office to conduct counseling or healthy food campaigns that contain balanced nutrition, to the Ministry of Health, promote the consumption pattern of 4 perfectly healthy 5.
Keywords: Hypertension, Fast Food, Soft Drink, Meat and IFLS-5.
Read More
T-5475
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Ika Putri; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Pukovisa Prawiroharjo
Abstrak: Stroke tercatat sebagai penyebab kematian kedua tertinggi pada usia 45-54 tahun di wilayah perdesaan Indonesia. Stroke merupakan penyakit gangguan fungsi otak akibat kelainan vaskuler yang bersifat multikausal. Penelitian ini bertujuan mengetahui frekuensi dan determinan kejadian stroke berdasarkan faktor risikonya pada penderita hipertensi berusia ≥ 45 tahun di wilayah perdesaan Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data Riskesdas 2013 yang menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel dari penelitian ini adalah penderita hipertensi yang berusia ≥ 45 tahun, dan tinggal di wilayah perdesaan. Hasil penelitian ini menunjukkan, prevalensi stroke pada penderita hipertensi dewasa di perdesaan adalah sebesar 5,3%. Prevalensi stroke tertinggi ditemukan di provinsi Maluku Utara (7,2%) dan terendah di provinsi Papua (1,7%). Pada variabel yang diteliti, jenis kelamin, stress, aktivitas fisik, konsumsi obat anti-hipertensi, perilaku merokok dan tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna terhadap kejadian stroke pada penderita hipertensi dewasa (≥ 45 tahun) di wilayah perdesaan Indonesia.
Kata kunci : Stroke¸ Penderita Hipertensi, Perdesaan, Dewasa, Indonesia, Riskesdas

Stroke was recorded as the second-highest mortality cause at the age of 45- 54 years in rural areas of Indonesia. Stroke is multicausal brain function disorder due to vascular abnormalities. This study aimed to determine the frequency and determinants of stroke based on risk factors in hypertensive patients aged ≥ 45 years in rural areas of Indonesia. This study is a further analysis of the Riskesdas 2013 data which used cross-sectional study design. The sample of this study is hypertensive patients who aged ≥ 45 years old and lived in rural areas. The results of this study showed that the prevalence of stroke in adult hypertensive patients in rural areas amounted to 5.3%. The highest prevalence of stroke was found in North Maluku province (7.2%) and the lowest in Papua province (1.7%). In the studied variables, gender, stress, physical activity, consumption of anti-hypertensive drugs, smoking and education have relation to the prevalence of stroke in adult hypertensive patients (≥ 45 years) in rural areas of Indonesia.
Keywords : Stroke¸ Hypertensive Patient, Rural, Adult, Indonesia, Riskesdas
Read More
S-8580
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Crysti Mei Manik; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Pradana Soewondo, Mondastri Korib Sudaryo, Ajeng Tias Endarti
Abstrak: Prevalensi obesitas di dunia tinggi. Data 2016 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas meningkat 3 kali lipat yakni lebih dari 650 juta orang. Pada populasi obesitas ditemukan banyak penderita DM dan hipertensi. Hal ini kemungkinan menunjukkan bahwa ada hubungan antara DM dengan hipertensi pada populasi obesitas. Penelitian yang menjelaskan tentang Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia masih jarang. Penelitian ini bertujuan melihat Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia dengan menggunakan data The Indonesian Family Life Survey kelima (IFLS-5) Tahun 2014. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sumber data penelitian adalah berasal dari data IFLS-5. Jumlah populasi obesitas adalah 5991 orang. Jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 712 orang. Analisis data menggunakan cox regression dengan 95% Confident Interval. Kriteria inklusi penelitian ini adalah penduduk obesitas di Indonesia yang menjadi responden pada kegiatan IFLS- 5 tahun 2014 dan memiliki data tekanan darah yang diukur sebanyak 3 kali. Kriteria eksklusi adalah responden yang tidak memiliki data lengkap pada seluruh variable. Pada penelitian ini, dari 712 orang yang obesitas, 86 orang (12.1%) menderita DM dan 626 orang (87.9%) tidak menderita DM. Pada kelompok obesitas yang DM terdapat 73 orang (84.9%) yang hipertensi. Pada kelompok obesitas yang tidak DM terdapat 386 orang (61.7%) yang hipertensi. Hasil analisis diperoleh nilai PR sebesar 1.302 kali (95% CI; 1.007-1.684), artinya pada populasi obesitas dengan DM beresiko untuk terjadi hipertensi sebesar 1.302 kali dibandingkan dengan populasi obesitas tanpa DM setelah di kontrol oleh variabel umur dan jenis kelamin
Read More
T-5721
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Herwanti Saputra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Victoria Indrawati
Abstrak: Angka kasus infeksi HIV terus meningkat dan telah menginfeksi sekitar 36,7 juta penduduk dunia dan 2 juta diantaranya anak-anak dibawah usia 15 tahun. Tingginya prevalensi HIV pada populasi penasun menunjukkan bahwa Penasun merupakan populasi kunci yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Penelitian ini untuk mengetahui determinan yang mempengaruhi terjadinya infeksi HIV pada Penasun di Indonesia tahun 2015 dengan menggunakan data sekunder STBP Penasun pada 6 kota besar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI. Sebanyak 1231 penasun diwawancara dan diambil sampel darahnya kemudian di lakukan analisis multivariat regresi cox dan didapatkan prevalensi HIV sebesar 28,8%, 653 (55,2%) pernah menyuntik bersama, 1116 (90,7%) menggunakan jarum bekas pakai, 336 (35%) sedang terapi PTRM. Dari penelitian ini diketahui bahwa pasangan seks dengan sesama penasun beresiko terkena HIV 2,22 kali dibanding yang tidak (95% CI 1,152-4,281, nilai p=0,017), persepsi diri merasa beresiko terkena HIV 1,68 kali kali beresiko terkena HIV (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle memiliki resiko 1,90 kali terinfeksi HIV (95% CI 0,68-5,35), status sifilis dan riwayat IMS memiliki resiko 1,2 kali terkena HIV dan perilaku penggunaan kondom menunjukkan hasil bermakna (nilai p=0,006) dapat mencegah terkena HIV. Program pengendalian HIV di Indonesia diharapkan dapat lebih memfokuskan intervensi pada populasi kunci (penasun) edukasi pengetahuan HIV, pengobatan dan perilaku preventif.

Kata kunci : HIV, Penasun, sharing needle, pasangan seks, kondom, IMS.

HIV infection cases keep increasing and have been inestmated infecting 36.7 million people in the world and 2 million among them are children below 15 years old. The high prevallence rate of HI among IDUs indiacted IDU is important HIV key population in Indonesia. The aim of this study was to know determinant affecting HIV infection among IDUs in Indonesia in year 2015 by using secondary data of IBBS (STBP) among IDUs in 6 big cities done by Ministry of Health (Kemkes RI). In IBBS/STBP study about 1231 IDUs were interviewed and taken their blood samples. In study we used multivariate analysis using Cox regrssion analiysis and found that the HIV prevalence rate was 28.8%. About 55,2% have shared needles, 90,7% have used already used needles, 35% have been following methadone substitution therapy. From this study we also found that having IDUs sex partner increased risk to get HIV infection for about 2,22 times as compared those did not have (95% CI of PR: 1,152- 4,281, p-value=0,017), Self perception that ones being at risk of HIV increased risk to get HIV infection 1,68 times (95% CI 1,176-2,406, nilai p=0,004), sharing needle increased risk to get infected by HIV 1,90 times (95% CI 0,68-5,35), status of Sifilis infection and STI (sexual transmitted infection) both increased risk 1,2 times and condom use had protective effect and showed signficant association (p-value=0,006). HIV control programs in Indonesia were expected to be more focus on intervention toward key population of IDUs in areas of education to increase knowledge of HIV, therapy and behavior intervention.

Kata kunci : HIV, IDUs, sharing needle, sex partners, condom, STI.
Read More
T-5430
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessica Veronica Silalahi; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak:
Stroke merupakan penyebab disabilitas dan kematian akibat penyakit tidak menular yang tinggi secara global. Prevalensi stroke di Indonesia meningkat dari 7% menjadi 10,9% pada 2018. Obesitas sentral memiliki kaitan yang erat dengan kardiovaskular termasuk stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan obesitas sentral dengan kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Kriteria inklusi yaitu responden yang didiagnosis stroke oleh dokter selama satu tahun terakhir, dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut lengkap serta melakukan pengukuran tekanan darah dalam pengukuran data SKI 2023. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu responden hamil saat pengambilan data SKI 2023. Sebanyak 528.957 responden memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji logistic regression untuk mendapatkan asosiasi Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menemukan proporsi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia sebesar 0.17%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara obesitas sentral dengan stroke POR 1.622 (95% CI 1.424 – 1.846). Analisis multivariat menunjukkan bahwa obesitas sentral berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stroke dengan nilai POR 2.166 (95% CI 1.685 – 2.785) setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan hipertensi dan berinteraksi dengan hipertensi. Diperlukan upaya penurunan obesitas sentral khususnya pada laki-laki yang menderita hipertensi dengan menerapkan pola makan sehat dan rutin melakukan aktivitas fisik untuk mencegah terjadinya penumpukan lemak sebagai awal meningkatnya kejadian stroke.

Stroke is a leading cause of disability and death from non-communicable diseases globally. Stroke prevalence in Indonesia increased from 7% to 10.9% in 2018. Central obesity has a close association with cardiovascular including stroke. This study aims to analyze the association of central obesity with stroke incidence in the population aged ≥15 years in Indonesia. This study used a cross-sectional study design and used data from the 2023 Indonesian Health Survey. The inclusion criteria were respondents diagnosed with stroke by a doctor during the past year, measuring height, weight, and complete abdominal circumference and measuring blood pressure in the 2023 SKI data measurement. Meanwhile, the exclusion criteria were pregnant respondents when collecting SKI 2023 data. A total of 528,957 respondents met the inclusion criteria and all were taken as research samples. Data were analyzed using logistic regression test to obtain Prevalence Odds Ratio (POR) association with 95% confidence interval. This study found the proportion of stroke in the population aged ≥ 15 years in Indonesia was 0.17%. The results of bivariate analysis showed that there was an association between central obesity and stroke POR 1.622 (95% CI 1.424 - 1.846). Multivariate analysis showed that central obesity was statistically significantly associated with the incidence of stroke with a POR value of 2.166 (95% CI 1.685 - 2.785) after being controlled by gender and hypertension and interacting with hypertension. Efforts are needed to reduce central obesity, especially in men who suffer from hypertension by implementing a healthy diet and routine physical activity to prevent the accumulation of fat as the beginning of an increase in the incidence of stroke.
Read More
T-7190
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atti Ratnawiati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Karyana, Lela Amelia
Abstrak: Sitikolin adalah neuroprotektor yang paling banyak digunakan untuk memperbaikikerusakan neurologis pada penderita stroke iskemik, namun efektivitas sitikolinmasih diperdebatkan berdasarkan penelitian ilmiah karena memberikan hasil yangheterogen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi sitikolinterhadap fungsi neurologis yang dinilai dengan The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) dan kemampuan fungsional yang dinilai dengan BarthelIndex. Penelitian pada pasien stroke iskemik berdasarkan terapi sitikolin yangdilakukan di 18 rumah sakit di Indonesia yang berkontribusi dalam registripenyakit stroke. Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektifmenggunakan data registri stroke Indonesia. Penilaian perbaikan fungsineurologis berdasarkan perubahan nilai NIHSS sebesar > 2 poin dan penilaiankemampuan fungsional berdasarkan perubahan nilai Barthel Index sebesar > 20poin yang diukur pada saat masuk dan keluar rumah sakit. Pasien stroke iskemikyang mendapat terapi sitikolin memiliki peluang perbaikan fungsi neurologissebesar 1,34 kali (CI 95% 1,058-1,658) dibanding pasien yang tidak mendapatterapi sitikolin setelah dikontrol variabel neurorestorasi. Peluang perbaikankemampuan fungsional pasien stroke iskemik yang mendapat terapi sitikolinsama dengan pasien yang tidak mendapat sitikolin setelah dikontrol denganneurorestorasi dengan relative risk 1,07 (CI95% 0,879-1,293; p=0,53).Kata kunci: Barthel Index; NIHSS; Sitikolin; Stroke Iskemik
Citicoline is the most widely used neuroprotective to repair neurological deficit inischemic stroke patients, however the effectiveness of citicoline is stillcontroversial and raise arguments against scientific research because it providedheterogeneous results.The objectives of the study are to identify citicoline effecton neurological function improvement using The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) and functional ability improvement using Barthel Index(BI) in the treatment of ischemic stroke patients at 18 hospitals involved inIndonesia stroke registry. The design of this study is retrospective cohort studyusing stroke registry data. Improvement of neurological function assessed bychanges of NIHSS score >2 and improvement of functional ability assesed bychanges of Barthel Index score > 20 as measured at the time of admission anddischarge of the hospital.The result shows that the probability of functionalneurological improvement on citicoline treatment group is higher than nociticoline treatment group with adjusted RR by neurorestoration is 1,34 (95% CI1.058 to 1.658, p=0,0014). There is no difference of functional abilityimprovement between citicoline and no citicoline treatment group, with adjustedRR by neurorestoration is 1.07 (CI95% 0.879 to 1.293; p=0,53).Keywords : Barthel Index; Citicoline; Ischemic stroke; NIHSS.
Read More
T-4632
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Zetira Muchtar; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Telly Purnamasari Agus, Agus Triwinarto
Abstrak:

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 12,2 juta kasus baru stroke terjadi setiap tahun secara global, dan lebih dari 6,5 juta orang meninggal akibat stroke setiap tahunnya.  Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stroke pada penduduk usia ≥15 tahun tercatat sebesar 1,32%, dengan proporsi lebih tinggi pada laki-laki dan kelompok usia lanjut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara hipertensi, diabetes melitus dengan kejadian stroke pada penduduk DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data SKI 2023. Analisis dilakukan dengan regresi logistik multivariat dengan dua pendekatan yaitu, variabel hipertensi self-reported dan menggunakan hasil pengukuran tekanan darah pada 8.942 responden menggunakan pendekatan non-weighted pada multivariat. Hasil multivariat baik pendekatan self- report maupun hasil pengukuran hipertensi menjadi faktor risiko terkuat penyebab stroke dengan (OR = 13,09; 95% CI: 7,06–24,28; p < 0,001) dan (OR = 6,13; 95% CI: 2,62–14,31; p < 0,001), Laki-laki memiliki risiko stroke 2 kali lipat dibanding perempuan (p = 0,005). Usia ≥60 tahun memiliki OR tertinggi yaitu 9,09 (95% CI: 3,38–24,44; p < 0,001). Diabetes hanya signifikan dalam model pengukuran dengan OR = 6,59 (p < 0,001), untuk aktivitas fisik terbukti protektif. Dapat disimpulkan hipertensi baik berdasarkan self-report maupun hasil pengukuran merupakan prediktor kuat kejadian stroke. Aktivitas fisik memiliki efek protektif yang signifikan. Penggunaan data tekanan darah terukur memberikan estimasi risiko yang lebih konservatif namun stabil. Hasil ini menegaskan pentingnya deteksi dini hipertensi dan promosi aktivitas fisik dalam strategi pencegahan stroke.


According to the World Health Organization (WHO), approximately 12.2 million new cases of stroke occur globally each year, with over 6.5 million deaths attributed to stroke annually. In Indonesia, based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of stroke among individuals aged ≥15 years was recorded at 1.32%, with higher proportions among males and the elderly population. This study aimed to determine the association between hypertension, diabetes mellitus, and stroke among residents of DKI Jakarta. This was an analytical cross-sectional study using SKI 2023 data, involving 8,942 respondents. Multivariate logistic regression was conducted using two approaches: self-reported hypertension and measured blood pressure. Both models were analyzed without weighting. The results showed that hypertension was the strongest risk factor for stroke, both in the self-reported model (OR = 13.09; 95% CI: 7.06–24.28; p < 0.001) and the measured blood pressure model (OR = 6.13; 95% CI: 2.62–14.31; p < 0.001). Males had twice the risk of stroke compared to females (p = 0.005). Individuals aged ≥60 years had the highest risk (OR = 9.09; 95% CI: 3.38–24.44; p < 0.001). Diabetes mellitus was significantly associated with stroke only in the model using measured blood pressure (OR = 6.59; p < 0.001). Physical activity was found to have a significant protective effect. In conclusion, hypertension—both self-reported and based on measured blood pressure is a strong predictor of stroke. Physical activity plays a significant protective role. Using objectively measured blood pressure yields a more conservative but stable risk estimate. These findings underscore the importance of early hypertension detection and the promotion of physical activity in stroke prevention strategies.

Read More
T-7428
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yatinawati; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah; F. Jeanne Uktolseja, Sarikasih Harefa
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Yatinawati Program Studi :  Epidemiologi Judul : “Determinan Yang Berhubungan Dengan Kejadian HIV  Pada LSL Di 6 Kota Indonesia Tahun 2015 (Analisis Data Surveilans Terpadu Biologis Dan Perilaku Tahun 2015)” Pembimbing : dr. Syachrizal Syarif, MPH, PhD HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang data menginfeksi sel pada system kekebalan tubuh yang dapat menghancurkan atau merusak fungsinya. Infeksi dari virus ini berkaitan pada kerusakan progresif dari sistem kekebalan tubuh yang dapat mengarah pada defisiensi imun. Kasus HIV pada LSL mengalami peningkatan dari tahun 2007 yaitu 5,35% tahun 2013 menjadi 17,29%. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan kejadian HIV pada LSL di Indonesia Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis cox regression yang mana untuk melihat seberapa besar dampak yang ditimbulkan pada faktor risiko HIV. Sampel minimal dalam penelitian ini adalah 690 sampel. Hasil dari penelitian ini adalah  status Sifilis, Gonore atau Klamidia berhubungan dengan kejadian HIV p-value < 0,05. Hal ini dapat diharapkan pada LSL terkait risiko perilaku seks rutin melakukan pemeriksaan kesehatan terutama yang memiliki gejala penyakit sifilis, gonorre dan klamidia. Kata kunci: HIV, LSL, Sifiis, Gonore, Klamidia


ABSTRACT Name :Yatinawati Program Studi : Epidemiology Title :“Determinants Associated With HIV Occurrence In Men who have Sex with Men (MSM) At 6 Cities Indonesia Year 2015 (Integrated Data Surveillance Analysis Biological And Behavior Year 2015" Counselor : dr. Syachrizal Syarif, MPH, PhD HIV (Human Immunodeficiency Virus) is a virus that data infects cells in the immune system that can destroy or menggukan its function. Infection of this virus issued a disturbance of the immune system that can lead to immune deficiency. HIV cases in MSM compared to the year 2007 that is 5 , 35% in 2013 to 17.29%. The purpose of this study was to determine what is related to the incidence of HIV in MSM in Indonesia Year 2015. This study used a cross sectional design with regression analysis which is to see the determinant factors. The minimum sample in this study was 690 samples. The results of this study were history sifilis, gonorrhea or chlamydia disease associated with p-value HIV incidence <0.05. This can be done on MSM who are associated with routine health checks that have a history history sifilis, gonorrhea or clamidya disease. Keywords: HIV, MSM, Sifilis, Gonorrhea or Chlamydia

Read More
T-5153
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kalsum Supardi; Pembimbing: Mondastri Korip Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko, Suhardini. Diah Wati Soetojo
Abstrak: Kolaborasi jangka panjang (Subdit TB dengan Dinas PUPNR) mengenai kebijakan dan pemberian (IMB) diperlukan untuk mengurangi pembangunan tanpa didahului studi kelayakan berwawasan lingkungan rumah sehat seperti penerapan (AMDAL), rancangan Plan Of Action/framework dan Kolaborasi layanan di tingkat kader TB yang selanjutnya ke tingkat FKTP semakin diperkuat, serta perlu dipertimbangkan kembali untuk melaksanakan program penemuan active case finding khususnya pada individu yang memiliki lingkungan rumah tidak sehat.
Read More
T-5576
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulidya Sekar Aulia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah; Jamaludin
Abstrak: Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular, termasuk stroke merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi di Dunia. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 13,7 juta kasus baru dan 5,5 juta kematian akibat stroke yang terjadi secara global. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 prevalensi stroke di Indonesia mencapai 10,9 per mil. Pada Provinsi DKI Jakarta, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter meningkat dari 9,7 per mil (2013) menjadi 12,2 per mil (2018). Berdasarkan data IDF tahun 2019, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10.7 juta kasus dan menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan kasus terbanyak ketujuh secara global. Selain itu, menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dana yang digunakan untuk pelayanan stroke terus meningkat yaitu 1,43 Trilyun (2016), 2,18 Trilyun (2017) dan 2,56 Trilyun (2018) dan menurun menjadi 2,1 Trilyun (2020). Meskipun terdapat penurunan di tahun 2020, stroke masih menjadi peringkat ke tiga sebagai penyeap dana jaminan sosial BPJS. Diabetes melitus yang merupakan faktor risiko stroke mengalami peningkatan prevalensi di Provinsi DKI Jakarta dari tahun 2,5% (2013) menjadi 3,4% (2018).Tujuan: mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit stroke pada penduduk berusia ≥18 tahun Di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 1.537 sampel yang dianalisis sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Berdasarkan hasil analisis didapatkan prevalensi stroke sebesar 1,6% dan diabetes melitus tipe 2 sebesar 7,7%. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit stroke. Selain itu, variabel kovariat seperti usia (POR=5,26; 95%CI: 2,28-12,12), pekerjaan (POR=2,63; 95%CI: 1,12-6,19), hipertensi (POR=9,52; 95%CI: 2,83-32,06), dan penyakit jantung (POR=5,30; 95%CI: 1,75-16,04) juga berhubungan secara signifikan dengan kejadian stroke. Berdasarkan analisis stratifikasi didapatkan bahwa variabel yang menjadi efek interaksi (modifikasi) adalah pendidikan, hipertensi, dan penyakit jantung. Sedangkan variabel yang termasuk variabel perancu adalah usia, pendidikan, hipertensi, dan penyakit jantung. Kesimpulan: Diabetes melitus tipe 2 merupakan faktor risiko yang penting untuk diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian stroke di Indonesia.
Bankground: Cardiovascular disease, including stroke, is a major health problem in the world. Every year, there are more than 13.7 million new cases and 5.5 million deaths from stroke that occur globally. Based on Riskesdas data in 2018, the prevalence of stroke in Indonesia reached 10.9 per mile. In DKI Jakarta Province, the prevalence of stroke based on doctor's diagnosis increased from 9.7 per mile (2013) to 12.2 per mile (2018). Based on IDF data in 2019, the prevalence of diabetes in Indonesia reached 10.7 million cases and made Indonesia the country with the seventh most cases globally. In addition, according to the Health Social Security Administration (BPJS), the funds used for stroke services continued to increase, namely 1.43 trillion (2016), 2.18 trillion (2017) and 2.56 trillion (2018) and decreased to 2. 1 Trillion (2020). Although there is a decline in 2020, stroke is still ranked third as a provider of BPJS social security funds. Diabetes mellitus which is a risk factor for stroke has increased prevalence in DKI Jakarta Province from 2.5% (2013) to 3.4% (2018). Objective: To determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and the incidence of stroke in the population aged 18 years. In DKI Jakarta Province in 2018. Methods: The study was conducted with quantitative methods and used an analytical cross-sectional study. The data source used in this study is secondary data from Riskesdas 2018. There are 1,537 samples analyzed according to the inclusion and exclusion criteria. Results: Based on the results of the analysis, the prevalence of stroke was 1.6% and type 2 diabetes mellitus was 7.7%. There is a significant relationship between the variables of type 2 diabetes mellitus and the incidence of stroke. In addition, covariate variables such as age (POR=5.26; 95%CI: 2.28-12.12), occupation (POR=2.63; 95%CI: 1.12-6.19), hypertension ( POR=9.52; 95%CI: 2.83-32.06), and heart disease (POR=5.30; 95%CI: 1.75-16.04) were also significantly associated with the incidence of stroke. Based on the stratification analysis, it was found that the variables that became the interaction effect (modification) were education, hypertension, and heart disease. Meanwhile, the confounding variables were age, education, hypertension, and heart disease. Conclusion: Type 2 diabetes mellitus is an important risk factor to consider in the prevention and control of stroke in Indonesia.
Read More
S-11019
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive