Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30164 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lidya Merybeth Situmorang; Pembimbing: Masyitoh Bashabih; Penguji: Kurnia Sari, Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma
Abstrak: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lean tools yang paling banyak digunakan dan dampaknya pada indikator mutu di IGD. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan penelusuran studi melalui database PubMed, Scopus dan EBSCO yang menghasilkan 19 studi terinklusi dari tahun 2011-2021. Hasil: Penelitian ini menemukan sebagian besar IGD di studi terinklusi berhasil meningkatkan indikator mutunya melalui implementasi lean thinking. Lean tools yang paling banyak digunakan adalah Value Stream Mapping (VSM) pada fase define dan kaizen pada fase improve, sedangkan indikator mutu yang paling banyak digunakan adalah door to doctor time sebagai luaran primer dan length of stay (LOS) sebagai luaran sekunder.
Read More
S-10878
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Batiar Aprillia; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Ede Surya Darmawan, Indah Rosana Djajadiredja
Abstrak: Penelitian ini menggunakan metode Narrative Review tentang analisis konsepLean Thinking terhadap perbaikan waktu tunggu pelayanan pasien Instalasi Rawat JalanRumah Sakit di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaranimplementasi konsep Lean Thinking dalam mengatasi waktu tunggu pelayanan pasienInstalasi Rawat Jalan Rumah Sakit. Agar memperoleh literatur layak uji, penelitimenggunakan pedoman PRISMA. Peneliti mendapatkan 12 literatur dengan metodepenelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsep Leandapat membuktikan proses pelayanan rawat jalan Rumah Sakit di Indonesia masihbelum Lean. Terdapat 7 literatur yang menunjukkan bahwa Lean efektif mengurangilama waktu tunggu pelayanan pasien rawat jalan di Rumah Sakit dibuktikan denganmengadopsi prinsip utama Lean, yaitu Standardize work dan Heijunka. Agar tercapaikondisi Lean, Rumah Sakit harus menyelaraskan implementasi antara 5 prinsip Lean(Customer value, value stream, flow, pull, perfection) dengan budaya organisasi, polapikir, metode Lean, membudayakan 5 S, dengan melibatkan seluruh pihak di RumahSakit untuk menyelesaikan masalah secara konsisten dan berkesinambungan.Kata kunci:Waktu Tunggu Rawat Jalan; Lean Rumah Sakit; Lean Hospital
This study uses the Narrative Review method concerning the analysis of theLean Thinking concept towards improving the waiting time for patient services in theOutpatient Hospital in Indonesia. The purpose of this study was to describe theimplementation of the Lean Thinking concept in overcoming the waiting time for patientservices in the Hospital Outpatient Installation. In order to obtain test-worthyliterature, researchers used the PRISMA guidelines. The researcher obtained 12literatures using qualitative and quantitative research methods. The results of the studyconclude that the Lean concept can prove that the outpatient service process ofhospitals in Indonesia is still not Lean. There are 7 literatures that show that Lean iseffective in reducing the waiting time of outpatient services at the hospital as evidencedby adopting Lean's main principles, namely Standardize work and Heijunka. In order toachieve the Lean condition, the Hospital must align the implementation of the 5 Leanprinciples (customer value, value stream, flow, pull, perfection) with organizationalculture, mindset, Lean method, cultivate the 5 S, by involving all parties in the hospitalto solve problems consistently and continuously.Keywords:Outpatient Waiting Time; Lean Hospital.
Read More
S-10329
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selly Marisdina; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Masyitoh, Jaslis Ilyas, Adib A. Yahya, Eka Musridharta
Abstrak: Waktu tunggu proses pelaksanaan CT Scan kepala pasien stroke iskemik di Intalasi Gawat Darurat RSUP Dr. Moh Hoesin belum standar. Tujuan penelitian adalah menerapkan manajemen lean terhadap proses pelaksanaan CT Scan kepala pasien stroke iskemik di IGD. Penelitian ini menggunakan metode operational research. Hasil penelitian didapatkan lead time Current Visual Stream Map (VSM) adalah 175,41 menit. Pada Simulated VSM didapatkan penurunan lead time yang signifikan menjadi 30,09 menit, peningkatan persentase Value Added Activities dan penurunan Non Value Added activites. Disimpulkan bahwa penerapan manajemen lean telah berhasil memperbaiki waktu tunggu proses pelaksanaan CT Scan kepala pasien stroke iskemik di IGD. Kata kunci: lean, value added, non value added but neccessary, non value added, current, lead time value streaming map, simulated value streaming map The waiting time of head CT Scan prosess of ischemic stroke patient in Emergency Departement of Mohammad Hoesin Hospital Palembang has not been standard yet. The objectives was to apply lean management in this process by operational research. We found that lead time of Current Visual Stream Map is 175,41 minutes and in Simulated VSM, there were a significant decrease of lead time to 30,09 minutes, increase of Value added Activites percentage and decrease of Non Value Added Activites. Lean management has been successfully improved the waiting time of head CT Scan proses of ischemic stroke patient in ED. Key word: lean, value added, non value added but neccessary, non value added, current, lead time value streaming map, simulated value streaming map
Read More
B-1829
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novembriawan Pangestu; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Adang Bachtiar, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Kondisi crowding di Instalasi Gawat Darurat (IGD) telah menjadi isu global di seluruh sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia lebih dari dua dekade. Hal ini disebabkan karena tingginya angka boarding time yang menyebabkan penumpukan jumlah pasien yang ada di IGD. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor yang berhubungan dengan keterlambatan boarding time di instalasi gawat darurat. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menggunakan database Pubmed, Scopus, Proquest, Google Scholar dan Library UI menghasilkan 15 artikel terinklusi yakni artikel yang terbit sepuluh tahun terakhir, membahas faktor yang berhubungan dengan keterlambatan boarding time di instalasi gawat darurat, dan artikel dengan metode kuantitatif, kualitatif, dan mix-method. Hasil studi terinklusi dari 15 artikel menghasilkan beberapa penyebab keterlambatan boarding time di IGD diantaranya yaitu ketersediaan tempat tidur yang disebabkan oleh kepulangan pasien yang tidak terencana dan membutuhkan waktu 118 menit (2 jam) lebih lama dibandingan kepulangan yang direncanakan. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan tidak hanya menyebabkan naiknya angka boarding time, namun juga menurunkan pelayanan kesehatan dan pasien safety. Waktu diagnosis pasien pada saat di IGD membutuhkan waktu lebih lama karena dokter perlu mengantongi data lebih banyak untuk memutuskan diagnosis pasien. Pasien yang masuk ke IGD merupakan pasien dengan kegawatdaruratan tinggi, semakin darurat membutuhkan diagnosis yang lebih lama pula dan menambah waktu boarding time di IGD. Ketersediaan bangsal khsusus memakan waktu banyak pada saat boarding time karena selain memerlukan treatment khusus, jumlah bangsal khusus ini juga terbatas. Tingkat kapasitas rumah sakit yang tinggi meningkatkan pula angka boarding time karena pasien harus menunggu pelayanan kesehatan akibat antri, sehingga meningkatkan angka boarding time. Konsultasi antara pasien dengan dokter terjadi di IGD pada pasien dengan kegawatdaruratan yang tinggi, sebab sebelum memberikan tindakan, dokter perlu mengetahui lebih dalam sakit yang dialami oleh pasien. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan keterlambatan boarding time dirumah sakit ialah ketersediaan tempat tidur, keterbatasan jumlah tenaga kesehatan, waktu diagnosis pasien, tingkat kegawatdaruratan, ketersediaan bangsal khusus, tingkat kapasitas rumah sakit yang tinggi, dan jumlah konsul dengan dokter spesialis. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai standar waktu boarding time di instalasi gawat darurat yang ada pada rumah sakit.

Crowding conditions in the Emergency Unit has become a global issue in all health care systems for more than two decades. This is due to a high number of boarding times which causes an accumulation number of patients in the ER. The purpose of this study sought was to determine the factors associated with boarding time delays in the emergency department. The researcher used a literature review as a method and used Pubmed, Scopus, Proquest, Google Scholar, and UI Library databases which produces 15 included articles, and articles published in the last ten years, discussing factors related to boarding time delays in the emergency department, and articles with quantitative methods. , qualitative, and mix-method. The results of the included study from 15 articles resulted in several causes of delays in boarding time in the ER, including the availability of beds caused by the patient's unplanned return and taking 118 minutes (2 hours) longer than the planned return. The limited number of health workers not only causes an increase in boarding time but also reduces health services and patient safety. The patient's diagnosis time in the ER takes longer because doctors need to collect more data to make a patient's diagnosis. Patients who enter the ER are patients with high emergencies, the more emergency requires a longer diagnosis and increases the boarding time in the ER. The availability of special wards takes a lot of time at boarding time because apart from requiring special treatment, the number of special wards is also limited. The high level of hospital capacity also increases the number of boarding times because patients have to wait for health services due to queuing, thereby increasing the number of boarding times. Consultations between patients and doctors occur in the ER for patients with high emergencies, because before taking action, doctors need to know more about the pain experienced by the patient. It can be concluded that the factors related to the delay in boarding time at hospital are availability of beds, limited number of health workers, time of patient diagnosis, level of emergency, availability of special wards, high level hospital capacity, and number of consuls with specialist doctors. Therefore, it is necessary to conduct a study on the standard boarding time in the emergency department at the hospital.
Read More
S-11143
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syalvira Ayu Hendratna; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Jaslis Ilyas, Ronaningtyas Maharani
Abstrak: Perawat gawat darurat bekerja memberikan perawatan kepada pasien yang membutuhkan perawatan segera secara cepat dan tepat, jumlah yang tidak dapat diprediksi, tingkat keparahan yang berbeda-beda, dan ditambah dengan kondisi kurangnya tenaga perawat dapat meningkatkan beban kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat. Beban kerja perawat yang berat memiliki efek negatif terhadap perawat itu sendiri dan dampaknya berpotensi untuk bervariasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dampak yang dialami oleh perawat berkaitan dengan beban kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat. Penelitian ini menggunakan metode scoping review yang disajikan secara naratif, kualitatif. Pendekatan evidence synthesis output dilakukan dalam memastikan kebutuhan informasi dapat terpenuhi, sesuai konteks, dan sistematis. Hasil penelitian mengidentifikasi dampak stres kerja, burnout, kelelahan, gangguan psikosomatis, kepuasan kerja yang rendah, persepsi terhadap risiko keselamatan pasien, keinginan untuk keluar dari pekerjaannya, dan risiko gangguan muskuloskeletal pada gawat darurat. Sebagian besar studi mengidentifikasi dampak stres kerja. Kesimpulan dari penelitian ini antara lain dampak pada perawat berkaitan dengan beban kerja perawat yang berat di Instalasi Gawat Darurat meliputi stres kerja, burnout, kelelahan, dan persepsi terhadap risiko keselamatan pasien. Kata Kunci: Beban Kerja Perawat, Dampak pada Perawat, Perawat gawat darurat, Instalasi Gawat Darurat. Emergency nurses work 24 hours and seven days to provide immediate and appropriate care to patients. Emergency Department (ED) is often faced with conditions where the lack number of visits is unpredictable, the severity varies, and the lack of nurses can increase the workload of nurses. The heavy nurse workload has a negative influence on the nurse itself and the impact has the potential to vary. The purpose of this study is to identify the impact experienced by nurses related to the workload of nurses in the Emergency Department. This study uses a scoping review method that is presented in a narrative, qualitative manner. The evidence synthesis output approach is carried out in ensuring information needs can be fulfilled, contextually, and systematically. The results of the study identify the impacts on nurses namely work stress, burnout, fatigue, psychosomatic disorders, low job satisfaction, desire to leave work, perceptions of patient safety risks, and the risk of musculoskeletal disorders related to nurses' heavy workload. Job stress is found to be the impact that is most identified in this study. The conclusions from this study include the effects of job stress, burnout, fatigue, and perceptions of patient safety risks associated with heavy nurses' workloads. Keywords: Workload, Nurse Outcomes, Emergency Nurse, Emergency Department.
Read More
S-10335
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Rahmah Kamilah; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Helen Andriani, Agus Rahmanto
Abstrak:

Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit merupakan unit krusial yang sering mengalami kepadatan pasien, yaitu kondisi ketika jumlah pasien yang datang per satuan waktu melebihi kapasitas sumber daya dan ruang yang tersedia. Kepadatan ini berdampak pada penurunan kualitas pelayanan, peningkatan risiko keselamatan pasien, serta peningkatan beban kerja tenaga kesehatan. Studi ini bertujuan untuk meninjau faktor-faktor penyebab kepadatan dan dampaknya terhadap sistem pelayanan di IGD rumah sakit berdasarkan literature review. Penelitian ini merupakan studi literature review yang menggunakan sumber dari database PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan rentang tahun 2019–2024. Sebanyak 15 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Faktor penyebab kepadatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit diklasifikasikan dalam tiga kelompok: input (kasus non-darurat, jumlah pendamping yang berlebihan, dan usia lanjut), throughput (tingginya pemeriksaan penunjang diagnostik, konsultasi dokter spesialis, kurangnya tempat tidur di IGD), dan output (bed block, keterlambatan transfer pasien). Dampak dari kepadatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit antara lain pelatihan residen menurun, stress dan kelelahan pada tenaga kesehatan, meningkatnya kekerasan terhadap staf di IGD, dan kecemasan pasien. Kepadatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit merupakan masalah kompleks yang perlu ditangani secara sistematis melalui perbaikan manajemen pelayanan, alokasi sumber daya, serta penguatan sistem rujukan dan layanan primer. Studi ini dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan untuk merumuskan strategi penanggulangan kepadatan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit.


The hospital Emergency Department (ED) is a crucial unit that often experiences patient congestion, a condition when the number of patients arriving per unit of time exceeds the capacity of available resources and space. This congestion has an impact on decreasing the quality of service, increasing the risk of patient safety, and increasing the workload of health workers. This study aims to review the factors causing congestion and its impact on the service system in the hospital ED based on a literature review. This study is a literature review study using sources from the PubMed, Scopus, and Google Scholar databases with a period of 2019–2024. A total of 15 articles were selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Factors causing patient congestion in the hospital ED are classified into three groups: input (non-emergency cases, excessive number of companions, and elderly), throughput (high diagnostic support examinations, specialist doctor consultations, lack of beds in the ED), and output (bed block, delays in patient transfers). The impacts of patient density in the Emergency Department (ED) of hospitals include decreased resident training, stress and fatigue in health workers, increased violence against staff in the ED, and patient anxiety. Patient density in the Emergency Department (ED) of hospitals is a complex problem that needs to be addressed systematically through improving service management, resource allocation, and strengthening the referral system and primary services. This study can be a basis for policy makers to formulate strategies to overcome the density of the Emergency Department (ED) in hospitals

Read More
S-12054
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adam Faturrahman Setiadi; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Helen Andriani, Zakiah
Abstrak: Dinamika kasus COVID-19 hingga tahun 2022 masih berlangsung di berbagai dunia dan mengakibatkan fluktuasi angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Berbagai ledakan kasus akibat Variant of Concern (VOC) berdampak secara langsung kepada puskesmas sebagai layanan primer. Untuk melakukan penguatan terhadap puskesmas diperlukan strategi kebijakan pengendalian COVID-19 berupa prevent, detect, dan respond yang diikuti dengan optimalisasi implementasi kebijakan yang dilakukan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran implementasi kebijakan pada tingkat puskesmas di era pandemi COVID-19 berdasarkan literature review. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan pendekatan PRISMA. Kebutuhan penelusuran literatur menggunakan online database berupa google scholar dan GARUDA sehingga didapatkan 14 literatur terinklusi. Selain itu, berbagai kepustakaan yang diperoleh dalam penelitian berbentuk artikel jurnal, report lembaga kesehatan, text book, dan website berbahasa Inggris dan Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi kebijakan di puskesmas masih ditemukan berbagai permasalahan serta hambatan antara lain pembuatan SOP yang tidak komprehensif diikuti kurangnya sosialisasi terkait SOP kepada petugas puskesmas, adanya keterbatasan jumlah petugas surveilans di puskesmas, pelatihan dan sosialisasi untuk melakukan tracing dan surveilans masih belum memadai, serta keterbatasan logistk kesehatan berupa obat-obatan terapi COVID-19 seperti oseltamivir, azitromisin, dan favipiravir. Kesimpulannya implementasi kebijakan di puskesmas masih belum berjalan dengan baik dikarenakan belum optimalnya penerapan kebijakan prevent, detect, dan respond dalam pengendalian COVID-19. Oleh karena itu, saran yang dapat diberikan yaitu pembuatan SOP penanganan COVID-19 yang komprehensif, memperkuat strategi komunikasi dan community engagement, melakukan perencanaan mengenai estimasi petugas surveilans, dan memfasilitas petugas kesehatan untuk mendapatkan program pelatihan.
The dynamics of COVID-19 cases until 2022 are still ongoing worldwide and resulting high fluctuations in morbidity and mortality rates. Various explosions of cases due to Variant of Concern (VOC) have a direct impact on puskesmas as primary care. To strengthen puskesmas, a policy strategy for controlling COVID-19 is needed in the form of prevention, detect, and response, followed by optimizing the implementation of policies carried out in the field. This study aims to describe the implementation of policies at the puskesmas level in the era of the COVID-19 pandemic based on a literature review. The analysis used in this study is a literature review with the PRISMA approach. The need for literature searches using online database in the form of Google Scholar and GARUDA so that 14 included literatures are obtained. In addition, various literatures obtained in the research are in the form of journal articles, reports from health institutions, text books, and websites in English and Indonesian. The result showed that the implementation of policies at the puskesmas still found various problems and obstacles, including the making of SOPs that were not comprehensive followed by a lack of socialization related to SOPs to puskesmas officers, the limited number of surveillance officers at the puskesmas, training and socialization for tracing and surveillance were still inadequate, and limited health logistics in the form of COVID-19 therapeutic drugs such as oseltamivir, azithromycin, and favipiravir. In conclusion, the implementation of policies at puskesmas has not gone well due to the lack of optimal implementation of preventive, detect, and response policies in controlling COVID-19. Therefore, suggestions that can be given are making a comprehensive SOP for handling COVID-19, strengthening communication strategies and community engagement, planning for surveillance officer estimates, and facilitating health workers to receive training programs.
Read More
S-11125
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gustiane Adriani Dwisari; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) memegang peran penting dalam menentukan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit. Indikator kinerja IGD, seperti Length of Stay (LOS), yang mengukur lama pasien d IGD dari kedatangan hingga pemulangan atau pemindahan, dapat memengaruhi tingkat kepadatan di IGD. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alur pelayanan, hambatan, dan akar penyebab masalah terkait LOS di IGD. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April-Mei 2024 dengan pendekatan kualitatif studi kasus, berupa observasi pada 30 pasien, wawancara, dan telaah dokumen. Analisis data menggunakan flowchart untuk mengidentifikasi alur pelayanan, Value Stream Mapping untuk mengenali kegiatan bernilai dan menemukan waste, serta The Five Whys untuk menganalisis akar penyebab hambatan. Metode Lean Thinking digunakan untuk menghasilkan alur dan Model BAS (Baseline, Assess, Suggest Solution) dari Model BASICS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur pelayanan pasien IGD melibatkan lima tahapan; dengan 65,5% waktu pelayanan adalah kegiatan non-value added, 23,4% kegiatan necessary but non-value added, dan 11,1% kegiatan value added, dengan total Lead Time 7 jam 55 menit 29 detik. Dari sisi pasien, waste yang terjadi meliputi waste of waiting (94,9%) dan transportation (5,1%). Bottleneck terjadi pada aktivitas menunggu terdaftar di rawat inap (25,2%), menunggu advis DPJP (22,9%), menunggu hasil pemeriksaan penunjang (22,3%), dan menunggu kesiapan rawat inap (18,2%), dengan total 88,6%. Perbaikan LOS di IGD dapat menggunakan lean tools seperti standardized work, visual management, heijunka, kaizen, dan just in time agar waste dapat dikurangi.

Emergency Department (ED) services play a crucial role in determining the quality of care and patient safety in hospitals. Performance indicators in the ED, such as Length of Stay (LOS) which measures the duration from a patient's arrival to their discharge or transfer can significantly impact the congestion levels in the ED. This study aims to identify the service flow, obstacles, and root causes of issues related to LOS in the ED. Data collection was conducted from April to May 2024 using a qualitative case study approach, including observations of 30 patients, interviews, and document reviews. Data analysis involved using flowcharts to identify the service flow, Value Stream Mapping to recognize value-added activities and identify waste, and The Five Whys to analyze the root causes of obstacles. Lean Thinking methodology was applied to develop a service flow and the BAS (Baseline, Assess, Suggest Solution) model from the BASICS model. The study results show that the patient service flow in the ED involves five stages, with 65.5% of service time consisting of non-value-added activities, 23.4% of necessary but non-value-added activities, and 11.1% of value-added activities, resulting in a total lead time of 7 hours, 55 minutes, and 29 seconds. From the patient's perspective, the waste observed includes waiting (94.9%) and transportation (5.1%). Bottlenecks were identified in activities such as waiting to be registered for inpatient care (25.2%), waiting for specialist advice (22.9%), waiting for the results of supporting examinations (22.3%), and waiting for inpatient readiness (18.2%), totaling 88.6%. Improving LOS in the ED can utilize lean tools such as standardized work, visual management, heijunka, kaizen, and just-in-time to reduce waste.
Read More
S-11692
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Inas Pratiwi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Junadi, Reny Fitri
Abstrak: Bed Occupancy Ratio (BOR) Rumah Sakit Hermina Bekasi setiap tahunnya mengalami peningkatan, begitupula dengan jumlah pasien yang masuk rawat inap melalui instalasi gawat darurat. Peningkatan ini menyebabkan adanya penumpukan pasien boarding di instalasi gawat darurat yang belum dapat ditransfer ke ruang rawat inap. Penelitian ini menganalisis proses boarding dan transfer pasien dari IGD ke rawat inap melalui pendekatan lean six-sigma dengan teknik time motion study kepada 30 pasien. Pendekatan lean memperlihatkan persentase aktivitas value added dan non value added sedangkan six sigma memberikan gambaran variasi kegiatan pada proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien membutuhkan waktu selama 2 jam 31 menit 48 detik dalam proses boarding dan transfer dengan persentase aktivitas value added 20,77% dan non value added 79,23%. Berdasarkan analisis 5whys didapatkan akar penyebab masalah yaitu pemulangan pasien yang belum terencana.
Kata kunci: boarding, transfer, lean six sigma, Instalasi Gawat Darurat Every year,

Bed Occupancy Ratio (BOR) of Hermina Hospital Bekasi has increased, as well as the number of patients who admitted to the hospital through emergency room. This increase leads to the buildup of boarding patients at emergency departments that can not be transferred to the inpatient room. This study analyzes the boarding and transfer of patients from ED to inpatient room through lean six-sigma approach with time motion study from 30 patients. The lean approach shows the percentage of value added and non value added activities while six sigma provides an overview of the activity variations in the process. The results showed that the patient took 2 hours 31 minutes 48 seconds in the process of boarding and transfer with the percentage of value added activities 20.77% and non value added activities 79.23%. Based on 5whys analysis, the root cause of the problem is the unplanned discharge patient.
Keywords: boarding, transfer, lean six sigma, Emergency Department
Read More
S-9672
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patiyus Agustiansyah; Pembimbing : Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Heriyadi Manam, Irawan Sastradinata
Abstrak: Indonesia saat ini memiliki beban kanker ginekologi besar yaitu insidensi,morbiditas dan mortalitasnya. Salah satu penanganan kanker ginekologi adalahpembedahan yang akan membantu kesintasan pasien. Waktu tunggu penjadwalanoperasi kanker ginekologi hendaklah memperhatikan progresifitas kankersehingga waktu tunggu operasinya tidak melebihi 2 minggu. Waktu tungguoperasi menggambarkan mutu pelayanan rumah sakit.Tujuan penelitian ini adalah,untuk menganalisis waktu tunggu penjadwalan operasi kanker ginekologi diRSUP dr. Moehammad Hoesin Palembang dengan menggunakan prinsip Lean.Hasil penelitian menunjukan penegakan diagnosis selama 43.844 menit dan waktutunggu operasi selama 66.700 menit, dengan menerapkan prinsip lean makapenegakan diagnosis 10.328,5 menit dan waktu tunggu operasi 10.325 menit.Kesimpulan penelitian, pada current state terdapat 26 aktifitas; 12 aktifitas VA(value added ratio / VAR waktu 0,46%; VAR jarak 89,6%) dan 14 aktifitas NVA(waste) pasien dan 4 waste aktifitas petugas. Aliran proses yang menghambat(bottle neck) terdapat di pendaftaran, di poliklinik, di pemeriksaan penunjang dandi bagian praoperatif (waktu tunggu paling lama). Future State memiliki 15aktifitas VA (VAR waktu 33%; VAR jarak 95,8%) dengan 8 aktifitas NVA(waste) aktifitas pasien dan 0 waste aktifitas petugas, dengan waktu tunggudiagnosis 10.328,5 menit sedangkan waktu tunggu penjadwalan operasi 10.325menit. Hasil perbandingan current state dengan future state didapatkanpeningkatan aktifitas value added sebanyak 7,7% dengan penurunan waktutunggu 81,3% dan penurunan jarak tempuh 0,42%. Analisis akar masalahpenyebab waktu tunggu lama penjadwalan operasi kanker ginekologi di RSMHdikarenakan kekurangan SDM (registrasi, rekam medis, DPJP) dan keterbatasaninfrastruktur (CT scan, kamar operasi dan instrumen) dan kelemahan mengelolaproses penjadwalan operasi tersebut. Saran peneliti adalah peningkatan kinerjadan penambahan SDM, membuat regulasi untuk memprioritaskan pelayananpasien kanker ginekologi, serta integrasi Sistem Informasi Manajemen RumahSakit di setiap unit pelayanan.Kata Kunci : prinsip lean, value added (VA), non value added (NVA), waste,waktu tunggu penegakan diagnosis, waktu tunggu operasi, kanker ginekologi.
Read More
B-1836
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive