Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35194 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Shalman Hafizh Aulia; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Yovsyah, Indri Hapsari Susilowati, Surya Mahendra
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh pekerja, termasuk pekerja di UPT Balai Yasa Tegal yang bertugas melakukan perbaikan dan perawatan gerbong kereta. Kelelahan kerja apabila dibiarkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko individu (usia, kuantitas tidur, kualitas tidur), faktor risiko pekerjaan (beban kerja, jenis pekerjaan, manajemen perusahaan), dan faktor risiko lingkungan kerja (suhu, pencahayaan, kebisingan). Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan desain studi cross-sectional terhadap 80 pekerja di UPT Balai Yasa Tegal sebagai responden. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, SSRT, PSQI, NASA-TLX, persepsi terhadap manajemen, dan persepsi terhadap lingkungan kerja. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa terdapat 58 pekerja (72,5%) yang mengalami kelelahan kerja ringan dan 22 pekerja (27,5%) yang mengalami kelelahan kerja sedang. Hasil analisis inferensial dengan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur (p-value=0,003 ; OR=8,125), beban kerja (p-value=0,00 ; OR=15,217), suhu (p-value=0,003 ; OR=6,333), pencahayaan (p-value=0,000 ; OR=10,938), dan kebisingan (p-value=0002, ; OR=5,940) dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal

Work fatigue is one of the health problems often experienced by workers, including UPT Balai Yasa Tegal workers who are tasked with repairing and maintaining railroad cars. If left unchecked, work fatigue can increase the risk of work accidents and work-related diseases. This research was conducted to analyze risk factors related to work fatigue in workers at UPT Balai Yasa Tegal. The risk factors studied included individual risk factors (age, sleep quantity, sleep quality), Work-related risk factors (workload, type of work, company management), and work environment risk factors (temperature, lighting, noise). The research was conducted using quantitative methods and cross-sectional study design on 80 workers at UPT Balai Yasa Tegal as respondents. The research instruments used include individual and job characteristics questionnaires, SSRT, PSQI, NASA-TLX, perceptions of management, and perceptions of the work environment. The results of the descriptive analysis showed that there were 58 workers (72.5%) who experienced mild work fatigue and 22 workers (27.5%) who experienced moderate work fatigue. The results of inferential analysis using the chi-square test show that there is a significant relationship between sleep quality (p-value=0.003 ; OR=8.125), workload (p-value=0.00 ; OR=15.217), temperature (p-value =0.003 ; OR=6.333), lighting (p-value=0.000 ; OR=10.938), and noise (p-value=0002, ; OR=5.940) with work fatigue.
Read More
S-11709
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Istya Magfirah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Meilisa Rahmadani, Ida Ayu Indira Dwika Lestari
Abstrak:
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berperan penting dalam mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, termasuk kelelahan kerja yang dapat menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko kesalahan kerja. Industri pariwisata di Bali, khususnya pada layanan premium hotel/villa/resort, menuntut pekerja butler bekerja cepat, multitugas (front office, housekeeping, dan food & beverage), serta dalam sistem layanan yang dapat berlangsung 24 jam, sehingga berpotensi memicu kelelahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis prevalensi dan faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja butler industri pariwisata di Provinsi Bali tahun 2024. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif cross-sectional melalui survei tanpa intervensi pada Maret–Juni 2024. Kelelahan kerja diukur menggunakan kuesioner (IFRC), sedangkan faktor risiko meliputi karakteristik individu (usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, gangguan tidur, gaya hidup), karakteristik pekerjaan (jam kerja, roster kerja, beban kerja, masa kerja, postur kerja, shift kerja), dan persepsi lingkungan (suhu nyaman). Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil menunjukkan mayoritas responden mengalami kelelahan kategori rendah (75,9%), diikuti sedang (22,3%) dan tinggi (1,8%). Uji bivariat menemukan faktor yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja adalah usia (p=0,037), postur kerja (p<0,001), dan suhu lingkungan/suhu nyaman (p=0,042), sementara variabel lain tidak menunjukkan hubungan bermakna. Kesimpulannya, kelelahan kerja pada pekerja butler tetap terjadi dan dipengaruhi terutama oleh faktor ergonomi (kelelahan muskuloskeletal) serta kondisi lingkungan kerja (suhu), sehingga intervensi perbaikan ergonomi dan pengendalian suhu/kenyamanan lingkungan kerja menjadi prioritas dalam upaya pencegahan kelelahan di industri pariwisata Bali.

Work fatigue is a significant occupational health concern in the tourism industry, particularly affecting butler workers in luxury hotels, villas, and resorts. This study examined the risk factors associated with work fatigue among butler workers in Bali Province's tourism industry in 2024. The research aimed to identify and analyze various factors contributing to work fatigue, including workload demands, working hours, physical work environment conditions, and individual worker characteristics. Butler workers face unique occupational challenges due to high service standards, extended working hours, and the pressure to maintain guest satisfaction in luxury hospitality settings. The study employed a cross-sectional design to assess the relationship between various risk factors and the level of work fatigue experienced by butler workers. Findings revealed that work fatigue among butler workers was significantly influenced by multiple factors including excessive workload, prolonged working hours, physical work environment conditions, and inadequate rest periods. The high prevalence of work fatigue among these workers poses serious implications for both worker safety and service quality. This research contributes to the understanding of occupational health issues in Bali's tourism sector and emphasizes the need for improved occupational safety and health (K3) management systems in hospitality establishments. The findings underscore the importance of implementing fatigue management strategies and regulatory compliance to protect worker well-being while maintaining the quality standards expected in the luxury tourism industry.
Read More
T-7486
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Relimba; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dibandingkan industri lainnya. Perawat IGD harus selalu siap sedia 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan yang dialami oleh berbagai pasien yang datang ke rumah sakit sehingga dengan tanggung jawab tersebut, sangat rentan bagi perawat IGD untuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini membahas faktor terkait kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus pada seluruh perawat IGD Rumah Sakit X yaitu sebanyak 35 responden. Pengukuran kelelahan kerja perawat menggunakan pengukuran secara subjektif dengan kuesioner Subjective Self Rating Test yang dikembangkan oleh Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat IGD Rumah Sakit X lebih banyak mengalami kelelahan kerja ringan (71,4%) dan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu kebisingan (P-Value=0,027). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian terhadap pajanan bising bagi perawat IGD di Rumah Sakit X dan juga perlu adanya prosedur fatigue management untuk mencegah dan mengendalikan tingkat kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X.

Hospitals are workplaces that have a higher risk of work accidents compared to other industries. ER nurses must always be ready 24 hours to handle emergency cases experienced by various patients who come to the hospital so that with this responsibility, ER nurses are very vulnerable to experiencing work fatigue. This research discusses factors related to work fatigue in ER nurses at Hospital. Measurement of nurses' work fatigue uses subjective measurements with the Subjective Self Rating Test questionnaire developed by the Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) which has been translated into Indonesian. The results of the study showed that ER nurses at Hospital X experienced more mild work fatigue (71,4%) and the factor related to work fatigue was noise (P-Value=0,027). Based on this, it is necessary to carry out various efforts to control noise exposure for emergency room nurses.
Read More
S-11801
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Bonardo Prayogo Hasiholan, Riana Ranny Diponegara
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, salah satunya termasuk industri konstruksi. Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di industri konstruksi memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja oleh karena karakteristik pekerjaan yang berisiko terpajan berbagai faktor. Selain itu  kelelahan merupakan masalah umum di antara populasi pekerja. Namun, sedikit yang diketahui tentang hubungan antara faktor risiko pekerjaan dan gejala kelelahan. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 50 pekerja konstruksi di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran menggunakan alat. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, masa kerja, perilaku merokok, status menikah, usaha, penghargaan, overcommitment, postur kerja, suhu, dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok (POR=6.000 (1.558-23.113)), postur kerja (POR=13.000 (2.463–68.604)), usaha (POR=5.296 (1,533-18.299)), penghargaan (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1,325-14.446)), dan kebisingan  (POR=6.333 (1.523-26.341)) dengan kejadian kelelahan kerja. Sedangkan variabel umur, masa kerja, dan status menikah tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian kelelahan kerja.

Work fatigue is a common occurrence across various industries, including the construction industry. The type of work performed by workers in the construction industry has the potential to cause work fatigue due to the nature of the job, which is at risk of exposure to various factors. Additionally, fatigue is a common issue among the working population. However, little is known about the relationship between work risk factors and fatigue symptoms. The research design of this study was cross-sectional. The aim of this study was to analyze the factors related to work fatigue among construction workers using a quantitative approach. The sample for this study consisted of 50 construction workers at PT XYZ. Data collection was carried out by administering questionnaires to respondents and measuring using tools. The data obtained were then processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the patterns and relationships of each variable. The independent variables in this study included age, length of service, smoking behavior, marital status, effort, appreciation, overcommitment, work posture, temperature, and distractions. The results showed a significant relationship between smoking behavior (POR=6.000 (1.558-23.113)), work posture (POR=13.000 (2.463–68.604)), effort (POR=5.296 (1.533-18.299)), reward (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1.325-14.446)), and distraction (POR=6.333 (1.523-26.341)) with the occurrence of work fatigue. In contrast, the variables of age, length of service, and marital status did not show any relationship with the occurrence of work fatigue.
Read More
T-7172
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eunike Atara Trisyani; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Lorencius Kukuh Prabowo
Abstrak:
Skripsi ini membahas tentang analisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja konstruksi di Proyek Y PT.X Tahun 2024. Kelelahan kerja (fatigue) adalah suatu kondisi dimana terjadi perasaan lelah dan penurunan fungsi mental dan fisik yang menyebabkan berkurangnya semangat kerja sehingga menurunkan efektivitas dan efisiensi kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kauntitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah prurposive sampling. Analisi data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 48,9% responden mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan faktor risiko terkait pekerjaan seperti beban kerja, durasi kerja, durasi lembur, jenis pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan, seperti konsumsi minuman berkafein, konsumsi air mineral, kualitas tidur, kuantitas tidur, dan pekerjaan sampingan.

Work fatigue (fatigue) is a condition where there is a feeling of fatigue and a decrease in mental and physical function which causes a decrease in morale, thereby reducing work effectiveness and efficiency. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional design. The sampling technique used was purposive sampling. Data analysis in this study was carried out using two ways, namely chi square. The results of this study showed that 48.9% of respondents experienced job fatigue. There is a significant relationship between fatigue and work-related risk factors such as workload, work duration, overtime duration, type of work and non-work-related risk factors, such as caffeinated beverage consumption, mineral water consumption, sleep quality, sleep quantity, and side jobs.
Read More
S-11757
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fathul Masruri Syaaf; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Baiduri Widanarko, Heny Mayawati, Hayyu Rakhmia,
Abstrak:
Seiring peranan penting konstruksi dalam perekonomian dan berkembangnya sektor Jasa Konstruksi yang semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan layanan Jasa Konstruksi baik di tingkat nasional maupun internasional, seringkali perusahaan konstruksi menuntut pekerja bekerja secara maksimal sehingga seringkali kesehatannya terabaikan. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan pekerja, seperti kelelahan kerja, yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Penelitian ini ingin mengkaji hubungan antara kelelahan kerja dengan faktor diluar pekerjaan dan faktor pekerjaan tepada pekerja konstruksi di PT. X tahun 2022. Data mengenai faktor-faktor diluar pekerjaan (usia, status gizi/IMT, dan masa kerja), dan faktor-faktor pekerjaan (durasi kerja, beban kerja, dan suhu lingkungan kerja) terhadap terjadinya kelelahan pada pekerja proyek PT. X diteliti menggunakan kuesioner kepada 103 responden. Desain penelitian adalah penelitian analitik semi-kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Pengumpulan data hasil kuesioner dianalisis untuk melihat gambaran kelelahan kerja dan menguji hubungan pada dua variabel menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil penelitian, 33% mengalami kelelahan kerja sedang dan 67% responden mengalami kelelahan kerja rendah. Dari analisis uji diferensial, terdapat hubungan antara status gizi (IMT) pekerja, durasi kerja dan beban kerja (p 0,000) terhadap kejadian kelelahan kerja pada pekerja di proyek PT. X tahun 2022. Sedangkan faktor usia (p 0.426), masa kerja (p 0.412) dan suhu lingkungan kerja (p 1,000) tidak berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja pada pekerja. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa beberapa variabel tersebut berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja yang dialami pekerja konstruksi di PT. X. Rekomendasi terkait fatigue management perlu dilakukan baik dari PT. X maupun pekerja guna meminimalisir dan mengendalikan kelelahan kerja serta meningkatkan produktifitas kerja di tempat kerja

Along with the important role of construction in the economy and the development of the Construction Services sector which is increasingly complex and the high level of competition in Construction Services services both at the national and international levels, construction companies often demand workers to work optimally so that their health is often neglected. This can have an impact on the health of workers, such as fatigue, which can lead to work accidents. This study wants to examine the relationship between work fatigue and factors outside of work and work factors for construction workers at PT. X year 2022. Data on nonwork-related factors (age, nutritional status/BMI, and years of service), and work-related factors (work duration, workload, and work environment temperature) on the occurrence of fatigue among project workers at PT. X was examined using a questionnaire to 103 respondents. The research design is a semi-quantitative analytic with a cross sectional study approach. Data collection was carried out using a questionnaire and analysis was carried out to see a description of work fatigue and to test the relationship between the two variables using the Chi-Square test. From the results of the study, 33% experienced moderate fatigue and 67% of respondents experienced low fatigue. From the differential analysis, there is a relationship between the nutritional status (BMI) of workers, duration of work and workload (p 0.000) on the occurence of fatigue in workers at the PT. X in 2022. Meanwhile, the factors of age (p 0.426), years of service (p 0.412) and working environment temperature (p 1.000) are not related to the occurence of fatigue in workers. The conclusion from this study is that some variables are related to the incidence of work fatigue experienced by construction workers at PT. X. Recommendations regarding fatigue management need to be implemented from both PT. X and workers to minimize and control fatigue as well as to increase work productivity at work.
Read More
T-6541
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran

Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
Read More
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Laksita Ri Hastiti, Katherina Welong, Fera Liza
Abstrak:
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan selama 24 jam sehari, sangat membutuhkan kesiapan fisik, mental dan waktu. Hal ini berpotensi menyebabkan kelelahan kerja, yang berdampak pada penurunan kewaspadaan dan konsentrasi, terganggunya pengambilan keputusan dan terjadinya kesalahan atau kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko tingkat kelelahan kerja subjektif pada perawat di RS.Otak DR.Drs. M. Hatta Bukittinggi Sumatera Barat tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 100 orang perawat yang dihitung menggunakan rumus simple random sampling. Responden pada penelitian ini mencakup perawat pada 5 unit kerja yang dihitung secara proporsional. Pengukuran kelelahan kerja dengan kuesioner SSRT(Subjective Self Rating Test) dari IFRC; beban kerja mental dengan kuesioner NASA-TLX (National Aeronautics & Space Administration Task Load Indeks); untuk peran, kontrol dan kepuasan kerja dengan kuesioner COPSOG (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) III; pengukuran pencahayaan dengan lux meter; dan karakterik individu dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 79% perawat mengalami tingkat kelelahan kerja ringan dan tingkat kelelahan kerja sedang (21%). Terdapat 3 Faktor risiko yang dianalisis untuk melihat hubungannya dengan tingkat kelelahan kerja yaitu faktor risiko karakteristik individu, faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor lingkungan kerja (pencahayaan). Dari faktor risiko karakteristik individu yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kelelahan kerja adalah usia (p 0,013; OR = 6,82), status gizi kategori gemuk (p 0,020; OR = 3,77), durasi tidur (p 0,050; OR = 3,14). Untuk faktor risiko terkait pekerjaan yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kelelahan kerja adalah shift kerja siang (p 0,028; OR 4,69) dan beban kerja (p < 0,001). Sedangkan untuk faktor lingkungan kerja : pencahayaan didapatkan hasil sesuai dengan standar (100%) sehingga tidak dapat dinilai hubungannya dengan tingkat kelelahan kerja. Kesimpulan didapatkan bahwa sebagian besar perawat mengalami tingkat kelelahan kerja ringan (79%) dan faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan adalah usia, status gizi gemuk, durasi tidur, shift kerja siang dan beban kerja. Penerapan manajemen kelelahan/fatigue manajement seperti promosi kesehatan dan peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, pengawasan jadwal kerja, pengaturan beban kerja, diet gizi seimbang, pentingnya mendapatkan pemulihan antarshift/istirahat tidur adekuat, olahraga rutin dan teratur, skrining kelelahan secara berkala diharapkan dapat mencegah meningkatnya tingkat kelelahan kerja.

Nurses, in providing 24-hour nursing care, require physical readiness, mental preparedness, and time. This can potentially lead to work fatigue, which impacts alertness and concentration, disrupts decision-making, and increases the risk of errors or workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for the subjective level of work fatigue among nurses at RS.Otak DR.Drs. M. Hatta Bukittinggi, West Sumatra, in 2024. The study uses a cross-sectional design involving 100 nurses, calculated using the simple random sampling formula. Respondents in this study include nurses from 5 work units, calculated proportionally. Work fatigue was measured using the SSRT (Subjective Self Rating Test) questionnaire from IFRC; workload was measured using the NASA-TLX (National Aeronautics & Space Administration Task Load Index) questionnaire; roles, control, and job satisfaction were assessed using the COPSOG (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) III; lighting was measured with a lux meter; and individual characteristics were assessed using a questionnaire. The results showed that 79% of nurses experienced mild work fatigue and 21% experienced moderate work fatigue. Three risk factors were analyzed for their relationship with the level of work fatigue: individual characteristics, work-related factors, and work environment factors (lighting). Among individual characteristics, the factors significantly associated with work fatigue were age (p = 0.013; OR = 6.82), nutritional status categorized as overweight (p = 0.020; OR = 3.77), and sleep duration (p = 0.050; OR = 3.14). For work-related factors, significant associations with work fatigue were found for daytime shifts (p = 0.028; OR = 4.69) and workload (p < 0.001). Regarding the work environment factor: lighting was found to meet the standard (100%), hence its relationship with work fatigue could not be assessed. The conclusion is that the majority of nurses experience mild work fatigue (79%), and the significant risk factors are age, overweight nutritional status, sleep duration, daytime shifts, and workload. Implementing fatigue management strategies such as health promotion and knowledge enhancement through training, monitoring work schedules, managing workload, maintaining a balanced diet, ensuring adequate rest between shifts, regular exercise, and periodic fatigue screening are expected to prevent an increase in work fatigue levels.
Read More
T-7073
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive