Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36705 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Galih Kurniawan; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Widura Imam Mustopo
Abstrak:
Budaya keselamatan didefinisikan oleh Komite Penasehat untuk Keselamatan Instalasi Nuklir Inggris (ACSNI,1993) sebagai produk dari individu dan organisasi berupa nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola tingkah laku yang menentukan komitmen, gaya, dan kemampuan organisasi dalam manajemen kesehatan dan keselamatan (HSE, 2005). Sedangkan iklim keselamatan kerja adalah persepsi dan cara pandang pekerja atas kebijakan, prosedur, dan praktek kerja berkaitan dengan keselamatan yang dilakukan oleh manajemen (Ismail, 2015).Iklim keselamatan, sering digunakan untuk menggambarkan output budaya keselamatan organisasi yang lebih 'nyata', dan dengan demikian memberikan fokus nyata untuk penilaian beberapa aspek budaya keselamatan (Health and Safety Executive (HSE), Offshore Safety Division of the HSE, 2010). Analisis iklim keselamatan melalui survei dapat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara dimensi penting keselamatan dalam suatu organisasi dan bagaimana hal itu dapat berkontribusi pada hasil keseluruhan budaya keselamatan (M.D. Cooper, 2000). Penelitian ini dilakukan di perusahaan minyak bernama PT. ABC. Data kecelakaan kerja PT. ABC disemua area produksinya (tahun 2014-2019) menyimpulkan bahwa 71% kecelakaan terjadi karena Unsafe act (immediate cause), dan 49% karena Human Factor (root cause). Didalam penelitian ini, penulis akan menganalisis penerapan iklim keselamatan kerja area produksi offshore. Hasil observasi lapangan terlihat adanya perbedaan penerapan aspek iklim keselamatan diantara pekerja berdasarkan jadwal shift, posisi / jabatan, status pekerja, durasi bekerja di Offshore, dan pengalaman kerja. Data- data inilah yang menjadi fokus penulis untuk dijadikan bahan penelitian dalam menganalisis iklim keselamatan kerja pada kategori-kategori tersebut. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian mixed methods yaitu sebagian data akan dinilai secara kuantitatif dan sebagian lagi akan dinilai secara kualitatif. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dengan in depth analysis (kajian yang mendalam). Alat yang digunakan untuk menganalisis aspek iklim keselamatan ini yaitu Offshore Safety Climate Assessment Toolkit yang dikembangkan oleh Loughborough University yang membagi persepsi pekerja menjadi tiga, yaitu persepsi sebagai individu, persepsi sebagai unit kerja, dan persepsi sebagai anggota perusahaan. Metode ini menggunakan media kuesioner yang melibatkan 95 responden (seluruh populasi) dan interview terhadap beberapa orang pemangku tanggung jawab keselamatan perusahaan sebagai targetnya

Safety culture has been defined by the Advisory Committee on Safety in Nuclear Installations (ACSNI,1993) as the product of individual and group values, attitudes and beliefs, competencies and patterns of behaviour that determine the commitment to, and the style and proficiency of, an organisation’s health and safety management (HSE, 2005) . While, safety climate is workers' perceptions and perspectives on policies, procedures, and work practices related to safety carried out by management (Ismail, 2015) . Safety climate is often used to describe the more ‘tangible’ outputs of an organisation’s safety culture (Health and Safety Executive (HSE), Offshore Safety Division of the HSE, 2010) . Safety climate analysis through surveys can be used to identify relationships between important dimensions of safety in an organization and how it can contribute to the overall results of safety culture (M.D. Cooper, 2000) . This research was conducted at an oil company called PT. ABC. Occupational accident data of PT. ABC in all production areas (2014-2019) concluded that 71% of accidents occur due to Unsafe act (immediate cause), and 49% due to Human Factor (root cause). In this research, the author will analyze the application of safety climate in offshore production areas. The results of observations show that there are differences in the application of safety climate aspects among workers based on shift schedule, position, status of workers, duration of work in offshore, and work experience. These data are the focus of the author to be used as research material in analyzing safety climate. The research conducted is mixed methods research in which some data will be assessed quantitatively and some will be assessed qualitatively. The results of the study were analyzed descriptively with in-depth analysis. The tool used to analyze aspects of the safety climate is the "Offshore Safety Climate Assessment Toolkit" developed by Loughborough University which divides workers' perceptions into three types, namely perception as individuals, perceptions as work units, and perceptions as company members. This method uses a questionnaire media that involves 95 respondents (the entire population) and interviews with several of the company's safety responsibility stakeholders as targets. From the safety climate analysis results obtained 8,16 values, where this can be interpreted that the workers' perceptions of safety values ​​are well internalized within workers both as individuals, as work units and as members of the company. Statistical calculations concluded that there were no significant differences in the application of work safety climate between  18 workers with a rhythm schedule of 2 weeks on / off, and 2 weeks on-1 week off (p (0,263)> 0.05) , workers with staff and non-staff positions (p (0,794)> 0.05), workers with indefinite time employment agreements and workers with certain time work agreements (p (0,881)> 0.05), workers with short term offshore employment and long term workers (p (0,953)> 0.05), and young / fresh graduate and experienced / experienced workers (p (0,065)> 0.05). There were significant differences in the application of work safety climate between workers with a rhythm schedule of 3 weeks on / off, and 2 weeks on-1 week off (p (0,000)< 0.05) and between workers with a rhythm schedule of 3 weeks on / off, and 2 weeks on/ off (p (0,003)< 0.05)

Read More
T-5831
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kamto; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Yuni Kusminanti, Fajar Senojati
Abstrak:
cara Tesis ini membahas aspek psikososial yang berpengaruh terhadap perilaku berisiko pekerja offshore PT ABC di Kalimantan Timur pada tahun 2021. Responden terdiri atas 141 orang pekerja dari populasi sekitar 200 orang pekerja yang sedang onduty. Responden terdiri atas semua entitas dan jabatan, baik pekerja tetap maupun kontraktor. Pengambilan data menggunakan kuesioner berbasis COPSOQ III dengan jenis perilaku berisiko diambil dari panduan investigasi kecelakaan yang telah ada pada PT ABC. Reliabilitas kuesioner psikososial Cronbach’s alpha 0,6-09, gangguan kesehatan 0,6-0,8, dan perilaku berisiko 0,8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko psikososial (mean=1.81, SD=0,27), gangguan kesehatan (mean=1,21, SD=0,31), perilaku berisiko (mean=1,08, SD=0,16) adalah rendah. Aspek psikososial dengan gangguan kesehatan berkorelasi signifikan, serta gangguan kesehatan dan perilaku berisiko juga berkorelasi signifikan. Dari analisis korelasi aspek psikososial dan perilaku berisiko menunjukkan hubungan signifikan yang dimediasi gangguan kesehatan sebagai bentuk reaksi stress. Analisis regresi menunjukkan bahwa ada empat domain aspek psikososial yang berkontribusi terhadap variasi perilaku berisiko yakni tuntutan pekerjaan, organisasi & konten kerja, interaksi individu- pekerjaan, dan konflik & perilaku ofensif dengan R2=0,124, p=0,00. Aspek psikososial yang paling dominan berkontribusi adalah interaksi individu-pekerjaan dengan koefisien B=0,262. Kata kunci: aspek psikososial, perilaku berisiko

This thesis discusses psychosocial aspects which contribute to at-risk behavior of PT ABC offshore workersin East Kalimantan in 2021. Respondents consisted of 141 workers from a population of about 200 workers who were onduty. Respondents consist of all entities and positions, both permanent workers and contractors. Data collection using COPSOQ III-based questionnaires, with types of at-risk behavior is taken from the accident investigation guidelines that have been in place of PT ABC. Reliability of Cronbach's alpha psychosocial questionnaire was 0.6-09, psychosocial questionnaire Cronbach's alpha was 0.6-09, health disorders was 0.6-0.8, and at-risk behaviors was 0.8. The results showed risk level of psychosocial risk (mean=1.81, SD=0.27), health disorders (mean=1.21, SD=0.31), at-risk behavior (mean=1.08, SD=0.16) was low. Psychosocial aspects and health symptom disorders are significantly correlated, as well as health symptom disorders and at -risk behaviors are also significantly correlated. Result of correlation analysis of psychosocial aspects and at-risk behaviors showed a significant relationship that mediated by health symptom disorders as a form of stress reaction. Regression analysis shows that there are four domains of psychosocial aspects that contribute to variations at-risk behavior: job demands, organization & job content, individual-work interaction, and conflict & offensive behavior with R square 0.124, p
Read More
T-7518
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sendy Utommi; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Santoso, Rahmat Satria Dewangga
Abstrak:
Industri oil and gas memiliki risiko tinggi, dengan lingkungan kerja yang komplek (Methisen et.al.,2033). Terpapar dengan bahaya kimia, bahaya kebisingan, bahaya fisik dan stressor kognitif dan bahaya mekanikal dan bahaya listrik di laut lepas bisa mengakibatkan injuri dan fatality pada pekerja (Pasman, 2009). Lebih dari itu, bahaya terkait dengan kebocoran dan tumpahan minyak, kebakaran dan ledakan juga berpotensi merusak aset dan lingkungan (Tang et al., 2018). Kecelakaan dan insiden yang terjadi di Oil & Gas sektor tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga kehilangan ekonomi dan kerusakan lingkungan. Beberapa kejadian kecelakaan yang terjadi menurut sejarah yang mengakibatkan kematian yaitu, Macondo (2010), BP Deepwater Horizon Tumpahan minyak yang mengerikan (2010), Piper Alpha yang menewaskan 167 orang meninggal (1988) dan kerugian £2 miliar asuransi, Mumbai (2005) dan BP Texas city refinery (2005). Budaya Keselamatan menjadi nilai utama dalam industri oil dan gas yang mencakup sikap, nilai dan perilaku keselamatan yang ada dalam organisasi. Kualitas budaya keselamatan secara langsung dipengaruhi oleh keselamatan individu (Ooshaksaraie et al., 2009, Wu et al., 2009). Budaya keselamatan menjadi hal yang sangat penting dalam manajemen risiko mitigasi risiko dalam industri oil dan gas lepas pantai (Adie et al., 2005). PT.XXX. Telah beroperasi sejak tahun 2017, dengan produksi Minyak dan gas yang berproduksi sekitar 450-600 Mmscfd dan condensate 1000 bopd dilepas pantai Selat Makassar, Kalimantan Timur. Berdasarkan statistik kecelakaan dari 2017-2021 telah terjadi recordable injury sebanyak 5 case dan telah terjadi penurunan sejak dari tahun 2021-2025 dimana tidak terdapat recordable injury. PT. XXX sudah menerapkan beberapa program kampanye dalam meningkatkan iklim keselamatan kerja sejak 2021, akan tetapi belum ada analisa terkait dengan program kampanye keselamatan tersebut berdampak positif dalam peningkatan iklim keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menggambarkan bagaimana program kampanye keselamatan dalam meningkatkan iklim keselamatan kerja pada pekerja offshore, onshore dan office di PT. XXX

The oil and gas industry is high-risk, with a complex work environment (Methisen et al., 2033). Exposure to chemical hazards, noise hazards, physical hazards and cognitive stressors, as well as mechanical and electrical hazards on the high seas can lead to worker injuries and fatalities (Pasman, 2009). Furthermore, hazards associated with oil leaks and spills, fires, and explosions also have the potential to damage assets and the environment (Tang et al., 2018). Accidents and incidents in the oil and gas sector not only cause human harm but also economic losses and environmental damage. Some of the most recent accidents resulting in fatalities include Macondo (2010), the horrific BP Deepwater Horizon oil spill (2010), the Piper Alpha oil spill (1988), which claimed 167 lives and resulted in £2 billion in insurance losses, Mumbai (2005), and the BP Texas City refinery (2005). Safety culture is a core value in the oil and gas industry, encompassing the safety attitudes, values, and behaviors inherent within the organization. The quality of safety culture directly impacts individual safety (Ooshaksaraie et al., 2009; Wu et al., 2009). Safety culture is crucial for risk management and risk mitigation in the offshore oil and gas industry (Adie et al., 2005). PT. XXX has been operating since 2017, producing approximately 450-600 Mmscfd of oil and gas and 1,000 bopd of condensate offshore in the Makassar Strait, East Kalimantan. According to accident statistics from 2017-2021, there were five recordable injuries, with a decrease from 2021-2025, when there were no recordable injuries. PT. XXX has implemented several campaign programs to improve the workplace safety climate since 2021, but there has been no analysis regarding the safety campaign programs in improving the workplace safety climate. This study aims to 10 describe how the safety campaign program improves the work safety climate for offshore, onshore, and office workers at PT. XXX. Keywords: Safety Climate, Safety Campaign, Offshore, Oil and Gas Industry.
Read More
T-7632
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Romason; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Errik Yusnadi Saleh, Wayne Satria
Abstrak:
PT. ABC adalah operator yang dipercaya untuk mengelola salah satu blok migas di daerah Riau. Salah satu divisi dari PT. ABC bertanggung jawab untuk pekerjaan konstruksi yang mendukung pekerjaan migas PT. ABC. Tesis ini fokus kepada iklim keselamatan pada pekerja migas di area operasi XXX divisi Facility Engineering PT. ABC, data iklim keselamatan pekerja diperoleh dengan cara melakukan survei. Metode survei bersumber dari survei yang digunakan pada jurnal (Sunindijo et al. 2019) dan (Loosemore et al. 2019) yang sudah digunakan pada industri konstruksi bangunan, infrastruktur, konstruksi di Indonesia dan dan konstruksi Australia. Responden adalah karyawan dan mitra kerja PT. ABC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata nilai survei iklim keselamatan karyawan dan mitra kerja PT. ABC adalah baik, berada di angka 4,92 dari 6 skala likert, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara iklim keselamatan karyawan dan mitra kerja PT. ABC. Pengujian t-test menunjukkan tidak ada nilai p < 0.05, dan rerata nilai survei iklim keselamatan karyawan dan mitra kerja PT. ABC lebih baik, berada diatas rerata nilai survei iklim keselamatan industri infrastruktur, bangunan, konstruksi di Indonesia dan konstruksi di Australia.

PT. ABC is an oil and gas company which manage one of the oil and gas block in the Riau region. One of the divisions of PT. ABC is accountable for construction work that supports the oil and gas of PT. ABC. Thesis emphases on the safety climate for oil and gas workers in the operation area of the Facility Engineering division of PT. ABC.Safety climate data of workers gained by conducting an online survey. The survey method is obtained from surveys applied in journals (Sunindijo et al. 2019) and (Loosemore et al. 2019) which have been used in the building construction industry, infrastructure, construction in Indonesia and Australian construction. Respondents are employees and partners of PT. ABC. The results exposed that the average value of the safety climate survey for employees and partners of PT. ABC is worthy, at 4.92 out of 6 Likert scale, no significant difference was found between the safety climate of employees and partners of PT. ABC. The t-test test showed that there was no p value < 0.05, and the average value of the safety climate survey for employees and partners of PT. ABC is better, being above the average value of the safety climate survey for the infrastructure, building, construction industry in Indonesia and Australia
Read More
T-6302
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Pardyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily, Selamat Riyadi, Bonny Lunrang
Abstrak:
Kelelahan kerja menjadi perhatian di tempat kerja karena sangat berpotensi mempengaruhi produktivitas, kesehatan dan keselamatan para pekerja yang menjadi penyebab utama kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) pada pekerja konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis determinan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap di Proyek ABC di PT. XYZ pada tahun 2024. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 105 pekerja konstruksi pemasangan atap. Metode pengambilan data dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran lingkungan kerja. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor work related (jam kerja, penghargaan, kebisingan, pencahayaan, suhu, lama perjalanan, beban kerja) dan faktor individu (usia, Indeks Masa Tubuh, gangguan tidur, masa kerja, overcommitment, riwayat penyakit kronis, pengaruh obat, kemampuan tidur di jam istirahat). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebisingan, beban kerja, gangguan tidur, masa kerja dan kelelahan kerja. Sehingga faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap yaitu pekerja dengan beban kerja tinggi memiliki risiko 23 kali lebih besar berisiko untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan yang memiliki beban kerja rendah pada pekerja konstruksi pekerjaan atap.

Fatigue is a concern in the workplace because it has the potential to affect the productivity, health, and safety of workers, which is the main cause of work accidents and work-related diseases (PAK) in construction workers. This research aims to analyze the determinants of fatigue in roofing construction workers on the ABC Project at PT. XYZ in 2024. The research design in this study is cross-sectional. The sample in this study consisted of 105 roof installation construction workers. The data collection method is by filling out questionnaires to respondents and measuring the work environment. The independent variables in this study are work-related factors (working hours, rewards, noise, lighting, temperature, travel time, workload) and individual factors (age, Body Mass Index, sleep disorders, years of work, overcommitment, history of chronic disease, influence medication, ability to sleep during rest hours). The research results show that there is a significant relationship between noise, workload, sleep disturbances, work experience, and work fatigue. So the dominant factor that has the most influence on work fatigue in roofing construction workers is that workers with a high workload have a 23 times greater risk of experiencing work fatigue than those with a low workload in roofing construction workers.
Read More
T-7054
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deni Eri Zulfirman; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, James Evert Adolf Liku, Luqmantoro
Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui iklim keselamatan kerja, Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja tentang nilai sebenarnya dari keselamatan dalam suatu organisasi - sebagai faktor yang berkontribusi terhadap pengurangan cedera akibat kecelakaan. Untuk mengukur iklim keselamatan kerja tersebut, peneliti menggunakan kuisioner yang diterbtkan oleh pusat penelitian nasional untuk lingkungan kerja Denmark yaitu Nordic Safety Climate Questionnaire 50 (NOSACQ-50) yang berisi 50 pernyataan dan sudah dilakukan uji dan terjemahan dalam 40 bahasa, salah satunya adalah bahasa indonesia. Penelitian ini dilakukan di PT. Weir Minerals Indonesia Balikpapan yang dimulai pada bulan januari sampai maret 2021, objek penelitian ini adalah seluruh pekerja PT. WEIR MINERALS INDONESIA Balikpapan sebanyak 100 orang (total responden). Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 3 dimensi yang memiliki nilai rata-rata dibawah 3.30, yaitu dimensi pemberdayaan manajemen keselamatan kerja, dimensi keadilan manajemen keselamatan kerja dan dimensi prioritas keselamatan pekerja dan tidak ditoleransinya risiko bahaya. Perbaikan disarankan meliputi pengambilan keputusan dan menerima saran serta masukan dari pekerja terkait keselamatan kerja serta bersikap adil kepada pekerja terkait keselamatan dan kesehatan kerja bagi manajemen dan mengutamakan keselamatan kerja dan tidak mengambil risiko meskipun pekerjaan sedang padat dan mengurangi perilaku yang suka mengambil risiko berbahaya bagi para pekerja
Read More
T-6170
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiansah Rahadian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Avep Disasmita, Wahyudin Syakir
Abstrak:
Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat hubungan antara distress kerja dengan iklim keselamatan, yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dimensi distress kerja terhadap iklim keselamatan. Studi cross-sectional yang dilakukan pada 152 karyawan perusahaan pembangkit listrik tenaga gas di site Prabumulih, Palembang, dan dua site Batam, pada departemen operation dan maintenance yang dipilih secara acak sebagai responden penelitian. Responden mengisi kuesioner iklim keselamatan Nordik (NOSACQ-50) dan kuesioner distress kerja NIOSH Generic Job Stress secara daring. Data dianalisis menggunakan uji statistik korelasi bivariat dan regresi linier. Gambaran iklim keselamatan perusahaaan menunjukkan hasil rata-rata 2,73 atau pada tingkatan cukup, sehingga memerlukan perbaikan pada komitmen tenaga kerja pada keselamatan dan prioritas keselamatan. Berdasarkan tingkat distress kerja, terdapat 10,53% karyawan yang memiliki tingkat distress rendah, 77,63% karyawan yang memiliki tingkat distress sedang, dan 11,84% karyawan yang memiliki tingkat distress tinggi. Analisis bivariat menunjukkan variabel distress kerja pada penilaian diri, masa depan karyawan, dan dukungan sosial, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan iklim keselamatan. Analisis multivariat menunjukkan variabel distress kerja pada konflik dan ketidakjelasan peran menjadi variabel paling dominan berhubungan dengan iklim keselamatan. Untuk meningkatkan iklim keselamatan, perusahaan harus berusaha untuk mengurangi distress di tempat kerja melalui pengendalian faktor konflik dan ketidakjelasan peran.

Based on the literature review, there is a relationship between work distress and safety climate, which affects to work accidents. This study aims to determine the relationship of the dimensions of work distress to the safety climate. A cross-sectional study was conducted on 152 employees of a gas-fired power plant company at the Prabumulih site, Palembang, and two Batam sites, in the operation and maintenance department who were randomly selected as research respondents. Respondents filled out the Nordic safety climate (NOSACQ-50) and NIOSH Generic Job Stress online questionnaire. Data were analyzed using bivariate correlation statistical tests and linear regression. Company's safety climate showed an average result of 2.73 or at a sufficient level, required improvement in the commitment of the workforce to safety and safety priorities. There were 10.53% of employees who have low levels of distress, 77.63% of employees who have moderate levels of distress, and 11.84% of employees who have high levels of distress. Bivariate analysis showed that the variables of work distress on self-assessment, future work, and social support, showed a significant relationship with safety climate. Multivariate analysis showed that the variables of work distress in conflict and role ambiguity were the most dominant variables related to the safety climate. To improve safety climate, Company should strive to reduce workplace distress through controlling conflict factors and role ambiguity.
Read More
T-6454
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Algavusada Fesya Yemix; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Ali Nurrahman
Abstrak: Stres kerja adalah respons disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan yang dirasakan dan sumber daya yang dimiliki dengan kemampuan individu untuk mengatasi tuntutan-tuntutan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan adanya stres kerja pada pekerja hulu minyak bumi di Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra dan faktor-faktor terkait stres kerja. Faktor-faktor yang diteliti adalah faktor individu (usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan penilaian diri), faktor pekerjaan (unit kerja, status kepegawaian, masa kerja, jadwal kerja, dukungan sosial, konflik interpersonal, tuntutan pekerjaan, dan beban kerja), dan faktor lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan instrumen kuesioner. 68 pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,9% responden mengalami stres kerja. Ditemukan pula hubungan antara area kerja dengan stres kerja, dan hubungan antara dukungan sosial dengan stres kerja. Kata kunci: Stres Kerja, Pekerja Hulu Minyak Bumi, Faktor Individu, Faktor Pekerjaan, Faktor Lingkungan Occupational stress is response caused by an imbalance between perceived demands and available resources with individual abilities to cope with those demands. The aim of this study is to explain an occupational stress condition within upstream oil workers in Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra. Observed factors are individual factors (age, marriage status, education level, and self-assessment), occupational factors (work unit, employment status, work period, work schedule, social support, workplace conflict, job demand, and workload), and environmental factors. This is a cross-sectional study using self-reported questionnaires as an instrument. 68 workers participated in this study. The result of this study reports that 52,9% of respondents experience occupational stress. The result also shows a relationship between work unit and occupational stress, and relationship between social support and occupational stress. Key words: Occupational stress, Upstream Oil Workers, Individual Factors, Occupational Factors
Read More
S-10454
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Makhrus Shofi; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Hanatie Yudianto
S-5235
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maharani Ayundhias; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aldila Faza Zulfah
Abstrak:
Pekerja shift dan on-call di sektor kelistrikan memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja (fatigue) yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif, produktivitas, kesehatan, dan keselamatan kerja. Kelelahan ini dipengaruhi oleh faktor risiko terkait pekerjaan (sistem on-call, shift kerja, masa kerja, beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, tidur, status gizi, pekerjaan sampingan, status menikah, riwayat penyakit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja (fatigue) pada pekerja shift dan on-call. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan metode mixed method. Data kuantitatif diperoleh dari 98 responden menggunakan kuesioner OFER, PSQI, NASA-TLX, pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta didukung data kualitatif melalui wawancara terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut (p = 0,027; OR = 2,703) dan kelelahan kerja (fatigue) kronis (p = 0,034; OR = 2,618). Selain itu, kuantitas tidur (p = 0,035; OR = 3,906) dan status menikah (p = 0,003; OR = 4,354) memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut. Kesimpulan penelitian ini menekankan terkait pentingnya implementasi fatigue management dan peningkatan kesadaran diri dalam mengelola kelelahan kerja (fatigue). 


Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
Read More
S-12013
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive