Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37221 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yumna Satyani Lasiyo; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Wahyudin, Retno Heru Setyorini
Abstrak:
Anemia merupakan masalah kesehatan yang paling sering dijumpai di seluruh dunia terutama di negara berkembang. Berdasarkan data WHO pada tahun 2019, prevalensi anemia di Indonesia adalah 31,2% dan termasuk dalam 10 besar kasus anemia tertinggi di Asia Tenggara. Pada beberapa tahun terakhir telah banyak dilakukan penelitian mengenai anemia pada pekerja industri. Pekerja perempuan menjadi kelompok rentan yang mengalami anemia karena beban ganda menjadi seorang ibu dan bekerja di luar rumah. Anemia dapat berdampak luas baik pada individu, sosial, ekonomi, dan produktivitas kerja. Tingkat absensi menjadi salah satu tolak ukur kinerja karyawan. Absen di tempat kerja dapat menimbulkan penurunan produktivitas dan kerugian perusahaan baik hilangnya waktu kerja ataupun medical cost apabila disebabkan oleh absen sakit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi anemia dan bagaimana hubungannya dengan health-related absenteeism pada pekerja perempuan di PT.X tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional melibatkan 219 responden. Data primer diperoleh dari observasi dan kuesioner, sedangkan data sekunder dari hasil medical checkup tahun 2023 yang kemudian diolah menjadi analisis univariat, bivariat uji Chi-square dan multivariat dengan regresi logistic berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada pekerja perempuan di PT.X adalah 53,9%. Hasil uji Chi-square menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara anemia dengan asupan protein (p-value <0,001; OR 2,528), asupan zat besi (pvalue <0,001; OR 3,242), pola menstruasi (p-value <0,001; OR 2,959), status gizi (p-value 0,051); dan shift kerja (p-value 0,017; OR 2,096). Terdapat hubungan antara anemia dan health-related absenteeism (p-value 0,035; OR 4,583). Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa pola menstruasi (p-value <0,001; OR 3,156) menjadi faktor dominan yang mempengaruhi anemia pada pekerja perempuan di PT.X. Kesimpulan penelitian ini yaitu kejadian anemia pada pekerja perempuan di PT.X dipengaruhi berbagai faktor baik dari asupan dan non asupan. Perempuan dengan pola menstruasi heavyflow akan berisiko 3,15 kali mengalami anemia. Anemia memiliki hubungan signifikan dengan health related absenteeism yang akan mempengaruhi produktivitas kerja. Strategi penatalaksanaan dan pencegahan anemia perlu dilakukan dengan pendekatan workplace-based agar tepat sasaran. Pada PT.X dapat dilakukan program deteksi dini dan penanggulangan anemia di tempat kerja, program penyuluhan pencegahan dan penatalaksanaan anemia, program makanan sehat dan PHBS, program suplemen tablet tambah darah, serta monitoring dan evaluasi program.

Anemia is a health problem that is most often found throughout the world, especially in developing countries. Based on WHO data in 2019, the prevalence of anemia in Indonesia is 31.2% and is included in the top 10 highest cases of anemia in Southeast Asia. In recent years, there has been a lot of research on anemia in industrial workers. Female workers are a vulnerable group who experience anemia due to the double burden of being a mother and working outside the home. Anemia can have a broad impact on individuals, society, the economy and work productivity. The level of absenteeism is one of the benchmarks for employee performance. Absence from the workplace can cause a decrease in productivity and company losses, including loss of working time or medical costs if it is caused by sickness absence. The aim of this research is to determine the factors that influence anemia and how it relates to health-related absenteeism in female workers at PT.X at 2023. The research method used was cross sectional in
Read More
T-6971
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shellena Alya Kanigara; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyumbang angka kematian terbesar di dunia. Perilaku keselamatan berkendara merupakan salah satu bentuk antisipasi dalam mengurangi angka kecelakaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi perilaku keselamatan berkendara pada karyawan PT.X di Tahun 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini cross-sectional dengan instrument berupa kuisioner ODBQ dengan sampel sebesar 100 orang. Hasil pengambilan data kemudian diolah menggunakan uji Chi-square dan Rank Spearman. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan antara beberapa perilaku keselamatan berkendara dengan faktor usia (speeding, inattention, dan driving while fatigue), jenis kelamin (rule violation), riwayat kecelakaan (speeding dan inattention), pelatihan DDT (inattention), dan juga masa kerja karyawan (inattention). Diharapkan PT.X dapat memberikan pelatihan khusus terhadap manajemen stress dan memberikan perhatian khusus terhadap perilaku tidak fokus dan mengebut ketika berkendara sehingga dapat memaksimalkan keselamatan karyawan.

Traffic accidents are one of the largest contributors to mortality worldwide. Safety driving is a form of anticipation in reducing the number of accidents. This study aims to determine the factors that influence safe driving behavior among PT.X employees in 2023. The research method used is cross-sectional, with an instrument in the form of a questionnaire (ODBQ) and a sample size of 100 people. The data obtained was then processed using Chi-square and Spearman Rank tests. Based on the research results, there is a relationship between several safe driving behaviors and factors such as age (speeding, inattention, and driving while fatigue), gender (rule violation), accident history (speeding and inattention), DDT training (inattention), and also the length of service of the employees (inattention). PT.X is recommended to provide specialized training on stress management and give special attention to the behavior of being unfocused and distracted while driving to ensure the employee will be safe while driving.
Read More
S-11688
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Arifin Ramzy Lubis; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Daryanto
Abstrak:
Kelelahan pada pekerja dapat berakibat pada kecelakaan kerja yang disebabkan oleh berbagai faktor baik tidak terkait dengan pekerjaan atau terkait dengan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kelelahan dan faktor risikonya pada pekerja PT.X tahun 2023. Faktor risiko yang diteliti pada penelitian ini meliputi faktor tidak terkait pekerjaan berupa usia, Body Mass Index (BMI), kuantitas tidur, dan faktor terkait pekerjaan berupa durasi kerja, masa kerja, dan beban kerja. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional. Kelelahan dalam penelitian ini diukur menggunakan kuesioner subjektif The Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Dalam penelitian ini, didapatkan bahwa sebanyak 93 pekerja (81,6%) dari 114 pekerja memiliki tingkat kelelahan sedang dan 19 pekerja (17,7%) memiliki tingkat kelelahan tinggi, sementara 2 pekerja (1,8%) lainnya memiliki tingkat kelelahan rendah. Dimensi SOFI dengan nilai rata-rata tertinggi pada penelitian ini adalah dimensi Lack of Motivation. Hasil analisis dalam penelitian ini mendapatkan bahwa BMI memiliki hubungan yang signifikan terhadap kelelahan pada pekerja PT.X tahun 2023.

Fatigue in workers can result in work accidents caused by various factors either unrelated to work or related to work. This study aims to describe fatigue and its risk factors at PT.X workers in 2023. The factors examined in this study include factors unrelated to work, such as age, Body Mass Index (BMI), and sleep duration, and factors related to work, such as working duration, working period, and workload. This research has quantitative method by using cross-sectional design. Fatigue in this study was measured using The Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) subjective questionnaire. In this study, 93 workers (81,6%) out of 114 workers found had moderate levels of fatigue, 19 workers (17,7%) had high levels of fatigue, while two other workers (1.8%) had low levels of fatigue. The Lack of Motivation dimension in the SOFI questionnaire had the highest average score in this study. The analysis in this study found that BMI had significant relationship to fatigue at PT.X workers in 2023.
Read More
S-11333
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eunike Atara Trisyani; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Lorencius Kukuh Prabowo
Abstrak:
Skripsi ini membahas tentang analisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja konstruksi di Proyek Y PT.X Tahun 2024. Kelelahan kerja (fatigue) adalah suatu kondisi dimana terjadi perasaan lelah dan penurunan fungsi mental dan fisik yang menyebabkan berkurangnya semangat kerja sehingga menurunkan efektivitas dan efisiensi kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kauntitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah prurposive sampling. Analisi data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 48,9% responden mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan faktor risiko terkait pekerjaan seperti beban kerja, durasi kerja, durasi lembur, jenis pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan, seperti konsumsi minuman berkafein, konsumsi air mineral, kualitas tidur, kuantitas tidur, dan pekerjaan sampingan.

Work fatigue (fatigue) is a condition where there is a feeling of fatigue and a decrease in mental and physical function which causes a decrease in morale, thereby reducing work effectiveness and efficiency. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional design. The sampling technique used was purposive sampling. Data analysis in this study was carried out using two ways, namely chi square. The results of this study showed that 48.9% of respondents experienced job fatigue. There is a significant relationship between fatigue and work-related risk factors such as workload, work duration, overtime duration, type of work and non-work-related risk factors, such as caffeinated beverage consumption, mineral water consumption, sleep quality, sleep quantity, and side jobs.
Read More
S-11757
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Nugroho Sitanggang; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, M. Rizal. M. Damanik, Syahrul Efendi Panjaitan
Abstrak:
Faktor penting yang mempengaruhi kesehatan pekerja ibu hamil adalah status gizi yang telah lama dijadikan sebagai indikator pencapaian kesehatan suatu negara. Hal ini juga sejalan dengan upaya menciptakan tempat kerja yang sehat bagi pekerja, termasuk ibu hamil. Penting untuk mengetahui kondisi dan juga hubungan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pekerja ibu hamil tidak hanya dalam konteks kesehatan klinis tetapi juga faktor sosial ekonomi. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dengan pendekatan semi kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan secara berani dengan menggunakan instrumen angket yang telah disusun oleh peneliti. Analisis univariat dan bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel. Mayoritas responden berusia 21-30 tahun (80%), berada pada kehamilan trimester III (47,14%), latar belakang pendidikan S1 (62,86%), status gizi sebagian besar responden adalah defisit berat (34,29%) dan normal (30%), dengan skor konsumsi makanan kurang (58,57%). sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan gizi baik (81,43%), dengan tingkat tuntutan pekerjaan dalam kategori sedang (65,71%), dan tingkat dukungan organisasi dalam kategori tinggi (41,43%). Terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara status gizi dengan 3 variabel yaitu frekuensi makan, tuntutan kerja dan dukungan organisasi. Kata kunci: Pekerja hamil, status gizi, tuntutan kerja, dukungan organisasi.

An important factor that affects the health of pregnant women workers is nutritional status which has long been used as an indicator of a country's health achievement. This is also in line with efforts to create a healthy workplace for workers, including pregnant women. It is important to know the conditions and also the relationship of factors that can affect the nutritional status of pregnant women workers not only in the context of clinical health but also socio-economic factors.The study was conducted with a cross-sectional design with a semi-quantitative approach. Data ii collection was carried out boldly using a questionnaire instrument that had been formulated by the researcher. Univariate and bivariate analysis was conducted to see the relationship between variables. Majority of respondents aged 21-30 years (80%), are in the third trimester of pregnancy (47.14%), educational background is bachelor degree (62.86%), the majority of respondents' nutritional status is severe deficit (34.29%) and normal (30%), with a score of less food consumption (58.57%). most of them have a good level of nutritional knowledge (81.43%), with level of job demand in medium category (65.71%), and the level of organizational support in high category (41.43%). Significant relationship (p<0,05) were found between nutritional status with 3 variables, namely the frequency of food, job demand and organizational support. Key words: Pregnant worker, nutritional status, job demand, organizational support.
Read More
T-6405
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Diah Pratiwi; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Yuni Kusminanti
S-7008
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dodi Ardiansyah; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Suharnyoto, L. Meily Kurniawidjaja, Emy Rianti
Abstrak: Tujuh puluh persen dari seluruh penduduk Indonesia adalah pekerja. Produktivitas kerja serta kelangsungan hidup para pekerja sangat dipengaruhi oleh derajat kesehatan yang dimiliki oleh pekerja. Promosi kesehatan di tempat kerja merupakan salah satu dari bagian integral dari pelayanan kesehatan kerja dan merupakan unsur penting dalam pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan pekerja. Dari hasil laporan menunjukkan bahwa dengan adanya promosi kesehatan di tempat kerja berdampak pada kesehatan pekerja, pekerja yang sehat hanya sedikit sekali kehilangan hari kerja karena mengalami sakit.
 
 
Tujuan penelitian ini adalah diketahui gambaran faktor yang mempengaruhi absensi sakit dan prilaku Pekerja hidup pekerja terhadap kejadian absensi sakit di PT.X selama periode waktu Maret 2009-Maret 2010. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil yang didapatkan berdasarkan analisa bivariat yaitu variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian absensi karena sakit pada pekerja di PT. X selama periode waktu Maret 2009-Maret 2010 adalah usia (p = 0,030), jenis pekerjaan (p = 0,017), kebiasaan merokok (p = 0,014), pola tidur.
 

 
Seventy percent of the entire population in Indonesia is worker. Work productivity and the survival of the workers is strongly influenced by the degree of health which is owned by workers. Health promotion in the workplace is one of the integral part of occupational health services and is an important element in the maintenance and improvement of health status of workers. From the results of the report shows that with the existence of health promotion in the workplace affects the health of workers, health workers has very little loss of working days due to an illness.
 
 
The purpose of this study is to be seen the illustration Factors Related to sick absenteeism of worker at PT X during time period of March 2009-March 2010. This research is quantitative research with cross sectional design. Results obtained based on bivariate analysis are variables associated with the incidence of absenteeism due to illness of workers at the PT. X during the time period March 2009-March 2010 were age (p = 0.030), occupation (p = 0.017), smoking (p = 0.014), sleep pattern (p = 0.003). Researchers suggest to do health promotion in the workplace.
Read More
T-3205
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Mujakar; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Amory Setia, Agni Syah Sutoyo Putro
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan industri berisiko tinggi yang tidak hanya berpotensi menimbulkan cedera fisik, tetapi juga gangguan kesehatan mental, termasuk distres psikologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis prevalensi distres kerja, hubungan faktor psikososial, faktor individu, dan faktor lingkungan terhadap distres kerja, serta mengidentifikasi faktor dominan yang berhubungan dengan distres pada pekerja konstruksi PT. X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 287 pekerja konstruksi PT. X yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Faktor psikososial diukur menggunakan Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III) dan tingkat distres diukur menggunakan Kessler Psychological Distress Scale (K10). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,8% pekerja mengalami distres berat. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor psikososial dan lingkungan berhubungan signifikan dengan distres kerja (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa beban kerja (AOR=5,113), dukungan sosial rendah (AOR=4,973), ambiguitas peran (AOR=9,853), dan kelelahan fisik (AOR=10,522) berhubungan signifikan dengan distres kerja. Kelelahan fisik merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor psikososial, khususnya kelelahan fisik, berperan penting terhadap terjadinya distres pada pekerja konstruksi.

The construction sector is a high-risk industry that not only has the potential to cause physical injuries but also mental health problems, including psychological distress. This study aimed to analyze the prevalence of work-related distress, examine the relationship between psychosocial, individual, and environmental factors and work distress, and identify the dominant factors associated with distress among construction workers at PT. X. This study employed a quantitative cross-sectional design involving 287 construction workers selected using proportionate stratified random sampling. Psychosocial factors were measured using the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III), while psychological distress was assessed using the Kessler Psychological Distress Scale (K10). Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The results showed that 49.8% of workers experienced severe distress. Bivariate analysis indicated that psychosocial and environmental factors were significantly associated with work distress (p<0.05). Multivariate analysis showed that workload (AOR=5.113), low social support (AOR=4.973), role ambiguity (AOR=9.853), and physical fatigue (AOR=10.522) were significantly associated with work distress. Physical fatigue was identified as the most dominant factor associated with work distress. This study concludes that psychosocial factors, particularly physical fatigue, play an important role in the occurrence of distress among construction workers.
Read More
T-7673
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maharani Chairin Nisa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi, Subkhan, Pradana Anugrah Sejati
Abstrak:
Musculosceletal Disorder (MSDs), merupakan permasalahan kesehatan yang umum terjadi di berbagai sektor pekerjaan seperti sektor konstruksi, transportasi & pergudangan (logistik), serta layanan administrasi (perkantoran) dengan perkiraan angkanya sebesar 511.000 pekerja pada periode waktu 2024-2025. WHO memperkirakan sebanyak 1,71 miliar orang di dunia mengalami MSDs seperti nyeri punggung bawah, nyeri leher, patah tulang, cedera lainnya, osteoartritis, amputasi, dan artritis rheumatoid, dan 369 juta kasus berada di wilayah Asia Tenggara. Pekerja di proyek konstruksi irigasi sangat rentan mengalami kejadian MSDs akibat akumulasi faktor risiko ergonomi fisik dari pekerjaan manual yang berat serta faktor risiko psikososial dari lingkungan kerja. Hal ini menjadi beragam jika mempertimbangkan berbagai faktor risiko individu yang menjadi batas toleransi atau kemampuan perlindungan diri seorang pekerja dalam menahan efek dose yang diterima. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko MSDs pada pekerja proyek konstruksi PT. X Tahun 2026. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dan desain studi cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 390 orang dan sampel 185 orang. Uji statistik yang dilakukan adalah regresi logistik binary. Hasil penelitian menjelaskan bahwa, terdapat hubungan yang signifikan secara statistik dan substansial antara variabel postur kerja (0.001), variabel gerakan berulang (0.000), variabel penanganan manual (0.000), variabel tuntutan kerja (0.005), variabel durasi kerja (0.000), variabel usia (0,002) variabel masa kerja (0,030) dan indeks masa tubuh (0,000), aktifitas fisik (0.000) dan jumlah konsumsi rokok (0.000).

Musculoskeletal disorders (MSDs) are a common occupational health problem across various industries, including construction, transportation and warehousing (logistics), and administrative services (office work), with an estimated 511,000 affected workers during the 2024–2025 period. The World Health Organization (WHO) estimates that approximately 1.71 billion people worldwide are affected by MSDs, including low back pain, neck pain, fractures, other injuries, osteoarthritis, amputations, and rheumatoid arthritis, with 369 million cases occurring in the Southeast Asia region. Workers involved in irrigation construction projects are particularly vulnerable to MSDs due to the cumulative effects of physical ergonomic risk factors associated with heavy manual work, as well as psychosocial risk factors arising from the work environment. However, the impact of these risk factors may vary depending on individual characteristics, which determine each worker's tolerance and protective capacity against the cumulative dose of occupational exposure. Therefore, this study aimed to analyze the risk factors associated with MSDs among workers at PT X construction projects in 2026. This study employed a quantitative approach using a cross-sectional study design. The study population consisted of 390 workers, with a sample of 185 participants. Binary logistic regression was used for statistical analysis. The results demonstrated statistically and substantively significant associations between MSDs and work posture (p = 0.001), repetitive movements (p < 0.001), manual handling (p < 0.001), job demands (p = 0.005), working duration (p < 0.001), age (p = 0.002), length of employment (p = 0.030), body mass index (BMI) (p < 0.001), physical activity (p < 0.001), and daily cigarette consumption (p < 0.001).
Read More
T-7700
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devy Normalita Putri; Pembimbinig: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Mila Tejamaya, Wildan Ramdan Nurhuda, Aditya Tetra Firdaussyah
Abstrak: International Labour Organization (ILO), setiap tahun ada lebih dari 250 kecelakaan di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat kerja. dan 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat kerja. Dampaknya pada ekonomi dunia karena hilangnya hari kerja mendekati 4% dari GDP Global. PT. X merupakan perusahaan konsorsium konstruksi migas yang salah satu aktivitas yang memiliki tingkat kecelakaan kerja tinggi di PT. X hal ini dapat dilihat dari data pendahulu kecelakaan kerja yang dimiliki PT. X pada periode Januari 2023 sampai dengan April 2023 dengan total kasus kecelakaan kerja sebanyak 40 kejadian. Dari uraian diatas maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja pada perusahaan konstruksi migas di PT. X Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan rancangan crossectional. Penelitian ini memiliki sampel berjumlah 106, penelitian dilakukan pada bulan Mei 2023 sampai dengan Juni 2023, berusia rata-rata 28 tahun dan di dominasi usia di atas 28 tahun sebanyak 94 pekerja (88,7%), jenis kelamin di dominasi pekerja laki-laki sebanyak 85 pekerja (80,2%), untuk tingkat pendidikan di dominasi pekerja berpendidikan tingkat tinggi sebanyak 85 pekerja (83%), dan masa kerja di dominasi pekerja yang bekerja di bawah 5 tahun sebanyak 91 pekerja (85.8%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada Analisis Bivariat terdapat 4 Faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja yaitu Shift Kerja dengan hasil p value 0,000 < 0,05, Sosialisasi K3 dengan hasil p value 0,008 < 0,05, Pengawasan Manajemen dengan hasil nilai p value 0,032 < 0,05 dan Penggunaan APD dengan hasil p value 0,090 < 0,05. Dengan hasil Analisis Multivariat yang menunjukkan bahwa faktor yang dominan adalah faktor shift kerja. Kesimpulannya adalah faktor yang paling mendominasi dalam terjadinya kecelakaan kerja adalah shift kerja. --- International Labor Organization (ILO), every year there are more than 250 accidents in the workplace and more than 160 million workers become sick due to hazards in the workplace. and 1.2 million workers died as a result of accidents and illness at work. The impact on the world economy due to lost working days is close to 4% of Global GDP. PT. X is an oil and gas construction consortium company which is one of the activities that has a high work incident and or accident rate at PT. X, this can be seen from the work incident and accident predecessor data owned by PT. X in the period January 2023 to April 2023 with a total of 40 occupational incident and accident cases. From the description above, the authors want to conduct research on the factors that influence occupational incident and or accidents at oil and gas construction companies at PT. X Year 2023. This research uses a descriptive analytic research design with a cross-sectional design. This study has a sample of 106, the study was conducted from May 2023 to June 2023, the average age is 28 years and the predominance is over 28 years of age as many as 94 workers (88.7%), gender is dominated by male workers as many as 85 workers (80.2%), for the level of education dominated by highly educated workers as many as 85 workers (83%), and years of service dominated by workers who worked under 5 years as many as 91 workers (85.8%). The results of this study indicate that in Bivariate Analysis there are 4 factors that influence work accidents, namely Shift Work with a p-value of 0.000 <0.05, OSH Socialization with a p-value of 0.008 <0.05, Management Supervision with a p-value of 0.032 <0 .05 and use of PPE with a p value of 0.090 <0.05. With the results of Multivariate Analysis which shows that the dominant factor is the work shift factor. The conclusion is that the most dominating factor in the occurrence of work accidents is shift work.
Read More
T-6748
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive