Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25100 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Inti Sari Puspita Dewi; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Errik Yusnadi Saleh, Wayne Satria
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai penerapan budaya keselamatan, khususnya perusahaan logistik PT XYZ yang memiliki spesialisasi pengangkutan over dimension & heavy cargo. Penelitian melibatkan 192 pekerja di kantor pusat dan di kantor cabang PT XYZ melalui survei online & offline yang mengukur dimensi iklim keselamatan. Analisis statistik dilakukan dengan uji t-test 2 sampel untuk melihat perbedaan persepsi elemen iklim keselamatan pada setiap karakteristikdemografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan dalam dimensi organisasi, pekerjaan dan individu memperolah nilai masing-masing 4,25; 3,82 dan 3,83. Dilihat dari faktor keselamatannya, Priority of Safety (PS) secara umum memiliki persepsi skor tertinggi di antara yang lainnya, sedangkan Personal Appreciation of Risk (PAR) memiliki skor yang paling rendah. Dari hasil pengukuran tingkat kematangan budaya K3 didapati PT XYZ berada pada level Kalkulatif (skor 3,4) dimana manajemen PT XYZ masih menjadi penggerak sentral dari implementasi K3 di perusahaan (top down). Dari hasil observasi didapat nilai index safety behavior yaitu 79%. Untuk itu perusahaan disarankan untuk lebih sering turun kelapangan untuk menangkap aspirasi dari pekerja serat memfasilitasi lebih banyak pelatihan keselamatan untuk pekerja. Serta disarankan lebih konsisten dalam realisasi anggaran K3

This study aims to provide an overview of the safety culture application, especially in companies PT XYZ that specialize in overdimension & heavy cargo transportation. The study involved 192 workers at the head office and at PT XYZ branch offices through online & offline surveys measuring safety climate. Statistical analysis using 2-sample t-test to see differences in perceptions of safety elements on each demographic characteristic. The results showed that the safety climate in the dimensions of the organization, work and individual earned a score of 4.25; 3.82 and 3.83. For safety factor, Priority of Safety generally the highest perceived score among the others, while Personal Appreciation of Risk has the lowest score. The results of the measurement of the maturity level of K3 culture, it was found that PT XYZ was at the calculative level (score 3.4) where the management of PT XYZ was still the central of the implementation of K3 in the company. From observation, index value of safety behavior is 79%. For this reason, companies are advised to observe more often to capture the aspirations of workers and facilitate safety training for workers. PT XYZ also to be more consistent in the realization of the HSE budget
Read More
T-6337
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Frandy Sinatra Surbakti; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Benyamin Argubie, Muhammad Ginanjar Noor
Abstrak: Penelitian tesis ini menganalisis iklim K3 pada PT.XYZ yang merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi minyak bumi dan gas alam. Data perusahaan menunjukkan terjadi 16 kasus recordable injury (RI) pada tahun 2019, 9 kasus RI pada tahun 2020 dan 2 kasus RI sampai dengan 31 Agustus 2021 yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran, kewaspadaan serta kelalaian. Survei iklim budaya K3 pada PT. XYZ dilakukan untuk mendapatkan potret terkini, menganalisis kelemahan dan memberikan rekomendasi perbaikan untuk meminimalisir angka kecelakaan kerja. Studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif serta metode penelitian Iklim K3 dipergunakan dengan menyebar survei kuisioner melalui Google Form dengan pemilihan sampel bersifat proporsional cluster random sampling yang melibatkan 322 responden. Hasil survei menunjukkan nilai rata-rata iklim K3 perusahaan adalah 4.12 pada skala 1-5 dengan nilai rata-rata pada masing-masing variabel >3.75 menunjukkan bahwa pekerja mempersepsikan bahwa nilai keselamatan sudah terinternalisasi dengan optimal baiik sebagai individu, kelompok dan organisasi. Fokus perbaikan pada variabel kelompok yang memiliki 2 subvariabel dibawah nilai rata-rata. Terdapat perbedaan signifikan pada kelompok status pekerja (Supportive Environment p-value 0.048, Involvement p-value 0.001) dan kelompok lokasi kerja (Management Commitment p-value 0.018).
This thesis research analyzes the OHS climate at PT. XYZ, an oil and natural gas exploration and production company. Company data shows that there were 16 recordable injury (RI) cases in 2019, 9 RI cases in 2020 and 2 RI cases up to 31 August 2021 which were caused by lack of awareness, vigilance and complacency. OHS climate survey at PT. XYZ is carried out to get the latest OHS climate portrait, analyze weaknesses and provide recommendations for improvement to decrease the accidents. A cross-sectional study with a quantitative approach and research methods on OHS Climate was used by distributing questionnaires survey via Google Form and sample selection by proportional cluster random sampling involving 322 respondents. The survey results show that the average value of the company's OHS climate is 4.12 on a scale of 1-5 and average value for each variable >3.75 indicating that workers perceive that safety values have been optimally internalized as individuals, groups and organizations. The focus of improvement is on group variables which have 2 sub-variables below the average value. There was a significant difference in worker status group (Supportive Environment p-value 0.048, Involvement p-value 0.001) and work location group (Management Commitment p-value 0.018).
Read More
T-6313
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atta Rizky Suharto; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Zulkifli Djunaidi, Estu Subagyo, Wenny Ipmawan
Abstrak: Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan dapat diukur dengan berapa banyak kecelakaan yang terjadi setiap tahun dan banyak profesional telah mengembangkan indikator utama sebagai budaya keselamatan untuk mencegahnya. Perusahaan yang bergerak di bidang migas juga memiliki potensi risiko kebakaran, ledakan, pencemaran lingkungan dan kecelakaan kerja lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang penerapan budaya keselamatan di tempat kerja, khususnya perusahaan pengolahan minyak dan gas bumi dan akan digunakan sebagai perilaku keselamatan untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Studi penelitian melibatkan 356 pekerja di kantor dan lapangan PT XYZ melalui survei online yang menanyakan item demografis dan dimensi iklim keselamatan. Analisis statistik dilakukan dengan uji T sampel independen yang membandingkan item iklim keselamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan dalam dimensi organsisasi, pekerjaan dan individu memperolah nilai masing-masing 4,23, 3,98 dan 4,36. Dilihat dari faktor keselamatannya, Personal Priorities and Need for Safety (PPNS) secara umum memiliki persepsi skor tertinggi di antara yang lainnya, sedangkan lingkungan kerja adalah yang paling rendah. Rata-rata perbandingan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara iklim keselamatan berdasarkan lokasi kerja dan pendidikan. Sedangkan variabel posisi manajemen menunjukkan perbedaan rata-rata yang meliputi komitmen manajemen, komunikasi, lingkungan yang mendukung, keterlibatan, prioritas pribadi dan kebutuhan akan keselamatan, dan lingkungan kerja. Selain itu, terdapat tiga kategori temuan paling sering dari PEKA (Safety Observation) yaitu peralatan dan perlengkapan sekitar 61,29%, kondisi lingkungan 25,32%, dan Alat Pelindung Diri 5,34%. Dari hasil pengukuran Tingkat Kematengan Budaya K3 pada PT XYZ terlihat bahwa PT XYZ berada pada level kalkulatif dengan nilai 3,04. Ditinjau dari Level jabatannya yaitu manajemen 3,1 dan pekerja level bawah 2,98
The implementation of Occupational Health and Safety (OHS) in the company can be measured with how many accidents happened each year and many professionals have developed leading indicators as safety culture to prevent these. The company focused on oil and gas sector has also potential risk to fires, explosions, environmental poollution and other work accidents. This study aims to provide comprehensive overview of safety culture implementation in the workplace, in particular oil and gas refining company and will be utilized as safety behaviour to achieve target set by the company. The research study included 356 workers in both office and field through online survey asking for demographic items and safety climate dimensions. The statistical analysis was performed with independent-samples T test comparing safety climate items. The study resulted the safety climate in the dimensions of the organization, work and individual earned values of 4.23, 3.98 and 4.36, respectively. Based on the safety factor, Personal Priorities and Need for Safety (PPNS) in general having highest score perception among others, while work environment has lowest score. The mean comparison showed there was no significant among safety climates based on work location and education. Meanwhile the variable of management position indicated mean difference including management commitment, communication, supportive environment, involvement, personal priorities and need for safety, and work environment. In addition, Three categories of common finding from Safety Observation (PEKA): equipment and supplies around 61.29%, environmental conditions 25.32%, and Personal Protective Equipment 5.34%. From the measurement results of the Safety Culture Maturity Level at PT XYZ, it can be seen that PT XYZ is at a calculative level with a value of 3.04. In terms of position level: upper management 3.1 and lower management 2.98.
Read More
T-6213
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Venti Novriza; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Zulkifli Djunaedi, Estu Subagyo, Wenny Ipmawan
Abstrak: Pemerintah Indonesia saat ini memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang berdampak pada meningkatnya permintaan semen dan beton siap pakai. PT. XYZ sebagai salah satu produsen beton siap pakai terbesar di Indonesia menekankan pada upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik untuk mencapai zero harm. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil iklim keselamatan dan membandingkan variabelnya antara batch plant dan posisi. Ini adalah studi cross-sectional menggunakan kuesioner online yang diadopsi dari studi Safety Climate Survey sebelumnya. Data ditabulasi dan dianalisis menggunakan metode univariat dan hasilnya disajikan dalam grafik, variabel, dan skoring. Secara umum, iklim keselamatan di perusahaan PT XYZ cukup memuaskan
Read More
T-6262
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahyo Adhi Kusumo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Sigit Wijayanto, Wahyu Hidayat
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas masih menjadi permasalahan serius, khususnya pada pengemudi truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang memiliki tingkat risiko kerja tinggi. Faktor manusia, terutama perilaku berkendara tidak aman, merupakan penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku berkendara pada pengemudi truk pengangkut BBM di PT. XYZ tahun 2025, meliputi faktor internal, faktor eksternal, dan faktor manajemen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 1.764 pengemudi dengan jumlah sampel sebanyak 105 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51,4% pengemudi memiliki perilaku safety driving yang aman, sedangkan 48,6% masih tergolong tidak aman. Faktor internal yang berhubungan signifikan dengan perilaku berkendara meliputi pengetahuan, masa kerja, dan lama tidur. Pada faktor eksternal, kondisi kendaraan dan durasi mengemudi berhubungan signifikan dengan perilaku safety driving, sedangkan kondisi jalan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pada faktor manajemen, SOP, pengawasan, sistem reward and punishment, serta pelatihan berhubungan signifikan dengan perilaku berkendara, sementara status kepegawaian dan kompensasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku berkendara pengemudi truk BBM dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, lingkungan kerja, dan sistem manajemen keselamatan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperkuat penerapan K3 melalui pelatihan berkelanjutan, pengawasan yang efektif, pengaturan jam kerja dan waktu istirahat, serta penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang konsisten guna menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas

Road traffic accidents remain a serious public health issue, particularly among fuel tank truck drivers who are exposed to high occupational risks. Human factors, especially unsafe driving behavior, are recognized as the leading contributors to traffic accidents. This study aimed to analyze factors affecting driving behavior among fuel tank truck drivers at PT. XYZ in 2025, including internal factors, external factors, and management factors. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. The study population consisted of 1,764 drivers, with a sample of 105 respondents. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using statistical tests to determine the relationships between variables. The results showed that 51.4% of drivers demonstrated safety driving behavior, while 48.6% were categorized as having unsafe driving behavior. Internal factors significantly associated with driving behavior included knowledge, length of service, and sleep duration. Regarding external factors, vehicle condition and driving duration were significantly associated with safety driving behavior, whereas road conditions showed no significant association. Management factors such as standard operating procedures (SOP), supervision, reward and punishment systems, and training were significantly associated with driving behavior, while employment status and compensation were not significantly related. This study concludes that driving behavior among fuel tank truck drivers is influenced by a combination of individual characteristics, work environment conditions, and safety management systems. Therefore, companies are encouraged to strengthen occupational health and safety implementation through regular safety training, effective supervision, proper vehicle maintenance, adequate work–rest scheduling, and consistent enforcement of reward and punishment systems to reduce the risk of traffic accidents
Read More
T-7482
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Indra Adithia; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Erdy Techrisna Satyadi, Marina Kartikawati
Abstrak: Kondisi pekerjaan yang tidak nyaman dapat menimbulkan stres pada pekerja sehingga mempengaruhi kesejahteraan pekerja dan meningkatkan gejala kecemasan dan depresi. Stres yang dialami oleh pekerja dipengaruhi oleh hubungan beberapa faktor seperti faktor psikososial, faktor pekerjaan, lingkungan kerja dan individu pekerja. Gangguan kesehatan terkait dengan stres diantaranya adalah penyakit hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit maag, musculoskeletal symptoms. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang logistik pangan. Tingginya intensitas pekerjaan di PT. XYZ yang melebihi batas kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat menimbulkan stres kerja. Stres kerja seringkali tidak menjadi perhatian dari pihak manajemen perusahaan karena pencapaian yang utama adalah target yang diusahakan oleh pekerja untuk memenuhi target perusahaan, sehingga dapat mengakibatkan bahaya yang serius bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Dalam penelitian ini, peneliti berupaya mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja di perusahaan logistik pangan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data langsung melalui survey dengan menggunakan kuisioner. Kuesioner yang telah melewati uji validasi dan reliabiliti digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja yaitu faktor psikososial (organisasi dan budaya kerja, hubungan interpersonal, kepemimpinan, pengembangan karir dan manajemen), faktor pekerjaan (desain kerja, waktu istirahat, beban kerja, kontrol pekerjaan dan bidang pekerjaan), faktor fisik lingkungan kerja dan faktor individu (umur, jenis kelamin, status perkawinan, masa kerja dan gaya hidup). Hasil penelitian dengan analisis statistik multivariat regresi linier ganda faktor yang paling dominan menunjukkan bahwa stres kerja berdasarkan indikator emosi yaitu Organisasi dan Budaya Kerja (p value = 0,004 & B = 0,24), stres kerja berdasarkan indikator fisik yaitu Lingkungan Kerja (p value = 0,01 & B = 0,19) dan stres kerja berdasarkan indikator perilaku yaitu Gaya Hidup Tidak Sehat (p value = 0,00 & B = 0,27).
Read More
T-5697
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hikmat Nurul Fikri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Arie Gunawan
Abstrak: Kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab 1,25 juta orang meninggal setiap tahunnya dan diproyeksikan menjadi beban penyakit nomor tiga di dunia pada 2030. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keselamatan transportasi darat di PT. XYZ dan analisis antar faktor tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif analitik. Penelitian ini menggunakan matriks Haddon yang melihat faktor pengemudi, kendaraan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial dari masing-masing fase kecelakaan.
 
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keselamatan transportasi darat di PT. XYZ dipengaruhi oleh empat faktor yang kompleks. Kelelahan menjadi faktor risiko kecelakaan di PT. XYZ. Kendaraan yang digunakan selalu dilakukan pemeriksaan secara berkala. Kejahatan dan kendaraan lain merupakan faktor risiko kecelakaan dari lingkungan fisik. Dan sistem pemberangkatan pengemudi merupakan masalah dari faktor lingkungan sosial. Interaksi antar faktor tersebut akan meningkatkan risiko kecelakaan di PT. XYZ.
 

Traffic accident caused 1,25 million death for every years and projected to be the third world burden disease at 2030. Aim of this study is to analyzing factors and interaction of each factor related to land transportation safety in PT. XYZ. This study is qualitative research with descriptive analitic design. This study used Haddon Matrix to show driver factor, vehichle factor, physical and social environment factor from each accident's phase.
 
The results of this study show that safety transportation in PT. XYZ influenced by driver factor, vehicle factor, physical dan social environment factor. Drivers fatigue being risk factor accident in PT. XYZ. Their vehicles is under routine maintenance. Crime and other vehicles are risk factor accident from physical environment. And driver dispatch system is problem from social environment. Interaction from each factor will raise risk accident in PT. XYZ.
Read More
S-9726
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hamas Musyaddad Abdul Aziz; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Indri Hapsari Susilowati, Yan Fuadi, M. Hadi Rachman
Abstrak: Secara global, industri pertambangan telah lama dianggap sebagai salah satu industri paling berbahaya dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang besar bagi para pekerjanya. Frekuensi kejadian kecelakaan kerja dapat di cegah dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja sekaligus perilaku perilaku tenaga kerja pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, yang mulai menyadari pentingnya penerapan norma K3 di tempat kerja. Kematangan tingkat budaya keselamatan (safety maturity level) sangat penting untuk pencegahan perilaku tidak aman, terutama berbagai sector industry dengan tingkat cedera dan kematian yang tinggi. Konsep ini bertujuan untuk membantu organisasi dalam menetapkan tingkat kematangan budaya keselamatan mereka saat ini dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan budaya keselamatan mereka, sehingga diketahui dimensi dan aspek budaya keselamatan yang perlu diperbaiki . Tujuan dari penelitian ini mendesain instrumen pengukuran budaya yang sesuai dengan kondisi di lingkungan PT. XYZ dengan 10 variabel penelitian commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication dan safety performance, melakukan pengukuran budaya keselamatan pada PT. XYZ berdasarkan model tingkatan kematangan budaya keselamatan, dan melihat hubungan antar dimensi budaya keselamatan . Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mix methode, kuantitatif dan studi literature untuk memilih dimensi budaya keselamatan yang dijadikan variable penelitian dengan jumlah sampel penelitian 123 orang. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) . Hasil penelitian menunjukan penilaian terhadap safety maturity level dengan 10 (sepuluh) dimensi budaya keselamatan di PT.XYZ berada pada poin 3.56 (Compliant to Proactive), terdapat 9 (sembilan) hipotesis yang dapat diterima, terdapat hubungan yang bermakna antara Leadership (L) dengan Policy & Strategy (PS), dimensi Policy & Strategy (PS) dengan Safety Cost (SC), dimensi Commitment & Support (CS) dengan Process (P), dimensi Leadership (L) dengan Engagement & Involvement (EI), dimensi Safety Cost (SC) dengan Competency & Training (CT), dimensi Process (P) dengan Information & Communication (IC), dimensi Engagement & Involvement (EI) dengan Value (V), dimensi Competency & Training (CT) dengan Safety Performance (SP), Value (V) dengan Safety Performance (SP) dan 1 hipotesis yang tidak diterima, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dimensi Information & Communication (IC) dengan Safety Performance (SP).
Globally, the mining industry has long been considered one of the most dangerous industries with great health and safety risks to its workers. The frequency of work accidents can be prevented by planning, implementing and monitoring Occupational Safety and Health (K3) in the workplace as well as the behavior of workers in particular and the community in general, who are starting to realize the importance of implementing OSH norms in the workplace. Maturity level of safety culture (safety maturity level) is very important for the prevention of unsafe behavior, especially various industrial sectors with high rates of injury and death. This concept aims to assist organizations in determining the maturity level of their current safety culture and identify the actions needed to improve their safety culture, so that the dimensions and aspects of safety culture need to be improved . The purpose of this study is to design a cultural measurement instrument that is appropriate to the conditions in the PT. XYZ with 10 research variables commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication and safety performance, measured safety culture at PT. XYZ is based on a safety culture maturity level model, and looks at the relationship between safety culture dimensions. The method used in this study is a mix method, quantitative and literature study to select the dimensions of safety culture which are used as research variables with research sample of 123 people. The results were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results of the study show that the assessment of the safety maturity level with 10 (ten) dimensions of safety culture at PT. XYZ is at point 3.56 (Compliant to Proactive), there are 9 (nine) hypotheses that can be accepted, there is a significant relationship between Leadership (L) and Policy & Strategy (PS), Policy & Strategy (PS) dimension with Safety Cost (SC), Commitment & Support (CS) dimension with Process (P), Leadership dimension (L) with Engagement & Involvement (EI), Safety Cost dimension (SC) with Competency & Training (CT), Process dimension (P) with Information & Communication (IC), Engagement & Involvement (EI) dimension with Value (V), Competency & Training (CT) dimension with Safety Performance (SP) , Value (V) with Safety Performance (SP) and 1 hypothesis which is not accepted, there is no significant relationship between Information & Communication (IC) and Safety Performance (SP) dimensions.
Read More
T-6466
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Nisa Fanegi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Izzatu Milla, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Industri manufaktur kimia merupakan salah satu sektor industri yang memiliki potensi bahaya tinggi dan kompleksitas proses kerja yang menuntut implementasi sistem keselamatan kerja yang kuat. Salah satu aspek yang perlu dikaji secara mendalam adalah tingkat kematangan budaya keselamatan (safety culture maturity) yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kematangan budaya keselamatan di PT. XYZ serta mengidentifikasi perbedaan persepsi dan keterlibatan karyawan. Pengukuran dilakukan dengan instrument kuesioner yang terdiri dari berbagai dimensi dan elemen budaya keselamatan, serta didukung dengan data wawancara , diskusi kelompok dan tinjauan dokumen. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa tingkat kematangan budaya keselamatan PT. XYZ berada pada level 3 atau Calculative. Hasil ini menunjukkan bahwa Perusahaan telah memiliki sistem K3 yang terstruktur dan terdokumentasi, namun nilai – nilai keselamatan belum sepenuhnya diinternalisasi dalam perilaku kerja sehari – hari. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan persepsi antar jabatan dan unit kerja, di mana keterlibatan pekerja lapangan dalam evaluasi dan pembelajaran keselamatan masih terbatas. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan antara lain efektivitas komunikasi keselamatan, partisipasi pekerja dalam analisis insiden kecelakaan, serta konsistensi pelaksanaan tindak lanjut dari temuan dan evaluasi risiko. 
The chemical manufacturing industry is one of the industrial sectors with high hazard potential and complex work processes, requiring the implementation of a strong occupational safety system. One critical aspect that must be explored in depth is the level of safety culture maturity within a company. This study aims to analyze the maturity level of safety culture at PT. XYZ and identify the differences in perception and engagement among employees. The assessment was conducted using a questionnaire instrument consisting of various safety culture dimensions and elements, supported by data from interviews, focus group discussions, and document reviews. Based on the analysis results, the overall safety culture maturity level at PT. XYZ was found to be at level 3 or Calculative. This indicates that while the company has a structured and well-documented safety management system, safety values have not yet been fully internalized into daily work behaviors. In addition, the study found significant differences in perceptions across job levels and departments, where workers in operational roles had limited involvement in safety evaluation and organizational learning. Areas that require improvement include safety communication effectiveness, employee participation in incident analysis, and consistency in follow-up actions from findings and risk evaluations.
Read More
B-2546
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rijal Noor Al-Ghiffari; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mufti Wirawan, Sandly Anthony
Abstrak: Skripsi ini membahas tentang gambaran faktor psikososial dan gejala stres kerjapada pekerja surveyor proyek cargo monitoring di PT. XYZ yang bertujuan untukmengetahui gambaran faktor psikososial konten dan kontekstual pekerjaan serta gejalastres yang dialami surveyor. 50 surveyor (10,3% tingkat respon) mengisi kuesionerdengan lengkap. Variabel dependen penelitian ini ialah gejala stres kerja yangbermanifestasi pada gejala fisik, psikologis, perilaku, dan kognitif. Variabel independendari penelitian ini ialah faktor psikososial konten pekerjaan (desain tugas, beban dan ritmekerja, jadwal kerja, lingkungan dan peralatan kerja) dan kontekstual pekerjaan (budayadan fungsi organisasi, peran dalam organisasi, perkembangan karir, pengambilankeputusan dan kontrol, hubungan interpersonal, hubungan pekerjaan dengan personal).Hasil penelitian menunjukkan, satu-satunya faktor psikososial yang termasuk dalamkategori buruk berdasarkan skor penilaian (1,65) dan dipersepsikan buruk oleh sebagianbesar responden (86%) ialah perkembangan karir. Persepsi buruk ini diduga timbulkarena sistem kerja kontrak pada Surveyor. Gejala stres yang bermanifestasi pada kondisifisik, psikologis, dan kognitif tergolong dalam kategori stres sedang-signifikan dialamioleh 10%, 8%, dan 4% responden secara berututan. Persentase yang cukup rendah inididuga dipengaruhi oleh faktor psikososial yang sebagian besar dipersepsikan baik.Secara keseluruhan, faktor psikososial Surveyor tergolong baik dengan persentase gejalastres kerja rendah.
Kata kunci: faktor psikososial; stres kerja; surveyor.
This thesis discusses the decription of psychosocial factor and symptoms of work-stress on cargo monitoring project surveyor workers at PT XYZ which aims to find outthe description of the content and context of occupational psychosocial factor and thesymptoms of stress experienced by surveyors. 50 surveyors (10,3% response rate) filledout the questionare completely. The dependent variable of this study is the symptoms ofwork stress manifested in physical, psychological, behavioral, and cognitive symptoms.The independent variables of this study are psychosocial factor of job content (taskdesign, work load and work pace, work schedule, work environment and equipment) andjob context (organizational culture an function, role in organization, career development,decision making and control, interpersonal relationship, home-work interface). The resultshowed that the only psychosocial factor that was included in the bad category based onthe assessment score (1,65) and was perceived poorly by the majority of respondents(86%) is career development. This bad perception is thought to arise because of thecontract work system among surveyor. Stress sympthoms that manifest in physical,psychological, and cognitive conditions that are classified as moderate-significant stresscategories are experienced by 10%, 8%, dan 4% of respondents respectively. A fairly lowpercentage is thought to be influenced by psychosocial factors that are mostly perceivedwell. Overall, the Surveyor's psychosocial factors are good with a low percentage of workstress symptoms.Key words: Psychosocial hazard; work-stress; surveyor.
Read More
S-10296
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive