Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32545 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rizka Ramadhanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Muhammad Ikhsan Mokoagow
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian PGK pada penduduk berusia ≥ 18 tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dari Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 7.141 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan hasil analisis didapatkan proporsi kejadian PGK sebesar 0,5% dan proporsi kejadian hipertensi sebesar 40,6%. Terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian PGK dengan nilai prevalence odds ratio sebesar 2,490 (95% CI: 1,143-5,426) setelah dikontrol oleh variabel usia. Selain itu beberapa karakteristik lain seperti usia (POR=3,912; 95% CI: 1,932-7,918), diabetes melitus (POR=3,412; 95% CI: 1,405-8,285), penyakit jantung (POR=7,323; 95% CI: 3,158-16,982), dan aktivitas fisik (POR=2,324; 95% CI: 1,148-4,703) juga berhubungan secara signifikan dengan kejadian PGK. Penting untuk diselenggarakan berbagai program promosi kesehatan dengan memperbanyak kegiatan sosialisasi dan KIE terkait PGK dan PTM lainnya pada berbagai kelompok masyarakat dari usia muda hingga lanjut usia, sehingga dapat meningkatkan kesadaran pencegahan PGK.
Read More
S-10762
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Zetira Muchtar; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Telly Purnamasari Agus, Agus Triwinarto
Abstrak:

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 12,2 juta kasus baru stroke terjadi setiap tahun secara global, dan lebih dari 6,5 juta orang meninggal akibat stroke setiap tahunnya.  Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stroke pada penduduk usia ≥15 tahun tercatat sebesar 1,32%, dengan proporsi lebih tinggi pada laki-laki dan kelompok usia lanjut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara hipertensi, diabetes melitus dengan kejadian stroke pada penduduk DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data SKI 2023. Analisis dilakukan dengan regresi logistik multivariat dengan dua pendekatan yaitu, variabel hipertensi self-reported dan menggunakan hasil pengukuran tekanan darah pada 8.942 responden menggunakan pendekatan non-weighted pada multivariat. Hasil multivariat baik pendekatan self- report maupun hasil pengukuran hipertensi menjadi faktor risiko terkuat penyebab stroke dengan (OR = 13,09; 95% CI: 7,06–24,28; p < 0,001) dan (OR = 6,13; 95% CI: 2,62–14,31; p < 0,001), Laki-laki memiliki risiko stroke 2 kali lipat dibanding perempuan (p = 0,005). Usia ≥60 tahun memiliki OR tertinggi yaitu 9,09 (95% CI: 3,38–24,44; p < 0,001). Diabetes hanya signifikan dalam model pengukuran dengan OR = 6,59 (p < 0,001), untuk aktivitas fisik terbukti protektif. Dapat disimpulkan hipertensi baik berdasarkan self-report maupun hasil pengukuran merupakan prediktor kuat kejadian stroke. Aktivitas fisik memiliki efek protektif yang signifikan. Penggunaan data tekanan darah terukur memberikan estimasi risiko yang lebih konservatif namun stabil. Hasil ini menegaskan pentingnya deteksi dini hipertensi dan promosi aktivitas fisik dalam strategi pencegahan stroke.


According to the World Health Organization (WHO), approximately 12.2 million new cases of stroke occur globally each year, with over 6.5 million deaths attributed to stroke annually. In Indonesia, based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of stroke among individuals aged ≥15 years was recorded at 1.32%, with higher proportions among males and the elderly population. This study aimed to determine the association between hypertension, diabetes mellitus, and stroke among residents of DKI Jakarta. This was an analytical cross-sectional study using SKI 2023 data, involving 8,942 respondents. Multivariate logistic regression was conducted using two approaches: self-reported hypertension and measured blood pressure. Both models were analyzed without weighting. The results showed that hypertension was the strongest risk factor for stroke, both in the self-reported model (OR = 13.09; 95% CI: 7.06–24.28; p < 0.001) and the measured blood pressure model (OR = 6.13; 95% CI: 2.62–14.31; p < 0.001). Males had twice the risk of stroke compared to females (p = 0.005). Individuals aged ≥60 years had the highest risk (OR = 9.09; 95% CI: 3.38–24.44; p < 0.001). Diabetes mellitus was significantly associated with stroke only in the model using measured blood pressure (OR = 6.59; p < 0.001). Physical activity was found to have a significant protective effect. In conclusion, hypertension—both self-reported and based on measured blood pressure is a strong predictor of stroke. Physical activity plays a significant protective role. Using objectively measured blood pressure yields a more conservative but stable risk estimate. These findings underscore the importance of early hypertension detection and the promotion of physical activity in stroke prevention strategies.

Read More
T-7428
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasna Irbah Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Dewi Kristanti
Abstrak: Kardiovaskular merupakan penyakit yang menyumbang angka tertinggi kematian di dunia dan di Indonesia. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko beberapa penyakit kardiovaskular dengan angka kematian tertinggi, seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Obesitas sebagai faktor risiko dominan dalam terjadinya hipertensi, terus mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2018 yang diperoleh melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Populasi penelitian ini merupakan seluruh anggota rumah tangga berusia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Terdapat sebanyak 10.870 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Sulawesi Utara tahun 2018 adalah sebesar 26,1% dan prevalensi obesitas adalah sebesar 28,8%. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi dengan nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 2,126 (95% CI 1,865-2,424) setelah di kontrol oleh variabel usia (PR= 2,144; 95% CI 1,935-2,376) dan interaksi obesitas*usia (PR= 0,687; 95% CI 0,585-0,806). Perlu dilakukannya promosi kesehatan yang mengedukasi masyarakat terkait obesitas dan hipertensi serta hubungan antara keduanya guna meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya penyakit tersebut
Read More
S-10902
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devi Suhailin; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Punto Dewo, Mulyadi
Abstrak: Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahunnya. Pola dan gaya hidup yang tidak sehat sering berkaitan denganhipertensi, sehingga munculnya beberapa faktor risiko. Obesitas sentral adalah salah satu faktor risiko hipertensi yang banyak ditemukan pada wanita usia pertengahan dibandingkan laki-laki. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan obesitas sentral dengan kejadian hipertensi pada wanita. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Populasinya adalah seluruh wanita umur > 18 tahun yang terdaftar dalam database Surveilans Posbindu PTM tahun 2015 dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi sebesar 29,1%. Kasus hipertensi terjadi lebih dari separuh pada kelompok umur > 45 tahun yaitu sebesar 51,71%, dengan rata-rata umur 46 tahun. Prevalensi obesitas sentral dengan cutt off point 85 cm sebesar 53% sedangkan dengan cut off point 80 cm sebesar 72%. Pada analisis multivariat : efek obesitas sentral menjadi hipertensi dipengaruhi oleh kadar aktfitas fisik setelah dikontrol umur. Efek obesitas sentral menjadi hipertensi pada seseorang yang kurang aktifitas fisik adalah 2,21 kali lebih besar dibanding tidak obesitas sentral yang cukup aktifitas fisik pada cut off point 85 cm, sedangkan efek obesitas sentral menjadi hipertensi pada seseorang yang cukup aktifitas fisik adalah 1,34 kali lebih besar dibanding yang cukup aktifitas fisik. Rekomendasi dari penelitian ini adalah menjaga ukuran lingkar perut maksimal 85cm, lakukan aktifitas fisik 30 menit/hari sebanyak 3 kali seminggu atau 150 menit dalam seminggu, periksa kesehatan 1 kali sebulan di Posbindu PTM, Puskesmas, tempat praktek dokter ataupun bidan.
Kata Kunci : Posbindu, PTM, Hipertensi, Obesitas Sentral, Wanita

Hypertension affected mortality at least 8 millions for every years. Pattern and life style not health related with hypertension, so there are risk factors. In comparated, most of central obesity is one of risk factors of hypertension founded at women on middle ages than men. Output of this research is to know about relationship between central obesity with hypertension case in women. Research design is crossectional. The population are all women with > 18 years old registered in Posbindu PTM Surveilance database at 2015. Result showed that prevalance of hypertension 29,1%. Hypertension case more than half on >45 years old are 51,71% with everage of ages 46 years. Prevalance of central obesity with cut off point 85 cm is 53,30%. In multivariable : central obesity effect become hypertension influenced by physical activity after controlled by age. Central obesity affect to be hypertension with less of physical activity is 2,21 more than central obesity affect with high of physical activity on cut off point 85 cm. while central obesity affect to be hypertension with high physical activity is 1,34 times. The recomendation are keep of abdominal circumference size maximum 85 cm, doing the physical activity 30 minutes/day with 3 times a week or 150 minutes every week, check of blood pressure once a month in Posbindu PTM, practice of doctor or midwife.
Keywords: Posbindu, Uncomunicable PTM, Hypertension, Central Obesity, Women
Read More
T-5114
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinar Olympia Primayawesti; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli
Abstrak:
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Pengendalian terhadap hipertensi perlu dilakukan termasuk di wilayah Indonesia salah satunya dengan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain studi ekologi. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari Riskesdas 2018. Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antara status gizi dan gaya hidup terhadap kejadian hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif dengan hubungan yang kuat pada faktor gaya hidup yaitu konsumsi makanan asin dengan hipertensi (p-value = 0,002; R = 0,512). Baik edukasi maupun penggerakkan program dapat dilakukan untuk membatasi konsumsi makanan mengandung garam berlebih pada masyarakat.

Hypertension is a non-communicable disease which is the main cause of premature death worldwide. Control of hypertension needs to be done including in Indonesia, one of which is by knowing the factors associated with hypertension. This research is a quantitative study using an ecological study design. The data used is secondary data from Riskesdas 2018. The research aims to determine the correlation between nutritional status and lifestyle on the incidence of hypertension. The results showed a positive correlation with a strong relationship to lifestyle factors, namely salty food consumption and hypertension (p-value = 0.002; R = 0.512). Both education and activating programs can be carried out to limit the consumption of foods containing excess salt in the community.
Read More
S-11470
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danny; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, Mohammad Imran, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan Kesehatan fisik dan mental agar setiap rangkaian kegiatannya dapat terlaksana dengan baik. Pada Jemaah Haji Indonesia tahun 2019 hipertensi menjadi penyakit tertinggi nomor dua dengan proporsi 12,26% dab meningkat menjadi 32% pada tahun 2021. Obesitas sentral merupakan salah satu faktor risiko hipertensi. tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan hipertensi derajat 1. Desain penelitian ini cross sectional dengan menggunakan data hasil pemeriksaan Kesehatan tahap 2 jemaah haji provinsi DKI Jakarta tahun 2022, yang diperoleh dari aplikasi Siskohatkes Kementerian Kesehatan. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Cox Regression. Hasil penelitian menunjukkan Proporsi hipertensi derajat 1 pada calon Jemaah haji adalah sebesar 18,60%, sedangkan proporsi hipertensi secara keseluruhan (hipertensi derajat 1 dan derajat 2) adalah sebesar 26,46%. Proposi Obesitas Sentral adalah sebesar 73,41%. Hubungan obesitas sentral dan hipertensi derajat 1 diketahui prevalensi hipertensi derajat 1 pada calon Jemaah haji dengan obesitas sentral adalah 1,25 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak obesitas sentral setelah dikontrol faktor usia, jenis kelamin dan IMT. Disarankan pemerintah menguatkan kembali fungsi dari posbindu haji, pemantauan tekanan darah selama masa tunggu haji, melakukan deteksi dini faktor risiko hipertensi, serta sosialisasi dan edukasi terkait penyakit hipertensi dan obesitas sentral. Pada calon jemaah diharapkan menjaga pola makan dan gizi seimbang, melakukan aktivitas fisik cukup, cek Kesehatan berkala, dan mengikuti seluruh tahapan pemeriksaan Kesehatan haji.

Hajj is a worship that requires physical and mental health so that every pilgrims activities can be performed properly. Hypertension was the second highest disease with a proportion of 12.26% in 2019. Central obesity is one of the risk factors for hypertension. The aim of this study is to find out the link between central obesity and grade 1 hypertension. The design of the research is cross sectional using the results of the health examination of the 2nd stage of the Hajj pilgrims of DKI Jakarta in 2022, obtained from the Siskohatkes of the Ministry of Health. Data analysis using Chi-square and Cox Regression tests. The study results showed that the proportion of high blood pressure of degree 1 in Hajj pilgrims was 18.60%, while the ratio of overall hypertension (hypertension of grade 1 and grade 2) was 26.46%. The proportion of Central Obesity in is 73.41%. The relationship between central obesity and grade 1 hypertension is that the prevalence of grade 1 hypertension in Hajj pilgrims with central obesity is 1.25 times higher than those without central obesity after controlling for factors such as age, gender and BMI. It is recommended that the government strengthen the function of the Hajj Posbindu, monitor blood pressure during the Hajj waiting period, carry out early detection of risk factors for hypertension, as well as socialize and educate people related to hypertension and central obesity. Pilgrims are expected to maintain a balanced diet and nutrition, carry out sufficient physical activity, have regular health checks, and follow all stages of the Hajj health examination.
Read More
T-6859
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratih Febriani; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Dewi Yunia, Dewi Kristanti
Abstrak: Hipertensi telah menjadi penyakit tidak menular yang secara global paling banyak diderita. Diperkirakan sekitar 40% penduduk di deluruh dunia mengalami hipertensi. Stres emosional merupakan salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Pada individu usia produktif sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja sehingga sangat rentan untuk terpapar stres kerja yang dalam waktu berkepanjangan akan berdampak pada kesehatan para pekerja. Supir merupakan satu dari sepuluh jenis pekerjaan dengan tingkat stres okupasional yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan kejadian hipertensi pada pekerja yang berstatus sebagai supir pribadi di perusahaan armada transportasi, PT Prima Armada Raya DKI Jakarta. Desain studi cross-sectional dilakukan pada 229 pekerja yang berstatus aktif selama Mei -Juni 2021. Stres kerja dinilai dengan menggunakan kuisioner Survey Diagnosis Stres (SDS) 30 yang bertujuan menilai beberapa komponen seperti ambiguitas peran, konflik peran, overload beban kerja kuantitatif, overload beban kerja kualitatif, pengembangan karir dan tanggung jawab terhadap orang lain. Hasil analisis multivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara stres kerja dengan hipertensi (PR 8.345 (95% CI: 1.010-68.946; p-value: 0,049) setelah dikontrol oleh variabel kovariat yaitu usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, riwayat hipertensi keluarga dan obesitas. Program pemantauan kesehatan berkala dan manajemen stres kerja penting untuk dilakukan sebagai inteervensi dalam mencegah timbulnya hipertensi akibat stres kerja. Penelitian lanjutan pada jenis profesi lain mungkin perlu dilakukan.
Hypertension has become the most common non-communicable disease globally. It is estimated that around 40% of the world's population has hypertension. Emotional stress is one of its modifiable risk factors. In productive age individuals, most of their time is spent at work so they are very vulnerable to being exposed to occupational stress which in a prolonged period will have an impact on the health of workers. A driver is one of ten types of work with high level of occupational stress. This study aims to determine the association of occupational stress with hypertension in workers who are private drivers in a transportation fleet company PT Prima Armada Raya DKI Jakarta. The cross-sectional study design was conducted on 229 workers who were active during May-June 2021. Work stress was assessed using a Stress Diagnosis Survey (SDS) 30 questionnaire which aims to assess several components such as role ambiguity, role conflict, quantitative-work overload, qualitative-work overload, career development and responsibility towards others. The results of multivariate analysis showed that there was a statistically significant relationship between work stress and hypertension (PR 8.345 (95% CI: 1.010-68.946; p-value: 0.049) after being controlled by covariate variables, namely age, smoking habits, alcohol consumption, level of physical activity, history of family hypertension and obesity. Periodic medical check-up programs and work stress management are important as interventions in preventing the occurrence of hypertension due to occupational stress. Further research on other types of professions may need to be done
Read More
T-6222
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hotma Parulian Tambunan; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Nasrin Kodim, Ekowati Rahajeng, Endah Gina Faziah
Abstrak:

Latar Belakang : Peningkatan prevalensi penderita hipertensi di masyarakat DKI Jakarta disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikas maupun tidak. Aktifitas fisik sehagai salah satu lilktor yang dapat mencegah hipertensi perlu mendapat perhatian yang lebih karena faktor ini termasuk: salah satu faktor yang dapat dimodifikasi dengan usaha dan biaya yang tidak terlaiu besar.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya besar hubungan antara kejadian hipertensi dengan aktivitas fisik pada masyarakat di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan disain cross sectional dan dianalisis secara kohort menggunakan data sekwtder dari survey faktor resiko PTM utama di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Kasus ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas fisik renda yang berjumlah 668 orang subyek dan non ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas tinggi sejumlah 668 orang. Perbandingan kasus ekspos dan non ekspos adalah 1:1, hingga jumlah keseluruhan subyek penelitian 1336 subyek. Hasil : Hasil penelitian mendapatkan proporsi hipertensi pada subyek yang beraktivitas rendah sebesar 65,5% dab pada subyek yang beraktivitas tinggi 58 8%. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik berhubungan secara signiflkan dengan kejadian hipertensi. Dengan nilai p (p value) = 0,0001, setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin dan peketjaan didapat OR aktivitas tinggi 0,750 dengan 95% CI (0,601- 0,937) menunjukkan bahwa dengan beraktivitas dapat mengurangi risiko untuk menderita penyakit hipertensi sebesar 4 kali. Dalam penelitian ini variabel Jenis kelamin. umur, tingkat pendidilcan, status perkawinan, diaberes mellitus, hiperkolesterol, low HDL, IMT, dan pekerjaan semua mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi (nilai p < α), sementara variabel merokok, hiper LDL dan kecukupen serat walaupun berhubungan tetapi hubungannya dengan hipertensi tidak signiflkan (nilai p > a). Kesimpulan : Aktivittas fisik tinggi dapat mengurangi resiko untuk terkena penyakit hipertensi, semakln sering kita me1akukan aktivitas fisik semakin rendah resiko untuk menderita penyakit. Subyek yang melakukan aktifitas fisik rendah lebih beresiko untuk terkena hipertensi 4 kali dibanding subyek yang melakukan aktifitas fisik tinggi.

Read More
T-2836
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novarita; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Chita Septiawati, Rizal Rinaldy
T-4092
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadia Isnaini; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang cukup serius sebab kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. PGK berada pada peringkat ke-10 penyebab kematian global. Selain itu, pengobatan PGK juga membutuhkan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang. Diabetes mellitus yang merupakan faktor risiko utama terjadinya PGK juga mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan data sekunder dari Riskesdas 2018. Setelah menyesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel penelitian sebanyak 7.427 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi PGK pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,5% dan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,7%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat hubungan antara diabetes mellitus dengan PGK dengan Prevalence Odds Ratio (POR) sebesar 3,549 (95% CI=1,461-8,617). Setelah dilakukan stratifikasi diketahui bahwa usia berpotensi menjadi confounding dengan nilai POR sebesar 2,69 (95% CI=1,04-6,93). Oleh karena itu, promosi kesehatan dan deteksi dini diabetes mellitus perlu digencarkan sebagai upaya pencegahan PGK.

Chronic kidney disease (CKD) is serious health problem because the prevalence continues to increase from year to year. Based on WHO data in 2019, CKD was the 10th most common cause of death globally. In addition, CKD treatment also requires a lot of money and a long period of time. Diabetes mellitus as a major risk of CKD also experienced an increase in prevalence from year to year in DKI Jakarta Province. This study aimed to determine the association between diabetes mellitus and chronic kidney disease in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province in 2018. This study used quantitative method with a cross-sectional study design and secondary data obtained from Basic Health Research (Riskesdas) 2018). After adjusting the inclusion and exclusion criteria, a sample of 7,427 people was obtained. The result showed that the prevalence of CKD in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province was 0,5% and the prevalence of diabetes mellitus was 5,7%. Based on the statistical analysis showed that there was a relationship between diabetes mellitus and CKD with Prevalence Odds Ratio (POR) of 3,549 (95% CI=1,461-8,617). After stratification, it was found that age had the potential to be confounding with a POR value of 2.69 (95% CI=1.04-6.93). Therefore, health promotion and early detection of diabetes mellitus need to be intensified as an effort to prevent CKD.
Read More
S-11230
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive