Ditemukan 35663 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hasna Irbah Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Dewi Kristanti
Abstrak:
Kardiovaskular merupakan penyakit yang menyumbang angka tertinggi kematian di dunia dan di Indonesia. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko beberapa penyakit kardiovaskular dengan angka kematian tertinggi, seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Obesitas sebagai faktor risiko dominan dalam terjadinya hipertensi, terus mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2018 yang diperoleh melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Populasi penelitian ini merupakan seluruh anggota rumah tangga berusia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Terdapat sebanyak 10.870 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Sulawesi Utara tahun 2018 adalah sebesar 26,1% dan prevalensi obesitas adalah sebesar 28,8%. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi dengan nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 2,126 (95% CI 1,865-2,424) setelah di kontrol oleh variabel usia (PR= 2,144; 95% CI 1,935-2,376) dan interaksi obesitas*usia (PR= 0,687; 95% CI 0,585-0,806). Perlu dilakukannya promosi kesehatan yang mengedukasi masyarakat terkait obesitas dan hipertensi serta hubungan antara keduanya guna meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya penyakit tersebut
Read More
S-10902
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ghina Amalia Prayudita; Pembimbinga: Ratna Djuwita; Penguji: Ahmad Syafiq, Esti Widiastuti M
Abstrak:
Read More
Indonesia termasuk salah satu negara yang menghadapi tiga permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting, wasting, dan overweight. Obesitas sentral atau yang disebut obesitas tipe apel merupakan disebabkan oleh penumpukkan lemak dalam tubuh dalam jumlah berlebih di bagian perut. Obesitas sentral diamati sebagai jenis obesitas yang merugikan dengan implikasi serius dan pemicu penyakit degeneratif. Provinsi Sulawesi Utara merupakan daerah dengan prevalensi obesitas sentral tertinggi berdasarkan data Riskesdas 2018 yaitu sebesar 42,5%. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia ≥45 Tahun di Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2019 dengan desain penelitian cross sectional. Hasil penelitian menggunakan analisis bivariat didapatkan pada laki-laki konsumsi alkohol (p-value = 0,015) memiliki hubungan secara statistik dengan kejadian obesitas sentral. Sedangkan pada perempuan aktivitas fisik (p-value = 0,045), konsumsi minuman manis (p-value = 0,036), konsumsi makanan berlemak (p-value = 0,023), dan konsumsi bumbu penyedap (p-value = 0,020) memiliki hubungan secara statistik dengan kejadian obesitas sentral. Peneliti menyarankan untuk dinas kesehatan dapat bekerja sama dengan berbagai pihak seperti organisasi masyarakat dan institusi keagamaan dalam memberikan edukasi terkait bahaya obesitas sentrak, faktor-faktor yang mempengaruhi, dampak yang disebabkan dan bagaimana cara mengatasinya.
Indonesia is one of the countries that faces three nutritional problems at once, namely stunting, wasting and overweight. Central obesity or what is called apple-type obesity is caused by the accumulation of excess fat in the body in the abdomen. Central obesity is observed as a detrimental type of obesity with serious implications and triggers degenerative diseases. North Sulawesi Province is the area with the highest prevalence of central obesity based on the 2018 Riskesdas data, namely 42.5%. This study aims to determine the factors associated with the incidence of central obesity in people aged ≥45 years in Minahasa, North Sulawesi Province. This study uses secondary data from the 2019 Riskesdas with a cross-sectional research design. The results of the study using bivariate analysis found that male alcohol consumption (p-value = 0.015) had a statistical relationship with the incidence of central obesity. Whereas in women physical activity (p-value = 0.045), consumption of sweet drinks (p-value = 0.036), consumption of fatty foods (p-value = 0.023), and consumption of seasonings (p-value = 0.020) have a statistical relationship with central obesity. Researchers suggest that the health office can work together with various parties such as community organizations and religious institutions in providing education regarding the dangers of central obesity, the factors that influence it, the impact it causes and how to overcome it.
S-11251
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mazaya Shafa Ainan Dini; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah; Rindu Rachmiaty
Abstrak:
Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab utama dari penyakit kardiovaskular dan kematian dini di dunia yang kini kian meningkat tiap tahunnya, serta secara signifikan dapat meningkatkan risiko penyakit hati, otak, ginjal, dan penyakit serius lainnya. Terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan hipertensi, salah satunya obesitas. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pengukuran lingkar perut merupakan prediktor yang lebih baik daripada indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui risiko kesehatan terkait obesitas terutama hipertensi baik pada laki-laki maupun perempuan. Prevalensi obesitas sentral kini meningkat secara global Tujuan: Mengetahui hubungan obesitas sentral dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dari Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 366.351 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan analisis stratifikasi, diperoleh bahwa variabel yang menjadi efek modifikasi yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, perilaku merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi makanan berlemak, IMT, dan gangguan mental emosional, sedangkan variabel yang memiliki potensi bias confounding yaitu IMT. Kesimpulan: Obesitas sentral merupakan faktor risiko yang penting untuk diperhatikan dalam upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di Indonesia.
Read More
S-11002
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fadia Isnaini; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti
Abstrak:
Read More
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang cukup serius sebab kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. PGK berada pada peringkat ke-10 penyebab kematian global. Selain itu, pengobatan PGK juga membutuhkan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang. Diabetes mellitus yang merupakan faktor risiko utama terjadinya PGK juga mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan data sekunder dari Riskesdas 2018. Setelah menyesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel penelitian sebanyak 7.427 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi PGK pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,5% dan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,7%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat hubungan antara diabetes mellitus dengan PGK dengan Prevalence Odds Ratio (POR) sebesar 3,549 (95% CI=1,461-8,617). Setelah dilakukan stratifikasi diketahui bahwa usia berpotensi menjadi confounding dengan nilai POR sebesar 2,69 (95% CI=1,04-6,93). Oleh karena itu, promosi kesehatan dan deteksi dini diabetes mellitus perlu digencarkan sebagai upaya pencegahan PGK.
Chronic kidney disease (CKD) is serious health problem because the prevalence continues to increase from year to year. Based on WHO data in 2019, CKD was the 10th most common cause of death globally. In addition, CKD treatment also requires a lot of money and a long period of time. Diabetes mellitus as a major risk of CKD also experienced an increase in prevalence from year to year in DKI Jakarta Province. This study aimed to determine the association between diabetes mellitus and chronic kidney disease in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province in 2018. This study used quantitative method with a cross-sectional study design and secondary data obtained from Basic Health Research (Riskesdas) 2018). After adjusting the inclusion and exclusion criteria, a sample of 7,427 people was obtained. The result showed that the prevalence of CKD in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province was 0,5% and the prevalence of diabetes mellitus was 5,7%. Based on the statistical analysis showed that there was a relationship between diabetes mellitus and CKD with Prevalence Odds Ratio (POR) of 3,549 (95% CI=1,461-8,617). After stratification, it was found that age had the potential to be confounding with a POR value of 2.69 (95% CI=1.04-6.93). Therefore, health promotion and early detection of diabetes mellitus need to be intensified as an effort to prevent CKD.
S-11230
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizka Ramadhanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Muhammad Ikhsan Mokoagow
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian PGK pada penduduk berusia ≥ 18 tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dari Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 7.141 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan hasil analisis didapatkan proporsi kejadian PGK sebesar 0,5% dan proporsi kejadian hipertensi sebesar 40,6%. Terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian PGK dengan nilai prevalence odds ratio sebesar 2,490 (95% CI: 1,143-5,426) setelah dikontrol oleh variabel usia. Selain itu beberapa karakteristik lain seperti usia (POR=3,912; 95% CI: 1,932-7,918), diabetes melitus (POR=3,412; 95% CI: 1,405-8,285), penyakit jantung (POR=7,323; 95% CI: 3,158-16,982), dan aktivitas fisik (POR=2,324; 95% CI: 1,148-4,703) juga berhubungan secara signifikan dengan kejadian PGK. Penting untuk diselenggarakan berbagai program promosi kesehatan dengan memperbanyak kegiatan sosialisasi dan KIE terkait PGK dan PTM lainnya pada berbagai kelompok masyarakat dari usia muda hingga lanjut usia, sehingga dapat meningkatkan kesadaran pencegahan PGK.
Read More
S-10762
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anisa Ramadhani; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Widyawati
S-10405
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachel Inekeputri Sirait; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji:Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
Abstrak:
Read More
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan ketika tekanan darah seseorang melebihi batas normal. Menurut data Riskesdas pada tahun 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yakni 25,8%. Pola konsumsi makan berisiko seperti konsumsi natrium berlebih menjadi salah faktor risiko dari kejadian Hipertensi. Salah satu sumber natrium berasal dari makanan instan. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan frekuensi konsumsi makanan instan dengan kejadian hipertensi pada penduduk berusia ≥ 18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder Riskesdas 2018. Responden penelitian adalah penduduk di Indonesia yang berusia ≥18 tahun. Terdapat 384.556 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 29.8%. dan proporsi frekuensi konsumsi makanan instan sebesar 22.1%. Terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi makanan instan dengan hipertensi. Kelompok yang memiliki frekuensi sering dalam mengonsumsi makanan instan 0,78 kali (PR=0,785; 95%CI=0,773—0,797) lebih mungkin untuk mengalami hipertensi dibanding dengan kelompok memiliki frekuensi jarang. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan frekuensi konsumsi makanan instan dengan kejadian hipertensi pada penduduk berusia ≥ 18 tahun di Indonesia.
Hypertension or high blood pressure is a condition when a person's blood pressure exceeds normal limits. According to Riskesdas’s data in 2018, the prevalence of hypertension in Indonesia reached 34.1%. This figure increased from the previous year, which was 25.8%. Consumption patterns of risky foods such as excess sodium consumption are risk factors for hypertension. One source of sodium comes from instant food. This study aims to determine the relationship between the frequency of instant food consumption and the incidence of hypertension in people aged ≥ 18 years in Indonesia. This study used a cross-sectional study design. The data source used is the 2018 Riskesdas’s secondary data. The research respondents were residents in Indonesia aged ≥18 years. There were 384,556 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Based on the results of the analysis, the prevalence of hypertension was 29.8%. and the proportion of frequency of instant food consumption is 22.1%. There is a significant relationship between the frequency of instant food consumption and hypertension. The group that has a frequent frequency of consuming instant food is 0.78 times (PR=0.785; 95%CI=0.773—0.797) more likely to experience hypertension than the group that has a rare frequency. It was concluded that there is a relationship between the frequency of instant food consumption and the incidence of hypertension in people aged ≥ 18 years in Indonesia.
S-11227
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Junita Rosa Tiurma; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Dian Meutia Sari, Misti
Abstrak:
Berdasarkan Riskesdas 2018 terjadi peningkatan tren dari obesitas sentral yaitu 31,0% dibandingkan tahun 2013 sebesar 26,6%. Seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas sentral dapat meningkatkan penyakit degeneratif antara lain diabetes mellitus. Sebelum terjadinya diabetes pada seseorang maka didahului oleh suatu keadaan yang disebut prediabetes. prevalensi prediabetes lebih besar dibandingkan prevalensidiabetes mellitus. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi prediabetes hampir dua kali lipat dari prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 yaitu sebesar 10,2%. Sedangkan hipertensi secara substansial meningkatkan risiko morbiditas dari beberapa penyakit, terutama penyakit kardiovaskular dan diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan kejadian prediabetes pada kelompok hipertensi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan data sekunder Riskesdas tahun 2018. Jumlah sampel 1678 orang yang menderita hipertensi serta memenuhi kriterian inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan cox regression. Prevalensi prediabtes pada penderita hipertensi di Indonesia sebesar 61,14%. Pada model akhir penelitian ini diketahui bahwa obesitas sentral tidak mempunyai hubungan terhadap kejadian prediabetes dengan nilai p=0,081 dan PR=1,121 (95% CI; 0,986- 1,274)
Based on RISKESDAS (Basic Health Research) in 2018, there was an increasing trend of central obesity, namely 31.0% compared to 2013, which was 26.6%. Along with the increasing prevalence of central obesity, it could increase degenerative disease, such as diabetes mellitus. Before diabetes occurred in a person, it was preceded by a condition called prediabetes. Prediabetes prevalence was bigger than diabetes mellitus prevalence. The result of the Basic Health Research in 2007 showed that prediabetes prevalence was almost twice the type-2 diabetes mellitus prevalence, which was 10.2%. Meanwhile, hypertension substantially increased the risk of morbidity from several diseases, especially cardiovascular and diabetes. This research aimed to determine the relationship between central obesity and prediabetes incident in the hypertension group in Indonesia. This research used a cross-sectional study design with secondary data from RISKESDAS 2018. The number of samples was 1678 people who suffered hypertension and met the inclusion and exclusion criteria in this research. Data analysis used cox regression. The prediabetes prevalence in hypertensive patients in Indonesia was 61.14%. In the final model of this research, it was known that central obesity had no relationship with the incidence of prediabetes with a value of p=0.081 and PR=1.121 (95% CI; 0.986-1.274)
Read More
Based on RISKESDAS (Basic Health Research) in 2018, there was an increasing trend of central obesity, namely 31.0% compared to 2013, which was 26.6%. Along with the increasing prevalence of central obesity, it could increase degenerative disease, such as diabetes mellitus. Before diabetes occurred in a person, it was preceded by a condition called prediabetes. Prediabetes prevalence was bigger than diabetes mellitus prevalence. The result of the Basic Health Research in 2007 showed that prediabetes prevalence was almost twice the type-2 diabetes mellitus prevalence, which was 10.2%. Meanwhile, hypertension substantially increased the risk of morbidity from several diseases, especially cardiovascular and diabetes. This research aimed to determine the relationship between central obesity and prediabetes incident in the hypertension group in Indonesia. This research used a cross-sectional study design with secondary data from RISKESDAS 2018. The number of samples was 1678 people who suffered hypertension and met the inclusion and exclusion criteria in this research. Data analysis used cox regression. The prediabetes prevalence in hypertensive patients in Indonesia was 61.14%. In the final model of this research, it was known that central obesity had no relationship with the incidence of prediabetes with a value of p=0.081 and PR=1.121 (95% CI; 0.986-1.274)
T-6015
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nindia Ayu Santoso; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Renti Mahkota, Suparmi
Abstrak:
Read More
Data Riskesdas 2018 menunjukan bahwa Provinsi Kalimantan Timur tertinggi berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia ≥ 15 tahun (14,7 per mil) yang melebihi prevalensi nasional (10,9 per mil) dan mengalami peningkatan dibandingkan dengan Riskesdas 2013 (10 per mil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional) melalui sumber data Riskesdas 2018 yang dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, prevalensi kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di Kalimantan Timur sebesar 2,2%. Variabel yang berhubungan signifikan adalah usia (POR=4,63 95%CI: 3,29-6,51), hipertensi (POR=0,16 95%CI: 0,12-0,23), diabetes melitus (POR=2,03 95%CI: 1,28-3,23), dan aktivitas fisik (POR=2,99 95%CI: 2,13-4,20). Terdapat hubungan signifikan antara usia, hipertensi, diabetes melitus, dan aktivitas fisik terhadap kejadian stroke di Kalimantan Timur. Sedangkan, jenis kelamin, merokok, dan konsumsi alkohol tidak berhubungan secara signifikan dan diperoleh variabel protektif terhadap kejadian stroke adalah konsumsi alkohol.
Riskesdas 2018 data shows that East Kalimantan Province has the highest stroke rate based on doctor's diagnosis in the population aged ≥ 15 years (14.7 per mile) which exceeds the national prevalence (10.9 per mile) and has increased compared to Riskesdas 2013 (10 per mile). This study aims to determine the risk factors for stroke incidence in the population aged ≥15 years in East Kalimantan. This study used a cross-sectional study design through the 2018 Riskesdas data source which was analyzed univariately, bivariately, and multivariately. The results showed that the prevalence of stroke in the population aged ≥15 years in East Kalimantan was 2.2%. The variables significantly associated were age (POR=4.63 95%CI: 3.29-6.51), hypertension (POR=0.16 95%CI: 0.12-0.23), diabetes mellitus (POR=2.03 95%CI: 1.28-3.23), and physical activity (POR=2.99 95%CI: 2.13-4.20). There was a significant association between age, hypertension, diabetes mellitus, and physical activity on stroke incidence in East Kalimantan. Meanwhile, gender, smoking, and alcohol consumption were not significantly associated and the protective variable against stroke was alcohol consumption.
S-11567
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sheila Stefani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yoan Hotnida Naomi Hutabarat
Abstrak:
Read More
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah darurat kesehatan global, termasuk di negara Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah penyintas DM terbanyak, yakni mencapai 19,5 juta penduduk dewasa (IDF, 2021). Berdasarkan laporan Riskesdas 2018, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang mengalami lonjakan angka prevalensi dari tahun 2013 ke 2018, yakni dari 1,3% menjadi 1,7%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian diabetes mellitus pada penduduk usia ≥ 35 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia (p = 0,001), pekerjaan (p = 0,002), konsumsi makanan manis (p = 0,001), konsumsi minuman manis (p = 0,001), aktivitas fisik (p = 0,001), obesitas (p = 0,001), obesitas sentral (p = 0,001), hipertensi (p = 0,001), dan perilaku merokok (p = 0,001) berhubungan signifikan dengan kejadian DM. Diperlukan peran pemerintah untuk menggencarkan promosi kesehatan terkait pentingnya deteksi dini dan menerapkan pola hidup sehat kepada masyarakat, serta memfasilitasi masyarakat dalam mewujudkannya.
Diabetes mellitus (DM) is a non-communicable disease which is still a global health emergency problem, including in Indonesia. Indonesia is ranked 5th in the world with the highest number of DM survivors, reaching 19.5 million adults (IDF, 2021). Based on the 2018 Riskesdas report, West Java Province is one of the provinces that experienced an increase in prevalence from 2013 to 2018, from 1.3% to 1.7%. The purpose of this study was to identify risk factors for diabetes mellitus in people aged ≥ 35 years in West Java Province. This study uses secondary data from Riskesdas 2018 with a cross-sectional study design. The results of this study indicate that age (p = 0.001), occupation (p = 0.002), consumption of sweet foods (p = 0.001), consumption of sweet drinks (p = 0.001), physical activity (p = 0.001), obesity (p = 0.001 ), central obesity (p = 0.001), hypertension (p = 0.001), and smoking behavior (p = 0.001) were significantly associated with the incidence of DM. The government's role is needed to intensify health promotion related to the importance of early detection and implementing a healthy lifestyle for the community, as well as facilitating the community in making it happen.
S-11337
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
