Ditemukan 37337 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tri Indra Adithia; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna Satyadi, Marina Kartikawati
Abstrak:
Kondisi pekerjaan yang tidak nyaman dapat menimbulkan stres pada pekerja sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja dan meningkatkan gejala kecemasan dan depresi. Stres yang dialami oleh pekerja dipengaruhi oleh hubungan beberapa faktor seperti faktor psikososial, faktor pekerjaan, lingkungan kerja dan individu pekerja. Gangguan kesehatan terkait dengan stres diantaranya adalah penyakit hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit maag, musculoskeletal symptoms. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang logistik pangan. Tingginya intensitas pekerjaan di PT. XYZ yang melebihi batas kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak manajemen perusahaan karena pencapaian yang utama adalah target yang diusahakan oleh pekerja untuk memenuhi target perusahaan, sehingga dapat mengakibatkan bahaya yang serius bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di perusahaan logistik pangan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui survey dengan menggunakan kuisioner. Kuesioner yang telah melewati uji validasi dan reliabiliti digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu faktor psikososial (organisasi dan budaya kerja, hubungan interpersonal, kepemimpinan, pengembangan karir dan manajemen), faktor pekerjaan (desain kerja, waktu istirahat, beban kerja, kontrol pekerjaan dan bidang pekerjaan), faktor fisik lingkungan kerja dan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, masa kerja dan gaya hidup). Hasil penelitian dengan analisis statistik multivariat regresi linier ganda faktor yang paling dominan menunjukkan bahwa stres kerja berdasarkan indikator emosi yaitu Organisasi dan Budaya Kerja (p value = 0,004 & B = 0,24), stres kerja berdasarkan indikator fisik yaitu Lingkungan Kerja (p value = 0,01 & B = 0,19) dan stres kerja berdasarkan indikator perilaku yaitu Gaya Hidup Tidak Sehat (p value = 0,00 & B = 0,27).
Read More
T-5697
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sabrina Putri Fatonah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Erik Riya Firmanto
Abstrak:
Read More
Distres kerja merupakan kondisi ketegangan psikologis yang timbul akibat ketidaksesuaian antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki pekerja, yang apabila berlangsung kronis dapat berdampak pada kesehatan, kinerja, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun isu distres kerja telah lama menjadi perhatian dalam kesehatan kerja, sektor perkantoran relatif kurang mendapat sorotan dibandingkan sektor dengan risiko fisik tinggi, padahal beban administratif, target kinerja, dan koordinasi lintas fungsi yang intensif berpotensi meningkatkan risiko psikososial pada pekerja kantor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada pekerja kantor PT XYZ tahun 2026, meliputi faktor work arena (beban kerja, ketidakjelasan peran, konflik peran, ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan), home arena (home-work interface, status pernikahan), social arena (hubungan interpersonal, dukungan sosial), dan individual arena (usia, jenis kelamin, masa kerja). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner terhadap 119 pekerja kantor PT XYZ. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square, serta regresi logistik sederhana untuk variabel dengan lebih dari dua kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 responden (57,1%) mengalami distres kerja kategori tinggi. Hasil uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara distres kerja dengan beban kerja tinggi (p=0,003; OR=3,16), ketidakjelasan peran tinggi (p=0,012; OR=2,67), konflik peran tinggi (p<0,001; OR=3,91), hubungan interpersonal buruk (p=0,000; OR=6,076), jenis kelamin perempuan (p=0,048; OR=2,12), dan masa kerja menengah (p=0,020; OR=4,80), sedangkan ketidakamanan kerja, kontrol pekerjaan, home-work interface, status pernikahan, dukungan sosial, dan usia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lebih dari separuh pekerja kantor PT XYZ mengalami distres kerja tinggi, dengan konflik peran dan hubungan interpersonal sebagai faktor yang berhubungan paling kuat. Perusahaan disarankan melakukan asesmen distres kerja secara berkala, evaluasi dan redistribusi beban kerja, penyusunan deskripsi tugas yang jelas, serta penguatan budaya kerja yang suportif untuk menurunkan risiko distres kerja pada pekerja kantor.
Work distress is a condition of psychological strain arising from an imbalance between job demands and the resources or capacities available to workers, which, if chronic, can negatively affect health, performance, and psychological well-being. Although work distress has long been a concern in occupational health, the office sector has received relatively less attention compared to sectors with high physical risk, even though administrative workload, performance targets, and intensive cross-functional coordination may increase psychosocial risk among office workers. This study aims to analyze the factors associated with work distress among office workers at PT XYZ in 2026, covering the work arena (workload, role ambiguity, role conflict, job insecurity, job control), home arena (home–work interface, marital status), social arena (interpersonal relationships, social support), and individual arena (age, gender, length of employment). This study used a cross-sectional design with a quantitative approach through questionnaires administered to 119 office workers at PT XYZ. Bivariate analysis was conducted using the Chi-Square test, along with simple logistic regression for variables with more than two categories. The statistical analysis found significant associations between work-related distress and high workload (p = 0.003; OR = 3.16), high role ambiguity (p = 0.012; OR = 2.67), high role conflict (p < 0.001; OR = 3.91), poor interpersonal relationships (p < 0.001; OR = 6.076), female gender (p = 0.048; OR = 2.12), and medium job tenure (p = 0.020; OR = 4.80). In contrast, job insecurity, job control, home–work interface, marital status, social support, and age were not significantly associated with work-related distress (p > 0.05). This study concludes that more than half of office workers at PT XYZ experience high levels of work distress, with role conflict and interpersonal relationships being the most strongly associated factors. The company is advised to conduct periodic work distress assessments, evaluate and redistribute workload, establish clear job descriptions, and strengthen a supportive work culture to reduce the risk of work distress among office workers.
S-12374
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zulkarnaen; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Auliah Rahmi, Hamas Musyaddad Abdul Aziz
Abstrak:
Berdasarkan data tahun 2019-2022 tercatat 17 kecelakaan kerja dilaporkan di dalam PT. XYZ, dari 17 kecelakaan, 14 terjadi di bagian produksi. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada pekerja bagian produksi di PT. XYZ. Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Populasi dan sampel 152 pekerja menggunakan teknik sampling jenuh. Data yang digunakan yaitu data primer berasal dari kuesioner dan observasi serta data sekunder perusahaan. Analisis data menggunakan uji chi- square. Hasil penelitian 40,1% pekerja pernah mengalami kecelakaan kerja dengan jenis kecelakaan terbanyak adalah terjepit, sebagian besar pekerja memiliki umur dewasa, laki-laki, pendidikan menengah, masa kerja ≤ 5 Tahun, pola kerja shift, memiliki sikap positif, sering/sangat sering melakukan tindakan tidak aman, kelelahan rendah/menengah, kondisi fisik baik, pengawasan kurang baik, pelatihan baik, sosialisasi baik, sering/sangat sering mendapatkan APD tidak tepat, housekeeping kondusif dan sering/sangat sering bersinggungan dengan kondisi tidak aman. Kemudian ada hubungan antara pengetahuan, tindakan tidak aman, kondisi fisik, pelatihan dan kondisi tidak aman dengan kecelakaan kerja (p value < 0,05). Maka berdasarkan hasil penelitian diharapkan PT. XYZ selalu dapat melakukan perbaikan yang berkelanjutan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja
Based on data for 2019-2022, 17 work accidents were reported at PT. XYZ, out of 17 accidents, 14 occurred in production. The general objective of this research is to analyze the factors related with work accidents in production workers at PT. XYZ. The research design used is cross sectional. The population and sample of 152 workers used saturated sampling technique. The data used are primary data derived from questionnaires and observations as well as secondary company data. Data analysis used the chi-square test. The results of the study 40.1% of workers had experienced work accidents with the most types of accidents being pinched, most workers were of mature age, male, secondary education, working period ≤ 5 years, shift work pattern, had a positive attitude, often/very often perform unsafe actions, low/medium fatigue, good physical condition, poor supervision, good training, good socialization, often/very often get inappropriate PPE, conducive housekeeping and often/very often intersect with unsafe conditions. Then there is a relationship between knowledge, unsafe actions, physical conditions, training and unsafe conditions with work accidents (p value <0.05). So based on the research results it is expected that PT. XYZ can always make continuous improvements in work accident prevention efforts.
Read More
Based on data for 2019-2022, 17 work accidents were reported at PT. XYZ, out of 17 accidents, 14 occurred in production. The general objective of this research is to analyze the factors related with work accidents in production workers at PT. XYZ. The research design used is cross sectional. The population and sample of 152 workers used saturated sampling technique. The data used are primary data derived from questionnaires and observations as well as secondary company data. Data analysis used the chi-square test. The results of the study 40.1% of workers had experienced work accidents with the most types of accidents being pinched, most workers were of mature age, male, secondary education, working period ≤ 5 years, shift work pattern, had a positive attitude, often/very often perform unsafe actions, low/medium fatigue, good physical condition, poor supervision, good training, good socialization, often/very often get inappropriate PPE, conducive housekeeping and often/very often intersect with unsafe conditions. Then there is a relationship between knowledge, unsafe actions, physical conditions, training and unsafe conditions with work accidents (p value <0.05). So based on the research results it is expected that PT. XYZ can always make continuous improvements in work accident prevention efforts.
T-6724
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aisha Salwa Savitri; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Read More
Mata merupakan indera manusia yang paling dominan dalam beraktivitas. Sekitar 90% aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dikendalikan oleh sistem penglihatan sehingga penglihatan yang terganggu akan berpengaruh terhadap berbagi domain fungsional. Kelelahan mata merupakan salah satu gangguan yang paling sering ditemui pada pekerja dan dapat terjadi di berbagai jenis pekerjaan, termasuk pada pekerja fabrikasi yang aktivitas pekerjaannya sangat mengandalkan mata serta membutuhkan konsentrasi visual yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan mata pada pekerja fabrikasi di PT XYZ tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 76 pekerja fabrikasi di PT XYZ. Variabel penelitian meliputi kelelahan mata, intensitas pencahayaan di tempat kerja, kelainan refraksi, usia, masa kerja, durasi kerja, jenis pekerjaan, dan penggunaan APD. Variabel intensitas pencahayaan diukur dengan lux meter, variabel kelelahan diukur dengan Visual Fatigue Questionnaire, dan variabel lain diukur dengan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti. Data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat dan bivariat, yaitu dengan uji chi-square dan mann-whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,1% pekerja fabrikasi di PT XYZ mengalami kelelahan mata. Tiga gejala terbanyak yang pernah dialami adalah mata terasa lelah (65,8%), penglihatan kabur atau buram (56,6%), dan iritasi mata (47,4%). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelainan refraksi (p=0,006), usia (p=0,034), dan masa kerja (p=0,004) dengan kelelahan mata. Rata-rata skor kelelahan mata juga berbeda secara signifikan berdasarkan intensitas pencahayaan (p=0,049) dan durasi kerja (p=0,007). Oleh sebab itu, untuk meminimalisir risiko kelelahan mata, perlu dilakukan perbaikan yang mencakup faktor-faktor risiko tersebut.
The eyes are the most dominant human sensory organ in daily activities. Approximately, 90% of everyday tasks rely on the visual system; therefore, impaired vision can affect various functional domains. Eye fatigue is one of the most common visual complaints among workers and can occur in various types of jobs, including fabrication work, which heavily depends on visual concentration. This study aims to analyze the factors associated with eye fatigue among fabrication workers at PT XYZ in 2025. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed, involving 76 fabrication workers. The variables examined included eye fatigue, lighting intensity in the workplace, refractive errors, age, years of service, working hours, job type, and the use of personal protective equipment (PPE). Lighting intensity was measured using a lux meter, eye fatigue was assessed using the Visual Fatigue Questionnaire, and other variables were measured through a self-developed questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, specifically chi-square and Mann-Whitney tests. The results showed that 67.1% of workers experienced eye fatigue. The three most commonly reported symptoms were tired eyes (65.8%), blurred vision (56.6%), and eye irritation (47.4%). Significant associations were found between eye fatigue and refractive errors (p=0.006), age (p=0.034), and years of service (p=0.004). Significant differences in average eye fatigue scores were also observed based on lighting intensity (p=0.049) and working hours (p=0.007). Therefore, to minimize the risk of eye fatigue, improvements targeting these risk factors are necessary.
The eyes are the most dominant human sensory organ in daily activities. Approximately, 90% of everyday tasks rely on the visual system; therefore, impaired vision can affect various functional domains. Eye fatigue is one of the most common visual complaints among workers and can occur in various types of jobs, including fabrication work, which heavily depends on visual concentration. This study aims to analyze the factors associated with eye fatigue among fabrication workers at PT XYZ in 2025. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed, involving 76 fabrication workers. The variables examined included eye fatigue, lighting intensity in the workplace, refractive errors, age, years of service, working hours, job type, and the use of personal protective equipment (PPE). Lighting intensity was measured using a lux meter, eye fatigue was assessed using the Visual Fatigue Questionnaire, and other variables were measured through a self-developed questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, specifically chi-square and Mann-Whitney tests. The results showed that 67.1% of workers experienced eye fatigue. The three most commonly reported symptoms were tired eyes (65.8%), blurred vision (56.6%), and eye irritation (47.4%). Significant associations were found between eye fatigue and refractive errors (p=0.006), age (p=0.034), and years of service (p=0.004). Significant differences in average eye fatigue scores were also observed based on lighting intensity (p=0.049) and working hours (p=0.007). Therefore, to minimize the risk of eye fatigue, improvements targeting these risk factors are necessary.
S-12101
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu Amalia; Pembimbing: Hendra; Penguji: Robiana Modjo, Padang Purwosusilo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja konstruksi proyek pembangunan jalan tol layang Y oleh PT X khususnya pada saat pekerjaan pier head. Faktor risiko yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah faktor risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, durasi lembur, masa kerja dan heat index) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, indeks masa tubuh, status merokok, konsumsi air minum, konsumsi minuman berkafein, kuantitas tidur, kualitas tidur, pekerjaan sampingan, waktu tempuh). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan kuesioner gejala kelelahan subjektif Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW).
Read More
S-10162
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adhelina Zulfiana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aulia Rahmi
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada pekerja wanita di PT. X. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2021 dengan melibatkan 5 orang pekerja dari PT. X yaitu 2 orang pekerja di bagian manajemen dan 3 orang pekerja di bagian produksi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi deskriptif kualitatif dengan pengambilan data berupa data primer yang dilakukan dengan wawancara mendalam dan data sekunder dari PT.X. Faktor risiko fatigu yang diteliti terdiri dari faktor risiko terkait kerja dan faktor risiko tidak terkait kerja.
Read More
S-10680
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mafelia Rodhotul Awanis; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Abdul Kadir
Abstrak:
Stres bukan hanya menjadi masalah individu dan organisasi, tetapi juga menjadi masalah masyarakat secara luas. Stres dianggap mempengaruhi kesehatan psikologis dan fisik individu, serta efektivitas dalam organisasi. Industri penerbangan Indonesia telah memasuki masa kejayaannya dalam tujuh tahun terakhir (2011-2017). Pada tahun 2016 jumlah keberangkatan pesawat domestik mencapai 764.156 kali keberangkatan, sebanyak 186.482 kali (24,4%) berasal dari Garuda Indonesia. Adanya tuntutan pekerjaan yang tinggi pada awak kabin seperti, bekerja dengan pola shift yang tidak teratur, melintasi zona waktu selama bekerja, waktu istirahat yang tidak teratur yang dapat mempengaruhi keadaan tubuh secara fisik dan kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada awak kabin PT. Garuda Indonesia tahun 2019. Penelitian ini ada penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah awak kabin PT. Garuda Indonesia yang berjumlah 203 responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada responden. Dari hasil penelitian didapatkan 33,5% responden mengalami stres berat. Hasil analisis bivariat dengat tingkat kemaknaan 5%, diperoleh sembilan faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu jenis kelamin p value 0,033, masa kerja p value 0,046, budaya dan fungsi organisasi p value 0,003, pengembangan karir p value 0,037, decision latitude and control p value 0,001, home-work interface p value 0,001, desain kerja p value 0,001, beban kerja p value 0,001, dan jadwal kerja p value 0,001. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan perusahaan dapat segera mengambil tindakan pengendalian guna mencegah stres di kalangan awak kabin yang dapat merugikan pekerja dan juga perusahaan. Kata kunci: stres kerja, awak kabin Stress is not only a problem for individuals and organizations, but also a problem for society at large. Stress is considered to affect the psychological and physical health of individuals, as well as effectiveness in organizations. The Indonesian aviation industry has entered its heyday in the past seven years (2011- 2017). In 2016 the number of domestic aircraft departures reached 764,156 times, 186,482 times (24.4%) originating from Garuda Indonesia. There are high work demands on cabin crew such as, working with irregular shift patterns, crossing time zones during work, irregular rest periods which can affect physical body and social life. This study aims to determine the factors associated with work stress on the cabin crew of PT. Garuda Indonesia in 2019. This research is a quantitative study with cross sectional study design. The sample in this study was the cabin crew of PT. Garuda Indonesia, amounting to 203 respondents. The data used in this study are primary data obtained through questionnaires given to respondents. From the results of the study found 33.5% of respondents experienced high stress. The results of the bivariate analysis with a significance level of 5%, obtained nine factors related to work stress including gender p value 0.033, years of service p value 0.046, culture and organizational functions p value 0.003, career development p value 0.037, decision latitude and control p value 0,001, homework interface p value 0,001, work design p value 0,001, work load p value 0,001, and work schedule p value 0,001. From the results of the study it is hoped that the company can immediately take control measures to prevent stress among cabin crew which can harm workers and also the company. Key words: work stress, cabin crew
Read More
S-10217
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kamto; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Yuni Kusminanti, Fajar Senojati
Abstrak:
Read More
cara Tesis ini membahas aspek psikososial yang berpengaruh terhadap perilaku berisiko pekerja offshore PT ABC di Kalimantan Timur pada tahun 2021. Responden terdiri atas 141 orang pekerja dari populasi sekitar 200 orang pekerja yang sedang onduty. Responden terdiri atas semua entitas dan jabatan, baik pekerja tetap maupun kontraktor. Pengambilan data menggunakan kuesioner berbasis COPSOQ III dengan jenis perilaku berisiko diambil dari panduan investigasi kecelakaan yang telah ada pada PT ABC. Reliabilitas kuesioner psikososial Cronbach’s alpha 0,6-09, gangguan kesehatan 0,6-0,8, dan perilaku berisiko 0,8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko psikososial (mean=1.81, SD=0,27), gangguan kesehatan (mean=1,21, SD=0,31), perilaku berisiko (mean=1,08, SD=0,16) adalah rendah. Aspek psikososial dengan gangguan kesehatan berkorelasi signifikan, serta gangguan kesehatan dan perilaku berisiko juga berkorelasi signifikan. Dari analisis korelasi aspek psikososial dan perilaku berisiko menunjukkan hubungan signifikan yang dimediasi gangguan kesehatan sebagai bentuk reaksi stress. Analisis regresi menunjukkan bahwa ada empat domain aspek psikososial yang berkontribusi terhadap variasi perilaku berisiko yakni tuntutan pekerjaan, organisasi & konten kerja, interaksi individu- pekerjaan, dan konflik & perilaku ofensif dengan R2=0,124, p=0,00. Aspek psikososial yang paling dominan berkontribusi adalah interaksi individu-pekerjaan dengan koefisien B=0,262. Kata kunci: aspek psikososial, perilaku berisiko
This thesis discusses psychosocial aspects which contribute to at-risk behavior of PT ABC offshore workersin East Kalimantan in 2021. Respondents consisted of 141 workers from a population of about 200 workers who were onduty. Respondents consist of all entities and positions, both permanent workers and contractors. Data collection using COPSOQ III-based questionnaires, with types of at-risk behavior is taken from the accident investigation guidelines that have been in place of PT ABC. Reliability of Cronbach's alpha psychosocial questionnaire was 0.6-09, psychosocial questionnaire Cronbach's alpha was 0.6-09, health disorders was 0.6-0.8, and at-risk behaviors was 0.8. The results showed risk level of psychosocial risk (mean=1.81, SD=0.27), health disorders (mean=1.21, SD=0.31), at-risk behavior (mean=1.08, SD=0.16) was low. Psychosocial aspects and health symptom disorders are significantly correlated, as well as health symptom disorders and at -risk behaviors are also significantly correlated. Result of correlation analysis of psychosocial aspects and at-risk behaviors showed a significant relationship that mediated by health symptom disorders as a form of stress reaction. Regression analysis shows that there are four domains of psychosocial aspects that contribute to variations at-risk behavior: job demands, organization & job content, individual-work interaction, and conflict & offensive behavior with R square 0.124, p
T-7518
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Kurniati; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Chandra Satrya, Rusbani Kurniawan, Priyo Djatmiko
Abstrak:
PT X adalah perusahaan yang bergerak di bidang ground handling penerbangan, yang memiliki karyawan office yang cukup sibuk. Banyak karyawan office berpostur janggal yang ditemukan ketika survei awalan. Kondisi ini meningkatkan risiko keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS) pada karyawan office PT X. Selain itu, belum pernah dilakukan analisis mengenai keluhan muskuloskeletal. Pada penelitian ini menggunakan studi cross sectional, yang bertujuan untuk mengalisis faktor yang berhubungan dengan keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS). Analisis dilakukan dengan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil pada penelitian ini, dari analisis univariat, diketahui bahwa keluhan MSS pada karyawan office PT X yang dirasakan dari 12 bulan terakhir hingga 7 hari terakhir sebanyak 55 orang (53,4 %), sedangkan yang diperoleh dengan analisis bivariat menunjukkan bahwa masa kerja, postur, stress, umur, dan jenis kelamin berhubungan dengan keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS). Sementara itu, dari analisis multivariat, variable yang dominan berhubungan dengan keluhan subjektif Musculoskelatal Symptoms (MSS) adalah postur, stress dan jenis kelamin
Read More
T-5585
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Safiera Amelia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra; Adenan
Abstrak:
PT XYZ adalah industri manufaktur yang memiliki proses produksi yang menghasilkan panas dan berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif akibat tekanan panas pada pekerja di area fermentasi kedelai dan pemasakan PT XYZ. Penelitian dilakukan pada 55 responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) digunakan untuk mengukur risiko tekanan panas. Kuesioner menilai keluhan subjektif pekerja akibat tekanan panas. Hasil menunjukkan indeks WBGT rata-rata di area adalah 27,35°C - 32,29°C. Terdapat 70,9% responden mengalami tekanan panas dan 54,5% mengalami keluhan ringan. Keluhan subjektif utama yaitu banyak berkeringat (67,3%) dan merasa haus (50,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif, yaitu kejadian tekanan panas (p value= 0,001) dan beban kerja (p value= 0,019). Rekomendasi dari segi teknis, administratif, maupun personal dibutuhkan untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan dampak kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.
PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
Read More
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.
PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
S-9315
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
