Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31171 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Wahyudin Ali Syakir; Pembimbing: Meizar Sjahrul; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Iqbal Mochtar, Annes Waren
Abstrak:
Dalam industri peleburan aluminium, tekanan panas (heat stress) adalah salah satu bahaya fisik yang paling besar pengaruhnya terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja disamping bahaya lainnya. Menurut NIOSH (2016), pekerja yang terpajan panas yang tinggi atau pekerja dengan dengan aktivitas fisik berat kemungkinan akan berisiko terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat heat stress. Hasil pengukuran di perusahaan XYZ pada puncak musim panas 2018 menunjukkan bahwa indeks WBGT telah mencapai 37 0 C. Suhu tersebut melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan. Di perusahaan peleburan aluminium XYZ, sumber panas luar selain dari proses peleburan, juga berasal dari suhu udara lingkungan, hal ini karena lokasi Perusahaan XYZ berada di wilayah Timur Tengah dengan suhu lingkungan yang tinggi dan kelembaban udara yang tinggi pada saat musim panas. Di wilayah Timur Tengah ada sekitar 6 perusahaan peleburan aluminium yang beroperasi dalam sekala besar, namun sampai saat ini penelitian terkait pengelolaan heat stress masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan program pengeloaan Heat stress di Perusahaan XYZ tahun 2019 dibandingkan dengan rekomendasi NIOSH Criteria for a recommended standard: occupational exposure to heat and hot environments - revised criteria 2016. Disain penelitian ini adalah penelitian Mixed Method, yaitu sebagian pengolahan data dinilai secara kualitatif dan sebagian lainnya dinilai secara deskripstif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa data primer dan sekunder. Secara umum, peserta sebagian besar kuisoner menyatakan bahwa perusahaan XYZ telah menerapkan pengelolaan heat stress dengan baik. Dari hasil kuisoner persentase kesesuian sebesar 85,41% dengan rekomendasi NIOSH: Criteria for a recommended standard-ccupational Exposure to Heat and Hot environment- revised 2016 yang sejalan dengan hasil dari hasil wawancara, observasi lapangan yang telah dilakukan. Meskipun demikian masih beberapa hal yang masih perlu dilakukan perbaikan agar risiko tidak terjadi kasus heat stress makin menurun.

Heat stress is one of significant physical hazard in aluminium smelter industry which impact to the health dan safety of the workers. Refer to NIOSH (2016), worker who exposed with high temperature or worker who perform high physical work may be at risk for heat stress or heat related illness. Measurement heat index in XYZ company during peak summer shows that WBGT index reach up to 37 0 C. This Index already reached treshold limit standard. Source of heat in XYZ company generated from process and environment during summer, due to the company location situated in Midle East. It has high ambient temperature and high humidity in peak summer. In the Middle East region, there are six (6) aluminum smelter industry, however heat stress study focusing on heat stress management still not explore intensively. The aim of this study is to review implementation of heat stress arragement in XYZ company 2019 compare with NIOSH Criteria for a recommended standard: occupational exposure to heat and hot environments - revised criteria 2016. The study design is mixed method that using analys qualitatively and descriptive qualitative. The data source collected by primary method dan secondary. In general, as per respondence of quissoinare conclude that XYZ company have implemented heat stress management is good. The quisonaire shows that the percentage of compliance is 85,41% against NIOSH recommendation: Criteria for a recommended standard-ccupational Exposure to Heat and Hot environment- revised 2016. This result aligns with interview and walk trough on the shop floor conducted.
Read More
T-6109
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novriadi Kurniawan; Pembimbing: Syahrul Meizar Nasri; Penguji: Chandra Satrya, Rusbani Kurniawan, Priyo Djatmiko
Abstrak: Indonesia merupakan daerah tropis yang sering mengalami musim kemarau panjang dan panas telah dianggap bahaya yang umum dan harus dihadapi oleh masyarakat. Beberapa masalah kesehatan yang dapat timbul akibat panas yaitu dehidrasim heat syncope, heat exhaustion hingga heat stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pajanan heat stress pada pekerjerja di PT N pada tahun 2019 melaui penilaian keluhan subjektif yang dialami pekerja dengan menggunakan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui 2 cara yaitu primer dan sekunder. Hasil analisis menunjukan pekerja pada area pengukuran memiliki beban kerja ringan dan sedang sebesar 42.9% dan 57.1%. Pekerja di PT N juga termasuk pada pola kerja 75%-100% dan koreksi pakaian ± 0. Umur pekerja yg menjadi responden lebih banyak diisi oleh pekerja dengan umur dari 35 tahun sebesar 61%. IMT pekerja juga terdapat beberapa responden dengan IMT berlebih sebesar 29.9%. Beberapa responden tidak pernah mendapatkan pelatihan atau materi mengenai heat stress sebesar 63.6% dan tingkat konsumsi air kurang dari 4 liter sebesar 70.1%. Responden mengalami keluhan kerja ringan dengan persentase 97,4% dan 2 orang dengan keluhan subjektif berat. Hampir disemua area pengukuran melampui nilai ambang batas, namun tidak begitu besar. Kedua responden dengan keluhan subjektif berat dianalissi melalui data karakteristiknya dan dikeathui bahwa kedua responden mengkonsumsi air kurang dari 4 liter dan berumur cukup tua yaitu 44 tahun dan 54 tahun. Sangat disarankan untuk melakukan beberapa tindakan pengendalian seperti engineering control dan pengendalian administrasi untuk mengurangi pajanan dan mengindari munculnya heat strain pada pekerja di PT N.
Read More
T-5747
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Nasution; Pembimbing: Hendra; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mufti Wirawan, Hanafi Basuni, Muthia Ashifa
Abstrak:
Pekerja menghadapi risiko tekanan panas (heat stress) dari faktor lingkungan fisik, faktor pekerjaan, pakaian kerja dan karakteristi individu yang berpotensi memicu gangguan kesehatan hingga kematian. Riset terdahulu membuktikan adanya hubungan signifikan antara beban kerja, durasi tugas, dan karakteristik individu dengan keluhan regangan panas (heat strain). Berdasarkan dari hal tersebut penelitian ini dilakukan untuk menganalisis korelasi pajanan panas dari peralatan dapur PT XYZ terhadap gangguan kesehatan subjektif pekerja penjamah makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pajanan tekanan panas (heat stress) terhadap gangguan kesehatan subjektif pada pekerja penjamah makanan di area dapur PT XYZ. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan responden sebanyak 24 pekerja dan pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran ISBB, kelembapan, kecepatan perpindahan udara, indeks massa tubuh serta melakukan penyebaran keusioner untuk mengetahui tingkat gangguan kesehatan subjektif pada pekerja. Hasil penelitian menunjukan nilai ISBB pada area main kitchen dan bakery melebihi NAB permenaker no 05/2018 pada waktu siang hari. Karakterisitik pekerja di PT.XYZ dengan seluruhnya berjenis kelamin laki-laki dengan usia antara 17 – 53 tahun, sebagian pekerja mengalami kelebihan berat badan dan tidak semua pekerja mengalami aklimatisasi dan status hidrasi secara baik. Pola kerja kontinu antara 60% - 75%. Sebagian besar pekerja mengalami pajanan tekanan panas dan seluruh pekerja mengalami gangguan subjektif terhadap kesehatan mereka dengan didominasi gangguan kesehatan tingkat ringan sebanyak 13 pekerja dan tingkat sedang 11 pekerja. Kesimpulanya Terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan gangguan kesehatan subjektif pekerja. Pekerja yang terpajan tekanan panas memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan secara subjektif sebesar 4,6 kali lebih besar dibandingkan pekerja yang tidak terpajan tekanan panas. Sedangkan antara karakteristik individu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan terjadinya gangguan kesehatan subjektif pada pekerja penjamah makanan di PT. XYZ. Saran bagi perusahaan yakni menerapkan rekayasa teknik, rotasi kerja, dan penyediaan elektrolit untuk mencegah dehidrasi pekerja. Bagi pemerintah perlu meningkatkan pengawasan K3 khsusnya pada ruang lingkup penerapan permenaker no 05/2018 pada industri jasa boga.

Workers face the risk of heat stress from environmental, occupational, clothing, and individual characteristics that can potentially trigger health disorders and even mortality. Prior research has demonstrated a significant relationship between physical workload, work duration, and individual characteristics with heat strain complaints. Based on this, this study was conducted to analyze the correlation between heat exposure from kitchen equipment at PT XYZ and the subjective health complaints of food handlers. This study aimed to analyze the relationship between heat stress exposure and subjective health complaints among food handlers in the kitchen area of PT XYZ. This study utilized a cross-sectional design involving 24 worker respondents. Measurements conducted included WBGT (Wet Bulb Globe Temperature), humidity, and air velocity, alongside body mass index assessment and questionnaire distribution to determine the level of subjective health complaints among workers. The results indicated that the WBGT values in the main kitchen and bakery areas exceeded the Threshold Limit Value (TLV) stipulated by Minister of Manpower Regulation No. 05/2018 during the daytime. The characteristics of the workers at PT XYZ showed that all were male, aged between 17 and 53 years, with some workers being overweight, and not all workers had achieved good acclimatization and hydration status. Continuous work patterns ranged between 60% and 75%. Most workers experienced heat stress exposure, and all workers reported subjective health complaints regarding their health, which were dominated by mild health complaints among 13 workers and moderate complaints among 11 workers. In conclusion, there is a significant relationship between heat stress and workers' subjective health complaints. Workers exposed to heat stress possess a 4.6 times higher risk of experiencing subjective health complaints compared to those unexposed to heat stress. Meanwhile, individual characteristics showed no significant relationship with the occurrence of subjective health complaints among food handlers at PT XYZ. Recommendations for the company include implementing engineering controls, work rotation, and providing electrolyte drinks to prevent worker dehydration. For the government, it is necessary to enhance occupational health and safety (OHS) supervision, particularly within the scope of enforcing Minister of Manpower Regulation No. 05/2018 in the catering industry.
Read More
T-7601
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Ayu Indira Dwika Lestari; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Agung Suranto
Abstrak: PT American Standard Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sanitary manufactur yang memproduksi peralatan sanitasi seperti closetdan wastafel. Salah satu tahapan produksinya yaitu pencetakan (casting) sertapembakaran yang suhunya dapat mencapai 20000C. Hasil menunjukkan indeks WBGT in rata-rata area Kiln dan Cast Shop antara 30.710C-33.80C dengan polakerja pekerja 50%-75% serta beban kerja yang masuk dalam katagori sedang halini dapat menyebabkan pekerja mengalami heat stress. Heat stress dapatdipengaruhi oleh faktor suhu lingkungan yang tinggi, kelembaban, kecepatan angin, pola kerja, beban kerja, serta pakaian kerja. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengethuipengendalian heat stres yang telah dilakukan perusahaan terhadap pekerja di areaKiln dan Cast shop di PT American Standard Indonesia. Hasil Penelitian berupaanalisis faktor penyebab heat stress dan pengendalian heat stress yang telahdilakukan di area Kiln dan Cast Shop PT American Standard Indonesia serta evaluasi terhadap program pengendalian yang telah dilakukan. Kata Kunci : Evaluasi Pengendalian, Heat Stress
PT American Standard Indonesia is a company engaged in the field ofsanitary manufactur -producing sanitary equipment, such as closets and sinks. Oneof the stages of production that is printing ( casting ) as well as the combustiontemperature can reach 20000C . Results showed WBGT index in the average areabetween Kiln and Cast Shop 30.710C - 33.80C with work patterns 50 % -75 % ofworkers as well as the workload in the category of being this may cause workersto experience heat stress. Heat stress can be influenced by high ambienttemperatures, humidity, wind speed, work patterns, workload, and work clothes.This study is a descriptive cross-sectional study design. This study aims todetermine heat stress control company that has been done in the area of workersand Kiln Cast shop in PT American Standard Indonesia . Research results formthe analysis of the causes of heat stress and heat stress control has been done inthe area of Kiln and Cast Shop PT American Standard Indonesia and evaluation ofcontrol programs that have been carried out.Keywords: Evaluation control, Heat Stress
Read More
S-8154
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endi Budi Setyawan; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja, Dadan Erwandi; Penguji: Anugerah; Ary Soeharijanto
Abstrak: Desain penelitian ini adalah studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif observasional. Data primer mengukur lingkar pinggang, berat dan tinggi badan pekerja serta menyebar kuesioner. Data sekunder berupa hasil pemeriksaan kesehatan berkala. Hasil telitian pada 170 responden mendapatkan ukuran lingkar pinggang berlebih (> 90 cm) sebanyak 54.12%, berat badan berlebih (overweight) sebesar 39.41% dan obesitas menunjukkan 12.35%, ada hubungan faktor risiko seperti usia, tekanan darah, genetik, aktivitas fisik, durasi tidur, dan lingkar pinggang berlebih.
Read More
T-5734
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Indra Adithia; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna Satyadi, Marina Kartikawati
Abstrak: Kondisi pekerjaan yang tidak nyaman dapat menimbulkan stres pada pekerja sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja dan meningkatkan gejala kecemasan dan depresi. Stres yang dialami oleh pekerja dipengaruhi oleh hubungan beberapa faktor seperti faktor psikososial, faktor pekerjaan, lingkungan kerja dan individu pekerja. Gangguan kesehatan terkait dengan stres diantaranya adalah penyakit hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit maag, musculoskeletal symptoms. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang logistik pangan. Tingginya intensitas pekerjaan di PT. XYZ yang melebihi batas kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak manajemen perusahaan karena pencapaian yang utama adalah target yang diusahakan oleh pekerja untuk memenuhi target perusahaan, sehingga dapat mengakibatkan bahaya yang serius bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di perusahaan logistik pangan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui survey dengan menggunakan kuisioner. Kuesioner yang telah melewati uji validasi dan reliabiliti digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu faktor psikososial (organisasi dan budaya kerja, hubungan interpersonal, kepemimpinan, pengembangan karir dan manajemen), faktor pekerjaan (desain kerja, waktu istirahat, beban kerja, kontrol pekerjaan dan bidang pekerjaan), faktor fisik lingkungan kerja dan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, masa kerja dan gaya hidup). Hasil penelitian dengan analisis statistik multivariat regresi linier ganda faktor yang paling dominan menunjukkan bahwa stres kerja berdasarkan indikator emosi yaitu Organisasi dan Budaya Kerja (p value = 0,004 & B = 0,24), stres kerja berdasarkan indikator fisik yaitu Lingkungan Kerja (p value = 0,01 & B = 0,19) dan stres kerja berdasarkan indikator perilaku yaitu Gaya Hidup Tidak Sehat (p value = 0,00 & B = 0,27).
Read More
T-5697
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Nurhafizhah; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mila Tejamaya, Muthia Ashifa
Abstrak: Kebutuhan energi batu bara yang masih menempati urutan ke-2 di dunia dengan karakterisiknya yang dikenal tinggi resiko menjadikan bahasan mengenai kesehatan pekerja tambang batu bara penting untuk didiskusikan. Salah satu risiko yang terdapat dalam kegiatan pertambangan batu bara adalah buruknya kualitas udara dalam ruangan (KUDR) akibat banyaknya bahaya dalam udara pertambangan batu bara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil pengukuran kualitas udara dalam ruangan kantor PT X. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan menggunakan data kuantitatif yang berasal dari data sekunder. Variabel yang diukur adalah NO2, SO2, CO2, CO, Pb, PM10, suhu, kelembapan, dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat masalah KUDR yakni pada kebisingan, suhu dan kelembapan yang melewati persyaratan. Manajemen KUDR yang sudah dilakukan oleh PT X masih dapat dikembangkan menjadi manajemen KUDR yang lebih sistematis dan komprehensif. Kata kunci: Tambang batu bara, kualitas udara dalam ruangan, parameter kimia, parameter fisik Coal still ranks the second largest source of total global energy demand. Complemented with high risk nature of coal mining activity make the topic about health of coal workers important to discuss. One of the risks exist in coal mining activities is the poor indoor air quality (IAQ) due to high concetration of airborne pollutant in coal mining air. This study aims to evaluate the results of air quality measurements in the office of PT X. This research used descriptive approach with quantitative data derived from secondary data. The measured variables are NO2, SO2, CO2, CO, Pb, PM10, temperature, humidity, and noise. The results showed that there was IAQ problem, namely noise, temperature and humidity which exceed the recommendations. IAQ management that has been carried out by PT X can still be developed into a more systematic and comprehensive IAQ management. Key words: Coal mining, office air quality, chemical parameter, physical parameter
Read More
S-10476
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Rosyani Nur Afrianthie; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Hendra, Rockyanto V. Sasabone, Izzatu Millah
T-4919
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Iqbal; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Windi; Hendra
Abstrak: Sektor ketenagalistrikkan menjadi salah satu pekerjaan yang berisiko dengan gangguan akibat paparan tekanan panas. Tekanan panas terjadi akibat dari kombinasi faktor-faktor lingkungan kerja, faktor-faktor pekerjaan dan faktor-faktor individu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022 dengan 58 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apparent temperature yang dihasilkan berkisar antara 26oC - 42oC, dengan kelembaban relatif berkisar antara 38,1% hingga 58,2% dan dry bulb antara 24,8oC hingga 37,7oC. Setelah dinilai dengan menggunakan basic thermal risk assessment ditemukan bahwa mayoritas responden tergolong ke dalam kategori low- moderate yaitu 28 responden (48,3%), kemudian very high sebanyak 15 responden (43,1%) dan high sebanyak 5 responden (8,6%). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor individu yaitu usia, indeks massa tubuh, ketersediaan air minum, status aklimatisasi dan status kesehatan dengan tingkat risiko heat stress (nilai p <0,05). Berdasarkan hal tersebut, perusahaan disarankan untuk melakukan upaya lebih lanjut untuk pengendalian tekanan panas berupa pengendalian teknik, pengendalian administratif dan juga personal untuk meminimalisasi risiko heat stress.
The electricity sector is one of the riskiest jobs with disruptions due to exposure to heat stress. Heat stress occurs as a result of a combination of work environment factors, work factors and individual factors. This study is a quantitative study with a cross-sectional study design conducted in March-June 2022 with 58 respondents. The results showed that the apparent temperature ranged from 26oC - 42oC, with relative humidity ranging from 38.1% to 58.2% and dry bulb between 24.8oC to 37.7oC. After being assessed using a basic thermal risk assessment, it was found that the majority of respondents belonged to the low-moderate category, namely 28 respondents (48.3%), then very high as many as 15 respondents (43.1%) and high as many as 5 respondents (8.6% ). The measurement results show that there is no significant relationship between individual factors, namely age, body mass index, availability of drinking water, acclimatization status and health status with the level of risk of heat stress (p value <0.05). Based on this, the company is advised to make further efforts to control heat stress in the form of technical control, administrative control and also personal control to minimize the risk of heat stress.
Read More
S-11101
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iqbal Dwiputra; Pembimbing: Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Iqbal Mochtar, Samy Awaludin
Abstrak: Tesis ini membahas teori institutional analysis pada manajemen heat stress di perusahaan konstruksi. Kompleksnya teori institutional analysis yang dikembangkan memicu penulis untuk melakukan penelitian karena banyaknya faktor yang teridentifikasi, selain itu terdapat pula beberapa institutional level eksternal perusahaan yang tidak dapat diintervensi langsung oleh perusahaan konstruksi. Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan tinjauan sistematis dengan metode analisis tematik. Didapatkan hasil penelitian berupa gambaran tematik mengenai underlying factors dan tools and tecnhiques pada setiap institutional level dan keseluruhannya sebagai salah satu metode dalam manajemen heat stress. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan konstruksi menerapkan teori institutional analysis dan mengaplikasikan gambaran tematik yang dihasilkan penelitian dalam pelaksanaan manajemen heat stress pada institutional level yang dapat diintervensi langsung oleh perusahaan
This study mainly discussing about institutional analysis theory for managing heat stress in construction company. The complexity of that theory urge Author to conduct this research because of many identified factors and some institutional levels that have been identified are an external factors that could not be interfeared directly by construction company. Systematic review with thematic analysis are the methods for this research. The results show thematic analysis about underlying factors and tools and techniques of each institutional level and altogether as one method to manage heat stress. This research recommends the application of institutional analysis combined with thematic analysis from this research to manage heat stress in construction company
Read More
T-6107
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive